No
More Tears Formula
Chapter
6
Yonghwa
- ‘Where You Are’ come from ?
Cast Plus :
Jung Yonghwa - CNBLUE
Jung Eunji - A Pink
Tubuh kokonya melawan terik matahari
yang terus menyengat kulitnya kuat siang itu, ia tetap melanjutkan pekerjaannya
sebagai juru design interior dan exterior untuk pembangunan salah satu kompleks
perumahan baru di Ulsan, Gyeongsanman. Dan kali ini ia sedang mengukur tata
letak dan ruang taman belakang rumah bergaya khas klasik amerika taun 70’an.
“Yonghwa-shi..” ia menghentikan
gerakan tangannya untuk menggambar dan mengukur lalu mengalihkan perhatiannya
pada partnernya yang tengah berjalan menghampirinya. Oh tidak, itu bukan
partnernya, itu anak dari partner kerjanya.
“waeyo Eunji-shi? Aku sedang sibuk”
gadis itu berumuran sama dengan adik perempuanya Juniel, Yonghwa tidak menyukai
keberadaan Eunji disekitarnya, bukan karena Eunji bertingkah menyebalkan, tidak
sama sekali, gadis itu sangat periang, dan menyenangkan, namun itu malam
menjadi alasan Yonghwa tidak ingin berdekatan dengan Eunji, sebenarnya sifatnya
membuat Yonghwa merindukan adik perempuanya, ini sudah tahun ke tiga ia meninggalkan
Seoul untuk menetap di Ulsan juga bekerja berkeliling beberapa daerah di Korea yang
lainya, selain ingin menghidupi adiknya agar mencapai garis kecukupan, juga
karena ia ingin melupakan segala kenangan buruk yang pernah terjadi di Seoul.
“aku hanya membawakan makanan
untukmu Oppa.. nae aboji tidak bisa datang hari ini..” Eunji mengambil kursi
lipat dan menyimpan kotak makanan di meja yang penuh dengan alat tulis serta
kertas.
“kamsahamnida..” jawab Yonghwa
singkat dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya, Eunji memandangi
laki-laki yang ia kenal sejak tiga tahun lalu. Yang merupakan Partner kerja
ayahnya. Ayahnya adalah seorang arsitek, dan ia membutuhkan tangan kanan untuk
memenuhi keseimbangan dalam pekerjaanya, dan datanglah dia Jung Yonghwa, yang
sebenarnya tidak menginjakan kaki di perguruan tinggi.
Sebelum datang ke Ulsan, Yonghwa hanya
pekerja sebagai pembantu konstruksi bangunan biasa, namun Mr. Jung ayah dari
Eunji memperhatikan Yonghwa secara khusus dan intensif, karna menurut Ayahnya
Yonghwa memiliki kemampuan khusus di penataan lahan, dan tempat serta ruang
maka Yonghwa di boyong untuk proyek pembangunan komplek perumahan baru di
Ulsan, hingga hari ini, ia meninggalkan adik satu-satunya bersama neneknya.
Yang akhirnya neneknya meninggal dua tahun lalu tanpa sempat Yonghwa
menjenguknya, bahkan ia tidak datang ke pemakaman neneknya sama sekali.
“Oppa..” Eunji memberanikan diri
bertanya pada Yonghwa
“ne..”
“apa aku sangat mengganggumu? Setiap
kali aku bertemu dengan oppa, oppa selalu bersikap dingin dan sedikit kasar
padaku..” Eunji mengeluarkan isi hatinya, tidak adil rasanya bagi Eunji, ia
merasa ia tidak memiliki kesalahan apapun pada Yonghwa, namun setiap kali ia
datang untuk sekedar berkunjung menemui Ayahnya, Yonghwa akan bersikap sangat
dingin dan tidak bersahabat.
Melihat wajah Eunji yang ditumbuhi
rasa sedih juga penasaran, Yonghwa merasa bersalah dan terharu sekaligus, ia
ingat apa yang di katakana Juniel saat Yonghwa akan pergi meninggalkannya di
Seoul.
