Jumat, 31 Agustus 2012

SNSD pre-debut project - Cerita dibalik SNSD hari ini


Cerita di balik SNSD hari ini.



So Nyuh Shi Dae atau yang lebih gampang diingat dengan SNSD (Girl's Generation) sebenarnya memiliki sejarah yang panjang sebelum mereka memulai debut sebagai sembilan orang yang kita tau hari ini, well kita mulai kilas balik yuk tentang SNSD sebelum menjadi SNSD yang sekarang.




Pada tahun 2005, SM Ent mendebutkan boy grup beranggotakan 13 Orang 'Super Junior' dan sejak awal SM sudah merencanakan untuk mendebutkan girl grup sebagai versi perempuan dari Super Junior, dan setelah penyeleksian ketat dari semua trainee di SM saat itu, maka di pilihlah 11 trainee sebagai calon dari versi perempuan untuk Super Junior, inilah mereka :


1. Lee Yeon Hee
2. Hwang Bo Ra
3. Bae Seok Bin
4. Zhang Liyin
5. Jessica Jung
6. Kim Hyo Yeon
7. Kwon Yu Ri
8. Choi Soo Young
9. Im Yoon Ah
10 . Seo Joo Hyun
11. Kim Yee Jin (Maknae)

Dan ke-11 orang tersebut sudah mempersiapkan debut mereka


itu adalah foto penampilan girl grup asuhan SM sebelum mereka debut, setelah itu SM memutuskan untuk me'reshufle' member, dan sayangnya dari 11 trainee yang telah di bentuk, hanya 6 yang mampu bertahan setelah ada program Reshufle dari pihak SM ..
dan keenam orang itu adalah Jessica Jung, Kim Hyoyeon, Kwon Yuri, Choi Sooyoung, Im Yoona dan Seo Joohyun.

dan imbas dari Reshufle itu 5 yang lain mengundurkan diri dengan berbagai macam alasan.
tapi Lee Yeon Hee dan Hwang Bora sebenarnya sejak awal memang tidak di trainee sebagai singer-dancer tetapi menjadi actress-singer, karena itu mereka berdua akhirnya debut sebagai aktris tidak sebagai penyanyai. Lee Yeon Hee sudah membintangi beberapa film seperti 'Millionare First Love', 'Hello School Girl', dan satu drama serial 'East of Eaden' bersama member Super Junior Kim Kibum. Sedangkah Hwang bora debut sebagai penyanyi solo, dia juga pernah membintangi video musik Shinee 'AMIGO'


Dengan volume member yang kurang dari target, dengan itu SM mengaudisi beberapa orang lagi dan akhirnya terpilihlah 5 orang trainee baru untuk project girl grup SM ..
mereka adalah Seo Hyun Jin, Park So Yeon, Kim Stella, Kim Hang Jin, dan Lee Hwan Hee

SM ENT GIRL GROUP FORMASI MEMBER (REVISI PERTAMA) 




1. Seo Hyun Jin
2. Park So Yeon
3. jessica Jung
4. Kim Hyoyeon
5. Kwon Yuri
6. Choi Sooyoung
7. Stella Kim
8. Im YoonA
9. Jang Ha Jin
10. Seo Joo Hyun
11. Lee Hwan Hee

Sebelum di masukan kedalam project girl grup, Seo Hyun Jin adalah vokal utama sekaligus maknae dari Girl grup buatan SM yang telah bubar MILK, dan Park So Yeon dipilih menjadi trainee untuk project girl grup karena suaranya yang luar biasa, dia di posisikan sebagai vokal utama untuk grup ini, sedangkan Stella Kim yang merupakan blaseteran Kor-USA akan menemani YoonA sebagi face of the group atau visual karena selain wajahnya yang cantik, mereka berdua tidak memiliki bakat yang terlalu menonjol, sehingga mereka diposisikan menjadi visual di grup rancangan SM Ent ini.

Dan setelah pertimbangan dari SM Ent kemudian mereka memutuskan untuk membatalkan debut member tertua Hyun Jin dan maknae Lee Hwan Hee, dan datanglah dua trainee baru yang ternyata telah dilatih selama kurang lebih 2 tahun oleh SM yaitu Kim Taeyeon dan Stephanie Hwang.


SM ENT GIRL GROUP FORMASI MEMBER (REVISI KEDUA)


dan inilah formasi member setelah revisi kedua

1. Park So Yeon
2. Kim Taeyeon
3. Jessica Jung
4. Stephanie Hwang
5. Kim Hyoyeon
6. Kwon Yuri
7. Choi Sooyoung
8. Stella Kim
9. Im Yoona
10. Jang Ha Jin
11. Seo Joohyun

SM Ent telah sampai pada puncak kematangan untuk Girl Grup ini, bahkan SM sudah mempersiapkan rencana dan rancangan untuk mendebutkan mereka secepatnya. mulai dari memberi nama group ini 'Super Girl' dan menentukan nama panggung setiap member, dan sudah mempersiapkan singel debut mereka juga telah selesai melakukan pemotretan untuk di kemukakan pada publik sebagai versi perempuan dari 'Super Junior' yang sudah debut dua tahun lebih dulu.


1. Tiffany
2. So Yeon
3. Hajin
4. Taeyeon
5. Hyoyeon
6. Sooyoung
7. Yuri
8. Yoona
9. Stella
10. Jessica
11. Seohyun

dan inilah posisi yang sudah diatur untuk 'Super Girl'

Leader : Park So Yeon (karena usianya paling tua '87 line
Maknae : Seo Joo Hyun
Main vocal : Park So Yeon
Lead Vocal : Taeyeon, Jessica, Tiffany, Seohyun
Main Dancer : Kim Hyoyeon
Lead dancer : Kwon Yuri, Choi Sooyoung
Visual : Yoona, Stella, Jessica, Seohyun, Yuri (merkea lima member tercantik menurut SM)

dua member terbaru Taeyeon juga Tiffany, yang sempat di pertanyakan asal usulnya ternyata adalah pemenang kontes menyanyi yang di adakan oleh SM Ent pada tahun 2004 dan menggeser posisi 2 member sebelumnya Hyujin dan Hwanhee, sempat terdengar dua member itu di batalkan untuk debut karena usia mereka yang tidak sesuai dengan konsep awal, Hyujin yang pernah debut dan Hwanhee yang terlalu muda.

Meskipun SM Ent sudah siap untuk mendebutkan Super Girl, ternyata sebelum hari menuju debut kembali 2 member dari Super Girl mengundurkan diri, Hajin dan Stella, selain karena kemampuan mereka yang kurang dan diperkirakan dapat mempengaruhi permorma grup Hajin lebih memilih untuk melanjutkan sekolahnya dan Stella di larang keras oleh orang tuanya untuk debut sebagai artis juga untuk alasan pendidikan. sebelumnya Kim Hyoyeon juga akan didebutkan sebagai penyanyi solo sebagai generasi penerus BoA, tapi kemampuan vokalnya yang kurang akhirnya membuat Hyoyeon tergabung dalam Super Girl.

Stella dan Hajin kini melanjutkan kuliah mereka, sementara Stella kembali ke USA dan Hajin melanjutkan kuliahnya di KAIST Universitas Sains dan Komunikasi ternama di Korea Selatan, bahkan dia sudah mengelurkan satu buah buku berjudul "Tell Me Your Wish" yang mengisahkan tentang mimpi dan perjalanan bersama semua trainee di SM ent, selain itu Hajin juga menceritakan tentang hari-hari yang pernah dilaluinya bersama SNSD, Hajin sangat bahagia bisa mengenal member SNSD satu persatu secara dekat, dan sampai hari ini hubungannya dengan para member SNSD masih sangat dekat.

