Rabu, 05 September 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 6


No More Tears Formula
Chapter 6
Yonghwa -  ‘Where You Are’ come from ?



Cast Plus :

Jung Yonghwa - CNBLUE
Jung Eunji - A Pink


            Tubuh kokonya melawan terik matahari yang terus menyengat kulitnya kuat siang itu, ia tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai juru design interior dan exterior untuk pembangunan salah satu kompleks perumahan baru di Ulsan, Gyeongsanman. Dan kali ini ia sedang mengukur tata letak dan ruang taman belakang rumah bergaya khas klasik amerika taun 70’an.
            “Yonghwa-shi..” ia menghentikan gerakan tangannya untuk menggambar dan mengukur lalu mengalihkan perhatiannya pada partnernya yang tengah berjalan menghampirinya. Oh tidak, itu bukan partnernya, itu anak dari partner kerjanya.
            “waeyo Eunji-shi? Aku sedang sibuk” gadis itu berumuran sama dengan adik perempuanya Juniel, Yonghwa tidak menyukai keberadaan Eunji disekitarnya, bukan karena Eunji bertingkah menyebalkan, tidak sama sekali, gadis itu sangat periang, dan menyenangkan, namun itu malam menjadi alasan Yonghwa tidak ingin berdekatan dengan Eunji, sebenarnya sifatnya membuat Yonghwa merindukan adik perempuanya, ini sudah tahun ke tiga ia meninggalkan Seoul untuk menetap di Ulsan juga bekerja berkeliling beberapa daerah di Korea yang lainya, selain ingin menghidupi adiknya agar mencapai garis kecukupan, juga karena ia ingin melupakan segala kenangan buruk yang pernah terjadi di Seoul.
            “aku hanya membawakan makanan untukmu Oppa.. nae aboji tidak bisa datang hari ini..” Eunji mengambil kursi lipat dan menyimpan kotak makanan di meja yang penuh dengan alat tulis serta kertas.
            “kamsahamnida..” jawab Yonghwa singkat dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya, Eunji memandangi laki-laki yang ia kenal sejak tiga tahun lalu. Yang merupakan Partner kerja ayahnya. Ayahnya adalah seorang arsitek, dan ia membutuhkan tangan kanan untuk memenuhi keseimbangan dalam pekerjaanya, dan datanglah dia Jung Yonghwa, yang sebenarnya tidak menginjakan kaki di perguruan tinggi.
            Sebelum datang ke Ulsan, Yonghwa hanya pekerja sebagai pembantu konstruksi bangunan biasa, namun Mr. Jung ayah dari Eunji memperhatikan Yonghwa secara khusus dan intensif, karna menurut Ayahnya Yonghwa memiliki kemampuan khusus di penataan lahan, dan tempat serta ruang maka Yonghwa di boyong untuk proyek pembangunan komplek perumahan baru di Ulsan, hingga hari ini, ia meninggalkan adik satu-satunya bersama neneknya. Yang akhirnya neneknya meninggal dua tahun lalu tanpa sempat Yonghwa menjenguknya, bahkan ia tidak datang ke pemakaman neneknya sama sekali.
            “Oppa..” Eunji memberanikan diri bertanya pada Yonghwa
            “ne..”
            “apa aku sangat mengganggumu? Setiap kali aku bertemu dengan oppa, oppa selalu bersikap dingin dan sedikit kasar padaku..” Eunji mengeluarkan isi hatinya, tidak adil rasanya bagi Eunji, ia merasa ia tidak memiliki kesalahan apapun pada Yonghwa, namun setiap kali ia datang untuk sekedar berkunjung menemui Ayahnya, Yonghwa akan bersikap sangat dingin dan tidak bersahabat.
            Melihat wajah Eunji yang ditumbuhi rasa sedih juga penasaran, Yonghwa merasa bersalah dan terharu sekaligus, ia ingat apa yang di katakana Juniel saat Yonghwa akan pergi meninggalkannya di Seoul.