“apa
Oppa membenciku? Aku aku sangat mengganggumu? Sampai Oppa ingin pergi
meninggalkanku?” sebaris kalimat itu membuat hati Yonghwa pedih, dan
bagaimana kabar Juniel? Yonghwa bukannya tidak menyayangi adiknya itu, bukan
melupakanya dan tega meninggalkannya sendirian, sebelum ia bisa mengobati luka
Juniel, ia harus menyembuhkan luka hatinya sendiri, lahir dan hidup di keluarga
kaya raya sebelumnya, kemudian kematian sang ibu membuat Yonghwa terpuruk dan
ditinggalkan oleh ayahnya. Hanya neneknya yang juga di tinggalkan oleh ke-empat
anaknya yang mau menampungnya dan membiayai mereka hidup. Bagaimana Yonghwa
bisa melupakan hal itu? hari dimana Juniel lahir, hari dimana Ibunya meninggal.
Yongwha tidak pernah membenci Juniel, seperti ayahnya yang sangat membenci
gadis kecil itu, dimata Yonghwa, Juniel merupakan kelahiran baru sosok ibunya.
Juniel mewarisi segala hal dari ibunya, wajahnya, sifat lembutnya,
keceriaannya, ketegarannya, segalanya. Bagaimana bisa Yongwha membenci Juniel.
“aniyo Eunji-shi.. hanya saja..”
tenggorokan Yongwha rasanya tercekat, jika ia melanjutkan kalimatnya mungkin
airmata akan muncul karena kerinduannya pada Juniel sudah membeludak.
“hanya saja?” Eunji penasaran
“usiamu juga usia adiku sama, sudah
3 tahun aku meninggalkannya sendirian di Seoul..”
“mwo? Sendirian? Seusiaku? Tiga
tahun?” Eunji berdiri kaget dari duduknya “Oppa.. kamu harus menjenguknya..” ia
mulai kelihatan simpati dan khwatir pada Juniel. Yonghwa menghela nafas berat,
melepas topinya dan menaruh peralatan kerjanya, tak ada mood untuk melanjutkan
pekerjaanya. Kemudian Yonghwa duduk di hadapan Eunji.
“aku harus bekerja..” jawab Yonghwa
lesu
“tapi adikmu lebih penting Oppa..
dia..” Eunji menutup mulutnya tidak percaya, ada gadis yang ditinggal sendirian
di usianya yang masih sangat muda. “bagaimana dia hidup? Apakah dia melanjutkan
hidupnya dengan baik?”
“molla Eunji-ya.. aku selalu
mengirimkan uang untuknya, dan kabarnya dia tidak melanjutkan sekolahnya,
melainkan melanjutkan bisnisnya membuka toko bunga di Gangnam..”
“Oppa, ayo kembali ke Seoul.. aku
akan memohon pada aboji..” Eunji menatap Yonghwa khawatir.
“aniyo Eunji-ya .. aku belum siap
untuk kembali.. dan banyak pekerjaan yang belum di selesaikan..”
“ya!! Jung Yonghwa-shi !! apa masuk
akal untuk mengatakan belum siap? Sementara di sana mungkin setiap harinya
adikmu menunggumu pulang dengan perasaan sedih dan rindu? Apakah Oppa
membencinya? Dah cih.. pekerjaan. Aboji akan selalu mengijinkanmu pulang,
jangan menggunakan alasan pekerjaan !!”
“Eunji-ya.. kemane.. !!”
“Oppa.. apa kamu tidak punya hati?”
Suara Eunji meninggi sambil menatap sinis pada Yonghwa yang semakin terpojokan.
“aku bisa merasakan perasaan adikmu itu.. aku tau dia pasti merindukanmu, Oppa
tidak pernah hawatir padanya?” dan tangan Eunji bergetar antara takut dan marah
mengantar.
Yonghwa menghela nafasnya panjang
dan dalam, depresi mengiringi rona wajahnya yang terlihat gundah juga hilang
keseimbangan. Ada ruang kosong dihatinya dan belum ia kembalikan isi dari
kekosongan itu. Adiknya Jung Junhee jawabanya.
***
Hari ini Yonghwa sudah menginjakan
kakinya di Seoul, penerbangan terakhir dari Ulsan, ditemani Eunji yang
penasaran punya harapan besar mempertemukan Yonghwa dengan adiknya dan berharap
bisa berkeliling kota Seoul, pertama kalinya seumur hidup. Hari sudah gelap,
sebelum akhirnya Yonghwa memutuskan untuk kembali ke Seoul ia diguncang dilemma
dan nyaris membatalkan kepulangannya, namun Eunji meyakinkannya bahwa Juniel
akan memaafkannya, Juniel pasti akan sangat merindukannya.
