YongSeo
Featuring – No More Tears Formula Chap – 9
Yoona – Where Is
The Light?
Aku pernah terambang di batas
nyawa
Nyaris mati di telan luka ..
Aku hampir punah di tengah duka
..
Hingga kini segalanya berbalut
gulita,
Aku bertanya pada Tuhan,
Aku mencari setitik keadilan,
Namun, dosaku ini, apakah
termaafkan?
Yoona
begitu santai saat meninggalkan Jonghyun juga Seohyun bersamaan, tidak terbesit
dalam benaknya untuk merasa cemburu atau iri pada Seohyun. Tidak lagi.
Yoona – Ketika ia berusia 6 tahun.
Gadis
kecil itu tergopoh-gopoh mencoba meraih pagar rumah tetangga di seberangnya,
tubuhnya menggigil hebat, musim dingin di Seoul malam itu membuat ia tidak bisa
merasakan kulitnya sendiri, tidak ada yang lain yang Yoona pikirkan selain
menggapai pintu rumah keluarga Choi.
“ahjumma
.. annyeongha—ss-eo..” suaranya terbata dan nyaris habis Yoona terus mencoba
menekan bel dan mengetuk-ngetuk pintu rumah itu. Yoona tak tahan lagi, rasanya
ia akan mati, kakinya begitu lemas dan suhu tubuhnya semakin dingin. Belum lagi
Yoona harus menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia tidak bisa lagi .. Yoona
Ambruk ..
klik
..
“nuguss—e?
Yoona-yaa?!” Mrs. Choi menemukan Yoona yang sudah nyaris pingsan di depan
rumahnya, Yoona hanya menggunakan pakaian tipis dan sekujur tubuhnya penuh
dengan luka lebam. Tanpa pikir panjang ia menggendong Yoona dan membawanya
masuk ke dalam rumah.
Yoona
sudah terbungkus hangat dengan selimut tebal, seluruh keluarga berkumpul di
ruang tengah, termasuk Choi Siwon juga Choi Seohyun, mereka menatap Yoona iba.
Seperti yang mereka ketahui, semenjak Ayah Yoona pergi entah kemana, Ibunya
menjadi sangat depresi, mudah terpancing emosi dan Yoona selalu dijadikan
bulan-bulannya, hanya untuk melapiaskan amarahanya pada suaminya yang begitu
saja pergi dan tidak pernah kembali.
“Omma
.. bisakah kita mengajak Yoona tinggal disini?” Seohyun merajuk sambil
mengelus-ngelus lembut rambut Yoona yang masih tak sadarkan diri. “omma tidak
akan membiarkan Yoona terus di pukuli kan? Iya kan?” lanjutnya masih dengan
nada memohon, Seohyun memiliki hati yang paling lembut di atara seluruh
keluarganya, tangan-tangan kecilnya tak segan untuk membantu yang membutuhkan,
kaki-kaki mungilnya tak gentar untuk berjalan ke tempat-tempat dimana banyak
orang membutuhkanya. Mrs. Choi mengangguk.
“tapi,
Ibunya yang jahat itu tidak akan mendatangi rumah kita kan Omma?” Tanya Siwon
cemas, masih lekat di ingatanya saat Yoona di tarik paksa ketika bermain
bersamanya juga Seohyun, Ahjumma itu tidak pernah mengijinkan Yoona untuk
keluar rumah, ia mengurungnya sepanjang hari. Miris memang, Siwon dan Seohyun
tidak bisa melakukan apapun selain menonton Yoona dengan tangisnya, saat ia
tergusur oleh langkah Ibunya yang galak.
“Choi
Siwon, anak laki-laki Omma yang paling bisa Omma percaya, boleh Omma bertanya
padamu?” Tanya Mrs. Choi tenang, ayah mereka hanya mengamati sambil menahan
kantuk. Siwon mengangguk.
“Seberapa
besar rasa sayangmu pada Seohyuni?” Ibunya mengusap kepala Siwon lembut, Siwon
terlihat berfikir dan menarik nafasnya sejenak, Seohyun mengantisipasi jawaban
yang akan keluar dari Oppanya.
