Minggu, 01 Oktober 2017

Kembali Ke Rumah

Aku bahkan tidak tahu harus memulai tulisan ini darimana, karena begitu banyak keajaiban hasil tangan Allah Ar-Rahman yang pada akhirnya menyatukan kami. Selama satu tahun bersama kami sudah mengecap segala rasa manisnya pernikahan, pahit? Tidak kami duga perkataan orang lain yang menyatakan indahnya pernikahan tak akan bertahan lebih dari tiga hingga enam bulan, setelahnya hanya rasa sayang yang akan membuatmu bertahan karena kamu mulai bosan, tidak. Sampai saat ini kami masih saling sayang, saling cinta dan tambah menerima kekurangan serta kelebihan satu sama lain. Terlebih kini di tengah kami ada buah cinta, Askandari.

Aku, akan membawa kisah ini kembali, menarik semua yang membacanya pada awal saat kami akhirnya memutuskan untuk menikah.

Korean drama, The heirs.
          Siang itu entah ada angin apa, suamiku yang saat itu sedang jaim-jaimnya akibat hasil penolakan pernyataan cintanya padaku tahun 2012 lalu, tiba-tiba mengirimi pesan via bbm
          Gen, film the heirs rame yak! Si Park Shin Hye na geulis
          Idih ni orang tumben-tumbenan nonton drama korea, tumben-tumbenan ngebbm lagi, tumben-tumbenan ... tapi ada perasaan bahagia dalam hatiku dan mulailah aku berikrar dalam hati “sekarang, kamu kembali, setelah sekian lama ku sebut kamu dalam doaku, kunanti kedatanganmu lagi, akhirnya kamu kembali, akan ku Tarik dan tak akan ku ulur lagi”
          Masih ingat kan, drama the heirs yang tayang akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 pada akhirnya di tayangkan di R*TI pada tahun 2014 akhir, dan siapa sangka drama itu yang pada akhirnya menyatukan kami kembali. Setelah sekian lama dia membalikan diri dan tak ingin menghubungiku lagi. Setelah satu pesan via bbm itu terkirim, usahanya untuk menutup hati padaku, untuk melupakan kenangan pahit karena sempat aku tolak cintanya, yang sudah membangun benteng pertahanan tinggi-tinggi agar tak jatuh hati lagi padaku akhirnya kalah, rusak dan hancurlah benteng itu, karena hari itu kami pada akhirnya lagi-lagi setelah sekian lama, berbalas pesan singkat, hingga hari-hari berikutnya, sejak fajar baru menyala hingga kami hendak terlelap dalam malam yang gelap.

Pada pertengahan 2010
          Tahun itu semua orang menunjukan eksistensinya via sosial media pertama seteleh Friendster yang mendunia, yaitu Facebook, apalagi? Dia mengirimi permintaan pertemanan setelah tau-tau nimbrung di komentarku dengan Teh Yayu. Singkatnya aku terkejut mengetahui fakta bahwa dia tinggal tidak jauh dari rumahku, kami hanya berjarak kurang lebih tiga hingga lima menit berjalan kaki, anehnya seumur hidup selama 18 tahun aku tidak pernah mengenal atau melihatnya lalu lalang, apalagi mengenalnya. Aneh sekali. Mengapa dunia begitu luas? Padahal ia dekat, tapi selalu terlewat*
          Kami tidak melakukan banyak interaksi pada tahun itu, selain berbalas komentar nyeleneh. Satu sama lain, merasa cocok kami menjadi dekat namun bersekat, karena kami berdua saat itu sama-sama sedang terikat. Terikat hal yang tak harus kami ingat-ingat.
          Tapi pada suatu hari kami berkirim pesan via messenger dan aku meledeknya, lagi.

          I : Geura nikah atuh akang
          R : ah nanti aja 6 tahun lagi, kalau umur udah 27 di kasih izinya umur segitu
         
Jeng jeng jeng, membaca pesan itu, aku terkekeh sendiri, umurku saat itu 18 tahun dan dia hampir 22 tahun

          I : ih sama dong, aku juga target nikahnya 6 taun lagi, pas umur 23

          Padahal, aku percaya saat itu, Allah yang maha penyayang sudah menunjukan satu titik penghubung, memberi isyarat, membuat firasat bahwa lelaki itu, adalah jodohku. Enam tahun yang akan datang. Sayangnya kami mengabaikan perbincangan itu begitu saja, hingga waktu terus berjalan dan kami membuat kesalahan untuk berpacaran dengan orang lain berulang-ulang, lagi-lagi dunia terasa begitu luas, padahal ia dekat, tapi selalu terlewat.

