No
More Tears Formula
Chapter
3
Jungshin
– Love and Light ..
Cast plus :
Lee Jungshin
Song Yoojin - Jungshin Mother
Seoul Hospital Nurse - Jungshin Noona
Aku
pernah mati, dalam kesendirian
Tanpa
cahaya, bahkan cinta ..
Di
dera hampa dan sakit yang membara ..
Dan
di ujung jalan, ku temui apa yang tak pernah ada sebelumnya ..
Love
.. and .. Light ..
Laki-laki itu menengadah ke atas
langit, ia terjebak hujan diantara kerumunan orang-orang yang bersiap pulang,
mereka semua berteduh di bawah atap halte bis, menunggu air yang dikirim Tuhan
untuk berhenti jatuh dari langit, ada setitik harapan dari laki-laki bertubuh
tinggi itu.
‘Hujan,
mengalir bebas, datang dari laut, dan kembali ke laut dengan tenang, maka Tuhan
buatlah segala keletihan ini hilang dengan tenang bersama hujan, agar aku
selalu kuat mengikuti alur hidup yang telah kau anugrahkan..’
Lee
Jungshin mempunyai banyak harapan dalam hidupnya, namun yang selalu ia minta
adalah kekuatan, kekuatan untuk terus bertahan.
Jengah dengan orang-orang yang mulai
berdesakan di halte, Jungshin memilih memisahkan diri, ia sangat benci dengan
keramaian, ia memilih membasahi tubuhnya dengan hujan daripada harus
berdesak-desakan dengan manusia lain yang sama sekali tak ia kenal. Sambil
melangkah pelan, ia memikirkan banyak hal, ia masih harus banyak belajar,
bagaimana menikmati hidup, bagaimana cara bahagia, dan bagaimana untuk
mensyukurinya.
“ne, sunnim, lain kali datang lagi,
dan jangan lupa bawa payung..” Jungshin menghentikan langkahnya. Kemudian
intuisi itu membawa pandangannya berlabuh pada perempuan berbaju putih yang
berdiri di depan toko bunga, gadis dengan senyum mengembang dan suara yang
lembut.
Tanpa sadar, kaki Jungshin melangkah
mendekati perempuan itu, dan lengannya lembut membuka pintu bercat putih dan
dipenuhi dengan kaca bening.
“welcome sunnim, ada yang bisa saya
bantu?”
Untuk beberapa detik pertama
Jungshin tidak mengatakan apapun, bahkan
matanya hanya terpaku pada wajah cerah gadis itu.
“Juniel-ah, berikan aku seikat
krisan..” seorang pelanggan yang asyik memilih bunga memanggil nama pemilik
toko bunga ini.
“oh, baiklah Oenni, tunggu
sebentar..” gadis itu kemudian beringsut dari tempatnya cepat, mengambil
beberapa tangkai bunga krisan dan kembali ke mejanya.
***
Pagi ini, tepat lima tahun telah
berlalu, sejak ia terbiasa menjejakan kaki disini, harum yang sama yang sangat
ia benci, suasana yang sama yang tak pernah ia sukai, pelan ia melangkahkan
kaki di setiap koridor gedung besar dan tinggi ini, lima tahun sudah berlalu,
namun tak ada yang berubah sama sekali.
Lee Jungshin, menginjakan kakinya
letih di Seoul Hospital, ia sangat membenci rumah sakit, bau obat, dokter, dan
perawat. Namun satu-satunya alasan untuk ia terus menerus menginjakan kakinya
disini adalah, cahayanya.
“annyeong omma..” Jungshin membuka
pintu kamar pasien dan menyapa ibunya, yang baginya semakin hari semakin terlihat
cantik.
“omma.. apa semalam kau tidur
nyenyak?” tak ada jawab.
“mwo? Omma aku tau kau tidak
menyukai bau rumah sakit, lalu apa yang harus aku lakukan?” tetap sunyi..
Song Yoojin, menderita Amyotrophic
Lateral Sclerosis (ALS) penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tidak di
ketahui penyebabnya, hanya saja perlahan satu persatu organ tubuhnya menjadi
lupuh, lima tahun yang lalu, hanya kakinya saja yang tidak bisa di gerakan dan
lima tahun kemudian, seluruh anggota tubuhnya mati.
“mm omma.. aku akan melakukan apapun
yang kamu mau.. biar aku pikirkan bagaimana agar ruangan ini tidak terlihat dan
tidak tercium seperti rumah sakit..” Jungshin mengelus pipi Yoojin pelan dan
lembut.