            “apa Oppa membenciku? Aku aku sangat mengganggumu? Sampai Oppa ingin pergi meninggalkanku?” sebaris kalimat itu membuat hati Yonghwa pedih, dan bagaimana kabar Juniel? Yonghwa bukannya tidak menyayangi adiknya itu, bukan melupakanya dan tega meninggalkannya sendirian, sebelum ia bisa mengobati luka Juniel, ia harus menyembuhkan luka hatinya sendiri, lahir dan hidup di keluarga kaya raya sebelumnya, kemudian kematian sang ibu membuat Yonghwa terpuruk dan ditinggalkan oleh ayahnya. Hanya neneknya yang juga di tinggalkan oleh ke-empat anaknya yang mau menampungnya dan membiayai mereka hidup. Bagaimana Yonghwa bisa melupakan hal itu? hari dimana Juniel lahir, hari dimana Ibunya meninggal. Yongwha tidak pernah membenci Juniel, seperti ayahnya yang sangat membenci gadis kecil itu, dimata Yonghwa, Juniel merupakan kelahiran baru sosok ibunya. Juniel mewarisi segala hal dari ibunya, wajahnya, sifat lembutnya, keceriaannya, ketegarannya, segalanya. Bagaimana bisa Yongwha membenci Juniel.
            “aniyo Eunji-shi.. hanya saja..” tenggorokan Yongwha rasanya tercekat, jika ia melanjutkan kalimatnya mungkin airmata akan muncul karena kerinduannya pada Juniel sudah membeludak.
            “hanya saja?” Eunji penasaran
            “usiamu juga usia adiku sama, sudah 3 tahun aku meninggalkannya sendirian di Seoul..”
            “mwo? Sendirian? Seusiaku? Tiga tahun?” Eunji berdiri kaget dari duduknya “Oppa.. kamu harus menjenguknya..” ia mulai kelihatan simpati dan khwatir pada Juniel. Yonghwa menghela nafas berat, melepas topinya dan menaruh peralatan kerjanya, tak ada mood untuk melanjutkan pekerjaanya. Kemudian Yonghwa duduk di hadapan Eunji.
            “aku harus bekerja..” jawab Yonghwa lesu
            “tapi adikmu lebih penting Oppa.. dia..” Eunji menutup mulutnya tidak percaya, ada gadis yang ditinggal sendirian di usianya yang masih sangat muda. “bagaimana dia hidup? Apakah dia melanjutkan hidupnya dengan baik?”
            “molla Eunji-ya.. aku selalu mengirimkan uang untuknya, dan kabarnya dia tidak melanjutkan sekolahnya, melainkan melanjutkan bisnisnya membuka toko bunga di Gangnam..”
            “Oppa, ayo kembali ke Seoul.. aku akan memohon pada aboji..” Eunji menatap Yonghwa khawatir.
            “aniyo Eunji-ya .. aku belum siap untuk kembali.. dan banyak pekerjaan yang belum di selesaikan..”
            “ya!! Jung Yonghwa-shi !! apa masuk akal untuk mengatakan belum siap? Sementara di sana mungkin setiap harinya adikmu menunggumu pulang dengan perasaan sedih dan rindu? Apakah Oppa membencinya? Dah cih.. pekerjaan. Aboji akan selalu mengijinkanmu pulang, jangan menggunakan alasan pekerjaan !!”
            “Eunji-ya.. kemane.. !!”
            “Oppa.. apa kamu tidak punya hati?” Suara Eunji meninggi sambil menatap sinis pada Yonghwa yang semakin terpojokan. “aku bisa merasakan perasaan adikmu itu.. aku tau dia pasti merindukanmu, Oppa tidak pernah hawatir padanya?” dan tangan Eunji bergetar antara takut dan marah mengantar.
            Yonghwa menghela nafasnya panjang dan dalam, depresi mengiringi rona wajahnya yang terlihat gundah juga hilang keseimbangan. Ada ruang kosong dihatinya dan belum ia kembalikan isi dari kekosongan itu. Adiknya Jung Junhee jawabanya.
***

