Jumat, 27 Juli 2012

(FanFiction) The Awaited Day - One Shoot



The awaited day ..





            Seohyun tergesa membereskan barang-barangnya setelah pekerjaannya di MBC Music Core selesai. Hari itu adalah hari yang Seohyun tunggu, untuk sekian lama akhirnya ia bertemu dengan Yonghwa. Belakangan ini Yonghwa sibuk mempersiapkan album keduanya, sehingga tidak banyak waktu untuknya bertemu dengan Yonghwa. Yonghwa sudah menunggunya di loby utama MBC, tempat dimana pertama kali mereka bertemu. Seohyun memastikan penampilannya cukup cantik hari ini di cermin dalam lift. Saat pintu lift kemudian terbuka, Seohyun menemukan Yonghwa sedang bercengkrama dan tertawa puas bersama Victoria, Victoria adalah label matesnya di SM usia mereka terpaut empat tahun. Seohyun tidak punya daya saat rasa cemburu mulai menjalar kedalam hatinya. Pelan ia memutuskan untuk keluar dari lift dan berjalan mendekati Yonghwa.
            “annyeonghaseo oenni..” seperti biasa, Seohyun pandai sekali mengatur emosinya.
            “oh!! Seohyun-ah.. annyeonghaseo..” Victoria membalas salam Seohyun yang ramah.
            “Oppa.. mau kemana kita hari ini?”
            “mmm.. ayo kita menghabiskan waktu bersama” Yonghwa menatap Victoria dan Seohyun bergantian.
            ‘Apa? Bersama siapa maksudnya?’ Api cemburu semakin menjalar hebat di hati Seohyun.
            “nde?” Seohyun pura-pura tidak mengerti
            “Hyunni, kemarin aku dan Qian sudah janjian untuk hangout bersama, eh aku lupa kalau hari ini kita berdua juga punya janji, yasudah kita pergi bertiga saja.. tidak masalah kan?”
            ‘mwoya? Qian katanya?’
            “kajja Seohyun-ah..” Yonghwa menggandeng tangan Seohyun dan memegang bahu Victoria lembut.
            “IGE MWOYA?!” Sontak Seohyun berteriak dan menangis tidak terima, namun Yonghwa tak menghiraukannya, malah melepas genggamannya dan terus melangkah bersama Victoria.

***

            “Ya!!” Hyoyeon memukul kening Seohyun yang berpeluh lebat. “irona Seohyun-ah!” dan bow !! mata Seohyun terbelalak lebar, setelah menyadari baru saja ia bermimpi, mendadak dadanya melega, ia menarik nafas panjang dan melonggarkannya.
            “waeyo Seohyun-ah!!”
            “oh.. oh.. taengida..” Seohyun bangkit dan memegangi tangan Hyeyeon dengan wajah yang memucat.
            “wayeoooo? Gumiya? Bad dream? Nightmare?”
            “Oenni… ternyata aku benar-benar takut kehilangan Yonghwa oppa..” tawa Hyeoyeon pecah.
            “aku kira kamu mimpi apa.. aish !! itu karna kamu kangen tau!! Sudah ah, aku mau tidur lagi..” Hyeyeon menghempaskan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut tebal. Seohyun mengamit i-phonenya 02.45 AM
            To : Yong Oppa
            Oppa ..
Ia kemudian mengirimi Yonghwa pesan singkat meski ia tau Yonghwa tidak akan membalasnya. Tapi beberapa menit kemudian
            From : Yong Oppa
            Nde .. Hyun buin-ah ..
            Waeyo? Kenapa belum tidur?
Setelah itu, Seohyun memutuskan untuk menelpon Yonghwa.
            “yobseo..”
            “Oppa..”
            “nde..”
            “kenapa belum tidur?”
            “aku masih bekerja Hyunie, persiapan album kedua..”
            “hingga selarut ini?”
            “hmm..” Sedikit kesal dengan jawaban di ujung telepon yang singkat-singkat seperti itu Seohyun merasa mimpinya menjadi nyata.
            “jaga kesehatanmu Oppa.. jangan lupa minum vitamin yang aku kirim ya.. setelah selesai sempatkan untuk beristirahat walau sebentar, sudah ya.. maaf mengganggumu malam-malam begini..”
            “memang bilang bogosiposoyo susah ya?”
            “mwoya?”
            “ish.. jaashik, kamu kangen kan? Hyunnie, kamu memang tidak berubah..”
            “aniyo~ Oppa yang tidak pernah berubah.. sudah ya .. jalja Oppa..”
            “hm.. saranghe..” bisik Yonghwa diakhir sambungan telepon malam itu, ‘Saranghe..’ satu kata itu bisa mengundang sesudut senyum bahagia terbit dari bibir manis Seohyun, membuatnya menyadari yang dikatakan Yonghwa memang benar, Seohyun merindukannya.