“tapi, jangan menanyakan aboji
padaku.. jika omma tau, mungkin omma akan bangun dan mencabik-cabik, mencakar
bahkan membunuh perempuan yang kini sedang bercinta dengan appa..” suara
Jungshin mulai bergetar, dan jangan tanyakan apapun tentang keluarganya,
Jungshin akan berubah menjadi seseorang yang sangat dingin.
“omma, aku harus berangkat kuliah,
nanti aku kembali kesini.. jaga dirimu omma..” Jungshin meraih tas punggungnya
dan mengecup kening Yoojin, kemudian meninggalkan ruangan itu.
***
Jungshin mendapatkan segalanya yang
ia mau, karena ia adalah anak dari pengusaha batu rubi kaya raya, namun
hidupnya tak pernah lengkap, frustasi melihat ayahnya setiap malam berganti
wanita, depresi melihat ibunya kini terbaring lemah di rumah sakit karena
penyakit yang tak kunjung sembuh, tapi sebelum akhirnya sang ibu tidak mampu
berbicara sama sekali, Yoojin sudah berkata bahawa Jungshin harus melanjutkan
hidupnya dengan baik, harus membuatnya bangga dan tidak menunujukan ia lemah di
hadapan siapapun, karena itu hingga kini Jungshin masih bertahan, melanjutkan
kuliahnya.
“Jungshin-ah..”
“oh, noona .. anyeonghaseo..”
Jungshin lalu membungkuk ketika salah seorang perawat memanggilnya dari jauh.
“annyeong Jungshin-ah.. bagaimana
omma-mu?”
“seperti biasa, dia sangat baik
noona..”
“kamu mau berangkat kuliah?”
“ne.. noona, bisa menjaga ommaku kan
?”
“pasti, seperti biasa aku akan
memberikan pelayanan terbaik untuk omma-mu ..” Perawat itu, sudah satu tahun
menjadi perawat disini, karena usianya yang hampir seumuran dengan Jungshin, Jungshin
merasa nyaman dan bisa berbagi banyak hal padanya, dan hanya perawat itu satu-satunya
perawat yang bisa ia percaya untuk menemani Yoojin saat ia pergi.
“kamsahamnida noona..”
“belajar yang benar yaaaaa.. ibumu
pasti akan sangat bangga jika kamu berhasil menjadi arsitek ternama..” Perawat
itu menepuk-nepuk bahu Jungshin. Jungshin tersenyum.
“ne—noona ..”
Namun ada sesuatu yang tercekat di
tenggorokannya, sesuatu yang ingin ia tanyakan, begitu asing dan menjengahkan,
menyesakan namun begitu menyenangkan, Jungshin terus melangkah ragu, bagaimana
dan pada siapa lagi ia harus bercerita selain pada perawat yang sudah ia anggap
seperti Noonanya sendiri.
“Noona..” Jungshin kemudian
berbalik, dan perawat itu sudah bersiap dengan peralatannya di tangan.
“oh ne..” Perawat itu sedikit
berteriak, kemudia Jungshin berlari menghampirinya.
“aku rasa, omma tidak menyukai bau
rumah sakit, bagaimana caranya agar kamarnya tidak terlalu..” Jungshin
garuk-garuk kepala ..
“oh, arraseo.. mmm mungkin kamu bisa
membeli bunga yang harumnya menyengat dan lembut, mawar misalnya atau apapun
yang berbau alami dan menyengat, itu akan menghilangkan bau khas rumah sakit..”
“bunga..” kemudian Jungshin teringat
pada kejadian kemarin sore saat tau-tau tubuhnya sudah berada di dalam YJ
Florist dan hanya tertegun memandangi gadis penjual bunga.
“ye, bunga..”
Walau sebenarnya bukan hal itu yang
ingin Jungshin tanyakan, namun ia mengangguk mengiyakan pendapat noonanya.
***
Pagi itu, Jungshin kembali
menginjakan kakinya di YJ sebelum ia berangkat kuliah, dan gadis itu seperti
biasa menyapa setiap pelanggan dengan sangat ramah dan sopan.
‘bagaimana
cara tersenyum seperti itu? dan .. sepertinya ia sangat menikmati hidupnya..’
Jungshin berbisik dalam hatinya sendiri. Iri.
