Minggu, 30 November 2014

To Be With You - Forever..








Part I - RUNAWAY



Main Cast :

- Seo Joohyun
- Jung Yonghwa

Other Cast :

- SNSD Im YoonA
- Beast Yoon DuJoon
- MblaQ Lee Joon
- CNblue  Lee Jonghyun






Jumat, 04:38 AM

Gelap.

Itu saja yang mampu di ingat Seohyun sebelum ia membuka matanya dan menemukan dirinya sendiri di suatu ruangan yang tak ia kenal, Ia mencoba untuk mengangkat tubuhnya meski kepalanya terasa berat. Seohyun mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dirinya telah sepenuhnya sadar.
“Ah..” Seohyun menekan kepalanya yang terasa begitu sakit dan juga pandanganya yang masih pudar.
“Kamu sudah sadar?”

Suara dingin serta derap langkah yang mendekati Seohyun membuat Seohyun menyeringit, itu bukan suara yang ia kenal, segalanya begitu asing dan Seohyun tidak mengerti dengan keadaan ini. Dan ia tidak sempat mempertanyakan apapun.

                Bagaimana jika hidupmu berubah hanya dalam waktu satu hari? Segalanya menjadi begitu rumit dan tidak dimengerti sama sekali, Seseorang yang baik dan bersih dari catatan hukum tiba-tiba terjebak disuatu keadaan dimana ia di tuntut untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah ia lakukan, ia terperangkap dan tidak tahu bagaimana caranya keluar dari keadaan ini.

***
                Kamis 09:10 AM

                Seo Joohyun berlarian menuju kelasnya karena ia terlambat akibat dari kemacetan Seoul yang semakin parah, bagaimana bisa ia yang sudah berangkat satu jam lebih awal malah terlambat sepuluh menit seperti ini, nafasnya yang sudah terengah-engah akhirnya behenti saat ia bertemu dengan dosennya yang bersiap-siap membuka pintu ruang kelasnya.
                “Annyeonghaseyo Seongsaenim..” Katanya sambil mencoba menangkap nafas yang terengah-engah.
                Mrs. Lim melonggarkan kacamatnya dan melihat wajah Seohyun tajam.
                “Tumben sekali kamu hampir terlambat?”
                “Ah, Maafkan aku.. Beberapa hari ini sedang di lakukan perbaikan jalan di dekat rumahku, jadi jalanan menjadi macet..”
                “Ah sudahlah, Ayo masuk..”

                Mrs. Lim mendorong Punggung Seohyun dengan telapak tanganya lembut, Kendati di kenal sebagai pribadi yang ketat dan galak, Mrs. Lim tidak pernah bisa memarahi Seohyun, mahasiswa teladan yang berusaha mati-matian untuk menyelesaikan kuliahnya.

                Biarpun Seohyun sangat mencintai musik, ia memilih ilmu psikologi sebagai jurusan kuliahnya, entah mengapa baginya sangat menarik untuk mendengar orang lain menceritakan kehidupan mereka mulai dari hal yang tidak penting sampai hal yang sangat pribadi. Meski sulit ia terus mencoba untuk mendapat nilai sempurna agar ia tetap di pertahankan sebagai siswa pemegang beasiswa.

                “Hey..” Yoona yang duduk di sebelahnya melambaikan tanganya penuh semangat, bahagia melihat sahabatnya tiba sebelum mata kuliah di mulai “Kamu sempat sarapan belum? Ini..” Ia menggeser sebuah tempat berisi sandwich.
                “Gomawo..” Dan Seohyun dengan cepat melahapnya akibat rasa lelah telah berlarian dari gerbang menuju kelas.

                Singkatnya, setiap pagi hanya hal itu saja yang Seohyun lakukan. Jadwal kuliahnya sangat padat karena Seohyun mengejar waktu agar ia bisa lulus lebih cepat dan membantu penghasilan orang tuanya.

                Kamis, 03:30 PM

                Seohyun memencet bel di gerbang rumah salah satu anak didiknya, sepulang kuliah ia tidak bisa pergi kemana-mana lagi selain melakukan kewajibanya sebagai guru les privat.
                “Masuklah Seo Joohyun-ssi”

                Seohyun menyapa seluruh keluarga Kim yang sangat hangat, Ada Mrs. Kim dan Juga Harmoni yang tinggal bersama mereka, Keluarga Kim punya Empat anak dan Seohyun mengajar Kim Hanbin dan Kim Hanbyul yang merupakan dua anak bungsu Keluarga Kim. Mereka semua selalu mengajak Seohyun untuk makan bersama telebih dahulu sebelum akhirnya mengajarkan kedua anak tersebut hingga larut malam.
               
                Seohyun selalu merasa terlengkapi setiap kali ia datang ke kediaman keluarga Kim yang luas ini, ia yang tinggal sendirian di Seoul sudah tidak pernah merasakan makan bersama keluarga lagi sejak kelas 2 SMA, karena orang tuanya tinggal di Namil. Kota kecil yang berjarak 7 Jam dari Seoul, dan menghabiskan cukup banyak uang untuk pulang ke kampung halamannya itu.