            Hari ini Yonghwa sudah menginjakan kakinya di Seoul, penerbangan terakhir dari Ulsan, ditemani Eunji yang penasaran punya harapan besar mempertemukan Yonghwa dengan adiknya dan berharap bisa berkeliling kota Seoul, pertama kalinya seumur hidup. Hari sudah gelap, sebelum akhirnya Yonghwa memutuskan untuk kembali ke Seoul ia diguncang dilemma dan nyaris membatalkan kepulangannya, namun Eunji meyakinkannya bahwa Juniel akan memaafkannya, Juniel pasti akan sangat merindukannya.
            “Oppa.. mau kemana kita?”  tanya Eunji seketika setelah kakinya mendarat di Incheon Airport. “bagaimana kalau langsung saja menemui Juniel?” tanya Eunji semangat. Yonghwa menggeleng.
            “beri aku waktu untuk menenangkan diri, aku akan sangat kaget dan bahkan tidak siap untuk bertemu dengan adiku itu..” Lengan Yonghwa bergetar, sekujur tubuhnya terasa sangat lemas, juga keringat dingin terus bercucuran di dahi juga punduknya.
            “Oppa gwenccana?”
            Yonghwa hanya tidak siap, belum beradaptasi untuk menemui Juniel, gadis kecil yang ia tinggalkan saat usianya baru menginjak 16 tahun, dan kini mungkin tingginya menyamai Eunji, juga akan tumbuh menjadi sangat cantik, bagaimana ia harus berbicara dan meminta maaf untuk waktu yang lama tidak menemuinya? Yonghwa masih tidak bisa membayangkan.
            “beri aku waktu untuk mempersiapkan diri menemui Juniel..” Yonghwa memegangi lengan Eunji kencang.
            “arraseo oppa.. lebih baik kita berkeliling kota terlebih dulu, tapi aku tidak tau harus kemana, ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di Seoul..”
            “Panggilkan saja taxi Eunji..” Eunji mengangguk dan mereka beriringan berjalan keluar dari Airport.
***