“sunnim annyeonhaseo..” Juniel sudah
berdiri di hadapannya dan membunguk “ada yang bisa ku bantu?” Jungshin masih
membatu, kemudian garuk-garuk kepala.
“agashi .. bisa tolong.. carikan
bunga yang bisa membuat ruangan harum..” Juniel tersenyum.
“anda bisa memanggil saya Juniel,
seonsaengnim..” Juniel kemudian berjalan melewatinya, mengambil beberapa bunga
dan menunjukannya pada Jungshin.
“ini jika di padukan seperti ini
akan cukup membuat ruangan menjadi harum, anda bisa menciumnya..” Jungshin
menurunkan badanya yang jauh lebih tinggi dari Juniel, kaku mulai mencium bau
dari bunga yang Juniel berikan.
“oh ne .. tolong bungkuskan
untuku..”
“algesamnida sunnim..” Juniel
mengambil peralatannya, cutter, pita, dan air serta peralatan yang Jungshin
tidak tau namanya. Dengan cepat dan cekatan bunga itu sudah di bungkus dalam
satu kertas.
“olmana ige?”
“7000 won sunnim..” Juniel
menyerahkan bunga itu dengan kedua tangannya, dan menatap tepat di mata
Jungshin.
Deg .. deg ..
Buru-buru
Jungshin mengeluarkan uangnya dan mengambil bunga yang sudah terbungkus rapi.
Dan berjalan cepat keluar dari toko itu.
Ia menekan dadanya dan menarik
nafasnya cepat.
“ige mwoya?” bisiknya .. pertamakali
dalam hidupnya, ia merasakan jantungnya bergetar sangat cepat, membuat pipinya
terasa sangat hangat.
***
“Noona..” Jungshin terengah-engah
saat ia membuka pintu ruangan ibunya, dan melihat Noonanya sedang menyisiri
rambut Yoojin.
“o Jungshin-ah .. bukanya kamu
berangkat kuliah?” Perawat itu menatapnya kaget.
“ige..” Jungshin memperlihatkan seikat
bunga padanya, Noonanya mendekati Jungshin dan mengambil bunga yang ia bawa.
“cangkeuman, gitarisseo Jungshin-ah,
aku akan membawakan vas untuk bunga-bunga ini..” Jungshin mengangguk
“noona keundae..”
“kendae? Wae? Jungshin?”
“bisakan mendengarkanku sebentar
saja?”
“ada apa Jungshin-ah?” Jungshin
kemudian menarik Noonanya masuk ke ruangan itu.
“noona.. saat aku melihat gadis penjual
bunga itu, tiba-tiba saja jantungku berdebar sangat cepat, dan wajahku terasa
sangat panas, aku khawatir aku tidak sehat, dan mungkinkan aku sakit?” Jungshin
tergesa menceritakan apa yang ia rasakan, dan ia tahan sejak kemarin.
“m—mwo ?” Perawat itu terkejut dengan
apa yang Jungshin katakan.
“hahahhaah, mwoya ige Jungshin-ah?
Neon Jinjja mollaseo?” Noonanya terbahak kencang.
“waeyo ? waeeee ?” Jungshin malah
gelagapan bingung.
“haaaah..” ia menarik nafas panjang dan
mulai berhenti tertawa, memasang wajah serius selepasnya “biar aku jelaskan..
begini, sebelum kamu melihat gadis itu, perasaanmu biasa saja, seperti Jungshin
yang dingin, tidak menyukai keramaian, dan bahkan sulit sekali untuk
tersenyum..”
“ne noona..”
“kemudian, saat kamu bertemu
dengannya, tiba-tiba jantungmu berdebar cepat, sangaaat cepat, jauh dari biasa,
dan setelah itu, rasanya lututmu lemas, ingin berlari dan berjingkrak-jingkrak
karena pipimu mulai menghangat, lalu lenganmu turut bergetar, satu sisi ingin
bertahan melihat gadis itu, disisi lain ingin berlari untuk alasan yang tidak
kamu ketahui? Benar kan?”
“oh..” Jungshin tercekat
“benar tidak?”
“ne.. benar sekali rasanya seperti
itu noona, aku merasa ada yang salah dengan diriku..” Jungshin memegangi tangan
noonanya dalam ketakutan.
“memang ada yang salah..”
“aku sakit noona?” Jungshin semakin ketakutan
“ne, kamu sakit ..”
“ah jinjayo noona?”
“jinjja..”
“penyakit apa?”