          Awal 2011

          Awal yang baru bagi kami, kembali lagi tangan ajaib Allah menuntun kami untuk berubah dan berada di titik yang sangat kebetulan terjadi dalam waktu yang nyaris bersamaan.

          Dia memutuskan untuk sendiri, memilih jalan hijrahnya untuk menjadi lelaki yang lebih siap dan lebih baik dalam membina diri, membuatnya terlihat sedikit menyebalkan dimata orang lain, terutama di mata perempuan yang pada akhirnya dia tinggalkan.
          Dalam waktu yang nyaris bersamaan, aku di campakan, aku mengalami hal terburuk seumur hidupku, yang sampai hari ini aku sesali, seharusnya jika aku tidak mengabaikan pertanda dari Ilahi perkara jodohku adalah lelaki yang saat itu memutuskan untuk hijrah, aku tidak harus capek-capek mengalami tangis menangis, merasa patah hati, tapi begitulah cara Allah untuk menyelamatkanku, sebelum kejadian di campakan itu terjadi aku sudah berikrar di pangkuan ibuku dengan hati pasrah dan penuh harap, mungkin aku tau pada akhirnya aku dan lelaki kurang ajar itu akan berpisah jadilah aku berikrar sambil menghela nafas:
          “Bu, kalau teteh putus sama yang ini, teteh mah enggak akan pacaran ah. Cape .. nanti aja .. mau langsung nikah”

          Dan betulan, ucapan itu sudah di acc oleh ibu dan Yang Maha Kuasa, dalam kurun waktu yang sangat lama, aku sendirian, menikmati masa-masa mesra bersama keluarga dan Allah Ar-Rahim, tidak pernah merasa kesepian, tidak pernah di landa sedih, tidak lagi mengalami patah hati atau menangisi hal-hal tidak penting dalam hidupku, sampai aku lulus SMK dan mulai bekerja, sampai beberapa lelaki datang dan pergi sambil memintaku untuk menjadi kekasihnya, aku tetap bersikeras dan teguh untuk menjaga prinsipku. Aku ingin sendiri sampai ada yang datang melamarku, dan aku menikah denganya.
          Aku melihat suamiku saat itu lalu lalang berdakwah di facebook, mentag beberapa nama dan memberikan materi-materi pengajian yang ringan dan mudah untuk di amalkan, laki-laki yang tadinya humoris dan easy going itu kulihat mulai berubah menjadi sosok yang serius, kalem dan pembawaan yang sedikit tegas tentang agama. Awalnya aku kagum, hingga aku mulai kesal, bukan karena dia tidak bisa lagi kuajak bercanda di wall facebook atau berbalas komentar konyol, tapi karena dia mulai men-tag perempuan-perempuan yang kemudian membuatku menilainya negatif. Dia ingin tebar pesona, dia mencoba untuk mencari perempuan untuk mengisi hidupnya lagi dengan cara lain, ayo cemooh aku Tuan, tapi saat itu  aku betulan benci dengan hal itu, aku tidak suka melihatmu berbalas komentar dengan para akhwat itu, aku tidak suka memandangi facebookmu yang penuh dengan kiriman dari para akhwat yang bertanya dari A sampai Z perihal agama. Karena, aku cemburu. Karena, aku merasa posisiku terganti.

          Sebelum kamu memutuskan untuk berhijrah, yang ku ingat hanya aku yang sering-sering kamu datangi akun facebooknya untuk di acak-acak dengan komentar abstrakmu, dan hanya kita berdua yang tinggal di planet itu, sebuah planet yang orang lain tidak punya tiket masuk atau kendaraan yang mampu mencapainya, hanya ada aku dan kamu di dalamnya, bebas tanpa batas, tapi tak terikat satu sama lain, saling mengagumi tanpa mengatakanya, dan saling melengkapi dengan kebodohan bersama. Dan kamu merusaknya, membuatku harus maju satu langkah untuk menarikmu kembali menjadi makhluk asing bersamaku, bukan para akhwat itu. Tapi pada akhirnya aku hanya diam, menjadi penonton karena aku merasa tidak pantas, tidak pantas untuk merusak proses hijrahmu, aku mulai menjauh, aku mulai menahan diri dan aku memutuskan untuk kembali ke duniaku sendiri. Yang di dalamnya tak ada kamu.

