Part I - RUNAWAY
Main Cast :
- Seo Joohyun
- Jung Yonghwa
Other Cast :
- SNSD Im YoonA
- Beast Yoon DuJoon
- MblaQ Lee Joon
- CNblue Lee Jonghyun
Jumat, 04:38 AM
Gelap.
Itu saja yang
mampu di ingat Seohyun sebelum ia membuka matanya dan menemukan dirinya sendiri
di suatu ruangan yang tak ia kenal, Ia mencoba untuk mengangkat tubuhnya meski
kepalanya terasa berat. Seohyun mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan
bahwa dirinya telah sepenuhnya sadar.
“Ah..” Seohyun
menekan kepalanya yang terasa begitu sakit dan juga pandanganya yang masih
pudar.
“Kamu sudah
sadar?”
Suara dingin
serta derap langkah yang mendekati Seohyun membuat Seohyun menyeringit, itu
bukan suara yang ia kenal, segalanya begitu asing dan Seohyun tidak mengerti
dengan keadaan ini. Dan ia tidak sempat mempertanyakan apapun.
Bagaimana
jika hidupmu berubah hanya dalam waktu satu hari? Segalanya menjadi begitu
rumit dan tidak dimengerti sama sekali, Seseorang yang baik dan bersih dari
catatan hukum tiba-tiba terjebak disuatu keadaan dimana ia di tuntut untuk
bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah ia lakukan, ia terperangkap dan
tidak tahu bagaimana caranya keluar dari keadaan ini.
***
Kamis
09:10 AM
Seo
Joohyun berlarian menuju kelasnya karena ia terlambat akibat dari kemacetan
Seoul yang semakin parah, bagaimana bisa ia yang sudah berangkat satu jam lebih
awal malah terlambat sepuluh menit seperti ini, nafasnya yang sudah
terengah-engah akhirnya behenti saat ia bertemu dengan dosennya yang
bersiap-siap membuka pintu ruang kelasnya.
“Annyeonghaseyo
Seongsaenim..” Katanya sambil mencoba menangkap nafas yang terengah-engah.
Mrs.
Lim melonggarkan kacamatnya dan melihat wajah Seohyun tajam.
“Tumben
sekali kamu hampir terlambat?”
“Ah,
Maafkan aku.. Beberapa hari ini sedang di lakukan perbaikan jalan di dekat
rumahku, jadi jalanan menjadi macet..”
“Ah
sudahlah, Ayo masuk..”
Mrs.
Lim mendorong Punggung Seohyun dengan telapak tanganya lembut, Kendati di kenal
sebagai pribadi yang ketat dan galak, Mrs. Lim tidak pernah bisa memarahi Seohyun,
mahasiswa teladan yang berusaha mati-matian untuk menyelesaikan kuliahnya.
Biarpun
Seohyun sangat mencintai musik, ia memilih ilmu psikologi sebagai jurusan
kuliahnya, entah mengapa baginya sangat menarik untuk mendengar orang lain
menceritakan kehidupan mereka mulai dari hal yang tidak penting sampai hal yang
sangat pribadi. Meski sulit ia terus mencoba untuk mendapat nilai sempurna agar
ia tetap di pertahankan sebagai siswa pemegang beasiswa.
“Hey..”
Yoona yang duduk di sebelahnya melambaikan tanganya penuh semangat, bahagia
melihat sahabatnya tiba sebelum mata kuliah di mulai “Kamu sempat sarapan
belum? Ini..” Ia menggeser sebuah tempat berisi sandwich.
“Gomawo..”
Dan Seohyun dengan cepat melahapnya akibat rasa lelah telah berlarian dari
gerbang menuju kelas.
Singkatnya,
setiap pagi hanya hal itu saja yang Seohyun lakukan. Jadwal kuliahnya sangat
padat karena Seohyun mengejar waktu agar ia bisa lulus lebih cepat dan membantu
penghasilan orang tuanya.
Kamis, 03:30 PM
Seohyun
memencet bel di gerbang rumah salah satu anak didiknya, sepulang kuliah ia
tidak bisa pergi kemana-mana lagi selain melakukan kewajibanya sebagai guru les
privat.
“Masuklah
Seo Joohyun-ssi”
Seohyun
menyapa seluruh keluarga Kim yang sangat hangat, Ada Mrs. Kim dan Juga Harmoni
yang tinggal bersama mereka, Keluarga Kim punya Empat anak dan Seohyun mengajar
Kim Hanbin dan Kim Hanbyul yang merupakan dua anak bungsu Keluarga Kim. Mereka
semua selalu mengajak Seohyun untuk makan bersama telebih dahulu sebelum
akhirnya mengajarkan kedua anak tersebut hingga larut malam.
Seohyun
selalu merasa terlengkapi setiap kali ia datang ke kediaman keluarga Kim yang
luas ini, ia yang tinggal sendirian di Seoul sudah tidak pernah merasakan makan
bersama keluarga lagi sejak kelas 2 SMA, karena orang tuanya tinggal di Namil.
Kota kecil yang berjarak 7 Jam dari Seoul, dan menghabiskan cukup banyak uang
untuk pulang ke kampung halamannya itu.
