Senin, 03 September 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 5


No More Tears Formula
Chapter 5

Jonghyun  - Little Lies? No More?


            Ia baru saja memarkirkan kendaraanya di halaman parkir Seoul Hospital, kemudian senantiasa akan di sambut dengan pelukan hangat oleh gadis yang ia sayangi, cukup ia sayangi. Seohyun. Dan yang duduk disisinya adalah sahabat dari kekasihnya. Im Yoona.
            Hanya sebatas itu, pertemuan mereka yang amat jarang terjadi memang sesekali membuat rindunya tumbuh berlebihan, namun jarak yang memisahkan mereka cukup menjadi kendala untuk bisa saling menemui satu sama lain dalam jangka waktu dekat.
            Lee Jonghyun, terlahir dalam keluarga yang sama seperti kekasihnya, hangat dan saling melengkapi. Keluarga besar Jung mengalir dari darah ibunya, dan keluarga besar Lee dari ayahnya, walau sebenarnya ia tidak terlalu memperdulikan keberadaan keluarga Jung, karena ia besar dan hidup di lingkungan keluarga Lee.
            ‘Seohyun-ah.. neomu yeppo.. saranghanda..’ saat gadis itu berlari memeluk Yoona hanya itu yang bisa ia katakan, benar bahwa hatinya sangat merindukan kekasihnya. Jika ditanya bagaimana mereka bisa bersatu dan saling jatuh cinta, itu konyol. Bahkan Jonghyun tidak tau bagaimana harus menceritakannya.
            Seohyun saat itu ditugaskan untuk menjadi perawat di Akademi Pilot dan Penerbangan Seoul, aneh dipikirnya, mengapa tidak di rumah sakit dan malah dikirim ke sini, dan tentu saja banyak siswa yang berpura-pura sakit hanya untuk melihat wajahnya, Seohyun sangat cantik, apalagi ketika di balut busana putih-putih khas perawat, jika saja ditambahkan sayap, sempurnalah dia menjadi bidadari.
            Jonghyun adalah tipikal lelaki yang dingin, saat orang lain beramai-ramai mencari trik untuk datang ke pos perawatan ia tidak. Hingga akhirnya malah Jonghyun yang sakit betulan.
***
            “suhu tubuhmu panas sekali..” Seohyun mengambil termometer yang baru saja Jonghyun gigit. Kemudian Seohyun menaruh telapak tanganya di kening Jonghyun.
            Melihat Seohyun dari jarak sedekat itu, Jonghyun hampir mati kehabisan nafas, wangi tubuhnya pun tercium lembut hingga Jonghyun sulit bergerak.
            “aku bisa kembali ke kamarku?”
            “tunggu sebentar lagi Lee Jonghyun-shi.. saya masih harus memberi  obat penurun panas, dan apa yang anda lakukan hingga mengalami demam seperti ini?” tanyanya cemas, wajah Seohyun mendekat sambil terus mengompres kening Jonghyun. Ia malah seperti perawat pribadi untuk Jonghyun.
            ‘oh tuhan… oh aku ingin mati… bangunkan aku dari mimpi ini..’
***
            Dan sejak hari itu usai, Jonghyun yang awalnya tidak memiliki rasa ketertarikan untuk mendekati Seohyun, atau mencari trik-trik handal untuk datang ke pos perawatan kini berada di barisan nomor satu untuk mencari cara bertemu dengan Seohyun, ia tidak bisa melupakan gadis itu. hingga lama kelamaan setelah Seohyun berhenti bertugas di Kampusnya, ia masih sering mendatangi Seohyun untuk sekedar keluar, makan bersama, atau nonton bersama. Dan Jonghyun pun mengakui perasaanya. Beruntung gadis cantik itu ternyata memiliki rasa penasaran dan ketertarikan yang sama, dan beruntung latar belakang keluarga Seohyun sangat jelas dan tertata rapi, dan jalan pun mulus hingga kini mereka tetap bersama setelah dua tahun menjalin hubungan.