***
          Hal gawat darurat terjadi tahun itu, aku—nyaris—menikah—muda, untungnya hanya nyaris, karena aku bilang pada orang tuaku saat itu bahwa aku memutuskan untuk tidak ingin berpacaran sebelum menikah, akhirnya mereka dengan seenak jidat mengijinkan seorang lelaki yang usianya 10 tahun lebih tua dariku, bersama keluarganya datang ke rumah. Untuk—mengajaku—menikah. Duniaku rasanya hancur, aku ingin lari saat aku bertemu dengan lelaki itu, memang sih sudah mapan, tidak terlihat tua dan lumayan tampan, tapi yang jadi masalanya AKU BELUM SIAP MENIKAH SAMA SEKALI. Huh untungnya setelah kelurga laki-laki itu pamit dari rumah, kesan orang tuaku tidak terlalu bagus, karena kebetulan saat mereka pamit adzan magrib berkumandang, diajak solat magrib malah pulang, hahaha setelah drama nangis-nangis di kamar karena tidak ingin menikah akhirnya setelah kejadian itu, orang tuaku kapok dan tidak pernah tuh menjodoh-jodohkanku lagi dengan orang lain, katanya biar saja aku yang pilih biar saja aku yang memutuskan, lagipula saat itu betulan aku masih pecicilan dan terlalu dini untuk menikah, bangun jam 5 subuh setiap hari saja sudah syukur, bagus kalau tidak tidur lagi setelah subuh, lha ini bangun solat subuh terus tidur lagi, anak begitu masak mau disuruh nikah.

          Kejamnya dunia padahal aku tidak pernah sering-sering keluar rumah, tidak suka main jauh-jauh tanpa orang tua, dan tidak suka tebar pesona keterlaluan pada orang lain, lamaran-lamaran selanjutnya datang dan membuatku terkejut, tapi orangtuaku masih menyimpanku rapat-rapat karena ya itu, mereka sudah memutuskan untuk tidak memaksaku menikah dengan lelaki yang tidak aku kenal. Bersyukurlah Tuan, orangtuaku menyimpanku baik-baik untukmu, yang beberapa tahun setelah itu datang melamar dengan tenang.

          Aku tidak begitu percaya mitos tentang ‘jangan terlalu sering menolak lamaran laki-laki nanti jodohmu susah, nanti menyesal kalau jadi perawan tua’ menurutku, menikah adalah suatu hal sakral yang tak bisa di buru-buru hanya karena usia sudah mepet, hanya karena pamali kalau terlalu sering menolak lamaran laki-laki, menurutku menikah adalah indah, bukan karena takut apa-apa selain takut dosa karena tidak bisa menahan syahwat yang berujung zina.


          Pada Tahun 2012

          Dia tahu-tahu memberi kabar sedang ada di pasar apung dan membeli satu kepala duren dengan harga lima ribu rupiah saja.
          “ai kamu lagi dimana sih”
          “lagi di Pontianak dong, lagi perbantuan, 4 bulan disini”
          “ih jauh-jauh teuing apa-apaan cigera”
          “mempeng masih muda laah, gen disini mah duren teh cuma lima rebu doang jaba enak deuih gak kaya di Sukabumi”

