Minggu, 04 November 2012

Laughing with YongSeo

Hallo everyone ..

here, i want to apologize, i have no time to write NMTF part 9, but i will try my best to continue my Fan

Fiction, jeongmal mianheo yeorobun, and thanks for everyone who always support me, and my blog ..

i love you, goguma .. and here i try to make something funny and fresh :D

hope you enjoy and like it ..




YongSeo Text Message :


Yong : Do you miss me ?
Hyun : I do, do you ?

Yong : I always missing you all along of my life ..
Hyun : Jaashik ish !!

Yong : Do you like me ?
Hyun : More than like, i love you..

Yong : Of course, im the one who make you fall in love ~ hahaha
Hyun : yeaaaah -- and you, who have my first kiss you know ?

Yong : Really ? i don't know    :p
Hyun : ya !! Oppa !! neon jinjja !! do you want to die huh ?!

Yong : Do you want i die ?
Hyun : ..................................

Yong : answer me, Seo Joohyun .. do you want i die?
Hyun : NO !! EXCATLY NO ! How can i live without you? if you die before me, i'll kill YOU !!

Yong : hahahah uri Seohyunnie wanna kill me if i die first .. kkkk its so funny ..
            no Seohyun-ah, we are will be dying together ,,
Hyun : Jinjja?

Yong : that is you've said before, you and i need to die together, i will not and can not forget
            that line.
Hyun : lets live and die together then. i love you.

Yong : nado, saranghe ..
Hyun : don't leave me, i will hate you if you do it !

Yong : that will not happens, good night dear, lets sleep .. we need to meed in our dream tonight..
            i miss you, i love you..
Hyun : goodnight, jaljayo uri namchin, nado bogoshipda, saranghanda :*





Part 2 - Jungshin VS YongSeo


Jungshin : Hyung !! are you crazzy !! is Jonghyun Hyungs underwear not enough? why are you               
                  wear my underwear jiggeum?
Yonghwa : kekekekek, mianheo, i left a lot my underware in Jonghyun room, and i see yours
                  Jungshin-ah, so i take and wear it hehehe


Jungshin : i will talk to Seohyun !
Yonghwa : andweeeee !! you can't do it !!
Minhyuk : lets talk about it to Seohyun, she should know how crazy hyung is hahaha



Jungshin text to Seohyun :


Jungshin : your crazy husband now wear my underware Seohyun-ah !!
Seohyun : ah jinjja ?!


Yonghwa text to Seohyun :


Yonghwa : don't believe him !
Seohyun : i have to believe :p are you pervet oppa?



Jungshin : Jinjjayo !! he is totally crazy !! i wish you take him out from our dorm, AS SOON AS
                  POSSIBLE
Seohyun : eeey Junghsin chingoo, you can't do this to him, im sorry for him.



Yonghwa : ANIYA ! nega aniya, aish i don't care about his underware, i just care about you
Seohyun : gotjimal :p


Jungshin : yaaaaaaaa!! You should teach him, how tobe a good person, did hi take your
                  underware too? huh? XD hahah
Seohyun : YOU !! yaa !! you will die if i catch you Jungshin-ah !!


Yonghwa : ilranghe - iranghe - samranghe ---- you continue this 
Seohyun : eeeey thats so annoying :p okay, saranghe :) lets meet oppa, i miss you already, and i'll
                  buy a lot of underware for you, i don't wanna see you fight with your dongsaeng because
                  the underware, its neomu funny XD

Yonghwa : shirreo :p i don't wanna see you :p
Seohyun : okay i will meet Jungshin and date him then :p


Jungshin : Seohyunnie you and your husband, both of you are MICHIN and damn KILLER --
Seohyun : i gotta go to your dorm and i will kill you !! just wait !!


Yonghwa : andweeee !! you can't do that to me, i will kill Junghsin if he dare to date you !
Seohyun : same here, i will kill Jungshin, because he bother you with useless thing like underware,
                 btw, you can wear mine LOL XD

Yonghwa : Michin Yeoja !! ish .. but still loving you honey ..
Seohyun : nado, eh you know, im outside, open the door please ..




Jungshin : OH MY GOD, IM DIE !!





Part 3 - YongSeo totally JJANG !!




Hyun : Hyoyeon unnie, she left our room ..
Yong : waeyo darl? is she upset? or mad at you ?

Hyun : she is know im pregnant ..
Yong : oh, ottoke? is bad for her, she deffinitely shocked right?

SNSD DORM

Hyoyeon : TAEYON-AAAAAH !! SEOHYUNNIE IS PREGNANT !!
Taeyeon : WHAT ?! what ?!
all member : SOLMA? no way !! andweyoooo !!


Hyoyeon : i just read her text with Yonghwa !! Yonghwa did it, oh ottoke? uri maknae? T__T



Hyun : Hyo unnie, is crying right now ..
Yong : and my member all just laught till they cry and lay their body in the ground XD


Taeyeon : Seohyun-ah !! Get out !

Hyun : ccangkeuman oppa, unniedeul seems to will introgace me ..
Yong : okay, please be honest babe :*


Seohyun : Unnie waeyo ?
Taeyeon : let i touch your stomach! are you really pregnant?
Tiffany : oh my god !! YES she is pregnant ! look at her chin !! its really chubby !!
Taeyeon : PABOYA !! Seohyunnie is chubby from heaven !! ish jinjja
Tiffany : oh, kereooo? mian heheh


Seohyun : Unnie, yes im pregnant ..
all member : WHAAT !! Are You serious ? don't kidding US !!

Seohyun : its true oenni, jinnja-yo .. but not in my stomach, here, im pregnant in my heart ..
                 ther is pregnant with a thousand kilograms love from Yong Oppa hahahahahhahhahaha

ALL member : YA !! YOU DIE ! DIE !!


Yong : done with your unniedeul?
Hyun : yes oppa, hahah they will kill me right now :p

Yong : my member too, they are totally shocked hahhaah we are really jjang !! right?
Hyun : OF COURSE WE ARE JJANG OPPA hahahah





sorry for bad granmar and typo here and there, im too lazy too edit it :D
really, hope you enjoy and leave a comment juseyo ..

Rabu, 19 September 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 8



No More Tears Formula
Chapter 8

Air putih, Embun, Matahari, dan Segumpal Awan.





Cast :
Jung Yonghwa
Seo Joohyun
Choi Junhee (Juniel)
Kang Minhyuk
Lee Jungshin
Lee Jonghyun
Im Yoona
Jung Eunji


            Dadanya naik turun menahan emosi, tanganya mengepal penuh amarah akan sanksi, sementara yang di pukuli hanya tersungkur begitu saja tanpa ambisi untuk memukul balik yang sedang beraksi. Disudut lain hanya diisi dengan teriakan-teriakan dan tangisan antara Juniel, Seohyun dan Eunji, Jungshin yang juga sempat terkena pukulan, sekuat tenaga kini sedang mengaitkan tanganya diantara bahu Yonghwa untuk menahan emosinya yang meledak-ledak.

            “Oppa..” suaranya terseret pilu “ku mohon tidak memukulinya lagi..” Juniel menjatuhkan dirinya dari tempat tidur dan membuat Seohyun tergopoh-gopoh cepat menahan tubuh yang  ambruk ke lantai itu, kemudian Juniel memeluk Minhyuk.
            “berhenti memukulinya. Ku mohon” Minhyuk pelan menatap wajah gadis yang memohon dengan iba pada kakaknya, sementara mukanya sudah penuh dengan darah dan lebam dimana-mana.
            Jungshin terusik dengan adegan itu, tanganya yang tadi kuat memegangi tubuh Yonghwa kini melonggar, begitupun dengan Seohyun yang memegangi tubuh Juniel, konsentrasinya pecah, wajah Jungshin terlihat pasrah.
            Yonghwa hanya tergugu, tidak mengerti, mengapa Juniel dengan mudahnya luluh dan memaafkan laki-laki itu.
            “apa Oppa tau? Dia, laki-laki ini .. adalah salah satu orang yang mengisi kekosonganku?” jantung Jungshin rasanya mau berhenti, hampir patah hati. “setiap malam aku menungguinya lewat di depan YJ hanya untuk melihat dia beriringan bahagia dengan kekasihnya…” nafas Jungshin mengendur mendengar kata ‘kekasih’ keluar dari mulut Juniel.
            “ada kalanya tanpa diketahui banyak orang, dia membagikan kebahagiaanya kepadaku, anggaplah dia pembawa keberuntungan untuku Oppa..”
            “keberuntungan? Persetan !! sekarang kamu malah mau menyudutkan Oppa? Begitu? Dan jika berengsek ini tidak memberi tahu kamu lumpuh kamu akan terus diam? Sampai kapan? Hah?” emosi Yonghwa kembali meledak
            “dan sekarang Oppa sudah mulai membentaku..” Juniel menangis. Yonghwa terkikis, airmata Juniel sejenis kekuatan majis untuknya, ia bisa meleburkan amarah, apalagi kebencian, dan Yonghwa melepaskan diri dari Jungshin, kemudian menghampiri Juniel.
            “jangan pegang aku Oppa..” Juniel mengelak, Seohyun kemudian memundurkan tubuh Yonghwa, keadaan seperti ini tidak akan berujung baik untuk kesehatan Juniel, dia masih dalam masa-masa penyembuhan, dan tidak diizinkan untuk stress sama sekali.

