No
More Tears Formula
Chapter
8
Air
putih, Embun, Matahari, dan Segumpal Awan.
Cast
:
Jung
Yonghwa
Seo
Joohyun
Choi
Junhee (Juniel)
Kang
Minhyuk
Lee
Jungshin
Lee
Jonghyun
Im
Yoona
Jung
Eunji
Dadanya naik turun menahan emosi,
tanganya mengepal penuh amarah akan sanksi, sementara yang di pukuli hanya
tersungkur begitu saja tanpa ambisi untuk memukul balik yang sedang beraksi.
Disudut lain hanya diisi dengan teriakan-teriakan dan tangisan antara Juniel,
Seohyun dan Eunji, Jungshin yang juga sempat terkena pukulan, sekuat tenaga
kini sedang mengaitkan tanganya diantara bahu Yonghwa untuk menahan emosinya
yang meledak-ledak.
“Oppa..” suaranya terseret pilu “ku
mohon tidak memukulinya lagi..” Juniel menjatuhkan dirinya dari tempat tidur
dan membuat Seohyun tergopoh-gopoh cepat menahan tubuh yang ambruk ke lantai itu, kemudian Juniel memeluk
Minhyuk.
“berhenti memukulinya. Ku mohon”
Minhyuk pelan menatap wajah gadis yang memohon dengan iba pada kakaknya,
sementara mukanya sudah penuh dengan darah dan lebam dimana-mana.
Jungshin terusik dengan adegan itu,
tanganya yang tadi kuat memegangi tubuh Yonghwa kini melonggar, begitupun
dengan Seohyun yang memegangi tubuh Juniel, konsentrasinya pecah, wajah
Jungshin terlihat pasrah.
Yonghwa hanya tergugu, tidak
mengerti, mengapa Juniel dengan mudahnya luluh dan memaafkan laki-laki itu.
“apa Oppa tau? Dia, laki-laki ini ..
adalah salah satu orang yang mengisi kekosonganku?” jantung Jungshin rasanya
mau berhenti, hampir patah hati. “setiap malam aku menungguinya lewat di depan
YJ hanya untuk melihat dia beriringan bahagia dengan kekasihnya…” nafas
Jungshin mengendur mendengar kata ‘kekasih’ keluar dari mulut Juniel.
“ada kalanya tanpa diketahui banyak
orang, dia membagikan kebahagiaanya kepadaku, anggaplah dia pembawa
keberuntungan untuku Oppa..”
“keberuntungan? Persetan !! sekarang
kamu malah mau menyudutkan Oppa? Begitu? Dan jika berengsek ini tidak memberi
tahu kamu lumpuh kamu akan terus diam? Sampai kapan? Hah?” emosi Yonghwa
kembali meledak
“dan sekarang Oppa sudah mulai
membentaku..” Juniel menangis. Yonghwa terkikis, airmata Juniel sejenis
kekuatan majis untuknya, ia bisa meleburkan amarah, apalagi kebencian, dan
Yonghwa melepaskan diri dari Jungshin, kemudian menghampiri Juniel.
“jangan pegang aku Oppa..” Juniel
mengelak, Seohyun kemudian memundurkan tubuh Yonghwa, keadaan seperti ini tidak
akan berujung baik untuk kesehatan Juniel, dia masih dalam masa-masa
penyembuhan, dan tidak diizinkan untuk stress sama sekali.
“sudahlah, Minhyuk-ssi, lebih baik
kamu keluar sekarang..” Jungshin membuka suaranya yang sedari tadi dipendamnya
dalam dada.
“kalau tidak ada kecelakaan ini,
mungkin Oppa tidak akan menemaniku hari ini, dan tetap berada di perantauan
yang aku tak tau dimana tempatnya, mungkin jika tidak ada kecelakaan ini,
sampai mati aku akan sendirian di Seoul. Mungkin Oppa tidak akan pernah
menganggapku ada. Yang ada hanya Eunji, dia mungkin menggantikan posisiku.”
