Rabu, 19 September 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 8



No More Tears Formula
Chapter 8

Air putih, Embun, Matahari, dan Segumpal Awan.





Cast :
Jung Yonghwa
Seo Joohyun
Choi Junhee (Juniel)
Kang Minhyuk
Lee Jungshin
Lee Jonghyun
Im Yoona
Jung Eunji


            Dadanya naik turun menahan emosi, tanganya mengepal penuh amarah akan sanksi, sementara yang di pukuli hanya tersungkur begitu saja tanpa ambisi untuk memukul balik yang sedang beraksi. Disudut lain hanya diisi dengan teriakan-teriakan dan tangisan antara Juniel, Seohyun dan Eunji, Jungshin yang juga sempat terkena pukulan, sekuat tenaga kini sedang mengaitkan tanganya diantara bahu Yonghwa untuk menahan emosinya yang meledak-ledak.

            “Oppa..” suaranya terseret pilu “ku mohon tidak memukulinya lagi..” Juniel menjatuhkan dirinya dari tempat tidur dan membuat Seohyun tergopoh-gopoh cepat menahan tubuh yang  ambruk ke lantai itu, kemudian Juniel memeluk Minhyuk.
            “berhenti memukulinya. Ku mohon” Minhyuk pelan menatap wajah gadis yang memohon dengan iba pada kakaknya, sementara mukanya sudah penuh dengan darah dan lebam dimana-mana.
            Jungshin terusik dengan adegan itu, tanganya yang tadi kuat memegangi tubuh Yonghwa kini melonggar, begitupun dengan Seohyun yang memegangi tubuh Juniel, konsentrasinya pecah, wajah Jungshin terlihat pasrah.
            Yonghwa hanya tergugu, tidak mengerti, mengapa Juniel dengan mudahnya luluh dan memaafkan laki-laki itu.
            “apa Oppa tau? Dia, laki-laki ini .. adalah salah satu orang yang mengisi kekosonganku?” jantung Jungshin rasanya mau berhenti, hampir patah hati. “setiap malam aku menungguinya lewat di depan YJ hanya untuk melihat dia beriringan bahagia dengan kekasihnya…” nafas Jungshin mengendur mendengar kata ‘kekasih’ keluar dari mulut Juniel.
            “ada kalanya tanpa diketahui banyak orang, dia membagikan kebahagiaanya kepadaku, anggaplah dia pembawa keberuntungan untuku Oppa..”
            “keberuntungan? Persetan !! sekarang kamu malah mau menyudutkan Oppa? Begitu? Dan jika berengsek ini tidak memberi tahu kamu lumpuh kamu akan terus diam? Sampai kapan? Hah?” emosi Yonghwa kembali meledak
            “dan sekarang Oppa sudah mulai membentaku..” Juniel menangis. Yonghwa terkikis, airmata Juniel sejenis kekuatan majis untuknya, ia bisa meleburkan amarah, apalagi kebencian, dan Yonghwa melepaskan diri dari Jungshin, kemudian menghampiri Juniel.
            “jangan pegang aku Oppa..” Juniel mengelak, Seohyun kemudian memundurkan tubuh Yonghwa, keadaan seperti ini tidak akan berujung baik untuk kesehatan Juniel, dia masih dalam masa-masa penyembuhan, dan tidak diizinkan untuk stress sama sekali.