            “Oppa, gadis itu hidup sendirian..” dan mulai sifat kemanusiaannya selalu tumbuh tiba-tiba seperti ini, Jonghyun sangat mencintai kerendahan hatinya. Ingin saat itu juga memeluknya dan membawanya jauh dari rumah sakit untuk menghabiskan waktu bersama.
            Tapi tunggu, gadis yang terbaring itu..
            “Jung Jun Hee..” tentu saja Jonghyun mengenalinya, gadis itu sudah lama menghilang, dia adalah adik sepupunya, bagaimana Jonghyun bisa mengenalinya? Dua tahun yang lalu Jonghyun datang ke pemakaman neneknya dan untuk pertamakalinya ia bertemu dengan Juniel untuk waktu yang sekian lama, namun Yonghwa?
***
            Jonghyun memegang lengan Seohyun erat ketika akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu berdua, tidak ingin berkeliling jauh di kota Seoul, Jonghyun hanya ingin memandangi Seohyun puas, dan ia memutuskan untuk membawa Seohyun ke rumahnya.
            “kendae Oppa.. memang sedari kecil Juniel hidup sendiri?”
            “sepertinya begitu, ibunya meninggal saat melahirkan Juniel, dan ayahnya.. menikah lagi..”
            “MWO ? ish .. laki-laki macam apa itu? menelantarkan keluarganya untuk mendapat kebahagiaan sendiri, bahkan menduakan cinta istrinya yang rela mati untuk melahirkan anak mereka, ah jinjja di dunia ini ternyata ada juga orang seperti itu, belum lagi laki-laki yang menabrak Juniel, Oppa masa dia sekarang berkeliaran bebas tanpa mendapat sanksi dari polisi atau setidaknya dia berfikir sedikit bagaimana dengan Juniel, dengan kehidupannya? Aaaah anak laki-laki sialan!!”
            “sssst, sudah yaaa.. hari ini waktumu untuku Seohyunnie.. bisa kan berhenti menceritakan segala sesuatu tentang Juniel atau bahkan Jungshin.. kamu tau kan Hyunnie, aku selalu cemburu pada Jungshin..” Seohyun menatap geli kekasihnya, padahal hari itu pertamakalinya Jonghyun melihat Jungshin, namun saat jarak mereka terpisah jauh seringkali Seohyun menceritakan tentang anak laki-laki yang hidupnya mengenaskan itu, dan malah membuat Jonghyun cemburu.
            “arraseo..” jawabnya lembut, kemudian tangan Jonghyun mendarat di puncak kepala Seohyun, mengacak-ngacak rambutnya gemas.
            Sesampainya di apartement Jonghyun yang berukuran cukup besar itu, Seohyun langsung berlari menuju dapur dan mengacak-ngacak isi kulkas.
            “Oppa.. isisnya sudah lengkap, memang kapan Oppa belanja?”
            “tadi pagi, sebelum menemuimu.. sudah pasti kalau kosong waktu kita untuk berduaan malah dihabiskan di super market memilih ini itu, nae chagi kan memang bawel..” kemudian Jonghyun tertuntun untuk mendekati gadisnya.
            “Seohyunnie..” Seohyun yang masih asik mengacak-ngacak isi kulkas, membalikan badannya, dan mata mereka berdua bertemu, Jonghyun yang menyandarkan tangannya di pintu kulkas menahan tubuhnya yang merendahkan wajahnya,  membuat Seohyun tersudutkan.
            “Oppa.. waeyo?” Jonghyun menarik pinggul Seohyun dan membuat tubuh mereka merapat satu sama lain.. Seohyun gelagapan panik dan gugup, lengannya tepat menyentuh dada Jonghyun.
            Percaya atau tidak, dua tahun menjalani hubungan dengan Jonghyun, Seohyun tidak pernah memberikan Jonghyun sebuah ciuman, baik itu dipipi apalagi di bibir, ia selalu mengingat petuah neneknya, menjadi wanita itu tidak boleh sembarangan memeberikan harga dirinya, apalagi pada kekasih yang justru belum tentu menjadi suaminya. Dan setiap kali Jonghyun sudah berada di posisi seintim ini, Seohyun selalu berhasil melarikan diri, namun kali ini pelukan Jonghyun benar-benar erat. Seohyun benar-benar habis tertangkap oleh kekasihnya.
            ‘apa harus..’ pikirnya dalam hati