“Oppa.. mau kemana kita?” tanya Eunji seketika setelah kakinya mendarat
di Incheon Airport. “bagaimana kalau langsung saja menemui Juniel?” tanya Eunji
semangat. Yonghwa menggeleng.
“beri aku waktu untuk menenangkan
diri, aku akan sangat kaget dan bahkan tidak siap untuk bertemu dengan adiku
itu..” Lengan Yonghwa bergetar, sekujur tubuhnya terasa sangat lemas, juga
keringat dingin terus bercucuran di dahi juga punduknya.
“Oppa gwenccana?”
Yonghwa hanya tidak siap, belum
beradaptasi untuk menemui Juniel, gadis kecil yang ia tinggalkan saat usianya
baru menginjak 16 tahun, dan kini mungkin tingginya menyamai Eunji, juga akan
tumbuh menjadi sangat cantik, bagaimana ia harus berbicara dan meminta maaf
untuk waktu yang lama tidak menemuinya? Yonghwa masih tidak bisa membayangkan.
“beri aku waktu untuk mempersiapkan
diri menemui Juniel..” Yonghwa memegangi lengan Eunji kencang.
“arraseo oppa.. lebih baik kita berkeliling
kota terlebih dulu, tapi aku tidak tau harus kemana, ini pertama kalinya aku
menginjakan kaki di Seoul..”
“Panggilkan saja taxi Eunji..” Eunji
mengangguk dan mereka beriringan berjalan keluar dari Airport.
***
Yonghwa menyandarkan punggungnya di
kursi penumpang, sementara Eunji memilih duduk di samping supir taxi karena ia
tidak begitu menyukai duduk di bangku belakang.
“Sunnim, mau kemana kita?” Supir
yang berusia cukup muda itu bertanya pada Eunji yang menikmati pemandangan
malam di pusat kota Seoul.
“Oppa..” Eunji melirik Yonghwa yang
tengah membuang pandangannya ke luar jendela
“kemanapun ajusshi, tolong bawa kami
kemanapun..” Yonghwa menjawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kerlap
kerlip lampu kota dan hingar bingar Kota Seoul malam itu. meskipun kebingungan,
pada akhirnya supir taxi itu membawa mereka beruda berkeliling kota.
Yonghwa merasakan panas dingin tidak
karuan, berapa lama ia melupakan ritual ini, sesuatu yang dinamakan ‘pulang’
mengapa bahkan jarak memanah dan tak tertadah, menjengah bahkan menghunus tajam
ke persendianya, bukankah seharusnya ia bahagia? Bukankan seharusnya tak ada
kekhawatiran selain rasa bersalah atas kemampuanya mengacuhkan, mengabaikan dan
mengasingkan keluarganya? Adiknya? Tanganya masih bergetar hebat ditengah suara
angin yang memecah sunyi di dalam mobil, hiruk pikuk kota Seoul yang tak
berubah, bersama supir taxi juga Eunji.
‘Mungkin
aku terlalu merindukan Juniel, mungkin rasa bersalah ini tidak mengijinkanku
untuk bersikap tenang dan bersemangat menemuinya, mungkin binaran cahaya wajah
Juniel akan memudar bak debu yang tertiup ketika ia melihat wajahku lagi..
mungkin.. terlalu banyak kemungkinan yang bahkan tidak bisa diperkirakan.. Jung
Junhee.. mianheo..’
Yonghwa mengetatkan jaketnya dan
mencoba menenagkan dirinya, Setelah beberapa jam taxi itu membawa mereka
berkeliling kota Seoul, Yonghwa kemudian mengamit satu kertas lusuh yang ia
pegang sedari tadi hingga kusut.
“Ajusshi.. tolong bawa kami ke
alamat ini..” Yonghwa menyodorkan kertas itu, dan supir taxi memutar balik
mobilnya menuju tempat yang Yonghwa tuju.
“Oppa, mau kemana kita?” tanya Eunji
penasaran
“rumah..” bahkan kata rumah bisa
membuatnya kembali merasakan sensasi takut dan panas dingin, entah karena angin
yang masuk dari jendela yang sengaja ia buka terlalu kencang, atau karena musik
yang di putar oleh supir taksi terlalu enak di dengar, atau karena ia
merindukan Juniel.. dan konsep yang dinamakan pulang? Andai ia tau jawabanya,
ia benar-benar di ambang batas manusia sadar, akalnya tidak berjalan dengan
baik, bahkan rasanya ia hanya bermimpi bisa menginjakan kakinya lagi disini.
