No
More Tears Formula
Chapter
7
You Are a Miracle
Seohyun membuka gorden yang
menghalangi sinar matahari masuk ke kamar Juniel, ia kemudian melangkah
mendekati Juniel, melepaskan pakaiannya dan mengganti pakaian Juniel dengan
yang baru saat semua orang sudah tidak berada di ruangannya, termasuk Yonghwa,
sebelum ruangan ini kosong, Jungshin menyempatkan bertemu dengan Juniel, dan kini
Juniel sudah tidak memanggilnya Hae lagi, melainkan Jungshin Oppa.
“Oenni..” Lirih juniel ketika Seohyun hendak membuka celana yang ia gunakan
“ne..” Seohyun menatap Juniel, “tidak usah malu padaku Juniel, aku sudah biasa melakukan hal ini..”
“Oenni sudah tau kan? Makanya Oenni mengganti pakaianku? Kenapa Oenni tidak menyuruhku melakukannya sendiri?” tanya Juniel singkat dan cepat penuh penekanan introgasi dan keingintahuan.
“NE?” Seohyun kaget, kemudian mengalihkan tatapanya pada celana Juniel yang siap di lepas, dan saat Seohyun menurunkan celana Juniel, ada bekas lurus garis-garis cukup dalam bekas luka cakaran di kedua belah paha Juniel.
“JUNIEL-AH? APA YANG KAMU LAKUKAN PADA KAKIMU?” Seohyun berteriak kaget. Dan airmata Juniel mulai bercucuran frustasi sambil menatap kosong kedua belah kakinya, semetara mata Seohyun tajam merajang wajah Juniel yang sendu depresi.
“bagaimana menjelaskannya pada Yonghwa oppa.. Ottoke Oenni? Ottoke?” Seohyun bergegas mengganti celana Juniel dan menutupnya dengan Selimut lalu memeluk Juniel dengan setumpuk perasaan bersalah.
4 Hours Ago
Tenggorokan Juniel terasa sangat kering malam itu, ia melihat Yonghwa yang terlelap di sisi tempat tidurnya, melihat kesekelilingnya juga ada Eunji dan Yoona yang berbagi tempat tidur di sofa. Juniel tersenyum, orang-orang itu tidak dikenalnya sama sekali, namun kecelakaan ini secara ajaib membuatnya berinteraksi dan bertemu bahkan di sayangi oleh orang-orang yang asing yang entah darimana asalnya, mereka begitu saja memberikan perhatianya pada Juniel. Apalagi Yoona yang hanya sebatas sahabat dari Seohyun, dia menjaga Juniel dengan baik saat tidak ada siapapun yang menjaganya. Tepatnya saat Seohyun sedang kencan dengan Jonghyun.
Juniel mencoba meraih segelas air putih yang terletak di meja sebelah kanan dari tempat tidurnya, tanganya menjulur mencoba sebisanya meraih air putih itu, hingga tenanganya terkuras habis, tubuhnya tak bergeser juga, keringat mulai bercucuran membasahi keningnya, Juniel masih dengan sabar mencoba meraih satu gelas airputih yang sangat ia butuhkan. Hanya segelas air putih, karena tenggorokanya tercekat kering. Namun semakin lengan Juniel mencoba meraih gelas itu, rasanya tubuhnya semakin jauh, ia sama sekali tidak bisa menjangkau gelas itu. Setelahnya, Juniel pelan menggeser kepala Yonghwa yang bersandar pada pahanya, mencoba berdiri dan meraih gelas itu. tapi …
“waeyo?” Juniel mencoba mengangkat kakinya sekuat tenanga, sekuatnya, sebisanya satu kali. Namun kakinya tidak bergerak sedikit pun, Juniel mulai panik, kemudian memukul-mukul kakinya keras.
“ottoke?” dan airmata Juniel mulai berjatuhan “ottoke?” Juniel meremas-remas kepalanya dan meniti airmata penuh ketidak percayaan, kini sekeras apapun Juniel memukul-mukul kakinya, tak ada sedikitpun rasa sakit yang terasa. “nega waeyo? Waeyo?” Juniel mulai meringis menahan tangis dan terus memukul-mukul kakinya, ia kemudian membuka selimut yang menghalangi kakinya dan mencakar-cakar kedua belah kakinya “waeyo? WAEYO?”
Juniel akhirnya berteriak dan tangisnya menggelgar dahsyat. Namun akhirnya ia menutup mulutnya dan menelan teriakan itu dalam hati, tetap saja tangisnya tak tertahan dan mengeluarkan Suara cukup kencang, kepala Yonghwa bergeser, ia terbangun. Juniel buru-buru menutup selimutnya, namun airmatanya terus pecah membuncah tak mampu terbendung.
Yonghwa mengangkat wajahnya, dan mengerjapkan matanya perlahan, penglihatannya masih sedikit memudar namun suara tangisan itu cukup keras untuk membangukanya ia yakin itu Juniel, dan benar ia bisa melihat jelas sekarang. Itu Juniel, dia tengah menangis.
“Juniel-ah? Waeyo?” Yonghwa tergesa berdiri dan menatap wajah Juniel cemas penuh rasa khawatir dan penasaran. Walaupun seluruh tenaganya belum kembali selepas ia tertidur cukup lelap.
“AAAAAA..Oppaaaaaa..” Juniel meneriakan rasa sakit dalam hatinya yang ia tahan sendiri sedari tadi.