‘lah..
aku jadi kebawa-bawa..’ bisik Eunji tersentak dalam hati ‘Juniel tau tidak? Dia itu sangat sinis
kepadaku, tidak benar aku menggantikan
posisimu..’ namun kalimat itu terus
di telan sendiri oleh Eunji.
Itu merupakan pukulan telak yang
membuat Yonghwa K.O, jika dilihat dari sudut pandang lain, memang betul,
Minhyuk justru membawa Yonghwa kembali ke titik asalnya, titik dimana ia
mencintai Juniel tanpa ingin meregangkan kebersamaan mereka.
“jadi sebelum Oppa melimpahkan
kesalahan pada Minhyuk, tolong introspeksi diri Oppa sendiri..” tatapan Juniel
menajam, merajam dan memporak-porandakan perasaan Yonghwa sekaligus.
“Seohyun-ssi, bisakah anda dengan
Jungshin juga Eunji keluar dari sini, sepertinya saya butuh berbicara penting
dengan mereka berdua.” Yonghwa tidak memberikan tatapan matanya pada Seohyun,
kenapa? Karna lama-lama tatapan itu bukan tatapan biasa, akan melebur menjadi
wujud dari cinta yang baru tumbuh menggema di dadanya.
Seohyun bangkit dan menarik tangan
kedua orang yang termasuk daftar absen untuk keluar dari ruangan itu. dan tebak
saja, perasaan Jungshin semakin kalut tidak karuan, ia ingin mengatakan pada
Yonghwa saat itu juga, ia akan menemani Juniel dalam semua ketidak berdayaanya,
menerima Juniel apa adanya, karena ia mencintainya.
Sayangnya, tak ada kesempatan
sedikitpun untuk mengungkapkan perasaanya.
“kalian lebih baik menunggu di
tempat lain, aku ada janji..”
“Noona..” Jungshin menggenggam lengan Seohyun erat saat
Seohyun hendak berlalu dari pandanganya. Ada nada gusar penuh makna dalam suara
itu, dalam tatapan itu.
“tidak perlu khawatir, Juniel tidak
akan memberikan perasaanya pada Minhyuk, percaya padaku.” Seohyun mantap
mengagguk.
***
Lama Jungshin dan Eunji hanya
berjalan beriringan tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulut mereka
berdua. Hanya kosong dan jeda yang menerus, malah membuat suasana hati tidak
nyaman.
“Eunji-ya.. kamu pernah jatuh
cinta?” Langkah Jungshin melambat.
“tidak.”
“pantas saja.”
“kenapa?”
“kamu tidak bisa merasakan apa yang
aku rasa.”
“memang.” Jungshin berhenti menatap
Eunji yang menjawab dengan polosnya “aboji mengatakan padaku, banyak hal yang
harus aku pikirkan selain jatuh cinta, dan memang. Melihat teman-temanku yang
sudah mengalami siklus percintaan, sepertinya memang menarik, tapi untuk
orang-orang seusiaku, itu hanya fatamorgana, justru malah menjadi zat adiktif
yang membuat kecanduan, tidak baik untuk masa pertumbuhan juga pembelajaran.
Nah bayangkan saja, waktunya belajar malah melamun-lamun seperti Oppa saat
ini.”
“ish” Jungshin menjitak kepala Eunji
“wae?”
“aku tidak butuh khotbahmu itu
tauk!”
“eeeeh, yasudah, ambil garis lurus
saja, kalau memang suka, bilang saja langsung.”
“aish.. jinjja, kamu sama sekali
tidak mengerti, dasar bocah ingusan..” Eunji hanya melengos dan mengangkat
kedua bahunya. Membuat Jungshin tambah kesal.
***
Seohyun memegangi amplop putih itu.
semua orang pasti penasaran dan bertanya-tanya mengapa ia ingin berhenti.