          Dia, hanya sekedar memberi tahu, padaku, secara langsung, padahal aku tidak pernah tuh mencarinya, dia saja yang memang ingin aku tahu, sekaligus ingin pamer kepadaku. Sebal, tapi artinya dimanapun dia berada, dia selalu mengingatku, setelah berbulan-bulan berlalu akhirnya dia kembali tapi kami tak pernah bertemu lagi setelah sekian lama, setelah dia pernah menjemputku malam-malam sepulang aku kerja, pertama kalinya dia mengantarkanku pulang sambil mentraktirku kwetiaw, ah dasar ada-ada saja modusmu, Tuan.
          Tahun ini, ada hal berat yang membuat hatiku begitu mencuat-cuat kesal, ingin aku tumpahkan perasaan yang sudah ku tahan-tahan sejak akhir tahun lalu pada kamu, aku melihat potensi besar perempuan yang siap menggantikanku menjadi agen rahasia yang akan kau ajak ke duniamu, aku tidak terima, aku kesal dan aku tentu saja cemburu, bentuk cemburuku ini bukan cemburu dari seorang perempuan pada laki-laki bukan cemburu yang seperti itu, biar ku gambarkan :
          Bertahun-tahun kamu dan aku adalah agen planet lain, kita berdua adalah sahabat sehati yang hanya kita berdua punya dunia sendiri, tidak ada satu orangpun yang bisa masuk ke dunia aneh milik kamu dan aku itu, lalu tiba-tiba kamu begitu akrab dengan orang lain, ya jelas hatiku tak setuju. Karena biar ku jelaskan – kamu Cuma milik aku. Mengerti?
          Bodoh, aku sudah tahu kamu menyukaiku sejak lama, sudah tahu, tapi aku pura-pura tidak tahu, kenapa? Karena aku tidak mau merusak hubungan indah ini, hubungan bebas yang tak terikat, hubungan menarik yang membuat orang lain ingin ada di dalamnya, hubungan yang tanpa harus kita jelaskan membuat orang lain cemburu dan hubungan yang tanpa harus kami sebut membuat orang lain bertanya-tanya, hubungan yang tanpa terucap apapun sudah diketahui bahwa kamu menyukaiku, atau mungkin saat itu aku juga menyukaimu, hanya saja, aku terlalu asyik melukai banyak hati, tapi tidak dengan hatimu, satu-satunya hati yang tidak pernah aku lukai dengan sengaja. Satu-satunya hati yang aku jaga dan aku tak ingin kehilanganya, kamu harusnya menyadarinya.

          Dan, pada akhirnya aku meledak, meledak dengan tenang memancingmu untuk datang dan mengakui apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kamu datang.

          I : Sekarang mah so sibuk banget sih, susah diajak smsan juga
          R : sorry gen, kan akuteh sekarang mah ngaji wae geuning
          I : Ngaji apa ngeceng, geuning sekarang mah di facebook teh komenan terus sama cewek
          R : hahah ngaji atuh gen, atuh sekali-kali ikut kajian gen
          I : iyah nanti kapan-kapan, kayanya lagi kesengsem seseorang nih kalo liat dari komen-komenan di facebooknya mah
          R : emang tauu gen? emang kenal orangnya? Akumah kagum gen sama orang ituteh, kagum sama semangatnya buat dateng ke pengajian, semangat belajarnya
          I : kagum apa kagum? Kenal lah, aku tau banget.
          R : kagum gen, resep we akumah
          I : TERUS, AKU GIMANA?        
          R : gimana apaan initeh gen?

          Aku serius cemburu dan kesal mengetahui posisiku nyaris tergantikan, hingga akhirnya aku luncurkan kata-kata yang akan mengantarkanmu padaku.
          I : iya kalau kamu sukanya sama dia, terus aku gimana? Aku mau di kemanain gen? ai kamu..
         
          Disana, dia hanya tertawa, tapi hatinya sudah terbawa, walau aku hanya memancingnya lewat candaan tapi, dia tidak bisa mengelak lagi kali ini..

          R : gen, nanti aku mau nelpon lah kalau udah selesai kerjaan
          I : yooooy siap di tunggu.

          Siang itu, dia betulan menelpon, hanya sekedar basa-basi membicarakan hal tak penting, tapi aku tau lidahnya sedang di persiapkan untuk menyatakan perasaanya padaku, ku tunggu sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit, hingga menit-menit selanjutnya dia masih saja berputar-putar, akhirnya aku mengakhiri telponya.

           I : udah yah gen, aku mau ke aer dulu
          R : ih tunggu 15 menit lagi weh
          I : iiih batrenya juga lobet ini hape
          R : eh kamumah
          I : udah yah, dadah
          R : yaudah deh

          Lima menit setelah itu ia mengirimi pesan, sekarang via whatsapp dan aku sudah bisa menebak apa yang akan dia katakan.

          Gen, sebenernya aku teh mau ngomong, kalau aku suka sama kamu, gatau dari kapan, yang jelas aku suka aja

          Iya nyah? Hahahah

          Iya gen, tapi aku tau sih pasti kamu gak mau ya?