“Juniel wae? Waeyo?” Yonghwa mengusap-ngusap wajah Juniel dengan kedua belah tanganya memisahkan dan merapihkan anak rambut yang berserakan pasrah yang kini dipenuhi wujud emosi dan pertanyaan yang tak terselesaikan jawabnya.
“O—pp-a..” Juniel memegangi baju Yonghwa, meremasnya dan memukul-mukul dada Yonghwa, ia marah, ia sangat marah namun entah marah kepada siapa, entah siapa yang harus disalahkan, entah untuk apa ia marah, Juniel hanya ingin marah memuntahkan segala jenis emosi ini, sesuatu yang bahkan tidak bisa dinamai. Kemarahan yang tak bisa diberi judul karena ia sama sekali tidak menemukan jawaban dan alasan untuk kemarahan.
“Waeyo Juniel-ah? Kamu bermimpi buruk? Katakan padaku?” nada cemas itu semakin berhamburan keluar dari mulut Yonghwa. Lama Juniel hanya menangis terisak, menyiksa batin Yonghwa yang kian menyesak.
“Oppa.. jebbal kajjema .. aku bermimpi Oppa meninggalkanku sendirian disini.. aku membutuhkan oppa mulai saat ini, jangan pergi .. jangan pergi..” Juniel menenggelamkan kepalanya di balik bahu Yonghwa, dan menggiggit-gigit bibirnya sendiri, memejamkan matanya, memeras airmatanya keluar lebih deras mendera dirinya dengan pedih yang dalam dan mungkin akan berkepanjangan. memeras baju bagian belakang Yonghwa, dan menerus menangis dalam keterpurukan yang tak ingin ia bagi saat itu. ia terus menangis terisak kuat, sementara Yoona dan Eunji menyaksikan adegan itu dalam diam di sudut ruangan kelas VIP Seoul Hospital. Diantara remang cahaya lampu yang menyengat kuat, diantara sekelebat kasih sayang antara saudara, dan diantara otak mereka yang masih belum bekerja dengan baik saat harus terbangun di jam yang tidak semestinya. Sekuat tenaga berusaha tidak menangis karena disana terlihat jelas, betapa Juniel membutuhkan Yonghwa, dan bagaimana kerinduan dari pemisah antar jarak dan waktu kini meleleh dalam peluk dan airmata, Juniel tidak ingin di tinggalkan.
“arraseo—“ lirihnya pedih “arraseo.. Oppa berjanji padamu Juniel, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, ssst.. berhenti menangis Juniel.. berhenti menangis..” Yonghwa mengelus lembut rambut Juniel dalam peluknya, menepuk-nepuk punggunya, semoga dalam pelukan itu rasa takut dan cemas Juniel menghilang bersama tangis yang terurai di kelamnya malam, dalam ketidak tahuan perasaan Yonghwa, dalam ketidak mengertian Yonghwa akan kesepian dan kepedihan Juniel. Namun Juniel masih terus menangis tersendu bahkan semakin keras dari detik ke menit hingga satu jam berlalu punah. Juniel terlihat sangat kacau di batas kesadaran dan ketidak inginan untuk sadar. Pada akhirnya Yonghwa membiarkan Juniel melepaskan segala tangisnya, memecah kesunyian dan menebar rasa sakit dalam dadanya sendiri, yang Yonghwa sadari malam itu, Juniel terlalu lama larut dalam kesendirian, Juniel tak ingin dihentikan bahkan berhenti untuk mengeluarkan amarah, rasa takut dan kecewa melalui tangisnya, hingga Juniel terlelap lelah dalam pelukan itu.
***
“aku tidak bisa merasakan kakiku
lagi Oenni, ini sudah tidak bisa digerakan bukan? Oenni arrayo? Oenni sudah tau
semuanya kan?” dalam kalimat itu, tersirat nada sedih yang mendalam, namun
tertahan entah di tahan atau mencoba bertahan. “aku lumpuh kan..” lirihnya
sekali lagi. Seohyun tidak bergerak dalam peluknya.
“mianhe.. Juniel-ah .. uri Oppa sudah mencoba melakukan yang terbaik untukmu, namun.. kami hanya bisa menyelamatkan nyawamu.. tapi tidak dengan kakimu” suaranya nyaris tak terdengar, antara bisikan dan tangis yang menyatu dalam alunan kepedihan bersama Juniel. Seohyun menepuk-nepuk punggung Juniel Juniel menarik nafasnya panjang, dan menghentikan tangisanya, menghapus deretan air yang menetes lembut membelah pipinya.
“ani Oenni, nan gw—en—cana…”
“Juniel aku tau, kamu tidak baik-baik saja.. katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuatmu lebih baik?” Seohyun masih melihat rasa tertekan atau kesedihan mendalam di diri Juniel namun tak nampak rasa dendam atau sakit hati.
“Oenni..” Lirihnya melepaskan lengan Seohyun yang melekat erat memeluknya “segala musibah yang harus aku hadapi ini, aku ingin mengambil sisi baik dan hikmah dibalik semuanya, aku berfikir ini lebih baik, ketika aku kehilangan kekuatan untuk melangkah, aku mendapat kekuatan dari orang-orang disisiku, jika dengan kecelakaan ini bisa membuat Yonghwa oppa tidak meninggalkanku lagi, kemudian aku bisa bertemu dengan Oenni, dengan Jungshin Oppa, apa yang harus di sesali? Tidak bisa berjalan bukan berarti kehidupanku berakhir bukan?” Juniel susah payah mencoba menerbitkan satu senyuman di wajahnya, dan senyuman itu muncul begitu tulus, tersenyum sambil menatapi Seohyun yang memandanginya cemas..
