No
More Tears Formula
Chapter
5
Jonghyun - Little Lies? No More?
Ia baru saja memarkirkan kendaraanya
di halaman parkir Seoul Hospital, kemudian senantiasa akan di sambut dengan
pelukan hangat oleh gadis yang ia sayangi, cukup ia sayangi. Seohyun. Dan yang
duduk disisinya adalah sahabat dari kekasihnya. Im Yoona.
Hanya sebatas itu, pertemuan mereka
yang amat jarang terjadi memang sesekali membuat rindunya tumbuh berlebihan,
namun jarak yang memisahkan mereka cukup menjadi kendala untuk bisa saling
menemui satu sama lain dalam jangka waktu dekat.
Lee Jonghyun, terlahir dalam
keluarga yang sama seperti kekasihnya, hangat dan saling melengkapi. Keluarga
besar Jung mengalir dari darah ibunya, dan keluarga besar Lee dari ayahnya,
walau sebenarnya ia tidak terlalu memperdulikan keberadaan keluarga Jung,
karena ia besar dan hidup di lingkungan keluarga Lee.
‘Seohyun-ah..
neomu yeppo.. saranghanda..’ saat gadis itu berlari memeluk Yoona hanya itu
yang bisa ia katakan, benar bahwa hatinya sangat merindukan kekasihnya. Jika
ditanya bagaimana mereka bisa bersatu dan saling jatuh cinta, itu konyol.
Bahkan Jonghyun tidak tau bagaimana harus menceritakannya.
Seohyun saat itu ditugaskan untuk
menjadi perawat di Akademi Pilot dan Penerbangan Seoul, aneh dipikirnya,
mengapa tidak di rumah sakit dan malah dikirim ke sini, dan tentu saja banyak
siswa yang berpura-pura sakit hanya untuk melihat wajahnya, Seohyun sangat
cantik, apalagi ketika di balut busana putih-putih khas perawat, jika saja
ditambahkan sayap, sempurnalah dia menjadi bidadari.
Jonghyun adalah tipikal lelaki yang
dingin, saat orang lain beramai-ramai mencari trik untuk datang ke pos
perawatan ia tidak. Hingga akhirnya malah Jonghyun yang sakit betulan.
***
“suhu tubuhmu panas sekali..”
Seohyun mengambil termometer yang baru saja Jonghyun gigit. Kemudian Seohyun
menaruh telapak tanganya di kening Jonghyun.
Melihat Seohyun dari jarak sedekat
itu, Jonghyun hampir mati kehabisan nafas, wangi tubuhnya pun tercium lembut
hingga Jonghyun sulit bergerak.
“aku bisa kembali ke kamarku?”
“tunggu sebentar lagi Lee
Jonghyun-shi.. saya masih harus memberi
obat penurun panas, dan apa yang anda lakukan hingga mengalami demam
seperti ini?” tanyanya cemas, wajah Seohyun mendekat sambil terus mengompres
kening Jonghyun. Ia malah seperti perawat pribadi untuk Jonghyun.
‘oh
tuhan… oh aku ingin mati… bangunkan aku dari mimpi ini..’
***
Dan sejak hari itu usai, Jonghyun
yang awalnya tidak memiliki rasa ketertarikan untuk mendekati Seohyun, atau
mencari trik-trik handal untuk datang ke pos perawatan kini berada di barisan
nomor satu untuk mencari cara bertemu dengan Seohyun, ia tidak bisa melupakan
gadis itu. hingga lama kelamaan setelah Seohyun berhenti bertugas di Kampusnya,
ia masih sering mendatangi Seohyun untuk sekedar keluar, makan bersama, atau
nonton bersama. Dan Jonghyun pun mengakui perasaanya. Beruntung gadis cantik
itu ternyata memiliki rasa penasaran dan ketertarikan yang sama, dan beruntung
latar belakang keluarga Seohyun sangat jelas dan tertata rapi, dan jalan pun
mulus hingga kini mereka tetap bersama setelah dua tahun menjalin hubungan.
