Aku bahkan tidak tahu harus memulai tulisan ini darimana, karena begitu
banyak keajaiban hasil tangan Allah Ar-Rahman yang pada akhirnya menyatukan
kami. Selama satu tahun bersama kami sudah mengecap segala rasa manisnya
pernikahan, pahit? Tidak kami duga perkataan orang lain yang menyatakan
indahnya pernikahan tak akan bertahan lebih dari tiga hingga enam bulan,
setelahnya hanya rasa sayang yang akan membuatmu bertahan karena kamu mulai
bosan, tidak. Sampai saat ini kami masih saling sayang, saling cinta dan tambah
menerima kekurangan serta kelebihan satu sama lain. Terlebih kini di tengah
kami ada buah cinta, Askandari.
Aku, akan membawa kisah ini kembali, menarik semua yang membacanya pada
awal saat kami akhirnya memutuskan untuk menikah.
Korean drama, The heirs.
Siang itu entah ada angin
apa, suamiku yang saat itu sedang jaim-jaimnya akibat hasil penolakan
pernyataan cintanya padaku tahun 2012 lalu, tiba-tiba mengirimi pesan via bbm
Gen, film the heirs rame yak! Si Park Shin Hye na geulis
Idih ni orang
tumben-tumbenan nonton drama korea, tumben-tumbenan ngebbm lagi,
tumben-tumbenan ... tapi ada perasaan bahagia dalam hatiku dan mulailah aku
berikrar dalam hati “sekarang, kamu
kembali, setelah sekian lama ku sebut kamu dalam doaku, kunanti kedatanganmu
lagi, akhirnya kamu kembali, akan ku Tarik dan tak akan ku ulur lagi”
Masih ingat kan, drama
the heirs yang tayang akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 pada akhirnya di
tayangkan di R*TI pada tahun 2014 akhir, dan siapa sangka drama itu yang pada
akhirnya menyatukan kami kembali. Setelah sekian lama dia membalikan diri dan
tak ingin menghubungiku lagi. Setelah satu pesan via bbm itu terkirim, usahanya
untuk menutup hati padaku, untuk melupakan kenangan pahit karena sempat aku
tolak cintanya, yang sudah membangun benteng pertahanan tinggi-tinggi agar tak
jatuh hati lagi padaku akhirnya kalah, rusak dan hancurlah benteng itu, karena
hari itu kami pada akhirnya lagi-lagi setelah sekian lama, berbalas pesan
singkat, hingga hari-hari berikutnya, sejak fajar baru menyala hingga kami
hendak terlelap dalam malam yang gelap.
Pada pertengahan 2010
Tahun itu semua orang
menunjukan eksistensinya via sosial media pertama seteleh Friendster yang
mendunia, yaitu Facebook, apalagi? Dia mengirimi permintaan pertemanan setelah
tau-tau nimbrung di komentarku dengan Teh Yayu. Singkatnya aku terkejut
mengetahui fakta bahwa dia tinggal tidak jauh dari rumahku, kami hanya berjarak
kurang lebih tiga hingga lima menit berjalan kaki, anehnya seumur hidup selama
18 tahun aku tidak pernah mengenal atau melihatnya lalu lalang, apalagi
mengenalnya. Aneh sekali. Mengapa dunia begitu luas? Padahal ia dekat, tapi
selalu terlewat*
Kami tidak melakukan
banyak interaksi pada tahun itu, selain berbalas komentar nyeleneh. Satu sama lain,
merasa cocok kami menjadi dekat namun bersekat, karena kami berdua saat itu
sama-sama sedang terikat. Terikat hal yang tak harus kami ingat-ingat.
Tapi pada suatu hari kami
berkirim pesan via messenger dan aku meledeknya, lagi.
I : Geura nikah atuh akang
R : ah
nanti aja 6 tahun lagi, kalau umur udah 27 di kasih izinya umur segitu
Jeng jeng jeng, membaca pesan itu, aku terkekeh sendiri, umurku saat itu
18 tahun dan dia hampir 22 tahun
I : ih sama dong, aku juga target nikahnya 6 taun lagi, pas umur 23
Padahal, aku percaya saat
itu, Allah yang maha penyayang sudah menunjukan satu titik penghubung, memberi
isyarat, membuat firasat bahwa lelaki itu, adalah jodohku. Enam tahun yang akan
datang. Sayangnya kami mengabaikan perbincangan itu begitu saja, hingga waktu
terus berjalan dan kami membuat kesalahan untuk berpacaran dengan orang lain
berulang-ulang, lagi-lagi dunia terasa begitu luas, padahal ia dekat, tapi
selalu terlewat.