“aigoo..” Seohyun kehabisan kata-katanya, ia menarik Juniel dalam peluknya lagi “Juniel-ah..” airmata Seohyun berderai terharu, Seohyun harus banyak belajar dari Juniel, gadis ini masih sangat muda namun begitu banyak cobaan yang menderanya, gadis ini masih begitu muda namun memiliki hati yang luas dan prinsip yang kuat, melihat dunia dari sisi yang lain untuk lebih mensyukuri dan merendahkan hati. “Neon jinjja .. Juniel-ah aku tidak akan pernah menyesal mengenal gadis sepertimu..”
“nado Oenni, bertemu dengan Oenni adalah anugrah buatku. Sebelumnya aku tidak pernah merasa disayangi dan di perhatikan oleh kakak perempuan. Walaupun aku baru bangun dari koma beberapa jam yang lalu, namun kehadiran Oenni selama aku terbaring disini bisa terasa jelas, kamsahamnida Oenni.. “ Juniel menarik lengan Seohyun, menatapnya lurus-lurus dan menghapus airmata yang rembes dari mata Seohyun “Oenni kemaneo .. jebbal uljima ..” Seohyun mengangguk semangat dan memegangi lengan Juniel hangat.
“haaah tapi aku takut Oppaku yang babo itu tau-tau menangis..”
“Yonghwa? Jika dia menangis? Bagaimana?” pembicaraan mereka kini berganti topik, sekarang membawa-bawa salah satu tokoh utama yang selama ini ditiadakan, meski tidak pernah dianggap binasa.
“Molla Oenni, aku harap Oppa bisa tegar, semalaman tadi aku menangis frustasi dan memberontak pada diri sendiri, memarahi Tuhan dan berkata dalam hatiku ini begitu tidak adil, mengapa aku lumpuh saat baru saja bertemu dengan Yonghwa Oppa kenapa aku bertemu dengan Yonghwa oppa disaat yang salah, malah di saat kakiku tidak bisa melangkah lagi, namun ketika aku menyadari, kejadian ini ternyata menunjukan padaku betapa banyaknya orang yang mencintaiku dengan tulus, aku rasa aku harus bersyukur, berkompromi dengan hatiku dan tidak lagi mengeluh lantas memarahi Tuhan” Juniel nenar menatap Seohyun yang terpaku dalam jarak dekat mendeteksi ketegaran Juniel. “bukankan memang benar, salah satu yang tidak pernah dilewatkan oleh manusia adalah tempat dimana ia memarahi dan memaki Tuhan, lalu setelahnya mereka menyadari betapa Tuhan begitu baik? Kita perlu tempat untuk menangis dan meronta, mengeluh lalu berhenti dan mulai menata hidup baru? Karena Tuhan begitu baik. Benar kan Oenni?” Seohyun tergugu kaku di tempatnya, lidahnya terasa kelu dan tidak ada yang bisa ia katakan, ia hanya mengangguk setuju dengan apa yang Juniel bilang.
Juniel.. ia sama sekali tidak menjejaki jenjang pendidikan yang tinggi, dari mana ia mempelajari ini semua? Ia tidak belajar banyak dari buku, ia belajar dari hidup, hidupnya sendiri yang berjalan tajam penuh tikungan mematikan, Juniel di anugerahi kemampuan untuk memaafkan dan mempelajari apa yang telah ia lewati, Seohyun kalah telak, wanita dengan IQ tertinggi di angkatanya, dan hanya dalam 3 tahun lulus akademi keperawatan, dengan wajah cantik dan kehidupan sempurna, kalah telak oleh seorang yatim piatu yang hanya lulusan Junior High School, penjual bunga di toko kecil di pinggiran Gangnam, itu berarti semahal apapun pendidikan yang pernah ia kecap, tidak sebanding dengan pendidikan hidup yang sudah dilalui oleh gadis itu.
Dan bagaimana bisa, seumur hidupnya ia tidak pernah menemukan psikis pasien yang begitu tegar menerima kekurangan mereka setelah kecelakaan, butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan rasa depresi juga frustasi seorang pasien yang kehilangan kemampuanya untuk berjalan atau hal yang lain dari itu, tapi Juniel, dengan tegarnya berkata ini semua anugrah dan tidak ada yang harus di sesali? Dan apakah Juniel tidak merasa kecewa atau dendam pada laki-laki yang sudah menabraknya? Kang Minhyuk?
Juniel mengamit dan menggenggam lengan Seohyun yang masih terpaku diam di tempatnya, dalam kelam matanya yang dikelabui dengan air, terdapat pancaran lembut kasih sayang dan rasa kagum luar biasa, Juniel bisa merasakanya. Seohyun menggenggam balik lengan Juniel dan pada akhirnya mereka tersenyum bersama. Meredam rasa sedih dan membungkusnya menjadi bingkaian hidup yang telah berlalu, walau rasa sedih itu baru berlalu satu detik yang lalu.
***
Jungshin menajamkan indra penglihatanya dan mulai mengangkat lensa kamera DSLR nya, yang sudah ia genggam sejak lama, sebagai hadiah dari ibunya. Jungshin membidik beberapa obyek yang menurutnya menarik, dan penuh makna.