Sebenarnya dia tidak berhenti. Seohyun akan mendedikasikan waktunya untuk menunggu
kekasihnya pulang dan kembali, hari ini mereka akan membahas tentang pernikahan
mereka yang tidak lama lagi.
Ia mengangguk-anggukan kepala sambil
tersnyum berseri-seri, pembicaraan itu sudah sangat lama berlangsung, Jonghyun
menepati janjinya untuk membawanya ke altar pernikahan. Kedua belah keluarga
sudah sepakat dan saling mengikat, lalu menunggu apa lagi? Ketika harta sudah dengan
mudah di rauk? Ketika kemapanan sudah bukan untuk di pertanyakan? Ketika bahkan
dua hati sudah tak ingin dipisahkan? Untuk apa lagi menunggu. Waktunya sudah
tepat. Selebihnya, Seohyun bisa merawat Yoojin juga Juniel sendirinya, jika
selama bertugas sebagai perawat ia harus bolak balik ke kamar pasien lain, maka
setelah ia terlepas dari seragam tugas, ia akan bebas menjaga dan merawat
mereka berdua. Seohyun semakin mantap dengan keputusanya.
“akan mudah menjelaskan pada
semuanya jika mereka bertanya-tanya.. pernikahan itu sudah di depan mata..”
jantungnya berdegub cepat.
“yobseo Oppa.. oh nee, cangkeumman..
aku segera kesana..”
***
Yonghwa menatap Minhyuk tajam dari
tempat duduknya. Juniel hanya menunduk tak ingin meneruskan perselisihan antara
dua laki-laki itu.
“lantas apa yang membuatmu berani
menampakan diri dan malah tau-tau ingin melindungi Juniel? Kamu bukan
siapa-siapa selain sampah yang membawa malapetaka pada Juniel” ucapanya sengit
dan membuat keadaan tambah runyam.
“karna aku mencintainya.” Sontak
Juniel tergugu di tempatnya, sementara lengan Yonghwa mengepal bergetar, jika
ia tidak menahanya satu pukulan lagi sudah mendarat menyisakan lebam di wajah
yang memang sudah babak belur itu.
“jangan mempermainkan Juniel! Dia
bilang kamu sendiri sudah memiliki kekasih. Apasih sebenarnya maumu hah?”
Minhyuk berbalik dan malah menatap
Juniel, tidak menghiraukan emosi Yonghwa yang tak redup juga. Minhyuk berdiri
kemudian menggenggam tangan Juniel.
“suatu malam, aku pernah berada
dalam suasana hati yang kalut dan tak tentu arah. Kemudian aku memutuskan untuk
pergi dari rumah, salah satu tempatku untuk berhenti adalah kios ddokboki kecil
di sebrang YJ… sudah ingat?” Minhyuk menurunkan kepalanya mencoba menembus mata
Juniel yang disembunyikanya dalam tunduk yang kaku. Juniel menggeleng, dan kini
mata mereka bertemu. Sementara Yonghwa mencoba meredam amarahnya, mendengarkan
dengan seksama penjelasan dari Minhyuk.
“sebenarnya, saat itu aku sedang
meminum sebotol soju, ada seseorang datang padaku, dan hanya duduk kaku
disampingku.” Kata-kata itu kemudian membawa segenggam memori dari satu tahun
silam di kepala Juniel. Ia mengingatnya. Laki-laki itu. ternyata…
A
Years Ago
Juniel masih menatap lampu halogen
yang kelap kelip disetiap sudut ruangan di tokonya. Menjelang jam pulangnya ia
selalu menatap jalanan yang juga mulai lengang. Biasanya setelah malam tiba ia
selalu menyempatkan diri menghampiri ahjumma di sebrang jalan.