“Sunnim, kita sudah sampai di tempat
tujuan..” Mobil itu berhenti di depan rumah tak berpagar, berwarna kuning dan
terlihat sangat hangat. Pelan Yonghwa membuka pintu mobil dan menginjakan
kakinya ke luar mobil. Eunji memberikan uang sesuai dengan ongkos yang harus
mereka bayar. Yonghwa seperti hantu yang gentayangan, kakinya terasa melayang
tidak percaya, tubuhnya terasa jauh terhempas ke ruang lain, bukan disini, di
rumah yang tidak berubah banyak.
“Oppa.. jadi ini tempat tinggal
Juniel?” Yonghwa mengabaikan pertanyaan itu, ia melepaskan tasnya dan berjalan
menatap kosong setiap sudut dari halaman rumah yang berukuran kecil itu.
airmatanya nyaris tumpah, kenangan pedih terbongkar pasrah tanpa arah dalam
asanya, namun itu semua tertutup rapat oleh kenangan hebatnya membesarkan
Juniel, bersama neneknya yang kini sudah tiada. Yonghwa kemudian tersungkur
berlutut di depan pintu rumah itu, tertegun dan mencoba menahan tangis dan rasa
bersalah yang menyala dalam dadanya.
Eunji hanya menyaksikan punggung
Yonghwa, ada sisi dimana Yonghwa bahagia tiada tara, dan sisi lainya adalah
ketidak mampuan Yonghwa untuk memaafkan dirinya sendiri, tak lama setelah
melihat Yonghwa tersungkur dan tertegun Eunji berlari mencoba menahan berat
tubuh Yonghwa, setelah itu Eunji memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu.
Satu kali..
Dua kali ..
Tiga kali..
Tak
ada jawab, Eunji memutar tubuhnya dan menatap pilu pada Yonghwa yang masih
berlutut lesu. Juniel tidak disini.
Yonghwa kemudian tersenyum
“aku bodoh sekali, mungkin Juniel
masih berada di tokonya..” Eunji kemudian melihat jam tanganya, ini sudah lewat
tengah malam.
“Oppa.. apa mungkin dia masih
disana? Ini sudah hampir jam dua pagi..” Yonghwa kemudian bangkit dan menarik
Eunji.
***
Mereka berjalan menyusuri kota Seoul
menuju Gangnam, Eunji menahan kantuk dan rasa lelahnya sambil terus mengikuti
langkah Yonghwa dari belakang, ia menggenggam erat ranselnya, walau cukup lelah
namun Eunji tidak ingin dibiarkan sendirian menunggu mereka di rumah Juniel.
Saat konsentrasi gadis itu benar-benar sudah melebur ia menabrak tubuh Yonghwa
yang sudah berhenti.
“aigo..” Eunji menatap tubuh Yonghwa
yang berdiri mematung di depan toko bunga ‘YJ Florist’ namun lampu-lampu di
toko itu sudah padam, tak ada setitik cahaya menerangi toko itu, tidak terlihat
tanda-tanda kehidupan disana.
Eunji menebar pandanganya dan
menemukan lapak kecil ddokbuki di sebrang jalan, karena ia tidak ingin
mengganggu Yonghwa yang masih tertegun, diam-diam Eunji berlari menuju toko ddokbuki
itu.
“annyeonghaseo sunnim” sapa sang
pemilik lapak sambil menyodorkan satu gelas teh hangat pada Eunji yang
menggosok-gosok hidungnya sedari tadi kedinginan.
“ahjumma, aku ingin satu porsi
ddokbuki..” tak lama ahjuma sudah mewadahi ddokbuki hangat di sebuah piring
berukuran sedang “sunnim, siapa laki-laki yang berdiri di depan YJ itu?” Eunji masih lahap menyantap ddokbuki
hangat itu, kemudian menjawab dengan mulut terisi penuh dengan ddokbuki
“Jung Yonghwa Oppa..” tanpa melihat
ekspresi sang penjual ddokbuki Eunji terus memakan ddokbukinya.