            Yonghwa menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, sementara Eunji memilih duduk di samping supir taxi karena ia tidak begitu menyukai duduk di bangku belakang.
            “Sunnim, mau kemana kita?” Supir yang berusia cukup muda itu bertanya pada Eunji yang menikmati pemandangan malam di pusat kota Seoul.
            “Oppa..” Eunji melirik Yonghwa yang tengah membuang pandangannya ke luar jendela
            “kemanapun ajusshi, tolong bawa kami kemanapun..” Yonghwa menjawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kerlap kerlip lampu kota dan hingar bingar Kota Seoul malam itu. meskipun kebingungan, pada akhirnya supir taxi itu membawa mereka beruda berkeliling kota.
            Yonghwa merasakan panas dingin tidak karuan, berapa lama ia melupakan ritual ini, sesuatu yang dinamakan ‘pulang’ mengapa bahkan jarak memanah dan tak tertadah, menjengah bahkan menghunus tajam ke persendianya, bukankah seharusnya ia bahagia? Bukankan seharusnya tak ada kekhawatiran selain rasa bersalah atas kemampuanya mengacuhkan, mengabaikan dan mengasingkan keluarganya? Adiknya? Tanganya masih bergetar hebat ditengah suara angin yang memecah sunyi di dalam mobil, hiruk pikuk kota Seoul yang tak berubah, bersama supir taxi juga Eunji.
            ‘Mungkin aku terlalu merindukan Juniel, mungkin rasa bersalah ini tidak mengijinkanku untuk bersikap tenang dan bersemangat menemuinya, mungkin binaran cahaya wajah Juniel akan memudar bak debu yang tertiup ketika ia melihat wajahku lagi.. mungkin.. terlalu banyak kemungkinan yang bahkan tidak bisa diperkirakan.. Jung Junhee.. mianheo..’
            Yonghwa mengetatkan jaketnya dan mencoba menenagkan dirinya, Setelah beberapa jam taxi itu membawa mereka berkeliling kota Seoul, Yonghwa kemudian mengamit satu kertas lusuh yang ia pegang sedari tadi hingga kusut.
            “Ajusshi.. tolong bawa kami ke alamat ini..” Yonghwa menyodorkan kertas itu, dan supir taxi memutar balik mobilnya menuju tempat yang Yonghwa tuju.
            “Oppa, mau kemana kita?” tanya Eunji penasaran
            “rumah..” bahkan kata rumah bisa membuatnya kembali merasakan sensasi takut dan panas dingin, entah karena angin yang masuk dari jendela yang sengaja ia buka terlalu kencang, atau karena musik yang di putar oleh supir taksi terlalu enak di dengar, atau karena ia merindukan Juniel.. dan konsep yang dinamakan pulang? Andai ia tau jawabanya, ia benar-benar di ambang batas manusia sadar, akalnya tidak berjalan dengan baik, bahkan rasanya ia hanya bermimpi bisa menginjakan kakinya lagi disini.
            “Sunnim, kita sudah sampai di tempat tujuan..” Mobil itu berhenti di depan rumah tak berpagar, berwarna kuning dan terlihat sangat hangat. Pelan Yonghwa membuka pintu mobil dan menginjakan kakinya ke luar mobil. Eunji memberikan uang sesuai dengan ongkos yang harus mereka bayar. Yonghwa seperti hantu yang gentayangan, kakinya terasa melayang tidak percaya, tubuhnya terasa jauh terhempas ke ruang lain, bukan disini, di rumah yang tidak berubah banyak.
            “Oppa.. jadi ini tempat tinggal Juniel?” Yonghwa mengabaikan pertanyaan itu, ia melepaskan tasnya dan berjalan menatap kosong setiap sudut dari halaman rumah yang berukuran kecil itu. airmatanya nyaris tumpah, kenangan pedih terbongkar pasrah tanpa arah dalam asanya, namun itu semua tertutup rapat oleh kenangan hebatnya membesarkan Juniel, bersama neneknya yang kini sudah tiada. Yonghwa kemudian tersungkur berlutut di depan pintu rumah itu, tertegun dan mencoba menahan tangis dan rasa bersalah yang menyala dalam dadanya.
            Eunji hanya menyaksikan punggung Yonghwa, ada sisi dimana Yonghwa bahagia tiada tara, dan sisi lainya adalah ketidak mampuan Yonghwa untuk memaafkan dirinya sendiri, tak lama setelah melihat Yonghwa tersungkur dan tertegun Eunji berlari mencoba menahan berat tubuh Yonghwa, setelah itu Eunji memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu.
            Satu kali..
            Dua kali ..
            Tiga kali..
Tak ada jawab, Eunji memutar tubuhnya dan menatap pilu pada Yonghwa yang masih berlutut lesu. Juniel tidak disini.
            Yonghwa kemudian tersenyum
            “aku bodoh sekali, mungkin Juniel masih berada di tokonya..” Eunji kemudian melihat jam tanganya, ini sudah lewat tengah malam.
            “Oppa.. apa mungkin dia masih disana? Ini sudah hampir jam dua pagi..” Yonghwa kemudian bangkit dan menarik Eunji.