REVISI KETIGA SUPER GIRL

Setelah kehilangan dua member, dan yang tersisa hanya sembilan orang jauh dari rencana awal yang akan mendebutkan 11 member maka SM Ent menambahkan 3 member lagi. dan inilah revisi ke tiga



1. Park Soyeon
2. Kim Taeyeon
3. Jessica Jung
4. Lee Sunkyu
5. Stephany Hwang
6. Kim Hyoyeon
7. Kwon Yuri
8. Choi Sooyoung
9. Im Yoona
10. Seo Joohyun
11. Lee Hwanhee
12. Heo Chanmi

Lee Sunkyu merupakan keponakan dari Lee Soo Man, pemilik SM Ent, sebelum bergabung di Super Girl, Sunkyu sudah debut di bawah naunga Whesung Company, Tapi karena bangkrut akhirnya Sunkyu di rekrut oleh SM bersama Hwanhee yang dulu pindah ke Wheesung company di rekrut ulang oleh SM.

Sejak awal SM berencana untuk mendebutkan 11 orang, namun pada akhirnya SM memutuskan untuk mendebutkan 10 orang saja, dan karena itu SM harus mengeluarkan 2 orang anggota, sebenarnya semua orang memperkirakan Sunkyu yang akan di keluarkan karena ia baru saja masuk untuk trainee dan menjalani hari-hari trainee yang sangat singkat. Tapi pada pertengahan 2006 SM akhirnya megnelurakan Hwanhee dan Chanmi.

dan terpilihlan 10 orang yang siap debut 



dan rencana awal untuk mendebutkan mereka dengan nama Super Girl dirubhan menjadi So Nyuh Shi Dae (SNSD) awalnya mereka kaget, nama itu terdengar sangat kuno namun beruntung nama itu memiliki arti yang mendalam 'Generasi para Gadis' atau 'Girl's Generation'

SNSD rencana debut :
1. Soyeon
2. Taeyeon
3. Jessica
4. Sunny
5. Tiffany
6. Hyoyeon
7. Yuri
8. Sooyoung
9. Yoona
10. Seohyun

Dan beberapa bulan sebelum mereka debut, terjadi lagi masalah besar, Seoyeon sang leader juga Taeyeon melarikan diri dari asrama SM karena mereka merasa hari-hari selama trainee di SM sangatlah keras, juga saat itu Mr.Lee mengatakan mereka masih memiliki jalan terjal yang jauh menuju debut.

Satu hari setelah kabur, Taeyeon kembali ke asrama namun Soyeon tidak pernah kembali, setelah mengundurkan diri secara baik-baik dari SM, Soyeon bergabung dengan perusahaan lain pada 2009
dan tergabung dalam girl grup T-ara
setelah debut bersama T-ara Soyeon menjelaskan kepada publik :

"saat itu saya merasa tertekan, karena setiap harinya harus melewati pelatihan yang keras dan tiada henti, akhrinya saya memutuskan untuk keluar dari SNSD sebelum debut, dan sekarang saya debut bersama T-ara, dan saya akan berusaha melakukan yang terbaik bersama T-ara, selain itu saya sangat senang bisa mengenal SNSD sampai hari ini hubungan saya dengan SNSD sangat baik, meskipun kini kami bersaing, namun ini adalah persaingan sehat, saya juga ingin berkompetisi dengan sahabat-sahabat saya di SNSD"

dan Chanmi, member termuda yang gagal debut bersama SNSD kini berada di bawah naungan CCM company tergabung dalam 5DOLL 

"sebelumnya saya adalah seorang anggota trainee SM, saya merasa bahagia saat saya dipilih menjadi salah satu member SNSD, saya sudah mempersiapkan debut juga melakukan photoshoot bersama member SNSD lainnya, tapi saya menyadari saat itu usia saya masih sangat terlalu muda, dan saya belum lama menjalani trainee, tapi saya bahagia bisa mengenal SNSD unnideul, saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka"

SM ENT GIRL GROUP FINAL


inilah wajah-wajah mereka yang sudah tidak asing di mata kita hari ini
Taenggo, Jess, Sunny, Fanny, Hyo, Yuri, Sooyoung, Yoona, Seobaby.

mereka debut dengan lagu into the new world, dan setelah itu mereka merecycle lagu Lee Seung Chul yang judulnya sama seperti nama grup mereka so nyuh shi dae, karena lagu itu populer di era 89-91 sama seperti usia mereka yang berada lahir di antara 89-91.

dan kepada, Jessica, Hyoyeon, Yuri, Sooyoung, Yoona dan Seohyun yang berhasil survive dalam jangka waktu lama sejak mulai di buka project girlgroup hingga mereka debut, selamat karena kalian mampu bertahan menghadapi segala cobaan :D

dan inilah mereka hari ini, kemajuan yang sangat pesat, dan bahkan kini mereka sudah menjadi salah satu center of K-Pop bersama Super Junior, Chukkae SNSD :D





Kamis, 30 Agustus 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 4

No More Tears Formula
Chapter 4
Seohyun – She is a Twinkle 


Cast Plus :
Choi Siwon - Super Junior
Im Yoona - Girl's Generation
Seohyun Boyfriend 


           Ia masih memeluk tubuh Jungshin kencang, mencoba menenangkan anak laki-laki yang sudah seperti adiknya sendiri ini. Ia bisa merasakan betapa Jungshin terpukul dan takut kehilangan.
            Seohyun ia bekerja baru satu tahun di Seoul Hospital sebagai perawat, dan saat itu Jungshin sangatlah asing baginya, laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya ini, bersikap sangat dingin, tidak pernah berbicara pada siapapun, sangat misterius dan tidak bersahabat. Dan saat itu juga Seohyun mengingat kejadian satu tahun lalu, Jungshin menangis sama kencangnya seperti hari ini, dan tak ada satupun yang bisa menyentuhnya.

***

            Malam itu tidak ada perawat yang berjaga di sekitar ruangan VIP, dan kebetulan Seohyun sedang piket malam, ia mendengar suara tangisan tertahan dari salah satu ruangan, meski ragu Seohyun membuka pintu kamar ruangan VIP satu-satu, saat ia membuka ruangan gelap atas nama pasien Song Yoojin, ternyata ada anak laki-laki yang ia kenal bernama Jungshin sedang  menangis tertahan di ruangan itu, sendirian.         
            “chogiyo..?” Seohyun melangkahkan kakinya pelan..
            “omma, irona.. katakan sesuatu padaku..” Seohyun menyalakan sikring lampu,  dan  saat lampu menyala terlihat jelas Jungshin sedang memegangi lengan ibunya yang sudah lama menjalani perawatan di rumah sakit ini, airmata Jungshin sudah meluber banyak sekali membasahi bajunya.
            “Jungshin-ah.. waeyo..” Seohyun buru-buru mendekati Yoojin dan Jungshin .. namun Jungshin tak menjawab malah terus menangis.
            “Yoojin-shi.. Yoojin-shi..” perempuan itu hanya mengedipkan matanya.
            “Jungshin-ah..” Seohyun tercekat, pasien penderita ALS dalam masa kemasa akan mengalami penurunan kualitas kesehatan dan kesadaran diri, hingga mereka akhirnya kehilangan detak jantung, tak ada yang bisa dilakukan selalin berbaring.
            “Omma.. katakan sesuatu.. katakan padaku omma.. ommaaaa !!” tanpa berfikir panjang Seohyun mendekati Jungshin dan memeluknya erat, sangat erat, saat itu untuk pertama kalinya Yoojin berhenti berbicara, penyakitnya sudah menjalar hebat, dan kini ia hanya bisa berkedip untuk mengatakan apa yang ia mau.
            “Seohyun noona..” Jungshin mulai terisak kencang “ottoke.. nan ottoke..”
            “ssst.. tenang Jungshin-ah tenang..” dan semalaman suntuk hingga Jungshin tertidur Seohyun menemaninya.