“Oppa, gadis itu hidup sendirian..”
dan mulai sifat kemanusiaannya selalu tumbuh tiba-tiba seperti ini, Jonghyun
sangat mencintai kerendahan hatinya. Ingin saat itu juga memeluknya dan
membawanya jauh dari rumah sakit untuk menghabiskan waktu bersama.
Tapi tunggu, gadis yang terbaring
itu..
“Jung Jun Hee..” tentu saja Jonghyun
mengenalinya, gadis itu sudah lama menghilang, dia adalah adik sepupunya,
bagaimana Jonghyun bisa mengenalinya? Dua tahun yang lalu Jonghyun datang ke
pemakaman neneknya dan untuk pertamakalinya ia bertemu dengan Juniel untuk
waktu yang sekian lama, namun Yonghwa?
***
Jonghyun memegang lengan Seohyun
erat ketika akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu berdua, tidak ingin
berkeliling jauh di kota Seoul, Jonghyun hanya ingin memandangi Seohyun puas,
dan ia memutuskan untuk membawa Seohyun ke rumahnya.
“kendae Oppa.. memang sedari kecil Juniel
hidup sendiri?”
“sepertinya begitu, ibunya meninggal
saat melahirkan Juniel, dan ayahnya.. menikah lagi..”
“MWO ? ish .. laki-laki macam apa
itu? menelantarkan keluarganya untuk mendapat kebahagiaan sendiri, bahkan
menduakan cinta istrinya yang rela mati untuk melahirkan anak mereka, ah jinjja
di dunia ini ternyata ada juga orang seperti itu, belum lagi laki-laki yang
menabrak Juniel, Oppa masa dia sekarang berkeliaran bebas tanpa mendapat sanksi
dari polisi atau setidaknya dia berfikir sedikit bagaimana dengan Juniel,
dengan kehidupannya? Aaaah anak laki-laki sialan!!”
“sssst, sudah yaaa.. hari ini
waktumu untuku Seohyunnie.. bisa kan berhenti menceritakan segala sesuatu
tentang Juniel atau bahkan Jungshin.. kamu tau kan Hyunnie, aku selalu cemburu
pada Jungshin..” Seohyun menatap geli kekasihnya, padahal hari itu
pertamakalinya Jonghyun melihat Jungshin, namun saat jarak mereka terpisah jauh
seringkali Seohyun menceritakan tentang anak laki-laki yang hidupnya
mengenaskan itu, dan malah membuat Jonghyun cemburu.
“arraseo..” jawabnya lembut,
kemudian tangan Jonghyun mendarat di puncak kepala Seohyun, mengacak-ngacak rambutnya
gemas.
Sesampainya di apartement Jonghyun
yang berukuran cukup besar itu, Seohyun langsung berlari menuju dapur dan
mengacak-ngacak isi kulkas.
“Oppa.. isisnya sudah lengkap,
memang kapan Oppa belanja?”
“tadi pagi, sebelum menemuimu..
sudah pasti kalau kosong waktu kita untuk berduaan malah dihabiskan di super
market memilih ini itu, nae chagi kan memang bawel..” kemudian Jonghyun
tertuntun untuk mendekati gadisnya.
“Seohyunnie..” Seohyun yang masih
asik mengacak-ngacak isi kulkas, membalikan badannya, dan mata mereka berdua
bertemu, Jonghyun yang menyandarkan tangannya di pintu kulkas menahan tubuhnya
yang merendahkan wajahnya, membuat
Seohyun tersudutkan.
“Oppa.. waeyo?” Jonghyun menarik
pinggul Seohyun dan membuat tubuh mereka merapat satu sama lain.. Seohyun
gelagapan panik dan gugup, lengannya tepat menyentuh dada Jonghyun.