***

            Mereka berjalan menyusuri kota Seoul menuju Gangnam, Eunji menahan kantuk dan rasa lelahnya sambil terus mengikuti langkah Yonghwa dari belakang, ia menggenggam erat ranselnya, walau cukup lelah namun Eunji tidak ingin dibiarkan sendirian menunggu mereka di rumah Juniel. Saat konsentrasi gadis itu benar-benar sudah melebur ia menabrak tubuh Yonghwa yang sudah berhenti.
            “aigo..” Eunji menatap tubuh Yonghwa yang berdiri mematung di depan toko bunga ‘YJ Florist’ namun lampu-lampu di toko itu sudah padam, tak ada setitik cahaya menerangi toko itu, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan disana.
            Eunji menebar pandanganya dan menemukan lapak kecil ddokbuki di sebrang jalan, karena ia tidak ingin mengganggu Yonghwa yang masih tertegun, diam-diam Eunji berlari menuju toko ddokbuki itu.
            “annyeonghaseo sunnim” sapa sang pemilik lapak sambil menyodorkan satu gelas teh hangat pada Eunji yang menggosok-gosok hidungnya sedari tadi kedinginan.
            “ahjumma, aku ingin satu porsi ddokbuki..” tak lama ahjuma sudah mewadahi ddokbuki hangat di sebuah piring berukuran sedang “sunnim, siapa laki-laki yang berdiri di depan YJ itu?”      Eunji masih lahap menyantap ddokbuki hangat itu, kemudian menjawab dengan mulut terisi penuh dengan ddokbuki
            “Jung Yonghwa Oppa..” tanpa melihat ekspresi sang penjual ddokbuki Eunji terus memakan ddokbukinya.
            “ommo.. Yonghwa-yah..” cepat-cepat ahjumma itu membuka apronya dan berlari tergesa dengan airmata menghampiri Yonghwa yang masih tertegun di depan YJ.
            “Yonghwa-yaaaa !!” ahjumma itu melebur memeluk tubuh Yonghwa dengan rasa bahagia dan haru yang luar biasa. Yonghwa menatapnya kaget saat ia tau-tau sudah memeluknya erat, namun saat menyadari itu adalah tetangga mereka, rona wajah Yonghwa berubah semangat.
            “ahjumma !! ahjumma !!” Yonghwa balik memeluknya, sementara Eunji hanya sibuk menonton dari kejauhan.
            “Junniel oddisseo?” Yonghwa terengah-engah dalam emosi dan rasa ingin tau yang mendalam, namun ahjumma itu hanya terus menangis dan terisak tanpa bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Juniel. Namun setelah emosinya kembali stabil Ahjumma itu mulai bercerita.
            “dan sekarang, Juniel masih terbaring lemah di rumah sakit, aku belum sempat menjenguknya Yonghwa, kemarin anaku sakit dan hari ini aku sangat sibuk..” Yonghwa mematung di tempatnya dan airmatanya tumpah. Tubuhnya roboh dan jatuh dalam pelukan ahjumma penjual ddokbuki.
            “JUNIEL-AH !! JUNIIEEEEEL !!” dalam tangis dan penyesalannya yang kini terlintas adalah wajah Juniel.
            “berhenti menangis Yonghwa-ya.. lebih baik sekarang kau menyuslnya di rumah sakit.. jebbal.. berhenti menangis..”  ahjumma itu terus menepuk-nepuk bahu Yonghwa yang masih menangis penuh penyesalan. Bagaimana tidak, harapannya kembali dari Ulsan, melihat Juniel yang tumbuh cantik juga sempurna seperti ibunya, mendapati kabar bahawa Juniel kini terbaring lemah di rumah sakit, Yonghwa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri lagi.
            Eunji mendekati Yonghwa dan Ahjumma saat mereka terlihat sama-sama menangis, tanpa bertanya Yonghwa sudah berdiri dan menarik tangannya lagi dalam tangis dan wajah penuh rasa bersalah, Eunji tidak berbicara apapun, ia hanya mengikuti langkah demi langkah hingga mereka memasuki mobil taxi lagi.

***
            Tergesa Yonghwa mendekati meja resepsionis dan informasi menanyakan keberadaan adiknya Jung Junhee. Mendengar nama itu disebut laki-laki bertubuh tinggi dan berambut panjang menghampirinya.
            “chogiyo.. anda Jung Yonghwa-shi?” Yonghwa melihatnya dengan tatapan aneh, mencoba mengingat apakah ia mengenali laki-laki ini, sayangnya tidak, sama sekali Yonghwa tidak mengenalinya.
            “nuguseo?” tanya Yonghwa sedikit sinis, bagaimana laki-laki itu mengganggunya disaat yang tidak tepat sama sekali
            “Jung Yonghwa-shi, Jung Junhee berada di kamar VIP di lantai 3” setelah mendengar informasi itu Yonghwa berlari meninggalkan Eunji juga laki-laki yang menggaungguinya, anak laki-laki yang terlihat muda.
            “chogiyo.. anda siapanya Yonghwa?” anak laki-laki itu kini bertanya pada Eunji yang masih mengatur nafasnya lelah.
            “aku hanya mengantarkanya dari  Ulsan.. namaku Jung Eunji, dia adalah partner kerja ayahku, kendae, nuguseo? Kenapa anda mengenal Yonghwa?” Eunji menunjuki hidung laki-laki itu.
            “choneun, Lee Jungshin imnida, ayo ikut aku..” kini lengan Eunji yang sedari tadi dikendalikan oleh Yonghwa berpindah pedal pada Jungshin yang melangkah dengan tubuh yang menjulang tinggi di depan Eunji.