“Tinggalah
saja disini Joohyun” Harmoni berkata lembut sambil memegangi lengan Seohyun
yang baru selesai menyisir rambutnya yang telah berubah putih secara
keseluruhan.
“Ia,
betul Noona.. Rumah Seluas ini masih bisa menampung Noona kok” Hanbin ikut
menimpali dan Mrs. Kim hanya tersenyum. Meskipun ia punya empat orang anak, dua
anak lainya sekolah di Swis dan Paris sehingga hanya menyisakan si kecil Hanbin
yang baru berusia 10 Tahun dan Hanbyul gadis manis berusia 5 Tahun.
“Gwenccana..”
Kata Seohyun lembut “Baiklah, Hanbin-ah Hanbyul-ah.. Waktunya berlatiiih”
Katanya semangat.
Tepat
Pukul Lima Sore mereka memulai lahitan piano yang rutin di lakukan satu minggu
dua kali itu.
***
Kamis, 07:30 PM
Tempat lain,
Seoul.
“Yang
benar saja?!” Ia menggebrak meja dengan penuh tenaga hingga barang-barang yang
ada di atasnya ikut begema kencang.
Jung
Yonghwa hanya duduk di sudut ruangan itu, tidak ada yang ia lakukan selain
menatap kosong, meskipun suara pertengkaran dan perdebatan di ruang makan itu
masih terdengar jelas di telinganya.
“Yonghwa-yah!”
Lee Joon memanggilnya kasar dan membuatnya terpaksa bangkit dari duduknya untuk
menghampiri Joon-i
“Kita
akan melakukanya seperti ini kan?” Katanya sambil menunjuk sebuah kertas yang
penuh dengan coretan yang hanya mereka mengerti.
“Terserah
saja.” Jawabnya singkat
“Aish,
Berubahlah sedikit” Kata Joon kesal, ia hanya mencari pembelaan agar yang lain
setuju dengan idenya itu.
Pekerjaanya
begitu menyita waktu dan pikiranya, terkadang ia bahkan tak punya waktu
senggang untuk makan ataupun tidur, tapi Yonghwa tetap menjalaninya, mau tidak
mau, suka tidak suka, karena hanya inilah satu-satunya pekerjaan yang
menghidupinya dan keluarganya di Busan sana.
“Aku tidak
punya urusan dengan hal ini.. Jadi terserah kalian.”
Yonghwa
berbalik malas dan kembali ke tempat duduknya. Yang lain kemudian merundingkan
lagi tulisan-tulisan dan menyatukan beberapa kepala kedalam satu ide cemerlang
yang selalu sukses itu. Entah kenapa Yonghwa tidak pernah ingin ikut-ikutan
urusan itu, mereka semua sudah punya jatah masing-masing dan Yonghwa tidak mau
dikikut campurkan dengan pekerjaan yang bukan untuknya.
“Yasudahlah,
aku ikut idemu.” Joon mendengus kesal pada Doojun yang selalu menang melawanya.
“Sudah clear
kan? Tunggu apa lagi? Ayo bergegas..”
Yonghwa
bangkit dan memandangi wajahnya dalam cermin, tubuhnya kian kurus dan tulang
belulangnya sudah terlihat jelas, wajahnya begitu tirus dan tulang lehernya
terlihat mengerikan.
“Kajja..”
Biasanya
Yonghwa tidak pernah memperhatikan penampilanya seperti itu, hanya saja entah
mengapa malam ini ada perasaan dan emosi yang berbeda yang membuatnya ingin
bercermin, Ia kemudian mengambil pisau cukur untuk mencukur kumis dan janggut
nya yang sudah mulai tumbuh liar di wajahnya.
***
Kamis, 08:13 PM
Satu setengah
jam masing-masing untuk Hanbin dan Hanbyul beratih piano, Seohyun tidak pernah
ingin meninggalkan mereka, karena diantara anak didiknya yang lain , keluarga
Kim merupakan yang terbaik, memberi honor lebih besar juga kehangatan luar
biasa.
“Unnie..
Menginap saja ya?” Hanbyul memelas
sambil menarik-narik baju Seohyun dan membuatnya tersenyum.
“Lalu, besok
Unnie kuliah bagaimana? Jarak dari rumah Unnie saja sudah jauh, apalagi dari
sini..” Seohyun mensejajarkan tubuhnya dengan Hanbyul dan menjelaskan agar
Hanbyul mengerti.
“Arasseo..”
Seohyun
mengelus pipinya dan mencubit pipi hanbyul pelan.
“Joohyun
Unnie, saranghae..”
Tiba-tiba
Hanbyul memeluknya, dan entah mengapa ia mulai menangis, tak lama Hanbin yang sedari
tadi hanya berdiri memperhatikan mereka ikut menghambur dalam pelukan Seohyun
dan Hanbyul.
“Wae Uro?”
Tanya Seohyun kaget sambil menepuk-nepuk punggung mereka berdua.
“Noona.
Kajima..”
“Ssst..
Hanbin-ah.. Hanbyul-ah .. Aku akan kembali lagi lusa..Eoh?”