Awal 2011
Awal yang baru bagi kami,
kembali lagi tangan ajaib Allah menuntun kami untuk berubah dan berada di titik
yang sangat kebetulan terjadi dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Dia memutuskan untuk
sendiri, memilih jalan hijrahnya untuk menjadi lelaki yang lebih siap dan lebih
baik dalam membina diri, membuatnya terlihat sedikit menyebalkan dimata orang
lain, terutama di mata perempuan yang pada akhirnya dia tinggalkan.
Dalam waktu yang nyaris
bersamaan, aku di campakan, aku mengalami hal terburuk seumur hidupku, yang
sampai hari ini aku sesali, seharusnya jika aku tidak mengabaikan pertanda dari
Ilahi perkara jodohku adalah lelaki yang saat itu memutuskan untuk hijrah, aku
tidak harus capek-capek mengalami tangis menangis, merasa patah hati, tapi begitulah
cara Allah untuk menyelamatkanku, sebelum kejadian di campakan itu terjadi aku
sudah berikrar di pangkuan ibuku dengan hati pasrah dan penuh harap, mungkin
aku tau pada akhirnya aku dan lelaki kurang ajar itu akan berpisah jadilah aku
berikrar sambil menghela nafas:
“Bu, kalau teteh putus sama yang ini, teteh mah enggak akan pacaran ah.
Cape .. nanti aja .. mau langsung nikah”
Dan betulan, ucapan itu
sudah di acc oleh ibu dan Yang Maha Kuasa, dalam kurun waktu yang sangat lama, aku
sendirian, menikmati masa-masa mesra bersama keluarga dan Allah Ar-Rahim, tidak
pernah merasa kesepian, tidak pernah di landa sedih, tidak lagi mengalami patah
hati atau menangisi hal-hal tidak penting dalam hidupku, sampai aku lulus SMK
dan mulai bekerja, sampai beberapa lelaki datang dan pergi sambil memintaku
untuk menjadi kekasihnya, aku tetap bersikeras dan teguh untuk menjaga
prinsipku. Aku ingin sendiri sampai ada yang datang melamarku, dan aku menikah
denganya.
Aku melihat suamiku saat
itu lalu lalang berdakwah di facebook, mentag beberapa nama dan memberikan
materi-materi pengajian yang ringan dan mudah untuk di amalkan, laki-laki yang
tadinya humoris dan easy going itu kulihat mulai berubah menjadi sosok yang
serius, kalem dan pembawaan yang sedikit tegas tentang agama. Awalnya aku
kagum, hingga aku mulai kesal, bukan karena dia tidak bisa lagi kuajak bercanda
di wall facebook atau berbalas komentar konyol, tapi karena dia mulai men-tag
perempuan-perempuan yang kemudian membuatku menilainya negatif. Dia ingin tebar
pesona, dia mencoba untuk mencari perempuan untuk mengisi hidupnya lagi dengan
cara lain, ayo cemooh aku Tuan, tapi saat itu
aku betulan benci dengan hal itu, aku tidak suka melihatmu berbalas
komentar dengan para akhwat itu, aku tidak suka memandangi facebookmu yang
penuh dengan kiriman dari para akhwat yang bertanya dari A sampai Z perihal
agama. Karena, aku cemburu. Karena, aku merasa posisiku terganti.
Sebelum kamu memutuskan
untuk berhijrah, yang ku ingat hanya aku yang sering-sering kamu datangi akun
facebooknya untuk di acak-acak dengan komentar abstrakmu, dan hanya kita berdua
yang tinggal di planet itu, sebuah planet yang orang lain tidak punya tiket
masuk atau kendaraan yang mampu mencapainya, hanya ada aku dan kamu di
dalamnya, bebas tanpa batas, tapi tak terikat satu sama lain, saling mengagumi
tanpa mengatakanya, dan saling melengkapi dengan kebodohan bersama. Dan kamu
merusaknya, membuatku harus maju satu langkah untuk menarikmu kembali menjadi
makhluk asing bersamaku, bukan para akhwat itu. Tapi pada akhirnya aku hanya
diam, menjadi penonton karena aku merasa tidak pantas, tidak pantas untuk
merusak proses hijrahmu, aku mulai menjauh, aku mulai menahan diri dan aku
memutuskan untuk kembali ke duniaku sendiri. Yang di dalamnya tak ada kamu.
