Senin, 27 Agustus 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 2


No More Tears Formula
Chapter 2
Juniel – Am I Loner?


Cast  Plus :
Choi Jun Hee - Juniel 
Hae - Mr.rius boy



            Rambutnya yang bergelombang terbang bebas di sapu angin, ia menatap matahari pagi dengan binar di kedua matanya, baginya hal yang paling indah adalah matahari, karena matahari mengiringi dan menemaninya dari ia bangun hingga ia siap terlelap.

            Jung Jun hee yang lebih akrab disapa Juniel menghabiskan setiap harinya di YJ Florist, toko bunga kecil yang dibangun oleh kakanya untuknya, hidup sederhana sebagai gadis yang hanya memiliki seorang kakak laki-laki dan bahkan belakangan kakanya sudah tidak lagi pulang ke rumah.

            Jika memikirkan hal itu, ia pasti sudah menjadi sangat terpuruk, namun baginya banyak alasan untuk terus menjalani hidup, kendati ia sendiri, kendati tak ada yang menghiburnya dikala ia lelah, namun dalam kesendirian itu, Juniel tak pernah kesepian, walau kadang ia sangat merindukan kakaknya juga neneknya.

            Dan treng, suara lonceng di tokonya berbunyi saat Juniel masih larut dalam lamunanya serta menikmati terik matahari di tengah keramaian kota Seoul.. ribuan warga yang bersiap melangkahkan kakinya menuju aktifitas ..

            “welcome sonnim ..” Juniel membungkukan tubuhnya, laki-laki bertubuh tinggi itu menjadi pelanggan pertama Juniel pagi ini, laki-laki itu nyaris setiap pagi mengunjungi YJ Florist dan membeli macam-macam jenis bunga yang berbeda setiap harinya..

            “wah, anda lagi.. bagaimana kabar anda seonsaengmin..?” biarpun laki-laki itu cukup sering dan sudah sangat lama menjadi pelanggannya, namun Juniel tidak pernah sekalipun bahkan berani menanyakan namanya, berbeda dengan pelanggan-pelanggan lain yang lebih dari tiga kali datang ke tokonya ia pasti hafal dan tau siapa nama pelanggan itu,tapi kali ini Juniel tidak punya cukup keberanian untuk menanyakan namanya.

            “aku baik.. Juniel-shi ..” Laki-laki itu mengambil beberapa tangkai bunga lili berbeda warna dan menatap Juniel.

            “ne, seonsaengmin..” Juniel segera menghampirinya. “mau dibungkuskan atau dijadikan bouqet?” Juniel melihat tangannya yang terisi penuh oleh tangkai-tangkai bunga lili.

            “aniyo.. bukan ini maksudku .. anda menyukai bunga apa Juniel-shi?”

            “eh? N—na ?” Juniel menunjuki dirinya sendiri

            “ye, of course you..”

            “oh.. um .. choneun..” kemudian Juniel mengamit satu tangkai bunga yang menjadi favoritnya sejak lama. “ige.. aku sangat menyukai bunga matahari..”

            “oooh.. kereo.. seleramu unik sekali Juniel-shi..”

            “oh.. kamsahamnida ..” Juniel tersipu

            “oke, tolong jadikan bouqet, bunga lili ini, ditambah satu bunga matahari itu..”

            “ne .. ailgesamnida seonsaengnim..” Juniel mengambil bunga-bunga yang sudah dipilih langsung oleh laki-laki itu. beranjak dari sisi lelaki itu dan berjalan menuju mejanya. “kendae.. chogiyo..” Juniel berbalik dan berbicara sangat pelan pada laki-laki yang mematung di tempatnya.

            “ne?”

            “bolehkan aku bertanya siapa namanu seonsaengmin..?” laki-laki itu tersnyum lembut, kemudian ia terlihat berfikir keras, seperti tidak menemukan namanya sendiri.

            “na ? panggil saja aku .. mm .. hae (matahari)”

            “ye?” Juniel kebingungan “Hae?”

            “wae? Kereomyo, haebalagi (bunga matahari) ..?” Juniel menahan tawanya kemudian, laki-laki ini sangat aneh, dibalik wajahnya yang sangat tampan dan dingin, ternyata tersembunyi pribadi yang hangat juga humoris..