“Omma,
aku tidak tau. Karena rasa sayang itu tidak punya takaran. Tapi kalau Seohyun
menangis, dadaku rasanya sakit sekali.. ketika Seohyun berdarah aku ingin
menangis. Apakah itu bisa di ukurkan sebagai rasa sayang?” Tanya anak laki-laki
berusia 10 Tahun itu polos.
“aku
pun begitu ..” jawab Seohyun setuju “aku menyayangi oppa sebesar ini….” Seohyun
menggambarkan bulatan sebesarnya dengan kedua tanganya “besar—besar sekali Omma
.. lebih besar dari dunia ini” ucap Seohyun mantap. Ibunya tersenyum dan
memeluk kedua anaknya.
“kalau
begitu, mulai dari sekarang bisakah kalian menyayangi Yoona sebesar itu? Jika
ia sakit, kalian menjaganya, jika ia menangis kalian menghapus airmatanya?
Bagaimana? Kalian mengerti?” Siwon menagguk setuju,
“oke!!”
Seohyun mengangkat jarinya setuju, kemudian kembali memperhatikan Yoona,
mengompres kepalanya dengan kain hangat.
“Nayoung-ah..”
“de,
Yeobo ..”
“gomawo..”
Mr. Choi meraih pucuk kepala istrinya dan menciumnya “kamu mampu mendidik
mereka menjadi seperti itu.. mulai hari ini Yoona akan menjadi tanggung jawab
kita juga..” tukasnya singkat.
Sejak
hari itu, keluarga Choi mengirim Ibu Yoona ke Panti Rehabilitasi kejiwaan,
menurut mereka itu jalan terbaik saat ini, dan memelihara Yoona seperti anaknya
sendiri.
Yoona – Saat usianya 14 Tahun.
Janji
mereka di tepati.
Siang
itu Yoona dan Seohyun menghabiskan waktu di halaman belakang rumah mereka yang
luas, meletakan kepala mereka di atas
rumput dan menikmati matahari musim semi yang hangat.
“Seohyun-ah”
“hmm”
gumamnya sambil terus menikmati warna langit dan kehangatan sinar matahari
“aku
harus bilang apa padamu ya? Sudah delapan tahun berlalu ..” ucapan Yoona
menggantung
“waeyo?”
“ani.
Hanya saja kamu tidak pernah merasa marah padaku? Karena secara tidak langsung
aku sudah memintamu untuk membagi segala yang kamu punya, Orang tuamu .. Oppamu
.. hidupmu .. aku hanya merasa bersal—“
“Tidak.
Sama sekali tidak Yoona-ya .. aku sangat menyayangimu .. aku tidak keberatan untuk apapun yang sudah
ku bagi, aku tidak merasa kekurangan untuk itu semua .. tumbuh dan hidup
bersamamu menjadi sangat menyenangkan, aku memiliki tempat berbagi, itu semua
sudah cukup .. aku mohon jangan pernah berfikir seperti itu ya ..” Seohyun menatap
Yoona yang merebah di sebelahnya “kamu tau tidak? Karena kamu aku memulai untuk
meniti mimpiku, meraih cita-citaku, Oppa juga begitu..” dahi Yoona mengerut
“karena
aku? Memangnya kalian punya mimpi apa?”
“saat
melihatmu dalam kondisi pada malam itu, kami berbicara pada Omma, Oppa ingin
menjadi seorang dokter, dan aku ingin menjadi seorang perawat. Sampai hari ini
mimpi kami tetap sama Yoona-ya ..”
“gomawo
Seohyun-ah .. Jeongmal gomawo..” tidak ada lagi yang bisa Yoona ungkapkan
selain rasa terimakasihnya .. kalau saja malam itu ia tidak lari, mungkin ia
akan mati di tangan Ibunya ..
***
Saat
menginjak usia remaja, Yoona mulai mengalami tekanan dalam hidupnya, ia merasa
tidak di akui, ia mulai merasa berbeda dan di tinggalkan, terlebih ketika
teman-teman sebayanya mulai bertanya-tanya tentang identitas keluarganya. Yoona
ingin lari dan bersembunyi di satu tempat yang tak terjamah apapun, yang tak
terduga siapapun.