***
Hal gawat darurat terjadi
tahun itu, aku—nyaris—menikah—muda, untungnya hanya nyaris, karena aku bilang
pada orang tuaku saat itu bahwa aku memutuskan untuk tidak ingin berpacaran
sebelum menikah, akhirnya mereka dengan seenak jidat mengijinkan seorang lelaki
yang usianya 10 tahun lebih tua dariku, bersama keluarganya datang ke rumah.
Untuk—mengajaku—menikah. Duniaku rasanya hancur, aku ingin lari saat aku
bertemu dengan lelaki itu, memang sih sudah mapan, tidak terlihat tua dan
lumayan tampan, tapi yang jadi masalanya AKU BELUM SIAP MENIKAH SAMA SEKALI.
Huh untungnya setelah kelurga laki-laki itu pamit dari rumah, kesan orang tuaku
tidak terlalu bagus, karena kebetulan saat mereka pamit adzan magrib
berkumandang, diajak solat magrib malah pulang, hahaha setelah drama
nangis-nangis di kamar karena tidak ingin menikah akhirnya setelah kejadian
itu, orang tuaku kapok dan tidak pernah tuh menjodoh-jodohkanku lagi dengan
orang lain, katanya biar saja aku yang pilih biar saja aku yang memutuskan,
lagipula saat itu betulan aku masih pecicilan dan terlalu dini untuk menikah,
bangun jam 5 subuh setiap hari saja sudah syukur, bagus kalau tidak tidur lagi
setelah subuh, lha ini bangun solat subuh terus tidur lagi, anak begitu masak
mau disuruh nikah.
Kejamnya dunia padahal
aku tidak pernah sering-sering keluar rumah, tidak suka main jauh-jauh tanpa
orang tua, dan tidak suka tebar pesona keterlaluan pada orang lain,
lamaran-lamaran selanjutnya datang dan membuatku terkejut, tapi orangtuaku
masih menyimpanku rapat-rapat karena ya itu, mereka sudah memutuskan untuk
tidak memaksaku menikah dengan lelaki yang tidak aku kenal. Bersyukurlah Tuan,
orangtuaku menyimpanku baik-baik untukmu, yang beberapa tahun setelah itu
datang melamar dengan tenang.
Aku tidak begitu percaya
mitos tentang ‘jangan terlalu sering
menolak lamaran laki-laki nanti jodohmu susah, nanti menyesal kalau jadi
perawan tua’ menurutku, menikah adalah suatu hal sakral yang tak bisa di
buru-buru hanya karena usia sudah mepet, hanya karena pamali kalau terlalu
sering menolak lamaran laki-laki, menurutku menikah adalah indah, bukan karena
takut apa-apa selain takut dosa karena tidak bisa menahan syahwat yang berujung
zina.
Pada Tahun 2012
Dia tahu-tahu memberi kabar sedang ada di pasar apung dan membeli satu
kepala duren dengan harga lima ribu rupiah saja.
“ai kamu lagi dimana sih”
“lagi
di Pontianak dong, lagi perbantuan, 4 bulan disini”
“ih
jauh-jauh teuing apa-apaan cigera”
“mempeng
masih muda laah, gen disini mah duren teh cuma lima rebu doang jaba enak deuih
gak kaya di Sukabumi”
Dia, hanya sekedar memberi tahu, padaku, secara langsung, padahal aku
tidak pernah tuh mencarinya, dia saja yang memang ingin aku tahu, sekaligus
ingin pamer kepadaku. Sebal, tapi artinya dimanapun dia berada, dia selalu
mengingatku, setelah berbulan-bulan berlalu akhirnya dia kembali tapi kami tak
pernah bertemu lagi setelah sekian lama, setelah dia pernah menjemputku
malam-malam sepulang aku kerja, pertama kalinya dia mengantarkanku pulang
sambil mentraktirku kwetiaw, ah dasar ada-ada saja modusmu, Tuan.
Tahun ini, ada hal berat yang membuat hatiku begitu mencuat-cuat kesal,
ingin aku tumpahkan perasaan yang sudah ku tahan-tahan sejak akhir tahun lalu pada
kamu, aku melihat potensi besar perempuan yang siap menggantikanku menjadi agen
rahasia yang akan kau ajak ke duniamu, aku tidak terima, aku kesal dan aku
tentu saja cemburu, bentuk cemburuku ini bukan cemburu dari seorang perempuan
pada laki-laki bukan cemburu yang seperti itu, biar ku gambarkan :
Bertahun-tahun
kamu dan aku adalah agen planet lain, kita berdua adalah sahabat sehati yang
hanya kita berdua punya dunia sendiri, tidak ada satu orangpun yang bisa masuk
ke dunia aneh milik kamu dan aku itu, lalu tiba-tiba kamu begitu akrab dengan
orang lain, ya jelas hatiku tak setuju. Karena biar ku jelaskan – kamu Cuma
milik aku. Mengerti?