Entah mengapa
malam itu, begitu sulit meninggalkan mereka berdua, di tambah senyum di wajah
Mrs. Kim dan Harmony serta kedatangan Mr. Kim yang pulang dari kerjanya seolah
meminta Seohyun untuk tetap berada disana, Mr. Kim menanyakan perkembangan
Hanbin dan Hanbyul dan Mrs. Kim membungkuskan bekal untuk makan malamku.
“Gomawo
Joohyun-ah..”
“Ah, aniya.
Gwenccana..” kata Seohyun kaku
“Ini..”
Mrs. Kim
memberikan amplop putih yang biasanya berisi uang gajinya untuk melatih Hanbin
dan Hanbyul, tapi ini belum akhir bulan, dan Seohyun menatap mereka aneh.
“Keundae?”
“Itu Bonus..
Karena kamu sudah membuat Hanbin dan Hanbyul bukan hanya menjadi pemain piano
yang hebat, tapi juga membuat mereka menjadi anak yang baik dan patuh..”
“De?”
“Ah, sudahlah
.. Sudah larut .. Segera pulang Joohyun-I”
“Kamsahamida..”
Seohyun membungkuk beberapa kali sambil menggenggam amplop putih itu erat-erat
di telapak tanganya.
Seohyun
kemudian melangkah menuju Pintu sebelum akhirnya lampu di rumah besar itu
padam.
Bug Brang Pak.
Seohyun
terkaget dengan suara itu namun seluruh keluarga Kim tidak ada yang berbicara
mereka sepertinya masih berada di tempat duduk mereka masing-masing.
“Noonaaaaaa!”
Seohyun
terperanjat kaget saat mendengar suara Hanbin yang memanggilnya
kencang-kencang. Ia kemudian menyalakan handphonenya untuk menerangi langkahnya
menuju lantai atas dimana Hanbin dan Hanbyul berada.
Namun, belum
sempat Seohyun melangkah, sesuatu sudah mengenai punggungnya dan membuatnya
tergeletak, pandanganya mulai samar, dan perlahan menjadi gelap.
“Apa
yang kamu lakukan!” Yonghwa menarik kerah baju Jonghyun yang baru saja memukul
gadis yang bukan merupakan anggota keluarga Kim.
“Dia
bisa saja melihat kita!”
“Aish!”
Yonghwa melepaskan genggamanya
“Selesaikan
semuanya. Aku akan mengurus gadis ini.”
Yonghwa
memeriksa kepala dan punggun Seohyun, beruntung tak ada luka sedikitpun,
bagaimanpun mereka tidak boleh melukai orang yang tidak bersalah seperti gadis
ini, yang ia sama sekali tidak tahu siapa, Yonghwa menyorot senter ke wajahnya,
dan matanya melebar luas.
***
Jumat 07:00 AM
Rumah
besar yang hangat itu berubah menjadi sepi, tidak ada seorang pun yang keluar
dari sana sejak tadi pagi, kemudian tukang kebun keluarga Kim berlarian ketika
mendapati seluruh keluarga sudah terbujur kaku. Polisi bermunculan satu persatu
dan mencoba menggali informasi dari para tetangga maupun tukang kebun tesebut. Semua
orang kebingungan karena tadi malam mereka masih terlihat biasa saja, tidak ada
yang aneh.
“Kendae..
apa ada orang asing yang masuk ke rumah mereka tadi malam?”
“Aku
melihat seseorang!”
“Nugu?”
Seorang
tetangga muncul di balik kerumunan, dengan wajah penuh semangat ingin
mengatakan kesaksianya itu.
“Guru
les piano mereka.”
“Siapa
namanya?”
“Seo
Joohyun!”
Tukang
kebun membantu ahjumma yang terlihat bingung karena hanya itu satu-satunya
informasi yang ia punya.
“Apakah
anda punya fotonya atau informasi lebih?”
“Tapi..
Apa mungkin dia?”
Mengingat
Seohyun merupakan gadisa yang baik dan sudah cukup lama bekerja di kerluarga
Kim Tukang kebun itupun menggeleng aneh. Namun tidak ada yang tau jika memang
Seohyun yang terakhir masuk ke rumah itu mungkin saja memang dia pelakunya.
“Tidak
apa, katakan saja, memeriksa kebenaranya adalah tugas kami..” Kata polisi itu
santai
“Aku
tidak punya fotonya, tapi kalau tidak salah dia merupakan mahasiswa di Dongguk
University” Jawabnya mantap.
Setelah
semua jenazah keluarga Kim di pindahkan ke rumah sakit, Para Polisi itu
bergegas menuju Dongguk University.
Dekan
dan para dosen bertanya-tanya atas kehadiaran para polisi di pagi buta itu,
tidak pernah ada satupun mahasiswa maupun dosen dan dekan mereka berurusan
dengan polisi .
“Annyeonghaseyo..
apa ada yang bisa saya bantu?”
Airmukanya
berubah pesat, wajah tenangnya menjadi gusar serta terkejut setelah mendengar
penjelasan dari polisi tentang hal apa yang membuat mereka datang kesini.
“Ani,
mungkin anda salah orang..”
“Menurut
informasi, gadis itu memang mahasiswa disini kan?”