***
            Yonghwa menerobos masuk ruangan berukuran besar itu, dan disanalah adiknya terbaring dengan perban memenuhi keningnya, berbagai kabel juga selang menyelingi tubuh Juniel yang ringkih, Yonghwa roboh benar-benar roboh di dasar kehancuran juga kekecewaannya pada diri sendiri.
            “Juniel-ah..” langkahnya berat menghampiri adik perempuannya itu, sementara seorang gadis yang sedari tadi duduk di sofa ruangan itu terhenyak kaget dan memandangi Yonghwa aneh. Tak lama setelah itu Jungshin juga Eunji membuka pintu ruangan Juniel.
            Yonghwa memegangi lengan Juniel erat.
            “Juniel-ah.. Oppaneun issoyo.. oppa disini Juniel-ah.. buka matamu..” airmatanya terkuras hebat dan membasahi jemari Juniel yang Yonghwa genggam dan ciumi sedari tadi.
            “annyeonghaseo Jung Yonghwa-shi..” Yonghwa mengalihkan pandangan pada laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya sekarang. Laki-laki yang sama yang bertemu di lobby baru saja.
            “choneun Lee Jungshin imnida, aku adalah sahabat Juniel..” mendengar hal itu Yonghwa melepas lengan Juniel dan mendekati Jungshin
            “bagiamana ini bisa terjadi, dan bagaiamana keadaan Juniel..?” tatapan Yonghwa penuh harap dan cemas, disana tertulis ‘tolong katakana Juniel baik-baik saja dan tidak ada hal serius yang akan terjadi padanya..’
            “Syukurlah Yonghwa-shi datang tepat waktunya, Juniel sudah sangat membaik, tadi ia sempat membuka matanya setelah dua hari tidak sadarkan diri, dan dia sudah berhasil melewati masa kritis” Jungshin menjelaskan dengan tenang pada Yonghwa yang terlihat begitu menggema dalam kegalauan luar biasa.
            “jinjja?” tanyanya lemah, ia tak punya cukup kekuatan lagi untuk mempertanyakan Juniel pada siapapun, ia lelah bergelut dengan hatinya sendiri, antara menyesal dan rasa sedih yang tak tertahan.
            “Yonghwa kembali duduk di tempatnya dan mengelus-ngelus lembut lengan Juniel, hanya itu yang bisa ia jangkau, berharap sekali lagi Juniel membuka matanya dan menyadari kehadirannya..


 Dan keajaiban pun terjadi.



            Pelan, Juniel membuka matanya. Yonghwa terkesiap dan terus menciumi telapak tangan Juniel.
            “Juniel-ah.. Oppa issoyeo .. Juniel-ah..” terhalang oleh bungkusan masker oksigen yang menutupi mulutnya, Juniel tersenyum.
            “O—pp—a.. Y—oong—hw—a—O—pp—aa..” Yonghwa semakin kuat memegangi lengan Juniel
            “ne.. ini Oppa.. Oppa disini..” Jungshin membuka matanya lebar-lebar masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
            “Yoona Noona.. bisakah kau menghubungi Seohyun Noona?” Jungshin berbalik pada Yoona yang sama terkejutnya, sementara Eunji menghapus airmatanya yang meluncur tanpa sadar dari kedua belah matanya. Untuk pertama kalinya Eunji melihat sisi lembut dari Yonghwa, selama ini Yonghwa bersikap dingin padanya, dan ia bisa merasakan betapa Yonghwa menyayangi Juniel.

***

            Pagi mulai menjelang saat selang alat bantu pernafasan Juniel di lepaskan, Yonghwa masih tertidur di pinggiran tempat tidur Juniel.
            “Juniel-ah annyeong..” Senyum perawat itu begitu hangat, dan Juniel membalas senyumnya. “pasti kamu tidak mengenaliku kan?” ia tersenyum sambil terus merapikan peralatan yang harus ia cabut dari anggota tubuh Juniel, kondisi Juniel kini stabil.
            “arra.. anda pasti Seohyun noona kan? Seseorang yang menemaniku sejak kemarin bersama Hae..” mata Seohyun membesar tidak percaya
            “bagaimana kamu tau Juniel-ah?”
            “bolehkah aku memanggil andan Oenni?”
            “oh keureomyo Juniel-ah..”
            “Seohyun oenni, walaupun mataku tidak bisa terbuka, tapi pendengaranku bekerja dengan baik, mungkin aku banyak tertidur tapi aku mengingat apapun yang Oenni dan Jungshin Oppa katakan..”
            “Ommona..” Seohyun menutup mulutnya tidak percaya.