Satu jepretanya adalah ketika seorang ibu menyuapi anaknya yang terduduk di kursi roda dengan selang infuse menjuntai di tanganya. Satu jepretanya adalah seorang suster yang dengan sabarnya menggandeng nenek tua yang meminta diantar berkeliling taman, objek-objek lainya adalah anak-anak kecil yang berlarian riang di taman luas Seoul Hospital memakai baju yang seragam pertanda mereka adalah pasien rumah sakit, Jungshin puas menatap hasil-hasil jepretanya pagi itu, kasih sayang dan perasaan cinta itu ajaib menurutnya, bagaimana asa itu bisa menghangatkan seluruh dimensi tubuhnya? Sedangkan dirinya sendiri tak bisa melihat langsung wujud dari kasih sayang itu? sel yang dinamakan cinta? Yang ia tau, perasaan itu hangat. Sehangat saat ia menatap ibunya yang selalu terbaring cantik di ruang VIP Seoul Hospital selama lima tahun terakhir, Jungshin menatap langit iba diiringi bahagia, dua perasaan yang sama sekali kontras namun dinamis, tidak bisa dijelaskan, hanya … cobalah untuk merasakan. Melihat seklilingnya Jungshin sadar, ini masih terlalu pagi dimana langit belum terlalu terang namun sudah cukup menghangatkan.
Jungshin mengangkat kameranya lagi, kali ini seorang wanita dengan rambut lurus berponi sedang berjongkok di hadapan anak kecil yang tersenyum cerah padanya, wanita itu memberikan satu gagang permen lollipop berukuran kecil sambil menepuk-nepuk kepala anak kecil itu gemas. Dan … wanita itu ternyata … itu Eunji.
“Jungshin Oppa!!” Eunji berteriak dari tempatnya melambai-lambaikan tanganya pada Jungshin yang masih memegangi kameranya. Jungshin balik melambai-lambaikan tanganya, walau tidak se-semangat lambaian tangan Eunji. Eunji berlari mendekati Jungshin setelah pamit pada anak kecil itu.
“sedang apa Oppa?” tanya Eunji penasaran sambil sesekali melirik usil pada layar kamera DSLR Jungshin.
“bukannya kamu sedang mencari makan ya? Eunji?”
“oh !” Eunji mengangguk kencang
“lalu kenapa ada disini?” Jungshin menatapinya dingin, Eunji kemudian menundukan kepalanya lesu.
“makan sendirian tidak enak Oppa, biasanya aku berkumpul dengan keluargaku setiap paginya, tapi hari ini.. huft” Eunji meniup poninya kencang. “Oppa temani aku ya..” Jungshin menatap Eunji sinis, Jungshin enggan terlibat dalam pertengkaran dan meninggalkan kesan buruk dengan seseorang yang baru ia kenal tadi malam, untuk itu, untuk yang itu saja, untuk satu alasan itu Jungshin akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah Eunji yang cepat menuntunya menuju kafetaria rumah sakit.
“Oppa, aku boleh bertanya sesuatu padamu?” Eunji mengakan kepalanya dan menatap Jungshin yang jauh lebih tinggi darinya.
“ani..” Jawab Jungshin dingin
“ish.. Oppa persis seperti Yongwha Oppa..” Eunji berdesis kesal, lagi-lagi harus dipertemukan dengan laki-laki dingin yang memandanginya sinis tanpa sebab.
“memang Yonghwa Hyung seperti apa?” tanya Jungshin penasaran
“ani lupakan saja..” Eunji membuat langkah mereka cukup jauh saat ia memutuskan untuk mempercepat kakinya berjalan, namun Jungshin terhenti di tempatnya, Eunji membalikan tubuhnya dan mendekati Jungshin lagi.
“Oppa !! kajja !!” Eunji menarik lengan Jungshin, namun Jungshin tidak bergerak, Eunji mengikuti arah mata Jungshin dan matanya terhenti ketika ia melihat sosok Yonghwa yang kedapatan tersenyum-senyum sendiri sambil melamun di pojokan bangku kayu di sudut taman Seoul Hospital.
“naneun, Jung Yonghwa, laki-laki bodoh yang jatuh cinta di saat yang salah, pada seseorang yang salah..”
Jungshin dan Eunji mendengar jelas kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Yonghwa, dengan mata berbinar dan wajah cerah.
“eh? Jatuh cinta pada seseorang yang salah?” Eunji menegakan kepalanya dan menatap Jungshin yang terlihat sama sepertinya, bekelebat dalam kebingungan.
***
Minhyuk dibantu Hyori, merapikan pakaiannya dan mengemas barang-barangnya, hari ini ia sudah diizinkan pulang dan beristirahat di rumah oleh pihak rumah sakit, kedua orang tua minhyuk merasa beruntung karena tidak ada hal serius yang menimpa Minhyuk, dan sesuai dengan apa yang Choi Seohyun katakan, tidak ada yang harus di khawatirkan tentang perempuan yang Minhyuk tabrak, namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Minhyuk, sesuatu yang menghardik dirinya sendiri, rasa bersalah yang tak surut juga keinginan untuk bertemu dengan gadis itu, yang akhirnya Minhyuk tau, gadis penjual bunga itu bernama Juniel. Jika boleh dikatakan beruntung : ‘beruntung aku mengetahui namanya… beberapa jam sebelum aku menabraknya..’