“Seohyun-ah
sebenarnya Yoona itu siapa kalian sih? Yang aku tau saudaramu Cuma satu, Siwon
Oppa kan? Lalu Yoona itu siapa?”
untuk
pertamakali dalam hidupnya Yoona merasa asing dan ketakutan, Yoona benar-benar
ingin lari, ia tidak tahan dengan diskriminasi yang di lakukan teman-teman nya
saat itu. Walaupun Seohyun selalu mencoba untuk melindungi Yoona. Namun rasanya
masih sama, Yoona tidak bisa menghadapinya.
“dia
adalah saudaraku, kami sudah tinggal bersama sejak usia kami 6 tahun, bisa
tidak sih kalian tidak menyudutkan Yoona seperti itu? Memangnya apa salahnya
tinggal dengan keluarga sendiri? Apa urusan kalian memangnya?” jelas Seohyun
mencoba menyembunyikan yang sebenarnya.
“Mian
Seohyun-ah tapi kita hanya penasaran saja, kenapa dia harus tinggal dengan
keluargamu?”
Setiap
hari mata-mata itu melihat Yoona dengan tatapan enggan, menganggap Yoona bukan
bagian dari kelas mereka, berbeda dengan Seohyun, ia menjadi siswa paling
cerdas disukai banyak orang dan memiliki banyak teman. Yang Yoona miliki hanya
Seohyun. Tapi Seohyun memiliki segalanya.
Tuhan itu, tidak adil kan?
Dan
saat usianya menginjak 14 tahun, untuk pertama kali, Yoona merasa iri pada
Seohyun.
Aku
bisa memeluk orang tua yang sama.
Tapi,
rasanya berbeda.
Aku
memiliki segalanya yang ia punya.
Tapi
hatiku tidak bahagia.
Aku
hanya punya Seohyun.
Tapi
Seohyun punya segalanya.
Yoona
ingat betul bagaimana adilnya orang tua mereka, saat Seohyun di belikan sepede,
mereka membelikan speda dengan merk dan model yang sama untuk Yoona. Saat
Seohyun di beri uang saku Yoona akan menerima dengan nilai yang sama, bahkan
Siwon pun memperlakukan Yoona sama seperti ia memperlakukan Seohyun. Tidak ada
yang di beda-bedakan di dalam keluarga Choi, mereka menyayangi Yoona,
benar-benar menganggap Yoona sebagai bagian dari keluarga mereka.
Tapi,
dunia luar berkata lain. Kenyataanya lebih keji dari pukulan-pukulan yang Yoona
terima saat ia masih kecil, sedikit demi sedikit luka itu membekas, dan menjadi
besar. Yoona mulai membenci Seohyun yang selalu di puji-puji oleh
teman-temanya. Ia mulai risih untuk disandingkan dengan Seohyun. Yoona mulai
menyadari meskipun mereka hidup di lingkungan yang sama, dengan keluarga yang
sama, kasih sayang yang tak ada beda namun ada sekat yang membatasi mereka
untuk melekat, Yoona menyadari itu semua. Bahwa dia bukan siapa-siapa. Dia
hanya manusia yang patut di kasih hani karena tidak memiliki keluarga.
Ia
menjaga jarak, memisah dan menyendiri.
Yoona – Saat ia berusia 19 Tahun.
Yoona
sudah menumpuk dan memupuk impianya, sejak hari dimana ia merasa dunia tidak
pernah memihak padanya, saat itu juga Yoona mulai membuat mimpi, mengejarnya
dan dalam setahap lagi, meraihnya.
Aku ingin pergi jauh ..
Mimipinya
sangat sederhana.
Aku ingin menyelami isi dunia,
mencari dimana cahaya itu berada
Aku bertanya sekali lagi pada
Tuhan, adakah keadilan itu?
Kini Tuhan menjawabnya lewat
sentuhan.
Aku terbang .. Melayang dan
terkadang mengambang ..
Aku punya sayap untuk meraihnya
..
Mimpi-mimpi yang tertata di
jagat raya.
Yoona
selangkah lebih maju, kini saatnya ia melesat lebih jauh, bahkan lebih jauh
dari yang ia perkirakan, saatnya Yoona membenahi yang sudah rapi, berbalik dan
meraih mimpi. saat usianya genap 19 tahun ia mendapat beasiswa untuk pendidikan
menjadi seorang Pramugari. Kini ia punya sayap untuk terbang, dan melupakan
segenap dendam.
“aku
tidak percaya kamu sudah sebesar ini nak” Mr. Choi menepuk bahu Yoona saat
hendak melepas Yoona pergi di stasiun kereta api.