            Mendengar suara adik kecilnya, Yonghwa terbangun dari tidurnya, wajahnya terlihat kusut dan lelah, lenganya masih kuat memegangi lengan Juniel.
            “Oppa.. annyeong..” Juniel tersenyum dan memanggil kakanya dengan nada penuh kerinduan “selamat pagi..” sementara Yonghwa masih mengerjapkan matanya, berharap ini bukan mimpi, dimana ia memegang erat lengan adik perempuanya, dan mendapat sapaan selamat pagi.
            “Juniel..” Yonghwa mencoba mengembalikan kesadaranya untuk segera kembali dan melihat jelas betapa cantiknya gadis yang masih terbaring di kamar rumah sakit ini.
            “ne, oppa.. ini aku..” airmata Yonghwa segera merembes saat menyadari ini bukan mimpi. Yonghwa beringsut dan memeluk tubuh Juniel hangat, melepaskan cemas, rasa bersalah dan kerinduanya pada Juniel sekaligus, lama, cukup lama Yonghwa menenggelamkan Juniel dalam peluknya.
            “Jung Yonghwa-shi..”
            “Oppa.. Seohyun oenni memanggilmu..” Yonghwa melepaskan pelukanya dari Juniel dan menghentikan alur matanya pada gadis berbalut busana serba putih.
            Dan, Yonghwa merasa ia masih bermimpi, ia harus segera bangun dari mimpinya.
            ‘dia.. bukan manusia pastinya..’ Yonghwa mengalihkan pandangannya pada Juniel sekali lagi ‘lalu? Juniel sudah berada di surga?’ halusinasinya berjalan mulus ketika tingkat kantuk dan lelah melandanya bergantian sekaligus.
            “Jung Yonghwa-shi..” sekali lagi perawat itu memanggil Yonghwa.
            Dan mulut Yonghwa terkatup sempurna, tenggorokannya tercekat kering, dan tubuhnya berubah kaku.
            ‘apakah aku bermimpi.. tapi..’ ia bahkan bisa mendengar degub jantungnya sendiri.
 Yonghwa jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua dan seterusnya hingga ia tak sadar dimana ia sedang berada.
            “Oppa waeyo.. dia Oenni yang selalu menjagaku selama Oppa tidak ada..” Juniel menggetar-getarkan tubuh Yonghwa, melihat Oppanya sama sekali tidak bergerak membuat Juniel terkekeh geli.
            Tak lama setelah itu, belum sempat Yonghwa menjawab panggilan perawat cantik itu, pintu kamar Juniel terbuka. Dan satu lagi kejutan di pagi-pagi buta untuk Yonghwa, itu Lee Jonghyun, saudara sepupunya.
            “Yonghwa-yah !!” Jonghyun berlarian menghampiri Yonghwa dan memeluk Yonghwa erat. Yonghwa masih terkaget tak percaya di tempatnya, Juniel tersenyum masih tetap tersenyum seperti biasa, ia mendengar jelas kedatangan Jonghyun kemarin siang.
            Jonghyun dan Yonghwa adalah saudara yang sangat dekat, sejak kecil mereka selalu tinggal bertetangga dan menghabiskan masa kecil bersama, hingga Yonghwa pergi tanpa kabar, Jonghyun sangat kehilangan, begitupun Yonghwa. Mereka sangat akrab seperti saudara kandung.
            “Oppa.. waesseo ?” Seohyun memegangi lengan Jonghyun saat ia mendekati Seohyun.Yonghwa mengamati kedua orang itu dari tempatnya.
            “Hyunnie.. gomawo.. sudah menjaga adiku, bagaimanapun adik Yonghwa juga merupakan adiku..” Jonghyun mencubit hidung Seohyun gemas.
            “Oppa.. Jonghyun Oppa.. Seohyun Oenni.. itu..” kalimat Juniel tertahan hampa
            “Oh, iya.. Yonghwa, Juniel .. ini Choi Seohyun dia adalah kekasihku.. kami sudah menjalani hubungan sejak dua tahun yang lalu..” kemudian Jonghyun merangkul bahu Seohyun merapatkan tubuh mereka berdua, Jonghyun terlihat sangat bangga dan bahagia.
            Brang !!
            Yonghwa patah hati, pada pandangan pertama, kedua, mudah-mudahan ia masih bisa sadar dimana ia berdiri dan berpijak hari ini, kembali ke dunia nyatanya dan menghadapi kenyataan bahwa tidak ada ruang baginya untuk jatuh cinta, yang ada ia harus menjaga dan memperhatikan Juniel saat ini.
            “dimana Yoona, Jungshin..”
            “dan Eunji..” tambah Yonghwa saat Jonghyun melihat ke sekeliling ruangan.
            “Jungshin menunggui ibunya di ruangan sebrang, Yoona pulang ke rumahnya tadi pagi, sangat pagi sepertinya, dan Eunji..” Seohyun berfikir sedikit “oh gadis dengan rambut sebahu itu?”
            “ne..” jawab Yonghwa tegas
            “dia sepertinya mencari makan..”
            “Oppa.. Eunji Nuguya?” Juniel bertanya polos pada Yonghwa.
            “dia adalah orang yang memaksaku untuk pulang dan menemuimu Juniel, umurnya sama denganmu, kasian sekali dia tujuannya kesini adalah berlibur, tapi kini ia malah luntang-lantung sendirian di rumah sakit..” mereka semua spontan tertawa mendengar penjelasan Yonghwa.
            “Seohyun-ah, hari ini aku tidak bisa menemanimu seharian di rumah sakit, aku tidak mau mengganggu konsentrasimu bekerja.. jadi aku pulang ya, aku harus mengunjungi omoni juga aboji..” Seohyun mengangguk. Kemudian Jonghyun mencium kening Seohyun saat itu juga, membuat seisi ruangan cukup gerah dan gugup di tempatnya.
            “Yonghwa-yah.. kamu harus menemui orang tuaku, mereka juga sering menanyakanmu..” meski ragu Yonghwa kemudian mengagguk, Jonghyun mengelus pipi Juniel sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu.