                “Tinggalah saja disini Joohyun” Harmoni berkata lembut sambil memegangi lengan Seohyun yang baru selesai menyisir rambutnya yang telah berubah putih secara keseluruhan.
                “Ia, betul Noona.. Rumah Seluas ini masih bisa menampung Noona kok” Hanbin ikut menimpali dan Mrs. Kim hanya tersenyum. Meskipun ia punya empat orang anak, dua anak lainya sekolah di Swis dan Paris sehingga hanya menyisakan si kecil Hanbin yang baru berusia 10 Tahun dan Hanbyul gadis manis berusia 5 Tahun.

                “Gwenccana..” Kata Seohyun lembut “Baiklah, Hanbin-ah Hanbyul-ah.. Waktunya berlatiiih” Katanya semangat.

                Tepat Pukul Lima Sore mereka memulai lahitan piano yang rutin di lakukan satu minggu dua kali itu.

***
                Kamis, 07:30 PM
                Tempat lain, Seoul.
               
                “Yang benar saja?!” Ia menggebrak meja dengan penuh tenaga hingga barang-barang yang ada di atasnya ikut begema kencang.
               
                Jung Yonghwa hanya duduk di sudut ruangan itu, tidak ada yang ia lakukan selain menatap kosong, meskipun suara pertengkaran dan perdebatan di ruang makan itu masih terdengar jelas di telinganya.
                “Yonghwa-yah!” Lee Joon memanggilnya kasar dan membuatnya terpaksa bangkit dari duduknya untuk menghampiri Joon-i
                “Kita akan melakukanya seperti ini kan?” Katanya sambil menunjuk sebuah kertas yang penuh dengan coretan yang hanya mereka mengerti.
                “Terserah saja.” Jawabnya singkat
                “Aish, Berubahlah sedikit” Kata Joon kesal, ia hanya mencari pembelaan agar yang lain setuju dengan idenya itu.
               
Pekerjaanya begitu menyita waktu dan pikiranya, terkadang ia bahkan tak punya waktu senggang untuk makan ataupun tidur, tapi Yonghwa tetap menjalaninya, mau tidak mau, suka tidak suka, karena hanya inilah satu-satunya pekerjaan yang menghidupinya dan keluarganya di Busan sana.

“Aku tidak punya urusan dengan hal ini.. Jadi terserah kalian.”

Yonghwa berbalik malas dan kembali ke tempat duduknya. Yang lain kemudian merundingkan lagi tulisan-tulisan dan menyatukan beberapa kepala kedalam satu ide cemerlang yang selalu sukses itu. Entah kenapa Yonghwa tidak pernah ingin ikut-ikutan urusan itu, mereka semua sudah punya jatah masing-masing dan Yonghwa tidak mau dikikut campurkan dengan pekerjaan yang bukan untuknya.

“Yasudahlah, aku ikut idemu.” Joon mendengus kesal pada Doojun yang selalu menang melawanya.
“Sudah clear kan? Tunggu apa lagi? Ayo bergegas..”

Yonghwa bangkit dan memandangi wajahnya dalam cermin, tubuhnya kian kurus dan tulang belulangnya sudah terlihat jelas, wajahnya begitu tirus dan tulang lehernya terlihat mengerikan.

“Kajja..”

Biasanya Yonghwa tidak pernah memperhatikan penampilanya seperti itu, hanya saja entah mengapa malam ini ada perasaan dan emosi yang berbeda yang membuatnya ingin bercermin, Ia kemudian mengambil pisau cukur untuk mencukur kumis dan janggut nya yang sudah mulai tumbuh liar di wajahnya.

***
Kamis, 08:13 PM

Satu setengah jam masing-masing untuk Hanbin dan Hanbyul beratih piano, Seohyun tidak pernah ingin meninggalkan mereka, karena diantara anak didiknya yang lain , keluarga Kim merupakan yang terbaik, memberi honor lebih besar juga kehangatan luar biasa.

“Unnie.. Menginap saja ya?”  Hanbyul memelas sambil menarik-narik baju Seohyun dan membuatnya tersenyum.
“Lalu, besok Unnie kuliah bagaimana? Jarak dari rumah Unnie saja sudah jauh, apalagi dari sini..” Seohyun mensejajarkan tubuhnya dengan Hanbyul dan menjelaskan agar Hanbyul mengerti.
“Arasseo..”

Seohyun mengelus pipinya dan mencubit pipi hanbyul pelan.
“Joohyun Unnie, saranghae..”

Tiba-tiba Hanbyul memeluknya, dan entah mengapa ia mulai menangis, tak lama Hanbin yang sedari tadi hanya berdiri memperhatikan mereka ikut menghambur dalam pelukan Seohyun dan Hanbyul.

“Wae Uro?” Tanya Seohyun kaget sambil menepuk-nepuk punggung mereka berdua.
“Noona. Kajima..”
“Ssst.. Hanbin-ah.. Hanbyul-ah .. Aku akan kembali lagi lusa..Eoh?”

Entah mengapa malam itu, begitu sulit meninggalkan mereka berdua, di tambah senyum di wajah Mrs. Kim dan Harmony serta kedatangan Mr. Kim yang pulang dari kerjanya seolah meminta Seohyun untuk tetap berada disana, Mr. Kim menanyakan perkembangan Hanbin dan Hanbyul dan Mrs. Kim membungkuskan bekal untuk makan malamku.