***

            Dan hari ini sama, Jungshin terisak pilu berada di ambang rasa cemas dan takut yang tak tertahan, Juniel mestilah menjadi perempuan yang sangat berharga unutk Jungshin, Jungshin tidak pernah menangis lagi setelah malam itu berakhir, dan untuk pertamakalinya dalam satu tahun ia menangis lagi.
            “Noona, ottoke.. noona..”
            “Jungshin-ah.. aku akan mengikuti oprasi untuk gadis itu, dan sekarang aku harus bersiap-siap.. kamu percaya pada noona, hmm?” Seohyun melepaskan pelukannya dan menatap Jungshin. “Noona akan memastikan gadis itu baik-baik saja, Juniel pasti akan baik-baik saja.. percaya padaku..” Seohyun kini memegangi tangan Jungshin erat.
            “aku percaya padamu noona.. Juniel akan baik-baik saja..”
            “kalau begitu tenangkan dirimu ya, aku akan segera kembali.. arraseo?”
            “n—ne ..” Jungshin kemudian mencoba menenangkan dirinya sendiri, setelah lelah mondar-mandir di depan ruang oprasi akhirnya ia duduk di ruang tunggu, menunggu hingga noonanya kembali dan berharap dia mengatakan Juniel baik-baik saja.

***

            Darah segar terus keluar dari kepala juniel, dan beberapa tulang di tubuhnya retak bahkan patah, kecil kemungkinan Juniel bisa selamat, denyut nadinya kian lemah, Seohyun hanya menonton dan membantu proses oprasi itu sebisanya, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana ia harus mengatakan kondisi Juniel pada Jungshin.
            “dokter detak jantungnya semakin melemah, dia kehabisan banyak darah, bagaimana ini?” Seohyun memeriksa tekanan darah Juniel kemudian.
            “segera lakukan transfusi darah..” Seohyun mengangguk dan melakukan intruksi dari dokter. Berjam-jam berlalu hingga akhirnya oprasinya selesai.
            “Seohyun, bagaimana harus mengatakan ini pada keluarga pasien..” Choi Siwon, dokter specialis tulang dan syaraf membuka maskernya dan mencuci tangannya sambil mencoba berkomunikasi dengan perawat muda itu.
            “memang ada apa dokter..?” suara Seohyun parau nyaris memudar.
            “gadis ini, kemungkinan besar .. kakinya .. tidak bisa dipergunakan lagi..” Seohyun terhenyak dan memandangi Siwon dari belakang.
            “o—ppa.. solma..” Siwon berbalik dan memandangi adik perempuannya.
            “ya.. dia akan lumpuh seumur hidupnya..” Seohyuh terkejut hingga tubuhnya nyaris oleng tak tertahan, buru-buru Siwon menahannya.
            “waeyo Seohyun-ah? Bukankah kita sudah sering menangani yang seperti ini?”
            “oppa.. perempuan ini berbeda.. dia sangat berharga untuk Jungshin.. dan Jungshin sangat berharga bagiku..” airmata Seohyun mulai jatuh menetes di pipinya. Siwon menarik nafas panjang.
            “miane Seohyun-ah.. hanya ini yang bisa aku lakukan, dan yang lain pun sudah berusaha keras tadi..”  Seohyun melepaskan tangan Siwon dari tubuhnya, kemudian bergegas meninggalkan ruang oprasi.
***