Bodoh, aku sudah tahu
kamu menyukaiku sejak lama, sudah tahu, tapi aku pura-pura tidak tahu, kenapa?
Karena aku tidak mau merusak hubungan indah ini, hubungan bebas yang tak
terikat, hubungan menarik yang membuat orang lain ingin ada di dalamnya,
hubungan yang tanpa harus kita jelaskan membuat orang lain cemburu dan hubungan
yang tanpa harus kami sebut membuat orang lain bertanya-tanya, hubungan yang
tanpa terucap apapun sudah diketahui bahwa kamu menyukaiku, atau mungkin saat
itu aku juga menyukaimu, hanya saja, aku terlalu asyik melukai banyak hati,
tapi tidak dengan hatimu, satu-satunya hati yang tidak pernah aku lukai dengan
sengaja. Satu-satunya hati yang aku jaga dan aku tak ingin kehilanganya, kamu
harusnya menyadarinya.
Dan, pada akhirnya aku
meledak, meledak dengan tenang memancingmu untuk datang dan mengakui apa yang
sebenarnya kamu rasakan. Kamu datang.
I : Sekarang mah so sibuk banget sih, susah diajak smsan juga
R :
sorry gen, kan akuteh sekarang mah ngaji wae geuning
I :
Ngaji apa ngeceng, geuning sekarang mah di facebook teh komenan terus sama
cewek
R :
hahah ngaji atuh gen, atuh sekali-kali ikut kajian gen
I :
iyah nanti kapan-kapan, kayanya lagi kesengsem seseorang nih kalo liat dari
komen-komenan di facebooknya mah
R :
emang tauu gen? emang kenal orangnya? Akumah kagum gen sama orang ituteh, kagum
sama semangatnya buat dateng ke pengajian, semangat belajarnya
I :
kagum apa kagum? Kenal lah, aku tau banget.
R :
kagum gen, resep we akumah
I : TERUS, AKU GIMANA?
R : gimana apaan initeh gen?
Aku serius cemburu dan
kesal mengetahui posisiku nyaris tergantikan, hingga akhirnya aku luncurkan
kata-kata yang akan mengantarkanmu padaku.
I : iya kalau kamu sukanya sama dia, terus aku gimana? Aku mau di
kemanain gen? ai kamu..
Disana, dia hanya
tertawa, tapi hatinya sudah terbawa, walau aku hanya memancingnya lewat candaan
tapi, dia tidak bisa mengelak lagi kali ini..
R : gen, nanti aku mau nelpon lah kalau udah selesai kerjaan
I :
yooooy siap di tunggu.
Siang itu, dia betulan
menelpon, hanya sekedar basa-basi membicarakan hal tak penting, tapi aku tau
lidahnya sedang di persiapkan untuk menyatakan perasaanya padaku, ku tunggu
sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit, hingga menit-menit
selanjutnya dia masih saja berputar-putar, akhirnya aku mengakhiri telponya.
I : udah yah gen, aku mau ke aer
dulu
R : ih
tunggu 15 menit lagi weh
I :
iiih batrenya juga lobet ini hape
R : eh
kamumah
I :
udah yah, dadah
R :
yaudah deh
Lima menit setelah itu ia
mengirimi pesan, sekarang via whatsapp dan aku sudah bisa menebak apa yang akan
dia katakan.
Gen, sebenernya aku teh mau
ngomong, kalau aku suka sama kamu, gatau dari kapan, yang jelas aku suka aja
Iya nyah? Hahahah
Iya gen, tapi aku tau sih
pasti kamu gak mau ya?
Aku tersenyum, dia bertanya dan menjawab pertanyaanya sendiri, dia
menyatakan hatinya untuku tapi menutup pintunya sendiri, pada akhirnya aku
menang, aku tau posisiku di hatinya tidak pernah terganti oleh siapapun, rasa
kagumnya pada orang lain hanyalah sebatas mengagumi, tapi perasaanya untuku
akan bertahan, karena kami sudah mengikat tanpa ikatan, dan dengan seizin Allah
rabbi dengan perasaan berat hati, aku harus mengatakan ini
iya gen, aku belum mau pacaran
sih ..
hah lega gen, yang
penting aku udah nyatain sih .. jadinya gak ada lagi yang ngeganjel .. dan aku
udah tau jawaban kamu bakalan gitu ..
