Sabtu, 01 Maret 2014

YongSeo Featuring - No More Tears Formula Chap 10

YongSeo Featuring – No More Tears Formula Chap 10
Where We’ll Be Going?



Seohyun mematut dirinya sekali lagi. Mengikat rambutnya dan mencoba terlihat sesantai mungkin, ia melangkah masuk ke ruangan kepala perawat Seoul Hospital, keputusanya sudah begitu bulat.

“Annyeonghaseo Mrs.Ha” Seohyun mengetuk pintu yang setengah terbuka dan menyapa kepala perawat yang usianya jauh lebih tua darinya, Ha Jiwon.

“Ah, Seohyun-ssi, silakan masuk.” Ha Jiwon mempersilakan, walaupun ia berbicara dengan pelan, tetap saja suaranya selalu terdengar tegas tak jarang membuat bulu kuduk berdiri, semua perawat di Seoul Hospital tau, bagaimana tegasnya seorang Ha Jiwon.

“ada yang bisa ku bantu?” lanjutnya lagi dengan tatapan dingin.

“Aku ingin menyampaikan ini” tanpa basa basi Seohyun memberikan amplop putih yang sedari kemarin sudah ia persiapkan. Ha jiwon membukanya dan memicing matanya pada Seohyun, seolah mengintimidasinya dengan tatapan itu.

“Jelaskan.” Singkat Ha Jiwon bertanya, sambil menaruh kembali kertas putih yang di berikan Seohyun.

“Aku akan sibuk sekali untuk mengurus pernikahanku dengan Lee Jonghyun, Sunbaenim” Seohyun mengutarakan alasanya “Kami akan melangsungkan pernikahan 6 bulan lagi. Aku harap Sunbaenim bisa mengerti dengan keadaan ini.”

Ha Jiwon mengangguk-ngangguk, Seohyun merupakan salah satu perawat dengan dedikasi dan prestasi yang baik di Seoul Hospital akan sulit mencari yang seperti Seohyun lagi.

“begini saja, bagaimana kalau aku memberimu cuti panjang sampai kamu selesai mengurusi segala sesuatunya?”

“d—de?” Seohyun gelagapan, sudah ia duga bahwa akan berakhir seperti ini.

“kalau kamu masih kukuh ingin berhenti, aku memberimu waktu selama 3 hari untuk memikirkan ini semua, pikirkan pilihan yang aku berikan, untuk satu tahun kedepan Seohyun-ssi di bebaskan dari jadwal dinas, hanya sesekali datang kesini untuk melihat situasi. Atau kamu akan tetap berhenti. Silakan kamu pikirkan Seohyun-ssi. Kamu boleh kembali lagi menemuiku 3 hari dari sekarang.” Ha Jiwon tersenyum dan melanjutkan pekerjaanya yang terhenti saat Seohyun datang, pertanda ia tidak ingin meneruskan percakapan ini dan tidak ingin mendengarkan apapun lagi dari mulut Seohyun.

“Algaeseumnida Sunbaenim..” Seohyun bangkit dari tempat duduknya, berjalan di tengah kebimbangan.

***
Pagi itu, Yonghwa mendorong kursi roda Juniel dan berkeliling sekitar taman Seoul Hospital, ia melakukan sesuai keinginan Juniel yang mengatakan ia jenuh berada di kamar terus menerus, terlebih karena Seohyun tidak berada di sekitarnya.

“Juniel-ah.. lalu bagaimana tentang Minhyuk?” Tanya Yonghwa tanpa berhenti mendorong kursi rodanya.

“bagaimana apanya Oppa?”

“bukankah dia bilang di mencintaimu dan ingin menjagamu?”

“lalu?”

“loh kok malah bertanya lalu? Itu semua harusnya dipertanyakan untukmu, lalu bagaimana?”

“yang namanya perasaan ingin menjaga dan mencintai itu bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja Oppa, tidak bisa di cegah, lalu aku mau apa? Ya sudah aku juga tidak bisa menghentikan dia untuk memberikan perasaan itu kan? Aku Cuma mau diam. Itu saja.”
“aku tidak menanyakan tentang mau di bagaimanakan perasaan Minhyuk padamu Juniel, aku Cuma bertanya, apakah kamu punya rasa yang sama juga buat nya?”—ada spasi di antara mereka, Juniel tidak menjawab pertanyaan itu.

“Jung Junhee?” Tanya Yonghwa sekali lagi. Namun Juniel tetap tidak menjawabnya.

“baiklah jika kamu tidak mau bebicara pada Oppa lagi. Mungkin Seohyun Unnie mu itu lebih pantas menjadi kakamu ya?”

