YongSeo Featuring – No More Tears Formula Chap 10
Where We’ll Be Going?
Seohyun mematut dirinya sekali lagi. Mengikat
rambutnya dan mencoba terlihat sesantai mungkin, ia melangkah masuk ke ruangan
kepala perawat Seoul Hospital, keputusanya sudah begitu bulat.
“Annyeonghaseo Mrs.Ha” Seohyun mengetuk pintu yang
setengah terbuka dan menyapa kepala perawat yang usianya jauh lebih tua
darinya, Ha Jiwon.
“Ah,
Seohyun-ssi, silakan masuk.” Ha Jiwon mempersilakan, walaupun ia berbicara
dengan pelan, tetap saja suaranya selalu terdengar tegas tak jarang membuat
bulu kuduk berdiri, semua perawat di Seoul Hospital tau, bagaimana tegasnya
seorang Ha Jiwon.
“ada
yang bisa ku bantu?” lanjutnya lagi dengan tatapan dingin.
“Aku
ingin menyampaikan ini” tanpa basa basi Seohyun memberikan amplop putih yang
sedari kemarin sudah ia persiapkan. Ha jiwon membukanya dan memicing matanya
pada Seohyun, seolah mengintimidasinya dengan tatapan itu.
“Jelaskan.”
Singkat Ha Jiwon bertanya, sambil menaruh kembali kertas putih yang di berikan
Seohyun.
“Aku
akan sibuk sekali untuk mengurus pernikahanku dengan Lee Jonghyun, Sunbaenim”
Seohyun mengutarakan alasanya “Kami akan melangsungkan pernikahan 6 bulan lagi.
Aku harap Sunbaenim bisa mengerti dengan keadaan ini.”
Ha
Jiwon mengangguk-ngangguk, Seohyun merupakan salah satu perawat dengan dedikasi
dan prestasi yang baik di Seoul Hospital akan sulit mencari yang seperti
Seohyun lagi.
“begini
saja, bagaimana kalau aku memberimu cuti panjang sampai kamu selesai mengurusi
segala sesuatunya?”
“d—de?”
Seohyun gelagapan, sudah ia duga bahwa akan berakhir seperti ini.
“kalau
kamu masih kukuh ingin berhenti, aku memberimu waktu selama 3 hari untuk
memikirkan ini semua, pikirkan pilihan yang aku berikan, untuk satu tahun
kedepan Seohyun-ssi di bebaskan dari jadwal dinas, hanya sesekali datang kesini
untuk melihat situasi. Atau kamu akan tetap berhenti. Silakan kamu pikirkan
Seohyun-ssi. Kamu boleh kembali lagi menemuiku 3 hari dari sekarang.” Ha Jiwon
tersenyum dan melanjutkan pekerjaanya yang terhenti saat Seohyun datang,
pertanda ia tidak ingin meneruskan percakapan ini dan tidak ingin mendengarkan
apapun lagi dari mulut Seohyun.
“Algaeseumnida
Sunbaenim..” Seohyun bangkit dari tempat duduknya, berjalan di tengah
kebimbangan.
***
Pagi
itu, Yonghwa mendorong kursi roda Juniel dan berkeliling sekitar taman Seoul
Hospital, ia melakukan sesuai keinginan Juniel yang mengatakan ia jenuh berada
di kamar terus menerus, terlebih karena Seohyun tidak berada di sekitarnya.
“Juniel-ah..
lalu bagaimana tentang Minhyuk?” Tanya Yonghwa tanpa berhenti mendorong kursi
rodanya.
“bagaimana
apanya Oppa?”
“bukankah
dia bilang di mencintaimu dan ingin menjagamu?”
“lalu?”
“loh
kok malah bertanya lalu? Itu semua harusnya dipertanyakan untukmu, lalu bagaimana?”
“yang
namanya perasaan ingin menjaga dan mencintai itu bisa tumbuh kapan saja dan
pada siapa saja Oppa, tidak bisa di cegah, lalu aku mau apa? Ya sudah aku juga
tidak bisa menghentikan dia untuk memberikan perasaan itu kan? Aku Cuma mau
diam. Itu saja.”
“aku
tidak menanyakan tentang mau di bagaimanakan perasaan Minhyuk padamu Juniel,
aku Cuma bertanya, apakah kamu punya rasa yang sama juga buat nya?”—ada spasi
di antara mereka, Juniel tidak menjawab pertanyaan itu.
“Jung
Junhee?” Tanya Yonghwa sekali lagi. Namun Juniel tetap tidak menjawabnya.
“baiklah
jika kamu tidak mau bebicara pada Oppa lagi. Mungkin Seohyun Unnie mu itu lebih
pantas menjadi kakamu ya?”