            “sudahlah, Minhyuk-ssi, lebih baik kamu keluar sekarang..” Jungshin membuka suaranya yang sedari tadi dipendamnya dalam dada.
            “kalau tidak ada kecelakaan ini, mungkin Oppa tidak akan menemaniku hari ini, dan tetap berada di perantauan yang aku tak tau dimana tempatnya, mungkin jika tidak ada kecelakaan ini, sampai mati aku akan sendirian di Seoul. Mungkin Oppa tidak akan pernah menganggapku ada. Yang ada hanya Eunji, dia mungkin menggantikan posisiku.”
            ‘lah.. aku jadi kebawa-bawa..’ bisik Eunji tersentak dalam hati ‘Juniel tau tidak? Dia itu sangat sinis kepadaku, tidak benar  aku menggantikan posisimu..’  namun kalimat itu terus di telan sendiri oleh Eunji.
            Itu merupakan pukulan telak yang membuat Yonghwa K.O, jika dilihat dari sudut pandang lain, memang betul, Minhyuk justru membawa Yonghwa kembali ke titik asalnya, titik dimana ia mencintai Juniel tanpa ingin meregangkan kebersamaan mereka.
            “jadi sebelum Oppa melimpahkan kesalahan pada Minhyuk, tolong introspeksi diri Oppa sendiri..” tatapan Juniel menajam, merajam dan memporak-porandakan perasaan Yonghwa sekaligus.
            “Seohyun-ssi, bisakah anda dengan Jungshin juga Eunji keluar dari sini, sepertinya saya butuh berbicara penting dengan mereka berdua.” Yonghwa tidak memberikan tatapan matanya pada Seohyun, kenapa? Karna lama-lama tatapan itu bukan tatapan biasa, akan melebur menjadi wujud dari cinta yang baru tumbuh menggema di dadanya.
            Seohyun bangkit dan menarik tangan kedua orang yang termasuk daftar absen untuk keluar dari ruangan itu. dan tebak saja, perasaan Jungshin semakin kalut tidak karuan, ia ingin mengatakan pada Yonghwa saat itu juga, ia akan menemani Juniel dalam semua ketidak berdayaanya, menerima Juniel apa adanya, karena ia mencintainya.
            Sayangnya, tak ada kesempatan sedikitpun untuk mengungkapkan perasaanya.

            “kalian lebih baik menunggu di tempat lain, aku ada janji..”
            “Noona..”  Jungshin menggenggam lengan Seohyun erat saat Seohyun hendak berlalu dari pandanganya. Ada nada gusar penuh makna dalam suara itu, dalam tatapan itu.
            “tidak perlu khawatir, Juniel tidak akan memberikan perasaanya pada Minhyuk, percaya padaku.” Seohyun mantap mengagguk.

***
            Lama Jungshin dan Eunji hanya berjalan beriringan tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulut mereka berdua. Hanya kosong dan jeda yang menerus, malah membuat suasana hati tidak nyaman.
            “Eunji-ya.. kamu pernah jatuh cinta?” Langkah Jungshin melambat.
            “tidak.”
            “pantas saja.”
            “kenapa?”
            “kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasa.”
            “memang.” Jungshin berhenti menatap Eunji yang menjawab dengan polosnya “aboji mengatakan padaku, banyak hal yang harus aku pikirkan selain jatuh cinta, dan memang. Melihat teman-temanku yang sudah mengalami siklus percintaan, sepertinya memang menarik, tapi untuk orang-orang seusiaku, itu hanya fatamorgana, justru malah menjadi zat adiktif yang membuat kecanduan, tidak baik untuk masa pertumbuhan juga pembelajaran. Nah bayangkan saja, waktunya belajar malah melamun-lamun seperti Oppa saat ini.”
            “ish” Jungshin menjitak kepala Eunji
            “wae?”
            “aku tidak butuh khotbahmu itu tauk!”
            “eeeeh, yasudah, ambil garis lurus saja, kalau memang suka, bilang saja langsung.”
            “aish.. jinjja, kamu sama sekali tidak mengerti, dasar bocah ingusan..” Eunji hanya melengos dan mengangkat kedua bahunya. Membuat Jungshin tambah kesal.

***
            Seohyun memegangi amplop putih itu. semua orang pasti penasaran dan bertanya-tanya mengapa ia ingin berhenti. Sebenarnya dia tidak berhenti. Seohyun akan mendedikasikan waktunya untuk menunggu kekasihnya pulang dan kembali, hari ini mereka akan membahas tentang pernikahan mereka yang tidak lama lagi.
            Ia mengangguk-anggukan kepala sambil tersnyum berseri-seri, pembicaraan itu sudah sangat lama berlangsung, Jonghyun menepati janjinya untuk membawanya ke altar pernikahan. Kedua belah keluarga sudah sepakat dan saling mengikat, lalu menunggu apa lagi? Ketika harta sudah dengan mudah di rauk? Ketika kemapanan sudah bukan untuk di pertanyakan? Ketika bahkan dua hati sudah tak ingin dipisahkan? Untuk apa lagi menunggu. Waktunya sudah tepat. Selebihnya, Seohyun bisa merawat Yoojin juga Juniel sendirinya, jika selama bertugas sebagai perawat ia harus bolak balik ke kamar pasien lain, maka setelah ia terlepas dari seragam tugas, ia akan bebas menjaga dan merawat mereka berdua. Seohyun semakin mantap dengan keputusanya.
            “akan mudah menjelaskan pada semuanya jika mereka bertanya-tanya.. pernikahan itu sudah di depan mata..” jantungnya berdegub cepat.

            “yobseo Oppa.. oh nee, cangkeumman.. aku segera kesana..”

***
            Yonghwa menatap Minhyuk tajam dari tempat duduknya. Juniel hanya menunduk tak ingin meneruskan perselisihan antara dua laki-laki itu.
            “lantas apa yang membuatmu berani menampakan diri dan malah tau-tau ingin melindungi Juniel? Kamu bukan siapa-siapa selain sampah yang membawa malapetaka pada Juniel” ucapanya sengit dan membuat keadaan tambah runyam.
            “karna aku mencintainya.” Sontak Juniel tergugu di tempatnya, sementara lengan Yonghwa mengepal bergetar, jika ia tidak menahanya satu pukulan lagi sudah mendarat menyisakan lebam di wajah yang memang sudah babak belur itu.
            “jangan mempermainkan Juniel! Dia bilang kamu sendiri sudah memiliki kekasih. Apasih sebenarnya maumu hah?”
            Minhyuk berbalik dan malah menatap Juniel, tidak menghiraukan emosi Yonghwa yang tak redup juga. Minhyuk berdiri kemudian menggenggam tangan Juniel.

            “suatu malam, aku pernah berada dalam suasana hati yang kalut dan tak tentu arah. Kemudian aku memutuskan untuk pergi dari rumah, salah satu tempatku untuk berhenti adalah kios ddokboki kecil di sebrang YJ… sudah ingat?” Minhyuk menurunkan kepalanya mencoba menembus mata Juniel yang disembunyikanya dalam tunduk yang kaku. Juniel menggeleng, dan kini mata mereka bertemu. Sementara Yonghwa mencoba meredam amarahnya, mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Minhyuk.
            “sebenarnya, saat itu aku sedang meminum sebotol soju, ada seseorang datang padaku, dan hanya duduk kaku disampingku.” Kata-kata itu kemudian membawa segenggam memori dari satu tahun silam di kepala Juniel. Ia mengingatnya. Laki-laki itu. ternyata…

            A Years Ago

            Juniel masih menatap lampu halogen yang kelap kelip disetiap sudut ruangan di tokonya. Menjelang jam pulangnya ia selalu menatap jalanan yang juga mulai lengang. Biasanya setelah malam tiba ia selalu menyempatkan diri menghampiri ahjumma di sebrang jalan.
            Tapi lihat itu, saat Juniel mengalihkan pandanganya, ada seorang laki-laki memakai topi juga mengikatkan scraft di lehernya, teguk demi teguk kepedihan ia telan bersama sebotol soju di tanganya. Juniel merasa iba. Lama Juniel memperhatikan orang itu. sepertinya ia sangat kesepian.