“Gomawo Joohyun-ah..”
“Ah, aniya. Gwenccana..” kata Seohyun kaku
“Ini..”

Mrs. Kim memberikan amplop putih yang biasanya berisi uang gajinya untuk melatih Hanbin dan Hanbyul, tapi ini belum akhir bulan, dan Seohyun menatap mereka aneh.

“Keundae?”
“Itu Bonus.. Karena kamu sudah membuat Hanbin dan Hanbyul bukan hanya menjadi pemain piano yang hebat, tapi juga membuat mereka menjadi anak yang baik dan patuh..”
“De?”
“Ah, sudahlah .. Sudah larut .. Segera pulang Joohyun-I”
“Kamsahamida..” Seohyun membungkuk beberapa kali sambil menggenggam amplop putih itu erat-erat di telapak tanganya.

Seohyun kemudian melangkah menuju Pintu sebelum akhirnya lampu di rumah besar itu padam.

                Bug Brang Pak.

Seohyun terkaget dengan suara itu namun seluruh keluarga Kim tidak ada yang berbicara mereka sepertinya masih berada di tempat duduk mereka masing-masing.

“Noonaaaaaa!”

Seohyun terperanjat kaget saat mendengar suara Hanbin yang memanggilnya kencang-kencang. Ia kemudian menyalakan handphonenya untuk menerangi langkahnya menuju lantai atas dimana Hanbin dan Hanbyul berada.

Namun, belum sempat Seohyun melangkah, sesuatu sudah mengenai punggungnya dan membuatnya tergeletak, pandanganya mulai samar, dan perlahan menjadi gelap.

                “Apa yang kamu lakukan!” Yonghwa menarik kerah baju Jonghyun yang baru saja memukul gadis yang bukan merupakan anggota keluarga Kim.
                “Dia bisa saja melihat kita!”
                “Aish!” Yonghwa melepaskan genggamanya
                “Selesaikan semuanya. Aku akan mengurus gadis ini.”

                Yonghwa memeriksa kepala dan punggun Seohyun, beruntung tak ada luka sedikitpun, bagaimanpun mereka tidak boleh melukai orang yang tidak bersalah seperti gadis ini, yang ia sama sekali tidak tahu siapa, Yonghwa menyorot senter ke wajahnya, dan matanya melebar luas.

***


                Jumat 07:00 AM


                Rumah besar yang hangat itu berubah menjadi sepi, tidak ada seorang pun yang keluar dari sana sejak tadi pagi, kemudian tukang kebun keluarga Kim berlarian ketika mendapati seluruh keluarga sudah terbujur kaku. Polisi bermunculan satu persatu dan mencoba menggali informasi dari para tetangga maupun tukang kebun tesebut. Semua orang kebingungan karena tadi malam mereka masih terlihat biasa saja, tidak ada yang aneh.
               
                “Kendae.. apa ada orang asing yang masuk ke rumah mereka tadi malam?”
                “Aku melihat seseorang!”
                “Nugu?”

                Seorang tetangga muncul di balik kerumunan, dengan wajah penuh semangat ingin mengatakan kesaksianya itu.
                “Guru les piano mereka.”
                “Siapa namanya?”
                “Seo Joohyun!”

                Tukang kebun membantu ahjumma yang terlihat bingung karena hanya itu satu-satunya informasi yang ia punya.

                “Apakah anda punya fotonya atau informasi lebih?”
                “Tapi.. Apa mungkin dia?”

                Mengingat Seohyun merupakan gadisa yang baik dan sudah cukup lama bekerja di kerluarga Kim Tukang kebun itupun menggeleng aneh. Namun tidak ada yang tau jika memang Seohyun yang terakhir masuk ke rumah itu mungkin saja memang dia pelakunya.

                “Tidak apa, katakan saja, memeriksa kebenaranya adalah tugas kami..” Kata polisi itu santai
                “Aku tidak punya fotonya, tapi kalau tidak salah dia merupakan mahasiswa di Dongguk University” Jawabnya mantap.

                Setelah semua jenazah keluarga Kim di pindahkan ke rumah sakit, Para Polisi itu bergegas menuju Dongguk University.

                Dekan dan para dosen bertanya-tanya atas kehadiaran para polisi di pagi buta itu, tidak pernah ada satupun mahasiswa maupun dosen dan dekan mereka berurusan dengan polisi .

                “Annyeonghaseyo.. apa ada yang bisa saya bantu?”

                Airmukanya berubah pesat, wajah tenangnya menjadi gusar serta terkejut setelah mendengar penjelasan dari polisi tentang hal apa yang membuat mereka datang kesini.

                “Ani, mungkin anda salah orang..”
                “Menurut informasi, gadis itu memang mahasiswa disini kan?”
                “Ye.. Mwajoyo.. tapi.. Seo Joohyun? Maldu Andwae?”
                “Tidak ada yang tidak mungkin, menurut sidik jari dan saksi mata memang dia yang berada terakhir di sana, tidak ada orang lain lagi. Dan kalau memang dia bukan pelakunya mengapa ia tidak muncul sama sekali? Apa anda tau dimana keberadaanya?”