          Aku tersenyum, dia bertanya dan menjawab pertanyaanya sendiri, dia menyatakan hatinya untuku tapi menutup pintunya sendiri, pada akhirnya aku menang, aku tau posisiku di hatinya tidak pernah terganti oleh siapapun, rasa kagumnya pada orang lain hanyalah sebatas mengagumi, tapi perasaanya untuku akan bertahan, karena kami sudah mengikat tanpa ikatan, dan dengan seizin Allah rabbi dengan perasaan berat hati, aku harus mengatakan ini

          iya gen, aku belum mau pacaran sih ..
         
          hah lega gen, yang penting aku udah nyatain sih .. jadinya gak ada lagi yang ngeganjel .. dan aku udah tau jawaban kamu bakalan gitu ..

          Demi apapun, aku mengatakan itu bukan karena aku benar-benar tak ingin bersamamu, bukan karena aku tidak menyukaimu, levelku dalam menyukaimu saat itu mungkin masih di dalam batas wajar, tidak mencuat-cuat, ini semua karena semata-mata untuk kebaikan kita berdua.
          Kamu yang sedang dalam perjalanan hijrahmu, mana mungkin aku harus menghancurkanya, kamu meninggalkan pacarmu yang dulu karena kamu ingin fokus berhijrah, lalu nanti jika aku menerimamu apa katanya? Apa kata mereka? Terlebih aku masih sangat nyaman dalam kesendirian, aku punya cita-cita tidak berpacaran sebelum menikah, dan aku punya prasangka baik pada Allah, bahwa kamu akan kembali setelah kamu dan aku sama-sama siap, sana pergi saja dulu, mengejar ilmu, memenuhi dirimu dengan ilmu yang bermanfaat.

          Dan sejak hari itu, dia menjauh dariku, dia tidak lagi menjadi sosok yang paling dekat dan paling aneh, dia melanjutkan men-tag beberapa akhwat di sosial media, mungkin meminjam buku pada beberapa yang lain, sebelumnya dia selalu dan hanya selalu meminjam dan meminjamkan buku-buku dari dan padaku, tidak pernah aku bosan bertemu dengannya barang semenit dua menit hanya untuk meminjamkan buku untuk dia baca, setelahnya kami akan membahas isi buku itu sampai puas, dari perahu kertas hingga madre, dari karya-karya dewi lestari yang sama-sama kami suka. Tapi kini dia benar-benar membalikan punggunya padaku, tidak kuterima lagi chat atau komentar di facebook darinya, yang jadi pertanyaan adalah apakah sesakit itu? padahal jika dia tau isi hatiku mungkin dia tidak akan menjadi seperti ini ..

          Aku kemudian membuka cerpen terakhir dalam buku madre karya dewi lestari tahun 2011 judulnya “menunggu layang-layang” yang aku ingat, dia pernah menuliskan tentang Starla dan Christian, tentang mereka yang menunggu layang-layang, tentang bagaimana Starla memainkan banyak hati, dan aku tau, dia menujukan hal itu padaku. Kami berdua sama-sama menemukan diri kami dalam cerpen itu, karakter Starla yang bisa dikaitkan denganku, dan karakter Che yang juga bisa di bandingkan denganya. Berita baiknya adalah, cerpen itu berakhir indah, berakhir baik, berakhir bahagia.

          Sejak hari itu usai, namanya adalah nama yang paling sering aku sebut dalam doaku, namanya adalah nama yang selalu aku semogakan, dia adalah orang yang akan selalu membekas dan menjadi teman dalam hati ini, dan begitulah cara Ilahi menariku kedalam dekapnya, dunia menjadi begitu sempit, walaupun ia jauh, ia selalu terasa dekat.