“Oppa~” Juniel berbalik dan melengos kesal, senjata terakhir Yonghwa memang selalu jitu, ia tau Juniel tidak akan pernah bisa mengabaikanya.

“ya lalu apa yang kamu sembunyikan? Atau kamu punya seseorang yang kamu cintai? Aigoo~ aku membahas masalah percintaan pada adiku yang kmarin masih terlihat begitu kekanak-kanakan” Yonghwa bahkan tidak percaya pada topik pembicaraan mereka.

“aish Oppa, aku hanya berfikir logis, mungkin Minhyuk Oppa itu hanya merasa kasihan dan bersalah, coba kalau kondisiku tidak separah ini? Memang dia mau datang dan tau-tau bilang mau menjagaku? Aku jamin tidak.” Tukas Juniel tegas.

“eiy~ kamu membohongi hatimu sendiri..”

“Oppa juga ..”

“Nega?”

“sudahlah mengaku saja. Aku bisa lihat itu semua..” Yonghwa berhenti dan mengunci kuris roda Juniel, ia melangkah dan berlutut, menyetarakan tingginya dengan Juniel yang duduk di kursi roda.

“Juniel-ah .. maafkan Oppamu ini ya..” Yonghwa mengelus rambut Juniel dan menatapnya serius “mungkin kamu tidak begitu percaya pada Oppa untuk menceritakan perasaanmu itu kan?”

“bukan begitu Oppa..”

Kita menempuh jalan yang berputar,
Kendati yang kita cari ada di halaman depan.
Meskipun pemeran utamanya ada di seberang jalan..

Kita menempun jalan yang berliku,
Walaupun yang kita mau sedang memangdang sendu..

“lalu apa? Kamu jatuh cinta pada orang lain. Huh? Atau kamu terlalu takut untuk mempercayakan hatimu pada Minhyuk?”

“dua-duanya mungkin terjadi..” akhirnya Juniel mulai terbuka. “aku akan memikirkanya nanti.. sekarang, aku ingin membahas perasaan Oppa.. aku tau, aku bisa melihat dari matamu Oppa.. Oppa jatuh cinta.”

“Jung Yonghwa—Jung Junhee!! ” Mereka berdua mengalihkan perhatian pada dua wanita yang datang dengan wajah ceria. Seohyun dan Eunji.

“Oppa!!” Eunji menyapa Yonghwa semangat “aku Cuma mau pamitan, hari ini aboji menelponku untuk pulang..”

“lalu siapa yang akan mengantarmu ke airport?”

“tenang saja, aku tidak akan tersesat Oppa.”

“jeongmalyo?”

“hm” jawab Eunji mantap “ngomong-ngomong Jungshin Oppa mana ya?”

“memang dari tadi pagi kalian belum bertemu Jungshin?” Tanya Seohyun.

“belum Unnie, makanya aku mencarimu tadi. Ya sudahlah, aku harus buru-buru. Terimakasih ya untuk liburan yang menyenangkan.. oh iya untuk masalah pekerjaan nanti aku akan menjelaskan sedikit pada Aboji, siapa tau bisa membantu.. tenang saja Yonghwa Oppa..

Juniel-aah lekas sembuh yaa. Kapan-kapan aku akan menjengukmu lagi ke Seoul” Eunji beringsut dan memeluk tubuh Juniel erat.

“Gomawo Eunji-ya, sudah membawakan Oppa kembali padaku.. maaf juga telah mengacaukan liburanmu ..”

“aigoo~ aku senang bisa bertemu denganmu dan dengan Seohyun Unnie – Yoona Unnie – Jungshin Oppa juga.. aku bisa belajar banyak darimu Juniel-ah..” Eunji tersenyum “kalau begitu aku pergi sekarang ya, tolong sampaikan terimakasihku pada Jungshin Oppa karena telah menemaniku tiga hari ini..”

“de—akan ku sampaikan, hati-hati Eunji-ya” Seohyun melambaikan tanganya bersamaan dengan langkah Eunji keluar gerbang Seoul Hospital.

“oh iya!!” teriaknya dari jauh “Juniel-ah Jungshin Oppa akan menjagamu lebih baik dari Minhyuk. Fightiing!!”

Seohyun menahan tawanya. Rupanya Eunji sudah tau tentang perasaan Jungshin pada Juniel.

“mwoya ige?” Yonghwa kelimpungan dan menatap Seohyun dengan mata yang seolah meminta penjelasan tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Eunji.