***
            “Aku sudah bisa menebak, hyung kalau uring-uringan begitu sudah pasti..” mata Jungshin terus menerawang ke ruang recording dan memperhatikan Yonghwa yang terus memukul-mukul drum kencang tanpa irama yang jelas.
            “pasti merindukan Seohyun kan?” Minhyuk yang duduk disamping Junghsing dan merebahkan kepalanya di pundak Junghsin meneruskan kalimat menggantung yang meluncur dari mulut Jungshin.
            “tentu saja? Siapa lagi memang?” Jungshin dan Minhyuk sebenarnya enggan untuk menonton sikap childish Yonghwa yang selalu muncul tiba-tiba jika ia sedang kesal atau merindukan Seohyun, tak lama ponsel Yonghwa yang tergelatak di meja bergetar. Jungshin mengambilnya.
            Text messege from Hyu~un “hahahahaha ini akan menjadi penawar..” Jungshin memamerkan layar ponsel Yonghwa pada Minhyuk.
            “bajjoyeo!! Berikan pada Hyung !! palli !!” Minhyuk mendorong tubuh Jungshing, setelah ponsel menepi di genggaman sang pemilik, wajah kusut dan pukulan-pukulan keji pada drum pun berakhir, uring-uringanya sudah berubah menjadi wajah cerah yang cengengesan.
            “itu disebut kekuatan cinta..” Junghsin dan Minhyuk melakukan High five melihat kebahagiaan yang tau-tau muncul di wajah Yonghwa, sambil menunggu Jonghyun selesai recording malam itu.

***
            Tidak ada yang berubah sejeak dua tahun lebih pertemuan mereka, Yonghwa dan Seohyun masih sama seperti dulu. Bedanya mereka berdua kini lebih matang dalam berkarir, memusatkan perhatian lebih pada dunia pekerjaan, bagaimana membahagiakan fans, membahagiakan perusahaan namun tidak menyadari mereka berdua tidak cukup bahagia, terhitung satu bulan lebih mereka berdua sulit bertemu, jangankan untuk bertemu, untuk sekedar bercakap di sambungan telepon saja sudah tidak ada waktu.
            Yonghwa menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur setelah mereka berempat menepi di dorm, tak ada tenaga yang tersisa, Yonghwa ingin beristirahat, ia terpejam ..
            “bogoshiposoyo.. Yong oppa ..” bayangan Seohyun malah memutar mengganggu konsentrasinya untuk bersitirahat, ini pukul lima pagi
            “ish dasar, kamu memintaku untuk istirahat tapi kamu malah  menggangguku terus menerus..” Yonghwa membalikan badanya terpelungkup, ia memandangi potret Seohyun, saat seohyun masih berusia dua puluh tahun, wajahnya sangat polos dengan style yang sederhana, Yonghwa mengamit guling dan menempatkan wajahnya diatasnya.
            “aku sangat merindukan mu Seohyun..” rasa haru diam-diam muncul seiring dengan kesadaran penuh bahwa Yonghwa merindukanya. ‘Aku menunggu satu hari yang tepat.. kita berdua harus terus bersama ..’
            To : Hyu~un
            Sisipkan waktumu sedikit saja untuku Hyunie ..
            Sabtu ini, pantai di kang hwangdo menunggu ..
           
            Setelah itu, Yonghwa jatuh dalam tidur yang dalam.