“Oppa~”
Juniel berbalik dan melengos kesal, senjata terakhir Yonghwa memang selalu
jitu, ia tau Juniel tidak akan pernah bisa mengabaikanya.
“ya
lalu apa yang kamu sembunyikan? Atau kamu punya seseorang yang kamu cintai?
Aigoo~ aku membahas masalah percintaan pada adiku yang kmarin masih terlihat
begitu kekanak-kanakan” Yonghwa bahkan tidak percaya pada topik pembicaraan
mereka.
“aish
Oppa, aku hanya berfikir logis, mungkin Minhyuk Oppa itu hanya merasa kasihan
dan bersalah, coba kalau kondisiku tidak separah ini? Memang dia mau datang dan
tau-tau bilang mau menjagaku? Aku jamin tidak.” Tukas Juniel tegas.
“eiy~
kamu membohongi hatimu sendiri..”
“Oppa
juga ..”
“Nega?”
“sudahlah
mengaku saja. Aku bisa lihat itu semua..” Yonghwa berhenti dan mengunci kuris
roda Juniel, ia melangkah dan berlutut, menyetarakan tingginya dengan Juniel
yang duduk di kursi roda.
“Juniel-ah
.. maafkan Oppamu ini ya..” Yonghwa mengelus rambut Juniel dan menatapnya
serius “mungkin kamu tidak begitu percaya pada Oppa untuk menceritakan
perasaanmu itu kan?”
“bukan
begitu Oppa..”
Kita menempuh jalan
yang berputar,
Kendati yang kita
cari ada di halaman depan.
Meskipun pemeran
utamanya ada di seberang jalan..
Kita menempun jalan
yang berliku,
Walaupun yang kita
mau sedang memangdang sendu..
“lalu
apa? Kamu jatuh cinta pada orang lain. Huh? Atau kamu terlalu takut untuk
mempercayakan hatimu pada Minhyuk?”
“dua-duanya
mungkin terjadi..” akhirnya Juniel mulai terbuka. “aku akan memikirkanya
nanti.. sekarang, aku ingin membahas perasaan Oppa.. aku tau, aku bisa melihat
dari matamu Oppa.. Oppa jatuh cinta.”
“Jung
Yonghwa—Jung Junhee!! ” Mereka berdua mengalihkan perhatian pada dua wanita
yang datang dengan wajah ceria. Seohyun dan Eunji.
“Oppa!!”
Eunji menyapa Yonghwa semangat “aku Cuma mau pamitan, hari ini aboji menelponku
untuk pulang..”
“lalu
siapa yang akan mengantarmu ke airport?”
“tenang
saja, aku tidak akan tersesat Oppa.”
“jeongmalyo?”
“hm”
jawab Eunji mantap “ngomong-ngomong Jungshin Oppa mana ya?”
“memang
dari tadi pagi kalian belum bertemu Jungshin?” Tanya Seohyun.
“belum
Unnie, makanya aku mencarimu tadi. Ya sudahlah, aku harus buru-buru.
Terimakasih ya untuk liburan yang menyenangkan.. oh iya untuk masalah pekerjaan
nanti aku akan menjelaskan sedikit pada Aboji, siapa tau bisa membantu.. tenang
saja Yonghwa Oppa..
Juniel-aah
lekas sembuh yaa. Kapan-kapan aku akan menjengukmu lagi ke Seoul” Eunji
beringsut dan memeluk tubuh Juniel erat.
“Gomawo
Eunji-ya, sudah membawakan Oppa kembali padaku.. maaf juga telah mengacaukan
liburanmu ..”
“aigoo~
aku senang bisa bertemu denganmu dan dengan Seohyun Unnie – Yoona Unnie –
Jungshin Oppa juga.. aku bisa belajar banyak darimu Juniel-ah..” Eunji
tersenyum “kalau begitu aku pergi sekarang ya, tolong sampaikan terimakasihku
pada Jungshin Oppa karena telah menemaniku tiga hari ini..”
“de—akan
ku sampaikan, hati-hati Eunji-ya” Seohyun melambaikan tanganya bersamaan dengan
langkah Eunji keluar gerbang Seoul Hospital.
“oh
iya!!” teriaknya dari jauh “Juniel-ah Jungshin Oppa akan menjagamu lebih baik
dari Minhyuk. Fightiing!!”
Seohyun
menahan tawanya. Rupanya Eunji sudah tau tentang perasaan Jungshin pada Juniel.
“mwoya
ige?” Yonghwa kelimpungan dan menatap Seohyun dengan mata yang seolah meminta
penjelasan tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Eunji.
“Jung
Yonghwa-ssi kau tidak tau memang?” Seohyun menatap Juniel “heol~ daebak.