***
2013
Aku melihatnya dalam bentuk lain, tidak kutemukan lagi sisi menyebalkan darinya, maksudku sisi dimana ia suka men-tag dan berbalas komentar dengan akhwat di facebooknya, tahun itu dia menjadi sosok yang jauh lebih baik lebih tentram dan lebih menetramkan, aku masih suka memperhatikanya walaupun dia sudah tak mau lagi menyapaku, dia sudah tidak lagi mengikuti kajian yang isinya dicampur dengan akhwat, dia memilah-milah pengajian yang nyaman menurutnya, tahun itu banyak orang ingin menjodohkanya, mencarikanya pasangan terbaik.
Satu orang ingin menikahkanya dengan adiknya, dengan adik iparnya, dia berkali-kali dijadikan bahan olok-olok karena belum juga menikah, padahal usianya sudah cukup, posisi dan jabatan di kantornya juga sudah baik, dikatakan siap dia sudah siap, jawabanya selalu sama “aku bisa nyari sendiri kok” dia memang begitu, aku tau beberapa perempuan baik sempat dekat denganya, tapi memang dia belum siap menikah, jadi mau tidak mau perempuan itu hanya sekedar dekat. Tidak lebih.
Bicara tentang jodoh menjodohkan, suatu malam di tengah kemacetan di daerah tempat dia bekerja dia bertemu dengan seorang ibu yang sepertinya kelelahan karena terkena macet dan terpaksa turun dari angkutan, dengan baiknya dia mengajak ibu itu untuk menumpang sampai ke tempat tujuan, sepanjang perjalanan si ibu itu aktif mengajak dia yang kini menjadi suamiku berbicara, ngalor ngidul perihal pekerjaan, usia, kuliahnya sampai akhirnya si ibuk itu kagum.
“ibu juga punya anak perempuan, usianya di bawah kamu, masih kuliah, rumah ibu di karang tengah, kapan-kapan main ya ke rumah nanti ibu kenalin sama anak ibu..”
Tapi Allah maha baik, di balik banyaknya perempuan baik yang ingin menjadikan dia sebagai suami, diantara banyaknya pilihan yang ada di depan matanya, diantara dekatnya jodoh padanya yang bisa siapa saja dan kapan saja yang dia pilih, dia menanggalkan itu semua, dengan alasan : belum siap dan belum di beri izin oleh ibunya. Dia berubah menjadi sosok yang kembali seru, pecicilan dan asik diajak bicara walau bukan denganku tapi dengan teman-temanya yang lain dia tidak menjadi sosok lain yang jaim dan sok kalem, tapi dengan casing seperti itu dia menjadi sosok yang penuh dengan ilmu, tidak harus lagi menjadi sok alim, dia menjadi dirinya sendiri, tapi dengan isi yang lebih berkualitas, dan aku menantinya kembali, karena doaku selalu mengiringinya, andai ia tau.

Disepanjang tahun, semenjak kamu memalingkan dirimu dariku, aku tak pernah berhenti mendoakan untuk kebaikanmu, memintamu pada Ilahi, berdiam diri sambil menunggumu datang kembali, entah bagaimana caranya hati ini tak pernah takut akan kehilanganmu, entah bagaimana Allah menyisipkan firasat bahwa kamu adalah jodohku, aku pernah menangis di sepertiga malam minta ampun pada Rabbi, kemudian memintanya memberiku petunjuk atas penantianku .. dan kamu tak hanya sekali dua kali hadir dalam mimpiku .. tapi ku tutup rapat-rapat semua itu .. ku tutup semua untuk diriku sendiri. Menginjak usia ke-20 tahun aku masih tetap menikmati waktu sendiri, aku semakin matang dan mantap dalam memilih hal-hal penting, lagi-lagi ada beberapa yang datang melamarku, tapi karena istikharahku berhujung pada bukan mereka aku tidak takut aku menjadi perawan tua, susah jodoh karena banyak menolak lamaran. Tidak sama sekali.
          Tapi, tahun itu nyaris saja aku menikah, hanya karena alasan kali ini aku mengenal laki-laki yang mengajaku menikah, jika sebelumnya yang melamarku datang dengan berani ke rumah membawa keluarganya kali ini dia bertanya padaku langsung perihal pernikahan, nyaris saja, sedikit lagi. Tapi lagi-lagi Allah menyimpanku, menyelamatkanku tentu saja untuk kamu, Tuan.
          Saat aku mengatakan pada kedua orangtuaku bahwa aku sudah siap dan ingin menikah, mereka melihatku aneh, sedikit kaget dengan tatapan “yakin?” aku memperlihatkan fotonya, dan menceritakan pekerjanya bagaimana orangnya dan lain sebagainya, memang takdir Allah itu luar biasa, rancangan dan rencananya selalu di luar dugaan, bahkan sebelum aku melakukan istikharah, Allah sudah menunjukan bahwa dia bukan jodohku, langsung kepada orang tuaku, siang itu aku di kirimi pesan oleh ayahku.
          “Teh, geuning yang teteh bilang mau nikahin teteh teh, udah ngajakin orang lain nikah? Ini ayah lagi di bank, ayah Tanya-tanya teteh kan satu sekolah katanya pas di Tanya orang itu dia kenal dan dia bilang laki-laki itu udah pernah ngajak dia nikah”
          Masyaallah, aku hanya bisa tersenyum, lega. Lega sekali, karena jika memang pada akhirnya aku dan laki-laki itu menikah, aku hanya menyiksa hatiku sendiri, karena aku sama sekali tak menyukai nya, tak ada perasaan suka sama sekali, aku hanya memaksakan diri karena usiaku sudah cukup dan aku rasa aku sudah cukup siap, lagipula aku mengenal laki-laki itu, tapi Allah berkata: Bukan, dan belum saatnya.
***
          Setelah sekian lama, sudah lama sekali sejak kami saling menyapa, akhirnya aku memberanikan diri mengiriminya pesan singkat.
          Gen, semalem habis solat tahajjud, aku mimpiin kamu da J