                Dosen itu mengeluarkan ponselnya, kemduian mencoba menghubungi Seohyun, namun ponselnya sama sekali tidak aktif. Kemdian ia menggeleng sambil bergetar setelah telepon itu tidak di jawab sama sekali.

                “Betul kan? Itu artinya dia sedang melarikan diri..”
               
                Airmata Mrs. Lim meluber, ia tidak bisa mempercayai perkataan polisi begitu saja, bagaimana mungkin mahasiswi kesayanganya itu melakukan tindakan seperti ini? Dia yang berusaha mati-matian dengan kuliah dan kehidupan sendirianya di Seoul? Membunuh satu keluarga tanpa alasan yang jelas?.

                “Apa ada teman dekatnya disini?”
                “Ada. Tapi apa anda benar-benar harus melibatkanya?”
                “Kami tidak punya pilihan lain, jika anda tidak tau dimana tempatnya bersembunyi, mungkin sahabatnya tau..”


                Tak lama setelah ia menghubungi Yoona, gadis jelita itu muncul dengan tatapan aneh karena ruangan Mrs. Lim dipenuhi dengan orang-orang yang tidak dikenalinya. Terlebih karena mereka menggunakan seragam polisi.

                “Annyeonghaseyo..” Katanya ragu
                “Duduklah..” Kata Mrs. Lim
                “Anda Im YoonA-ssi?”
                “De, Mwajoyo..”
                “Anda teman dekatnya Seo Joohyun?”

                Yoona mengangguk dan melirik Mrs. Lim dengan mata sembabnya.

                “Begini, Teman dekat anda tersebut terlibat kasus pembunuhan satu keluarga. Kami sedang berusaha mencarinya, apa dia menghubungi anda? Atau anda tau dimana keberadaanya?”

                “Mworago?” Matanya membesar, tubuhnya bergetar.

***


Jumat, 05:00 AM


                Seohyun masih merasakan ngilu di bagian punggung dan kepalanya, di tambah ketidak tahuanya tentang keberadaanya sendiri, manusia macam apa yang kini duduk di hadapanya, juga apa yang sebenarnya telah terjadi.

                “Bangunlah, kamu harus makan..” Ia membantu mengangkat Tubuh Seohyun dan menuntunya untuk duduk di meja makan kecil yang penuh dengan makanan hangat.

                “Changkamman. Nuguseyo?”
                “Sudahlah, lebih baik kamu makan dulu.. Perutmu sudah berbunyi sejak tadi..” Ia tertawa pada Seohyun dan menunjukan gigi gingsulnya itu. Sementara Seohyun tertunduk malu sambil mengelus perutnya yang terus berbunyi.
                “Ini masih pagi ya?” Tanya Seohyun sambil melirik ke luar jendela.
                “Iya, kenapa kamu bangun begitu cepat?”
                “Ah.. Jalmokhae..”

                Seohyun melahap makanan itu pelan, sambil sesekali melirik laki-laki yang juga makan bersama denganya di meja kecil itu, Seohyun kemudian mengumpulkan pertanyaan yang siap meluncur dari mulutnya setelah sarapan yang terlalu pagi itu selesai.

                “Aku Jung Yonghwa.”
                “De?”

                ‘Sepertinya dia bisa membaca pikiranku ini ya? Apa yang kamu lakukan padaku?’ Tanya Seohyun dalam hatinya sendiri.

                “Seo Joohyun-ssi. Aku akan menjelaskan segalanya ketika kamu selesai makan.”
                “Sudah selesai, Kamsahamnida..” Seohyun menaruh sumpitnya diatas mangkuk nasi yang sudah kosong kemudian membungkuk dan mengucapkan terimakasih lagi pada laki-laki bernama Jung Yonghwa itu.

                Yonghwa bergegas membenahi meja makan itu, kemudian kembali pada Seohyun setelah mencuci piring bekas makan mereka berdua, mata Seohyun tidak berhenti mengikuti langkah Yonghwa, karena ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi dan mengapa ia bisa ada disini.

                “Jadi begini..” Yonghwa menarik nafas sebelum meneruskan kalimatnya “Kamu mengalami amnesia sementara, hanya ingatan yang paling terakhir yang hilang, kamu masih ingat kan alamat rumah dan dimana kamu kuliah?”
                “De?”
                “Coba sebutkan?”
                “Aku tinggal sendirian di Seoul, aku mahasiswi semester 6 di Dongguk University..”
                “Kamu masih ingat kan? Lalu coba sebutkan apa yang terjadi sebelum kamu berada disini?”

                Matanya menerawang jauh, raut mukanya pecah, dahinya bekerut, mencoba untuk merunut dan mengembalikan ingatan kejadian sebelum hari ini. Seohyun bersusah payah dan malah membuatnya pusing sendiri, kemudian ia menggeleng.