Demi apapun, aku mengatakan itu bukan karena aku benar-benar tak ingin
bersamamu, bukan karena aku tidak menyukaimu, levelku dalam menyukaimu saat itu
mungkin masih di dalam batas wajar, tidak mencuat-cuat, ini semua karena
semata-mata untuk kebaikan kita berdua.
Kamu yang sedang dalam
perjalanan hijrahmu, mana mungkin aku harus menghancurkanya, kamu meninggalkan
pacarmu yang dulu karena kamu ingin fokus berhijrah, lalu nanti jika aku
menerimamu apa katanya? Apa kata mereka? Terlebih aku masih sangat nyaman dalam
kesendirian, aku punya cita-cita tidak berpacaran sebelum menikah, dan aku
punya prasangka baik pada Allah, bahwa kamu akan kembali setelah kamu dan aku
sama-sama siap, sana pergi saja dulu, mengejar ilmu, memenuhi dirimu dengan
ilmu yang bermanfaat.
Dan sejak hari itu, dia
menjauh dariku, dia tidak lagi menjadi sosok yang paling dekat dan paling aneh,
dia melanjutkan men-tag beberapa akhwat di sosial media, mungkin meminjam buku
pada beberapa yang lain, sebelumnya dia selalu dan hanya selalu meminjam dan
meminjamkan buku-buku dari dan padaku, tidak pernah aku bosan bertemu dengannya
barang semenit dua menit hanya untuk meminjamkan buku untuk dia baca,
setelahnya kami akan membahas isi buku itu sampai puas, dari perahu kertas
hingga madre, dari karya-karya dewi lestari yang sama-sama kami suka. Tapi kini
dia benar-benar membalikan punggunya padaku, tidak kuterima lagi chat atau
komentar di facebook darinya, yang jadi pertanyaan adalah apakah sesakit itu? padahal jika dia tau isi hatiku mungkin dia
tidak akan menjadi seperti ini ..
Aku kemudian membuka
cerpen terakhir dalam buku madre karya dewi lestari tahun 2011 judulnya “menunggu layang-layang” yang aku ingat,
dia pernah menuliskan tentang Starla dan Christian, tentang mereka yang
menunggu layang-layang, tentang bagaimana Starla memainkan banyak hati, dan aku
tau, dia menujukan hal itu padaku. Kami berdua sama-sama menemukan diri kami
dalam cerpen itu, karakter Starla yang bisa dikaitkan denganku, dan karakter
Che yang juga bisa di bandingkan denganya. Berita baiknya adalah, cerpen itu
berakhir indah, berakhir baik, berakhir bahagia.
Sejak hari itu usai,
namanya adalah nama yang paling sering aku sebut dalam doaku, namanya adalah
nama yang selalu aku semogakan, dia adalah orang yang akan selalu membekas dan
menjadi teman dalam hati ini, dan begitulah cara Ilahi menariku kedalam
dekapnya, dunia menjadi begitu sempit, walaupun ia jauh, ia selalu terasa
dekat.
***
2013
Aku melihatnya dalam bentuk lain, tidak kutemukan lagi sisi menyebalkan
darinya, maksudku sisi dimana ia suka men-tag dan berbalas komentar dengan
akhwat di facebooknya, tahun itu dia menjadi sosok yang jauh lebih baik lebih
tentram dan lebih menetramkan, aku masih suka memperhatikanya walaupun dia
sudah tak mau lagi menyapaku, dia sudah tidak lagi mengikuti kajian yang isinya
dicampur dengan akhwat, dia memilah-milah pengajian yang nyaman menurutnya,
tahun itu banyak orang ingin menjodohkanya, mencarikanya pasangan terbaik.
Satu orang ingin menikahkanya dengan adiknya, dengan adik iparnya, dia
berkali-kali dijadikan bahan olok-olok karena belum juga menikah, padahal
usianya sudah cukup, posisi dan jabatan di kantornya juga sudah baik, dikatakan
siap dia sudah siap, jawabanya selalu sama “aku bisa nyari sendiri kok” dia
memang begitu, aku tau beberapa perempuan baik sempat dekat denganya, tapi
memang dia belum siap menikah, jadi mau tidak mau perempuan itu hanya sekedar
dekat. Tidak lebih.