            Sebelum Seohyun menemui Jungshin ia berkunjung ke ruang Juniel, ia masih belum melewati masa kritis, detak jantungnya masih sangat lemah, entah untuk alasan apa, Seohyun memiliki naluri yang sama dengan Jungshin, ada perasaan yang memaksanya untuk menyayangi gadis ini, dan sebisanya berkompromi dengan hati untuk menjaga dan memperhatikan gadis yang hidup dalam kesendirian Jung Junhee.
            “Juniel-shi.. annyeong..” Seohyun mengelus lembut telapak tangan Juniel yang penuh dengan jarum infuse dan alat pendeteksi detak jantung.
            “aku Choi Seohyun.. dan kau Jung Jun Hee kan? Tentu aku tau, adiku menceritakan banyak tentangmu padaku..” Semakin Seohyun mencoba berkomunikasi dengan Juniel, semakin dalam rasa sayang dan rasa ingin melindungi hadir merungkupi relung hatinya dan semakin dalam pula rasa sedih yang meradang merasuki batinnya.
            “Juniel-ah.. aku akan menganggapmu dongsaengku juga.. sama seperti Jungshin.. Jangan khawatir .. kamu tidak akan sendirian lagi .. dan .. maafkan aku Juniel.. tidak ada yang bisa aku lakukan selain menemanimu.. berapa lama kamu mengalami hidup yang sangat sulit Juniel-ah? Coba bagikan segala keluh kesahmu padaku.. biar aku turut merasakan..”  dan Seohyun tak mampu membendung airmatanya lagi.. “Juniel-ah.. bagi segala penderitaanmu padaku.. katakan semuanya..”
            “Noona..” Seohyun mengalihkan perhatiannya pada Jungshin yang ternyata sudah berada di ruangan yang sama dengannya. “Noona.. Juniel otteo?” sambil melangkah pelan Jungshin mendekati Seohyun.
            “Juniel—mm ..” Seohyun buru-buru menghapus bulir airmatanya, kemudian ia  memandangi wajah Juniel yang terlihat sangat damai dalam kritisnya. “gwenccana .. oprasinya berjalan lancar, kita tinggal menunggunya sadar saja..” Seohyun tetap memandangi wajah Juniel, tak sanggup menembus mata Jungshin, ia tidak bisa berbohong sama sekali, tapi kali ini, dia tidak cukup kuat untuk melihat Jungshin kembali larut dalam keterpurukan.
            “Jungshin-ah.. neon, jeongmal.. Juniel jhowahe?” Seohyun sambil mengelus-ngelus telapak tangan Juniel memberanikan menatap mata Jungshin kali ini..
            “mm noona..” Jungshin menangguk yakin “aku ingin terus berada disisinya.. menjaganya.. entah untuk alasan apa..”
            “arraseo Jungshinnie.. aku juga akan menjaganya untukmu.. setelah dia berhasil melewati masa kritis mari pindahkan ruangannya ke dekat kamar omma-mu.. agar kita mudah sama-sama menjaganya..”
            “kendae noona..” Suara Jungshin ragu “berapa lama dia harus dirawat disini?”
            “itu.. aku tidak yakin Jungshin-ah.. yang jelas aku akan membayar semua tagihan rumah sakitnya.. aku tidak akan membiarkan Juniel sendirian” tukas Seohyun.
            “ani noona, biarkan aku saja..”
            “Jungshin.. uangmu sudah cukup untuk membayar semua tagihan untuk omma-mu.. dan biarkan saja aku yang mengurusi semua tentang Juniel.. arraseo?”
            “noonaa..”
            “ssst, tidak ada protes..” Seohyun memukul kepala Jungshin, tidak ingin mendengar perlawanan apapun darinya.
            “mm.. gomawo noona..” Jungshin tesenyum mendalam menandakan betapa ia sangat berterimakasih pada Seohyun yang senantiasa menjadi penolongnya dalam keadaan apapun, tapi kini masih saja tersimpan rasa sedih melihat kondisi Juniel yang seperti itu, dan akhrinya mereka berdua menangis bersama, untuk seorang perempuan yang mereka tidak tau apakah mereka berhak menyayanginya seperti ini.
***
            Sempurna. Itu saja, yang itu saja kata yang sangat kuat melekat di diri Seohyun, lihatlah dirinya, tak ada sedikitpun cacat dalam hidupnya. Seohyun tumbuh, besar dan hidupa dalam keluarga besar yang hangat, ayah, ibu, dan seorang kakak yang amat ia sayangi. Big Family Of Choi, dan dari seluruh anggota keluarga mereka semua memilih hidup untuk mengabdi pada negri, Ayahnya adalah seorang tentara angkatan udara, ibunya yang kini hanya menungguinya di rumah untuk pulang dari pekerjaan, dulu bekerja sebagai pengajar untuk anak-anak keterbelakangan mental, kakanya Choi Siwon adalah dokter di rumah sakit yang sama dengannya, dan untuk melengkapi itu semua, ia memilih meniti karir sebagai seorang perawat, menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang bijaksana dan sangat menghargai sesame, memiliki jiwa sosial yang tinggi juga kemampuan financial yang baik, banyak orang sangat menghargai dan menghormati keluarga Choi, karena sikap mereka yang sangat ramah juga penyayang terutama Seohyun, sesekali di waktu sengganya ia menghabiskan waktu di panti asuhan atau bahkan panti jompo, memberikan sedikit belas kasih dan kebahagiaan untuk orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. Dan satu lagi yang membuat hidup Seohyun menjadi sangat sempurna, seorang kekasih. Meskipun mereka jarang bertemu namun kekasih Seohyun melengkapi ruang kosong di hidupnya dan menjadikanya sempurna.
            Melihat dari sisi itu, maka siapa yang tidak iri pada kehidupan Seohyun, keluarganya yang berkecukupan dan sangat hangat serta harmonis, bahkan ia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Pula di tunjang oleh penampilan fisik yang menawan. Menemukan fakta bahwa disekelilingnya banyak orang yang tidak hidup dalam keberuntungan sepertinya, ia meluluh, mencoba untuk masuk dan memperlajari rasa sakit atas ketidak sempurnaan hidup mereka, Jungshin salah satunya, sebelum mengenal jauh tentang Jungshin, Seohyun mengira hidupnya sempurna, hanya saja orang tuanya sakit, ternyata tidak, setelah Jungshin menjelaskan bagaimana keadaan hidupnya yang kacau balau, Seohyun mulai belajar untuk membagi kebahagiaannya pada Jungshin, dan mulai belajar untuk merasakan penderitaan yang Jungshin alami.
            Dan kini Juniel, ia tidak  tau terlalu dalam tentang gadis itu memang. Ia hanya tau sedikit cerita dari Jungshin, Juniel hidup sendirian setelah ditinggal pergi kakaknya, juga neneknya, membayangkan di usia semuda itu hidup sendirian sejak dua tahun yang lalu, bagaimana ia bisa melewati hari-hari berat, dan Jungshin bilang bahkan gadis ini tidak pernah terlihat sedih. Seohyun yang sedari kecil hidup dalam lingkungan keluarga hangat, di pelihara dengan baik oleh ibunya dan neneknya di beri perlindungan nomor satu oleh ayah serta kakaknya sama sekali tidak bisa membayangkan betapa kosongnya hidup Juniel. Pedih.. sakit..
            Setelah semalaman Seohyun menunggui Juniel, dan pulang sebentar untuk berganti seragam dan kembali bertugas, pagi ini Seohyun memutuskan untuk mendatangi pria yang menabrak Juniel dengan sepeda motornya.
            “namanya Kang Minhyuk, di ruangan 209..” setelah mendapat informasi dari sahabatnya, buru-buru Seohyun menuju ruangan itu. disana terdapat dua orang tua Minhyuk dan satu gadis yang sepertinya adalah kekasihnya.
            “annyeonghaseo..” Seohyun membuka pintu dan mulai menyapa keluarga Minhyuk dengan ramah. “anda Kang Minhyuk?”
            “ne, Kang Minhyuk imnida..”
            “waaah, beruntung sekali, aku Choi Seohyun..” Seohyun membungkuk.
            “anda perawat disini kan?” tanya Mr. Kang
            “ya, saya ingin memeriksa keadaan Minhyuk-shi..” Seohyun mulai memeriksa Minhyuk sesuai dengan prosedur seorang perawat meskipun seharusnya ini menjadi tugas perawat lain.
            “oh, jhowahe.. Minhyuk hanya butuh pemulihan sedikit, sepertinya kepalamu terbentur cukup keras ke jalanan dan hanya di jait beberapa jaitan, begitu bukan Minhyuk-shi..” Sementara yang lain diam memperhatikan perawat yang terus menerus bertanya Minhyuk merasa perawat itu justru menyudutkannya ..
            “n—ne .. nan gwenccanayo..”
            “oh, kereomyo.. pasti kau baik-baik saja..” nada Seohyun sedikit menyindir “dan sebentar lagi kamu bisa pulang..” Seohyun merapikan kembali peralatan keperawatannya.
            “baiklah kalau begitu, selamat menikmati kesehatan dan hidup anda yang bahagia Minhyuk-shi.. selamat pagi..” Seohyun berbalik dengan tampang dingin.
            “cangkkeuman suster..” lalu Seohyun berhenti
            “ye—ada yang bisa saya bantu?”
            “bagaimana keadaan Juniel-shi..”
            “omo… kamu mengenal gadis yang kamu tabrak Minhyuk-shi?” Seohyun mengangguk-anggukan kepalanya “kenalkan, saya Choi Seohyun, Juniel adalah adiku..” Mr. dan Mrs. Kang terkejut seketika .
            “ah jinjja?” gadis berambut panjang yang terlihat seperti kekasih Minhyuk mulai angkat bicara.
            “bagaimana keadaanya?” tanaya Minhyuk lemah.
            “Juniel? Hah..” Seohyun berkilah “selamat karena anda Juniel tidak akan sanggup melangkahkan kakinya lagi..”
            “MWO?”  serentak mereka berempat bersuara
            “aigoo, tsk tsk tsk, apa yang ingin kamu lakukan Minhyuk-shi? Berpura-pura terkejut seperti itu..”
            “jin—jja ? anda tidak berbohong Seohyun-shi ?”