“Omma..” lirih Minhyuk sambil memandang wajah ibunya penuh harap
“ne..”
“aku harus menemui gadis itu.. aku .. ingin meminta maaf ..” Minhyuk mencengkram lengan ibunya yang masih sibuk merapikan barang-barang Minhyuk untuk dibawa pulang, ragu Hyori menatap Minhyuk penuh rasa takut. Seperti seekor kucing yang kedapatan mencuri lauk dari meja makan.
“Minhyuk-ah..” Hyori membeku di tempatnya tanpa berani menatap mata Minyuk. “lebih baik kamu tidak usah menemuinya..”
“OMMA !!” Minhyuk seketika menegak berdiri, bangkit dari duduknya. “AKU SATU-SATUNYA YANG MENABRAK GADIS ITU !! BAGAIMANA AKU BISA SESANTAI INI TANPA MENGETAHUI BAGAIMANA KEADAANYA? HAH? AKU HARUS MENEMUINYA!”
Suara itu berteriak seperti petir yang menggelegar arogan, tanpa bisa menjawab lagi Hyori mencoba menelaah kemarahan anaknya padanya. Hyori bukan tak ingin menemui gadis itu, tapi rasa takut lah yang menghalanginya.
Takut jikalau anaknya jadi korban bulan-bulanan keluarga besar gadis itu, takut pada akhirnya anaknya di tuntut dan dimasukan kedalam jeruji besi yang dingin dan menyakitkan, tidak ada hal lain yang Hyori pikirkan selain keselamatan dan kebahagiaan Minhyuk, lengan Hyori gemetar dan ia membalikan tubuhnya, mencoba menatap wajah Minhyuk yang dipenuhi dengan hasrat benci, bukan padanya, namun pada diri itu, Minhyuk sendiri.
“Minhyuk-ah..”
“Omma..” Suara itu melumer lembut kini “bagaimana aku bisa pulang dengan hati bahagia tanpa memastikan gadis itu selamat dan baik-baik saja? Setidaknya biarkan aku meminta maaf padanya.. aku mohon.. aku mohon..” Hyori menepuk bahu Minhyuk
“aku takut..” jawabnya pilu “aku tidak ingin berpisah denganmu.. aku takut kamu di penjarakan.. itu saja..” kini bongkahan perasaan yang di pendam itu muncul sudah ke permukaan, kasih sayang seorang ibu memang tanpa batas. Tapi seharusnya ia tidak melindungi dan menyembunyikan kesalah anaknya, sekalipun ia sangat mencintai Minhyuk.
Tak ada jawab, hanya tatapan mata penuh makna menjembatani perasaan Minhyuk pada Hyori, Minhyuk hanya mampu menggenggam tangan Hyori dengan kedua belah tanganya. Mencoba bertelepati mengatakan ‘aku akan baik-baik saja.. demi cintaku padamu Omma..’ dan dalam hitungan menit Hyori melepaskan tangan itu, mengangguk dan membiarkan Minhyuk berlalu memunggunginya.
***
Ruangan itu masih sepi, putih dan diselundupi oleh gurat-gurat sinar matahari, baik Yonghwa, Jungshin, Eunji ataupun Yoona apalagi Jonghyun belum ada yang kembali dari kegiatan mereka masing-masing, yang hanya adalah sekumpulan suara lembut dari seorang perawat yang menceritakan dan saling bercerita dengan Juniel.
Minhyuk berhenti disana, di depan pintu berwarna putih selaras dengan isi ruangan itu, sebelum memberanikan diri mengetuknya, sekejap Minhyuk berbalik dan merapatkan punggungnya pada tembok yang dingin.
‘apakah kesalahanku termaafkan.. bagaimana dengan dia yang sudah tidak bisa berjalan lagi…’ Minhyuk kini sehat, bugar bahkan bisa berlari, tapi Juniel… lihat dia hanya terbaring di tempat tidur itu.
Ia kembali ke posisinya di hadapan pintu, kemudian mengetuknya.
“Oh !! siapa itu?” Juniel dan Seohyun yang sibuk menceritakan apa yang pernah dialami kebelakang mengalihkan perhatian mereka pada pintu yang baru saja diketuk. Seketika wajah Seohyun gentar, Juniel melihat perubahan airmuka itu. dari kaca di antara papan pintu terlihat jelas itu adalah Minhyuk, laki-laki yang membuat Juniel seperti ini.
“mau apa makhluk itu?” Seohyun berdiri dari tempat duduknya, saat ia melangkah Juniel menarik tanganya.
“Oenni.. biarkan dia masuk, dan aku mohon… jangan mengusirnya atau meluapkan emosi padanya…” Juniel bertutur, Seohyun menelan ludah, bersamaan dengan mencoba meredam amarah. Meski sulit akhirnya ia mengangguk, dan membukakan pintu itu pelan.
“annyeonghaseo, Choi Seohun-ssi” Minhyuk membungkuk sopan
“masuklah..” Minhyuk lebih terhenyak kaget saat mendengar kata itu, awalnya ia berfikir Seohyun akan menamparnya, menendangnya keluar dari ruangan itu, memberinya hantaman dengan sumpah serapah yang menunjukan kebencianya, tapi ini lain. Meski wajah Seohyun begitu kusut menyambutnya, Minhyuk berterima kasih. Ia masih diberi kesempatan, setidaknya untuk menatap wajah Juniel. Walau sebentar.