            “sudahlah, Minhyuk-ssi, lebih baik kamu keluar sekarang..” Jungshin membuka suaranya yang sedari tadi dipendamnya dalam dada.
            “kalau tidak ada kecelakaan ini, mungkin Oppa tidak akan menemaniku hari ini, dan tetap berada di perantauan yang aku tak tau dimana tempatnya, mungkin jika tidak ada kecelakaan ini, sampai mati aku akan sendirian di Seoul. Mungkin Oppa tidak akan pernah menganggapku ada. Yang ada hanya Eunji, dia mungkin menggantikan posisiku.”
            ‘lah.. aku jadi kebawa-bawa..’ bisik Eunji tersentak dalam hati ‘Juniel tau tidak? Dia itu sangat sinis kepadaku, tidak benar  aku menggantikan posisimu..’  namun kalimat itu terus di telan sendiri oleh Eunji.
            Itu merupakan pukulan telak yang membuat Yonghwa K.O, jika dilihat dari sudut pandang lain, memang betul, Minhyuk justru membawa Yonghwa kembali ke titik asalnya, titik dimana ia mencintai Juniel tanpa ingin meregangkan kebersamaan mereka.
            “jadi sebelum Oppa melimpahkan kesalahan pada Minhyuk, tolong introspeksi diri Oppa sendiri..” tatapan Juniel menajam, merajam dan memporak-porandakan perasaan Yonghwa sekaligus.
            “Seohyun-ssi, bisakah anda dengan Jungshin juga Eunji keluar dari sini, sepertinya saya butuh berbicara penting dengan mereka berdua.” Yonghwa tidak memberikan tatapan matanya pada Seohyun, kenapa? Karna lama-lama tatapan itu bukan tatapan biasa, akan melebur menjadi wujud dari cinta yang baru tumbuh menggema di dadanya.
            Seohyun bangkit dan menarik tangan kedua orang yang termasuk daftar absen untuk keluar dari ruangan itu. dan tebak saja, perasaan Jungshin semakin kalut tidak karuan, ia ingin mengatakan pada Yonghwa saat itu juga, ia akan menemani Juniel dalam semua ketidak berdayaanya, menerima Juniel apa adanya, karena ia mencintainya.
            Sayangnya, tak ada kesempatan sedikitpun untuk mengungkapkan perasaanya.

            “kalian lebih baik menunggu di tempat lain, aku ada janji..”
            “Noona..”  Jungshin menggenggam lengan Seohyun erat saat Seohyun hendak berlalu dari pandanganya. Ada nada gusar penuh makna dalam suara itu, dalam tatapan itu.
            “tidak perlu khawatir, Juniel tidak akan memberikan perasaanya pada Minhyuk, percaya padaku.” Seohyun mantap mengagguk.

***
            Lama Jungshin dan Eunji hanya berjalan beriringan tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulut mereka berdua. Hanya kosong dan jeda yang menerus, malah membuat suasana hati tidak nyaman.
            “Eunji-ya.. kamu pernah jatuh cinta?” Langkah Jungshin melambat.
            “tidak.”
            “pantas saja.”
            “kenapa?”
            “kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasa.”
            “memang.” Jungshin berhenti menatap Eunji yang menjawab dengan polosnya “aboji mengatakan padaku, banyak hal yang harus aku pikirkan selain jatuh cinta, dan memang. Melihat teman-temanku yang sudah mengalami siklus percintaan, sepertinya memang menarik, tapi untuk orang-orang seusiaku, itu hanya fatamorgana, justru malah menjadi zat adiktif yang membuat kecanduan, tidak baik untuk masa pertumbuhan juga pembelajaran. Nah bayangkan saja, waktunya belajar malah melamun-lamun seperti Oppa saat ini.”
            “ish” Jungshin menjitak kepala Eunji
            “wae?”
            “aku tidak butuh khotbahmu itu tauk!”
            “eeeeh, yasudah, ambil garis lurus saja, kalau memang suka, bilang saja langsung.”
            “aish.. jinjja, kamu sama sekali tidak mengerti, dasar bocah ingusan..” Eunji hanya melengos dan mengangkat kedua bahunya. Membuat Jungshin tambah kesal.