Bicara tentang jodoh menjodohkan, suatu malam di tengah kemacetan di
daerah tempat dia bekerja dia bertemu dengan seorang ibu yang sepertinya
kelelahan karena terkena macet dan terpaksa turun dari angkutan, dengan baiknya
dia mengajak ibu itu untuk menumpang sampai ke tempat tujuan, sepanjang
perjalanan si ibu itu aktif mengajak dia yang kini menjadi suamiku berbicara,
ngalor ngidul perihal pekerjaan, usia, kuliahnya sampai akhirnya si ibuk itu
kagum.
“ibu juga punya anak perempuan, usianya di bawah kamu, masih kuliah,
rumah ibu di karang tengah, kapan-kapan main ya ke rumah nanti ibu kenalin sama
anak ibu..”
Tapi Allah maha baik, di balik banyaknya perempuan baik yang ingin
menjadikan dia sebagai suami, diantara banyaknya pilihan yang ada di depan
matanya, diantara dekatnya jodoh padanya yang bisa siapa saja dan kapan saja
yang dia pilih, dia menanggalkan itu semua, dengan alasan : belum siap dan
belum di beri izin oleh ibunya. Dia berubah menjadi sosok yang kembali seru,
pecicilan dan asik diajak bicara walau bukan denganku tapi dengan teman-temanya
yang lain dia tidak menjadi sosok lain yang jaim dan sok kalem, tapi dengan
casing seperti itu dia menjadi sosok yang penuh dengan ilmu, tidak harus lagi
menjadi sok alim, dia menjadi dirinya sendiri, tapi dengan isi yang lebih
berkualitas, dan aku menantinya kembali, karena doaku selalu mengiringinya,
andai ia tau.
Disepanjang tahun, semenjak kamu memalingkan dirimu dariku, aku tak
pernah berhenti mendoakan untuk kebaikanmu, memintamu pada Ilahi, berdiam diri
sambil menunggumu datang kembali, entah bagaimana caranya hati ini tak pernah
takut akan kehilanganmu, entah bagaimana Allah menyisipkan firasat bahwa kamu
adalah jodohku, aku pernah menangis di sepertiga malam minta ampun pada Rabbi,
kemudian memintanya memberiku petunjuk atas penantianku .. dan kamu tak hanya
sekali dua kali hadir dalam mimpiku .. tapi ku tutup rapat-rapat semua itu ..
ku tutup semua untuk diriku sendiri. Menginjak usia ke-20 tahun aku masih tetap
menikmati waktu sendiri, aku semakin matang dan mantap dalam memilih hal-hal
penting, lagi-lagi ada beberapa yang datang melamarku, tapi karena istikharahku
berhujung pada bukan mereka aku tidak takut aku menjadi perawan tua, susah
jodoh karena banyak menolak lamaran. Tidak sama sekali.
Tapi, tahun itu nyaris
saja aku menikah, hanya karena alasan kali ini aku mengenal laki-laki yang
mengajaku menikah, jika sebelumnya yang melamarku datang dengan berani ke rumah
membawa keluarganya kali ini dia bertanya padaku langsung perihal pernikahan,
nyaris saja, sedikit lagi. Tapi lagi-lagi Allah menyimpanku, menyelamatkanku
tentu saja untuk kamu, Tuan.
Saat aku mengatakan pada
kedua orangtuaku bahwa aku sudah siap dan ingin menikah, mereka melihatku aneh,
sedikit kaget dengan tatapan “yakin?” aku memperlihatkan fotonya, dan
menceritakan pekerjanya bagaimana orangnya dan lain sebagainya, memang takdir
Allah itu luar biasa, rancangan dan rencananya selalu di luar dugaan, bahkan
sebelum aku melakukan istikharah, Allah sudah menunjukan bahwa dia bukan
jodohku, langsung kepada orang tuaku, siang itu aku di kirimi pesan oleh
ayahku.
“Teh, geuning yang teteh bilang mau nikahin teteh teh, udah ngajakin
orang lain nikah? Ini ayah lagi di bank, ayah Tanya-tanya teteh kan satu
sekolah katanya pas di Tanya orang itu dia kenal dan dia bilang laki-laki itu
udah pernah ngajak dia nikah”
Masyaallah, aku hanya
bisa tersenyum, lega. Lega sekali, karena jika memang pada akhirnya aku dan
laki-laki itu menikah, aku hanya menyiksa hatiku sendiri, karena aku sama
sekali tak menyukai nya, tak ada perasaan suka sama sekali, aku hanya
memaksakan diri karena usiaku sudah cukup dan aku rasa aku sudah cukup siap,
lagipula aku mengenal laki-laki itu, tapi Allah berkata: Bukan, dan belum
saatnya.