“Ye..
Mwajoyo.. tapi.. Seo Joohyun? Maldu Andwae?”
“Tidak
ada yang tidak mungkin, menurut sidik jari dan saksi mata memang dia yang
berada terakhir di sana, tidak ada orang lain lagi. Dan kalau memang dia bukan
pelakunya mengapa ia tidak muncul sama sekali? Apa anda tau dimana
keberadaanya?”
Dosen
itu mengeluarkan ponselnya, kemduian mencoba menghubungi Seohyun, namun ponselnya
sama sekali tidak aktif. Kemdian ia menggeleng sambil bergetar setelah telepon
itu tidak di jawab sama sekali.
“Betul
kan? Itu artinya dia sedang melarikan diri..”
Airmata
Mrs. Lim meluber, ia tidak bisa mempercayai perkataan polisi begitu saja,
bagaimana mungkin mahasiswi kesayanganya itu melakukan tindakan seperti ini? Dia
yang berusaha mati-matian dengan kuliah dan kehidupan sendirianya di Seoul?
Membunuh satu keluarga tanpa alasan yang jelas?.
“Apa
ada teman dekatnya disini?”
“Ada.
Tapi apa anda benar-benar harus melibatkanya?”
“Kami
tidak punya pilihan lain, jika anda tidak tau dimana tempatnya bersembunyi,
mungkin sahabatnya tau..”
Tak
lama setelah ia menghubungi Yoona, gadis jelita itu muncul dengan tatapan aneh
karena ruangan Mrs. Lim dipenuhi dengan orang-orang yang tidak dikenalinya.
Terlebih karena mereka menggunakan seragam polisi.
“Annyeonghaseyo..”
Katanya ragu
“Duduklah..”
Kata Mrs. Lim
“Anda
Im YoonA-ssi?”
“De,
Mwajoyo..”
“Anda
teman dekatnya Seo Joohyun?”
Yoona
mengangguk dan melirik Mrs. Lim dengan mata sembabnya.
“Begini,
Teman dekat anda tersebut terlibat kasus pembunuhan satu keluarga. Kami sedang
berusaha mencarinya, apa dia menghubungi anda? Atau anda tau dimana
keberadaanya?”
“Mworago?”
Matanya membesar, tubuhnya bergetar.
***
Jumat, 05:00 AM
Seohyun
masih merasakan ngilu di bagian punggung dan kepalanya, di tambah ketidak
tahuanya tentang keberadaanya sendiri, manusia macam apa yang kini duduk di
hadapanya, juga apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Bangunlah,
kamu harus makan..” Ia membantu mengangkat Tubuh Seohyun dan menuntunya untuk
duduk di meja makan kecil yang penuh dengan makanan hangat.
“Changkamman.
Nuguseyo?”
“Sudahlah,
lebih baik kamu makan dulu.. Perutmu sudah berbunyi sejak tadi..” Ia tertawa
pada Seohyun dan menunjukan gigi gingsulnya itu. Sementara Seohyun tertunduk
malu sambil mengelus perutnya yang terus berbunyi.
“Ini
masih pagi ya?” Tanya Seohyun sambil melirik ke luar jendela.
“Iya,
kenapa kamu bangun begitu cepat?”
“Ah..
Jalmokhae..”
Seohyun
melahap makanan itu pelan, sambil sesekali melirik laki-laki yang juga makan
bersama denganya di meja kecil itu, Seohyun kemudian mengumpulkan pertanyaan
yang siap meluncur dari mulutnya setelah sarapan yang terlalu pagi itu selesai.
“Aku
Jung Yonghwa.”
“De?”
‘Sepertinya dia bisa membaca pikiranku ini
ya? Apa yang kamu lakukan padaku?’ Tanya Seohyun dalam hatinya sendiri.
“Seo
Joohyun-ssi. Aku akan menjelaskan segalanya ketika kamu selesai makan.”
“Sudah
selesai, Kamsahamnida..” Seohyun menaruh sumpitnya diatas mangkuk nasi yang
sudah kosong kemudian membungkuk dan mengucapkan terimakasih lagi pada
laki-laki bernama Jung Yonghwa itu.
Yonghwa
bergegas membenahi meja makan itu, kemudian kembali pada Seohyun setelah mencuci
piring bekas makan mereka berdua, mata Seohyun tidak berhenti mengikuti langkah
Yonghwa, karena ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi dan mengapa ia bisa
ada disini.
“Jadi
begini..” Yonghwa menarik nafas sebelum meneruskan kalimatnya “Kamu mengalami
amnesia sementara, hanya ingatan yang paling terakhir yang hilang, kamu masih
ingat kan alamat rumah dan dimana kamu kuliah?”
“De?”
“Coba
sebutkan?”
“Aku
tinggal sendirian di Seoul, aku mahasiswi semester 6 di Dongguk University..”
“Kamu
masih ingat kan? Lalu coba sebutkan apa yang terjadi sebelum kamu berada
disini?”
Matanya
menerawang jauh, raut mukanya pecah, dahinya bekerut, mencoba untuk merunut dan
mengembalikan ingatan kejadian sebelum hari ini. Seohyun bersusah payah dan
malah membuatnya pusing sendiri, kemudian ia menggeleng.