Juniel-ah bolehkan Unnie mengatakan hal ini pada Oppamu?” Tanya Seohyun ramah.
“hah?”
Juniel gugup tidak tau harus berkata apa.
“Jungshin
itu jatuh cinta pada Dongsaengmu, dia yang membawa Juniel ke rumah sakit saat
Juniel mengalami kecelakaan..” Seohyun menjelaskan santai.
“ah~
Unnie ..”
“oh
~ jadi ini alasan mu?” Yonghwa geleng-geleng kepala “kalau masalahnya serumit
ini ya Oppa juga tidak bisa membantu, semua ada di tanganmu Juniel-ah..aah
ternyata kamu sangat terkenal di kalangan laki-laki. Oppa bangga padamu..”
“aish~”
Juniel melengos malu. “Unnie aku baru melihatmu lagi, kemana saja?”
“tadi
aku ada sedikit urusan dengan Ha Jiwon Sunbaenim, dan baru sempat menemuimu,
ngomong-ngomong, sekarang waktunya kontrol kesehatanmu lagi Juniel. Ayo aku
antar ke lab ..”
tidak
lama seseorang datang menghampiri mereka. Dan berkata bahwa ia bertanggung
jawab untuk membawa Juniel ke ruang periksa. Yonghwa dan Seohyun mengiyakan dan
melepaskan Juniel pada perawat itu.
“Unnie,
tolong temani Oppaku ya..”
“baiklah
Juniel-ssi..” Seohyun mencubit pipi Juniel gemas dan membiarkanya pergi bersama
perawat lain untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kini
yang tersisa hanya mereka berdua. Berjalan seiringan mengitari halaman luas
Seoul Hospital. Sesekali Seohyun menarik nafasnya dalam-dalam kemudian
mengeluarkanya dengan kepala menghadap langit.
Yonghwa
berusaha untuk terlihat biasa, walaupun dadanya berdegub sangat cepat. Ia
mencoba untuk tetap menatap lurus kedepan, walaupun sebenarnya ia ingin menatap
wajah Seohyun sampai puas. Namun melihat Seohyun seperti itu, ia merasa ada
yang salah dengan Seohyun. Ia seperti menyimpan beban dalam hatinya. Namun
Yonghwa menahan katanya, ia hanya terus berjalan bersama Seohyun.
“Yonghwa-ssi..”
“dd—e
Seohyun-ssi.”
“menurutmu
mana yang lebih baik? Mengikuti keinginanmu dan melepaskan apa yang kamu punya
saat ini, atau melepaskan keinginanmu dan tetap memiliki segalanya yang ada
saat ini?”
“wah,
pilihan yang sulit..” Yonghwa mulai berfikir “satu sisi kita memilih untuk
meraih kebahagiaan kita dengan mengorbankan yang tersedia. Sisi lain kita
mengorbankan kebahagiaan untuk yang sudah ada.. jika aku harus memilih, aku
akan memilih yang kedua.”
Seohyun
terkejut dengan jawaban Yonghwa, begitu meleset dari yang ia perkirakan
“kenapa?”
“Seohyun-ssi
ketika kita sudah memiliki sesuatu, itu artinya kita sudah berada dalam keadaan
bahagia. Apa kamu tau bahwa keinginan adalah hal paling fana? Setelah kamu
meraihnya, kamu tidak akan pernah merasa puas akan hal itu, kamu akan mengingikan
hal yang lebih terus menerus.. tapi jika kamu memilih untuk melepaskan
keinginanmu untuk apa yang telah kamu punya, akan ada perasaan tentram,
artinya kamu bersyukur dengan apa yang
telah ada ..”
Seohyun
menghentikan langkahnya dan menatap wajah Yonghwa serius. Dari darah ayah atau
ibunya kah? kedua bersaudara ini memiliki kepribadian yang sangat mengesankan.
“ey~
jangan melihatku seperti itu.. kamu tidak setuju?”
kalau kamu menatapku begitu,
jantungku bisa-bisa berhenti, jangan salahkan aku jika tubuhmu itu jatuh dalam
pelukanku untuk kedua kali. Ya?’
“ani.
Tapi .. “
“itu
tergantung dari caramu melihat semuanya Seohyun-ssi. Kamu tau tidak? Aku
meninggalkan Juniel. sesuatu yang sudah ku punya demi mengejar keinginanku
untuk hidup berkecukupan. Namun aku salah, aku hanya akan merasa cukup jika ada
Juniel di dekatku, dan sekarang aku kembali pada yang pernah aku miliki, dan
melepaskan keinginanku. Aku merasa bahagia dan berkecukupan. Seperti ini contoh
jelasnya. lalu masalahmu seperti apa?”