            Juniel ragu duduk di samping pria itu, setelah lama membisu Juniel mengangkat satu buah gelas dan mengisinya dengan air putih. Ia menyimpan gelas itu di hadapan Minhyuk
            “ini..” suaranya tegas “kamu mungkin meminum soju, ingin meneguk kopi, jus ataupun teh dan berbagai minuman lain, tapi pada akhirnya, kamu akan kembali membutuhkan air putih, hanya air putih.” Juniel tersenyum, kemudian mengangkat lengan Minhyuk dan menyematkan gelas berisi air putih di telapak tangan Minhyuk. “selamat malam..” lalu ia berbalik pergi.
            Samar-samar Minhyuk menatapi wajah gadis itu, yang kini berlalu memunggunginya, dadanya yang tadi terasa sangat panas, kini menguap, berubah hangat.
***
            Yonghwa hanya duduk di tempatnya menatap dua orang yang saling bertatapan, Juniel terkejut. Minhyuk terenyuh. Ada cinta dimatanya.
            “kamu benar Juniel, aku membutuhkan soju, kopi, jus dan teh, tapi pada akhirnya aku kembali pada airputih.. kamu tau? Kata-kata itu tersimpan jelas-jelas dalam kepalaku. Kamu tau? Aku terlahir dalam keluarga yang sangat harmonis, namun penuh kepalsuan. Suatu hari aku kabur dari rumah dan sering melakukan kegiatan negativ, kemudian kamu mengingatkanku, akan airputih, kamu benar, aku sudah habis meminum soju, meneguk anggur, meminum jus, kopi dan berbagai macam jenis minuman, tapi pada akhirnya aku kembali pada keluargaku. Merekalah airputihku. Dan bagiku, kamu adalah sumber penghilang dahaga dari butanya hatiku, aku bertemu denganmu dan kamu adalah sumber dari mata air itu, airputih yang tak akan pernah bisa aku tinggalkan..”
            Yonghwa tercekat sekaligus merasa tertampar saat itu juga, kata-kata itu, airputih itu … itu adalah kalimat yang pantas Juniel ucapkan padanya. Juniel memang pelita sekaligus air putih yang tak bisa ditinggalkan, Yonghwa terkubur di jurang pedih mendalam, mencoba memahami perasaan Minhyuk, juga Juniel bergantian.
            “cukup.” Katanya “lalu apa yang kamu mau Minhyuk-ah?” suaranya yang parau menunjukan emosinya melumer.
            “aku .. sudah mengatakanya tadi .. sekali lagi … aku ..”
            “aku ingin, menjaganya .. sebisaku .. seumur hidupku .. jika ia butuh kaki, aku akan menajdi kakinya, kapanpun dimanapun saat ia membutuhkanku. Bukan karena perasaan bersalah atau empati atas kecelakaan ini, tapi , karena aku tulus, tulus mencintainya.” Juniel mentap Minhyuk tak percaya dengan mata bundar yang hampir keluar dari cangkangnya.
            “t—tapi..” Juniel mengelak “bagaimana dengan Jiyeon..” lirihnya. Minhyuk tersenyum dan menepuk kepala Juniel.
            “dia hanya anak dari teman bisnis ayahku, aku sudah mengenalnya sejak kecil, dan kita tidak memiliki hubungan apapun..” jawabnya mantap.
            Yonghwa malah melongo melihat kejadian ini, dia menanggalkan semua emosinya sekuat tenaga untuk benar-benar mencerna apa yang sebenarnya Juniel inginkan.
            “aku tidak tau harus berkata apa. Bicaralah kalian berdua, aku lebih baik keluar.” Yonghwa berdiri dan meninggalkan Minhyuk bersama Juniel. Ia tidak merasa cukup pantas untuk menghalangi keinginan Juniel ataupun Minhyuk, punya hak apa dia? Sudah meninggalkan Juniel sendirian sekarang ingin mengatur hidupnya? Lupakan hal bodoh itu Jung Yonghwa.

***
            “jadi kamu menyukai Juniel?”
            “hm” jawab Jungshin pendek
            “kenapa tidak bilang?”
            “tidak segampang itu tau tidak ish !! kamu bukanya membuat perasaanku membaik malah bikin tambah runyam sial !!”
            “eey.. tsk tsk .. aneh sekali … makanya lain kali tidak usah sok sok misterius, sekarang giliran dia sudah mau di ambil orang Oppa juga yang repot kan.. kasian sekali..” Eunji cekikikan. “Oppa aku ingin makan eskrim ..”

***

            Yonghwa berhenti saat melihat mobil Jonghyun terparkir di pelataran parkir Seoul Hospital. ‘lihatlah dia, tampan, kaya raya, berasal dari keluarga baik-baik. Dan memiliki kekasih yang sempurna. Waw .. Jonghyun memiliki segalanya yang aku inginkan.
            Namun Yonghwa terkejut saat melihat yang disebelahnya itu.. Yoona .. dan sekarang mereka ..
            Buru-buru Yonghwa berlari mencari Seohyun, berharap secepatnya menemukan Seohyun, terengah-engah ia akhirnya menemukan Seohyun yang sedang berlari dengan tawa penuh tersungging di bibirnya.
            “Seohyun-ssi !!” teriaknya sambil terengah-engah
            “oh ? Yonghwa Oppa?” buru-buru Seohyun mendekatinya “waeyo Oppa? Bukankah kamu harus menemani Juniel dan Minhyuk?”
            “ani, aku muak..” jawabnya cepat “mau kemana?”
            “menemui Jonghyun Oppa.. kenapa Oppa memanggilku?”
            ‘jangan..’  “aku butuh obat sakit kepala, rasanya kepalaku ini mau meledak” ‘aku hanya tidak ingin kamu menghampiri Jonghyun, aku tidak siap melihatmu terluka..’
            “jeongmal? Ottoke, ini pasti karena Oppa kurang tidur, lalu emosi meledak-ledak ..”
            ‘bukan, ini karena aku baru saja melihat kekasihmu bercumbu di dalam mobil dengan sahabatmu, kepalaku rasanya benar-benar mau pecah’ “iya mungkin begitu Seohyun-ssi, bisakah kamu memberiku obat itu?” Yonghwa mencoba mencegah Seohyun menemukan pengkhianatan keji itu.
            “baiklah.. ikuti aku Oppa..”
            ‘aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi, sekarang aku tidak bisa membiarkanmu masuk dalam perangkap manusia sialan itu. aku tidak akan  membiarkanmu terluka sedikitpun, mari kita main-main dengannya, mulai sekarang.’
            “arraseo seohyun-ssi..”

***
            Yoona melumat habis bibir Jonghyun yang sedari tadi menggodanya untuk mendarat dalam hasrat, Jonghyun meremas kencang paha Yoona yang hanya dilapisi rok katun tipis. Mereka berderu dalam nafas yang berat, ciuman itu sangat liar dan berlangsung lama, sejak mobilnya terparkir di tempat yang masih sepi itu.
            “O—pp—a..”
            “h-mm..” Jonghyun menurunkan bibirnya dan kini bersarang di leher Yoona, ia mulai mengerang menikmati. Selanjutnya hanya suara nafas yang terdengar. Kemudian Jonghyun berhenti. Mereka berdua menatap cermin dan membereskan pakaian juga rambut mereka yang berantakan.
            “ish Oppa..”
            “wae?” Jonghyun mengelus pipi Yoona
            “jangan meninggalkan kiss mark sembarangan, ish .. bagaimana jika orang melihat..” Yoona protes saat mendapati warna merah di lehernya.
            “mianhe..” Jonghyun hanya cengar-cengir
            “oh ia, hari ini mau membahas pernikahan ya?”
            “hm..”
            “semangat dong chagiya.. kan ini yang kalian tunggu-tunggu..” Jonghyun menatap Yoona nenar
            “memang kamu tidak sakit hati ya? Gampang sekali menyemangatiku, seolah tidak memiliki beban..” Yoona menarik nafas dalam, lalu mencium bibir Jonghyun lagi lembut.
            “Oppa.. sejak kecil aku dan Seohyun sudah bersahabat. Sedari kecil sudah memang begini takdirnya, aku mengalah untuknya.. tapi dia membagi segala sesuatu yang ia punya, termasuk .. kamu ..”
            “tapi.. kita akan sulit sekali bertemu.. dan ..”
            “tidak usah khawatir.. intensitas waktumu denganku lebih banyak ketimbang dengan dia.. kita masih berada di satu plane sayang.. jangan lupakan itu..”
            “yoona saranghe..” Jonghyun menarik leher Yoona dan menciumnya lagi, dalam dalam lebih dalam memberitahunya bahwa ia mencintai Yoona lebih dari apapun, lebih dari siapapun, jika Jonghyun cukup mencintai Seohyun, maka Yoona, ia sangat mencintainya, tanpa ikatan, tanpa aksara untuk menjelaskan. Mereka saling mencintai dalam kelam yang menghujam.

***
            Yonghwa mengikuti langkah Seohyun hingga ke ruangan perawat yang sepi, Seohyun terlihat sangat serius mencari-cari sebutir obat sakit kepala untuk Yonghwa. Tak lama, Yonghwa menggenggam lengan Seohyun, dan menariknya dalam pelukan.
            Seohyun terperanjat kaget, tau-tau wajahnya sudah berada di balik punggung Yonghwa.
            “o—ppa.. wae kerae ?” Seohyun mencoba melepaskan diri, namun pelukan itu tambah erat membuat perasaan Seohyun campur aduk, antara bingung, gugup, takut dan malu.
            “gomawoyo Seohyun-ah..” nafasnya tertahan, Yonghwa sama gugupnya, bukan gugup karena malu, tapi karena ia harus menyembunyikan detak jantungnya yang berdebar sangat cepat. “terimakasih sudah menajaga Juniel .. sudah merawatnya dengan baik..”
            Seohyun kemudian menarik tubuhnya kuat, keluar dari pelukan itu
            “ani imnida Jung Yonghwa-ssi.. ini obatmu, aku harus segera menemui Jonghyun Oppa.. “ Seohyun tertunduk dan berbalik cepat, meninggalkan Yonghwa sendirian disana.
            Sayup-sayup Yonghwa menatap punggung Seohyun nenar, tidak menyesali apapun yang baru saja ia lakukan. Seharusnya yang keluar itu .. “sarangheo..” bukan “gomawoyo..”

            “aku harap kamu tidak terluka .. aku harap Jonghyun hanya beramain-main dengan Yoona, tapi kumohon jangan terluka Seohyun-ssi.. jangan..”