***

            Hidup, memang begitu.. semua yang kita mau tidak terjamin akan menjadi wujud asli dalam kenyataan, jika tidak menantang egoisme diri sendiri, Seohyun sudah berlari ke kang hwangdo untuk menjumpai seseroang yang sedang menungguinya berjam jam yang lalu. Yonghwa hanya meminta sedikit waktunya, sayangnya bukan Seohyun yang mengatur waktu, tapi waktu yang mengaturnya.
            “N-G N-G N-G Seohyun ada apa sebenarnya?” Taeyeon mulai gemas melihat Seohyun yang tidak konsentrasi, disela-sela break saat shooting untuk Music Core
            “bisakah kita mempercepat shootingnya Oenni?”
            “kamu?” Tiffany cemas karena Seohyun terlihat betul-betul tidak bersemangat “tidak sakit kan?” Taeyeon yang sempat emosi melihat Seohyun dari sisi lain, benar kata tiffany, Seohyun terlihat tidak sehat.
            “bukan.. Seohyun merindukan Yonghwa..” Hyeyon yang menemani mereka bertiga sore itu memecah rasa penasaran yang tumbuh dalam diri Taeyeon dan Tiffany, kemudia Taeyeon garuk-garuk kepala.
            “ini lebih parah dari sakit sebenarnya..”
            “oenni…” airmata Seohyun  mulai bercucuruan
            “sudah sudah aku mengerti ayo lanjutkan Shootingnya sebentar lagi kita selesai dan dimana Yonghwa menunggumu?” Tiffany menghapus jejak-jejak airmata Seohyun
            “kang hwangdo..”
            “mwoya? Aish.. kalaupun kamu berangkan sekarang dari sini, akan memakan waktu cukup lama kesana..” Seohyun kembali menangis
            “ah sudahlah, jangan menambah suasana semakin kacau.. kita lanjutkan dulu shootingnya”

***
            Pukul delapan malam, Seohyun tidak mempedulikan apapun lagi, ia hanya membawa tubuhnya dan sekepal uang untuk transportasi, ia meninggalkan semua barang-barangnya, ini sudah cukup malam, Yonghwa menungguinya dari jam dua siang. Dalam hati yang  bergemuruh takut ditinggalkan namun merindukan Seohyun tergesa menaiki bus tujuan Daemyunghang. Menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang dan mulai menangis ketakutan.
            Ponsel Yonghwa tidak bisa dihubungi, namun Seohyun tetap bersikeras menyusul Yonghwa kesana, walau mungkin Yonghwa sudah tidak lagi menungguinya.
            “tetaplah disana .. aku mohon.. aku akan mengatakan aku merindukanmu.. aku tidak akan lagi berbohong.. kumohon Yonghwa.. tetaplah menungguku disana..” Seohyun menatap keluar jendela, angin malam begitu menusuk dingin kulitnya yang tidak dilapisi jaket, ia menutup jendela bis dan mengusap-ngusap lengannya.