Seohyun
memimpin langkah dan menunjuk pada salah satu kursi taman di halaman Seoul
Hospital “kita bicarakan di sana ya, sambil menunggu pemeriksaan Juniel
selesai” Yonghwa mengikuti langkah Seohyun, ia tidak pernah menduga akan
memiliki kesempatan berbicara empat mata tanpa jeda dengan wanita yang
membuatnya jatuh cinta dan patah hati dalam waktu bersamaan.
“sebenarnya,
aku sudah mengajukan pengunduran diri sebagai perawat di rumah sakit ini..?”
“Apa?!
Tapi kenapa?” Yonghwa terkejut dan memprotes bersamaan.
“aku
dan Jonghyun akan menikah 6 bulan lagi..” rasanya Yonghwa sedang melayang di
angkasa untuk siap terjatuh dari langit paling tinggi menuju jurang yang paling
dalam.
Apakah aku tiada?
Atau malah tidak terasa?
“untuk
itu aku harus mempersiapkan segalanya sendirian, akan sulit jika aku harus
membagi waktuku dengan pekerjaan ini.. tapi kepala perawat di rumah sakit ini
menawarkan hal yang membingungkan..”
Yonghwa
tidak mendengarkan kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Seohyun, saat
ia mengatakan bahwa dirinya akan menikah 6 bulan lagi dengan Jonghyun. Waktu
rasanya berhenti disitu dan menikamkan ribuan pedang dalam hatinya. Ia
kehilangan damainya.
“Jin—jayo?”
Tanya nya kaku. “chukk—ae…” Yonghwa ingin terdengar sewajar mungkin, walaupun
ada perasaan sakit luar biasa bersamaan dengan ucapan selamat yang keluar dari
mulutnya.
Yonghwa
tidak akan merasa sesakit itu jika saja ia Cuma Jatuh Cinta.. tidak akan sama
sekali, ia sudah terbiasa untuk tidak memiliki apa yang ia cintai, tapi melihat
yang ia cintai di bohongi, Yonghwa terluka untuk itu.
Ia
seperti seorang yang hilang arah, begitu pasrah menunggu ajal. Yonghwa tidak
mungkin mengatakan pada Seohyun kalau kekasihnya memiliki kekasih yang juga
sahabatnya. Seohyun tidak akan mempercayainya. Satu-satunya kesempatan yang
Yonghwa punya hanyalah membuat Seohyun jatuh cinta padanya. Hanya itu. Jika
tidak, Seohyun akan menemukan jurang terdalam di hidupnya, ia akan jatuh kesana
dan mulai terdera. 6 bulan waktu yang tersisa, 6 bulan waktu untuk Yonghwa.
“bagaimana?”
“h—hah?”
Yonghwa kembali dari alam bawah sadarnya setelah sibuk menimbang berat sakit
hatinya. “oh .. sampai dimana kita tadi?” dahi Seohyun mengerut, mengapa
tiba-tiba Yonghwa tidak fokus dengan pembicaraan mereka? “oh ya, jadi kamu
sudah meminta untuk berhenti namun kepala perawat di rumah sakit ini menawarimu
cuti selama 1 tahun?”
Seohyun
mengangguk
“sekarang
aku bertanya padamu, apakah kamu bisa meninggalkan duniamu ini?”
Seohyun
menggeleng
“kamu
sudah jatuh cinta dan menemukan kebahagiaan di dalamnya kan?”
Seohyun
mengangguk
“lebih
baik habiskan waktumu disini, tidak ada perawat yang lebih baik darimu
Seohyun-ssi. Dan mulai mengambil cuti. Aku rasa satu tahun sangat cukup untuk
memperisapkan sebelum dan sesudah pernikahan betul kan? Lagipula aku rasa
Jonghyun tidak akan melarangmu untuk terus menekuni duniamu” Yonghwa berhenti
sejenak menikmati semilir angin pagi yang beriringan dengan matahari
“Seohyun-ssi terkadang kita tidak perlu melepaskan apa yang kita punya untuk
meraih kebahagiaan.. karena tulus itu tidak pernah meminta timbal balik.
Termasuk kebahagiaan, ia tidak pernah menuntut sesuatu untuk di tukarkan, ia
akan datang sesuai takdir, telak tepat pada waktunya, ia tulus.”
Seohyun
mencerna perkataan itu satu demi satu, ia mencoba memasuki dunia Yonghwa yang
telah meninggalkan apa yang ia miliki untuk keinginanya, keinginan fana yang
disebut kebahagiaan.