            “omoooo..” nada suara Seohyun semakin meninggi “kereyo Minhyuk-shi saya hanya bercanda dan anggap saja anda tidak pernah mendengarkan apa yang baru saja saya katakan, dan keluarga kami sama sekali tidak membutuhkan batuan keluarga anda. Terimakasih, selamat pagi..” Tergesa Seohyun keluar dari ruangan itu, tidak memberikan celah sama sekali untuk mereka semua berbicara bahkan memberikan perlawanan atas sikapnya.
            “jih.. bagaimana orang-orang itu bisa begitu tenang setelah melihat Minhyuk yang bugar dan melupakan ada gadis yang sudah anak sialan itu celakakan.. tsk tsk .. di dunia ini ada pula orang yang seperti itu..” Seohyun berbicara pada dirinya sendiri.
            “Noonaaaa!!”
            “oh Jungshin-ah !! annyeong !!”
            “noona-ya !! ikut aku..”
            “waeyooo?” Jungshin keburu menarik tangannya cepat. Dan mereka berhenti di depan ruangan Juniel yang kini bersebrangan dengan ruangan Yoojin.
            “mwoya? Juniel sudah melewati masa kritisnya?” Seohyun buru-buru masuk ke ruangan Juniel, disana ada kakaknya yang sedang memeriksa  Juniel.
            “selamat Junhee-shi anda sudah melwati masa kritis anda” Siwon menepuk tangan Juniel lembut.
            “dr.Choi..”
            “oh Seohyun..”
            “dia sudah sadar?”
            “aniyo.. tapi dia sudah berhasil melewati masa kritis, hanya butuh beberapa hari untuk membuatnya bangun dan sadar..”    
            “jinjja? Oh.. taengida..” Seohyun mengalihkan pangangannya pada Juniel yang terlihat masih pucat.
            “baiklah kalau begitu aku serahkan semuanya padamu Seohyun-ah..”
            “oke oppa.. gomawo ..” Seohyun tersenyum sambil mengiringi kakaknya berlalu dari ruangan itu.
            “annyeonghaseo Juniel-ah..” tuturnya lembut pada pasien yang masih belum membuka matanya itu. “Juniel-ah.. ayo segera bangun, coba lihat disana.. ada yang sangat sangat sangat sangaaaaaaaaaaaat menyukaimu..”
            “noona-ya !! mwoya ish ..”
            “aish.. jangan berlagak sombong, masih mau main rahasia-rahasiaan? Tsk” Seohyun kemudian menarik tubuh Jungshin untuk mendekat pada Juniel “Juniel-ah .. gomawo.. neomu gomawo .. kamu sudah merubah makhluk ini menjadi lebih baik, mm .. gomawo ..”
            “noona michosseo ?” Jungshin melirik sinis pada Seohyun “bagaimanapun dia itu sedang tidak sadar, ah noona benar-benar gila, sudah ah, aku mau menemani omma saja..” Jungshin melepaskan tangan Seohyun yang mengait di bahunya, dan meninggalkan Seohyun sendirian di kamar Juniel.
            “ya !! ya !! Jungshin-ah?!” meskipun tak jelas namun Seohyun melihat sesimpul senyum mengembang di wajah Jungshin “anak itu betul-betul jatuh cinta pada Juniel.. hahah how great this is..” Seohyun tersenyum puas melihat Jungshin juga Juniel pagi itu.
***
            Kekasihnya adalah seorang pilot di perusahaan penerbangan Korea ternama, usia mereka terpaut dua tahun, dan Seohyun sudah menjalani hubungan dengan lelaki itu cukup lama. Saat mereka masih sama-sama duduk di bangku kuliah, hari ini kekasihnya mendarat dan berlibur di Korea, dan Seohyun harus menyisihkan waktunya untuk melepaskan kerinduannya pada kekasihnya, tapi karena ia masih harus bertugas dan menunggui Juniel, maka ia hanya bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk bersama kekasihnya hari ini.
            “yobseo oppa..” Seohyun mengangkat sambungan telepon dari kekasihnya
            “ne Seohyun-ah.. neon odisseo?”
            “jigeum, nega..” kemudian Seohyun menjelaskan bahwa ia sedang merawat pasien yang tidak memiliki keluarga, dan ia masih harus menemaninya  hingga Jungshin pulang
            “oh, arraseo jika memang tidak bisa menemaniku.. aku yang kesana ya..”
            “jinjjayo? Oppa jinjja?”
            “ne Hyunnie.. aku tidak bisa menahan rinduku berlama-lama..” kata-kata itu membuat Seohyun mengalami dehidirasi perasaan, ia cukup haus akan kehadiran kekasihnya “sepertinya aku datang bersama Yoona, dia juga merindukanmu..
            “oh Yoona-ya !! jinjjayo Oppa? Jinjja?”
            “ne.. tunggu ya.. aku segera datang dalam tiga puluh  menit..”
            “oppa gomawo.. saranghanda..”
            “nado .. saranghanda..”
            Yoona, gadis cantik itu merupakan sahabatnya dari kecil, ia dan Yoona tinggal di komplek perumahan yang sama, mereka menghabiskan banyak hari di masalalu, hingga Yoona memutuskan untuk menjadi pramugari dan ia sering berada di satu pesawat dengan kekasihnya, Yoona sering menghubunginya dan mengatakan bahwa kekasihnya sering frustasi jika sudah merindukan Seohyun, Yoona dan kekasihnya adalah dua orang yang paling berharga setelah keluarganya. Mereka istimewa lebih dari apa yang pernah Seohyun miliki selama ini.
***
            Seohyun menghalangi sinar matahari yang mendarat tepat diwajahnya dengan kedua lengannya, menunggu kedatangan kekasihnya juga sahabatnya. Di halaman Seoul Hospital, Seohyun sedikit gugup juga tidak siap melihat kekasinya, kendati mereka sudah lama menjalani hubungan, tetap saja selalu terselubung perasaan gugup saat ia harus berhadapan dengan kekasihnya. Tak lama mobil sport berwarna hitam metalik terparkir dan Seohyun sudah melambai-lambaikan tangannya bahagia pada pengemudi mobil itu. Seohyun berlarian menghambur menghampirinya.
            “Oppa..” kekasihnya menggunakan kemeja motif kotak-kotak dan sengaja di lipat hingga sikutnya, membuka kacamata yang ia gunakan, dan waw, tidak terlihat seperti seorang pilot karena rambutnya dibiarkan cukup panjang, berbeda dengan pilot-pilot pada umumnya yang memiliki rambut pendek.
            “Hyunnie..” Seohyun langsung memeluk kekasihnya, tidak peduli banyak orang yang sedang memperhatikan mereka, kekasihnya balas memeluk Seohyun dan mengecup keningnya lembut.
            “oppa.. bogoshipossoyo..”
            “ya !! ish, mentang-mentang sama-sama kangen, tidak lihat aku juga disini?”
            “Yoona-yah !! Seohyun melepaskan pelukanya dan berlari menuju sahabatnya
            “uri Seororo..” Yoona mendaratkan pelukannya erat pada Seohyun, begitupun sebaliknya. Hingga tanpa sadar airmata mulai menetes, seiring dengan memori-memori masalalu yang berjalan dan memutar di ingatan mereka masing-masing, Yoona memang begitu, karena Seohyun sampai hari ini masih sangat mencintai keroro dan tamama, maka Yoona selalu memanggilnya Seororo.
            “bahagia sekali melihatmu lagi Yoona-ah..”
            “nado Seohyun-ah..”
            “yaaaah, dan sekarang aku yang terkena imbas, Yoona-ya kembalikan kekasihku..” Yoona mendelik ke arah kekasih Seohyun dan kemudian, memutar tubuh Seohyun, mendorong Seohyun lembut pada kekasihnya.
            “Oppa, aku harus menunggui Juniel, kalian berdua tidak ada jadwal kemana-mana kan? Aku ingin ditemani..”
            “arraseo Seohyun-ah..” Yoona dan kekasihnya menjawab bersamaan.
            Sambil terus berjalan Seohyun menceritakan tentang Juniel pada Yoona dan kekasihnya, tentang Jungshin juga tentang kehidupannya yang berjalan sangat baik dan sempurna.
            “dan kalian itu pelengkap hidupku, gomawo.. aku bisa seperti ini hari ini, didalamnya ada campur tangan kalian yang selalu menyayangi dan melindungiku..” Seohyun menatap kekasihnya juga Yoona bergantian yang berdiri di kiri dan kanannya bergantian, bahagia melihat wajah mereka nyata dan masih ada menemaninya hingga hari ini.
            Seohyun membuka pelan kamar Juniel, dan Jungshin ada disana, melihat Seohyun membawa tamu Jungshin kaget dan bangkit.
            “Jungshin-ah..”
            “oh noona.. mereka—“
            “dia kekasihku.. dan ini sahabatku..”
            “annyeonghaseo.. Lee Jonghyun imnida..”
            “choneun.. Im Yoon Ah imnida..”
            “oh, nan Lee Jungshin Imnida.. banggawosseo..”
            “dan ini, Juniel.. Oppa.. Yoona kenalkan..” Juniel masih belum sadar dan masih terbaring lemah di tempat tidurnya.
            Jonghyun tertegun kaget di tempatnya, dan Yoona melihat gadis itu prihatin
            “Seohyun-ah.. dia—“
            “ne Oppa waeyo?”
            “Jung Jun Hee..” alis Seohyun bertemu di tengah menandakan ia bingung
            “bagaimana oppa tau..” Jonghyun menelan ludahnya.
            “aku.. aku mengenalnya.. dia.. sepupuku..” mata Seohyun membesar hampir keluar dari wadahnya.. begitupun dengan Jungshin. “ayahnya adalah adik dari ibuku..” Seohyun kemudian menemukan sedikit binary dan harapan untuk Juniel, berharap Jonghyun bisa membantunya mencari dimana keberadaan kakak kandung Juniel.
            Meski tidak percaya, namun Jonghyun meyakinkan dirinya, itu adalah saudara sepupunya yang menghilang sejak lama, ia tinggal bersama nenek mereka yang juga tidak diketahui keberadaanya.
            “Oppa.. bantu aku mencari dimana keberadaan kakak kandungnya.. mm? otteo?”
            Jonghyun mengangguk dan berharap ia bisa menemukannya, Jung Yonghwa.