“itu.. dinamakan..” pupil mata
Jungshin membesar, wajahnya terlihat sangat penasaran.. “sindrom ..” Sang Noona
memelankan suaranya, sementara Jungshin masih sangat penasaran diiringi rasa
takut.
“jatuh cinta..” kemudian ia terbahak
setelah menyelesaikan kalimatnya.
‘jatuh
cinta..’ Jungshin mengulang dua kata itu dalam hatinya.
“auuuh, uri Jungshin, sudah mulai
belajar jatuh cinta..” Noonanya menepuk-nepuk bahu Jungshin. “sudahlah, nikmati
saja hari-hari mudamu itu Jungshin, noona mau mengambil vas untuk bunga-bunga
ini..” ia berlalu dari hadapan Jungshin “oh iya, cepat segera berangkat sebelum
kamu terlambat masuk kelas”
Jungshin masih mematung, tidak
mengerti dengan keadaan ini, perasaan hangat yang tidak pernah ia rasakan
sebelumnya, ia masih geleng-geleng kepala tidak mengerti, sulit untuk mencerna
suatu kenyataan, dan memahami perasaan dirinya sendiri.
***
Hari berganti bulan, rutinitas
Jungshin berubah beriringan, sejak pagi itu dimulai, Jungshin tidak pernah melewatkan
seharipun untuk datang menemui Juniel dan membeli beberapa tangkai bunga dari
YJ.
Sebelum ia bertemu dengan Juniel,
Jungshin tidak pernah merasakan sesuatu yang hangat masuk ke dalam dadanya, ia
terkenal dengan seseorang yang sulit di ajak bicara, tidak mudah beradaptasi
dan sangat sukar untuk tersenyum, dilihat sebagai seseorang yang misterius di
lingkukanganya. Namun ketika Jungshin bertemu dengan Juniel, ia merasa banyak
hal yang berubah, meski tak nampak di permukaan, namun hatinya kini melemah,
luluh pada satu orang gadis yang sederhana dan sangat ramah.
“mm.. panggil saja aku Hae..”
“ye ? hae?”
“wae? Kereomyo.. haelbalagi?”
Percakapan di pagi itu, adalah satu
tahap peningkatan setelah berbulan-bulan tak ada percakapan lebih, selain percakapan
normal antaran pembeli dan penjual, tapi pagi itu, Juniel tiba-tiba sangat
mungkin untuk di raih, sangat nyata sangat dekat.
’karena
aku ingin menjadi matahari yang menghangatkan harimu Juniel, karena aku ingin
menjadi matahari yang tak pernah ingkar dalam berjanji, meski sederhana, janji
untuk tidak pernah terlambat terbit dari timur dan tenggelam dari barat..’ Jungshin mendekatkan wajahnya pada wajah
Juniel saat Juniel sedang merapikan bouqet bunga yang ia beli. Ia bisa melihat
wajah Juniel memerah, ia terlihat sangat malu, namun Jungshin sangat
menikmatinya.
***
“omma..” Jungshin menutup pintu
kamar itu setelah ia masuk ke ruangan bercat serba putih, di penuhi banyak
bunga yang ia beli setiap pagi. Jungshin mengamit tangan Yoojin dan mengelus
pipinya lembut.
“apakah begini rasanya jatuh cinta?
Omma, aku benar-benar menyukai gadis itu, dia memberi persaan baru yang tidak
pernah ku rasakan sebelumnya..”
“apa? Omma cemburu?” Jungshin
tertawa kecil.
“ani omma, she is my love .. and you
.. my light ..”
Noonanya mendengarkan percakapan
Jungshin diam-diam, kemudian ia tersenyum geli, yang ia tau, Jungshin adalah
anak laki-laki yang sulit membuka hatinya, sulit sekali untuk menjadi
sahabatnya, dan sekarang ada seorang gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta,
tersenyum sangat sering dan banyak bercerita pada ibunya.
“Jungshin-ah..” Perawat itu
melangkah masuk.
“oh noona..” Jungshin berdiri
kemudian menarik satu buah kursi dan menaruhnya
di samping tempat tidur Yoojin..
“marebwa..”
“mwo?”
“siapa gadis itu..? ah palli !! masa
kamu mau menyembunyikan hal itu padaku? Tsk tsk keterlaluan..” belum sempat
menjawab, binar wajah Jungshin sudah berubah cerah, gadis itu membawa perubahan
hebat di hidup Jungshin, seperti pengusir badai yang bersarang sangat lama di
dasar hatinya, peredam dendam dan benci pada situasi yang menghantam hidupnya
sejak lama.