***
            Seohyun memegangi dadanya, ia hampir kehilangan keseimbangan, rotasi bumi rasanya berjalan dengan sangat cepat hingga ia merasakan oleng begitu saja. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
            “apa ini..” tanyanya pelan. “ada apa denganku.. mengapa dia memeluku .. mengapa aku seperti ini..” gusar, Seohyun memandangi wajahnya sekali lagi di cermin. Kejadian itu sangat cepat, ia harus mengembalikan kesadaranya secara utuh, Seohyun kemudian berlari sekencangnya, berharap perasaan bingung itu sirna saat ia menghampiri Jonghyun.

            Seohyun memeluknya, menatap mata Jonghyun lekat-lekat, membiarkan Jonghyun mencium keningnya lama di ruangan itu.
            Namun perasaan itu… jantungnya masih berdegub kencang, wangi tubuh itu masih tercium jelas.
            ‘oh tuhan, ku harap Jonghyun Oppa tidak menyadari kegugupanku..’
            ‘ku harap Seohyun tidak menyadari wangi tubuh Yoona yang masih menempel di tubuhku..’

            “jadi pernikahan kita akan terlaksana 6 bulan kedepan.. bagaimana Seohyun-ah?”
            “jinjja? Jinjja jinjja?” Seohyun berjinjit, hatinya senang bukan kepalang, namun debaran itu tak kunjung sirna, malah membuat dirinya lupa, ia tersenyum untuk apa? Untuk berita pernikahanya? Atau untuk … pelukan itu…
            “hmm .. jinjja .. tapi mianheo dear, kamu harus mempersiapkan semuanya sendiri untuk tiga bulan ini, schedule ku padat tiga bulan ke depan.. gwenccana?” Seohyun tetap tersenyum sambil tersenyum semangat, perutnya seperti terserang aliran listrik yang membuat bibirnya tidak ingin berhenti membeberkan senyuman hangat.

            “sarangheo Seohyun-ah ..”
            “nado oppa.. dan jreeng ini dia” Seohyun mengangkat amplop putih yang sedari tadi ia simpan di sakunya.
            “mwo? Jinjja?” Jonghyun tersenyum semangat
            “jeongmalyo Oppa.. aku akan berhenti dan memfokuskan diri untuk mu, dan pernikahan kita..” Jonghyun menelus rambut Seohyun lembut.
            “gwenccana Seohyunnie? Ini bukan hanya sekedar pekerjaan untukmu, tapi hobimu..”
            “mm” angguknya yakin “aku masih bisa menyalurkan hobiku dengan merawat Juniel juga Yoojin-ssi.. jadi tidak ada masalah..” kemudian dua insan itu bertatapan dengan senyum mengembang bahagia. Yang sebenarnya mereka lupa, hati mereka tidak berada disana.
            “sarangheo Oppa ... kamu matahariku ..”
            Jonghyun merupakan matahari bagi Seohyun, ia merupakan sumber kehidupanya, sejak mengenal Jonghyun ia merasa dilengkapi system cinta yang tidak ada duanya, Jonghyun tidak pernah ingkar janji, ya seperti matahari, ia tidak melupakan janjinya untuk terbit dan tenggelam tepat waktunya.

***
            Yonghwa mengintip dari sisi lain yang tak terlihat oleh siapapun, ia tersenyum kecut
            ‘waw .. Jonghyun kamu hebat sekali..’ Yonghwa memuji sungguhan ‘bagaimana kamu bisa memainkan dua peran sekaligus dalam waktu yang sama?baiklah .. aku akan mengikuti permainanmu..’
            Dan sekarang, bagi Yonghwa, Seohyun menjadi sangat penting, awalnya ia menyerah, dan patah hati, tapi sekarang, genderang perang itu dimulai.. tidak ada kata menyerah untuk memperjuangkan cintanya, ia sama sekali tidak salah, ia jatuh cinta pada orang yang tepat di saat yang tepat. Choi Seohyun. Yang mendera bagaikan embun penghilang dahaga. Jika Jonghyun menjadi mataharinya yang justru membuat Seohyun akan kering kerontang dalam kesengsaraan, maka Yonghwa akan menjadi awan pelindung untuknya, menghalau matahari membakarnya langsung, membiarkan dirinya terlunta dalam sengsara di dera panas yang tak terkira. Hanya untuk melindungi embunya .. Choi Seohyun.


To be Continued …

Jumat, 14 September 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 7


No More Tears Formula
Chapter 7
You Are a Miracle


            Seohyun membuka gorden yang menghalangi sinar matahari masuk ke kamar Juniel, ia kemudian melangkah mendekati Juniel, melepaskan pakaiannya dan mengganti pakaian Juniel dengan yang baru saat semua orang sudah tidak berada di ruangannya, termasuk Yonghwa, sebelum ruangan ini kosong, Jungshin menyempatkan bertemu dengan Juniel, dan kini Juniel sudah tidak memanggilnya Hae lagi, melainkan Jungshin Oppa.

            “Oenni..” Lirih juniel ketika Seohyun hendak membuka celana yang ia gunakan

            “ne..” Seohyun menatap Juniel, “tidak usah malu padaku Juniel, aku sudah biasa melakukan hal ini..”

           “Oenni sudah tau kan? Makanya Oenni mengganti pakaianku? Kenapa Oenni tidak menyuruhku melakukannya sendiri?” tanya Juniel singkat dan cepat penuh penekanan introgasi dan keingintahuan.

            “NE?” Seohyun kaget, kemudian mengalihkan tatapanya pada celana Juniel yang siap di lepas, dan saat Seohyun menurunkan celana Juniel, ada bekas lurus garis-garis cukup dalam bekas luka cakaran di kedua belah paha Juniel.

            “JUNIEL-AH? APA YANG KAMU LAKUKAN PADA KAKIMU?” Seohyun berteriak kaget. Dan airmata Juniel mulai bercucuran frustasi sambil menatap kosong kedua belah kakinya, semetara mata Seohyun tajam merajang wajah Juniel yang sendu depresi.

            “bagaimana menjelaskannya pada Yonghwa oppa.. Ottoke Oenni? Ottoke?”          Seohyun bergegas mengganti celana Juniel dan menutupnya dengan Selimut lalu memeluk Juniel dengan setumpuk perasaan bersalah.
           

            4 Hours Ago
           

            Tenggorokan Juniel terasa sangat kering malam itu, ia melihat Yonghwa yang terlelap di sisi tempat tidurnya, melihat kesekelilingnya juga ada Eunji dan Yoona yang berbagi tempat tidur di sofa. Juniel tersenyum, orang-orang itu tidak dikenalnya sama sekali, namun kecelakaan ini secara ajaib membuatnya berinteraksi dan bertemu bahkan di sayangi oleh orang-orang yang asing yang entah darimana asalnya, mereka begitu saja memberikan perhatianya pada Juniel. Apalagi Yoona yang hanya sebatas sahabat dari Seohyun, dia menjaga Juniel dengan baik saat tidak ada siapapun yang menjaganya. Tepatnya saat Seohyun sedang kencan dengan Jonghyun.

            Juniel mencoba meraih segelas air putih yang terletak di meja sebelah kanan dari tempat tidurnya, tanganya menjulur mencoba sebisanya meraih air putih itu, hingga tenanganya terkuras habis, tubuhnya tak bergeser juga, keringat mulai bercucuran membasahi keningnya, Juniel masih dengan sabar mencoba meraih satu gelas airputih yang sangat ia butuhkan. Hanya segelas air putih, karena tenggorokanya tercekat kering. Namun semakin lengan Juniel mencoba meraih gelas itu, rasanya tubuhnya semakin jauh, ia sama sekali tidak bisa menjangkau gelas itu. Setelahnya, Juniel pelan menggeser kepala Yonghwa yang bersandar pada pahanya, mencoba berdiri dan meraih gelas itu. tapi …

            “waeyo?” Juniel mencoba mengangkat kakinya sekuat tenanga, sekuatnya, sebisanya satu kali. Namun kakinya tidak bergerak sedikit pun, Juniel mulai panik, kemudian memukul-mukul kakinya keras.

            “ottoke?” dan airmata Juniel mulai berjatuhan “ottoke?” Juniel meremas-remas kepalanya dan meniti airmata penuh ketidak percayaan, kini sekeras apapun Juniel memukul-mukul kakinya, tak ada sedikitpun rasa sakit yang terasa. “nega waeyo? Waeyo?” Juniel mulai meringis menahan tangis dan terus memukul-mukul kakinya, ia kemudian membuka selimut yang menghalangi kakinya dan mencakar-cakar kedua belah kakinya “waeyo? WAEYO?”

Juniel akhirnya berteriak dan tangisnya menggelgar dahsyat. Namun akhirnya ia menutup mulutnya dan menelan teriakan itu dalam hati, tetap saja tangisnya tak tertahan dan mengeluarkan Suara cukup kencang, kepala Yonghwa bergeser, ia terbangun. Juniel buru-buru menutup selimutnya, namun airmatanya terus pecah membuncah tak mampu terbendung.

            Yonghwa mengangkat wajahnya, dan mengerjapkan matanya perlahan, penglihatannya masih sedikit memudar namun suara tangisan itu cukup keras untuk membangukanya ia yakin itu Juniel, dan benar ia bisa melihat jelas sekarang. Itu Juniel, dia tengah menangis.