Percaya atau tidak, dua tahun
menjalani hubungan dengan Jonghyun, Seohyun tidak pernah memberikan Jonghyun
sebuah ciuman, baik itu dipipi apalagi di bibir, ia selalu mengingat petuah
neneknya, menjadi wanita itu tidak boleh sembarangan memeberikan harga dirinya,
apalagi pada kekasih yang justru belum tentu menjadi suaminya. Dan setiap kali
Jonghyun sudah berada di posisi seintim ini, Seohyun selalu berhasil melarikan
diri, namun kali ini pelukan Jonghyun benar-benar erat. Seohyun benar-benar
habis tertangkap oleh kekasihnya.
‘apa
harus..’ pikirnya dalam hati
“jangan menghindar lagi Seohyun..”
Jonghyun berbisik pelan, semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Seohyun.
‘helmoni..
maafkan aku sekali ini aku melanggar aturanmu yaaaa..’ Seohyun kemudian menutup
kedua matanya cepat. Yang malah membuat Jonghyun ingin tertawa, namun ia tetap
mendekatkan wajahnya pada Seohyun. Dan..
Teng tong ..
Seohyun kembali membuka matanya, dan
Jonghyun menghentikan gerakanya.
“Oppa.. itu” Seohyun melepaskan
lengan Jonghyun yang masih melingkar di pinggulnya “biar aku yang buka
pintunya” Kemudian ia melarikan diri dari perangkap Jonghyun, sambil melangkah
cepat Seohyun menghela nafasnya lega. Sementara Jonghyun terpaku di tempatnya,
kecewa dan tidak percaya hari ini dia gagal lagi, meski gemas pada Seohyun ia
kemudian mengikuti langkah Seohyun.
“Oh Yoona-ya..” Seohyun terkejut
saat membuka pintu “waeyo?” “Seohyun-ah..”
“aku hanya mengantar dia
Seohyunnie..” dan dari balik pintu yang semakin terbuka lebar munculah wajah
Jungshin yang terlihat bingung dan bahagia sekaligus.
“J—jungshin ? waeyo?”
“oh noona !! Juniel.. dia sudah membuka
matanya..”
“ah JINJJA ?!” Seohyun berjinjit
bahagia dan memeluk Jungshin erat, tidak menyadari kekasihnya masih
memperhatikan dirinya.
“Oppa..” Seohyun kemudian menatap
wajah Jonghyun yang kini berubah dingin.
Jonghyun
tidak ingin menanggapi apapun, bagaimanapun ia ingin Seohyun lebih
memprorioritaskan dirinya ketimbang adik-adiknya yang tidak tau berasal dari
mana, melihat hal itu Seohyun menatap Jungshin sekali lagi.
“Jungshin-ah.. mianeo.. tapi bisa
kan kamu menjaga Juniel tanpa aku? Ne?” Seohyun merajuk pada Jungshin, dan
Jungshin memandang wajah malas Jonghyun yang terlihat tidak bersahabat, seperti
sangat terganggu.
“arraseo noona-ya.. aku hanya ingin
memberikan kabar saja, karena ponselmu tidak aktif..” Jungshin menundukan
kepalanya, menyesal telah mengganggu waktu berharga antara Seohyun juga
Jonghyun.
“sudah kan? kalau hanya ingin memberi
kabar tidak ada yang perlu dibicarakan lagi? Bisa meninggalkan kami berdua
sekarang? ” tanya Jonghyun datar.
“ne?” tanya Jungshin kaget atas
ucapan Jonghyun “algesamnida.. hyungnim..” jawab Jungshin penuh sesal.
“Oppa.. wae? Kenapa begitu sinis
pada Jungshin?” Yoona menaikan suaranya tersirat nada menyindir. Seohyun
menatap ketiga orang itu, suasana menjadi sangat tegang dan tidak nyaman sama
sekali.
“Jungshin-ah, kajja..” Yoona menarik
tangan Jungshin dan berlalu dari tempat itu, Seohyun menatap punggung Yoona
juga Jungshin yang begitu saja pergi.