“Jung Yonghwa-ssi kau tidak tau memang?” Seohyun menatap Juniel “heol~ daebak. Juniel-ah bolehkan Unnie mengatakan hal ini pada Oppamu?” Tanya Seohyun ramah.

“hah?” Juniel gugup tidak tau harus berkata apa.

“Jungshin itu jatuh cinta pada Dongsaengmu, dia yang membawa Juniel ke rumah sakit saat Juniel mengalami kecelakaan..” Seohyun menjelaskan santai.

“ah~ Unnie ..”

“oh ~ jadi ini alasan mu?” Yonghwa geleng-geleng kepala “kalau masalahnya serumit ini ya Oppa juga tidak bisa membantu, semua ada di tanganmu Juniel-ah..aah ternyata kamu sangat terkenal di kalangan laki-laki. Oppa bangga padamu..”

“aish~” Juniel melengos malu. “Unnie aku baru melihatmu lagi, kemana saja?”

“tadi aku ada sedikit urusan dengan Ha Jiwon Sunbaenim, dan baru sempat menemuimu, ngomong-ngomong, sekarang waktunya kontrol kesehatanmu lagi Juniel. Ayo aku antar ke lab ..”
tidak lama seseorang datang menghampiri mereka. Dan berkata bahwa ia bertanggung jawab untuk membawa Juniel ke ruang periksa. Yonghwa dan Seohyun mengiyakan dan melepaskan Juniel pada perawat itu.

“Unnie, tolong temani Oppaku ya..”

“baiklah Juniel-ssi..” Seohyun mencubit pipi Juniel gemas dan membiarkanya pergi bersama perawat lain untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Kini yang tersisa hanya mereka berdua. Berjalan seiringan mengitari halaman luas Seoul Hospital. Sesekali Seohyun menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkanya dengan kepala menghadap langit.

Yonghwa berusaha untuk terlihat biasa, walaupun dadanya berdegub sangat cepat. Ia mencoba untuk tetap menatap lurus kedepan, walaupun sebenarnya ia ingin menatap wajah Seohyun sampai puas. Namun melihat Seohyun seperti itu, ia merasa ada yang salah dengan Seohyun. Ia seperti menyimpan beban dalam hatinya. Namun Yonghwa menahan katanya, ia hanya terus berjalan bersama Seohyun.

“Yonghwa-ssi..”

“dd—e Seohyun-ssi.”

“menurutmu mana yang lebih baik? Mengikuti keinginanmu dan melepaskan apa yang kamu punya saat ini, atau melepaskan keinginanmu dan tetap memiliki segalanya yang ada saat ini?”

“wah, pilihan yang sulit..” Yonghwa mulai berfikir “satu sisi kita memilih untuk meraih kebahagiaan kita dengan mengorbankan yang tersedia. Sisi lain kita mengorbankan kebahagiaan untuk yang sudah ada.. jika aku harus memilih, aku akan memilih yang kedua.”

Seohyun terkejut dengan jawaban Yonghwa, begitu meleset dari yang ia perkirakan “kenapa?”

“Seohyun-ssi ketika kita sudah memiliki sesuatu, itu artinya kita sudah berada dalam keadaan bahagia. Apa kamu tau bahwa keinginan adalah hal paling fana? Setelah kamu meraihnya, kamu tidak akan pernah merasa puas akan hal itu, kamu akan mengingikan hal yang lebih terus menerus.. tapi jika kamu memilih untuk melepaskan keinginanmu untuk apa yang telah kamu punya, akan ada perasaan tentram, artinya  kamu bersyukur dengan apa yang telah ada ..”

Seohyun menghentikan langkahnya dan menatap wajah Yonghwa serius. Dari darah ayah atau ibunya kah? kedua bersaudara ini memiliki kepribadian yang sangat mengesankan.

“ey~ jangan melihatku seperti itu.. kamu tidak setuju?”

kalau kamu menatapku begitu, jantungku bisa-bisa berhenti, jangan salahkan aku jika tubuhmu itu jatuh dalam pelukanku untuk kedua kali. Ya?’

“ani. Tapi .. “

“itu tergantung dari caramu melihat semuanya Seohyun-ssi. Kamu tau tidak? Aku meninggalkan Juniel. sesuatu yang sudah ku punya demi mengejar keinginanku untuk hidup berkecukupan. Namun aku salah, aku hanya akan merasa cukup jika ada Juniel di dekatku, dan sekarang aku kembali pada yang pernah aku miliki, dan melepaskan keinginanku. Aku merasa bahagia dan berkecukupan. Seperti ini contoh jelasnya. lalu masalahmu seperti apa?”