***
            Seohyun menjelajah setiap sudut pantai dengan matanya, hari benar-benar telah habis dimakan gelap hanya bulan yang benderang setia, dan tidak ada seorang pun yang berdiri di pantai itu,.
            “Seohyun babo!!” Seohyun berjongkok dan mulai menangis, menyesali kenapa ia tidak mengandalkan egoisnya untuk sesekali, mengapa ia tidak mencoba untuk lari dari tanggung jawabnya sesekali, waktu nya untuk bertemu dengan Yonghwa memang jarang sekali, dan lihat, saat ada kesempatan ia malah membuat segalanya kacau balau.
            Seohyun dalam tangisnya dan ketakutannya mengamit ponselnya, terus mencoba menghubungi Yonghwa. Namun tetap tak ada jawaban di ujung teleponnya.
            “miane oppa.. miane.. “ Seohyun menutupi wajahnya, hingga terasa seseorang menutupi tubuhnya dengan sweater hangat, Seohyun mengangkat wajahnya.
            “Oppa!!” beringsut dari tangisnya Seohyun bahagia tak karuan melihat namja yang berdiri sambil mentertawakannya yang terlihat konyol karena menangis sendirian di tepi pantai.
            “irona Seohyun-ah..” Yonghwa mengamit tangan Seohyun. Saat mata mereka bertemu Yonghwa mulai menghapus buliran airmata Seohyun.
            “ayo cepat bilang ..” sambil terus sibuk menghapus airmata Seohyun, Yonghwa mulai menggencarkan retorisnya untuk Seohyun.
            “shiroyo..” lalu tangan Yonghwa terhenti dan terkekeh geli.
            “yasudah” Yonghwa melipat kedua tanganya dan bergerak maju menuju pantai, Seohyun tersenyum walaupun hatinya masih kalut karena Yonghwa berhasil membuatnya  menangis. Seohyun berlari dan mengaitkan lengannya diantara lengan Yonghwa. Yonghwa melirik manis gadis yang sudah tumbuh sangat cantik dan dewasa di sampingnya.
            “aku kira oppa sudah pulang dan tidak menungguku..”
            “terus, jika aku betulan tidak menungguiku kamu mau apa?” Seohyun berhenti dan perlahan mengamit tanganYonghwa, menatapnya dalam..
            “walau aku menangis kencang karena aku takut kamu tinggalkan, tapi sejujurnya didalam hatiku aku percaya seutuhnya padamu.. kamu, jangankan menungguiku berjam-jam, menahun dengan batas tak terduga kamu akan tetap menungguiku kan?” Suara lembut Seohyun seketika membuat hati Yonghwa terasa damai, ditambah tatapan mata penuh harap itu berbinar menembus kedalaman hati Yonghwa yang sebelumnya belum pernah terjamah, ini bukan pernyataan, tapi pertanyaan dan permohonan dari dalam diri Seohyun.
            “mengapa kang hwangdo selalu indah dimalam hari, seperti dulu kita disini, saat aku diam-diam menggenggam tanganmu dan memasukannya kedalam saku jaketku..” Yonghwa melepas genggamannya dan mengelus lembut dahi hingga ke pipi Seohyun.
            “aku tau Seohyun.. rasa sayang ini ada batasnya, tapi sampai saat ini aku tidak tau dimana batas itu berada.. jadi selama aku belum menemukan akhir dari rasa sayang ini, aku tidak akan lelah.. aku menunggumu.. sama sepertimu yang sedia menungguiku..” Suasana romantis serta haru tidak bisa dihindari, dua orang itu jika sudah ditinggalkan berdua begini sifat aslinya akan muncul, mereka sudah merasa nyaman satu sama lain, dan bagi mereka moment seperti ini sangat jarang mereka dapatkan.
            Seohyun mengangguk dan airmatanya hampir tumpah, kerinduannya yang lama ia tunda kini dihempaskannya, lewat tatapan mata, lewat genggaman lembut, lewat janji yang terus membuat mereka kuat.
            “aish, jaashik, segitu saja Seohyun sudah mau menangis lagi.. dasar”  kemudia Seohyun memukul lengan Yonghwa pelan.
            “choding!!” ia merengek seperti anak kecil dan tawa Yonghwa pecah tak karuan. “oppa.. sebenarnya saat aku mengirim pesan singkat tengah malam saat itu, aku habis mimpi buruk..”
            “oh ya? Memang mimpi apa?”
            “Oppa, dan Victoria Oenni, kalian berkencan..”
            “mwo? Apa katamu? Bwahahhaha pantas saja malam-malam begitu kamu menelpon.. tau tidak, sebelum mendapat pesan singkat darimu aku sedang apa?”
            “tidak, memang Oppa sedang apa?”
            “aku sedang menganiaya drum di ruang recording, habis aku kesal sekali sudah capek, susah sekali ingin bertemu denganmu, Hyun-ah.. nan jinjja, bogoshiposoyo..” Yonghwa dan Seohyun berjalan menyusuri pantai. Yonghwa menggenggam tangan Seohyun kencang, berharap malam itu tidak cepat usai.
            “hah, akhirnya aku harus jujur, mungkin karena aku juga merindukan oppa, jadi aku mimpi buruk begitu..” Seohyun tersenyum genit pada Yonghwa.