***
Setelah sekian lama,
sudah lama sekali sejak kami saling menyapa, akhirnya aku memberanikan diri
mengiriminya pesan singkat.
Gen, semalem habis solat
tahajjud, aku mimpiin kamu da J
Oh, masa sih? Tapi kalo
akumah engga mimpiin jalan ke nyangkokot wetan da.
Biar saja, dia masih
dendam padaku, aku tau, aku merasa itu adalah sebuah penolakan dan
penyangkalan. Biar saja, aku tau dia mulai terguncang dan akan memperhatikan
setiap perkataanku lagi. Dengan begitu aku sudah sedikit puas, biar dia tau dia
adalah bagian dari doaku, nyaris setiap hari. Walau dia banyak mengabaikanku
walau dia banyak diam, tapi aku tau kemanapun langkahnya pergi, doaku
memeluknya selalu, hati ini tau bahwa suatu saat kapanpun itu dia akan
kembali,ke sini, ke dalam hatiku.
2014
Seberapa kuat dia menahan
diri untuk tidak menghubungiku? Seberapa lama ia bertapa untuk mengalihkan
dunianya dariku? Seberapa banyak perempuan yang sudah ia istikharahkan untuk
menjadi pasangan hidupnya? Tahun itu usianya 25 tahun dia memiliki waktu dua
tahun lagi untuk mencapai targetnya menikah, dan aku masih santai-santai saja,
bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, disaat dia masih nyaman-nyaman
saja di satu perusahaan yang sama, aku masih suka memperhatikan sosial medianya
masih suka melihat nya di bbm, dan masih memperhatikan hal-hal kecil darinya,
dia rupanya menutup rapat-rapat kisah cintanya, atau mungkin dia memang
sendirian sebegitu lamanya. Saat itu aku tidak tau, sama sekali tidak tau, aku
berada di titik paling pasrah dan tidak mengharapkan apapun, pada siapapun.
Sampai akhirnya The Heirs membawa nya kembali,
mengantarkan dia padaku, terkadang alasan sekecil itu menjadi titik terbesar,
karena setelah itu aku tidak melewatkan sedetikpun untuk berbalas pesan singkat
denganya. Melewati pergantian tahun berbincang panjang lebar dari bangun hingga
tidur lagi.
Pada akhirnya, Allah
menjawab doa-doaku dengan cara paling sederhana, cara yang tidak pernah kita
duga sebelumya, rupanya segala jenis firasat, keinginan hati dan doa itu
sejenis, semua sama, jawabanya berhujung padamu, dibalik ketidak inginanku
untuk menikah sebelum usia 23 tahun, dibalik tidak di izinkanya kamu menikah
sebelum usia 27 tahun, dibalik diam-diamnya kita berdua selama dua tahun, di
balik semua peristiwa yang terjadi sejak awal, Allah sudah mengatur dan
merencanakanya, satu persatu titik mulai terhubung dan menjadi sebuah garis
lurus yang menuju pada satu saja, kamu.
Akhirnya, tembok itu
roboh, akhirnya benteng tinggi yang capek-capek kamu bangun selama ini hancur,
setelah kamu selidiki ternyata di dalam hatimu yang katamu sudah tak peduli
padaku, masih ada perasaan yang di siram sedikit saja langsung tumbuh dan tak
bisa hilang lagi, setelah mencari kesana kesini ternyata memang aku adalah
jawaban dari setiap pertanyaan hidupmu, kan?
Akhirnya, kamu kembali
padaku.
Selamat datang lagi,
Tuan.
Kali ini, aku akan
menarikmu, tidak akan aku lepas lagi, karena jika kali ini kamu pergi lagi, aku
tak punya daya untuk menarikmu lagi, kali ini aku tidak akan diam dan
berpura-pura bahwa aku tidak menginginkanmu, kali ini biar aku saja yang
berbicara padamu tentang hatiku, kamu tidak usah susah payah lagi, aku tau
trauma di masalalu tidak akan membuatmu mudah untuk mengatakanya lagi. Aku tau,
kamu pasti menahan banyak hal dalam hati yang sebenarnya sudah membuncah ingin
berkata bahwa kamu, ingin aku, selamanya, untukmu.
2015
Gen,
Kalau
seandainya kamu sampai nikah sama orang lain,
Aku
pasti bakalan nangis..
Aku
pasti bakalan sedih ..