“Omoni
– Aboji aku benar-benar berterimakasih pada kalian karena sudah membesarkanku
dengan baik, aku berjanji untuk membalas semua kebaikanmu.. maafkan aku jika selama
ini merepotkan kalian, aku benar-benar berhutang budi pada kalian semua..”
bulir airmatanya jatuh tak tertahan, bagaimanapun Yoona menemukan kehangatan
dan kenyamanan di dalam keluarga ini. Yoona sudah menghabiskan banyak tenaga
juga harta mereka. Yoona sungguh-sungguh untuk urusan balas budi.
Ia
beralih pada Siwon juga Seohyun yang ikut untuk mengantarkan Yoona pergi ke
asrama barunya. Seohyun berlari dan memeluk Yoona.
“aku
akan menunggumu kembali Yoon. Aku akan sangat merindukanmu, kepergianmu akan
memakan waktu yang sangat lama. aku sangat tidak terbiasa dengan itu. Cepat
kembali Yoona..”
‘tapi aku bahagia ketika harus
terpisah darimu Seohyun-ah. Mian .. semakin lama aku bersamamu semakin sulit
untuku menerima kenyataan. Kamu dan aku tidak mungkin bisa bersahabat. Kamu tau
kenapa? Biar ku akui. Aku iri akan segalanya yang kamu miliki. Bolehkan kamu
memberikanya untuku? Bolehkan kita bertukar posisi?’
“hmm.
Aku juga Seohyun-ah. Aku akan merindukanmu.. sampai jumpa ya..” Yoona
melepaskan pelukan itu untuk menatap lekat-lekat Oppanya yang tumbuh menjadi
laki-laki tampan.
“tidak
tugas hari ini pak dokter?” Yoona menatap Siwon dengan tatapan jahilnya.
“aku
tidak ingin melewatkan moment penting dalam hidupku .. aigooo nae Dongsaeng-ah”
Siwon menaruh tanganya di atas kepala Yoona hanya untuk mengacak-ngacak
rambutnya.
“saranghe
Yoona-ya..”
ada
sesuatu yang aneh di dalam kata itu.
Biar ku urai lagi, bisakan aku
mendengarnya sekali lagi Oppa?
Sarang?
Untuk beberapa detik Yoona terpaku di tempatnya.
“Yoona
Palli wa keretanya sebentar lagi berangkat. Jangan lupa kabari Omma Appamu ini
ya .. saranghe..” Yoona membungkuk dan melambai-lambaikan tanganya sambil
berjalan menuju pintu masuk kereta.
Yoona
melesat jauh. Ia tidak berbalik lagi pada masalalunya, Yoona tidak ingin
membuat rasa bencinya tumbuh terus menerus pada Seohyun. Kebaikan Seohyun malah
membuat Yoona semakin membencinya. Yoona pergi. Tidak ingin kembali.
***
“tentu
saja..” Jawab Yoona malu-malu pada Jungshin juga Eunji rasanya ingin sekali mengatakan
pada mereka bahwa kekasihnya adalah hasil berbagi, sama seperti yang telah ia
alami bertahun-tahun dalam hidupnya. Bukankan Seohyun tidak pernah merasa
keberatan jika ia berbagi dengannya? Bagaimana dengan yang satu ini? Apakah ia
akan merasa keberatan?
Aku
ingin melihatnya terluka.
Aku
ingin dia merasakan apa yang aku rasa.
Aku
ingin dia hidup dalam diriku.
Seohyun-ah
mian, tapi aku tidak akan menyesal denga apa yang aku lakukan.
Jonghyun
milikmu? Ani. Dia memilihku. Bukan kamu.
Silakan
miliki raganya, tapi. Hatinya buatku.
Yoona
tersenyum lembut pada mereka berdua yang masih penasaran dengan tingkah laku
Yoona, tidak ada satu hal pun yang ingin Yoona lakukan saat ini, selain mencoba
membuat Seohyun tersakiti, sedikit demi sedikti.
Luka itu mengajariku untuk
lupa.
Lupa akan segala rupa malaikat,
yang bersayap ataupun tidak.
Duka itu memberiku sebuah
topeng.
Ku gunakan untuk menikam.