Tapi lihat itu, saat Juniel
mengalihkan pandanganya, ada seorang laki-laki memakai topi juga mengikatkan
scraft di lehernya, teguk demi teguk kepedihan ia telan bersama sebotol soju di
tanganya. Juniel merasa iba. Lama Juniel memperhatikan orang itu. sepertinya ia
sangat kesepian.
Juniel ragu duduk di samping pria
itu, setelah lama membisu Juniel mengangkat satu buah gelas dan mengisinya
dengan air putih. Ia menyimpan gelas itu di hadapan Minhyuk
“ini..” suaranya tegas “kamu mungkin
meminum soju, ingin meneguk kopi, jus ataupun teh dan berbagai minuman lain,
tapi pada akhirnya, kamu akan kembali membutuhkan air putih, hanya air putih.”
Juniel tersenyum, kemudian mengangkat lengan Minhyuk dan menyematkan gelas
berisi air putih di telapak tangan Minhyuk. “selamat malam..” lalu ia berbalik
pergi.
Samar-samar Minhyuk menatapi wajah
gadis itu, yang kini berlalu memunggunginya, dadanya yang tadi terasa sangat
panas, kini menguap, berubah hangat.
***
Yonghwa hanya duduk di tempatnya
menatap dua orang yang saling bertatapan, Juniel terkejut. Minhyuk terenyuh. Ada
cinta dimatanya.
“kamu benar Juniel, aku membutuhkan
soju, kopi, jus dan teh, tapi pada akhirnya aku kembali pada airputih.. kamu
tau? Kata-kata itu tersimpan jelas-jelas dalam kepalaku. Kamu tau? Aku terlahir
dalam keluarga yang sangat harmonis, namun penuh kepalsuan. Suatu hari aku
kabur dari rumah dan sering melakukan kegiatan negativ, kemudian kamu
mengingatkanku, akan airputih, kamu benar, aku sudah habis meminum soju,
meneguk anggur, meminum jus, kopi dan berbagai macam jenis minuman, tapi pada
akhirnya aku kembali pada keluargaku. Merekalah airputihku. Dan bagiku, kamu
adalah sumber penghilang dahaga dari butanya hatiku, aku bertemu denganmu dan
kamu adalah sumber dari mata air itu, airputih yang tak akan pernah bisa aku
tinggalkan..”
Yonghwa tercekat sekaligus merasa
tertampar saat itu juga, kata-kata itu, airputih itu … itu adalah kalimat yang
pantas Juniel ucapkan padanya. Juniel memang pelita sekaligus air putih yang
tak bisa ditinggalkan, Yonghwa terkubur di jurang pedih mendalam, mencoba
memahami perasaan Minhyuk, juga Juniel bergantian.
“cukup.” Katanya “lalu apa yang kamu
mau Minhyuk-ah?” suaranya yang parau menunjukan emosinya melumer.
“aku .. sudah mengatakanya tadi ..
sekali lagi … aku ..”
“aku ingin, menjaganya .. sebisaku
.. seumur hidupku .. jika ia butuh kaki, aku akan menajdi kakinya, kapanpun
dimanapun saat ia membutuhkanku. Bukan karena perasaan bersalah atau empati
atas kecelakaan ini, tapi , karena aku tulus, tulus mencintainya.” Juniel mentap
Minhyuk tak percaya dengan mata bundar yang hampir keluar dari cangkangnya.
“t—tapi..” Juniel mengelak “bagaimana
dengan Jiyeon..” lirihnya. Minhyuk tersenyum dan menepuk kepala Juniel.
“dia hanya anak dari teman bisnis
ayahku, aku sudah mengenalnya sejak kecil, dan kita tidak memiliki hubungan
apapun..” jawabnya mantap.
Yonghwa malah melongo melihat
kejadian ini, dia menanggalkan semua emosinya sekuat tenaga untuk benar-benar
mencerna apa yang sebenarnya Juniel inginkan.