“Sebutkan
hari apa ini?”
“Kamis
kan?”
Yonghwa
menggeleng.
“Jumat”
“Tapi,
apa tidak bisa kamu menceritakan kenapa aku ada disini? Apa yang terjadi
padaku? Aku harus cepat-cepat kembali ke rumahku, aku harus kuliah. Bisa
antarkan aku pulang?”
“Ani,
lebih baik untuk saat ini kamu tidak pergi kemana-mana.. “
“Loh?
Memangnya kenapa?”
Yonghwa
melenggang untuk membuka jendela, membiarkan sinar matahari pagi masuk
melaluinya, dan Seohyun menutup wajanhnya karena sinar matahari itu langsung
menembus wajah dan matanya.
“Jung
Yonghwa-ssi. Aku sama sekali tidak tau apa yang terjadi. Siapa anda dan dimana
saya? Tapi saya tidak bisa percaya dan diam disini begitu saja.. saya harus
kembali ke rumah saya..”
Seohyun
bangkit namun tak lama tubuhnya ambruk akibat keram di sekitar punggungya.
“aaaah!”
“Yah!
Gwenccana!!”
Yonghwa
kemudian mengangkat tubuh Seohyun ke kursi dimana ia tertidur tadi, ia
mengambil sebuah obat oles.
“Berbalik..”
“Appooo..”
Katanya nyaris menangis..
“Aku
akan mengobatimu..”
“Aku
ingin pulang!!”
Yonghwa
menggunakan sedikit kekuatanya untuk membalikan tubuh Seohyun dan memijat
punggung Seohyun.
“Appaaaaa!!”
Teriaknya ketika pijatan Yonghwa berada tepat di titik pusat nyeri.
“Mianhae.”
Kemudian
Yonghwa memasukan tanganya ke celah baju Seohyun dan mengoles obat pada bagian
sakitnya, Seohyun ingin sekali protes karena bagaimanapun Yonghwa adalah orang
asing yang ia tidak kenal, dan keadaan ini benar-benar di luar kendalinya. Tapi
mau bagaimanapun Yonghwa hanya satu-satunya manusia disini, ia masih beruntung
Yonghwa mau mengobati sakit yang amat sangat di punggungya itu. Entah apa yang
sebenarnya menimpanya, namun rasanya begitu sakit.
“Gomawo
..” Kata Seohyun di sela tangis kesakitanya.
“Sudah
tidak terlalu sakit kan?” Seohyun mengangguk
“Mau
jalan-jalan tidak?”
“De?”
“Mungkin
itu bisa membantumu lekas sembuh..”
Yonghwa
membalikan tubuhnya dan sudah menyiapkan punggungnya untuk menggendong tubuh
Seohyun, tentu saja Seohyun tidak akan sanggup berjalan. Tubuhnya akan mudah
ambruk, namun sayang sekali kalau harus melewatkan pemandangan indah di Jinhae
pada musim semi seperti ini..
“Gwenccana..”
Kata Yonghwa, dan membuat Seohyun meyakinkan diri untuk naik ke punggungnya.
***
Malam
itu, misi mereka berjalan Mulus, Dujoon, Lee Joon, Jonghyun dan Yonghwa sudah
berhasil menghabisi keluarga Kim, termasuk kedua anak mereka yang katanya
tinggal di Luar Negeri Untuk kuliah. Namun Yonghwa menghilang tanpa jejak setelah
ia mengatakan akan mengurus gadis yang di pukul oleh Jonghyun. Mereka bertiga
kalang kabut mencarinya, namun pada akhirnya mereka membiarkan Yonghwa
menghilang sendirian. Kesalahan Jonghyun memang, mereka tidak seharusnya
menyakiti yang bukan target mereka.
Alasan
empat sekawan membunuh seluruh keluarga Kim yang terkenal baik itu karena
mereka merupakan pembunuh bayaran, yang sengaja di bayar mahal untuk
menghancurkan keluarga Kim, yang usahanya kian sukses dan semakin disukai
banyak orang.
Malam
itu, Yonghwa mengendap-ngendap sambil menuntun Seohyun yang sudah pingsan ke
dalam mobilnya, kemudian melesat pergi ke Jinhae. Ada sesuatu yang membuat
hatinya begetar, yang membuatnya ingin membawa gadis dengan kulit putih bak
salju itu pergi menjauh, ia tau gadis ini akan terlibat dalam kasus pembunuhan
yang mereka lakukan. Dan melihatnya seperti ini Yonghwa tidak yakin apakah ia
akan tega membiarkan orang yang tidak bersalah masuk penjara atas apa yang tak
pernah ia lakukan sama sekali.
Sesampainya
ia di Jinhae, Yonghwa mencoba untuk meredakan kesakitan Seohyun dan membawanya
ke rumah kecil yang ia miliki di Jinhae, ia menyembunyikan mobilnya dan berusah
untuk tidak disadari kehadiranya oleh siapapun sama sekali.