                “Sebutkan hari apa ini?”
                “Kamis kan?”
                Yonghwa menggeleng.
                “Jumat”
                “Tapi, apa tidak bisa kamu menceritakan kenapa aku ada disini? Apa yang terjadi padaku? Aku harus cepat-cepat kembali ke rumahku, aku harus kuliah. Bisa antarkan aku pulang?”
                “Ani, lebih baik untuk saat ini kamu tidak pergi kemana-mana.. “
                “Loh? Memangnya kenapa?”
               
                Yonghwa melenggang untuk membuka jendela, membiarkan sinar matahari pagi masuk melaluinya, dan Seohyun menutup wajanhnya karena sinar matahari itu langsung menembus wajah dan matanya.

                “Jung Yonghwa-ssi. Aku sama sekali tidak tau apa yang terjadi. Siapa anda dan dimana saya? Tapi saya tidak bisa percaya dan diam disini begitu saja.. saya harus kembali ke rumah saya..”

                Seohyun bangkit namun tak lama tubuhnya ambruk akibat keram di sekitar punggungya.
                “aaaah!”
                “Yah! Gwenccana!!”

                Yonghwa kemudian mengangkat tubuh Seohyun ke kursi dimana ia tertidur tadi, ia mengambil sebuah obat oles.
                “Berbalik..”
                “Appooo..” Katanya nyaris menangis..
                “Aku akan mengobatimu..”
                “Aku ingin pulang!!”

                Yonghwa menggunakan sedikit kekuatanya untuk membalikan tubuh Seohyun dan memijat punggung Seohyun.
               
                “Appaaaaa!!” Teriaknya ketika pijatan Yonghwa berada tepat di titik pusat nyeri.
                “Mianhae.”

                Kemudian Yonghwa memasukan tanganya ke celah baju Seohyun dan mengoles obat pada bagian sakitnya, Seohyun ingin sekali protes karena bagaimanapun Yonghwa adalah orang asing yang ia tidak kenal, dan keadaan ini benar-benar di luar kendalinya. Tapi mau bagaimanapun Yonghwa hanya satu-satunya manusia disini, ia masih beruntung Yonghwa mau mengobati sakit yang amat sangat di punggungya itu. Entah apa yang sebenarnya menimpanya, namun rasanya begitu sakit.

                “Gomawo ..” Kata Seohyun di sela tangis kesakitanya.
                “Sudah tidak terlalu sakit kan?” Seohyun mengangguk
                “Mau jalan-jalan tidak?”
                “De?”
                “Mungkin itu bisa membantumu lekas sembuh..”

                Yonghwa membalikan tubuhnya dan sudah menyiapkan punggungnya untuk menggendong tubuh Seohyun, tentu saja Seohyun tidak akan sanggup berjalan. Tubuhnya akan mudah ambruk, namun sayang sekali kalau harus melewatkan pemandangan indah di Jinhae pada musim semi seperti ini..

                “Gwenccana..” Kata Yonghwa, dan membuat Seohyun meyakinkan diri untuk naik ke punggungnya.

***
                Malam itu, misi mereka berjalan Mulus, Dujoon, Lee Joon, Jonghyun dan Yonghwa sudah berhasil menghabisi keluarga Kim, termasuk kedua anak mereka yang katanya tinggal di Luar Negeri Untuk kuliah. Namun Yonghwa menghilang tanpa jejak setelah ia mengatakan akan mengurus gadis yang di pukul oleh Jonghyun. Mereka bertiga kalang kabut mencarinya, namun pada akhirnya mereka membiarkan Yonghwa menghilang sendirian. Kesalahan Jonghyun memang, mereka tidak seharusnya menyakiti yang bukan target mereka.

                Alasan empat sekawan membunuh seluruh keluarga Kim yang terkenal baik itu karena mereka merupakan pembunuh bayaran, yang sengaja di bayar mahal untuk menghancurkan keluarga Kim, yang usahanya kian sukses dan semakin disukai banyak orang.

                Malam itu, Yonghwa mengendap-ngendap sambil menuntun Seohyun yang sudah pingsan ke dalam mobilnya, kemudian melesat pergi ke Jinhae. Ada sesuatu yang membuat hatinya begetar, yang membuatnya ingin membawa gadis dengan kulit putih bak salju itu pergi menjauh, ia tau gadis ini akan terlibat dalam kasus pembunuhan yang mereka lakukan. Dan melihatnya seperti ini Yonghwa tidak yakin apakah ia akan tega membiarkan orang yang tidak bersalah masuk penjara atas apa yang tak pernah ia lakukan sama sekali.

                Sesampainya ia di Jinhae, Yonghwa mencoba untuk meredakan kesakitan Seohyun dan membawanya ke rumah kecil yang ia miliki di Jinhae, ia menyembunyikan mobilnya dan berusah untuk tidak disadari kehadiranya oleh siapapun sama sekali.

***
                Jumat pagi, poster wajah Seohyun sudah disebar luaskan ke seluruh Seoul, juga kabar tentang pembunuhan satu keluarga kaya raya yang merupakan pengusaha sukses di Seoul itu sudah tersiar di televisi. Beberapa tetangga Seohyun di apartemen tempatnya tinggal sudah di mintai keterangan, dan tidak ada yang melihatnya sama sekali sejak kemarin pagi.
                Asumsi polisi semakin kuat, sementara teman-teman kampus serta keluarganya yang sudah di hubungi untuk memastikan keberadaanya sama sekali tidak percaya, terlebih tidak ada satu harta kekayaanpun yang di curi dari rumah keluarga Kim. Lantas mengapa gadis sebaik Seohyun membunuh keluarga itu?