“ommo.. Yonghwa-yah..” cepat-cepat
ahjumma itu membuka apronya dan berlari tergesa dengan airmata menghampiri
Yonghwa yang masih tertegun di depan YJ.
“Yonghwa-yaaaa !!” ahjumma itu
melebur memeluk tubuh Yonghwa dengan rasa bahagia dan haru yang luar biasa.
Yonghwa menatapnya kaget saat ia tau-tau sudah memeluknya erat, namun saat
menyadari itu adalah tetangga mereka, rona wajah Yonghwa berubah semangat.
“ahjumma !! ahjumma !!” Yonghwa
balik memeluknya, sementara Eunji hanya sibuk menonton dari kejauhan.
“Junniel oddisseo?” Yonghwa
terengah-engah dalam emosi dan rasa ingin tau yang mendalam, namun ahjumma itu
hanya terus menangis dan terisak tanpa bisa menjelaskan apa yang terjadi pada
Juniel. Namun setelah emosinya kembali stabil Ahjumma itu mulai bercerita.
“dan sekarang, Juniel masih
terbaring lemah di rumah sakit, aku belum sempat menjenguknya Yonghwa, kemarin
anaku sakit dan hari ini aku sangat sibuk..” Yonghwa mematung di tempatnya dan
airmatanya tumpah. Tubuhnya roboh dan jatuh dalam pelukan ahjumma penjual
ddokbuki.
“JUNIEL-AH !! JUNIIEEEEEL !!” dalam
tangis dan penyesalannya yang kini terlintas adalah wajah Juniel.
“berhenti menangis Yonghwa-ya..
lebih baik sekarang kau menyuslnya di rumah sakit.. jebbal.. berhenti
menangis..” ahjumma itu terus
menepuk-nepuk bahu Yonghwa yang masih menangis penuh penyesalan. Bagaimana
tidak, harapannya kembali dari Ulsan, melihat Juniel yang tumbuh cantik juga
sempurna seperti ibunya, mendapati kabar bahawa Juniel kini terbaring lemah di
rumah sakit, Yonghwa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri lagi.
Eunji mendekati Yonghwa dan Ahjumma
saat mereka terlihat sama-sama menangis, tanpa bertanya Yonghwa sudah berdiri
dan menarik tangannya lagi dalam tangis dan wajah penuh rasa bersalah, Eunji
tidak berbicara apapun, ia hanya mengikuti langkah demi langkah hingga mereka
memasuki mobil taxi lagi.
***
Tergesa Yonghwa mendekati meja
resepsionis dan informasi menanyakan keberadaan adiknya Jung Junhee. Mendengar
nama itu disebut laki-laki bertubuh tinggi dan berambut panjang menghampirinya.
“chogiyo.. anda Jung Yonghwa-shi?”
Yonghwa melihatnya dengan tatapan aneh, mencoba mengingat apakah ia mengenali
laki-laki ini, sayangnya tidak, sama sekali Yonghwa tidak mengenalinya.
“nuguseo?” tanya Yonghwa sedikit
sinis, bagaimana laki-laki itu mengganggunya disaat yang tidak tepat sama
sekali
“Jung Yonghwa-shi, Jung Junhee
berada di kamar VIP di lantai 3” setelah mendengar informasi itu Yonghwa
berlari meninggalkan Eunji juga laki-laki yang menggaungguinya, anak laki-laki
yang terlihat muda.
“chogiyo.. anda siapanya Yonghwa?”
anak laki-laki itu kini bertanya pada Eunji yang masih mengatur nafasnya lelah.
“aku hanya mengantarkanya dari Ulsan.. namaku Jung Eunji, dia adalah partner
kerja ayahku, kendae, nuguseo? Kenapa anda mengenal Yonghwa?” Eunji menunjuki
hidung laki-laki itu.
“choneun, Lee Jungshin imnida, ayo
ikut aku..” kini lengan Eunji yang sedari tadi dikendalikan oleh Yonghwa
berpindah pedal pada Jungshin yang melangkah dengan tubuh yang menjulang tinggi
di depan Eunji.
***
Yonghwa menerobos masuk ruangan
berukuran besar itu, dan disanalah adiknya terbaring dengan perban memenuhi
keningnya, berbagai kabel juga selang menyelingi tubuh Juniel yang ringkih,
Yonghwa roboh benar-benar roboh di dasar kehancuran juga kekecewaannya pada
diri sendiri.