***
            Seohyun memegangi amplop putih itu. semua orang pasti penasaran dan bertanya-tanya mengapa ia ingin berhenti. Sebenarnya dia tidak berhenti. Seohyun akan mendedikasikan waktunya untuk menunggu kekasihnya pulang dan kembali, hari ini mereka akan membahas tentang pernikahan mereka yang tidak lama lagi.
            Ia mengangguk-anggukan kepala sambil tersnyum berseri-seri, pembicaraan itu sudah sangat lama berlangsung, Jonghyun menepati janjinya untuk membawanya ke altar pernikahan. Kedua belah keluarga sudah sepakat dan saling mengikat, lalu menunggu apa lagi? Ketika harta sudah dengan mudah di rauk? Ketika kemapanan sudah bukan untuk di pertanyakan? Ketika bahkan dua hati sudah tak ingin dipisahkan? Untuk apa lagi menunggu. Waktunya sudah tepat. Selebihnya, Seohyun bisa merawat Yoojin juga Juniel sendirinya, jika selama bertugas sebagai perawat ia harus bolak balik ke kamar pasien lain, maka setelah ia terlepas dari seragam tugas, ia akan bebas menjaga dan merawat mereka berdua. Seohyun semakin mantap dengan keputusanya.
            “akan mudah menjelaskan pada semuanya jika mereka bertanya-tanya.. pernikahan itu sudah di depan mata..” jantungnya berdegub cepat.

            “yobseo Oppa.. oh nee, cangkeumman.. aku segera kesana..”

***
            Yonghwa menatap Minhyuk tajam dari tempat duduknya. Juniel hanya menunduk tak ingin meneruskan perselisihan antara dua laki-laki itu.
            “lantas apa yang membuatmu berani menampakan diri dan malah tau-tau ingin melindungi Juniel? Kamu bukan siapa-siapa selain sampah yang membawa malapetaka pada Juniel” ucapanya sengit dan membuat keadaan tambah runyam.
            “karna aku mencintainya.” Sontak Juniel tergugu di tempatnya, sementara lengan Yonghwa mengepal bergetar, jika ia tidak menahanya satu pukulan lagi sudah mendarat menyisakan lebam di wajah yang memang sudah babak belur itu.
            “jangan mempermainkan Juniel! Dia bilang kamu sendiri sudah memiliki kekasih. Apasih sebenarnya maumu hah?”
            Minhyuk berbalik dan malah menatap Juniel, tidak menghiraukan emosi Yonghwa yang tak redup juga. Minhyuk berdiri kemudian menggenggam tangan Juniel.

            “suatu malam, aku pernah berada dalam suasana hati yang kalut dan tak tentu arah. Kemudian aku memutuskan untuk pergi dari rumah, salah satu tempatku untuk berhenti adalah kios ddokboki kecil di sebrang YJ… sudah ingat?” Minhyuk menurunkan kepalanya mencoba menembus mata Juniel yang disembunyikanya dalam tunduk yang kaku. Juniel menggeleng, dan kini mata mereka bertemu. Sementara Yonghwa mencoba meredam amarahnya, mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Minhyuk.
            “sebenarnya, saat itu aku sedang meminum sebotol soju, ada seseorang datang padaku, dan hanya duduk kaku disampingku.” Kata-kata itu kemudian membawa segenggam memori dari satu tahun silam di kepala Juniel. Ia mengingatnya. Laki-laki itu. ternyata…

            A Years Ago

            Juniel masih menatap lampu halogen yang kelap kelip disetiap sudut ruangan di tokonya. Menjelang jam pulangnya ia selalu menatap jalanan yang juga mulai lengang. Biasanya setelah malam tiba ia selalu menyempatkan diri menghampiri ahjumma di sebrang jalan.
            Tapi lihat itu, saat Juniel mengalihkan pandanganya, ada seorang laki-laki memakai topi juga mengikatkan scraft di lehernya, teguk demi teguk kepedihan ia telan bersama sebotol soju di tanganya. Juniel merasa iba. Lama Juniel memperhatikan orang itu. sepertinya ia sangat kesepian.

            Juniel ragu duduk di samping pria itu, setelah lama membisu Juniel mengangkat satu buah gelas dan mengisinya dengan air putih. Ia menyimpan gelas itu di hadapan Minhyuk
            “ini..” suaranya tegas “kamu mungkin meminum soju, ingin meneguk kopi, jus ataupun teh dan berbagai minuman lain, tapi pada akhirnya, kamu akan kembali membutuhkan air putih, hanya air putih.” Juniel tersenyum, kemudian mengangkat lengan Minhyuk dan menyematkan gelas berisi air putih di telapak tangan Minhyuk. “selamat malam..” lalu ia berbalik pergi.
            Samar-samar Minhyuk menatapi wajah gadis itu, yang kini berlalu memunggunginya, dadanya yang tadi terasa sangat panas, kini menguap, berubah hangat.
***
            Yonghwa hanya duduk di tempatnya menatap dua orang yang saling bertatapan, Juniel terkejut. Minhyuk terenyuh. Ada cinta dimatanya.
            “kamu benar Juniel, aku membutuhkan soju, kopi, jus dan teh, tapi pada akhirnya aku kembali pada airputih.. kamu tau? Kata-kata itu tersimpan jelas-jelas dalam kepalaku. Kamu tau? Aku terlahir dalam keluarga yang sangat harmonis, namun penuh kepalsuan. Suatu hari aku kabur dari rumah dan sering melakukan kegiatan negativ, kemudian kamu mengingatkanku, akan airputih, kamu benar, aku sudah habis meminum soju, meneguk anggur, meminum jus, kopi dan berbagai macam jenis minuman, tapi pada akhirnya aku kembali pada keluargaku. Merekalah airputihku. Dan bagiku, kamu adalah sumber penghilang dahaga dari butanya hatiku, aku bertemu denganmu dan kamu adalah sumber dari mata air itu, airputih yang tak akan pernah bisa aku tinggalkan..”
            Yonghwa tercekat sekaligus merasa tertampar saat itu juga, kata-kata itu, airputih itu … itu adalah kalimat yang pantas Juniel ucapkan padanya. Juniel memang pelita sekaligus air putih yang tak bisa ditinggalkan, Yonghwa terkubur di jurang pedih mendalam, mencoba memahami perasaan Minhyuk, juga Juniel bergantian.
            “cukup.” Katanya “lalu apa yang kamu mau Minhyuk-ah?” suaranya yang parau menunjukan emosinya melumer.
            “aku .. sudah mengatakanya tadi .. sekali lagi … aku ..”
            “aku ingin, menjaganya .. sebisaku .. seumur hidupku .. jika ia butuh kaki, aku akan menajdi kakinya, kapanpun dimanapun saat ia membutuhkanku. Bukan karena perasaan bersalah atau empati atas kecelakaan ini, tapi , karena aku tulus, tulus mencintainya.” Juniel mentap Minhyuk tak percaya dengan mata bundar yang hampir keluar dari cangkangnya.
            “t—tapi..” Juniel mengelak “bagaimana dengan Jiyeon..” lirihnya. Minhyuk tersenyum dan menepuk kepala Juniel.
            “dia hanya anak dari teman bisnis ayahku, aku sudah mengenalnya sejak kecil, dan kita tidak memiliki hubungan apapun..” jawabnya mantap.
            Yonghwa malah melongo melihat kejadian ini, dia menanggalkan semua emosinya sekuat tenaga untuk benar-benar mencerna apa yang sebenarnya Juniel inginkan.
            “aku tidak tau harus berkata apa. Bicaralah kalian berdua, aku lebih baik keluar.” Yonghwa berdiri dan meninggalkan Minhyuk bersama Juniel. Ia tidak merasa cukup pantas untuk menghalangi keinginan Juniel ataupun Minhyuk, punya hak apa dia? Sudah meninggalkan Juniel sendirian sekarang ingin mengatur hidupnya? Lupakan hal bodoh itu Jung Yonghwa.

***
            “jadi kamu menyukai Juniel?”
            “hm” jawab Jungshin pendek
            “kenapa tidak bilang?”
            “tidak segampang itu tau tidak ish !! kamu bukanya membuat perasaanku membaik malah bikin tambah runyam sial !!”
            “eey.. tsk tsk .. aneh sekali … makanya lain kali tidak usah sok sok misterius, sekarang giliran dia sudah mau di ambil orang Oppa juga yang repot kan.. kasian sekali..” Eunji cekikikan. “Oppa aku ingin makan eskrim ..”