***
Jumat
pagi, poster wajah Seohyun sudah disebar luaskan ke seluruh Seoul, juga kabar
tentang pembunuhan satu keluarga kaya raya yang merupakan pengusaha sukses di
Seoul itu sudah tersiar di televisi. Beberapa tetangga Seohyun di apartemen
tempatnya tinggal sudah di mintai keterangan, dan tidak ada yang melihatnya
sama sekali sejak kemarin pagi.
Asumsi
polisi semakin kuat, sementara teman-teman kampus serta keluarganya yang sudah
di hubungi untuk memastikan keberadaanya sama sekali tidak percaya, terlebih
tidak ada satu harta kekayaanpun yang di curi dari rumah keluarga Kim. Lantas
mengapa gadis sebaik Seohyun membunuh keluarga itu?
Ibunya
sudah menangis dan memohon pada polisi mencoba untuk menjelaskan bahwa putrinya
adalah anak yang sangat baik dan tidak mungkin melakukan kejahatan macam ini,
ia menceritakan dalam tangis yang deras bahwa Seohyun merupakan pengajar piano
untuk keluarga Kim dan uangnya di gunakan untuk biaya hidupnya dan sebagian di
kirim ke Namil. Kendati begitu, polisi tetap melanjutkan penyelidikan karena
tidak adanya saksi yang melihat keberadaan orang asing di rumah itu selain
Seohyun.
Yoona,
dan Mrs. Lim serta teman-teman sekelas Seohyun sendiripun sudah menangis
sejadinya, mencoba membela sahabatnya itu karena mereka semua yakin bukan
Seohyun pelakunya.
“Bagaimana
kami bisa tahu bahwa dia bukan pelakunya jika dia sama sekali tidak menampakan
diri?”
“Mungkin
saja kan Seohyun juga merupakan korban?”
“Tapi
tidak ada sidik jari maupun saksi yang melihat orang lain disana..”
“Temukan
dia.. Aku percaya bahwa Seohyun tidak akan melakukan hal itu..”
***
Seohyun
memandangi sisi kiri dan kananya yang di penuhi dengan bunga sakura yang
bermekaran di musim semi itu, tanganya tak lepas dari bahu Yonghwa yang
sepertinya tak lelah menggendongnya berkeliling disekitar Jinhae sejak tadi.
“Mau
ke sungai?” Tanya Yonghwa
“Keurom..”
Jawabnya semangat.
Yonghwa
berjalan pelan hingga menemukan sungai yang airnya bening dan aliranya tidak
terlalu deras, mencari tempat untuk mendudukan Seohyun.
Seohyun
membiarkan kakinya merasakan aliran air sungai itu, matahari pagi begitu hangat
memeluk tubuhnya.
“Aku,
tidak biasanya mempercayai orang yang baru aku kenal..” Kata Seohyun pelan “Tapi
.. karena yang ada bersama aku hanya kamu, aku tidak punya pilihan lain.. “
“Tsk.
Aku juga tidak melakukan hal-hal aneh padamu kok..”
“Aku
percaya..”
“Bagaimana
kamu bisa mempercayaiku begitu saja? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Tanya
Yonghwa tegas, tapi Seohyun menggeleng.
“Kalau
memang kamu orang yang jahat, mungkin aku sudah tidak hidup lagi, mungkin kamu
tidak akan mau mengobati sakit di punggungku, memasakan sarapan, juga
menggendongku kesini..”
Yonghwa
tertegun melihat senyumnya, wajahnya yang tersapu sinar matahari membuatnya
terlihat seperti … bukan manusia biasa. Yonghwa tidak bisa mendefinisikan
pemandangan indah macam apa yang ia lihat pagi ini.
“Yonghwa-si.
Apa kamu mengenalku sebelumnya?” Yonghwa menggeleng “Betul kan? Kamu bukan
orang yang jahat.. bagaimana kamu bisa menjadi orang jahat sementara kamu mau
menolong orang yang tidak kamu kenal sama sekali?”
Nafasnya
tercekat, tenggorokanya berasa kering, ia tidak tahu harus berbicara apa,
seketika ia mengalihkan pandanganya dan membuyar ke arah lain, tak sanggup lagi
harus memandangi perempuan polos itu, jika saja dia tahu sudah berapa puluh
nyawa yang ia renggut dengan tanganya sendiri, jika saja dia tahu kalau Yonghwa
bukan seperti yang dia pikirkan..
“Gomawo..”
Katanya lagi “Apapun alasanmu membawaku ke Jinhae pasti untuk kebaikanku kan? Mulai
saat ini aku akan mempercayai apapun katamu..”
“Jhogi.
Seo Joohyun-si .. Kamu tidak bisa seperti itu..”
“Wae?”
“Ah
sudahlah..”
Yonghwa
belum mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, siapa sebenarnya dia,
mengapa ia membawa Seohyun kesini.. dan Perasaan meledak dalam dadanya.
“Aku
benar-benar tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya, terakhir kali aku ingat
semalam aku baru saja tidur di kasurku sendiri..”
“Jangan
mencoba untuk mengingat-ngingat..”
“Baiklah..”
Seohyun
menendang-nendang air sungai yang segar itu sambil memandangi sekelilingnya,
bunga yang sudah bermekaran dan udara yang masih sedikit dingin.. Seohyun
memeluk dirinya sendiri dan mengusap-ngusap lenganya.