                Ibunya sudah menangis dan memohon pada polisi mencoba untuk menjelaskan bahwa putrinya adalah anak yang sangat baik dan tidak mungkin melakukan kejahatan macam ini, ia menceritakan dalam tangis yang deras bahwa Seohyun merupakan pengajar piano untuk keluarga Kim dan uangnya di gunakan untuk biaya hidupnya dan sebagian di kirim ke Namil. Kendati begitu, polisi tetap melanjutkan penyelidikan karena tidak adanya saksi yang melihat keberadaan orang asing di rumah itu selain Seohyun.

                Yoona, dan Mrs. Lim serta teman-teman sekelas Seohyun sendiripun sudah menangis sejadinya, mencoba membela sahabatnya itu karena mereka semua yakin bukan Seohyun pelakunya.

                “Bagaimana kami bisa tahu bahwa dia bukan pelakunya jika dia sama sekali tidak menampakan diri?”

                “Mungkin saja kan Seohyun juga merupakan korban?”
                “Tapi tidak ada sidik jari maupun saksi yang melihat orang lain disana..”
                “Temukan dia.. Aku percaya bahwa Seohyun tidak akan melakukan hal itu..”

***

                Seohyun memandangi sisi kiri dan kananya yang di penuhi dengan bunga sakura yang bermekaran di musim semi itu, tanganya tak lepas dari bahu Yonghwa yang sepertinya tak lelah menggendongnya berkeliling disekitar Jinhae sejak tadi.

                “Mau ke sungai?” Tanya Yonghwa
                “Keurom..” Jawabnya semangat.

                Yonghwa berjalan pelan hingga menemukan sungai yang airnya bening dan aliranya tidak terlalu deras, mencari tempat untuk mendudukan Seohyun.
                Seohyun membiarkan kakinya merasakan aliran air sungai itu, matahari pagi begitu hangat memeluk tubuhnya.

                “Aku, tidak biasanya mempercayai orang yang baru aku kenal..” Kata Seohyun pelan “Tapi .. karena yang ada bersama aku hanya kamu, aku tidak punya pilihan lain.. “
                “Tsk. Aku juga tidak melakukan hal-hal aneh padamu kok..”
                “Aku percaya..”
                “Bagaimana kamu bisa mempercayaiku begitu saja? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Tanya Yonghwa tegas, tapi Seohyun menggeleng.

                “Kalau memang kamu orang yang jahat, mungkin aku sudah tidak hidup lagi, mungkin kamu tidak akan mau mengobati sakit di punggungku, memasakan sarapan, juga menggendongku kesini..”
               
                Yonghwa tertegun melihat senyumnya, wajahnya yang tersapu sinar matahari membuatnya terlihat seperti … bukan manusia biasa. Yonghwa tidak bisa mendefinisikan pemandangan indah macam apa yang ia lihat pagi ini.

                “Yonghwa-si. Apa kamu mengenalku sebelumnya?” Yonghwa menggeleng “Betul kan? Kamu bukan orang yang jahat.. bagaimana kamu bisa menjadi orang jahat sementara kamu mau menolong orang yang tidak kamu kenal sama sekali?”

                Nafasnya tercekat, tenggorokanya berasa kering, ia tidak tahu harus berbicara apa, seketika ia mengalihkan pandanganya dan membuyar ke arah lain, tak sanggup lagi harus memandangi perempuan polos itu, jika saja dia tahu sudah berapa puluh nyawa yang ia renggut dengan tanganya sendiri, jika saja dia tahu kalau Yonghwa bukan seperti yang dia pikirkan..

                “Gomawo..” Katanya lagi “Apapun alasanmu membawaku ke Jinhae pasti untuk kebaikanku kan? Mulai saat ini aku akan mempercayai apapun katamu..”

                “Jhogi. Seo Joohyun-si .. Kamu tidak bisa seperti itu..”

                “Wae?”

                “Ah sudahlah..”

                Yonghwa belum mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, siapa sebenarnya dia, mengapa ia membawa Seohyun kesini.. dan Perasaan meledak dalam dadanya.

                “Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya, terakhir kali aku ingat semalam aku baru saja tidur di kasurku sendiri..”

                “Jangan mencoba untuk mengingat-ngingat..”
                “Baiklah..”

                Seohyun menendang-nendang air sungai yang segar itu sambil memandangi sekelilingnya, bunga yang sudah bermekaran dan udara yang masih sedikit dingin.. Seohyun memeluk dirinya sendiri dan mengusap-ngusap lenganya.

                “Kenapa? Dingin ya?”
                “Aniya..”
                “Kalau tidak mau jujur aku tidak mau meminjamkan jaketku padamu..”
                “He..”
                “Tidak usah pura-pura..”

                Yonghwa mendekatinya dan menempelkan jaketnya pada bahu Seohyun.

                “Sudah yuk. Kamu tidak boleh lama-lama di luar. Seharusnya kamu istirahat..”