“wae Yoona marah seperti itu?” tanya
Jonghyun ragu pada Seohyun
“mungkin karena sikap Oppa memang
berlebihan, sampai tadi Yoona kita tinggalkan di rumah sakit, dia bukan marah
karena sikapmu pada Jungshin yang sinis, tapi karena perlakuanmu padanya sangat
tidak bersahabat..” Seohyun menjelaskan santai pada Jonghyun. Walaupun perasaanya
juga tidak nyaman dan menyesal atas perlakuan Jonghyun baik pada Yoona maupun
pada Jungshin.
Seohyun kemudian duduk dan mengamit
tasnya, memeriksa ponselnya, benar kata Jungshin, ponselnya mati total.
“Hyunnie..” Jonghyun berjalan mendekatinya
“ne oppa..”
“haaah.. sampai kapan kamu akan
membuatku menunggu?” Jonhyun duduk di samping Seohyun dan merapatkan tubuh
Seohyun pada dadanya seketika. Seohyun mengangkat wajahnya dan menatap wajah
lelah dan putus asa Jonghyun.
“Oppa menunggu untuk apa?”
“kamu juga tau sendiri Seohyunnie..”
Jonghyun mengelus lembut pipi Seohyun
‘oh
tidak, jangan-jangan ia masih mau melanjutkan yang tadi.. apa memang benar dia
menunggu hal ini sangat lama? Ottokeee ..’ Seohyun menjerit dalam hatinya
sendiri.
‘mengapa
sulit sekali menjangkaumu Seohyun-ah.. kamu begitu dekat, dan nyata.. tapi
untuk melakukan apa yang pasangan lain biasa lakukan pun sangat sulit.. apa
memang kamu tidak mencintaiku?’
“Oppa..” bisik Seohyun tepat saat
bibir Jonghyun hendak mendarat di bibirnya, membuat Jonghyun terhenti, wajah
Seohyun memerah dan airmata mulai meluncur satu-satu.
“Seohyun waeyo?” Jonghyun menarik
wajah Seohyun lembut dan memegangi lehernya dengan kedua telapak tangannya.
“apa harus dengan cara ini untuk
menunjukan aku tulus menyayangimu..” Seohyun mulai terisak.
‘please
don’t cry Seohyun-ah.. maafkan aku.. maafkan aku..’ Jonghyun membelai
rambut Seohyun dan menariknya dalam pelukan, Jonghyun panik dan hanya ini yang
bisa ia lakukan untuk membuat tangis Seohyun berhenti, dan tak ada jawaban
apapun dari mulut Jonghyun.
“Oppa marebwa..” suara Seohyun lemah
dalam tangis dan bendungan kecewa..
“aniyo Seohyun-ah.. ani.. mianheo..”
Jonghyun mengelus-ngelus rambut Seohyun yang tergerai panjang, berusaha
membuatnya tenang.
“tapi aku melihat Oppa meragukan
ketulusanku..” tangis Seohyun semakin pecah..
“Seohyun.. Choi Seohyun.. maafkan
aku, maafkan aku.. aku sama sekali tidak meragukan apapun darimu, dan maaf jika
aku terlihat memaksamu.. aku mencintaimu..”
‘jinjja
mianheo Seohyun-ah.. maaf untuk semua ini.. maaf..’
Seohyun melepaskan tubuhnya dari
pelukan Jonghyun, kemudian menatap mata Jonghyun jelas, walau dengan mata yang
masih berkaca-kaca
“Oppa.. jangan sesekali meragukan
perasaanku hanya karena aku bertahan pada prinsipku untuk tidak melakukan sex
pra nikah.. karena aku yakin pada akhirnya hanya pada Oppa akan ku berikan
segalanya yang ku punya.. maafkan aku jika kamu kecewa, tapi aku betul-betul
mencintaimu Oppa..” Jonghyun bisa merasakan jelas emosi dan kekecewaan Seohyun
atas keragu-raguannya juga atas tindakannya, bagaimana bisa Jonghyun melakukan itu pada Seohyun yang jelas-jelas
sudah menemaninya cukup lama.