Seohyun memimpin langkah dan menunjuk pada salah satu kursi taman di halaman Seoul Hospital “kita bicarakan di sana ya, sambil menunggu pemeriksaan Juniel selesai” Yonghwa mengikuti langkah Seohyun, ia tidak pernah menduga akan memiliki kesempatan berbicara empat mata tanpa jeda dengan wanita yang membuatnya jatuh cinta dan patah hati dalam waktu bersamaan.

“sebenarnya, aku sudah mengajukan pengunduran diri sebagai perawat di rumah sakit ini..?”

“Apa?! Tapi kenapa?” Yonghwa terkejut dan memprotes bersamaan.

“aku dan Jonghyun akan menikah 6 bulan lagi..” rasanya Yonghwa sedang melayang di angkasa untuk siap terjatuh dari langit paling tinggi menuju jurang yang paling dalam.

Apakah aku tiada?
Atau malah tidak terasa?

“untuk itu aku harus mempersiapkan segalanya sendirian, akan sulit jika aku harus membagi waktuku dengan pekerjaan ini.. tapi kepala perawat di rumah sakit ini menawarkan hal yang membingungkan..”

Yonghwa tidak mendengarkan kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Seohyun, saat ia mengatakan bahwa dirinya akan menikah 6 bulan lagi dengan Jonghyun. Waktu rasanya berhenti disitu dan menikamkan ribuan pedang dalam hatinya. Ia kehilangan damainya.

“Jin—jayo?” Tanya nya kaku. “chukk—ae…” Yonghwa ingin terdengar sewajar mungkin, walaupun ada perasaan sakit luar biasa bersamaan dengan ucapan selamat yang keluar dari mulutnya.

Yonghwa tidak akan merasa sesakit itu jika saja ia Cuma Jatuh Cinta.. tidak akan sama sekali, ia sudah terbiasa untuk tidak memiliki apa yang ia cintai, tapi melihat yang ia cintai di bohongi, Yonghwa terluka untuk itu.

Ia seperti seorang yang hilang arah, begitu pasrah menunggu ajal. Yonghwa tidak mungkin mengatakan pada Seohyun kalau kekasihnya memiliki kekasih yang juga sahabatnya. Seohyun tidak akan mempercayainya. Satu-satunya kesempatan yang Yonghwa punya hanyalah membuat Seohyun jatuh cinta padanya. Hanya itu. Jika tidak, Seohyun akan menemukan jurang terdalam di hidupnya, ia akan jatuh kesana dan mulai terdera. 6 bulan waktu yang tersisa, 6 bulan waktu untuk Yonghwa.

“bagaimana?”

“h—hah?” Yonghwa kembali dari alam bawah sadarnya setelah sibuk menimbang berat sakit hatinya. “oh .. sampai dimana kita tadi?” dahi Seohyun mengerut, mengapa tiba-tiba Yonghwa tidak fokus dengan pembicaraan mereka? “oh ya, jadi kamu sudah meminta untuk berhenti namun kepala perawat di rumah sakit ini menawarimu cuti selama 1 tahun?”

Seohyun mengangguk

“sekarang aku bertanya padamu, apakah kamu bisa meninggalkan duniamu ini?”

Seohyun menggeleng

“kamu sudah jatuh cinta dan menemukan kebahagiaan di dalamnya kan?”

Seohyun mengangguk

“lebih baik habiskan waktumu disini, tidak ada perawat yang lebih baik darimu Seohyun-ssi. Dan mulai mengambil cuti. Aku rasa satu tahun sangat cukup untuk memperisapkan sebelum dan sesudah pernikahan betul kan? Lagipula aku rasa Jonghyun tidak akan melarangmu untuk terus menekuni duniamu” Yonghwa berhenti sejenak menikmati semilir angin pagi yang beriringan dengan matahari “Seohyun-ssi terkadang kita tidak perlu melepaskan apa yang kita punya untuk meraih kebahagiaan.. karena tulus itu tidak pernah meminta timbal balik. Termasuk kebahagiaan, ia tidak pernah menuntut sesuatu untuk di tukarkan, ia akan datang sesuai takdir, telak tepat pada waktunya, ia tulus.”

Seohyun mencerna perkataan itu satu demi satu, ia mencoba memasuki dunia Yonghwa yang telah meninggalkan apa yang ia miliki untuk keinginanya, keinginan fana yang disebut kebahagiaan.

Kebahagiaan itu tulus. Ia tidak pernah meminta balasan.. itu yang baru saja keluar dari mulut Yonghwa. Seohyun ingin memeluk Yonghwa saat itu juga, Yonghwa seperti wahana pemusnah dahaga, ia seperti cahaya di balik guilta, Yonghwa membuka mata hatinya bahwa kebahagiaan itu hanyalah fana. Bersyukur adalah hasrat bahagia yang tidak pernah menuntut. Hanya itu.

“sudah, jangan terlalu di ambil pusing.. “

“gomawoyo Oppa..” akhirnya hanya itu yang meluncur dari mulut manis Seohyun, ia menahan dirinya kuat untuk tidak memeluk Yonghwa walaupun ia ingin. Yonghwa begitu menentramkan.

Oppa?

“Juniel dan kamu adalah orang-orang hebat yang mampir di hidupku, tidak. Akan ku biarkan kalian tetap tinggal dihidupku, bukan hanya mampir. mari bersahabat Yonghwa Oppa..”

“dd—e? bersahabat?”

Seohyun memberikan senyuman terbaiknya dan mengangguk mantap, mengulurkan tanganya dan menjabat tangan Yonghwa.

“aku senang berkenalan denganmu. Yang juga  ternyata akan menjadi adik iparku nanti..”

jangan menjebakku dalam ruang penuh dahaga..
jangan biarkan aku menjadi kering kerontang dalam keluasan,
kamu punya kuasa,
sedang aku hanya gembala..

aku ingin berhenti padamu, tapi kamu membuat tali ini kemelut..
aku akan meraihmu..
walau kau menerbitkan jarak antara aku dan kamu.

***

Matanya terus mengikuti langkah kaki seorang Pilot yang selalu berada di satu pesawat denganya, entah mengapa acap kali ia bertemu dengan Pilot itu, jantungnya berdegub tidak seperti biasanya, ada perasaan aneh yang tidak bisa di jelaskan. Konyolnya ia bisa tersenyum setiap saat ketika ia mengingat sosok yang dengan lesung di pipinya itu. Yoona tidak pernah merasakan keinginan untuk memiliki sebelumnya. Karena Yoona selalu di beri dan di bagi. Ini kali kedua Yoona tau keinginanya. Setelah ingin mengelilingi isi bumi, kini Yoona ingin memasuki dunia lain. Dunia Pilot dengan lesung di pipinya itu.

Jonghyun adalah sosok yang memang terlalu memikat untuk di lewatkan, sudah beberapa banyak pramugari yang jatuh hati dan berusaha mati-matian untuk menaklukan hatinya. Namun Jonghyun selalu membalasnya dengan senyuman dan berkata bahwa hatinya telah di rawat baik-baik oleh seorang perawat Seoul Hospital. Dia tidak pernah tertarik untuk jatuh cinta lagi. Tidak ingin. Seohyun sudah lebih dari cukup untuknya. Pertemuan nya dengan Yoona membuat Jonghyun mulai merasa heran dengan dirinya sendiri. Yoonapun terlalu menarik untuk di lewatkan begitu saja.

“jadi nama kekasihmu itu Seohyun ya?” Sore itu mereka baru mendarat di Bangkok dan menghabiskan waktu mereka bersama seluruh awak pesawat  di Wat Arun candi Budha yang memiliki pemandangan matahari tenggelam paling indah di Bangkok, karena letaknya di tepi barat sungai.

“hm..” Jonghyun mengangkat minumanya dan sesimpuh senyum terbit tatkala nama itu disebutkan.

“Choi Seohyun? Gadis ini bukan?” Yoona mengangkat handphone nya dan menunjukan satu buah foto dirinya berdampingan dengan Seorang gadis berparas cantik dengan rambut panjangnya.

“Yoona-ssi?” Jonghyun mengalihkan perhatian dari handphone itu pada wajah Yoona, dan kembali pada layar Handphone berulang-ulang.

“kamu kenal Seohyun” Tanyanya tidak percaya, kini Jonghyun memusatkan perhatian penuh pada Yoona. Setelah berabad-abad mengabaikanya begitu saja.

“aku hidup denganya hampir seumur hidup..”

“kamu sahabatnya?”

“Lebih dari itu, kami seperti seorang saudara..” kemudian Yoona menceritakan setiap kejadian dalam hidupnya yang menyedihkan. Entah bagaimana Jonghyun ikut hanyuk dalam kesedihan gadis yang selalu terlihat kuat dan tegar ini.

Matahari itu tenggelam di ufuk fajar.
Selayaknya hatimu yang kian tenggelam dalam genggaman..
Kita berkaitan, buta akan aksara,
Lupa akan bencana ..
Dan melenggang tak gentar di hantam bahaya..

***

“Sudah satu tahun lebih ya?” Yoona menatap matahari yang kian tenggelam di balik jendela apartemen Jonghyun. “pertemuan kita di Bangkok yang akhirnya membuat Oppa berhenti mengacuhkanku..”

Jonghyun yang sedang sibuk mengemas pakaianya untuk kembali bertugas behenti seketika, ia menghampiri Yoona yang dengan wajah sempurnanya itu menatap matahari sore hari. Jonghyun memeluk Yoona dari belakang.

            “aku tidak pernah merasa mengabaikanmu, Yoona-ya ..” Yoona berbalik dan membuat jarak antara wajah mereka hanya sejengkal
            “kalau saja aku tidak mengatakan bahwa kekasihmu itu adalah perempuan yang sudah seperti saudara untuku, kamu tidak akan pernah mau melihat ke arahku walau sekejap Oppa..”

            “hmm” Jonghyun mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup bibir Yoona pelan dan dalam “mungkin Tuhan mempertemukan kita lewat Seohyun” Jonghyun memegangi pipi Yoona dan menatapnya penuh cinta.

            “bukannya kamu diciptakan hanya untuk Seohyun?” suara Yoona tercekat, pedih yang tidak bisa di sembunyikan, ia seperti ingin berteriak mengatakan isi hatinya.

            “kenapa Yoona-ya? Kamu tidak ingin aku menikah dengan Seohyun?” Tanya Jonghyun sungguh-sungguh masih dalam posisi yang sama.

            “walaupun aku meminta, kamu tidak akan melakukanya.. aku tau itu..” suara seraknya berubah menjadi getar, dan airmatanya sudah membendung nyaris tumpah. Yoona melepaskan tangan Jonghyun dan membalikan wajahnya kembali ke posisi semula, matahari kini telah tenggelam. Jonghyun tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Kita memulai sesuatu yang bahkan tak punya awal.
Tak punya nama untuk di panggil, tak punya ujung untuk di tempuh .. kita hanya bermain di tengah-tengah, hingga menyadari kita mulai jengah ..

            “aku mengerti kekhawatiranmu, Yoona.. tapi bukankah kamu sendiri yang bilang, walaupun aku sudah menikah, kuantitas pertemuan mu dengan ku, jauh lebih besar di banding aku dengan Seohyun? Ku mohon .. jangan seperti ini ..”  Jonghyun memeluk Yoona erat dan semakin erat di balik punggunya. Hingga airmata Yoona tumpah ruah di sembarang sudut pipinya. Terhapus oleh lenganya dan ditelan dengan hatinya.

            “aku hanya takut ..”

            “aku mengerti ketakutanmu ..”

            “jangan pergi ..” Yoona berbalik dan membalas pelukan Jonghyun, sama eratnya. Yoona tidak pernah tau bahwa ia akan mencintai yang dimiliki Seohyun jauh lebih besar dari Seohyun mencintai miliknya sendiri.

***

            Yonghwa berjalan sendirian di koridor rumah sakit malam itu, pembicaraanya dengan Seohyun tadi pagi meninggalkan banyak kesan dan memberikan bekas yang sulit lenyap. Seohyun selalu saja memberikan dua sisi rasa di dalam satu pertemuan. Yonghwa begitu bahagia karena memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran denganya dalam waktu yang cukup lama, dari mata ke mata, berdua, hanya mereka. Bahagianya bahkan tidak bisa di ganti dengan segelas kopi panas di musim dingin, atau sebongkah eskrim vanilla di musim panas. Tidak bisa di bandingkan. Namun sisi kelamnya tak lain ketika Seohyun mengatakan ia akan menikahi Jonghyun. 6 bulan lagi? Bahagianya ikut terkikis dengan kabar yang menurut Seohyun adalah sebuah kebahagiaan namun layaknya hingar bingar nestapa di telinganya. Siapa yang kuat bertahan? Manusia yang ia cintai sejak awal bertemu, tau-tau akan menikah dengan penipu ulung yang saling jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Sakitnya seperti tersesat di ruang yang tak punya atap—dasar—dan—ujung, Yonghwa seperti tersesat di ruang hampa, tidak tau bagaimana berpijak tidak mengerti mengapa ia terinjak.

            “Annyeonghaseo Yonghwa hh—yyu—ng..”  Yonghwa menghentikan langkahnya ketika seseorang bertubuh tinggi berdiri di hadapanya.
            “hyung?” alis Yonghwa mengangkat protes “aku bukan Hyungmu.”

            “maaf, Yonghwa-ssi.. “

            “aish~ tapi Hyung terdengar lebih baik, kau boleh memanggilku Hyung.”

            “d-dde?” ia kebingungan untuk sesaat “Kamsahamnida Hyung.”

            “ada urusan apa kau kesini?” Tanya Yonghwa ketus, ia masih tidak bisa bersikap ramah pada laki-laki yang satu ini. Meskipun Yonghwa tau niatnya sangat baik dan ia tidak terlihat seperti seorang pembohong.

            “aku mau menjenguk Juniel. Bagaimana kabarnya hari ini?”

            “tsk. Masuk saja sana, tidak usah basa-basi padaku. Lihat saja sendiri keadaanya, yang jelas walaupun setiap hari kau datang tidak akan membuat kaki Juniel bisa berjalan lagi.” Yonghwa melengos dan membiarkan laki-laki itu mematung di tempatnya.

KLIK

Pintu ruangan Juniel terbuka, Juniel sibuk memindah-mindah chanel televisi dari tempatnya.

            “annyeong. Juniel-ah” laki-laki itu Kang Minhyuk, dan tangan Juniel yang sibuk memencet-mencet tombol remot televisi akhirnya berhenti seketika laki-laki itu masuk ke ruanganya.

            “Kang Minhyuk-ssi..”

            “de..” Minhyuk membawakan seikat bunga berfariasi di tanganya, dan mencari vas bunga kemudian menaruhnya.

            “ada apa?”

            “oh~? Tidak sopan sekali bertanya ada apa, aku ingin menjengukmu tentu saja. Dan aku tidak akan berhenti sampai kamu mengatakan Iya.” Minhyuk menatap Juniel dan memberikan senyuman tulus penuh perasaan.

            “Ia? Untuk?”  Juniel tidak tau kalau Minhyuk akan betul-betul mempertanyakan perasaanya. Juniel bahkan tidak bisa memilih untuk tetap diam, mengacuhkan atau berkata tidak. Artinya, di lubuk hati Juniel yang paling dalam ia punya rasa yang sama. Tapi ia tidak bisa memastikan bentuk dari perasaan itu. Terlebih ia tidak bisa mengabaikan perasaan Jungshin terhadapnya. Bagaimanapun Jungshin sudah berjasa banyak untuk hidupnya.

            Tuhan, kenapa semuanya jadi serba rumit begini?

            “aku tidak memaksamu kok. Tenang saja, yang penting kamu sudah tau tentang perasaanku kan? Bilang saja kalau kamu tidak nyaman dengan sikapku .. asal, jangan memintaku untuk menjauhimu.. aku tidak akan bisa Jung Junhee..” ucapnya lagi, begitu ringan namun meyakinkan.

***

            Seohyun sedang menatap wajah Jungshin yang terlihat amat lelah, ia tertidur lelap di ruang rawat Ibunya sebelum ia datang dan membawakanya makanan. Seohyun sedikit melupakan porsi perhatianya untuk Jungshin ketika Juniel menjadi pasienya juga.

            “Mian Jungshin-ah”

            “gwencchana Noona, aku bahkan lebih menyukai kau memperhatikan Juniel di bandingkan aku..”

            “Wae? Sudah tidak menyukaiku ya? Sudah tidak butuh?”   

            “hahahh aniyo noona. Hanya untuk saat ini dia lebih membutuhkanmu.”

            “Geuraeyo?” Seohyun memberikan sekotak makanan untuk Jungshin, dan menarik sebuah kursi untuk duduk di sebelahnya.  “Jungshin-ah, jangan pernah menyerah ya..” Seohyun mengusap punggun Jungshin “aku harap kamu bisa bertahan dengan keadaan ini.. aku yakin ibumu pasti akan sembuh.. Juniel pun begitu..”

            Jungshin menatap Seohyun seolah ingin menemukan semangat di dalamnya, ia tersenyum dan menggenggam tangan Seohyun “Gomawoyo, Noona..” Seohyun membalas genggaman tangan Jungshin. “aku sangat iri pada Jonghyun Hyung. Dia sangat beruntuk bisa mendaptakan Noona..”

            “aku yang beruntung bisa memilikinya Jungshin-ah.. oh iya tadi pagi Eunji sudah meninggalkan Seoul, dia sudah kembali ke ulsan, di bilang terimakasih karena sudah menemaninya selama di Seoul.. lalu.. hari ini kamu belum menemui Juniel kan? Waeyo?”

            “Eunji? Wah anak itu berani sekali pulang tidak pamit padaku. Padahal dia masih punya hutang banyak” Jungshin geleng-geleng kepala “lain kali aku ingin mengunjungi Ulsan dan membuktikan sendiri seperti apa Ulsan itu, apa memang benar seperti yang di ceritakan makhluk menyebalkan itu ya? Dia terlalu membangga-banggakan kota kelahirannya. Bahkan berbicara dengan dialec seperti itu.. kadang aku tidak bisa menahan tawaku..”

            “loh, kalian ternyata sudah kenal begitu dekat ya?”

            “ehm.. tidak juga Noona..”

            “lalu, kenapa pertanyaan terakhirku tidak dijawab?”

            “yang mana?”

            “Juniel? Kamu belum menemuinya hari ini..”

            .

            .

            .

            Jarak yang menyesakan, bahkan Jungshin tidak bisa menjawab apapun untuk pertanyaan itu, entah mengapa kakinya terasa berat untuk menemui Juniel. Keadaanya sudah begitu berbeda sejak kecelakaan ini terjadi, sejak Juniel sudah mengetahui identitasnya. Dan ada perasaan yang begitu asing ketika Minhyuk datang diantara mereka, mengungkapkan perasaannya pada Juniel tanpa ragu-ragu. Tidak sepertinya yang selalu memilih untuk memendamnya sendiri. Ingin bertingkah Heroik yang malah terlihat begitu konyol. Nyali Jungshin ciut entah mengapa. Ia tidak cukup siap untuk bertemu dengan Juniel.

            “sekarang malah diam.. Jungshin-ah wae geurae?”

            “aniyo Noona, aku rasa Juniel butuh banyak istirahat, jadi untuk sementara waktu aku tidak ingin mengganggunya..” Jungshin menghindari tatapan mata Seohyun, ia menyembunyikan kekhawatiran dalam hatinya. Dia belajar berbohong untuk itu.

Aku ingin menembus setiap genderang perang,
Mematahkan semangat setiap orang
Menunjukan akulah sang pemenang.
Namun kini, aku Cuma bisa diam,
Termasuk mencintaimu, aku mengikut sertakanya dalam serangkaian kebisuan..
Mengertilah wahai awam..
Aku hanyalah seekor kumbang
Datang bertandang untuk berdendang,
Dan aku takluk sebatas palang..
Di tengah hamparan sang ilalang..

***
Mereka semua sama telak. Berbohong pada dirinya sendiri, mereka sama-sama tau apa yang paling mereka mau, namun mereka lari dari itu, tidak ada pemenangnya. Mereka semua bermain dalam sebuah lingkaran, tidak tau dimana awalnya, tidak terlihat dimana ujungnya. Mereka sadar ini salah, namun keadaan terus memaksa mereka untuk berbohong..
Tidak ada satu bait katapun yang tidak bermakna, termasuk kisah cinta mereka, Jung Yonghwa memandangi Minhyuk dan Juniel yang terlihat segan malam itu di balik pintu kamar ruang rawat inap. Seohyun menatap mata Jungshin dan menemukan kebohongan bodoh di dalamnya, Jungshin menangkap sinyal lain dari padandang ragu-ragu itu, ia tau mereka sama-sama berbohong .. dan Eunji dia menyimpan rahasia besar di balik punggunya yang berlalu tadi pagi.
Mereka semua bertanya-tanya, kemanakah mereka akan pergi? Bagaimanakah ini semua akan berakhir? Mereka hanya berputar-putar di satu tempat yang sama, penuh sesak dan rasa sakit.


-  To be Continue  -

6 komentar:

  1. Finally chap 10..mksh mbak udh mw lnjutin...jd tmbah pnsran gmna endingnya ntar yah..hhe ^_^ Dian Kartika ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa sama-samaaa simbiosis mutualisme kan hehhe
      terimakasih banyak juga udah bacaa, semoga ceritanya bisa dibikin tambah berkualitas :D

      Hapus
  2. akhornya bsa buka jg.maaf telat review nh.
    Makin pnasaran dg jlan ceritanya,apa yg akan dilakukan yonghwa n siapa yg bakal dipilih juniel ^^
    mnurutku bagus,alur critanya ga cepet2 tpi jg jngan trlalu lambat,Teh.untuk mncegah kebosanan.SEMANGAT,makasih udah dilanjutin :)
    *uqi

    BalasHapus
  3. ditunngu ya chapter berikutnya, gak sabar XD
    jangan terlalu lama kayak harpot / twilight edisi terakhir .__.v
    hehehhee gomawoyoooo buat ceritanya

    BalasHapus
  4. Suka banget sama ceritanya kapan nih lanjutan ceritanya dah lama nunggu kelanjutan nya hehehe dah gak sabar semangat

    BalasHapus
  5. Suka banget sama ceritanya kapan nih lanjutan ceritanya dah lama nunggu kelanjutan nya hehehe dah gak sabar semangat

    BalasHapus