                Yonghwa kembali memposisikan dirinya untuk menggendong Seohyun di punggungnya, kini tanpa canggung Seohyun sudah berada di punggungnya.

                “Aku tidak tahu, kalau di gendong saat sudah dewasa dengan orang yang tidak aku kenali sama sekali bisa senyaman ini ya..”
                “Jangan berfikir yang tidak-tidak, aku bisa saja bersikap jahat padamu kan?”
                “Memang sih, mukamu itu menyeramkan sekali.”

                Yonghwa hanya bisa diam mendengar celotehan Seohyun yang begitu polos, seolah tidak ada satu orang pun yang pernah menggendongya seperti ini. Ada desiran hangat mengalir dari ujung kaki ke ujung kepalanya, Yonghwa bisa mencium wangi tubuh Seohyun dengan jelas, ia tidak ingin mengikuti perasaanya saat ini. Namun Seo Joohyun terlalu mempesona untuk di abaikan.

                Sesampainya di rumah kecil itu, Seohyun bukanya isitrahat malah mengajak Yonghwa menemaninya untuk mengobrol sedikit banyak.
                “Hey, aku ini mahasiswi psikologi .. aku bisa lihat kamu punya banyak tekanan.. makanya berbagilah..”

                “Tidak.. Terimakasih..”
                “Aish .. Oh iya! Dimana ponselku..”
                “Molla..”
                “Aaah! Bagaimana aku bisa menghubungi Yoona kalau aku ada disini! Dia pasti mencariku..”
                “Aku sudah bilang kan, kamu sebaiknya disini dulu, dan jangan memberitahukan keberadaanmu pada siapapun..”
                “Memangnya kenapa sih? Aku seperti buronan saja..”
               

                Yonghwa ada dititik dimana ia ingin tidur dan melupakan segalanya, ia tidak pernah ada dalam keadaan seperti ini, tidak sama sekali. Ia tidak pernah ingin berurusan dengan siapapun, tapi Seohyun sudah membuat jiwanya kembali, sebagai manusia yang punya hati. Selama ini Yonghwa tidak pernah mengindahkan perasaanya, ia seperti setan yang dengan  mudahnya menghunus pisau ke jantung korbanya. Tapi Seohyun, wajah tentramnya itu seperti minta dilindungi.

                “Aku mau tidur ya..” Yonghwa duduk di bawah dan menyenderkan punggunya di kaki kursi tempat Seohyun tidur, membuat kepalanya di bawah kaki Seohyun.

                “Kamu belum tidur ya?”
               
                Yonghwa hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.

***

                Yonghwa hanya mampu menutup mulutnya saat ia melihat orang tuanya di cekik hingga menghembuskan nafas terakhirnya, ia hanya bisa menangis sejadinya saat melihat ibunya tersenyum padanya sebelum akhirnya ia meninggal.  Ia kemudian berlarian mencari pertolongan namun tak ada satupun yang mendengarnya maupun menolongnya, ia terus berlalian hingga kakinya terasa akan lepas, ia begitu lelah namun tak ada satu orang pun yang mau menolongnya.

***

                “Kim..” Seohyun mengucap kata itu ketika ia menemukan secarik kertas dari saku jaket Yonghwa, ia menggelengkan kepala, sesuatu seperti memanggilnya kembali ke alam sadarnya. “Kim?” Sekali lagi ia mengulang perkataan itu.. “Ah Entahlah!!”

                Seohyun kemudian bangkit dari tidurnya karena perasaan terganggu dengan nama itu, ia mendapati Yonghwa tertidur pulas, namun seluruh tubuhnya hampir berkeringat, serta wajah yang begitu terlihat lelah dan takut.

                “Kamu bermimpi apa?” Bisik Seohyun sambil mengusap dahi Yonghwa yang penuh dengan peluh dengan Lenganya yang di lapisi jaket Yonghwa.

                “Omma.. Appa..” Bisiknya
                “Yonghwa-ssi?”

                Wajahnya kian muram, dan enatah mengapa tanganya seperti terus menggapai, kakinya seperti terus berlari..

                “Hey..” Seohyun kemudian menggetarkan tubuh Yonghwa pelan untuk membangunkanya, namun sepertinya ia masuk semakin dalam ke mimpi buruknya.
                “Yonghwa-ssi” Seohyun menggetarkan lagi namun kali ini lebih keras dari sebelumnya.

                “HAH!!”

                Dadanya naik turun tak tekendali, matanya memencar tak karuan, keringatnya makin deras dan ia tidak bisa mengatur emosinya, Yonghwa seperti orang linglung yang mencari perlindungan, ia menengok kesana kemari entah mencari atau menakuti apa.
                “Yonghwa-ssi. Wae Keur—“

                Yonghwa langsung menghambur memeluk Seohyun yang tak bisa menuntaskan kalimatnya, Seohyun bisa merasakan detak jantungnya yang begitu cepat. Meskipun kaget namun Seohyun mencoba untuk membuat dirinya setenang mungkin, kendati Seohyun tidak mengerti hal apa yang membuatnya takut. Seohyun membalas pelukanya, sambil mengelus punggungnya agar membuat nafasnya teratur.