          Oh, masa sih? Tapi kalo akumah engga mimpiin jalan ke nyangkokot wetan da.

          Biar saja, dia masih dendam padaku, aku tau, aku merasa itu adalah sebuah penolakan dan penyangkalan. Biar saja, aku tau dia mulai terguncang dan akan memperhatikan setiap perkataanku lagi. Dengan begitu aku sudah sedikit puas, biar dia tau dia adalah bagian dari doaku, nyaris setiap hari. Walau dia banyak mengabaikanku walau dia banyak diam, tapi aku tau kemanapun langkahnya pergi, doaku memeluknya selalu, hati ini tau bahwa suatu saat kapanpun itu dia akan kembali,ke sini, ke dalam hatiku.

          2014

          Seberapa kuat dia menahan diri untuk tidak menghubungiku? Seberapa lama ia bertapa untuk mengalihkan dunianya dariku? Seberapa banyak perempuan yang sudah ia istikharahkan untuk menjadi pasangan hidupnya? Tahun itu usianya 25 tahun dia memiliki waktu dua tahun lagi untuk mencapai targetnya menikah, dan aku masih santai-santai saja, bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, disaat dia masih nyaman-nyaman saja di satu perusahaan yang sama, aku masih suka memperhatikan sosial medianya masih suka melihat nya di bbm, dan masih memperhatikan hal-hal kecil darinya, dia rupanya menutup rapat-rapat kisah cintanya, atau mungkin dia memang sendirian sebegitu lamanya. Saat itu aku tidak tau, sama sekali tidak tau, aku berada di titik paling pasrah dan tidak mengharapkan apapun, pada siapapun.

          Sampai akhirnya The Heirs membawa nya kembali, mengantarkan dia padaku, terkadang alasan sekecil itu menjadi titik terbesar, karena setelah itu aku tidak melewatkan sedetikpun untuk berbalas pesan singkat denganya. Melewati pergantian tahun berbincang panjang lebar dari bangun hingga tidur lagi.

          Pada akhirnya, Allah menjawab doa-doaku dengan cara paling sederhana, cara yang tidak pernah kita duga sebelumya, rupanya segala jenis firasat, keinginan hati dan doa itu sejenis, semua sama, jawabanya berhujung padamu, dibalik ketidak inginanku untuk menikah sebelum usia 23 tahun, dibalik tidak di izinkanya kamu menikah sebelum usia 27 tahun, dibalik diam-diamnya kita berdua selama dua tahun, di balik semua peristiwa yang terjadi sejak awal, Allah sudah mengatur dan merencanakanya, satu persatu titik mulai terhubung dan menjadi sebuah garis lurus yang menuju pada satu saja, kamu.
          Akhirnya, tembok itu roboh, akhirnya benteng tinggi yang capek-capek kamu bangun selama ini hancur, setelah kamu selidiki ternyata di dalam hatimu yang katamu sudah tak peduli padaku, masih ada perasaan yang di siram sedikit saja langsung tumbuh dan tak bisa hilang lagi, setelah mencari kesana kesini ternyata memang aku adalah jawaban dari setiap pertanyaan hidupmu, kan?

          Akhirnya, kamu kembali padaku.
          Selamat datang lagi, Tuan.

          Kali ini, aku akan menarikmu, tidak akan aku lepas lagi, karena jika kali ini kamu pergi lagi, aku tak punya daya untuk menarikmu lagi, kali ini aku tidak akan diam dan berpura-pura bahwa aku tidak menginginkanmu, kali ini biar aku saja yang berbicara padamu tentang hatiku, kamu tidak usah susah payah lagi, aku tau trauma di masalalu tidak akan membuatmu mudah untuk mengatakanya lagi. Aku tau, kamu pasti menahan banyak hal dalam hati yang sebenarnya sudah membuncah ingin berkata bahwa kamu, ingin aku, selamanya, untukmu.