            “jangan menghindar lagi Seohyun..” Jonghyun berbisik pelan, semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Seohyun.
            ‘helmoni.. maafkan aku sekali ini aku melanggar aturanmu yaaaa..’ Seohyun kemudian menutup kedua matanya cepat. Yang malah membuat Jonghyun ingin tertawa, namun ia tetap mendekatkan wajahnya pada Seohyun. Dan..
            Teng tong ..
            Seohyun kembali membuka matanya, dan Jonghyun menghentikan gerakanya.
            “Oppa.. itu” Seohyun melepaskan lengan Jonghyun yang masih melingkar di pinggulnya “biar aku yang buka pintunya” Kemudian ia melarikan diri dari perangkap Jonghyun, sambil melangkah cepat Seohyun menghela nafasnya lega. Sementara Jonghyun terpaku di tempatnya, kecewa dan tidak percaya hari ini dia gagal lagi, meski gemas pada Seohyun ia kemudian mengikuti langkah Seohyun.
            “Oh Yoona-ya..” Seohyun terkejut saat membuka pintu “waeyo?”   “Seohyun-ah..”
            “aku hanya mengantar dia Seohyunnie..” dan dari balik pintu yang semakin terbuka lebar munculah wajah Jungshin yang terlihat bingung dan bahagia sekaligus.
            “J—jungshin ? waeyo?”
            “oh noona !! Juniel.. dia sudah membuka matanya..”
            “ah JINJJA ?!” Seohyun berjinjit bahagia dan memeluk Jungshin erat, tidak menyadari kekasihnya masih memperhatikan dirinya.
            “Oppa..” Seohyun kemudian menatap wajah Jonghyun yang kini berubah dingin.
Jonghyun tidak ingin menanggapi apapun, bagaimanapun ia ingin Seohyun lebih memprorioritaskan dirinya ketimbang adik-adiknya yang tidak tau berasal dari mana, melihat hal itu Seohyun menatap Jungshin sekali lagi.
            “Jungshin-ah.. mianeo.. tapi bisa kan kamu menjaga Juniel tanpa aku? Ne?” Seohyun merajuk pada Jungshin, dan Jungshin memandang wajah malas Jonghyun yang terlihat tidak bersahabat, seperti sangat terganggu.
            “arraseo noona-ya.. aku hanya ingin memberikan kabar saja, karena ponselmu tidak aktif..” Jungshin menundukan kepalanya, menyesal telah mengganggu waktu berharga antara Seohyun juga Jonghyun.
            “sudah kan? kalau hanya ingin memberi kabar tidak ada yang perlu dibicarakan lagi? Bisa meninggalkan kami berdua sekarang? ” tanya Jonghyun datar.
            “ne?” tanya Jungshin kaget atas ucapan Jonghyun “algesamnida.. hyungnim..” jawab Jungshin penuh sesal.
            “Oppa.. wae? Kenapa begitu sinis pada Jungshin?” Yoona menaikan suaranya tersirat nada menyindir. Seohyun menatap ketiga orang itu, suasana menjadi sangat tegang dan tidak nyaman sama sekali.
            “Jungshin-ah, kajja..” Yoona menarik tangan Jungshin dan berlalu dari tempat itu, Seohyun menatap punggung Yoona juga Jungshin yang begitu saja pergi.
            “wae Yoona marah seperti itu?” tanya Jonghyun ragu pada Seohyun
            “mungkin karena sikap Oppa memang berlebihan, sampai tadi Yoona kita tinggalkan di rumah sakit, dia bukan marah karena sikapmu pada Jungshin yang sinis, tapi karena perlakuanmu padanya sangat tidak bersahabat..” Seohyun menjelaskan santai pada Jonghyun. Walaupun perasaanya juga tidak nyaman dan menyesal atas perlakuan Jonghyun baik pada Yoona maupun pada Jungshin.
            Seohyun kemudian duduk dan mengamit tasnya, memeriksa ponselnya, benar kata Jungshin, ponselnya mati total.
            “Hyunnie..” Jonghyun berjalan mendekatinya
            “ne oppa..”
            “haaah.. sampai kapan kamu akan membuatku menunggu?” Jonhyun duduk di samping Seohyun dan merapatkan tubuh Seohyun pada dadanya seketika. Seohyun mengangkat wajahnya dan menatap wajah lelah dan putus asa Jonghyun.   
            “Oppa menunggu untuk apa?”