Ia melangkah pelan, namun wajah hangat itu sudah menyambut dengan tatapan mata tanpa dendam, hati Minhyuk meredup, dalam dan sangat dalam untuk meraih senyum itu. kakinya nyaris kaku jika saja ia tidak sadar dimana ia sedang berpijak.
“a—nnyeo—nghaseo..”
“annyeonghaseo Kang Minhyuk-ssi.. wah anda sepertinya sudah sehat ya sunnim..” Seohyun mengamati mereka berdua dari balik pintu, berjaga-jaga kalau saja ada Yonghwa atau Jungshin yang datang, bisa-bisa Minhyuk habis babak belur.
“aih.. jangan memanggilku sunnim, ya aku baik.. tapi kamu…”
“hehe” Juniel cengengesan “aku sudah tidak bisa berjalan sekarang...” tukasnya lagi. Namun tidak ada gurat kesedihan tergambar disana, yang ada hanyalah keajaiban. ‘ajaib bukan, aku begitu tegar?’ Juniel berbicara pada hatinya, ada hening yang panjang, mereka seperti berada di ruang berbeda, ruang itu sunyi namun begitu memekakan telinga.
“Juniel-ssi… maukah kamu
memaafkanku..” akhirnya kata-kata itu keluar setelah jeda yang cukup lama.
“kamu meminta maaf untuk apa
Minhyuk-ssi?”
“membuatmu seperti ini..”
“ani. Ini bukan salah siapapun, apa anda percaya takdir?”
“ne?”
“aku percaya. Hari ini, atau kemarin kita sudah ditakdirkan berada dalam satu kecelakaan, kemudian Tuhan memberikan musibah yang cukup berat untuku, yaitu tidak bisa berjalan lagi, sedangkan anda di beri keajaiban lain, masih sanggup melanjutkan hidup dengan keadaan baik..”
“Juniel-ssi..”
“tidak ada yang perlu meminta maaf, memaafkan atau dimaafkan.. bagiku semua ini adalah kiriman Tuhan.. dan, ia mengirimkan musibah itu pada orang yang tepat..” Juniel berhenti sambil menatap Minhyuk
“jika sampai anda yang mendapat musibah ini, saya tidak menjamin anda akan sanggup melewatinya..”
‘memang. Terimakasih.boleh aku jujur? Aku mencintaimu. Lama sejak lama.’
“apa yang bisa aku lakukan untukmu? Untuk menebus semua rasa bersalahku?” Juniel tersnyum dan menggeleng, lalu mengamit tangan Minhyuk yang sedari tadi jemarinya bermain-main sendiri.
“tidak ada Oppa.. lanjutkan hidupmu dengan baik, bersama kekasihmu itu, sering-sering bermain ke YJ dan menjadi sahabatku, tidak lebih dan tidak kurang.” Jawab Juniel lugas.
“tapi dia bukan—“
“YA!! Cepat keluar dari sini, Yonghwa, Jungshin dan Eunji sedang berjalan kemari” Seohyun tau-tau membuka pintu dengna wajah panik bukan kepalang. Juniel kemudian melepaskan genggaman itu dan mendorong-dorong tubuh Minhyuk sama paniknya.
“Oppa cepat pergi !! aku tidak mau Yonghwa oppa melihatmu..” tapi Minhyuk tidak bergerak dan malah berhenti di tempatnya kukuh.
“apa yang kamu tunggu bodoh !! cepat keluar !” Seohyun buru-buru berlari pada Minhyuk dan mendorongnya.
“kemaneo !!” Minhyuk menegaskan suaranya “aku tidak akan berlari dari siapapun, aku ingin menebus semua rasa bersalahku pada Juniel..” dan dua perempuan itu tergugu kaku. Apalagi setelah dua laki-laki dan satu orang perempuan itu masuk. Seohyun memperbaiki posisinya yang tadi sedang mendorong-dorong tubuh Minhyuk.
“oh ! nugu?” kata Yonghwa bertanya pada Juniel juga Seohyun sambil mengunyah sebuah apel yang ada di genggamannya.
“annyeonghaseo.. choneun, Kang Minhyuk imnida..” jawab Minhyuk tanpa basa-basi.
“dia—dia teman Juniel, juga salah satu pelanggan YJ .. benar kan Juniel?” mata Seohyun memincing pada Juniel yang sama kaku dan tegangnya. Berharap tidak ada keributan yang terjadi disini.
“n—ne.. dia temanku Oppa..”
“oh, begitu”
“aniyo.. aku yang menabrak Juniel dan membuatnya tidak bisa berjalan lagi.” Semua orang disana tercengang dengan apa yang baru saja keluar dari mulut laki-laki bertubuh tinggi bermata sipit khas asia itu.
***
Jonghyun merapikan kemejanya dan menatap bayangnya di cermin percaya diri, ia harus tampil prima dihadapan banyak orang, ia tidak ingin mengecewakan Seohyun, ia harus terlihat sesempurna mungkin, dan ini hari terakhirnya bertemu dengan Seohyun.
“kamu sudah cukup tampan Oppa..” Yoona mengamatinya dari belakang, “Seohyun tidak akan kecewa memiliki kekasih sepertimu, aku saja samapai iri.” Yoona menyerupu teh yang sudah ia buat.