            “Juniel-ah? Waeyo?” Yonghwa tergesa berdiri dan menatap wajah Juniel cemas penuh rasa khawatir dan penasaran. Walaupun seluruh tenaganya belum kembali selepas ia tertidur cukup lelap.

            “AAAAAA..Oppaaaaaa..” Juniel meneriakan rasa sakit dalam hatinya yang ia tahan sendiri sedari tadi.

            “Juniel wae? Waeyo?” Yonghwa mengusap-ngusap wajah Juniel dengan kedua belah tanganya memisahkan dan merapihkan anak rambut yang berserakan pasrah yang kini dipenuhi wujud emosi dan pertanyaan yang tak terselesaikan jawabnya.

            “O—pp-a..” Juniel memegangi baju Yonghwa, meremasnya dan memukul-mukul dada Yonghwa, ia marah, ia sangat marah namun entah marah kepada siapa, entah siapa yang harus disalahkan, entah untuk apa ia marah, Juniel hanya ingin marah memuntahkan segala jenis emosi ini, sesuatu yang bahkan tidak bisa dinamai. Kemarahan yang tak bisa diberi judul karena ia sama sekali tidak menemukan jawaban dan alasan untuk kemarahan.

            “Waeyo Juniel-ah? Kamu bermimpi buruk? Katakan padaku?” nada cemas itu semakin berhamburan keluar dari mulut Yonghwa. Lama Juniel hanya menangis terisak, menyiksa batin Yonghwa yang kian menyesak.

            “Oppa.. jebbal kajjema .. aku bermimpi Oppa meninggalkanku sendirian disini.. aku membutuhkan oppa mulai saat ini, jangan pergi .. jangan pergi..” Juniel menenggelamkan kepalanya di balik bahu Yonghwa, dan menggiggit-gigit bibirnya sendiri, memejamkan matanya, memeras airmatanya keluar lebih deras mendera dirinya dengan pedih yang dalam dan mungkin akan berkepanjangan. memeras baju bagian belakang Yonghwa, dan menerus menangis dalam keterpurukan yang tak ingin ia bagi saat itu. ia terus menangis terisak kuat, sementara Yoona dan Eunji menyaksikan adegan itu dalam diam di sudut ruangan kelas VIP Seoul Hospital. Diantara remang cahaya lampu yang menyengat kuat, diantara sekelebat kasih sayang antara saudara, dan diantara otak mereka yang masih belum bekerja dengan baik saat harus terbangun di jam yang tidak semestinya. Sekuat tenaga berusaha tidak menangis karena disana terlihat jelas, betapa Juniel membutuhkan Yonghwa, dan bagaimana kerinduan dari pemisah antar jarak dan waktu kini meleleh dalam peluk dan airmata, Juniel tidak ingin di tinggalkan.

            “arraseo—“ lirihnya pedih “arraseo.. Oppa berjanji padamu Juniel, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, ssst.. berhenti menangis Juniel.. berhenti menangis..” Yonghwa mengelus lembut rambut Juniel dalam peluknya, menepuk-nepuk punggunya, semoga dalam pelukan itu rasa takut dan cemas Juniel menghilang bersama tangis yang terurai di kelamnya malam, dalam ketidak tahuan perasaan Yonghwa, dalam ketidak mengertian Yonghwa akan kesepian dan kepedihan Juniel. Namun Juniel masih terus menangis tersendu bahkan semakin keras dari detik ke menit hingga satu jam berlalu punah. Juniel terlihat sangat kacau di batas kesadaran dan ketidak inginan untuk sadar. Pada akhirnya Yonghwa membiarkan Juniel melepaskan segala tangisnya, memecah kesunyian dan menebar rasa sakit dalam dadanya sendiri, yang Yonghwa sadari malam itu, Juniel terlalu lama larut dalam kesendirian, Juniel tak ingin dihentikan bahkan berhenti untuk mengeluarkan amarah, rasa takut dan kecewa melalui tangisnya, hingga Juniel terlelap lelah dalam pelukan itu.
           

***

            “aku tidak bisa merasakan kakiku lagi Oenni, ini sudah tidak bisa digerakan bukan? Oenni arrayo? Oenni sudah tau semuanya kan?” dalam kalimat itu, tersirat nada sedih yang mendalam, namun tertahan entah di tahan atau mencoba bertahan. “aku lumpuh kan..” lirihnya sekali lagi. Seohyun tidak bergerak dalam peluknya.

            “mianhe.. Juniel-ah .. uri Oppa sudah mencoba melakukan yang terbaik untukmu, namun.. kami hanya bisa menyelamatkan nyawamu.. tapi tidak dengan kakimu” suaranya nyaris tak terdengar, antara bisikan dan tangis yang menyatu dalam alunan kepedihan bersama Juniel. Seohyun menepuk-nepuk punggung Juniel  Juniel menarik nafasnya panjang, dan menghentikan tangisanya, menghapus deretan air yang menetes lembut membelah pipinya.

            “ani Oenni, nan gw—en—cana…”

            “Juniel aku tau, kamu tidak baik-baik saja.. katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuatmu lebih baik?” Seohyun masih melihat rasa tertekan atau kesedihan mendalam di diri Juniel namun tak nampak rasa dendam atau sakit hati.

            “Oenni..” Lirihnya melepaskan lengan Seohyun yang melekat erat memeluknya “segala musibah yang harus aku hadapi ini, aku ingin mengambil sisi baik dan hikmah dibalik semuanya, aku berfikir ini lebih baik, ketika aku kehilangan kekuatan untuk melangkah, aku mendapat kekuatan dari orang-orang disisiku, jika dengan kecelakaan ini bisa membuat Yonghwa oppa tidak meninggalkanku lagi, kemudian aku bisa bertemu dengan Oenni, dengan Jungshin Oppa, apa yang harus di sesali? Tidak bisa berjalan bukan berarti kehidupanku berakhir bukan?” Juniel susah payah mencoba menerbitkan satu senyuman di wajahnya, dan senyuman itu muncul begitu tulus,  tersenyum sambil menatapi Seohyun yang memandanginya cemas..

            “aigoo..” Seohyun kehabisan kata-katanya, ia menarik Juniel dalam peluknya lagi “Juniel-ah..” airmata Seohyun berderai terharu, Seohyun harus banyak belajar dari Juniel, gadis ini masih sangat muda namun begitu banyak cobaan yang menderanya, gadis ini masih begitu muda namun memiliki hati yang luas dan prinsip yang kuat, melihat dunia dari sisi yang lain untuk lebih mensyukuri dan merendahkan hati. “Neon jinjja .. Juniel-ah aku tidak akan pernah menyesal mengenal gadis sepertimu..”

            “nado Oenni, bertemu dengan Oenni adalah anugrah buatku. Sebelumnya aku tidak pernah merasa disayangi dan di perhatikan oleh kakak perempuan. Walaupun aku baru bangun dari koma beberapa jam yang lalu, namun kehadiran Oenni selama aku terbaring disini bisa terasa jelas, kamsahamnida Oenni.. “ Juniel menarik lengan Seohyun, menatapnya lurus-lurus dan menghapus airmata yang rembes dari mata Seohyun “Oenni kemaneo .. jebbal uljima ..” Seohyun mengangguk semangat dan memegangi lengan Juniel hangat.

“haaah tapi aku takut Oppaku yang babo itu tau-tau menangis..”

            “Yonghwa? Jika dia menangis?  Bagaimana?” pembicaraan mereka kini berganti topik, sekarang membawa-bawa salah satu tokoh utama yang selama ini ditiadakan, meski tidak pernah dianggap binasa.

            “Molla Oenni, aku harap Oppa bisa tegar, semalaman tadi aku menangis frustasi dan memberontak pada diri sendiri, memarahi Tuhan dan berkata dalam hatiku ini begitu tidak adil, mengapa aku lumpuh saat baru saja bertemu dengan Yonghwa Oppa kenapa aku bertemu dengan Yonghwa oppa disaat yang salah, malah di saat kakiku tidak bisa melangkah lagi, namun ketika aku menyadari, kejadian ini ternyata menunjukan padaku betapa banyaknya orang yang mencintaiku dengan tulus, aku rasa aku harus bersyukur, berkompromi dengan hatiku dan tidak lagi mengeluh lantas memarahi Tuhan” Juniel nenar menatap Seohyun yang terpaku dalam jarak dekat mendeteksi ketegaran Juniel. “bukankan memang benar, salah satu yang tidak pernah dilewatkan oleh manusia adalah tempat dimana ia memarahi dan memaki Tuhan, lalu setelahnya mereka menyadari betapa Tuhan begitu baik? Kita perlu tempat untuk menangis dan meronta, mengeluh lalu berhenti dan mulai menata hidup baru? Karena Tuhan begitu baik. Benar kan Oenni?” Seohyun tergugu kaku di tempatnya, lidahnya terasa kelu dan tidak ada yang bisa ia katakan, ia hanya mengangguk setuju dengan apa yang Juniel bilang.

 Juniel.. ia sama sekali tidak menjejaki jenjang pendidikan yang tinggi, dari mana ia mempelajari ini semua? Ia tidak belajar banyak dari buku, ia belajar dari hidup, hidupnya sendiri yang berjalan tajam penuh tikungan mematikan, Juniel di anugerahi kemampuan untuk memaafkan dan mempelajari apa yang telah ia lewati, Seohyun kalah telak, wanita dengan IQ tertinggi di angkatanya, dan hanya dalam 3 tahun lulus akademi keperawatan, dengan wajah cantik dan kehidupan sempurna, kalah telak oleh seorang yatim piatu yang hanya lulusan Junior High School, penjual bunga di toko kecil di pinggiran Gangnam, itu berarti semahal apapun pendidikan yang pernah ia kecap, tidak sebanding dengan pendidikan hidup yang sudah dilalui oleh gadis itu.