“aku tidak tau harus berkata apa. Bicaralah
kalian berdua, aku lebih baik keluar.” Yonghwa berdiri dan meninggalkan Minhyuk
bersama Juniel. Ia tidak merasa cukup pantas untuk menghalangi keinginan Juniel
ataupun Minhyuk, punya hak apa dia? Sudah meninggalkan Juniel sendirian
sekarang ingin mengatur hidupnya? Lupakan hal bodoh itu Jung Yonghwa.
***
“jadi kamu menyukai Juniel?”
“hm” jawab Jungshin pendek
“kenapa tidak bilang?”
“tidak segampang itu tau tidak ish
!! kamu bukanya membuat perasaanku membaik malah bikin tambah runyam sial !!”
“eey.. tsk tsk .. aneh sekali …
makanya lain kali tidak usah sok sok misterius, sekarang giliran dia sudah mau
di ambil orang Oppa juga yang repot kan.. kasian sekali..” Eunji cekikikan. “Oppa
aku ingin makan eskrim ..”
***
Yonghwa berhenti saat melihat mobil
Jonghyun terparkir di pelataran parkir Seoul Hospital. ‘lihatlah dia, tampan, kaya raya, berasal dari keluarga baik-baik. Dan memiliki
kekasih yang sempurna. Waw .. Jonghyun memiliki segalanya yang aku inginkan.
Namun Yonghwa terkejut saat melihat
yang disebelahnya itu.. Yoona .. dan sekarang mereka ..
Buru-buru Yonghwa berlari mencari
Seohyun, berharap secepatnya menemukan Seohyun, terengah-engah ia akhirnya
menemukan Seohyun yang sedang berlari dengan tawa penuh tersungging di
bibirnya.
“Seohyun-ssi !!” teriaknya sambil
terengah-engah
“oh ? Yonghwa Oppa?” buru-buru
Seohyun mendekatinya “waeyo Oppa? Bukankah kamu harus menemani Juniel dan
Minhyuk?”
“ani, aku muak..” jawabnya cepat “mau
kemana?”
“menemui Jonghyun Oppa.. kenapa Oppa
memanggilku?”
‘jangan..’
“aku butuh obat sakit kepala,
rasanya kepalaku ini mau meledak” ‘aku
hanya tidak ingin kamu menghampiri Jonghyun, aku tidak siap melihatmu terluka..’
“jeongmal? Ottoke, ini pasti karena Oppa
kurang tidur, lalu emosi meledak-ledak ..”
‘bukan,
ini karena aku baru saja melihat kekasihmu bercumbu di dalam mobil dengan
sahabatmu, kepalaku rasanya benar-benar mau pecah’ “iya mungkin begitu
Seohyun-ssi, bisakah kamu memberiku obat itu?” Yonghwa mencoba mencegah Seohyun
menemukan pengkhianatan keji itu.
“baiklah.. ikuti aku Oppa..”
‘aku
akan mengikutimu kemanapun kamu pergi, sekarang aku tidak bisa membiarkanmu
masuk dalam perangkap manusia sialan itu. aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun, mari kita main-main
dengannya, mulai sekarang.’
“arraseo seohyun-ssi..”
***
Yoona melumat habis bibir Jonghyun
yang sedari tadi menggodanya untuk mendarat dalam hasrat, Jonghyun meremas
kencang paha Yoona yang hanya dilapisi rok katun tipis. Mereka berderu dalam
nafas yang berat, ciuman itu sangat liar dan berlangsung lama, sejak mobilnya
terparkir di tempat yang masih sepi itu.
“O—pp—a..”
“h-mm..” Jonghyun menurunkan
bibirnya dan kini bersarang di leher Yoona, ia mulai mengerang menikmati. Selanjutnya
hanya suara nafas yang terdengar. Kemudian Jonghyun berhenti. Mereka berdua
menatap cermin dan membereskan pakaian juga rambut mereka yang berantakan.
“ish Oppa..”