“namanya Juniel, dia cantik dalam
kesederhaannya noona..”
“lalu?”
“dia adalah penjual bunga di YJ
Florist dan..” Jungshin terhenti, memikirkan apa lagi yang ia tau tentang
Juniel, namun akhirnya ia terhenti.
“dan?”
“hanya itu yang aku tau..”
“mwo?” Noonanya terkejut kemudian
memukul kepala Jungshin
“paboya !! seharusnya kamu tau
dimana dia tinggal, bagaimana dia hidup, dan hal-hal penting lain, misalnya teman
terdekatnya, keluarganya, itu akan memudahkanmu untuk mendekatinya Jungshin-ah
!!” dia geram sendiri.
“ah Noona-ah !! apayo” Jungshin
mengusap-ngusap kepalanya “kendeu, kamu benar noona, aku harus mencari tau
tentangnya..”
“caranya?” perawat itu menatap
Jungshin dengan tatapan menantang.
“ah noona!!” Jungshin berdiri dari
tempatnya kesal melihat tatapan itu “nan molla !!” dan kesal pada dirinya
sendiri. Perawat itu cekikikan kemudian .
“Jungshin-ah coba tanya pada ahjumma
penjual ddokbuki di sebrang toko itu, dia pasti tau..”
“hah?” Jungshin terkejut “bagaimana
kamu tau noona?”
“aku pulang selalu lewat kesitu
Jungshin-ah, dan sesekali makan ddokbuki disana, mungkin ahjumma itu bisa
membantumu..”
“ah jinjja ?”
“mm” Noonanya mengangguk yakin.
“arraseo.. kalau begitu aku titipkan
omma padamu ya noona? Nanti aku kembali lagi..”
“ish.. jaashik..” perawat itu
menatap Jungshin gemas, dan membiarkan ia berlalu dengan tampang cengengesannya
yang sangat lucu.
***
Ahjumma itu terlihat sangat sibuk,
langit sudah mulai gelap, Jungshin berjalan pelan mendekatinya yang tengah
mempersiapkan ddokbuki untuk pelanggan.
“kau mau ddokbuki anak muda? Mari
duduk..” ahjumma yang melihat Jungshin berdiri sambil memperhatikan ddokbuki
panas menyapanya. Jungshin kemudian duduk di kursi plastik yang di sediakan
untuk pelanggan.
“berikan aku satu porsi saja
ahjumma..”
“arraseo..” ahjumma itu menyiuk satu
gelas penuh ddokbuki untuk Jungshin, Jungshin menengok dan menjelajah dengan
matanya, tempat ini belum pernah ia datangi, dan ahjumma itu, begitu asing,
bagaimana bisa ia bertanya langsung tentang Juniel..
“kendae.. sunnim..” ahjumma
berbicara pada Jungshin walau lenganya sibuk mengelap meja-meja pelanggan yang
sudah pergi.
“na?” Jungshin memastikan
“ye.. aku sering melihatmu, setiap
pagi kau datang pada Juniel.. kau kekasihnya?”
“mwo—a—ni—yo ahjumma..”
“lalu?” meski tidak yakin, akhirnya
Jungshin mencoba bertanya tentang Juniel
“ahjumma, apa kau sangat mengenal
Juniel..” Ahjumma itu kemudian duduk di hadapan Jungshin setelah selesai
membereskan meja pelanggan.
“kalau sangat, tidak juga.. tapi aku
tau banyak tentang Juniel.. secara garis besar, dia itu sangat kesepian.. gadis
itu baru berusia 19 tahun, dia tidak memiliki orang tua, dia bilang, sejak
lahir ia tidak pernah melihat orang tuanya, hanya ada nenek juga kakak
laki-lakinya. Tapi .. neneknya meninggal dua tahun lalu, dan kakaknya pergi ke
luar kota tiga tahun yang lalu, hingga hari ini, dia tinggal sendirian..” kaki
Jungshin bergetar mendengar cerita singkat dari ahjumma bertubuh gemuk itu.