Lantas
Tuhan menjawabku dengan
perjanjian.
Bahwa tidak ada lain kali dalam
kehidupan.
- To Be Continued -
basa basi sang author :
Annyeonghaseo -- aku minta maaf buat yang ternyata masih nunggu kelanjutan FF ini, akhirnya setelah vacum selama berabad-abad (cuma setaun doang kok) aku nerusin cerita ini.
terimakasih banyak loh buat yang setia dan masih datang di blog ini buat baca.
sekali lagi, kalau masih banyak silent reader,
aku bakalan susah buat updatenya, jadi tolong komen nya ya permirsa..
kritik dan saran sangat terbuka
via facebook ataupun twitter kalo gak bisa comment disini.
oh iya dan untuk cerita ini, jujur aku juga belum tau dimana dan kapan endingnya,
dengan kerendahan hati saya mohon masyarakat untuk tetap bersabar hehehe
sekali lagi terimakasih banyak ..

Wah sneng bgt bcany..^_^ mksh mbak udh mmenuhi prmntaan kmi.hhi... q sllu suka sm karya mbak. Nggak cm NMTF aj tp smwa tlisan2 mbak. Klimat antr klimat ny nyatu bgt. Bcany bkn pnsaran dan nagih.:) d tggu ntuk update slnjutny mbak..hehe...Dian Kartika
BalasHapuswah makasih juga ya udah komen disini mbak dian :D
BalasHapussaya usahakan untuk terus update sampe ending ..
sekali lagi makasih banyaak ..
Iya sm2 mbak, mbak cb buat bku aj mbak. Soalny karya2 mbak bgus. Beneran deh...klo mbak yg nulis saya pst lgsg bli.hhe soalny udh tw hsl karya mbak bgus2. ^^ Dian Kartika
Hapusmasih belajar kok, semua org juga pasti bisa nulis ff sekali lagi makasih yaa :')
HapusDONE! udah di bca dri chap 1 :)
BalasHapusbagus, alurnya sulit ditebak sejauh ini..tp ga membosankan ^^sayang bget yah knpa yoona pnya pikiran sperti itu.
tpi seriusan jonghyn di sini ga cinta sama Seohyun,kupikir dri prilaku n kata2nya dia di awal2 bner2 cinta..oh ya, ada typo di judul Teh "forumula"
Semangat update ya Neng Ismi.. mkasih sdah merespon requestan kmi :D
*uqi
makasih ukhi unnie :D
Hapuswah gak tau deh nasip NMTF kalo gak ada yang baca dan gak ada yang setia nunggunya..
bakalah berusaha lebih keras bikin ff yang lebih baik lagi ..
makasih banyaaak ..
Baru banget kelar nonton wgm yongseo, trus iseng nyari ff-nya, trus nemu blog ini, hihi, suka banget sama semua cerita yg dibuaat :D salam kenal :D Semoga update NMTF jadi cepet, hehe. penasaran abis sama endingnya ntar, semangaaat dear author!
BalasHapusHAI :D
Hapuswah senengnya di 2014 masih nemu shipper baru ..
selamat datang di dunia yongseo yaaaa semoga suka sama merekanya terus menerus hhe
makasih juga udah ngikutin ff di blog aku,
kebetulan masih banyak banget penulis ff yang lebih bagus dari blog ini..
anyway enjoy yaa new goguma, salam kenal juga
@ismidisini :D
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusHUAAAH makin seru :D
BalasHapusjadi kepikiran kalo cerita2 unnie dijadiin kdrama terus pemainnya sesuai sama cast yang sudah unnie tentuin
pasti keren banget nih kdrama, yakin deh ratingnya naik
semoga pihak kdrama disana bisa bahasa indonesia dan jadiin cerita unnie jadi kdrama amiiin XD
Bangus banget ceritanya jadi penasaran kapan nie kelanjutan ceritanya semangat yah
BalasHapusBangus banget ceritanya jadi penasaran kapan nie kelanjutan ceritanya semangat yah
BalasHapusThe casino in Nevada has a $100 million cash giveaway
BalasHapusThe casino in 화성 출장마사지 Nevada has a $100 million 강릉 출장안마 cash giveaway, which features a variety of slot 사천 출장마사지 machines, table games, table games, bingo, and 의왕 출장마사지 an assortment of 진주 출장안마