To be Continued

Rabu, 29 Agustus 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chapter 3


No More Tears Formula
Chapter 3
Jungshin – Love and Light ..



Cast plus :

Lee Jungshin
Song Yoojin - Jungshin Mother
Seoul Hospital Nurse - Jungshin Noona 


            Aku pernah mati, dalam kesendirian
            Tanpa cahaya, bahkan cinta ..
            Di dera hampa dan sakit yang membara ..
            Dan di ujung jalan, ku temui apa yang tak pernah ada sebelumnya ..          
            Love .. and .. Light ..

            Laki-laki itu menengadah ke atas langit, ia terjebak hujan diantara kerumunan orang-orang yang bersiap pulang, mereka semua berteduh di bawah atap halte bis, menunggu air yang dikirim Tuhan untuk berhenti jatuh dari langit, ada setitik harapan dari laki-laki bertubuh tinggi itu.
            ‘Hujan, mengalir bebas, datang dari laut, dan kembali ke laut dengan tenang, maka Tuhan buatlah segala keletihan ini hilang dengan tenang bersama hujan, agar aku selalu kuat mengikuti alur hidup yang telah kau anugrahkan..’
Lee Jungshin mempunyai banyak harapan dalam hidupnya, namun yang selalu ia minta adalah kekuatan, kekuatan untuk terus bertahan.
            Jengah dengan orang-orang yang mulai berdesakan di halte, Jungshin memilih memisahkan diri, ia sangat benci dengan keramaian, ia memilih membasahi tubuhnya dengan hujan daripada harus berdesak-desakan dengan manusia lain yang sama sekali tak ia kenal. Sambil melangkah pelan, ia memikirkan banyak hal, ia masih harus banyak belajar, bagaimana menikmati hidup, bagaimana cara bahagia, dan bagaimana untuk mensyukurinya.
            “ne, sunnim, lain kali datang lagi, dan jangan lupa bawa payung..” Jungshin menghentikan langkahnya. Kemudian intuisi itu membawa pandangannya berlabuh pada perempuan berbaju putih yang berdiri di depan toko bunga, gadis dengan senyum mengembang dan suara yang lembut.
            Tanpa sadar, kaki Jungshin melangkah mendekati perempuan itu, dan lengannya lembut membuka pintu bercat putih dan dipenuhi dengan kaca bening.
            “welcome sunnim, ada yang bisa saya bantu?”
            Untuk beberapa detik pertama Jungshin tidak  mengatakan apapun, bahkan matanya hanya terpaku pada wajah cerah gadis itu.
            “Juniel-ah, berikan aku seikat krisan..” seorang pelanggan yang asyik memilih bunga memanggil nama pemilik toko bunga ini.
            “oh, baiklah Oenni, tunggu sebentar..” gadis itu kemudian beringsut dari tempatnya cepat, mengambil beberapa tangkai bunga krisan dan kembali ke mejanya.
***
            Pagi ini, tepat lima tahun telah berlalu, sejak ia terbiasa menjejakan kaki disini, harum yang sama yang sangat ia benci, suasana yang sama yang tak pernah ia sukai, pelan ia melangkahkan kaki di setiap koridor gedung besar dan tinggi ini, lima tahun sudah berlalu, namun tak ada yang berubah sama sekali.
            Lee Jungshin, menginjakan kakinya letih di Seoul Hospital, ia sangat membenci rumah sakit, bau obat, dokter, dan perawat. Namun satu-satunya alasan untuk ia terus menerus menginjakan kakinya disini adalah, cahayanya.
            “annyeong omma..” Jungshin membuka pintu kamar pasien dan menyapa ibunya, yang baginya semakin hari semakin terlihat cantik.
            “omma.. apa semalam kau tidur nyenyak?” tak ada jawab.
            “mwo? Omma aku tau kau tidak menyukai bau rumah sakit, lalu apa yang harus aku lakukan?” tetap sunyi..
            Song Yoojin, menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tidak di ketahui penyebabnya, hanya saja perlahan satu persatu organ tubuhnya menjadi lupuh, lima tahun yang lalu, hanya kakinya saja yang tidak bisa di gerakan dan lima tahun kemudian, seluruh anggota tubuhnya mati.
            “mm omma.. aku akan melakukan apapun yang kamu mau.. biar aku pikirkan bagaimana agar ruangan ini tidak terlihat dan tidak tercium seperti rumah sakit..” Jungshin mengelus pipi Yoojin pelan dan lembut.
            “tapi, jangan menanyakan aboji padaku.. jika omma tau, mungkin omma akan bangun dan mencabik-cabik, mencakar bahkan membunuh perempuan yang kini sedang bercinta dengan appa..” suara Jungshin mulai bergetar, dan jangan tanyakan apapun tentang keluarganya, Jungshin akan berubah menjadi seseorang yang sangat dingin.
            “omma, aku harus berangkat kuliah, nanti aku kembali kesini.. jaga dirimu omma..” Jungshin meraih tas punggungnya dan mengecup kening Yoojin, kemudian meninggalkan ruangan itu.
***
            Jungshin mendapatkan segalanya yang ia mau, karena ia adalah anak dari pengusaha batu rubi kaya raya, namun hidupnya tak pernah lengkap, frustasi melihat ayahnya setiap malam berganti wanita, depresi melihat ibunya kini terbaring lemah di rumah sakit karena penyakit yang tak kunjung sembuh, tapi sebelum akhirnya sang ibu tidak mampu berbicara sama sekali, Yoojin sudah berkata bahawa Jungshin harus melanjutkan hidupnya dengan baik, harus membuatnya bangga dan tidak menunujukan ia lemah di hadapan siapapun, karena itu hingga kini Jungshin masih bertahan, melanjutkan kuliahnya.
            “Jungshin-ah..”
            “oh, noona .. anyeonghaseo..” Jungshin lalu membungkuk ketika salah seorang perawat memanggilnya dari jauh.
            “annyeong Jungshin-ah.. bagaimana omma-mu?”
            “seperti biasa, dia sangat baik noona..”
            “kamu mau berangkat kuliah?”
            “ne.. noona, bisa menjaga ommaku kan ?”
            “pasti, seperti biasa aku akan memberikan pelayanan terbaik untuk omma-mu ..” Perawat itu, sudah satu tahun menjadi perawat disini, karena usianya yang hampir seumuran dengan Jungshin, Jungshin merasa nyaman dan bisa berbagi banyak hal padanya, dan hanya perawat itu satu-satunya perawat yang bisa ia percaya untuk menemani Yoojin saat ia pergi.
            “kamsahamnida noona..”
            “belajar yang benar yaaaaa.. ibumu pasti akan sangat bangga jika kamu berhasil menjadi arsitek ternama..” Perawat itu menepuk-nepuk bahu Jungshin. Jungshin tersenyum.
            “ne—noona ..”
            Namun ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya, sesuatu yang ingin ia tanyakan, begitu asing dan menjengahkan, menyesakan namun begitu menyenangkan, Jungshin terus melangkah ragu, bagaimana dan pada siapa lagi ia harus bercerita selain pada perawat yang sudah ia anggap seperti Noonanya sendiri.
            “Noona..” Jungshin kemudian berbalik, dan perawat itu sudah bersiap dengan peralatannya di tangan.
            “oh ne..” Perawat itu sedikit berteriak, kemudia Jungshin berlari menghampirinya.
            “aku rasa, omma tidak menyukai bau rumah sakit, bagaimana caranya agar kamarnya tidak terlalu..” Jungshin garuk-garuk kepala ..
            “oh, arraseo.. mmm mungkin kamu bisa membeli bunga yang harumnya menyengat dan lembut, mawar misalnya atau apapun yang berbau alami dan menyengat, itu akan menghilangkan bau khas rumah sakit..”