“Kenapa?
Dingin ya?”
“Aniya..”
“Kalau
tidak mau jujur aku tidak mau meminjamkan jaketku padamu..”
“He..”
“Tidak
usah pura-pura..”
Yonghwa
mendekatinya dan menempelkan jaketnya pada bahu Seohyun.
“Sudah
yuk. Kamu tidak boleh lama-lama di luar. Seharusnya kamu istirahat..”
Yonghwa
kembali memposisikan dirinya untuk menggendong Seohyun di punggungnya, kini
tanpa canggung Seohyun sudah berada di punggungnya.
“Aku
tidak tahu, kalau di gendong saat sudah dewasa dengan orang yang tidak aku
kenali sama sekali bisa senyaman ini ya..”
“Jangan
berfikir yang tidak-tidak, aku bisa saja bersikap jahat padamu kan?”
“Memang
sih, mukamu itu menyeramkan sekali.”
Yonghwa
hanya bisa diam mendengar celotehan Seohyun yang begitu polos, seolah tidak ada
satu orang pun yang pernah menggendongya seperti ini. Ada desiran hangat
mengalir dari ujung kaki ke ujung kepalanya, Yonghwa bisa mencium wangi tubuh
Seohyun dengan jelas, ia tidak ingin mengikuti perasaanya saat ini. Namun Seo
Joohyun terlalu mempesona untuk di abaikan.
Sesampainya
di rumah kecil itu, Seohyun bukanya isitrahat malah mengajak Yonghwa
menemaninya untuk mengobrol sedikit banyak.
“Hey,
aku ini mahasiswi psikologi .. aku bisa lihat kamu punya banyak tekanan..
makanya berbagilah..”
“Tidak..
Terimakasih..”
“Aish
.. Oh iya! Dimana ponselku..”
“Molla..”
“Aaah!
Bagaimana aku bisa menghubungi Yoona kalau aku ada disini! Dia pasti
mencariku..”
“Aku
sudah bilang kan, kamu sebaiknya disini dulu, dan jangan memberitahukan
keberadaanmu pada siapapun..”
“Memangnya
kenapa sih? Aku seperti buronan saja..”
Yonghwa
ada dititik dimana ia ingin tidur dan melupakan segalanya, ia tidak pernah ada
dalam keadaan seperti ini, tidak sama sekali. Ia tidak pernah ingin berurusan
dengan siapapun, tapi Seohyun sudah membuat jiwanya kembali, sebagai manusia
yang punya hati. Selama ini Yonghwa tidak pernah mengindahkan perasaanya, ia
seperti setan yang dengan mudahnya
menghunus pisau ke jantung korbanya. Tapi Seohyun, wajah tentramnya itu seperti
minta dilindungi.
“Aku
mau tidur ya..” Yonghwa duduk di bawah dan menyenderkan punggunya di kaki kursi
tempat Seohyun tidur, membuat kepalanya di bawah kaki Seohyun.
“Kamu
belum tidur ya?”
Yonghwa
hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.
***
Yonghwa hanya
mampu menutup mulutnya saat ia melihat orang tuanya di cekik hingga
menghembuskan nafas terakhirnya, ia hanya bisa menangis sejadinya saat melihat
ibunya tersenyum padanya sebelum akhirnya ia meninggal. Ia kemudian berlarian mencari pertolongan
namun tak ada satupun yang mendengarnya maupun menolongnya, ia terus berlalian
hingga kakinya terasa akan lepas, ia begitu lelah namun tak ada satu orang pun
yang mau menolongnya.
***
“Kim..”
Seohyun mengucap kata itu ketika ia menemukan secarik kertas dari saku jaket
Yonghwa, ia menggelengkan kepala, sesuatu seperti memanggilnya kembali ke alam
sadarnya. “Kim?” Sekali lagi ia mengulang perkataan itu.. “Ah Entahlah!!”
Seohyun
kemudian bangkit dari tidurnya karena perasaan terganggu dengan nama itu, ia
mendapati Yonghwa tertidur pulas, namun seluruh tubuhnya hampir berkeringat,
serta wajah yang begitu terlihat lelah dan takut.
“Kamu
bermimpi apa?” Bisik Seohyun sambil mengusap dahi Yonghwa yang penuh dengan
peluh dengan Lenganya yang di lapisi jaket Yonghwa.
“Omma..
Appa..” Bisiknya
“Yonghwa-ssi?”
Wajahnya
kian muram, dan enatah mengapa tanganya seperti terus menggapai, kakinya
seperti terus berlari..
“Hey..”
Seohyun kemudian menggetarkan tubuh Yonghwa pelan untuk membangunkanya, namun
sepertinya ia masuk semakin dalam ke mimpi buruknya.
“Yonghwa-ssi”
Seohyun menggetarkan lagi namun kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“HAH!!”
Dadanya
naik turun tak tekendali, matanya memencar tak karuan, keringatnya makin deras
dan ia tidak bisa mengatur emosinya, Yonghwa seperti orang linglung yang
mencari perlindungan, ia menengok kesana kemari entah mencari atau menakuti
apa.