“tapi, Juniel menyembunyikan
kesulitan hidupnya lewat senyumnya, lewat sapaanya yang sangat ramah.. dan
tidak akan ada orang yang mengetahui kehidupannya yang sulit..” Jungshin
kehilangan kata-katanya ‘bagaimana bisa..
sedangkan aku..’ ia marah pada dirinya sendiri, ia masih memiliki orang tua
walau mereka berdua sperti sudah tiada, ia tidak harus bersusah payah bekerja,
karena sudah diberi uang meski ia tak meminta, sedangkan Juniel? Gadis yang
masih sangat muda itu.. Jungshin kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan
perasaan kalutnya pada diri sendiri.
“ahjumma.. bisa memberikanku alamat
rumahnya..” ahjumma itu tersenyum
“sepertinya kamu.. miane jika aku
lancang sunnim, tapi kamu menyukainya
bukan?”
“eh?” Jungshin gelagapan bingung
harus menjawab apa..
“baiklah, tunggu sebentar aku akan
menuliskan alamatnya untukmu..”
Jungshin mengusap dengan jarinya,
selembar kertas bertuliskan alamat rumah Juniel telah di dapatnya.
“Juniel-ah.. aku ingin
melindungimu.. aku akan berada di dekatmu.. seperti aku menjaga omma.. aku
berjanji..”
***
Sebelum matahari naik, Jungshin
sudah terlepas dari belenggu mimpi dan selimut hangat di rumah mewahnya,
kemudian ia mengambil sebotol susu dari lemari pendingin, menghangatkannya di
oven.
“misi pertama.. memastikan kamu
meminum ini, dan menjalani hari yang indah..” Jungshin tersenyum kemudian
menulis beberapa kata di kertas kecil. Ia bergegas pergi tak menghiraukan para
pelayan yang mencoba bertanya kemana ia akan pergi sepagi ini.
Dirinya sendiri tidak menyadari
banyak perubahan yang terjadi padanya, walau ia tetap bersikap sangat dingin
pada orang-orang yang berusaha menyapanya atau mendekatinya, ia tidak terlalu
suka memiliki banyak teman, ia sangat pilih-pilih dan alhasil tak ada satupun
yang mau berteman denganya. Kali ini berbeda, Jungshin tidak bisa mengelak
untuk jatuh cinta pada gadis itu.
Jungshin menarik nafas panjang
ketika tubuhnya sudah berada di depan pintu rumah bercat kuning ini, Jungshin
menyimpan botol susu dan surat kecilnya, lalu mengetuk pintu rumah Juniel,
sebelum akhirnya mengambil langkah seribu.
Jungshin cengengesan sendiri melihat
tampang polos juga lesu Juniel saat membuka pintu, dan menemukan satu botol
susu hangat di sana, setelah Juniel kembali menutup pintu, Jungshin masih
menungguinya, ia ingin memastikan gadis itu benar-benar menjalani paginya
dengan baik, dan setelah Juniel kembali keluar dan siap berangkat, Jungshin
baru meninggalkan tempat itu.
***
“cangkeuman !!”
“ya ini saya ..”
Perawat itu kebingungan, kenapa
Jungshin bisa menjadi perwakilan keluarga gadis yang baru saja dihantam motor
dengan luka yang sangat parah..
“jungshin-ah !!” Jungshin berbalik
“oh noona!!”
“ada apa?”
“noona, itu juniel noona..” Jungshin
rubuh dan memeluk tubuh Noonanya kencang, ia tidak bisa menjelaskan perasaan
takutnya, untuk kedua kali dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan, ia sangat
takut kehilangan Juniel.
“gwenccana Jungshin-ah.. gwenccana..
semua akan baik-baik saja..”
“noona, dia tidak memiliki
siapa-siapa.. noona..” Jungshin mulai meraung dalam tangis yang memecah. Sementara
Noonanya terus berusaha meyakinkan Jungshin, semua akan baik-baik saja.
“kemana aku harus mencari kakaknya..
siapa dia.. siapa namanya..”
Noonanya hanya terus menepuk-nepuk
bahu Jungshin yang masih shock dengan kejadian ini, dan tidak ada yang bisa ia
lakukan selain itu.
To
be continued ..
Mimi..Chuaaaa.. Demen d bacanya setiap chapter punya cerita dari sudut pandang msg" cast!! ;) Jdnya kita bs ngerasain smua perasaan mrk satu per satu. Good job, Mi!! Aku ga sabar nunggu lanjutannya.. Ayo kebuttt!! "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ Eniwei, sepetinya YH itu kakaknya Juniel ya?? Hihihi.. Nunggu crt YH n JH nih, ada kan ada kan mrk?? ;p
BalasHapus