            “bunga..” kemudian Jungshin teringat pada kejadian kemarin sore saat tau-tau tubuhnya sudah berada di dalam YJ Florist dan hanya tertegun memandangi gadis penjual bunga.
            “ye, bunga..”
            Walau sebenarnya bukan hal itu yang ingin Jungshin tanyakan, namun ia mengangguk mengiyakan pendapat noonanya.
***
            Pagi itu, Jungshin kembali menginjakan kakinya di YJ sebelum ia berangkat kuliah, dan gadis itu seperti biasa menyapa setiap pelanggan dengan sangat ramah dan sopan.
            ‘bagaimana cara tersenyum seperti itu? dan .. sepertinya ia sangat menikmati hidupnya..’ Jungshin berbisik dalam hatinya sendiri. Iri.
            “sunnim annyeonhaseo..” Juniel sudah berdiri di hadapannya dan membunguk “ada yang bisa ku bantu?” Jungshin masih membatu, kemudian garuk-garuk kepala.
            “agashi .. bisa tolong.. carikan bunga yang bisa membuat ruangan harum..” Juniel tersenyum.
            “anda bisa memanggil saya Juniel, seonsaengnim..” Juniel kemudian berjalan melewatinya, mengambil beberapa bunga dan menunjukannya pada Jungshin.
            “ini jika di padukan seperti ini akan cukup membuat ruangan menjadi harum, anda bisa menciumnya..” Jungshin menurunkan badanya yang jauh lebih tinggi dari Juniel, kaku mulai mencium bau dari bunga yang Juniel berikan.
            “oh ne .. tolong bungkuskan untuku..”
            “algesamnida sunnim..” Juniel mengambil peralatannya, cutter, pita, dan air serta peralatan yang Jungshin tidak tau namanya. Dengan cepat dan cekatan bunga itu sudah di bungkus dalam satu kertas.
            “olmana ige?”
            “7000 won sunnim..” Juniel menyerahkan bunga itu dengan kedua tangannya, dan menatap tepat di mata Jungshin.
            Deg .. deg ..
Buru-buru Jungshin mengeluarkan uangnya dan mengambil bunga yang sudah terbungkus rapi. Dan berjalan cepat keluar dari toko itu.
            Ia menekan dadanya dan menarik nafasnya cepat.
            “ige mwoya?” bisiknya .. pertamakali dalam hidupnya, ia merasakan jantungnya bergetar sangat cepat, membuat pipinya terasa sangat hangat.
***
            “Noona..” Jungshin terengah-engah saat ia membuka pintu ruangan ibunya, dan melihat Noonanya sedang menyisiri rambut Yoojin.
            “o Jungshin-ah .. bukanya kamu berangkat kuliah?” Perawat itu menatapnya kaget.
            “ige..” Jungshin memperlihatkan seikat bunga padanya, Noonanya mendekati Jungshin dan mengambil bunga yang ia bawa.
            “cangkeuman, gitarisseo Jungshin-ah, aku akan membawakan vas untuk bunga-bunga ini..” Jungshin mengangguk
            “noona keundae..”
            “kendae? Wae? Jungshin?”
            “bisakan mendengarkanku sebentar saja?”
            “ada apa Jungshin-ah?” Jungshin kemudian menarik Noonanya masuk ke ruangan itu.
            “noona.. saat aku melihat gadis penjual bunga itu, tiba-tiba saja jantungku berdebar sangat cepat, dan wajahku terasa sangat panas, aku khawatir aku tidak sehat, dan mungkinkan aku sakit?” Jungshin tergesa menceritakan apa yang ia rasakan, dan ia tahan sejak kemarin.
            “m—mwo ?” Perawat itu terkejut dengan apa yang Jungshin katakan.
            “hahahhaah, mwoya ige Jungshin-ah? Neon Jinjja mollaseo?” Noonanya terbahak kencang.
            “waeyo ? waeeee ?” Jungshin malah gelagapan bingung.
            “haaaah..” ia menarik nafas panjang dan mulai berhenti tertawa, memasang wajah serius selepasnya “biar aku jelaskan.. begini, sebelum kamu melihat gadis itu, perasaanmu biasa saja, seperti Jungshin yang dingin, tidak menyukai keramaian, dan bahkan sulit sekali untuk tersenyum..”
            “ne noona..”
            “kemudian, saat kamu bertemu dengannya, tiba-tiba jantungmu berdebar cepat, sangaaat cepat, jauh dari biasa, dan setelah itu, rasanya lututmu lemas, ingin berlari dan berjingkrak-jingkrak karena pipimu mulai menghangat, lalu lenganmu turut bergetar, satu sisi ingin bertahan melihat gadis itu, disisi lain ingin berlari untuk alasan yang tidak kamu ketahui? Benar kan?”
            “oh..” Jungshin tercekat
            “benar tidak?”
            “ne.. benar sekali rasanya seperti itu noona, aku merasa ada yang salah dengan diriku..” Jungshin memegangi tangan noonanya dalam ketakutan.
            “memang ada yang salah..”    
            “aku sakit noona?”      Jungshin semakin ketakutan
            “ne, kamu sakit ..”
            “ah jinjayo noona?”    
            “jinjja..”
            “penyakit apa?”
            “itu.. dinamakan..” pupil mata Jungshin membesar, wajahnya terlihat sangat penasaran.. “sindrom ..” Sang Noona memelankan suaranya, sementara Jungshin masih sangat penasaran diiringi rasa takut.
            “jatuh cinta..” kemudian ia terbahak setelah menyelesaikan kalimatnya.
            ‘jatuh cinta..’ Jungshin mengulang dua kata itu dalam hatinya.
            “auuuh, uri Jungshin, sudah mulai belajar jatuh cinta..” Noonanya menepuk-nepuk bahu Jungshin. “sudahlah, nikmati saja hari-hari mudamu itu Jungshin, noona mau mengambil vas untuk bunga-bunga ini..” ia berlalu dari hadapan Jungshin “oh iya, cepat segera berangkat sebelum kamu terlambat masuk kelas”
            Jungshin masih mematung, tidak mengerti dengan keadaan ini, perasaan hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, ia masih geleng-geleng kepala tidak mengerti, sulit untuk mencerna suatu kenyataan, dan memahami perasaan dirinya sendiri.
***
            Hari berganti bulan, rutinitas Jungshin berubah beriringan, sejak pagi itu dimulai, Jungshin tidak pernah melewatkan seharipun untuk datang menemui Juniel dan membeli beberapa tangkai bunga dari YJ.
            Sebelum ia bertemu dengan Juniel, Jungshin tidak pernah merasakan sesuatu yang hangat masuk ke dalam dadanya, ia terkenal dengan seseorang yang sulit di ajak bicara, tidak mudah beradaptasi dan sangat sukar untuk tersenyum, dilihat sebagai seseorang yang misterius di lingkukanganya. Namun ketika Jungshin bertemu dengan Juniel, ia merasa banyak hal yang berubah, meski tak nampak di permukaan, namun hatinya kini melemah, luluh pada satu orang gadis yang sederhana dan sangat ramah.
            “mm.. panggil saja aku Hae..”
            “ye ? hae?”
            “wae? Kereomyo.. haelbalagi?”
            Percakapan di pagi itu, adalah satu tahap peningkatan setelah berbulan-bulan tak ada percakapan lebih, selain percakapan normal antaran pembeli dan penjual, tapi pagi itu, Juniel tiba-tiba sangat mungkin untuk di raih, sangat nyata sangat dekat.
            ’karena aku ingin menjadi matahari yang menghangatkan harimu Juniel, karena aku ingin menjadi matahari yang tak pernah ingkar dalam berjanji, meski sederhana, janji untuk tidak pernah terlambat terbit dari timur dan tenggelam dari barat..’  Jungshin mendekatkan wajahnya pada wajah Juniel saat Juniel sedang merapikan bouqet bunga yang ia beli. Ia bisa melihat wajah Juniel memerah, ia terlihat sangat malu, namun Jungshin sangat menikmatinya.
***