“Juniel-ah..” langkahnya berat
menghampiri adik perempuannya itu, sementara seorang gadis yang sedari tadi
duduk di sofa ruangan itu terhenyak kaget dan memandangi Yonghwa aneh. Tak lama
setelah itu Jungshin juga Eunji membuka pintu ruangan Juniel.
Yonghwa memegangi lengan Juniel
erat.
“Juniel-ah.. Oppaneun issoyo.. oppa
disini Juniel-ah.. buka matamu..” airmatanya terkuras hebat dan membasahi
jemari Juniel yang Yonghwa genggam dan ciumi sedari tadi.
“annyeonghaseo Jung Yonghwa-shi..”
Yonghwa mengalihkan pandangan pada laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya
sekarang. Laki-laki yang sama yang bertemu di lobby baru saja.
“choneun Lee Jungshin imnida, aku
adalah sahabat Juniel..” mendengar hal itu Yonghwa melepas lengan Juniel dan
mendekati Jungshin
“bagiamana ini bisa terjadi, dan
bagaiamana keadaan Juniel..?” tatapan Yonghwa penuh harap dan cemas, disana
tertulis ‘tolong katakana Juniel
baik-baik saja dan tidak ada hal serius yang akan terjadi padanya..’
“Syukurlah Yonghwa-shi datang tepat
waktunya, Juniel sudah sangat membaik, tadi ia sempat membuka matanya setelah
dua hari tidak sadarkan diri, dan dia sudah berhasil melewati masa kritis”
Jungshin menjelaskan dengan tenang pada Yonghwa yang terlihat begitu menggema
dalam kegalauan luar biasa.
“jinjja?” tanyanya lemah, ia tak
punya cukup kekuatan lagi untuk mempertanyakan Juniel pada siapapun, ia lelah
bergelut dengan hatinya sendiri, antara menyesal dan rasa sedih yang tak
tertahan.
“Yonghwa kembali duduk di tempatnya
dan mengelus-ngelus lembut lengan Juniel, hanya itu yang bisa ia jangkau,
berharap sekali lagi Juniel membuka matanya dan menyadari kehadirannya..
Dan keajaiban pun terjadi.
Pelan, Juniel membuka matanya.
Yonghwa terkesiap dan terus menciumi telapak tangan Juniel.
“Juniel-ah.. Oppa issoyeo ..
Juniel-ah..” terhalang oleh bungkusan masker oksigen yang menutupi mulutnya,
Juniel tersenyum.
“O—pp—a.. Y—oong—hw—a—O—pp—aa..”
Yonghwa semakin kuat memegangi lengan Juniel
“ne.. ini Oppa.. Oppa disini..”
Jungshin membuka matanya lebar-lebar masih tidak percaya dengan apa yang
terjadi.
“Yoona Noona.. bisakah kau
menghubungi Seohyun Noona?” Jungshin berbalik pada Yoona yang sama terkejutnya,
sementara Eunji menghapus airmatanya yang meluncur tanpa sadar dari kedua belah
matanya. Untuk pertama kalinya Eunji melihat sisi lembut dari Yonghwa, selama
ini Yonghwa bersikap dingin padanya, dan ia bisa merasakan betapa Yonghwa
menyayangi Juniel.
***
Pagi mulai menjelang saat selang alat
bantu pernafasan Juniel di lepaskan, Yonghwa masih tertidur di pinggiran tempat
tidur Juniel.
“Juniel-ah annyeong..” Senyum
perawat itu begitu hangat, dan Juniel membalas senyumnya. “pasti kamu tidak
mengenaliku kan?” ia tersenyum sambil terus merapikan peralatan yang harus ia
cabut dari anggota tubuh Juniel, kondisi Juniel kini stabil.
“arra.. anda pasti Seohyun noona
kan? Seseorang yang menemaniku sejak kemarin bersama Hae..” mata Seohyun
membesar tidak percaya
“bagaimana kamu tau Juniel-ah?”
“bolehkah aku memanggil andan
Oenni?”
“oh keureomyo Juniel-ah..”
“Seohyun oenni, walaupun mataku
tidak bisa terbuka, tapi pendengaranku bekerja dengan baik, mungkin aku banyak
tertidur tapi aku mengingat apapun yang Oenni dan Jungshin Oppa katakan..”
“Ommona..” Seohyun menutup mulutnya
tidak percaya.