“setidaknya ini hari terakhir kita menemuinya Yoona-ya..” jawabnya sambil berseri-seri
“benar juga..” Yoona tidak mengindahkan. “aku jadi bingung, kenapa aku juga terseret-seret dalam pusaran waktu kalian berdua seperti ini, lihat sekaran? Pagi-pagi begini aku sudah berada di apartementmu, malah ingin ikut-ikutan pergi ke rumah sakit menjenguk Juniel..” Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya aneh.
Jonghyun menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri. “itulah gunanya persahabatan Yoona-yah.. saling berbagi..” Jonhyun mengambil kunci mobil dan memboyong Yoona pergi dari apartementnya.
***
Seohyun mematut diri dan memperbaiki make-upnya, berjam-jam yang lalu ia habis memisahkan pertengkarana antara Yonghwa dan Minhyuk yang membuat satu rumah sakit ikut andil dalam usaha memisahkan cengkraman dan hantaman Yonghwa yang keras pada Minhyuk.
“babo.. sudah tau kita semua menutup-nutupi kesalahanya, juga keadaan Juniel yang sebenarnya, dia seenaknya membuka-buka rahasia orang, ish !!” Seohyun gemas pada sikap Minhyuk, memang ini semua salahnya namun kenapa ia tidak berusaha menghindar saat Yonghwa bertubi-tubi memukuli dan membabi buta menganiaya tubuhnya.
“huuuuh..” Seohyun membuang nafanya, mengaturnya kembali agar penampilanya terlihat wajar sama sekali. Terlebih ia harus menyambut kekasihnya. “sudahlah Seohyun berhenti memikirkan apa yang tidak perlu, ayo buat hari terindah untuk Jonghyun.” Kemudian Seohyun membuka loker kerjanya, ia terpaku ketika mendapati sesuatu yang baru saja semalam ia tuliskan. Disana ada satu buah amplop putih bertuliskan
: SURAT PENGUNDURAN DIRI.
Seohyun menarik amplop itu, memandanginya lamat-lamat, jika semua orang bertanya-tanya mengapa Seohyun mengambil keputusan ini, padahal baru satu tahun dia menjadi perawat, Seohyun akan menjawabnya dengan lancar, bagaimanapun keputusan ini rasanya akan menjadi sesuatu hal yang paling spektakuler dalam hidupnya.
“yobseo Oppa.. oh nee, cangkeumman.. aku segera kesana..” Seohyun kembali mematut diri, kekasihnya sudah menanti di depan sana. Dengan senyum mengembang ia datang.
Jonghyun mengamatinya dari jauh, rasanya wajah Seohyun meskipun hari berganti menua, tidak dengan wajah yang segar penuh semangat itu, Jonghyun menyikut Yoona
“yeppoji?”
“tentu saja, dia kekasihmu..” Yoona cekikikan melihat tingkah Jonghyun yang jika bertemu dengan Seohyun seperti bocah yang baru merasakan jatuh cinta.
“tidak lama kan menunggunya?” Jonghyun dan Yoona sama-sama menggelang “oppa, mianheo.. aku tidak punya cukup waktu saat kamu pulang..”
“Seohyun-ah !! aku mau ke ruangan Juniel yah, kalian sepertinya harus ditinggalkan berdua.
“aniyo Yoona-ya.. disana sedang terjadi perang panas dingin tidak karu-karuan, lebih baik kamu menemani Jungshin dan Eunji, mereka melarikan diri ke kafetaria”
Tawa Jonghyun juga Yoona pecah mendengar penjelasan Seohyun yang jauh dari kata ‘kewajaran’ seorang Seohyun.
“memang ada apa sih? Sampai super duper meledak ledak seperti itu?” Yoona setengah mati menahan tawanya.
“tadi Yonghwa Oppa berkelahi dengan Minhyuk, eh maksudku membuat Minhyuk hampir mati babak belur, habisan Minhyuk berani-beraninya datang minta maaf, sudah ku bilang jangan, jadikan seperti itu, belum lagi Juniel—“
Tau-tau telunjuk Jonghyun sudah mendarat di bibirnya, Seohyun memutar bola matanya mengarah pada wajah dingin yang amat sangat tampan itu.
“kamu tidak akan berhenti bercerita ya? Sudah ah..” Yoona tersenyum berseri-seri di tempatnya melihat kelakuan dua sahabatnya itu.
“yasudah ya, kalau begitu aku mau ketemu Jungshin, kalian habiskan waktu bersama dulu. Oh iya, Oppa jangan lupa kita harus berangkat..” Yoona melihat jam tanganya “dua jam lagi, arraseo?”
“nde.. ndeeee agashi..” Jonhyun menimpali, sambil merangkul hangat tubuh Seohyun, kemudian Yoona berlalu dari pandangan mereka.
***
Seohyun mengajak Jonghyun masuk ke ruangan khusus perawat, tidak ada siapa-siapa disana dalam jam sibuk kerja seperti ini, hanya saja Seohyun sengaja mangkir untuk menemui kekasihnya.
“kenapa cuma tiga hari sih..” mukanya di tekuk protes. “gak bisa gitu sedikit lebih lama?”
“maaf, tapi jadwalnya sudah diatur, ya hasilnya memang seperti itu..”
“tapi kan—“
“dari pada mengeluh, lebih baik pergunakan dua jam terakhir ini sebaik-baiknya, buat apa berdebat
hyunnie?” Suara Jonghyun lembut, lalu menarik Seohyun kedalam pelukanya.
“Oppa..”