            “omma..” Jungshin menutup pintu kamar itu setelah ia masuk ke ruangan bercat serba putih, di penuhi banyak bunga yang ia beli setiap pagi. Jungshin mengamit tangan Yoojin dan mengelus pipinya lembut.
            “apakah begini rasanya jatuh cinta? Omma, aku benar-benar menyukai gadis itu, dia memberi persaan baru yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya..”
            “apa? Omma cemburu?” Jungshin tertawa kecil.
            “ani omma, she is my love .. and you .. my light ..”
           
            Noonanya mendengarkan percakapan Jungshin diam-diam, kemudian ia tersenyum geli, yang ia tau, Jungshin adalah anak laki-laki yang sulit membuka hatinya, sulit sekali untuk menjadi sahabatnya, dan sekarang ada seorang gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta, tersenyum sangat sering dan banyak bercerita pada ibunya.
            “Jungshin-ah..” Perawat itu melangkah masuk.
            “oh noona..” Jungshin berdiri kemudian menarik satu buah  kursi dan menaruhnya di samping tempat tidur Yoojin..
            “marebwa..”
            “mwo?”
            “siapa gadis itu..? ah palli !! masa kamu mau menyembunyikan hal itu padaku? Tsk tsk keterlaluan..” belum sempat menjawab, binar wajah Jungshin sudah berubah cerah, gadis itu membawa perubahan hebat di hidup Jungshin, seperti pengusir badai yang bersarang sangat lama di dasar hatinya, peredam dendam dan benci pada situasi yang menghantam hidupnya sejak lama.
            “namanya Juniel, dia cantik dalam kesederhaannya noona..”
            “lalu?”
            “dia adalah penjual bunga di YJ Florist dan..” Jungshin terhenti, memikirkan apa lagi yang ia tau tentang Juniel, namun akhirnya ia terhenti.
            “dan?”
            “hanya itu yang aku tau..”
            “mwo?” Noonanya terkejut kemudian memukul kepala Jungshin
            “paboya !! seharusnya kamu tau dimana dia tinggal, bagaimana dia hidup, dan hal-hal penting lain, misalnya teman terdekatnya, keluarganya, itu akan memudahkanmu untuk mendekatinya Jungshin-ah !!” dia geram sendiri.
            “ah Noona-ah !! apayo” Jungshin mengusap-ngusap kepalanya “kendeu, kamu benar noona, aku harus mencari tau tentangnya..”
            “caranya?” perawat itu menatap Jungshin dengan tatapan menantang.
            “ah noona!!” Jungshin berdiri dari tempatnya kesal melihat tatapan itu “nan molla !!” dan kesal pada dirinya sendiri. Perawat itu cekikikan kemudian .
            “Jungshin-ah coba tanya pada ahjumma penjual ddokbuki di sebrang toko itu, dia pasti tau..”
            “hah?” Jungshin terkejut “bagaimana kamu tau noona?”
            “aku pulang selalu lewat kesitu Jungshin-ah, dan sesekali makan ddokbuki disana, mungkin ahjumma itu bisa membantumu..”
            “ah jinjja ?”
            “mm” Noonanya mengangguk yakin.
            “arraseo.. kalau begitu aku titipkan omma padamu ya noona? Nanti aku kembali lagi..”
            “ish.. jaashik..” perawat itu menatap Jungshin gemas, dan membiarkan ia berlalu dengan tampang cengengesannya yang sangat lucu.

***
            Ahjumma itu terlihat sangat sibuk, langit sudah mulai gelap, Jungshin berjalan pelan mendekatinya yang tengah mempersiapkan ddokbuki untuk pelanggan.
            “kau mau ddokbuki anak muda? Mari duduk..” ahjumma yang melihat Jungshin berdiri sambil memperhatikan ddokbuki panas menyapanya. Jungshin kemudian duduk di kursi plastik yang di sediakan untuk pelanggan.
            “berikan aku satu porsi saja ahjumma..”
            “arraseo..” ahjumma itu menyiuk satu gelas penuh ddokbuki untuk Jungshin, Jungshin menengok dan menjelajah dengan matanya, tempat ini belum pernah ia datangi, dan ahjumma itu, begitu asing, bagaimana bisa ia bertanya langsung tentang Juniel..
            “kendae.. sunnim..” ahjumma berbicara pada Jungshin walau lenganya sibuk mengelap meja-meja pelanggan yang sudah pergi.
            “na?” Jungshin memastikan
            “ye.. aku sering melihatmu, setiap pagi kau datang pada Juniel.. kau kekasihnya?”
            “mwo—a—ni—yo ahjumma..”
            “lalu?” meski tidak yakin, akhirnya Jungshin mencoba bertanya tentang Juniel
            “ahjumma, apa kau sangat mengenal Juniel..” Ahjumma itu kemudian duduk di hadapan Jungshin setelah selesai membereskan meja pelanggan.
            “kalau sangat, tidak juga.. tapi aku tau banyak tentang Juniel.. secara garis besar, dia itu sangat kesepian.. gadis itu baru berusia 19 tahun, dia tidak memiliki orang tua, dia bilang, sejak lahir ia tidak pernah melihat orang tuanya, hanya ada nenek juga kakak laki-lakinya. Tapi .. neneknya meninggal dua tahun lalu, dan kakaknya pergi ke luar kota tiga tahun yang lalu, hingga hari ini, dia tinggal sendirian..” kaki Jungshin bergetar mendengar cerita singkat dari ahjumma bertubuh gemuk itu.
            “tapi, Juniel menyembunyikan kesulitan hidupnya lewat senyumnya, lewat sapaanya yang sangat ramah.. dan tidak akan ada orang yang mengetahui kehidupannya yang sulit..” Jungshin kehilangan kata-katanya ‘bagaimana bisa.. sedangkan aku..’ ia marah pada dirinya sendiri, ia masih memiliki orang tua walau mereka berdua sperti sudah tiada, ia tidak harus bersusah payah bekerja, karena sudah diberi uang meski ia tak meminta, sedangkan Juniel? Gadis yang masih sangat muda itu.. Jungshin kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan perasaan kalutnya pada diri sendiri.
            “ahjumma.. bisa memberikanku alamat rumahnya..” ahjumma itu tersenyum
            “sepertinya kamu.. miane jika aku lancang sunnim, tapi  kamu menyukainya bukan?”
            “eh?” Jungshin gelagapan bingung harus menjawab apa..
            “baiklah, tunggu sebentar aku akan menuliskan alamatnya untukmu..”

            Jungshin mengusap dengan jarinya, selembar kertas bertuliskan alamat rumah Juniel telah di dapatnya.
            “Juniel-ah.. aku ingin melindungimu.. aku akan berada di dekatmu.. seperti aku menjaga omma.. aku berjanji..”

***
            Sebelum matahari naik, Jungshin sudah terlepas dari belenggu mimpi dan selimut hangat di rumah mewahnya, kemudian ia mengambil sebotol susu dari lemari pendingin, menghangatkannya di oven.
            “misi pertama.. memastikan kamu meminum ini, dan menjalani hari yang indah..” Jungshin tersenyum kemudian menulis beberapa kata di kertas kecil. Ia bergegas pergi tak menghiraukan para pelayan yang mencoba bertanya kemana ia akan pergi sepagi ini.
            Dirinya sendiri tidak menyadari banyak perubahan yang terjadi padanya, walau ia tetap bersikap sangat dingin pada orang-orang yang berusaha menyapanya atau mendekatinya, ia tidak terlalu suka memiliki banyak teman, ia sangat pilih-pilih dan alhasil tak ada satupun yang mau berteman denganya. Kali ini berbeda, Jungshin tidak bisa mengelak untuk jatuh cinta pada gadis itu.
            Jungshin menarik nafas panjang ketika tubuhnya sudah berada di depan pintu rumah bercat kuning ini, Jungshin menyimpan botol susu dan surat kecilnya, lalu mengetuk pintu rumah Juniel, sebelum akhirnya mengambil langkah seribu.
            Jungshin cengengesan sendiri melihat tampang polos juga lesu Juniel saat membuka pintu, dan menemukan satu botol susu hangat di sana, setelah Juniel kembali menutup pintu, Jungshin masih menungguinya, ia ingin memastikan gadis itu benar-benar menjalani paginya dengan baik, dan setelah Juniel kembali keluar dan siap berangkat, Jungshin baru meninggalkan tempat itu.
***
            “cangkeuman !!”
            “ya ini saya ..”
            Perawat itu kebingungan, kenapa Jungshin bisa menjadi perwakilan keluarga gadis yang baru saja dihantam motor dengan luka yang sangat parah..
            “jungshin-ah !!” Jungshin berbalik
            “oh noona!!”
            “ada apa?”
            “noona, itu juniel noona..” Jungshin rubuh dan memeluk tubuh Noonanya kencang, ia tidak bisa menjelaskan perasaan takutnya, untuk kedua kali dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan, ia sangat takut kehilangan Juniel.
            “gwenccana Jungshin-ah.. gwenccana.. semua akan baik-baik saja..”
            “noona, dia tidak memiliki siapa-siapa.. noona..” Jungshin mulai meraung dalam tangis yang memecah. Sementara Noonanya terus berusaha meyakinkan Jungshin, semua akan baik-baik saja.
            “kemana aku harus mencari kakaknya.. siapa dia.. siapa namanya..”
            Noonanya hanya terus menepuk-nepuk bahu Jungshin yang masih shock dengan kejadian ini, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu.

To be continued ..