Mendengar suara adik kecilnya,
Yonghwa terbangun dari tidurnya, wajahnya terlihat kusut dan lelah, lenganya
masih kuat memegangi lengan Juniel.
“Oppa.. annyeong..” Juniel tersenyum
dan memanggil kakanya dengan nada penuh kerinduan “selamat pagi..” sementara
Yonghwa masih mengerjapkan matanya, berharap ini bukan mimpi, dimana ia
memegang erat lengan adik perempuanya, dan mendapat sapaan selamat pagi.
“Juniel..” Yonghwa mencoba mengembalikan
kesadaranya untuk segera kembali dan melihat jelas betapa cantiknya gadis yang
masih terbaring di kamar rumah sakit ini.
“ne, oppa.. ini aku..” airmata
Yonghwa segera merembes saat menyadari ini bukan mimpi. Yonghwa beringsut dan
memeluk tubuh Juniel hangat, melepaskan cemas, rasa bersalah dan kerinduanya
pada Juniel sekaligus, lama, cukup lama Yonghwa menenggelamkan Juniel dalam
peluknya.
“Jung Yonghwa-shi..”
“Oppa.. Seohyun oenni memanggilmu..”
Yonghwa melepaskan pelukanya dari Juniel dan menghentikan alur matanya pada
gadis berbalut busana serba putih.
Dan, Yonghwa merasa ia masih
bermimpi, ia harus segera bangun dari mimpinya.
‘dia..
bukan manusia pastinya..’ Yonghwa mengalihkan pandangannya pada Juniel
sekali lagi ‘lalu? Juniel sudah berada di
surga?’ halusinasinya berjalan mulus ketika tingkat kantuk dan lelah
melandanya bergantian sekaligus.
“Jung Yonghwa-shi..” sekali lagi
perawat itu memanggil Yonghwa.
Dan mulut Yonghwa terkatup sempurna,
tenggorokannya tercekat kering, dan tubuhnya berubah kaku.
‘apakah
aku bermimpi.. tapi..’ ia bahkan bisa mendengar degub jantungnya sendiri.
Yonghwa jatuh cinta pada pandangan pertama,
kedua dan seterusnya hingga ia tak sadar dimana ia sedang berada.
“Oppa waeyo.. dia Oenni yang selalu
menjagaku selama Oppa tidak ada..” Juniel menggetar-getarkan tubuh Yonghwa,
melihat Oppanya sama sekali tidak bergerak membuat Juniel terkekeh geli.
Tak lama setelah itu, belum sempat
Yonghwa menjawab panggilan perawat cantik itu, pintu kamar Juniel terbuka. Dan
satu lagi kejutan di pagi-pagi buta untuk Yonghwa, itu Lee Jonghyun, saudara
sepupunya.
“Yonghwa-yah !!” Jonghyun berlarian
menghampiri Yonghwa dan memeluk Yonghwa erat. Yonghwa masih terkaget tak
percaya di tempatnya, Juniel tersenyum masih tetap tersenyum seperti biasa, ia
mendengar jelas kedatangan Jonghyun kemarin siang.
Jonghyun dan Yonghwa adalah saudara
yang sangat dekat, sejak kecil mereka selalu tinggal bertetangga dan
menghabiskan masa kecil bersama, hingga Yonghwa pergi tanpa kabar, Jonghyun
sangat kehilangan, begitupun Yonghwa. Mereka sangat akrab seperti saudara
kandung.
“Oppa.. waesseo ?” Seohyun memegangi
lengan Jonghyun saat ia mendekati Seohyun.Yonghwa mengamati kedua orang itu
dari tempatnya.
“Hyunnie.. gomawo.. sudah menjaga
adiku, bagaimanapun adik Yonghwa juga merupakan adiku..” Jonghyun mencubit
hidung Seohyun gemas.
“Oppa.. Jonghyun Oppa.. Seohyun
Oenni.. itu..” kalimat Juniel tertahan hampa
“Oh, iya.. Yonghwa, Juniel .. ini
Choi Seohyun dia adalah kekasihku.. kami sudah menjalani hubungan sejak dua
tahun yang lalu..” kemudian Jonghyun merangkul bahu Seohyun merapatkan tubuh
mereka berdua, Jonghyun terlihat sangat bangga dan bahagia.
Brang !!