            Dan bagaimana bisa, seumur hidupnya ia tidak pernah menemukan psikis pasien yang begitu tegar menerima kekurangan mereka setelah kecelakaan, butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan rasa depresi juga frustasi seorang pasien yang kehilangan kemampuanya untuk berjalan atau hal yang lain dari itu, tapi Juniel, dengan tegarnya berkata ini semua anugrah dan tidak ada yang harus di sesali? Dan apakah Juniel tidak merasa kecewa atau dendam pada laki-laki yang sudah menabraknya? Kang Minhyuk?

Juniel mengamit dan menggenggam lengan Seohyun yang masih terpaku diam di tempatnya, dalam kelam matanya yang dikelabui dengan air, terdapat pancaran lembut kasih sayang dan rasa kagum luar biasa, Juniel bisa merasakanya. Seohyun menggenggam balik lengan Juniel dan pada akhirnya mereka tersenyum bersama. Meredam rasa sedih dan membungkusnya menjadi bingkaian hidup yang telah berlalu, walau rasa sedih itu baru berlalu satu detik yang lalu.

***


            Jungshin menajamkan indra penglihatanya dan mulai mengangkat lensa kamera DSLR nya, yang sudah ia genggam sejak lama, sebagai hadiah dari ibunya. Jungshin membidik beberapa obyek yang menurutnya menarik, dan penuh makna.

            Satu jepretanya adalah ketika seorang ibu menyuapi anaknya yang terduduk di kursi roda dengan selang infuse menjuntai di tanganya. Satu jepretanya adalah seorang suster yang dengan sabarnya menggandeng nenek tua yang meminta diantar berkeliling taman, objek-objek lainya adalah anak-anak kecil yang berlarian riang di taman luas Seoul Hospital memakai baju yang seragam pertanda mereka adalah pasien rumah sakit, Jungshin puas menatap hasil-hasil jepretanya pagi itu, kasih sayang dan perasaan cinta itu ajaib menurutnya, bagaimana asa itu bisa menghangatkan seluruh dimensi tubuhnya? Sedangkan dirinya sendiri tak bisa melihat langsung wujud dari kasih sayang itu? sel yang dinamakan cinta? Yang ia tau, perasaan itu hangat. Sehangat saat ia menatap ibunya yang selalu terbaring cantik di ruang VIP Seoul Hospital selama lima tahun terakhir, Jungshin menatap langit iba diiringi bahagia, dua perasaan yang sama sekali kontras namun dinamis, tidak bisa dijelaskan, hanya … cobalah untuk merasakan. Melihat seklilingnya Jungshin sadar, ini masih terlalu pagi dimana langit belum terlalu terang namun sudah cukup menghangatkan.

            Jungshin mengangkat kameranya lagi, kali ini seorang wanita dengan rambut lurus berponi sedang berjongkok di hadapan anak kecil yang tersenyum cerah padanya, wanita itu memberikan satu gagang permen lollipop berukuran kecil sambil menepuk-nepuk kepala anak kecil itu gemas. Dan … wanita itu ternyata … itu Eunji.

            “Jungshin Oppa!!” Eunji berteriak dari tempatnya melambai-lambaikan tanganya pada Jungshin yang masih memegangi kameranya. Jungshin balik melambai-lambaikan tanganya, walau tidak se-semangat lambaian tangan Eunji. Eunji berlari mendekati Jungshin setelah pamit pada anak kecil itu.

            “sedang apa Oppa?” tanya Eunji penasaran sambil sesekali melirik usil pada layar kamera DSLR Jungshin.

            “bukannya kamu sedang mencari makan ya? Eunji?”

            “oh !” Eunji mengangguk kencang

            “lalu kenapa ada disini?” Jungshin menatapinya dingin, Eunji kemudian menundukan kepalanya lesu.

            “makan sendirian tidak enak Oppa, biasanya aku berkumpul dengan keluargaku setiap paginya, tapi hari ini.. huft” Eunji meniup poninya kencang. “Oppa temani aku ya..” Jungshin menatap Eunji sinis, Jungshin enggan terlibat dalam pertengkaran dan meninggalkan kesan buruk dengan seseorang yang baru ia kenal tadi malam, untuk itu, untuk yang itu saja, untuk satu alasan itu Jungshin akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah Eunji yang cepat menuntunya menuju kafetaria rumah sakit.

            “Oppa, aku boleh bertanya sesuatu padamu?” Eunji mengakan kepalanya dan menatap Jungshin yang jauh lebih tinggi darinya.

            “ani..” Jawab Jungshin dingin

            “ish.. Oppa persis seperti Yongwha Oppa..”  Eunji berdesis kesal, lagi-lagi harus dipertemukan dengan laki-laki dingin yang memandanginya sinis tanpa sebab.

            “memang Yonghwa Hyung seperti apa?” tanya Jungshin penasaran

            “ani lupakan saja..” Eunji membuat langkah mereka cukup jauh saat ia memutuskan untuk mempercepat kakinya berjalan, namun Jungshin terhenti di tempatnya, Eunji membalikan tubuhnya dan mendekati Jungshin lagi.

“Oppa !! kajja !!” Eunji menarik lengan Jungshin, namun Jungshin tidak bergerak, Eunji mengikuti arah mata Jungshin dan matanya terhenti ketika ia melihat sosok Yonghwa yang kedapatan tersenyum-senyum sendiri sambil melamun di pojokan bangku kayu di sudut taman Seoul Hospital.

            “naneun, Jung Yonghwa, laki-laki bodoh yang jatuh cinta di saat  yang salah, pada seseorang yang salah..”

            Jungshin dan Eunji mendengar jelas kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Yonghwa, dengan mata berbinar dan wajah cerah.

            “eh? Jatuh cinta pada seseorang yang salah?” Eunji menegakan kepalanya dan menatap Jungshin yang terlihat sama sepertinya, bekelebat dalam kebingungan.


***

            Minhyuk dibantu Hyori, merapikan pakaiannya dan mengemas barang-barangnya, hari ini ia sudah diizinkan pulang dan beristirahat di rumah oleh pihak rumah sakit, kedua orang tua minhyuk merasa beruntung karena tidak ada hal serius yang menimpa Minhyuk, dan sesuai dengan apa yang Choi Seohyun katakan, tidak ada yang harus di khawatirkan tentang perempuan yang Minhyuk tabrak, namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Minhyuk, sesuatu yang menghardik dirinya sendiri, rasa bersalah yang tak surut juga keinginan untuk bertemu dengan gadis itu, yang akhirnya Minhyuk tau, gadis penjual bunga itu bernama Juniel. Jika boleh dikatakan beruntung : ‘beruntung aku mengetahui namanya… beberapa jam sebelum aku menabraknya..’

            “Omma..” lirih Minhyuk sambil memandang wajah ibunya penuh harap

            “ne..”

            “aku harus menemui gadis itu.. aku .. ingin meminta maaf ..” Minhyuk mencengkram lengan ibunya yang masih sibuk merapikan barang-barang Minhyuk untuk dibawa pulang, ragu Hyori menatap Minhyuk penuh rasa takut. Seperti seekor kucing yang kedapatan mencuri lauk dari meja makan.

            “Minhyuk-ah..” Hyori membeku di tempatnya tanpa berani menatap mata Minyuk. “lebih baik kamu tidak usah menemuinya..”

            “OMMA !!” Minhyuk seketika menegak berdiri, bangkit dari duduknya. “AKU SATU-SATUNYA YANG MENABRAK GADIS ITU !! BAGAIMANA AKU BISA SESANTAI INI TANPA MENGETAHUI BAGAIMANA KEADAANYA? HAH? AKU HARUS MENEMUINYA!”

            Suara itu berteriak seperti petir yang menggelegar arogan, tanpa bisa menjawab lagi Hyori mencoba menelaah kemarahan anaknya padanya. Hyori bukan tak ingin menemui gadis itu, tapi rasa takut lah yang menghalanginya.

            Takut jikalau anaknya jadi korban bulan-bulanan keluarga besar gadis itu, takut pada akhirnya anaknya di tuntut dan dimasukan kedalam jeruji besi yang dingin dan menyakitkan, tidak ada hal lain yang Hyori pikirkan selain keselamatan dan kebahagiaan Minhyuk, lengan Hyori gemetar dan ia membalikan tubuhnya, mencoba menatap wajah Minhyuk yang dipenuhi dengan hasrat benci, bukan padanya, namun pada diri itu, Minhyuk sendiri.

            “Minhyuk-ah..”

            “Omma..” Suara itu melumer lembut kini “bagaimana aku bisa pulang dengan hati bahagia tanpa memastikan gadis itu selamat dan baik-baik saja? Setidaknya biarkan aku meminta maaf padanya.. aku mohon.. aku mohon..” Hyori menepuk bahu Minhyuk

            “aku takut..” jawabnya pilu “aku tidak ingin berpisah denganmu.. aku takut kamu di penjarakan.. itu saja..” kini bongkahan perasaan yang di pendam itu muncul sudah ke permukaan, kasih sayang seorang ibu memang tanpa batas. Tapi seharusnya ia tidak melindungi dan menyembunyikan kesalah anaknya, sekalipun ia sangat mencintai Minhyuk.