            “arraseo.. impas kan? Kita saling merindukan..?” Yonghwa melonggarkan genggamannya dan berhenti sejenak. Seohyun mengangguk.
            “Banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu, sama seperti saat kita masih menjalani hari-hari sebagai suami istri virtual, namun aku lebih bahagia menjalin hubungan diam-diam seperti ini.. karena kamu lebih jujur dalam mengungkapkan perasaanmu, karena aku bebas memelukmu seperti ini..” Yonghwa kemudian menenggelamkan Seohyun dalam peluknya. Meski kaget, Seohyun berusaha meminimalisir perasaan gugup dan salah tingkahnya, padahal bukan sekali Yonghwa memeluknya seperti ini, namun dadanya selalu saja berdetak lebih cepat. Seohyun membalas dekapan itu.
            “jangan dulu dilepas ya..” kemudian Seohyun berbisik, ia tidak mau kedapatan sedang menangis terharu dibalik punggung Yonghwa, satu hal yang selalu Seohyun ingat, Yonghwa itu seperti air putih baginya.. Seohyun memang menyukai kopi, teh, jus dan berbagai minuman lain, tapi satu-satunya yang Seohyun butuhkan sebenarnya hanya airputih, senikmat apapun minuman lain, di awal dan akhir harinya Seohyun hanya butuh airputih..
            “arraseo..” bisik Yonghwa yang sebenarnya tau Seohyun sedang menangis, Seohyun itu sangat mudah untuk dimengerti, bagi Yonghwa, dia akan melihat Seohyun dari sudut pandang lain, tidak seperti yang orang lain lihat, termasuk Member-member SNSD lain, jika semua orang memandang Seohyun itu sangat prinsipil, dia tegas dalam melakukan segala sesuatu, begitu innocent dan jujur, bagi Yonghwa, Seohyun adalah gadis yang cengeng, manja, mudah menangis saat diperlakukan istimewa, sama seperti perempuan pada umumnya, bedanya dia memang kuat dalam keputusan dan pendiriannya, sejak saat mereka memutuskan untuk menunggu satu hari, satu hari dimana mereka berdua bebas berpelukan seperti ini dihadapan semua orang.
            “sudah menangisnya Hyunnie?”
            “Oppa!! Ish kalaupun oppa tau aku menangis tidak usah menyebutkannya !! menyebalkan sekali ish !!” Seohyun menepuk-nepuk punggung Yonghwa kesal, sementara Yonghwa menikmati waktu yang berlalu dengan seseorang yang ia rindukan. Yonghwa melepaskan pelukannya.
            “Oppa.. ige, bi..” Seohyun menganggkat tangannya dan menengadah ke arah langit.
            “bajoyo..” Yonghwa turut menengadah, lama kelamaan hujan semakin deras, namun Yonghwa dan Seohyun punya pemikiran yang sama.
            “saat pertama kita bertemu, hujan salju turun..” Yonghwa membuka suara
            “saat pertama kita melakukan perjalanan jauh, hujan turun..” Seohyun membalasnya
            “saat pertama kita menempati rumah, hujan turun..”
            “saat perayaan 200 hari jadi, hujan turun..”
            “saat pertama kali bertemu ueno juri, hujan turun..” Seohyun berhenti sejenak saat nama itu disebut “saat aku meminta maaf karena menghilangkan scraft buatanmu, hujan salju turun..” Yonghwa buru-buru menimpali “dan hari ini saat aku merindukanmu, hujan turun..” Yonghwa menatap mata Seohyun setelah cukup lama menatap langit bersama butiran-butiran air yang turun banyak sekali. Yonghwa mendekati Seohyun, perlahan mengecup keningnya.
            “Seo Joo Hyun, berapa lamapun itu, aku akan menunggu satu hari yang sedang kita nanti, hari dimana bukan hanya hujan yang akan menjadi saksi bisu atas cintaku padamu, tapi setiap orang akan merekam detik demi detik cinta yang sudah lama membenih dan tumbuh disini..”
            Seohyun berjinjit dan mengecup pipi Yonghwa. Mengangkat kelingkingnya.
            “berjanjilah untuk terus berusaha bersama, sesulit apapun itu..” Yonghwa mengaitkan kelingkingnya dan ibu jarinya..
            “saranghe Seohyunie..”
            “nado.. Saranghe Yonghwa Oppa..”


END 






3 komentar:

  1. wah,,,keren ni....berasa beneran z yongseo ke kwangdo secara diam-diam....hehhee
    cuma pas scene pelukan itu mksudnya gimana ya?? sebenarnya seohyun yg meluk dari belakang atau gimana,kok pas scene nangisnya..seohyun nangis di punggung bukan di dada??? hehehhehe..tpi overall,,,bagus bgt ceritanya....:)

    terus berkarya ya neng.....

    BalasHapus
  2. kkk kalau di gambarin lagi, hyun kan kalo berdiri ngga se dada Yonghwa, tapi pasti berkaitan sama bahunya, jadi dibilangnya menangis dibalik punggung yonghwa, but makasih buat masukannya, aku revisi lagiii ya teh lina :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh begitu toh??? hehhee.....baru ngeh aku..kekekekkek :) mianhe.....

      oke,,,sami-sami neng ismi :)

      Hapus