Karena,
aku akan ngerasa kehilangan separuh dari diri aku..
Kamu
tau kan,
Aku
nyaman banget sama kamu ..
Kamu
tuh, kaya aku dalam versi lain ..
Jadi,
kalau kamu sampai nikah sama orang lain,
Aku..
pasti nangis..
Aku sampai menangis
betulan, walau hanya membayangkanya, dan aku mengiriminya pesan singkat itu ..
sambil berharap dia mengerti apa yang aku maksud, apa yang aku mau.
Mungkin di ujung sana,
dia sedang menghela nafasnya panjang, mungkin dia sedang tersenyum, atau
mungkin dia sedang merasa iba.
Untungnya, tidak.
Aku ngerti sekarang gen,
Kalau
gitu ..
Izinin
aku, nge-istikharahin kamu ya ..
Kalau
memang kita jodoh, nanti kita bisa obrolin lagi ..
Dia runtuh
seruntuh-runtuhnya, pertahananya selama ini benar-benar roboh, dia tidak bisa
pergi lagi. Dia tidak bisa lari lagi, doaku mengikatnya, Tuhanku menariknya
untuku ..
Sejak hari itu, aku
melihatnya dalam bentuk lain, dalam versi terbaru, dalam bentuk laki-laki yang kuberi hatiku
untuknya tanpa ada rasa takut lagi. Setelah sekian lama aku mengunci diri
merasa takut disakiti, akhirnya aku menemukan laki-laki yang pantas menerima
perasaanku, yang pantas kuberi hatiku sepenuhnya, kini aku berani terjatuh pada
cinta sedalam-dalamnya, sekuat-kuatnya tanpa merasa takut jatuh di tempat yang
salah, tanpa takut akan merasa terluka. Karena aku percaya dialah orangnya.
Sejak awal aku tahu, Allah mengirimnya khusus untuku, walau kami harus banyak
mengalami hal lain sebagainya yang membuat kami terpisah jarak dan waktu, tapi
doaku untuknya mengiringi sampai hari ini.
***
Marrying someone who
shares the same dream as you, who always wanted you to be succeed by your own
in your own feet, sejak awal dia adalah laki-laki yang paling aktif dan paling
mendukung mimpiku, aku tidak pernah merasa bahwa dia adalah orang asing, aku
selalu merasa dia begitu dekat, seperti kami adalah sebuah cermin yang aku
menemukan diriku ada padanya, sejak awal, aku selalu merasa nyaman bertukar
pikiran denganya, seperti sahabat lama yang tak kenal waktu untuk mencurahkan
segala jenis isi hati, dan cita-citaku untuk menikah dengan lelaki tidak
romantis terkabul, pada akhirnya aku menikah dengan lelaki yang paling memahami
dan mengerti bahwa hidup lebih baik di mulai bersama dari nol, menggapai mimpi
bersama .. mengumpulkan hal-hal kecil hingga menjadi besar, sambil belajar
bersabar, dan mencintai satu sama lain.
Malam ini..
Aku menulis ini sambil menunggunya pulang, ditemani buah hati tercinta,
sambil mendengarkan lagu ed sheeran yang membuat ingatanku melayang-layang jauh
tentang betapa kuatnya perasaan ini untuknya, betapa dia dekat dan jauh dalam
waktu bersamaan, betapa aku sangat menyayangi lelaki ini.
I found a
love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Well I found a girl beautiful and
sweet
I never knew you were the someone waiting for me
'Cause we were just kids when we fell in
love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
Baby, I'm
dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite Well I found a girl beautiful
and sweet
I never knew you were the someone waiting for me
'Cause we
were just kids when we fell in love
Not knowing
what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Well I found
a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just
my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Baby, I'm
dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don't deserve this, darling, you look perfect tonight
Baby, I'm dancing in the dark, with you
between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
I have faith in what I see
Now I know I have met an angel in person
And she looks perfect
I don't deserve this
You look perfect tonight
Dia datang, memeluku
erat, mencium keningku hangat.
“satu tahun ya..”
Satu tahun yang indah, satu tahun sejak kami menemukan sebuah rumah, tempat kami kembali, bukan hanya sekedar singgah, satu tahun yang berharga karena kami berdua memupuk perasaan ini dengan cinta kasih yang berkaitan
dengan doa kami pada Ilahi, semoga selamanya seperti ini, bersama kekasih baru kami, Askandari.
Happy anniversary,
suamiku.
Untukmu,
Restu Iqbal Ginanjar-ku.