“hm..”
“saranghe..” Seohyun membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya untuk menciumi wangi tubuh Jonghyun yang selalu terindukan. Jonghyun begitu nyata dan terjamah, rasa cintanya terperi dengan jelas, Seohyun tidak lagi inign mengelak, dia mencintai Jonghyun sangat mencintainya.
“Hyunnie.. maafkan aku ya..” lirihnya dalam pelukan, jika saja Jonghyun harus berhadapan dengan mata Seohyun langsung, niscaya dia hanya akan tergugu tak mampu berbicara apapun.
“untuk apa? Masalah yang terakhir?” Jonghyun tak menjawab “aku bilang tidak apa, tapi aku harap Oppa mengerti, bukan dengan cara seperti itu, aku ingin menunjukan cintaku pada Oppa dengan cara lain yang lebih luar biasa…”
“bukan untuk itu saja Hyunnie, maafkan aku yang tak siaga menjagamu setiap masa, maafkan aku yang sering meniadakan diri disela kerinduanmu yang mendalam, maafkan untuk segalanya…” Jonghyun menghirup udara di tengkuk Seohyun.
“jaga dirimu baik-baik Oppa.. tidak lebih hanya itu yang aku inginkan.” Mereka melepaskan satu sama lain, mengerti sesuatu yang mengikat seperti itu, terkadang terlalu menyesakan dada.
Jonghyun bangkit dan mencium kening
Seohyun, lama.
Seohyun melingkarkan lenganya di pinggang Jonghyun, lama.
Mereka saling mencintai, tanpa dusta, lama, sangat lama.
***
Jungshin, Eunji dan Yoona berjejer,
sambil menjilati satu gagang eskrim rasa buah, hari sudah berubah menjadi
sedikit terik dan mereka dengan khidmat menikmati eskrim yang mencair di
tenggorokan mereka.
“Oenni, sejak kapan bersahabat dengan Seohyun Oenni?”
“lama Eunji, aku malas menghitungnya..”
“lalu Oppa?”
“setahun..”
“Cuma aku orang asing disini, tidak mengerti apa-apa, aku seperti tersasar ke planet lain, dan terperangkap diantara alien yang memiliki hati malaikat” Eunji memandangi kiri kanannya, dua orang asing yang baru dikenalnya.
“Jungshin-ah, sebenarnya anak ini sedang bicara apa sih?” Yoona memiringkan badanya dan menatap Jungshin yang diselingi tubuh Eunji.
“Molla ..” kemudian mereka terbahak bersama, menghakimi si bungsu yang tidak tau apa-apa.
“ish.. tapi .. mengingat yang tadi pagi, Yonghwa oppa bilang.. dia sedang jatuh cinta, pada seseorang yang salah.” Eunji mengalihkan pembicaraan, mencoba mendapat perhatian sekali lagi.
“mungkin pada Yoona Noona” jawab Jungshin asal.
“ya !!” Yoona bangkit dan memukul kepala Jungshin keras.
“wae? Mungkin saja kan?” Jungshin protes
“mungkin sih mungkin, tapi masa aku disebut orang yang salah? Sinting.” Yoona ketus, Eunji cekikikan hingga kecekukan di tengah-tengah, kembali tawa meledak diantara mereka semua. “lagi pula aku sudah punya kekasih..” Yoona melengos
“masa?” Jungshin dan Eunji kompak memancing matanya menatap curiga pada Yoona, senyum simpul Yoona sudah cukup menandakan bahwa ia tidak berbohong. Banyak makna dalam senyuman itu, sepertinya Yoona sangat bahagia.
“masih dari sekitar tempat kerjamu?” Jungshin penasaran, Eunji mengangguk-ngaggukan kepala mengantisipasi jawaban dari Yoona.
“hmmm” Yoona memutar-mutar bola matanya bolak-balik membuat Jungshin dan Eunji semakin penasaran “kalian mau tau saja urusan orang lain, ingat ya kita semua baru kenal..” Yoona cekikan, tidak pernah ia merasakan jarak sebebas ini antara orang-orang yang baru ia kenal. Persahabatan bisa terjalin begitu saja, dimana saja, dengan siapa saja, tanpa di duga-duga, termasuk dengan dua orang itu, orang-orang aneh yang masih sangat muda.
“yang jelas, aku berharap sampai kapan pun itu, kalian tidak tau, tidak boleh tau siapa kekasihku, kalau sampai tau bisa-bisa kalian…” Yoona memicing, matanya penuh tanda waspada “jatuh cinta juga pada kekasihku..”
“Noona miceosso ?!” Jungshin berteriak hebat sambil memukul Yoona dengan tangan panjangnya.
“YA !!” Yoona berdiri dan membalas pukulan itu, hingga pada akhirnya mereka balas-balasan memukul, Eunji berpartisipasi sebagai wasit, bukan malah menghalau mereka berdua.
To
Be Continued …
critanya seru bnget, q kira pcr seohyun yonghwa ternyta bkn jonghyun tp nti sma yonghwa kn..?
BalasHapusq nangis pas bca y yonghwa bru tw bhwa adikkny d rmh skit..
kta2 y mnggmbrkn persaan seseorng d kems dgn ckup baik, tp tulisan koreany da y salahh, maaf yhh klw jd kritik tpiii q sukaaaaaa bnget dgn jln crita n persaan y terkndung d dlm critanya, bner2 mnyentuhhh...