Yonghwa patah hati, pada pandangan
pertama, kedua, mudah-mudahan ia masih bisa sadar dimana ia berdiri dan
berpijak hari ini, kembali ke dunia nyatanya dan menghadapi kenyataan bahwa
tidak ada ruang baginya untuk jatuh cinta, yang ada ia harus menjaga dan
memperhatikan Juniel saat ini.
“dimana Yoona, Jungshin..”
“dan Eunji..” tambah Yonghwa saat
Jonghyun melihat ke sekeliling ruangan.
“Jungshin menunggui ibunya di
ruangan sebrang, Yoona pulang ke rumahnya tadi pagi, sangat pagi sepertinya,
dan Eunji..” Seohyun berfikir sedikit “oh gadis dengan rambut sebahu itu?”
“ne..” jawab Yonghwa tegas
“dia sepertinya mencari makan..”
“Oppa.. Eunji Nuguya?” Juniel
bertanya polos pada Yonghwa.
“dia adalah orang yang memaksaku
untuk pulang dan menemuimu Juniel, umurnya sama denganmu, kasian sekali dia
tujuannya kesini adalah berlibur, tapi kini ia malah luntang-lantung sendirian
di rumah sakit..” mereka semua spontan tertawa mendengar penjelasan Yonghwa.
“Seohyun-ah, hari ini aku tidak bisa
menemanimu seharian di rumah sakit, aku tidak mau mengganggu konsentrasimu
bekerja.. jadi aku pulang ya, aku harus mengunjungi omoni juga aboji..” Seohyun
mengangguk. Kemudian Jonghyun mencium kening Seohyun saat itu juga, membuat
seisi ruangan cukup gerah dan gugup di tempatnya.
“Yonghwa-yah.. kamu harus menemui
orang tuaku, mereka juga sering menanyakanmu..” meski ragu Yonghwa kemudian
mengagguk, Jonghyun mengelus pipi Juniel sebelum akhirnya ia keluar dari
ruangan itu.
***
Yonghwa mengitari taman-taman yang
cukup luas di Seoul Hospital pagi itu, lenganya memegangi satu cangkir kopi
hangat, ia menimbang-nimbang perasaannya sendiri. Tersenyum jika mengingat
semua akan berjalan baik-baik saja karena Juniel sudah sadarkan diri, ia tidak
punya rencana untuk kembali ke Ulsan, setelah ini ia akan menetap di Seoul,
jika Mr. Jung Ayah dari Eunji masih membutuhkan tenaganya untuk bekerja ia akan
meminta di tugaskan di sekitar Seoul. Tidak, tidak lagi untuk meniggalkan
Juniel dalam kesendirian. Yonghwa menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk
duduk di salah satu kursi kayu di sudut taman itu.
Yonghwa memejamkan matanya. Menghirup
udara Seoul yang begitu terindukan, beribu kenangan pahit terbangun, namun
terhancurkan oleh kenangan indahnya. Tidak ada guna lagi menyimpan benci dan
dendam pada masalalu, seharusnya ia cukup bersyukur dan menyadari masih ada
orang-orang yang ia cintai, bahkan mencintainya. Dalam diamnya dalam
halusinasinya bersama masalalu pagi itu, terlintas wajah menawan begitu rupawan
dari gadis yang mengenakan seragam serba putih. Choi Seohyun.
“apa aku benar-benar jatuh cinta?”
bisiknya pada diri sendiri “lalu kenapa aku jatuh cinta pada perempuan yang
bahkan menjadi kekasih dari saudaraku sendiri?” tanyanya pada hati “dan kenapa
bayangnya terus memutar di otaku?”
“apa betul ini yang dinamakan jatuh
cinta?” Yonghwa memegangi dadanya yang berdebar cepat, lalu tersenyum,
menertawakan kebodohanya sendiri.
“naneun, Jung Yonghwa, laki-laki
bodoh yang meninggalkan adiknya, dan kembali disaat Juniel, adiku hampir
kehilangan nyawanya..” Yonghwa menghela nafasnya.
“naneun, Jung Yonghwa, laki-laki
bodoh yang jatuh cinta di saat yang
salah, pada seseorang yang salah..” tukasnya lagi sambil menepuk-nepuk dadanya
sendiri.
Dari jarak yang tidak cukup jauh,
Jungshin mengamatinya, dan Eunji berada di sisinya.
To
Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar