The
awaited day ..
Seohyun tergesa membereskan
barang-barangnya setelah pekerjaannya di MBC Music Core selesai. Hari itu
adalah hari yang Seohyun tunggu, untuk sekian lama akhirnya ia bertemu dengan
Yonghwa. Belakangan ini Yonghwa sibuk mempersiapkan album keduanya, sehingga
tidak banyak waktu untuknya bertemu dengan Yonghwa. Yonghwa sudah menunggunya
di loby utama MBC, tempat dimana pertama kali mereka bertemu. Seohyun
memastikan penampilannya cukup cantik hari ini di cermin dalam lift. Saat pintu
lift kemudian terbuka, Seohyun menemukan Yonghwa sedang bercengkrama dan
tertawa puas bersama Victoria, Victoria adalah label matesnya di SM usia mereka
terpaut empat tahun. Seohyun tidak punya daya saat rasa cemburu mulai menjalar
kedalam hatinya. Pelan ia memutuskan untuk keluar dari lift dan berjalan
mendekati Yonghwa.
“annyeonghaseo oenni..” seperti
biasa, Seohyun pandai sekali mengatur emosinya.
“oh!! Seohyun-ah.. annyeonghaseo..”
Victoria membalas salam Seohyun yang ramah.
“Oppa.. mau kemana kita hari ini?”
“mmm.. ayo kita menghabiskan waktu
bersama” Yonghwa menatap Victoria dan Seohyun bergantian.
‘Apa?
Bersama siapa maksudnya?’ Api cemburu semakin menjalar hebat di hati
Seohyun.
“nde?” Seohyun pura-pura tidak
mengerti
“Hyunni, kemarin aku dan Qian sudah
janjian untuk hangout bersama, eh aku lupa kalau hari ini kita berdua juga
punya janji, yasudah kita pergi bertiga saja.. tidak masalah kan?”
‘mwoya?
Qian katanya?’
“kajja Seohyun-ah..” Yonghwa
menggandeng tangan Seohyun dan memegang bahu Victoria lembut.
“IGE MWOYA?!” Sontak Seohyun
berteriak dan menangis tidak terima, namun Yonghwa tak menghiraukannya, malah
melepas genggamannya dan terus melangkah bersama Victoria.
***
“Ya!!” Hyoyeon memukul kening
Seohyun yang berpeluh lebat. “irona Seohyun-ah!” dan bow !! mata Seohyun
terbelalak lebar, setelah menyadari baru saja ia bermimpi, mendadak dadanya
melega, ia menarik nafas panjang dan melonggarkannya.
“waeyo Seohyun-ah!!”
“oh.. oh.. taengida..” Seohyun
bangkit dan memegangi tangan Hyeyeon dengan wajah yang memucat.
“wayeoooo? Gumiya? Bad dream? Nightmare?”
“Oenni… ternyata aku benar-benar
takut kehilangan Yonghwa oppa..” tawa Hyeoyeon pecah.
“aku kira kamu mimpi apa.. aish !!
itu karna kamu kangen tau!! Sudah ah, aku mau tidur lagi..” Hyeyeon
menghempaskan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut tebal. Seohyun mengamit
i-phonenya 02.45 AM
To : Yong Oppa
Oppa ..
Ia
kemudian mengirimi Yonghwa pesan singkat meski ia tau Yonghwa tidak akan
membalasnya. Tapi beberapa menit kemudian
From : Yong Oppa
Nde .. Hyun buin-ah ..
Waeyo? Kenapa belum tidur?
Setelah
itu, Seohyun memutuskan untuk menelpon Yonghwa.
“yobseo..”
“Oppa..”
“nde..”
“kenapa belum tidur?”
“aku masih bekerja Hyunie, persiapan
album kedua..”
“hingga selarut ini?”
“hmm..” Sedikit kesal dengan jawaban
di ujung telepon yang singkat-singkat seperti itu Seohyun merasa mimpinya menjadi
nyata.
“jaga kesehatanmu Oppa.. jangan lupa
minum vitamin yang aku kirim ya.. setelah selesai sempatkan untuk beristirahat
walau sebentar, sudah ya.. maaf mengganggumu malam-malam begini..”
“memang bilang bogosiposoyo susah
ya?”
“mwoya?”
“ish.. jaashik, kamu kangen kan?
Hyunnie, kamu memang tidak berubah..”
“aniyo~ Oppa yang tidak pernah
berubah.. sudah ya .. jalja Oppa..”
“hm.. saranghe..” bisik Yonghwa
diakhir sambungan telepon malam itu, ‘Saranghe..’
satu kata itu bisa mengundang sesudut senyum bahagia terbit dari bibir manis
Seohyun, membuatnya menyadari yang dikatakan Yonghwa memang benar, Seohyun
merindukannya.
***
“Aku sudah bisa menebak, hyung kalau
uring-uringan begitu sudah pasti..” mata Jungshin terus menerawang ke ruang
recording dan memperhatikan Yonghwa yang terus memukul-mukul drum kencang tanpa
irama yang jelas.
“pasti merindukan Seohyun kan?”
Minhyuk yang duduk disamping Junghsing dan merebahkan kepalanya di pundak
Junghsin meneruskan kalimat menggantung yang meluncur dari mulut Jungshin.
“tentu saja? Siapa lagi memang?”
Jungshin dan Minhyuk sebenarnya enggan untuk menonton sikap childish Yonghwa
yang selalu muncul tiba-tiba jika ia sedang kesal atau merindukan Seohyun, tak
lama ponsel Yonghwa yang tergelatak di meja bergetar. Jungshin mengambilnya.
Text messege from Hyu~un “hahahahaha
ini akan menjadi penawar..” Jungshin memamerkan layar ponsel Yonghwa pada
Minhyuk.
“bajjoyeo!! Berikan pada Hyung !!
palli !!” Minhyuk mendorong tubuh Jungshing, setelah ponsel menepi di genggaman
sang pemilik, wajah kusut dan pukulan-pukulan keji pada drum pun berakhir,
uring-uringanya sudah berubah menjadi wajah cerah yang cengengesan.
“itu disebut kekuatan cinta..”
Junghsin dan Minhyuk melakukan High five melihat kebahagiaan yang tau-tau
muncul di wajah Yonghwa, sambil menunggu Jonghyun selesai recording malam itu.
***
Tidak ada yang berubah sejeak dua
tahun lebih pertemuan mereka, Yonghwa dan Seohyun masih sama seperti dulu. Bedanya
mereka berdua kini lebih matang dalam berkarir, memusatkan perhatian lebih pada
dunia pekerjaan, bagaimana membahagiakan fans, membahagiakan perusahaan namun
tidak menyadari mereka berdua tidak cukup bahagia, terhitung satu bulan lebih
mereka berdua sulit bertemu, jangankan untuk bertemu, untuk sekedar bercakap di
sambungan telepon saja sudah tidak ada waktu.
Yonghwa menghempaskan tubuhnya di
atas tempat tidur setelah mereka berempat menepi di dorm, tak ada tenaga yang
tersisa, Yonghwa ingin beristirahat, ia terpejam ..
“bogoshiposoyo.. Yong oppa ..” bayangan
Seohyun malah memutar mengganggu konsentrasinya untuk bersitirahat, ini pukul
lima pagi
“ish dasar, kamu memintaku untuk
istirahat tapi kamu malah menggangguku
terus menerus..” Yonghwa membalikan badanya terpelungkup, ia memandangi potret
Seohyun, saat seohyun masih berusia dua puluh tahun, wajahnya sangat polos
dengan style yang sederhana, Yonghwa mengamit guling dan menempatkan wajahnya
diatasnya.
“aku sangat merindukan mu Seohyun..”
rasa haru diam-diam muncul seiring dengan kesadaran penuh bahwa Yonghwa
merindukanya. ‘Aku menunggu satu hari
yang tepat.. kita berdua harus terus bersama ..’
To : Hyu~un
Sisipkan waktumu sedikit saja untuku
Hyunie ..
Sabtu ini, pantai di kang hwangdo
menunggu ..
Setelah itu, Yonghwa jatuh dalam
tidur yang dalam.
***
Hidup, memang begitu.. semua yang
kita mau tidak terjamin akan menjadi wujud asli dalam kenyataan, jika tidak
menantang egoisme diri sendiri, Seohyun sudah berlari ke kang hwangdo untuk
menjumpai seseroang yang sedang menungguinya berjam jam yang lalu. Yonghwa
hanya meminta sedikit waktunya, sayangnya bukan Seohyun yang mengatur waktu,
tapi waktu yang mengaturnya.
“N-G N-G N-G Seohyun ada apa
sebenarnya?” Taeyeon mulai gemas melihat Seohyun yang tidak konsentrasi,
disela-sela break saat shooting untuk Music Core
“bisakah kita mempercepat
shootingnya Oenni?”
“kamu?” Tiffany cemas karena Seohyun
terlihat betul-betul tidak bersemangat “tidak sakit kan?” Taeyeon yang sempat
emosi melihat Seohyun dari sisi lain, benar kata tiffany, Seohyun terlihat
tidak sehat.
“bukan.. Seohyun merindukan
Yonghwa..” Hyeyon yang menemani mereka bertiga sore itu memecah rasa penasaran
yang tumbuh dalam diri Taeyeon dan Tiffany, kemudia Taeyeon garuk-garuk kepala.
“ini lebih parah dari sakit sebenarnya..”
“oenni…” airmata Seohyun mulai bercucuruan
“sudah sudah aku mengerti ayo
lanjutkan Shootingnya sebentar lagi kita selesai dan dimana Yonghwa menunggumu?”
Tiffany menghapus jejak-jejak airmata Seohyun
“kang hwangdo..”
“mwoya? Aish.. kalaupun kamu
berangkan sekarang dari sini, akan memakan waktu cukup lama kesana..” Seohyun
kembali menangis
“ah sudahlah, jangan menambah
suasana semakin kacau.. kita lanjutkan dulu shootingnya”
***
Pukul delapan malam, Seohyun tidak
mempedulikan apapun lagi, ia hanya membawa tubuhnya dan sekepal uang untuk
transportasi, ia meninggalkan semua barang-barangnya, ini sudah cukup malam,
Yonghwa menungguinya dari jam dua siang. Dalam hati yang bergemuruh takut ditinggalkan namun
merindukan Seohyun tergesa menaiki bus tujuan Daemyunghang. Menghempaskan tubuhnya
di kursi penumpang dan mulai menangis ketakutan.
Ponsel Yonghwa tidak bisa dihubungi,
namun Seohyun tetap bersikeras menyusul Yonghwa kesana, walau mungkin Yonghwa
sudah tidak lagi menungguinya.
“tetaplah disana .. aku mohon.. aku
akan mengatakan aku merindukanmu.. aku tidak akan lagi berbohong.. kumohon
Yonghwa.. tetaplah menungguku disana..” Seohyun menatap keluar jendela, angin
malam begitu menusuk dingin kulitnya yang tidak dilapisi jaket, ia menutup
jendela bis dan mengusap-ngusap lengannya.
***
Seohyun menjelajah setiap sudut
pantai dengan matanya, hari benar-benar telah habis dimakan gelap hanya bulan
yang benderang setia, dan tidak ada seorang pun yang berdiri di pantai itu,.
“Seohyun babo!!” Seohyun berjongkok
dan mulai menangis, menyesali kenapa ia tidak mengandalkan egoisnya untuk
sesekali, mengapa ia tidak mencoba untuk lari dari tanggung jawabnya sesekali,
waktu nya untuk bertemu dengan Yonghwa memang jarang sekali, dan lihat, saat
ada kesempatan ia malah membuat segalanya kacau balau.
Seohyun dalam tangisnya dan
ketakutannya mengamit ponselnya, terus mencoba menghubungi Yonghwa. Namun tetap
tak ada jawaban di ujung teleponnya.
“miane oppa.. miane.. “ Seohyun
menutupi wajahnya, hingga terasa seseorang menutupi tubuhnya dengan sweater
hangat, Seohyun mengangkat wajahnya.
“Oppa!!” beringsut dari tangisnya
Seohyun bahagia tak karuan melihat namja yang berdiri sambil mentertawakannya
yang terlihat konyol karena menangis sendirian di tepi pantai.
“irona Seohyun-ah..” Yonghwa
mengamit tangan Seohyun. Saat mata mereka bertemu Yonghwa mulai menghapus
buliran airmata Seohyun.
“ayo cepat bilang ..” sambil terus
sibuk menghapus airmata Seohyun, Yonghwa mulai menggencarkan retorisnya untuk
Seohyun.
“shiroyo..” lalu tangan Yonghwa
terhenti dan terkekeh geli.
“yasudah” Yonghwa melipat kedua
tanganya dan bergerak maju menuju pantai, Seohyun tersenyum walaupun hatinya
masih kalut karena Yonghwa berhasil membuatnya
menangis. Seohyun berlari dan mengaitkan lengannya diantara lengan
Yonghwa. Yonghwa melirik manis gadis yang sudah tumbuh sangat cantik dan dewasa
di sampingnya.
“aku kira oppa sudah pulang dan
tidak menungguku..”
“terus, jika aku betulan tidak
menungguiku kamu mau apa?” Seohyun berhenti dan perlahan mengamit
tanganYonghwa, menatapnya dalam..
“walau aku menangis kencang karena
aku takut kamu tinggalkan, tapi sejujurnya didalam hatiku aku percaya seutuhnya
padamu.. kamu, jangankan menungguiku berjam-jam, menahun dengan batas tak
terduga kamu akan tetap menungguiku kan?” Suara lembut Seohyun seketika membuat
hati Yonghwa terasa damai, ditambah tatapan mata penuh harap itu berbinar
menembus kedalaman hati Yonghwa yang sebelumnya belum pernah terjamah, ini
bukan pernyataan, tapi pertanyaan dan permohonan dari dalam diri Seohyun.
“mengapa kang hwangdo selalu indah
dimalam hari, seperti dulu kita disini, saat aku diam-diam menggenggam tanganmu
dan memasukannya kedalam saku jaketku..” Yonghwa melepas genggamannya dan
mengelus lembut dahi hingga ke pipi Seohyun.
“aku tau Seohyun.. rasa sayang ini
ada batasnya, tapi sampai saat ini aku tidak tau dimana batas itu berada.. jadi
selama aku belum menemukan akhir dari rasa sayang ini, aku tidak akan lelah..
aku menunggumu.. sama sepertimu yang sedia menungguiku..” Suasana romantis
serta haru tidak bisa dihindari, dua orang itu jika sudah ditinggalkan berdua
begini sifat aslinya akan muncul, mereka sudah merasa nyaman satu sama lain,
dan bagi mereka moment seperti ini sangat jarang mereka dapatkan.
Seohyun mengangguk dan airmatanya
hampir tumpah, kerinduannya yang lama ia tunda kini dihempaskannya, lewat
tatapan mata, lewat genggaman lembut, lewat janji yang terus membuat mereka
kuat.
“aish, jaashik, segitu saja Seohyun
sudah mau menangis lagi.. dasar” kemudia
Seohyun memukul lengan Yonghwa pelan.
“choding!!” ia merengek seperti anak
kecil dan tawa Yonghwa pecah tak karuan. “oppa.. sebenarnya saat aku mengirim
pesan singkat tengah malam saat itu, aku habis mimpi buruk..”
“oh ya? Memang mimpi apa?”
“Oppa, dan Victoria Oenni, kalian
berkencan..”
“mwo? Apa katamu? Bwahahhaha pantas
saja malam-malam begitu kamu menelpon.. tau tidak, sebelum mendapat pesan
singkat darimu aku sedang apa?”
“tidak, memang Oppa sedang apa?”
“aku sedang menganiaya drum di ruang
recording, habis aku kesal sekali sudah capek, susah sekali ingin bertemu
denganmu, Hyun-ah.. nan jinjja, bogoshiposoyo..” Yonghwa dan Seohyun berjalan
menyusuri pantai. Yonghwa menggenggam tangan Seohyun kencang, berharap malam
itu tidak cepat usai.
“hah, akhirnya aku harus jujur,
mungkin karena aku juga merindukan oppa, jadi aku mimpi buruk begitu..” Seohyun
tersenyum genit pada Yonghwa.
“arraseo.. impas kan? Kita saling
merindukan..?” Yonghwa melonggarkan genggamannya dan berhenti sejenak. Seohyun
mengangguk.
“Banyak hal yang ingin aku lakukan
bersamamu, sama seperti saat kita masih menjalani hari-hari sebagai suami istri
virtual, namun aku lebih bahagia menjalin hubungan diam-diam seperti ini..
karena kamu lebih jujur dalam mengungkapkan perasaanmu, karena aku bebas
memelukmu seperti ini..” Yonghwa kemudian menenggelamkan Seohyun dalam
peluknya. Meski kaget, Seohyun berusaha meminimalisir perasaan gugup dan salah
tingkahnya, padahal bukan sekali Yonghwa memeluknya seperti ini, namun dadanya
selalu saja berdetak lebih cepat. Seohyun membalas dekapan itu.
“jangan dulu dilepas ya..” kemudian
Seohyun berbisik, ia tidak mau kedapatan sedang menangis terharu dibalik
punggung Yonghwa, satu hal yang selalu Seohyun ingat, Yonghwa itu seperti air
putih baginya.. Seohyun memang menyukai kopi, teh, jus dan berbagai minuman
lain, tapi satu-satunya yang Seohyun butuhkan sebenarnya hanya airputih,
senikmat apapun minuman lain, di awal dan akhir harinya Seohyun hanya butuh
airputih..
“arraseo..” bisik Yonghwa yang
sebenarnya tau Seohyun sedang menangis, Seohyun itu sangat mudah untuk
dimengerti, bagi Yonghwa, dia akan melihat Seohyun dari sudut pandang lain,
tidak seperti yang orang lain lihat, termasuk Member-member SNSD lain, jika semua
orang memandang Seohyun itu sangat prinsipil, dia tegas dalam melakukan segala
sesuatu, begitu innocent dan jujur, bagi Yonghwa, Seohyun adalah gadis yang
cengeng, manja, mudah menangis saat diperlakukan istimewa, sama seperti
perempuan pada umumnya, bedanya dia memang kuat dalam keputusan dan
pendiriannya, sejak saat mereka memutuskan untuk menunggu satu hari, satu hari
dimana mereka berdua bebas berpelukan seperti ini dihadapan semua orang.
“sudah menangisnya Hyunnie?”
“Oppa!! Ish kalaupun oppa tau aku
menangis tidak usah menyebutkannya !! menyebalkan sekali ish !!” Seohyun
menepuk-nepuk punggung Yonghwa kesal, sementara Yonghwa menikmati waktu yang
berlalu dengan seseorang yang ia rindukan. Yonghwa melepaskan pelukannya.
“Oppa.. ige, bi..” Seohyun
menganggkat tangannya dan menengadah ke arah langit.
“bajoyo..” Yonghwa turut menengadah,
lama kelamaan hujan semakin deras, namun Yonghwa dan Seohyun punya pemikiran
yang sama.
“saat pertama kita bertemu, hujan
salju turun..” Yonghwa membuka suara
“saat pertama kita melakukan
perjalanan jauh, hujan turun..” Seohyun membalasnya
“saat pertama kita menempati rumah,
hujan turun..”
“saat perayaan 200 hari jadi, hujan
turun..”
“saat pertama kali bertemu ueno
juri, hujan turun..” Seohyun berhenti sejenak saat nama itu disebut “saat aku
meminta maaf karena menghilangkan scraft buatanmu, hujan salju turun..” Yonghwa
buru-buru menimpali “dan hari ini saat aku merindukanmu, hujan turun..” Yonghwa
menatap mata Seohyun setelah cukup lama menatap langit bersama butiran-butiran
air yang turun banyak sekali. Yonghwa mendekati Seohyun, perlahan mengecup
keningnya.
“Seo Joo Hyun, berapa lamapun itu,
aku akan menunggu satu hari yang sedang kita nanti, hari dimana bukan hanya
hujan yang akan menjadi saksi bisu atas cintaku padamu, tapi setiap orang akan
merekam detik demi detik cinta yang sudah lama membenih dan tumbuh disini..”
Seohyun berjinjit dan mengecup pipi
Yonghwa. Mengangkat kelingkingnya.
“berjanjilah untuk terus berusaha
bersama, sesulit apapun itu..” Yonghwa mengaitkan kelingkingnya dan ibu
jarinya..
“saranghe Seohyunie..”
“nado.. Saranghe Yonghwa Oppa..”
END

wah,,,keren ni....berasa beneran z yongseo ke kwangdo secara diam-diam....hehhee
BalasHapuscuma pas scene pelukan itu mksudnya gimana ya?? sebenarnya seohyun yg meluk dari belakang atau gimana,kok pas scene nangisnya..seohyun nangis di punggung bukan di dada??? hehehhehe..tpi overall,,,bagus bgt ceritanya....:)
terus berkarya ya neng.....
kkk kalau di gambarin lagi, hyun kan kalo berdiri ngga se dada Yonghwa, tapi pasti berkaitan sama bahunya, jadi dibilangnya menangis dibalik punggung yonghwa, but makasih buat masukannya, aku revisi lagiii ya teh lina :D
BalasHapusoh begitu toh??? hehhee.....baru ngeh aku..kekekekkek :) mianhe.....
Hapusoke,,,sami-sami neng ismi :)