            “kamu juga tau sendiri Seohyunnie..” Jonghyun mengelus lembut pipi Seohyun
            ‘oh tidak, jangan-jangan ia masih mau melanjutkan yang tadi.. apa memang benar dia menunggu hal ini sangat lama? Ottokeee ..’ Seohyun menjerit dalam hatinya sendiri.
            ‘mengapa sulit sekali menjangkaumu Seohyun-ah.. kamu begitu dekat, dan nyata.. tapi untuk melakukan apa yang pasangan lain biasa lakukan pun sangat sulit.. apa memang kamu tidak mencintaiku?’
            “Oppa..” bisik Seohyun tepat saat bibir Jonghyun hendak mendarat di bibirnya, membuat Jonghyun terhenti, wajah Seohyun memerah dan airmata mulai meluncur satu-satu.
            “Seohyun waeyo?” Jonghyun menarik wajah Seohyun lembut dan memegangi lehernya dengan kedua telapak tangannya.
            “apa harus dengan cara ini untuk menunjukan aku tulus menyayangimu..” Seohyun mulai terisak.
            ‘please don’t cry Seohyun-ah.. maafkan aku.. maafkan aku..’ Jonghyun membelai rambut Seohyun dan menariknya dalam pelukan, Jonghyun panik dan hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membuat tangis Seohyun berhenti, dan tak ada jawaban apapun dari mulut Jonghyun.
            “Oppa marebwa..” suara Seohyun lemah dalam tangis dan bendungan kecewa..
            “aniyo Seohyun-ah.. ani.. mianheo..” Jonghyun mengelus-ngelus rambut Seohyun yang tergerai panjang, berusaha membuatnya tenang.
            “tapi aku melihat Oppa meragukan ketulusanku..” tangis Seohyun semakin pecah..
            “Seohyun.. Choi Seohyun.. maafkan aku, maafkan aku.. aku sama sekali tidak meragukan apapun darimu, dan maaf jika aku terlihat memaksamu.. aku mencintaimu..”
            ‘jinjja mianheo Seohyun-ah.. maaf untuk semua ini.. maaf..’
            Seohyun melepaskan tubuhnya dari pelukan Jonghyun, kemudian menatap mata Jonghyun jelas, walau dengan mata yang masih berkaca-kaca
            “Oppa.. jangan sesekali meragukan perasaanku hanya karena aku bertahan pada prinsipku untuk tidak melakukan sex pra nikah.. karena aku yakin pada akhirnya hanya pada Oppa akan ku berikan segalanya yang ku punya.. maafkan aku jika kamu kecewa, tapi aku betul-betul mencintaimu Oppa..” Jonghyun bisa merasakan jelas emosi dan kekecewaan Seohyun atas keragu-raguannya juga atas tindakannya, bagaimana bisa Jonghyun  melakukan itu pada Seohyun yang jelas-jelas sudah menemaninya cukup lama.
            Tanpa berfikir dua kali Jonghyun mengecup kening Seohyun hangat dan lama,betapa Jonghyun mencintai gadis ini, betapa ia tidak ingin kehilangan Seohyun kendati banyak yang mencoba untuk membuatnya melupakan Seohyun. Jonghyun tenggelam dalam tatapan mata Seohyun, menemukan kedamaian dan menemukan tempat singgah yang tak patut ia hancurkan, hati Seohyun satu-satunya tempat terindah yang ia miliki dan tak ingin ia tinggalkan..
            “gomawo Seohyun-ah.. gomawo..” Jonghyun menatap mata Seohyun dalam, penuh perasaan, terutama rasa takut kehilangan. “jinjja mianheo, aku tau betapa besar perasaan sayangmu.. maaf aku tidak meragukanmu sama sekali.. sarangheo Seohyun-ah..” Jonghyun kembali memeluk dan mencium kening Seohyun lama. Mencoba membaca perasaan Seohyun yang kalut dan kecewa pada dirinya.
            Jonghyun menahan tubuh Seohyun lama, hingga akhirnya kekasihnya itu terlelap dalam pelukanya, pelan Jonghyun mencoba mengangkat tubuh Seohyun dan merebahkanya di sofa. Memandangi kekasihnya dalam tidur yang damai membuatnya larut dalam rasa sayang yang menetramkan, bagaimana ia bisa menyakiti gadis ini.. tak ada alasan untuk meninggalkannya. Walaupun ada sesuatu yang menariknya untuk berbohong pada Seohyun.
            “Seohyun-ah.. saranghanda.. mianheo..” Jonghyun mengelus-ngelus kening Seohyun.