“wae?” Jonghyun mengelus pipi Yoona
“jangan meninggalkan kiss mark
sembarangan, ish .. bagaimana jika orang melihat..” Yoona protes saat mendapati
warna merah di lehernya.
“mianhe..” Jonghyun hanya
cengar-cengir
“oh ia, hari ini mau membahas
pernikahan ya?”
“hm..”
“semangat dong chagiya.. kan ini
yang kalian tunggu-tunggu..” Jonghyun menatap Yoona nenar
“memang kamu tidak sakit hati ya? Gampang
sekali menyemangatiku, seolah tidak memiliki beban..” Yoona menarik nafas dalam,
lalu mencium bibir Jonghyun lagi lembut.
“Oppa.. sejak kecil aku dan Seohyun
sudah bersahabat. Sedari kecil sudah memang begini takdirnya, aku mengalah
untuknya.. tapi dia membagi segala sesuatu yang ia punya, termasuk .. kamu ..”
“tapi.. kita akan sulit sekali
bertemu.. dan ..”
“tidak usah khawatir.. intensitas
waktumu denganku lebih banyak ketimbang dengan dia.. kita masih berada di satu
plane sayang.. jangan lupakan itu..”
“yoona saranghe..” Jonghyun menarik
leher Yoona dan menciumnya lagi, dalam dalam lebih dalam memberitahunya bahwa
ia mencintai Yoona lebih dari apapun, lebih dari siapapun, jika Jonghyun cukup
mencintai Seohyun, maka Yoona, ia sangat mencintainya, tanpa ikatan, tanpa
aksara untuk menjelaskan. Mereka saling mencintai dalam kelam yang menghujam.
***
Yonghwa mengikuti langkah Seohyun
hingga ke ruangan perawat yang sepi, Seohyun terlihat sangat serius mencari-cari
sebutir obat sakit kepala untuk Yonghwa. Tak lama, Yonghwa menggenggam lengan
Seohyun, dan menariknya dalam pelukan.
Seohyun terperanjat kaget, tau-tau
wajahnya sudah berada di balik punggung Yonghwa.
“o—ppa.. wae kerae ?” Seohyun
mencoba melepaskan diri, namun pelukan itu tambah erat membuat perasaan Seohyun
campur aduk, antara bingung, gugup, takut dan malu.
“gomawoyo Seohyun-ah..” nafasnya
tertahan, Yonghwa sama gugupnya, bukan gugup karena malu, tapi karena ia harus
menyembunyikan detak jantungnya yang berdebar sangat cepat. “terimakasih sudah
menajaga Juniel .. sudah merawatnya dengan baik..”
Seohyun kemudian menarik tubuhnya
kuat, keluar dari pelukan itu
“ani imnida Jung Yonghwa-ssi.. ini
obatmu, aku harus segera menemui Jonghyun Oppa.. “ Seohyun tertunduk dan
berbalik cepat, meninggalkan Yonghwa sendirian disana.
Sayup-sayup Yonghwa menatap punggung
Seohyun nenar, tidak menyesali apapun yang baru saja ia lakukan. Seharusnya yang
keluar itu .. “sarangheo..” bukan “gomawoyo..”
“aku harap kamu tidak terluka .. aku
harap Jonghyun hanya beramain-main dengan Yoona, tapi kumohon jangan terluka
Seohyun-ssi.. jangan..”
***
Seohyun memegangi dadanya, ia hampir
kehilangan keseimbangan, rotasi bumi rasanya berjalan dengan sangat cepat
hingga ia merasakan oleng begitu saja. Ia memegangi kepalanya yang terasa
sangat pusing.
“apa ini..” tanyanya pelan. “ada apa
denganku.. mengapa dia memeluku .. mengapa aku seperti ini..” gusar, Seohyun
memandangi wajahnya sekali lagi di cermin. Kejadian itu sangat cepat, ia harus
mengembalikan kesadaranya secara utuh, Seohyun kemudian berlari sekencangnya,
berharap perasaan bingung itu sirna saat ia menghampiri Jonghyun.