            Tak ada jawab, hanya tatapan mata penuh makna menjembatani perasaan Minhyuk pada Hyori, Minhyuk hanya mampu menggenggam tangan Hyori dengan kedua belah tanganya. Mencoba bertelepati mengatakan ‘aku akan baik-baik saja.. demi cintaku padamu Omma..’ dan dalam hitungan menit Hyori melepaskan tangan itu, mengangguk dan membiarkan Minhyuk berlalu memunggunginya.


***


            Ruangan itu masih sepi, putih dan diselundupi oleh gurat-gurat sinar matahari, baik Yonghwa, Jungshin, Eunji ataupun Yoona apalagi Jonghyun belum ada yang kembali dari kegiatan mereka masing-masing, yang hanya adalah sekumpulan suara lembut dari seorang perawat yang menceritakan dan saling bercerita dengan Juniel.

            Minhyuk berhenti disana, di depan pintu berwarna putih selaras dengan isi ruangan itu, sebelum memberanikan diri mengetuknya, sekejap Minhyuk berbalik dan merapatkan punggungnya pada tembok yang dingin.

            ‘apakah kesalahanku termaafkan.. bagaimana dengan dia yang sudah tidak bisa berjalan lagi…’ Minhyuk kini sehat, bugar bahkan bisa berlari, tapi Juniel… lihat dia hanya terbaring di tempat tidur itu.

            Ia kembali ke posisinya di hadapan pintu, kemudian mengetuknya.


            “Oh !! siapa itu?” Juniel dan Seohyun yang sibuk menceritakan apa yang pernah dialami kebelakang mengalihkan perhatian mereka pada pintu yang baru saja diketuk. Seketika wajah Seohyun gentar, Juniel melihat perubahan airmuka itu. dari kaca di antara papan pintu terlihat jelas itu adalah Minhyuk, laki-laki yang membuat Juniel seperti ini.

            “mau apa makhluk itu?” Seohyun berdiri dari tempat duduknya, saat ia melangkah Juniel menarik tanganya.

            “Oenni.. biarkan dia masuk, dan aku mohon… jangan mengusirnya atau meluapkan emosi padanya…” Juniel bertutur, Seohyun menelan ludah, bersamaan dengan mencoba meredam amarah. Meski sulit akhirnya ia mengangguk, dan membukakan pintu itu pelan.

            “annyeonghaseo, Choi Seohun-ssi” Minhyuk membungkuk sopan

            “masuklah..” Minhyuk lebih terhenyak kaget saat mendengar kata itu, awalnya ia berfikir Seohyun akan menamparnya, menendangnya keluar dari ruangan itu, memberinya hantaman dengan sumpah serapah yang menunjukan kebencianya, tapi ini lain. Meski wajah Seohyun begitu kusut menyambutnya, Minhyuk berterima kasih. Ia masih diberi kesempatan, setidaknya untuk menatap wajah Juniel. Walau sebentar.

            Ia melangkah pelan, namun wajah hangat itu sudah menyambut dengan tatapan mata tanpa dendam, hati Minhyuk meredup, dalam dan sangat dalam untuk meraih senyum itu. kakinya nyaris kaku jika saja ia tidak sadar dimana ia sedang berpijak.

            “a—nnyeo—nghaseo..”

            “annyeonghaseo Kang Minhyuk-ssi.. wah anda sepertinya sudah sehat ya sunnim..” Seohyun mengamati mereka berdua dari balik pintu, berjaga-jaga kalau saja ada Yonghwa atau Jungshin yang datang, bisa-bisa Minhyuk habis babak belur.

            “aih.. jangan memanggilku sunnim, ya aku baik.. tapi kamu…”

            “hehe” Juniel cengengesan “aku sudah tidak bisa berjalan sekarang...” tukasnya lagi. Namun tidak ada gurat kesedihan tergambar disana, yang ada hanyalah keajaiban. ‘ajaib bukan, aku begitu tegar?’ Juniel berbicara pada hatinya, ada hening yang panjang, mereka seperti berada di ruang berbeda, ruang itu sunyi namun begitu memekakan telinga.


            “Juniel-ssi… maukah kamu memaafkanku..” akhirnya kata-kata itu keluar setelah jeda yang cukup lama.
            “kamu meminta maaf untuk apa Minhyuk-ssi?”

            “membuatmu seperti ini..”

            “ani. Ini bukan salah siapapun, apa anda percaya takdir?”

            “ne?”

            “aku percaya. Hari ini, atau kemarin kita sudah ditakdirkan berada dalam satu kecelakaan, kemudian Tuhan memberikan musibah yang cukup berat untuku, yaitu tidak bisa berjalan lagi, sedangkan anda di beri keajaiban lain, masih sanggup melanjutkan hidup dengan keadaan baik..”

            “Juniel-ssi..”

            “tidak ada yang perlu meminta maaf, memaafkan atau dimaafkan.. bagiku semua ini adalah kiriman Tuhan.. dan, ia mengirimkan musibah itu pada orang yang tepat..” Juniel berhenti sambil menatap Minhyuk

            “jika sampai anda yang mendapat musibah ini, saya tidak menjamin anda akan sanggup melewatinya..”

            ‘memang. Terimakasih.boleh aku jujur? Aku mencintaimu. Lama sejak lama.’

            “apa yang bisa aku lakukan untukmu? Untuk menebus semua rasa bersalahku?” Juniel tersnyum dan menggeleng, lalu mengamit tangan Minhyuk yang sedari tadi jemarinya bermain-main sendiri.

            “tidak ada Oppa.. lanjutkan hidupmu dengan baik, bersama kekasihmu itu, sering-sering bermain ke YJ dan menjadi sahabatku, tidak lebih dan tidak kurang.” Jawab Juniel lugas.

            “tapi dia bukan—“


            “YA!! Cepat keluar dari sini, Yonghwa, Jungshin dan Eunji sedang berjalan kemari” Seohyun tau-tau membuka pintu dengna wajah panik bukan kepalang. Juniel kemudian melepaskan genggaman itu dan mendorong-dorong tubuh Minhyuk sama paniknya.

            “Oppa cepat pergi !! aku tidak mau Yonghwa oppa melihatmu..” tapi Minhyuk tidak bergerak dan malah berhenti di tempatnya kukuh.

            “apa yang kamu tunggu bodoh !! cepat keluar !” Seohyun buru-buru berlari pada Minhyuk dan mendorongnya.

            “kemaneo !!” Minhyuk menegaskan suaranya “aku tidak akan berlari dari siapapun, aku ingin menebus semua rasa bersalahku pada Juniel..” dan dua perempuan itu tergugu kaku. Apalagi setelah dua laki-laki dan satu orang perempuan itu masuk. Seohyun memperbaiki posisinya yang tadi sedang mendorong-dorong tubuh Minhyuk.

            “oh ! nugu?” kata Yonghwa bertanya pada Juniel juga Seohyun sambil mengunyah sebuah apel yang ada di genggamannya.

            “annyeonghaseo.. choneun, Kang Minhyuk imnida..” jawab Minhyuk tanpa basa-basi.

            “dia—dia teman Juniel, juga salah satu pelanggan YJ .. benar kan Juniel?” mata Seohyun memincing pada Juniel yang sama kaku dan tegangnya. Berharap tidak ada keributan yang terjadi disini.

            “n—ne.. dia temanku Oppa..”

            “oh, begitu”

            “aniyo.. aku yang menabrak Juniel dan membuatnya tidak bisa berjalan lagi.” Semua orang disana tercengang dengan apa yang baru saja keluar dari mulut laki-laki bertubuh tinggi bermata sipit khas asia itu.


***


            Jonghyun merapikan kemejanya dan menatap bayangnya di cermin percaya diri, ia harus tampil prima dihadapan banyak orang, ia tidak ingin mengecewakan Seohyun, ia harus terlihat sesempurna mungkin, dan ini hari terakhirnya bertemu dengan Seohyun.

            “kamu sudah cukup tampan Oppa..” Yoona mengamatinya dari belakang, “Seohyun tidak akan kecewa memiliki kekasih sepertimu, aku saja samapai iri.” Yoona menyerupu teh yang sudah ia buat.

            “setidaknya ini hari terakhir kita menemuinya Yoona-ya..” jawabnya sambil berseri-seri

            “benar juga..” Yoona tidak mengindahkan. “aku jadi bingung, kenapa aku juga terseret-seret dalam pusaran waktu kalian berdua seperti ini, lihat sekaran? Pagi-pagi begini aku sudah berada di apartementmu, malah ingin ikut-ikutan pergi ke rumah sakit menjenguk Juniel..” Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya aneh.

            Jonghyun menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri. “itulah gunanya persahabatan Yoona-yah.. saling berbagi..” Jonhyun mengambil kunci mobil dan memboyong Yoona pergi dari apartementnya.


***

            Seohyun mematut diri dan memperbaiki make-upnya, berjam-jam yang lalu ia habis memisahkan pertengkarana antara Yonghwa dan Minhyuk yang membuat satu rumah sakit ikut andil dalam usaha memisahkan cengkraman dan hantaman Yonghwa yang keras pada Minhyuk.