“Yonghwa-ssi.
Wae Keur—“
Yonghwa
langsung menghambur memeluk Seohyun yang tak bisa menuntaskan kalimatnya,
Seohyun bisa merasakan detak jantungnya yang begitu cepat. Meskipun kaget namun
Seohyun mencoba untuk membuat dirinya setenang mungkin, kendati Seohyun tidak
mengerti hal apa yang membuatnya takut. Seohyun membalas pelukanya, sambil
mengelus punggungnya agar membuat nafasnya teratur.
“Omma..”
Bisik Yonghwa
“Na
ya, Seohyun..” Kata Seohyun sambil terus mengelus punggungnya, entah mengapa
Yonghwa mempererat pelukanya itu. Dan membuat Seohyun semakin bingung dengan
keadaan ini.
“Aku
tidak ingin tidur lagi..”
“Tenangkan
dirimu..”
Setelah
merasa tenang Yonghwa kemudian melepas dekapanya dari Seohyun, dan menundukan
kepala ke lututnya, tubuhnya sudah melemas tidak setegang tadi.
“Maafkan
aku Seo Joohyun-ssi”
“Gwenccana..”
Tidak
ada percakapan lebih, setelah itu mereka hanya saling diam dan membuat suasana
sedikit canggung. Seohyun berusaha memejamkan matanya karena ia ingin mengingat
apa yang sebenarnya terjadi.
***
Jumat Berikutnya, Siang Hari
Apartement Grup.
Joon
masih mondar mandir setelah satu minggu tak ada kabar dari Yonghwa yang
melenyap begitu saja, entah bagaimana kabarnya, apa ia sudah tertangkap
kemudian mati atau dia masih bersembunyi di tempat yang mereka tidak ketahui
sama sekali. Ia menyalakan tv setiap hari, padahal hal itu sangat di larang di
lingkungan mereka. Namun ketakutanya akan kehilangan Yonghwa membuat Joon tidak
punya pilihan lain selain menonton setiap berita.
“Joohyun
masih belum di temukan ya?” Tanya Dujoon dingin dari belakang
“Apa
kau tidak mengkhawatirkan Yonghwa sedikitpun?”
“Dia
kan sudah ahli.. kenapa harus khawatir?”
“Aish!
Neo! Jajjeuna!”
Lee
Joon pergi dan menutup pintu sekeras mungkin, setelah Joon dan Jonghyun lenyap,
Dujoon kemudian menyalakan tv, mengamati dengan seksama berita yang itu-itu
saja, buronan yang masih sama. Dan ia tertunduk sambil berdoa.
“Tuhan.
Selamatkan mereka berdua..”
Dujoon
yang merupakan ketua kelompok itu, tidak pernah ingin kehilangan satupun dari
mereka, cukup saat ia meninggalkan L dan membuatnya di tembak mati oleh polisi,
kali ini ia tak mau kehilangan lagi. Biarpun ia terlihat santai di hadapan
anggota yang lain, tetap saja perasaanya di hantui ketakutan. Jika ia bisa, ia
ingin menukar posisinya dengan Yonghwa.
“Dimana
kamu? Apa kamu masih hidup? Yonghwa-ya..”
Universitas Dongguk.
Sanak
Saudara, pekerja pabrik serta kerabat dari keluarga Kim berhamburan di lapangan
Dongguk, mereka mendemo agar Dosen dan teman-teman Seohyun tidak menyembunyikan
keberadaanya, dan meminta agar Seohyun di hukum setimpal dengan apa yang telah
ia lakukan. Sementara situasi semakin ricuh, tidak ada yang bisa Dekan dan
Dosen serta teman-teman Seohyun lakukan, mereka pun sama sekali tidak
mengetahui keberadaan Seohyun.
Kebanyakan
orang, begitu mengumpat dan membenci Seohyun, tak jarang Apartemen Seohyun
telah di rusak dan banyak tulisan mengecam atas kriminalitas yang ia lakukan.
Sementara teman-teman kerabat serta keluarga dan para dosen masih begitu
mempercayai bahwa Seohyun tidak melakukan kejahatan tersebut.
Andai
saja satu dari keluarga Kim masih hidup, mereka bisa memberikan kesaksian,
Bahwa bukan Seohyun yang telah membunuh anggota keluarganya.
-
To Be Continue
-
a/n : Duh, akhirnya setelah bertahun-tahun hiatus bikin fanfic bikin juga deh haha. asalany ini mau di jadiin oneshoot sayangnya kepanjangan dan keburu ngantuk buat ngetik ampe beres. Jadi tunggu part 2 nya ya . ini cuma bakalan dibikin 2 part kok.
dan plis jangan nanyain NMTF yaaa, soalnya aku rada amnesia mau di jadikan gimana fanfic itu hahah.
makasih ya yang masih aktif maen ke blog ini dan nunggu post selanjutnya.
oh ya kalo Yongseo moment, Insyaallah akan di update Awal tahun 2015 ^^, Be Patient Be Ready ya ..
jangna lupa tinggalin jejak komen di bawah ..
gomawooo..
Ismi Nuraulia.