Tanpa berfikir dua kali Jonghyun
mengecup kening Seohyun hangat dan lama,betapa Jonghyun mencintai gadis ini,
betapa ia tidak ingin kehilangan Seohyun kendati banyak yang mencoba untuk
membuatnya melupakan Seohyun. Jonghyun tenggelam dalam tatapan mata Seohyun,
menemukan kedamaian dan menemukan tempat singgah yang tak patut ia hancurkan,
hati Seohyun satu-satunya tempat terindah yang ia miliki dan tak ingin ia tinggalkan..
“gomawo Seohyun-ah.. gomawo..”
Jonghyun menatap mata Seohyun dalam, penuh perasaan, terutama rasa takut
kehilangan. “jinjja mianheo, aku tau betapa besar perasaan sayangmu.. maaf aku
tidak meragukanmu sama sekali.. sarangheo Seohyun-ah..” Jonghyun kembali
memeluk dan mencium kening Seohyun lama. Mencoba membaca perasaan Seohyun yang
kalut dan kecewa pada dirinya.
Jonghyun menahan tubuh Seohyun lama,
hingga akhirnya kekasihnya itu terlelap dalam pelukanya, pelan Jonghyun mencoba
mengangkat tubuh Seohyun dan merebahkanya di sofa. Memandangi kekasihnya dalam
tidur yang damai membuatnya larut dalam rasa sayang yang menetramkan, bagaimana
ia bisa menyakiti gadis ini.. tak ada alasan untuk meninggalkannya. Walaupun ada
sesuatu yang menariknya untuk berbohong pada Seohyun.
“Seohyun-ah.. saranghanda..
mianheo..” Jonghyun mengelus-ngelus kening Seohyun.
***
“Yobseo..”
“Oppa..”
“ne Yoona-ya..”
“Jung Yonghwa-shi..”
“MWO?”
“jiggeumeun..”
“Jinjja? Tapi kenapa kamu masih di
rumah sakit Yoona-ya?”
“aku tidak mau pulang ..”
“………………………………”
***
Setelah dua jam berlalu, Jonghyun
mencoba membangunkan Seohyun yang tertidur pulas, gurat wajah lelah dan sedih
masih nampak walau sudah terobati.
“Seohyun-ah.. irona..” Seohyun
kemudian bergeliat saat Jonghyun terasa menggetar-getarkan tubuhnya lembut.
“Oppa..” Suaranya serak.. “jam
berapa ini..”
“jam dua malam Seohyun-ah..” kaget
Seohyun terbangun dengan cepat
“MWO? Kenapa tidak membangunkanku
dari tadi?” Seohyun buru-buru mengemas barangnya.
“tapi Siwon Hyung sudah menelponku
dan dia bilang tidak apa-apa jika kamu tidur disini..” Seohyun berhenti saat nama
kakaknya disebut. Dan ia terhempas kembali duduk di sofa tempatnya tidur
semla..
“oh, taengida.. keluargaku sudah
memberikan kepercayaan penuh padamu..” Seohyun tersenyum lega.
‘haruskah
ku katakan Yonghwa berada di rumah sakit sekarang? Ah ini sudah malam.. biarkan
saja dia disini..’ Jonghyun bergemuruh dengan hatinya sendiri.
To
Be Continued

Mimi... First of all.. Saengil Chukkahamnida.. Saranghanda Mimi-ah... *xoxo*
BalasHapusWah, di chapter ini sepertinya ada sesuatu yang ditutupi? Hmm... Chapter ini singkat n lucu ya, Hyun masih begitu polos sdgkan JH udah ngebet bgt. hihihihi... Tp di chapter ini ceritanya singkat banget, Mi.. Mau lagi, ayo cepet update, ga sabar rasanya.. =p
Masih seperti comment aku kmrn, aku suka FF km ini secara POV n crtnya jg menggigit krn bkm bs ditebak next cast n ujung ceritanya, kyanya masih jauh dari ending ya? hehehe..
Aku tunggu next chapternya ya, dear.. Fighting!! ^^
Eniwei, tambah sering nulis, tmbh kreatif, slalu ceria n tmbh dewasa ya, Mi di bdae taun ini.. Wish all the best for u!! *hugs*