Kebahagiaan itu tulus. Ia tidak
pernah meminta balasan.. itu yang baru saja
keluar dari mulut Yonghwa. Seohyun ingin memeluk Yonghwa saat itu juga, Yonghwa
seperti wahana pemusnah dahaga, ia seperti cahaya di balik guilta, Yonghwa
membuka mata hatinya bahwa kebahagiaan itu hanyalah fana. Bersyukur adalah
hasrat bahagia yang tidak pernah menuntut. Hanya itu.
“sudah,
jangan terlalu di ambil pusing.. “
“gomawoyo
Oppa..” akhirnya hanya itu yang meluncur dari mulut manis Seohyun, ia menahan
dirinya kuat untuk tidak memeluk Yonghwa walaupun ia ingin. Yonghwa begitu
menentramkan.
Oppa?
“Juniel
dan kamu adalah orang-orang hebat yang mampir di hidupku, tidak. Akan ku
biarkan kalian tetap tinggal dihidupku, bukan hanya mampir. mari bersahabat
Yonghwa Oppa..”
“dd—e?
bersahabat?”
Seohyun
memberikan senyuman terbaiknya dan mengangguk mantap, mengulurkan tanganya dan
menjabat tangan Yonghwa.
“aku
senang berkenalan denganmu. Yang juga
ternyata akan menjadi adik iparku nanti..”
jangan menjebakku dalam ruang
penuh dahaga..
jangan biarkan aku menjadi
kering kerontang dalam keluasan,
kamu punya kuasa,
sedang aku hanya gembala..
aku ingin berhenti padamu, tapi
kamu membuat tali ini kemelut..
aku akan meraihmu..
walau kau menerbitkan jarak
antara aku dan kamu.
***
Matanya terus
mengikuti langkah kaki seorang Pilot yang selalu berada di satu pesawat
denganya, entah mengapa acap kali ia bertemu dengan Pilot itu, jantungnya
berdegub tidak seperti biasanya, ada perasaan aneh yang tidak bisa di jelaskan.
Konyolnya ia bisa tersenyum setiap saat ketika ia mengingat sosok yang dengan
lesung di pipinya itu. Yoona tidak pernah merasakan keinginan untuk memiliki
sebelumnya. Karena Yoona selalu di beri dan di bagi. Ini kali kedua Yoona tau
keinginanya. Setelah ingin mengelilingi isi bumi, kini Yoona ingin memasuki
dunia lain. Dunia Pilot dengan lesung di pipinya itu.
Jonghyun
adalah sosok yang memang terlalu memikat untuk di lewatkan, sudah beberapa
banyak pramugari yang jatuh hati dan berusaha mati-matian untuk menaklukan
hatinya. Namun Jonghyun selalu membalasnya dengan senyuman dan berkata bahwa
hatinya telah di rawat baik-baik oleh seorang perawat Seoul Hospital. Dia tidak
pernah tertarik untuk jatuh cinta lagi. Tidak ingin. Seohyun sudah lebih dari
cukup untuknya. Pertemuan nya dengan Yoona membuat Jonghyun mulai merasa heran
dengan dirinya sendiri. Yoonapun terlalu menarik untuk di lewatkan begitu saja.
“jadi nama
kekasihmu itu Seohyun ya?” Sore itu mereka baru mendarat di Bangkok dan
menghabiskan waktu mereka bersama seluruh awak pesawat di Wat Arun candi Budha yang memiliki
pemandangan matahari tenggelam paling indah di Bangkok, karena letaknya di tepi
barat sungai.
“hm..”
Jonghyun mengangkat minumanya dan sesimpuh senyum terbit tatkala nama itu
disebutkan.
“Choi Seohyun?
Gadis ini bukan?” Yoona mengangkat handphone nya dan menunjukan satu buah foto
dirinya berdampingan dengan Seorang gadis berparas cantik dengan rambut
panjangnya.
“Yoona-ssi?”
Jonghyun mengalihkan perhatian dari handphone itu pada wajah Yoona, dan kembali
pada layar Handphone berulang-ulang.
“kamu kenal
Seohyun” Tanyanya tidak percaya, kini Jonghyun memusatkan perhatian penuh pada
Yoona. Setelah berabad-abad mengabaikanya begitu saja.
“aku hidup
denganya hampir seumur hidup..”
“kamu
sahabatnya?”
“Lebih dari
itu, kami seperti seorang saudara..” kemudian Yoona menceritakan setiap
kejadian dalam hidupnya yang menyedihkan. Entah bagaimana Jonghyun ikut hanyuk
dalam kesedihan gadis yang selalu terlihat kuat dan tegar ini.
Matahari
itu tenggelam di ufuk fajar.
Selayaknya
hatimu yang kian tenggelam dalam genggaman..
Kita
berkaitan, buta akan aksara,
Lupa
akan bencana ..
Dan
melenggang tak gentar di hantam bahaya..