***
            “Yobseo..”
            “Oppa..”
            “ne Yoona-ya..”
            “Jung Yonghwa-shi..”
            “MWO?”
            “jiggeumeun..”
            “Jinjja? Tapi kenapa kamu masih di rumah sakit Yoona-ya?”
            “aku tidak mau pulang ..”
            “………………………………”

***
            Setelah dua jam berlalu, Jonghyun mencoba membangunkan Seohyun yang tertidur pulas, gurat wajah lelah dan sedih masih nampak walau sudah terobati.
            “Seohyun-ah.. irona..” Seohyun kemudian bergeliat saat Jonghyun terasa menggetar-getarkan tubuhnya lembut.
            “Oppa..” Suaranya serak.. “jam berapa ini..”
            “jam dua malam Seohyun-ah..” kaget Seohyun terbangun dengan cepat
            “MWO? Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?” Seohyun buru-buru mengemas barangnya.
            “tapi Siwon Hyung sudah menelponku dan dia bilang tidak apa-apa jika kamu tidur disini..” Seohyun berhenti saat nama kakaknya disebut. Dan ia terhempas kembali duduk di sofa tempatnya tidur semla..
            “oh, taengida.. keluargaku sudah memberikan kepercayaan penuh padamu..” Seohyun tersenyum lega.
            ‘haruskah ku katakan Yonghwa berada di rumah sakit sekarang? Ah ini sudah malam.. biarkan saja dia disini..’ Jonghyun bergemuruh dengan hatinya sendiri.

To Be Continued

1 komentar:

  1. Mimi... First of all.. Saengil Chukkahamnida.. Saranghanda Mimi-ah... *xoxo*
    Wah, di chapter ini sepertinya ada sesuatu yang ditutupi? Hmm... Chapter ini singkat n lucu ya, Hyun masih begitu polos sdgkan JH udah ngebet bgt. hihihihi... Tp di chapter ini ceritanya singkat banget, Mi.. Mau lagi, ayo cepet update, ga sabar rasanya.. =p
    Masih seperti comment aku kmrn, aku suka FF km ini secara POV n crtnya jg menggigit krn bkm bs ditebak next cast n ujung ceritanya, kyanya masih jauh dari ending ya? hehehe..
    Aku tunggu next chapternya ya, dear.. Fighting!! ^^
    Eniwei, tambah sering nulis, tmbh kreatif, slalu ceria n tmbh dewasa ya, Mi di bdae taun ini.. Wish all the best for u!! *hugs*

    BalasHapus