            “babo.. sudah tau kita semua menutup-nutupi kesalahanya, juga keadaan Juniel yang sebenarnya, dia seenaknya membuka-buka rahasia orang, ish !!” Seohyun gemas pada sikap Minhyuk, memang ini semua salahnya namun kenapa ia tidak berusaha menghindar saat Yonghwa bertubi-tubi memukuli dan membabi buta menganiaya tubuhnya.

            “huuuuh..” Seohyun membuang nafanya, mengaturnya kembali agar penampilanya terlihat wajar sama sekali. Terlebih ia harus menyambut kekasihnya. “sudahlah Seohyun berhenti memikirkan apa yang tidak perlu, ayo buat hari terindah untuk Jonghyun.” Kemudian Seohyun membuka loker kerjanya, ia terpaku ketika mendapati sesuatu yang baru saja semalam ia tuliskan. Disana ada satu buah amplop putih bertuliskan 
: SURAT PENGUNDURAN DIRI.


            Seohyun menarik amplop itu, memandanginya lamat-lamat, jika semua orang bertanya-tanya mengapa Seohyun mengambil keputusan ini, padahal baru satu tahun dia menjadi perawat, Seohyun akan menjawabnya dengan lancar, bagaimanapun keputusan ini rasanya akan menjadi sesuatu hal yang paling spektakuler dalam hidupnya.


            “yobseo Oppa.. oh nee, cangkeumman.. aku segera kesana..” Seohyun kembali mematut diri, kekasihnya sudah menanti di depan sana. Dengan senyum mengembang ia datang.


            Jonghyun mengamatinya dari jauh, rasanya wajah Seohyun meskipun hari berganti menua, tidak dengan wajah yang segar penuh semangat itu, Jonghyun menyikut Yoona

            “yeppoji?”

            “tentu saja, dia kekasihmu..” Yoona cekikikan melihat tingkah Jonghyun yang jika bertemu dengan Seohyun seperti bocah yang baru merasakan jatuh cinta.

            “tidak lama kan menunggunya?” Jonghyun dan Yoona sama-sama menggelang “oppa, mianheo.. aku tidak punya cukup waktu saat kamu pulang..”

            “Seohyun-ah !! aku mau ke ruangan Juniel yah, kalian sepertinya harus ditinggalkan berdua.

            “aniyo Yoona-ya.. disana sedang terjadi perang panas dingin tidak karu-karuan, lebih baik kamu menemani Jungshin dan Eunji, mereka melarikan diri ke kafetaria”

            Tawa Jonghyun juga Yoona pecah mendengar penjelasan Seohyun yang jauh dari kata ‘kewajaran’ seorang Seohyun.

            “memang ada apa sih? Sampai super duper meledak ledak seperti itu?” Yoona setengah mati menahan tawanya.

            “tadi Yonghwa Oppa berkelahi dengan Minhyuk, eh maksudku membuat Minhyuk hampir mati babak belur, habisan Minhyuk berani-beraninya datang minta maaf, sudah ku bilang jangan, jadikan seperti itu, belum lagi Juniel—“

            Tau-tau telunjuk Jonghyun sudah mendarat di bibirnya, Seohyun memutar bola matanya mengarah pada wajah dingin yang amat sangat tampan itu.

            “kamu tidak akan berhenti bercerita ya? Sudah ah..” Yoona tersenyum berseri-seri di tempatnya melihat kelakuan dua sahabatnya itu.

            “yasudah ya, kalau begitu aku mau ketemu Jungshin, kalian habiskan waktu bersama dulu. Oh iya, Oppa jangan lupa kita harus berangkat..” Yoona melihat jam tanganya “dua jam lagi, arraseo?”

            “nde.. ndeeee agashi..” Jonhyun menimpali, sambil merangkul hangat tubuh Seohyun, kemudian Yoona berlalu dari pandangan mereka.


***


            Seohyun mengajak Jonghyun masuk ke ruangan khusus perawat, tidak ada siapa-siapa disana dalam jam sibuk kerja seperti ini, hanya saja Seohyun sengaja mangkir untuk menemui kekasihnya.

            “kenapa cuma tiga hari sih..” mukanya di tekuk protes. “gak bisa gitu sedikit lebih lama?”

            “maaf, tapi jadwalnya sudah diatur, ya hasilnya memang seperti itu..”

            “tapi kan—“

            “dari pada mengeluh, lebih baik pergunakan dua jam terakhir ini sebaik-baiknya, buat apa berdebat 
hyunnie?” Suara Jonghyun lembut, lalu menarik Seohyun kedalam pelukanya.

            “Oppa..”

            “hm..”

            “saranghe..” Seohyun membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya untuk menciumi wangi tubuh Jonghyun yang selalu terindukan. Jonghyun begitu nyata dan terjamah, rasa cintanya terperi dengan jelas, Seohyun tidak lagi inign mengelak, dia mencintai Jonghyun sangat mencintainya.

            “Hyunnie.. maafkan aku ya..” lirihnya dalam pelukan, jika saja Jonghyun harus berhadapan dengan mata Seohyun langsung, niscaya dia hanya akan tergugu tak mampu berbicara apapun.

            “untuk apa? Masalah yang terakhir?” Jonghyun tak menjawab “aku bilang tidak apa, tapi aku harap Oppa mengerti, bukan dengan cara seperti itu, aku ingin menunjukan cintaku pada Oppa dengan cara lain yang lebih luar biasa…”

            “bukan untuk itu saja Hyunnie, maafkan aku yang tak siaga menjagamu setiap masa, maafkan aku yang sering meniadakan diri disela kerinduanmu yang mendalam, maafkan untuk segalanya…” Jonghyun menghirup udara di tengkuk Seohyun.

            “jaga dirimu baik-baik Oppa.. tidak lebih hanya itu yang aku inginkan.” Mereka melepaskan satu sama lain, mengerti sesuatu yang mengikat seperti itu, terkadang terlalu menyesakan dada.
            Jonghyun bangkit dan mencium kening Seohyun, lama.

            Seohyun melingkarkan lenganya di pinggang Jonghyun, lama.

            Mereka saling mencintai, tanpa dusta, lama, sangat lama.


***


            Jungshin, Eunji dan Yoona berjejer, sambil menjilati satu gagang eskrim rasa buah, hari sudah berubah menjadi sedikit terik dan mereka dengan khidmat menikmati eskrim yang mencair di tenggorokan mereka.

            “Oenni, sejak kapan bersahabat dengan Seohyun Oenni?”

            “lama Eunji, aku malas menghitungnya..”

            “lalu Oppa?”

            “setahun..”

            “Cuma aku orang asing disini, tidak mengerti apa-apa, aku seperti tersasar ke planet lain, dan terperangkap diantara alien yang memiliki hati malaikat” Eunji memandangi kiri kanannya, dua orang asing yang baru dikenalnya.

            “Jungshin-ah, sebenarnya anak ini sedang bicara apa sih?” Yoona memiringkan badanya dan menatap Jungshin yang diselingi tubuh Eunji.

            “Molla ..” kemudian mereka terbahak bersama, menghakimi si bungsu yang tidak tau apa-apa.

            “ish.. tapi .. mengingat yang tadi pagi, Yonghwa oppa bilang.. dia sedang jatuh cinta, pada seseorang yang salah.” Eunji mengalihkan pembicaraan, mencoba mendapat perhatian sekali lagi.

            “mungkin pada Yoona Noona” jawab Jungshin asal.

            “ya !!” Yoona bangkit dan memukul kepala Jungshin keras.

            “wae? Mungkin saja kan?” Jungshin protes

            “mungkin sih mungkin, tapi masa aku disebut orang yang salah? Sinting.” Yoona ketus, Eunji cekikikan hingga kecekukan di tengah-tengah, kembali tawa meledak diantara mereka semua. “lagi pula aku sudah punya kekasih..” Yoona melengos

            “masa?” Jungshin dan Eunji kompak memancing matanya menatap curiga pada Yoona, senyum simpul Yoona sudah cukup menandakan bahwa ia tidak berbohong. Banyak makna dalam senyuman itu, sepertinya Yoona sangat bahagia.

            “masih dari sekitar tempat kerjamu?” Jungshin penasaran, Eunji mengangguk-ngaggukan kepala mengantisipasi jawaban dari Yoona.

            “hmmm” Yoona memutar-mutar bola matanya bolak-balik membuat Jungshin dan Eunji semakin penasaran “kalian mau tau saja urusan orang lain, ingat ya kita semua baru kenal..” Yoona cekikan, tidak pernah ia merasakan jarak sebebas ini antara orang-orang yang baru ia kenal. Persahabatan bisa terjalin begitu saja, dimana saja, dengan siapa saja, tanpa di duga-duga, termasuk dengan dua orang itu, orang-orang aneh yang masih sangat muda.

            “yang jelas, aku berharap sampai kapan pun itu, kalian tidak tau, tidak boleh tau siapa kekasihku, kalau sampai tau bisa-bisa kalian…” Yoona memicing, matanya penuh tanda waspada “jatuh cinta juga pada kekasihku..”

            “Noona miceosso ?!” Jungshin berteriak hebat sambil memukul Yoona dengan tangan panjangnya.

            “YA !!” Yoona berdiri dan membalas pukulan itu, hingga pada akhirnya mereka balas-balasan memukul, Eunji berpartisipasi sebagai wasit, bukan malah menghalau mereka berdua.



To Be Continued …