***
            Yonghwa mengitari taman-taman yang cukup luas di Seoul Hospital pagi itu, lenganya memegangi satu cangkir kopi hangat, ia menimbang-nimbang perasaannya sendiri. Tersenyum jika mengingat semua akan berjalan baik-baik saja karena Juniel sudah sadarkan diri, ia tidak punya rencana untuk kembali ke Ulsan, setelah ini ia akan menetap di Seoul, jika Mr. Jung Ayah dari Eunji masih membutuhkan tenaganya untuk bekerja ia akan meminta di tugaskan di sekitar Seoul. Tidak, tidak lagi untuk meniggalkan Juniel dalam kesendirian. Yonghwa menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kayu di sudut taman itu.
            Yonghwa memejamkan matanya. Menghirup udara Seoul yang begitu terindukan, beribu kenangan pahit terbangun, namun terhancurkan oleh kenangan indahnya. Tidak ada guna lagi menyimpan benci dan dendam pada masalalu, seharusnya ia cukup bersyukur dan menyadari masih ada orang-orang yang ia cintai, bahkan mencintainya. Dalam diamnya dalam halusinasinya bersama masalalu pagi itu, terlintas wajah menawan begitu rupawan dari gadis yang mengenakan seragam serba putih. Choi Seohyun.
            “apa aku benar-benar jatuh cinta?” bisiknya pada diri sendiri “lalu kenapa aku jatuh cinta pada perempuan yang bahkan menjadi kekasih dari saudaraku sendiri?” tanyanya pada hati “dan kenapa bayangnya terus memutar di otaku?”           
            “apa betul ini yang dinamakan jatuh cinta?” Yonghwa memegangi dadanya yang berdebar cepat, lalu tersenyum, menertawakan kebodohanya sendiri.
            “naneun, Jung Yonghwa, laki-laki bodoh yang meninggalkan adiknya, dan kembali disaat Juniel, adiku hampir kehilangan nyawanya..” Yonghwa menghela nafasnya.
            “naneun, Jung Yonghwa, laki-laki bodoh yang jatuh cinta di saat  yang salah, pada seseorang yang salah..” tukasnya lagi sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.

            Dari jarak yang tidak cukup jauh, Jungshin mengamatinya, dan Eunji berada di sisinya.

To Be Continued



Tidak ada komentar:

Posting Komentar