Seohyun memeluknya, menatap mata
Jonghyun lekat-lekat, membiarkan Jonghyun mencium keningnya lama di ruangan
itu.
Namun perasaan itu… jantungnya masih
berdegub kencang, wangi tubuh itu masih tercium jelas.
‘oh
tuhan, ku harap Jonghyun Oppa tidak menyadari kegugupanku..’
‘ku
harap Seohyun tidak menyadari wangi tubuh Yoona yang masih menempel di
tubuhku..’
“jadi pernikahan kita akan
terlaksana 6 bulan kedepan.. bagaimana Seohyun-ah?”
“jinjja? Jinjja jinjja?” Seohyun
berjinjit, hatinya senang bukan kepalang, namun debaran itu tak kunjung sirna,
malah membuat dirinya lupa, ia tersenyum untuk apa? Untuk berita pernikahanya? Atau
untuk … pelukan itu…
“hmm .. jinjja .. tapi mianheo dear,
kamu harus mempersiapkan semuanya sendiri untuk tiga bulan ini, schedule ku
padat tiga bulan ke depan.. gwenccana?” Seohyun tetap tersenyum sambil tersenyum
semangat, perutnya seperti terserang aliran listrik yang membuat bibirnya tidak
ingin berhenti membeberkan senyuman hangat.
“sarangheo Seohyun-ah ..”
“nado oppa.. dan jreeng ini dia”
Seohyun mengangkat amplop putih yang sedari tadi ia simpan di sakunya.
“mwo? Jinjja?” Jonghyun tersenyum
semangat
“jeongmalyo Oppa.. aku akan berhenti
dan memfokuskan diri untuk mu, dan pernikahan kita..” Jonghyun menelus rambut
Seohyun lembut.
“gwenccana Seohyunnie? Ini bukan
hanya sekedar pekerjaan untukmu, tapi hobimu..”
“mm” angguknya yakin “aku masih bisa
menyalurkan hobiku dengan merawat Juniel juga Yoojin-ssi.. jadi tidak ada
masalah..” kemudian dua insan itu bertatapan dengan senyum mengembang bahagia. Yang
sebenarnya mereka lupa, hati mereka tidak berada disana.
“sarangheo Oppa ... kamu matahariku
..”
Jonghyun merupakan matahari bagi
Seohyun, ia merupakan sumber kehidupanya, sejak mengenal Jonghyun ia merasa
dilengkapi system cinta yang tidak ada duanya, Jonghyun tidak pernah ingkar
janji, ya seperti matahari, ia tidak melupakan janjinya untuk terbit dan
tenggelam tepat waktunya.
***
Yonghwa mengintip dari sisi lain
yang tak terlihat oleh siapapun, ia tersenyum kecut
‘waw
.. Jonghyun kamu hebat sekali..’ Yonghwa memuji sungguhan ‘bagaimana kamu bisa memainkan dua peran
sekaligus dalam waktu yang sama?baiklah .. aku akan mengikuti permainanmu..’
Dan sekarang, bagi Yonghwa, Seohyun
menjadi sangat penting, awalnya ia menyerah, dan patah hati, tapi sekarang, genderang
perang itu dimulai.. tidak ada kata menyerah untuk memperjuangkan cintanya, ia
sama sekali tidak salah, ia jatuh cinta pada orang yang tepat di saat yang
tepat. Choi Seohyun. Yang mendera bagaikan embun penghilang dahaga. Jika Jonghyun
menjadi mataharinya yang justru membuat Seohyun akan kering kerontang dalam
kesengsaraan, maka Yonghwa akan menjadi awan pelindung untuknya, menghalau
matahari membakarnya langsung, membiarkan dirinya terlunta dalam sengsara di
dera panas yang tak terkira. Hanya untuk melindungi embunya .. Choi Seohyun.
To
be Continued …