                “Omma..” Bisik Yonghwa
                “Na ya, Seohyun..” Kata Seohyun sambil terus mengelus punggungnya, entah mengapa Yonghwa mempererat pelukanya itu. Dan membuat Seohyun semakin bingung dengan keadaan ini.

                “Aku tidak ingin tidur lagi..”
                “Tenangkan dirimu..”
               

                Setelah merasa tenang Yonghwa kemudian melepas dekapanya dari Seohyun, dan menundukan kepala ke lututnya, tubuhnya sudah melemas tidak setegang tadi.

                “Maafkan aku Seo Joohyun-ssi”
                “Gwenccana..”

                Tidak ada percakapan lebih, setelah itu mereka hanya saling diam dan membuat suasana sedikit canggung. Seohyun berusaha memejamkan matanya karena ia ingin mengingat apa yang sebenarnya terjadi.

               

***

                Jumat Berikutnya, Siang Hari    

                Apartement Grup.

                Joon masih mondar mandir setelah satu minggu tak ada kabar dari Yonghwa yang melenyap begitu saja, entah bagaimana kabarnya, apa ia sudah tertangkap kemudian mati atau dia masih bersembunyi di tempat yang mereka tidak ketahui sama sekali. Ia menyalakan tv setiap hari, padahal hal itu sangat di larang di lingkungan mereka. Namun ketakutanya akan kehilangan Yonghwa membuat Joon tidak punya pilihan lain selain menonton setiap berita.

                “Joohyun masih belum di temukan ya?” Tanya Dujoon dingin dari belakang
                “Apa kau tidak mengkhawatirkan Yonghwa sedikitpun?”
                “Dia kan sudah ahli.. kenapa harus khawatir?”
                “Aish! Neo! Jajjeuna!”

                Lee Joon pergi dan menutup pintu sekeras mungkin, setelah Joon dan Jonghyun lenyap, Dujoon kemudian menyalakan tv, mengamati dengan seksama berita yang itu-itu saja, buronan yang masih sama. Dan ia tertunduk sambil berdoa.

                “Tuhan. Selamatkan mereka berdua..”

                Dujoon yang merupakan ketua kelompok itu, tidak pernah ingin kehilangan satupun dari mereka, cukup saat ia meninggalkan L dan membuatnya di tembak mati oleh polisi, kali ini ia tak mau kehilangan lagi. Biarpun ia terlihat santai di hadapan anggota yang lain, tetap saja perasaanya di hantui ketakutan. Jika ia bisa, ia ingin menukar posisinya dengan Yonghwa.

                “Dimana kamu? Apa kamu masih hidup? Yonghwa-ya..”


                Universitas Dongguk.

                Sanak Saudara, pekerja pabrik serta kerabat dari keluarga Kim berhamburan di lapangan Dongguk, mereka mendemo agar Dosen dan teman-teman Seohyun tidak menyembunyikan keberadaanya, dan meminta agar Seohyun di hukum setimpal dengan apa yang telah ia lakukan. Sementara situasi semakin ricuh, tidak ada yang bisa Dekan dan Dosen serta teman-teman Seohyun lakukan, mereka pun sama sekali tidak mengetahui keberadaan Seohyun.

                Kebanyakan orang, begitu mengumpat dan membenci Seohyun, tak jarang Apartemen Seohyun telah di rusak dan banyak tulisan mengecam atas kriminalitas yang ia lakukan. Sementara teman-teman kerabat serta keluarga dan para dosen masih begitu mempercayai bahwa Seohyun tidak melakukan kejahatan tersebut.

                Andai saja satu dari keluarga Kim masih hidup, mereka bisa memberikan kesaksian, Bahwa bukan Seohyun yang telah membunuh anggota keluarganya.


-          To Be Continue    -




a/n : Duh, akhirnya setelah bertahun-tahun hiatus bikin fanfic bikin juga deh haha. asalany ini mau di jadiin oneshoot sayangnya kepanjangan dan keburu ngantuk buat ngetik ampe beres. Jadi tunggu part 2 nya ya . ini cuma bakalan dibikin 2 part kok.
dan plis jangan nanyain NMTF yaaa, soalnya aku rada amnesia mau di jadikan gimana fanfic itu hahah.
makasih ya yang masih aktif maen ke blog ini dan nunggu post selanjutnya.
oh ya kalo Yongseo moment, Insyaallah akan di update Awal tahun 2015 ^^, Be Patient Be Ready ya ..

jangna lupa tinggalin jejak komen di bawah ..
gomawooo..

Ismi Nuraulia.

4 komentar:

  1. Hhe mbak..pas bca udh kpkiran mn nmtf yah. Tp trnyta udh d ksh prngtan jgn bhas.hhe

    Sprti biasa q sllu suka tulisan karya mbak,^_^ d tggu part2 ny mbak :)

    BalasHapus
  2. Bagus ceritanya ditunggu lanjutan ceritanya semangat

    BalasHapus
  3. Bagus ceritanya ditunggu lanjutan ceritanya semangat

    BalasHapus
  4. Bagus ceritanya ditunggu lanjutan ceritanya semangat

    BalasHapus