***

            Yonghwa berhenti saat melihat mobil Jonghyun terparkir di pelataran parkir Seoul Hospital. ‘lihatlah dia, tampan, kaya raya, berasal dari keluarga baik-baik. Dan memiliki kekasih yang sempurna. Waw .. Jonghyun memiliki segalanya yang aku inginkan.
            Namun Yonghwa terkejut saat melihat yang disebelahnya itu.. Yoona .. dan sekarang mereka ..
            Buru-buru Yonghwa berlari mencari Seohyun, berharap secepatnya menemukan Seohyun, terengah-engah ia akhirnya menemukan Seohyun yang sedang berlari dengan tawa penuh tersungging di bibirnya.
            “Seohyun-ssi !!” teriaknya sambil terengah-engah
            “oh ? Yonghwa Oppa?” buru-buru Seohyun mendekatinya “waeyo Oppa? Bukankah kamu harus menemani Juniel dan Minhyuk?”
            “ani, aku muak..” jawabnya cepat “mau kemana?”
            “menemui Jonghyun Oppa.. kenapa Oppa memanggilku?”
            ‘jangan..’  “aku butuh obat sakit kepala, rasanya kepalaku ini mau meledak” ‘aku hanya tidak ingin kamu menghampiri Jonghyun, aku tidak siap melihatmu terluka..’
            “jeongmal? Ottoke, ini pasti karena Oppa kurang tidur, lalu emosi meledak-ledak ..”
            ‘bukan, ini karena aku baru saja melihat kekasihmu bercumbu di dalam mobil dengan sahabatmu, kepalaku rasanya benar-benar mau pecah’ “iya mungkin begitu Seohyun-ssi, bisakah kamu memberiku obat itu?” Yonghwa mencoba mencegah Seohyun menemukan pengkhianatan keji itu.
            “baiklah.. ikuti aku Oppa..”
            ‘aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi, sekarang aku tidak bisa membiarkanmu masuk dalam perangkap manusia sialan itu. aku tidak akan  membiarkanmu terluka sedikitpun, mari kita main-main dengannya, mulai sekarang.’
            “arraseo seohyun-ssi..”

***
            Yoona melumat habis bibir Jonghyun yang sedari tadi menggodanya untuk mendarat dalam hasrat, Jonghyun meremas kencang paha Yoona yang hanya dilapisi rok katun tipis. Mereka berderu dalam nafas yang berat, ciuman itu sangat liar dan berlangsung lama, sejak mobilnya terparkir di tempat yang masih sepi itu.
            “O—pp—a..”
            “h-mm..” Jonghyun menurunkan bibirnya dan kini bersarang di leher Yoona, ia mulai mengerang menikmati. Selanjutnya hanya suara nafas yang terdengar. Kemudian Jonghyun berhenti. Mereka berdua menatap cermin dan membereskan pakaian juga rambut mereka yang berantakan.
            “ish Oppa..”
            “wae?” Jonghyun mengelus pipi Yoona
            “jangan meninggalkan kiss mark sembarangan, ish .. bagaimana jika orang melihat..” Yoona protes saat mendapati warna merah di lehernya.
            “mianhe..” Jonghyun hanya cengar-cengir
            “oh ia, hari ini mau membahas pernikahan ya?”
            “hm..”
            “semangat dong chagiya.. kan ini yang kalian tunggu-tunggu..” Jonghyun menatap Yoona nenar
            “memang kamu tidak sakit hati ya? Gampang sekali menyemangatiku, seolah tidak memiliki beban..” Yoona menarik nafas dalam, lalu mencium bibir Jonghyun lagi lembut.
            “Oppa.. sejak kecil aku dan Seohyun sudah bersahabat. Sedari kecil sudah memang begini takdirnya, aku mengalah untuknya.. tapi dia membagi segala sesuatu yang ia punya, termasuk .. kamu ..”
            “tapi.. kita akan sulit sekali bertemu.. dan ..”
            “tidak usah khawatir.. intensitas waktumu denganku lebih banyak ketimbang dengan dia.. kita masih berada di satu plane sayang.. jangan lupakan itu..”
            “yoona saranghe..” Jonghyun menarik leher Yoona dan menciumnya lagi, dalam dalam lebih dalam memberitahunya bahwa ia mencintai Yoona lebih dari apapun, lebih dari siapapun, jika Jonghyun cukup mencintai Seohyun, maka Yoona, ia sangat mencintainya, tanpa ikatan, tanpa aksara untuk menjelaskan. Mereka saling mencintai dalam kelam yang menghujam.

***
            Yonghwa mengikuti langkah Seohyun hingga ke ruangan perawat yang sepi, Seohyun terlihat sangat serius mencari-cari sebutir obat sakit kepala untuk Yonghwa. Tak lama, Yonghwa menggenggam lengan Seohyun, dan menariknya dalam pelukan.
            Seohyun terperanjat kaget, tau-tau wajahnya sudah berada di balik punggung Yonghwa.
            “o—ppa.. wae kerae ?” Seohyun mencoba melepaskan diri, namun pelukan itu tambah erat membuat perasaan Seohyun campur aduk, antara bingung, gugup, takut dan malu.
            “gomawoyo Seohyun-ah..” nafasnya tertahan, Yonghwa sama gugupnya, bukan gugup karena malu, tapi karena ia harus menyembunyikan detak jantungnya yang berdebar sangat cepat. “terimakasih sudah menajaga Juniel .. sudah merawatnya dengan baik..”
            Seohyun kemudian menarik tubuhnya kuat, keluar dari pelukan itu
            “ani imnida Jung Yonghwa-ssi.. ini obatmu, aku harus segera menemui Jonghyun Oppa.. “ Seohyun tertunduk dan berbalik cepat, meninggalkan Yonghwa sendirian disana.
            Sayup-sayup Yonghwa menatap punggung Seohyun nenar, tidak menyesali apapun yang baru saja ia lakukan. Seharusnya yang keluar itu .. “sarangheo..” bukan “gomawoyo..”

            “aku harap kamu tidak terluka .. aku harap Jonghyun hanya beramain-main dengan Yoona, tapi kumohon jangan terluka Seohyun-ssi.. jangan..”

***
            Seohyun memegangi dadanya, ia hampir kehilangan keseimbangan, rotasi bumi rasanya berjalan dengan sangat cepat hingga ia merasakan oleng begitu saja. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
            “apa ini..” tanyanya pelan. “ada apa denganku.. mengapa dia memeluku .. mengapa aku seperti ini..” gusar, Seohyun memandangi wajahnya sekali lagi di cermin. Kejadian itu sangat cepat, ia harus mengembalikan kesadaranya secara utuh, Seohyun kemudian berlari sekencangnya, berharap perasaan bingung itu sirna saat ia menghampiri Jonghyun.

            Seohyun memeluknya, menatap mata Jonghyun lekat-lekat, membiarkan Jonghyun mencium keningnya lama di ruangan itu.
            Namun perasaan itu… jantungnya masih berdegub kencang, wangi tubuh itu masih tercium jelas.
            ‘oh tuhan, ku harap Jonghyun Oppa tidak menyadari kegugupanku..’
            ‘ku harap Seohyun tidak menyadari wangi tubuh Yoona yang masih menempel di tubuhku..’

            “jadi pernikahan kita akan terlaksana 6 bulan kedepan.. bagaimana Seohyun-ah?”
            “jinjja? Jinjja jinjja?” Seohyun berjinjit, hatinya senang bukan kepalang, namun debaran itu tak kunjung sirna, malah membuat dirinya lupa, ia tersenyum untuk apa? Untuk berita pernikahanya? Atau untuk … pelukan itu…
            “hmm .. jinjja .. tapi mianheo dear, kamu harus mempersiapkan semuanya sendiri untuk tiga bulan ini, schedule ku padat tiga bulan ke depan.. gwenccana?” Seohyun tetap tersenyum sambil tersenyum semangat, perutnya seperti terserang aliran listrik yang membuat bibirnya tidak ingin berhenti membeberkan senyuman hangat.

            “sarangheo Seohyun-ah ..”
            “nado oppa.. dan jreeng ini dia” Seohyun mengangkat amplop putih yang sedari tadi ia simpan di sakunya.
            “mwo? Jinjja?” Jonghyun tersenyum semangat
            “jeongmalyo Oppa.. aku akan berhenti dan memfokuskan diri untuk mu, dan pernikahan kita..” Jonghyun menelus rambut Seohyun lembut.
            “gwenccana Seohyunnie? Ini bukan hanya sekedar pekerjaan untukmu, tapi hobimu..”
            “mm” angguknya yakin “aku masih bisa menyalurkan hobiku dengan merawat Juniel juga Yoojin-ssi.. jadi tidak ada masalah..” kemudian dua insan itu bertatapan dengan senyum mengembang bahagia. Yang sebenarnya mereka lupa, hati mereka tidak berada disana.
            “sarangheo Oppa ... kamu matahariku ..”
            Jonghyun merupakan matahari bagi Seohyun, ia merupakan sumber kehidupanya, sejak mengenal Jonghyun ia merasa dilengkapi system cinta yang tidak ada duanya, Jonghyun tidak pernah ingkar janji, ya seperti matahari, ia tidak melupakan janjinya untuk terbit dan tenggelam tepat waktunya.

***
            Yonghwa mengintip dari sisi lain yang tak terlihat oleh siapapun, ia tersenyum kecut
            ‘waw .. Jonghyun kamu hebat sekali..’ Yonghwa memuji sungguhan ‘bagaimana kamu bisa memainkan dua peran sekaligus dalam waktu yang sama?baiklah .. aku akan mengikuti permainanmu..’
            Dan sekarang, bagi Yonghwa, Seohyun menjadi sangat penting, awalnya ia menyerah, dan patah hati, tapi sekarang, genderang perang itu dimulai.. tidak ada kata menyerah untuk memperjuangkan cintanya, ia sama sekali tidak salah, ia jatuh cinta pada orang yang tepat di saat yang tepat. Choi Seohyun. Yang mendera bagaikan embun penghilang dahaga. Jika Jonghyun menjadi mataharinya yang justru membuat Seohyun akan kering kerontang dalam kesengsaraan, maka Yonghwa akan menjadi awan pelindung untuknya, menghalau matahari membakarnya langsung, membiarkan dirinya terlunta dalam sengsara di dera panas yang tak terkira. Hanya untuk melindungi embunya .. Choi Seohyun.


To be Continued …

3 komentar:

  1. Mimi...mianhe, aku baru sempet baca Chapter inipdhl dari kmrn udah penasaran bgt cm ya gt d, lg bnyk krjan. =(
    Tapi...tapi setelah baca jdnya seneng, crtnya udah mulai kebuka nih dikit"..!! hehehe... Aku suka dibagian MinHyuk bilang kalau dia cinta sm Juniel bukan krn kasian or simpati, so sweetttt.... ;D Trus pas JH udah mulai ketauan ada maen sm Yonna, suer d pas Yoona blg kl dia bakal slalu ngalah tapi Hyun harus berbagi segalanya sm ida, Omo..omo... Aku sebel bgt bgt bgt!!!! Cinta itu ga bisa dibagi apalagi pacar/suami??? Oh no!!!! Kau menguras emosiku, Mi!! hehehhee...
    Ayo, Mi lanjutkan!!! Aku menunggu update selanjutnya ya, dear.. Fighting!! ^^

    Cheers,

    -Kay-

    BalasHapus
  2. “kamu mungkin
    meminum soju, ingin meneguk kopi, jus
    ataupun teh dan berbagai minuman lain, tapi
    pada akhirnya, kamu akan kembali
    membutuhkan air putih, hanya air putih.”

    q suka bnget dgn kata2 itu, autor hebat d dlm crita ni kta2 bijak bnyk tertuang..

    trus kan menulsnyaa, q pensaran crita slnjutny bgaimn, hwaitinggg...

    :-)

    BalasHapus
  3. Eonnie, ayo tulis lagi fanfic lanjutan dr cerita ini, aku penasaran bagaimana kelanjutannya, apa yg akan dlakukan yonghwa oppa pd seohyun? Dan bagaimana hubungan juniel dan minhyuk, gomawoyo eonnie.

    BalasHapus