          2015

          Gen,
          Kalau seandainya kamu sampai nikah sama orang lain,
          Aku pasti bakalan nangis..
          Aku pasti bakalan sedih ..
          Karena, aku akan ngerasa kehilangan separuh dari diri aku..
          Kamu tau kan,
          Aku nyaman banget sama kamu ..
          Kamu tuh, kaya aku dalam versi lain ..
          Jadi, kalau kamu sampai nikah sama orang lain,

          Aku.. pasti nangis..


          Aku sampai menangis betulan, walau hanya membayangkanya, dan aku mengiriminya pesan singkat itu .. sambil berharap dia mengerti apa yang aku maksud, apa yang aku mau.

          Mungkin di ujung sana, dia sedang menghela nafasnya panjang, mungkin dia sedang tersenyum, atau mungkin dia sedang merasa iba.

          Untungnya, tidak.

          Aku ngerti sekarang gen,
          Kalau gitu ..
          Izinin aku, nge-istikharahin kamu ya ..
          Kalau memang kita jodoh, nanti kita bisa obrolin lagi ..

          Dia runtuh seruntuh-runtuhnya, pertahananya selama ini benar-benar roboh, dia tidak bisa pergi lagi. Dia tidak bisa lari lagi, doaku mengikatnya, Tuhanku menariknya untuku ..

          Sejak hari itu, aku melihatnya dalam bentuk lain, dalam versi terbaru,  dalam bentuk laki-laki yang kuberi hatiku untuknya tanpa ada rasa takut lagi. Setelah sekian lama aku mengunci diri merasa takut disakiti, akhirnya aku menemukan laki-laki yang pantas menerima perasaanku, yang pantas kuberi hatiku sepenuhnya, kini aku berani terjatuh pada cinta sedalam-dalamnya, sekuat-kuatnya tanpa merasa takut jatuh di tempat yang salah, tanpa takut akan merasa terluka. Karena aku percaya dialah orangnya. Sejak awal aku tahu, Allah mengirimnya khusus untuku, walau kami harus banyak mengalami hal lain sebagainya yang membuat kami terpisah jarak dan waktu, tapi doaku untuknya mengiringi sampai hari ini.

***
          Marrying someone who shares the same dream as you, who always wanted you to be succeed by your own in your own feet, sejak awal dia adalah laki-laki yang paling aktif dan paling mendukung mimpiku, aku tidak pernah merasa bahwa dia adalah orang asing, aku selalu merasa dia begitu dekat, seperti kami adalah sebuah cermin yang aku menemukan diriku ada padanya, sejak awal, aku selalu merasa nyaman bertukar pikiran denganya, seperti sahabat lama yang tak kenal waktu untuk mencurahkan segala jenis isi hati, dan cita-citaku untuk menikah dengan lelaki tidak romantis terkabul, pada akhirnya aku menikah dengan lelaki yang paling memahami dan mengerti bahwa hidup lebih baik di mulai bersama dari nol, menggapai mimpi bersama .. mengumpulkan hal-hal kecil hingga menjadi besar, sambil belajar bersabar, dan mencintai satu sama lain.


          Malam ini..

          Aku menulis ini sambil menunggunya pulang, ditemani buah hati tercinta, sambil mendengarkan lagu ed sheeran yang membuat ingatanku melayang-layang jauh tentang betapa kuatnya perasaan ini untuknya, betapa dia dekat dan jauh dalam waktu bersamaan, betapa aku sangat menyayangi lelaki ini.

I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Well I found a girl beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me


'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite Well I found a girl beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me


'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don't deserve this, darling, you look perfect tonight
Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
I have faith in what I see
Now I know I have met an angel in person
And she looks perfect
I don't deserve this
You look perfect tonight

         

          Dia datang, memeluku erat, mencium keningku hangat.
          “satu tahun ya..”
         

         Satu tahun yang indah, satu tahun sejak kami menemukan sebuah rumah, tempat kami kembali, bukan hanya sekedar singgah, satu tahun yang berharga karena kami berdua memupuk perasaan ini dengan cinta kasih yang berkaitan dengan doa kami pada Ilahi, semoga selamanya seperti ini, bersama kekasih baru kami, Askandari.

          Happy anniversary, suamiku.

          Untukmu,

          Restu Iqbal Ginanjar-ku.