Minggu, 27 Februari 2022

Untuk Suamiku yang Baik

         Aku banyak ragunya, ragu untuk menceritakan betapa baiknya kamu, suamiku. Aku sebenarnya tidak ingin pamer pada siapapun tapi, tulisan disetiap sosial media sudah pasti memiliki berbagai sudut pandang sesuai dari apa yang oranglain baca. Bisa jadi ada ikut bahagia, atau iri, atau malah bersedih, karena kita tidak bisa menyamaratakan keadaan kita dengan orang lain, kita harus berdiri di sepatu orang lain untuk tau bagaimana posisi dan suasana hati mereka.

        Akhirnya aku menulis lagi, rasanya akan aman jika aku mulai mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan walaupun isinya tentang kehidupanku sehari-hari, tentang rasa syukur, juga keluh kesah ku pada dunia yang tidak bisa aku sampaikan pada siapapun.


        Dear suamiku yang baik.

        Aku sering bertanya-tanya apa kebaikan yang telah aku buat, sampai-sampai aku dianugrahi manusia sepertimu, memang kamu tidak sempurna tapi kamu memperlakukanku dengan sangat baik nyaris sempurna.

        Setiap hari, aku disuguhkan dengan rumah yang sudah rapi, terkadang anak-anak pun sudah selesai mandi dan wangi, walau pemilihan baju untuk mereka kadang-kadang bikin aku nyeringit saking gak nyambungnya hahaha, sekarang aku malah semakin bingung harus mengerjakan pekerjaan rumah apalagi, karena setiap harinya kamu memastikan aku bahagia. Kamu bekerja dengan jarak tempuh pulang pergi kurang lebih 30km, jauh sekali sayang. Tapi pagi hari kamu masih sempat merapikan rumah, memandikan anak-anak, mencuci piring, mengepel teras kadang-kadang sudah membawakan sarapan ke kamar untuk aku makan pagi hari, kamu terlalu memanjakanku.

        Ada saat dimana aku takut, karena love languange kamu adalah act of services seharusnya aku yang paling banyak mengabdi, tapi lagi-lagi kadang aku tidak punya kesempatan untuk itu. Kamu selalu mencuri start terlebih dahulu untuk menyediakan segala kebutuhanku, hasilnya aku yang kerepotan kalau-kalau kamu lembur, dinas ke luar kota atau sakit. Aku yang terbiasa dimanjakan jadi ketar-ketir karena harus mengerjakan ini itu, kamu begitu baik.

        Aku doakan kamu, semoga semua kerja keras kamu kebaikan kamu berbuah menjadi pahala-pahala yang terasa dan langsung dibalas di dunia oleh Allah. terimakasih ya karena menghabiskan waktu mudamu untuk mengaji, mencari tahu tentang ilmu rumah tangga,dan mempraktekanya setelah kamu menikah, di dalam pernikahan ini rasanya tidak ada patriaki, kita berdua saling mengisi kekurangan satu sama lain, sehingga bisa berjalan beriringan seperti ini.

        Semoga, kamu tidak berubah, begitupun perasaan yang Allah titipkan dihati kita, semoga kita bisa menjaga bahtera ini untuk selalu utuh dalam mengarungi lautan pernikahan. Aamiin.


Sukabumi, 27 Februari 2022

Istrimu yang tidak bosan disuruh garukin punggung, pijit kepala sampai usap-usap kamu sebelum tidur, xoxo