***
“Sudah satu tahun lebih ya?” Yoona menatap matahari
yang kian tenggelam di balik jendela apartemen Jonghyun. “pertemuan kita di
Bangkok yang akhirnya membuat Oppa berhenti mengacuhkanku..”
Jonghyun
yang sedang sibuk mengemas pakaianya untuk kembali bertugas behenti seketika,
ia menghampiri Yoona yang dengan wajah sempurnanya itu menatap matahari sore
hari. Jonghyun memeluk Yoona dari belakang.
“aku tidak pernah merasa
mengabaikanmu, Yoona-ya ..” Yoona berbalik dan membuat jarak antara wajah
mereka hanya sejengkal
“kalau saja aku tidak mengatakan
bahwa kekasihmu itu adalah perempuan yang sudah seperti saudara untuku, kamu
tidak akan pernah mau melihat ke arahku walau sekejap Oppa..”
“hmm” Jonghyun mendekatkan wajahnya,
kemudian mengecup bibir Yoona pelan dan dalam “mungkin Tuhan mempertemukan kita
lewat Seohyun” Jonghyun memegangi pipi Yoona dan menatapnya penuh cinta.
“bukannya kamu diciptakan hanya
untuk Seohyun?” suara Yoona tercekat, pedih yang tidak bisa di sembunyikan, ia
seperti ingin berteriak mengatakan isi hatinya.
“kenapa Yoona-ya? Kamu tidak ingin
aku menikah dengan Seohyun?” Tanya Jonghyun sungguh-sungguh masih dalam posisi
yang sama.
“walaupun aku meminta, kamu tidak
akan melakukanya.. aku tau itu..” suara seraknya berubah menjadi getar, dan
airmatanya sudah membendung nyaris tumpah. Yoona melepaskan tangan Jonghyun dan
membalikan wajahnya kembali ke posisi semula, matahari kini telah tenggelam.
Jonghyun tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Kita memulai
sesuatu yang bahkan tak punya awal.
Tak punya nama
untuk di panggil, tak punya ujung untuk di tempuh .. kita hanya bermain di
tengah-tengah, hingga menyadari kita mulai jengah ..
“aku mengerti kekhawatiranmu,
Yoona.. tapi bukankah kamu sendiri yang bilang, walaupun aku sudah menikah,
kuantitas pertemuan mu dengan ku, jauh lebih besar di banding aku dengan
Seohyun? Ku mohon .. jangan seperti ini ..”
Jonghyun memeluk Yoona erat dan semakin erat di balik punggunya. Hingga
airmata Yoona tumpah ruah di sembarang sudut pipinya. Terhapus oleh lenganya
dan ditelan dengan hatinya.
“aku hanya takut ..”
“aku mengerti ketakutanmu ..”
“jangan pergi ..” Yoona berbalik dan
membalas pelukan Jonghyun, sama eratnya. Yoona tidak pernah tau bahwa ia akan
mencintai yang dimiliki Seohyun jauh lebih besar dari Seohyun mencintai
miliknya sendiri.
***
Yonghwa berjalan sendirian di
koridor rumah sakit malam itu, pembicaraanya dengan Seohyun tadi pagi
meninggalkan banyak kesan dan memberikan bekas yang sulit lenyap. Seohyun
selalu saja memberikan dua sisi rasa di dalam satu pertemuan. Yonghwa begitu
bahagia karena memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran denganya dalam waktu
yang cukup lama, dari mata ke mata, berdua, hanya mereka. Bahagianya bahkan
tidak bisa di ganti dengan segelas kopi panas di musim dingin, atau sebongkah
eskrim vanilla di musim panas. Tidak bisa di bandingkan. Namun sisi kelamnya
tak lain ketika Seohyun mengatakan ia akan menikahi Jonghyun. 6 bulan lagi?
Bahagianya ikut terkikis dengan kabar yang menurut Seohyun adalah sebuah
kebahagiaan namun layaknya hingar bingar nestapa di telinganya. Siapa yang kuat
bertahan? Manusia yang ia cintai sejak awal bertemu, tau-tau akan menikah
dengan penipu ulung yang saling jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Sakitnya
seperti tersesat di ruang yang tak punya atap—dasar—dan—ujung, Yonghwa seperti
tersesat di ruang hampa, tidak tau bagaimana berpijak tidak mengerti mengapa ia
terinjak.
“Annyeonghaseo Yonghwa
hh—yyu—ng..” Yonghwa menghentikan
langkahnya ketika seseorang bertubuh tinggi berdiri di hadapanya.
“hyung?” alis Yonghwa mengangkat
protes “aku bukan Hyungmu.”
“maaf, Yonghwa-ssi.. “
“aish~ tapi Hyung terdengar lebih
baik, kau boleh memanggilku Hyung.”
“d-dde?” ia kebingungan untuk sesaat
“Kamsahamnida Hyung.”
“ada urusan apa kau kesini?” Tanya
Yonghwa ketus, ia masih tidak bisa bersikap ramah pada laki-laki yang satu ini.
Meskipun Yonghwa tau niatnya sangat baik dan ia tidak terlihat seperti seorang
pembohong.
“aku mau menjenguk Juniel. Bagaimana
kabarnya hari ini?”
“tsk. Masuk saja sana, tidak usah
basa-basi padaku. Lihat saja sendiri keadaanya, yang jelas walaupun setiap hari
kau datang tidak akan membuat kaki Juniel bisa berjalan lagi.” Yonghwa melengos
dan membiarkan laki-laki itu mematung di tempatnya.
KLIK
Pintu
ruangan Juniel terbuka, Juniel sibuk memindah-mindah chanel televisi dari
tempatnya.
“annyeong. Juniel-ah” laki-laki itu
Kang Minhyuk, dan tangan Juniel yang sibuk memencet-mencet tombol remot
televisi akhirnya berhenti seketika laki-laki itu masuk ke ruanganya.
“Kang Minhyuk-ssi..”
“de..” Minhyuk membawakan seikat
bunga berfariasi di tanganya, dan mencari vas bunga kemudian menaruhnya.
“ada apa?”
“oh~? Tidak sopan sekali bertanya
ada apa, aku ingin menjengukmu tentu saja. Dan aku tidak akan berhenti sampai
kamu mengatakan Iya.” Minhyuk menatap Juniel dan memberikan senyuman tulus
penuh perasaan.
“Ia? Untuk?” Juniel tidak tau kalau Minhyuk akan
betul-betul mempertanyakan perasaanya. Juniel bahkan tidak bisa memilih untuk
tetap diam, mengacuhkan atau berkata tidak. Artinya, di lubuk hati Juniel yang
paling dalam ia punya rasa yang sama. Tapi ia tidak bisa memastikan bentuk dari
perasaan itu. Terlebih ia tidak bisa mengabaikan perasaan Jungshin terhadapnya.
Bagaimanapun Jungshin sudah berjasa banyak untuk hidupnya.
Tuhan, kenapa semuanya jadi
serba rumit begini?
“aku tidak memaksamu kok. Tenang
saja, yang penting kamu sudah tau tentang perasaanku kan? Bilang saja kalau
kamu tidak nyaman dengan sikapku .. asal, jangan memintaku untuk menjauhimu..
aku tidak akan bisa Jung Junhee..” ucapnya lagi, begitu ringan namun
meyakinkan.
***
Seohyun sedang menatap wajah
Jungshin yang terlihat amat lelah, ia tertidur lelap di ruang rawat Ibunya
sebelum ia datang dan membawakanya makanan. Seohyun sedikit melupakan porsi
perhatianya untuk Jungshin ketika Juniel menjadi pasienya juga.
“Mian Jungshin-ah”
“gwencchana Noona, aku bahkan lebih
menyukai kau memperhatikan Juniel di bandingkan aku..”
“Wae? Sudah tidak menyukaiku ya? Sudah
tidak butuh?”
“hahahh aniyo noona. Hanya untuk
saat ini dia lebih membutuhkanmu.”
“Geuraeyo?” Seohyun memberikan
sekotak makanan untuk Jungshin, dan menarik sebuah kursi untuk duduk di
sebelahnya. “Jungshin-ah, jangan pernah
menyerah ya..” Seohyun mengusap punggun Jungshin “aku harap kamu bisa bertahan
dengan keadaan ini.. aku yakin ibumu pasti akan sembuh.. Juniel pun begitu..”
Jungshin menatap Seohyun seolah
ingin menemukan semangat di dalamnya, ia tersenyum dan menggenggam tangan
Seohyun “Gomawoyo, Noona..” Seohyun membalas genggaman tangan Jungshin. “aku
sangat iri pada Jonghyun Hyung. Dia sangat beruntuk bisa mendaptakan Noona..”
“aku yang beruntung bisa memilikinya
Jungshin-ah.. oh iya tadi pagi Eunji sudah meninggalkan Seoul, dia sudah kembali
ke ulsan, di bilang terimakasih karena sudah menemaninya selama di Seoul..
lalu.. hari ini kamu belum menemui Juniel kan? Waeyo?”
“Eunji? Wah anak itu berani sekali
pulang tidak pamit padaku. Padahal dia masih punya hutang banyak” Jungshin
geleng-geleng kepala “lain kali aku ingin mengunjungi Ulsan dan membuktikan
sendiri seperti apa Ulsan itu, apa memang benar seperti yang di ceritakan
makhluk menyebalkan itu ya? Dia terlalu membangga-banggakan kota kelahirannya.
Bahkan berbicara dengan dialec seperti itu.. kadang aku tidak bisa menahan
tawaku..”
“loh, kalian ternyata sudah kenal
begitu dekat ya?”
“ehm.. tidak juga Noona..”
“lalu, kenapa pertanyaan terakhirku
tidak dijawab?”
“yang mana?”
“Juniel? Kamu belum menemuinya hari
ini..”
.
.
.
Jarak yang menyesakan, bahkan
Jungshin tidak bisa menjawab apapun untuk pertanyaan itu, entah mengapa kakinya
terasa berat untuk menemui Juniel. Keadaanya sudah begitu berbeda sejak
kecelakaan ini terjadi, sejak Juniel sudah mengetahui identitasnya. Dan ada
perasaan yang begitu asing ketika Minhyuk datang diantara mereka, mengungkapkan
perasaannya pada Juniel tanpa ragu-ragu. Tidak sepertinya yang selalu memilih
untuk memendamnya sendiri. Ingin bertingkah Heroik yang malah terlihat begitu
konyol. Nyali Jungshin ciut entah mengapa. Ia tidak cukup siap untuk bertemu
dengan Juniel.
“sekarang malah diam.. Jungshin-ah
wae geurae?”
“aniyo Noona, aku rasa Juniel butuh
banyak istirahat, jadi untuk sementara waktu aku tidak ingin mengganggunya..”
Jungshin menghindari tatapan mata Seohyun, ia menyembunyikan kekhawatiran dalam
hatinya. Dia belajar berbohong untuk itu.
Aku ingin menembus
setiap genderang perang,
Mematahkan semangat
setiap orang
Menunjukan akulah
sang pemenang.
Namun kini, aku
Cuma bisa diam,
Termasuk
mencintaimu, aku mengikut sertakanya dalam serangkaian kebisuan..
Mengertilah wahai
awam..
Aku hanyalah seekor
kumbang
Datang bertandang
untuk berdendang,
Dan aku takluk
sebatas palang..
Di tengah hamparan
sang ilalang..
***
Mereka semua sama telak. Berbohong pada dirinya
sendiri, mereka sama-sama tau apa yang paling mereka mau, namun mereka lari
dari itu, tidak ada pemenangnya. Mereka semua bermain dalam sebuah lingkaran,
tidak tau dimana awalnya, tidak terlihat dimana ujungnya. Mereka sadar ini salah,
namun keadaan terus memaksa mereka untuk berbohong..
Tidak ada satu bait katapun yang tidak bermakna,
termasuk kisah cinta mereka, Jung Yonghwa memandangi Minhyuk dan Juniel yang
terlihat segan malam itu di balik pintu kamar ruang rawat inap. Seohyun menatap
mata Jungshin dan menemukan kebohongan bodoh di dalamnya, Jungshin menangkap
sinyal lain dari padandang ragu-ragu itu, ia tau mereka sama-sama berbohong ..
dan Eunji dia menyimpan rahasia besar di balik punggunya yang berlalu tadi
pagi.
Mereka semua bertanya-tanya, kemanakah mereka akan
pergi? Bagaimanakah ini semua akan berakhir? Mereka hanya berputar-putar di
satu tempat yang sama, penuh sesak dan rasa sakit.
- To be
Continue -
Finally chap 10..mksh mbak udh mw lnjutin...jd tmbah pnsran gmna endingnya ntar yah..hhe ^_^ Dian Kartika ^^
BalasHapusiyaa sama-samaaa simbiosis mutualisme kan hehhe
Hapusterimakasih banyak juga udah bacaa, semoga ceritanya bisa dibikin tambah berkualitas :D
akhornya bsa buka jg.maaf telat review nh.
BalasHapusMakin pnasaran dg jlan ceritanya,apa yg akan dilakukan yonghwa n siapa yg bakal dipilih juniel ^^
mnurutku bagus,alur critanya ga cepet2 tpi jg jngan trlalu lambat,Teh.untuk mncegah kebosanan.SEMANGAT,makasih udah dilanjutin :)
*uqi
ditunngu ya chapter berikutnya, gak sabar XD
BalasHapusjangan terlalu lama kayak harpot / twilight edisi terakhir .__.v
hehehhee gomawoyoooo buat ceritanya
Suka banget sama ceritanya kapan nih lanjutan ceritanya dah lama nunggu kelanjutan nya hehehe dah gak sabar semangat
BalasHapusSuka banget sama ceritanya kapan nih lanjutan ceritanya dah lama nunggu kelanjutan nya hehehe dah gak sabar semangat
BalasHapus