            “ani ani.. oke, aku bisa memanggilmu hae-shi kalau begitu..”

            “okay.. its not bad .. jadi lain kali tidak usah memanggilku sunnim atau seongsaengmin..” kemudian mereka tertawa bersama..

            ‘Hae-shi.. panggil saja aku seperti itu ..’ batin Hae bergemuruh sendiri.

Juniel kemudian mengemas cepat dan telaten bunga-gunga itu, membersihkan tangkai-tangkainya dan menjadikannya satu buah bouqet indah ..

            “nah.. ini dia .. Hae-shi..” Juniel memberikan bouqet itu pada Hae “wah.. kekasih anda pasti sangat bahagia ya, setiap pagi anda memberikan bunga-bunga yang berbeda padanya..” Juniel tersenyum cerah.. Hae menatap wajah Juniel yang ceria dengan binar yang lain, ada yang menarik pada gadis itu, sederhana namun sangat unik dan tentu saja, cantik.

            Hae mengambil bouqet itu, dan melakukan pembayaran pada Juniel,

“kamsahamnida Hae-shi..”

“besok jika aku membeli bunga lagi, apakah kamu akan memberikanku diskon?”

“ne?” mata Juniel membuka lebar melihat wajah Hae tau-tau sejajar dengan wajahnya
Hae menahan tawanya melihat wajah Juniel yang gelagapan malu dan kaget itu, pipinya yang bulat itu memerah, tak lama Juniel tersenyum dan membuat Hae menjauhkan wajahnya, senyuman khasnya itu, menjadi salah satu alasan Hae untuk tidak berpindah-pindah tempat untuk mencari bunga.. YJ Florist .. hanya toko kecil namun pemiliknya ini, dia mampu menghipnotis siapa saja untuk menjadi pelanggan tetapnya. Wajahnya yang ceria dan sopan santunya kepada pelanggan membuat hampir semua orang setuju, pelayanan terbaik hanya ada di YJ Florist.

            “kamsahamnida Juniel-shi, bouqetnya indah sekali .. dan jangan bosan ya melihatku setiap pagi mendatangimu .. lain kali mungkin aku akan lebih sering datang kemari ..”

            “oh aniyo..” Juniel mengibas-ngibas tangannya “aku sangat bahagia jika Hae-shi terus menjadi pelangganku..”

            “baiklah.. kalau begitu, aku permisi dulu.. ada yang menungguku..” Hae kemudian membungkuk dan berlalu dari toko itu.. Juniel membalasnya dan memandangi punggung Hae hingga ia berlalu dari pandangannya.

            Bagi Juniel, pelanggan adalah alasannya untuk bertahan hidup dalam kesendirianya.. Juniel tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, selain kakanya, toko ini, dan para pelanggan yang membuat harinya cemerlang..

            “gomawo Hae-shi.. sudah membuatuku tertawa bahagia seperti ini..”


***


            Hae melangkahkan kakinya pelan, menahan hatinya yang berdebar kencang, mengenal gadis itu sedekat ini, tidak pernah terbesit dalam pikirannya, bahkan tidak pernah terbayang dalam imajinasinya, sejak awal Hae memang memiliki rasa ketertarikan pada gadis muda itu, karena dalam keadaan apapun Juniel selalu memberikan senyuman terbaiknya,  hingga dirinya sendiri tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum setelah keluar dari toko itu, Juniel memberikannya semangat baru setiap pagi, semangat yang membuatnya yakin jika dirinya bisa menjalani hidupnya, Juniel kini seolah sinar matahari menyelusup diam-diam ke dalam dadanya,begitu hangat dan menetramkan, indah membungkus satu bouqet  memori senyumnya yang tak terkikis dan malah mengkristal abadi dalam tawa serta canda mereka pagi ini..

            “Omoni, jika suatu hari aku membawanya kepadamu .. apakah kamu akan menyukainya? Ah .. jangan ditanya .. kamu akan sangat menyukai dia .. aku pun begitu.. neomu jhowaseo ..”  Hae—menarik nafasnya pelan, di setiap hembusan nafasnya kini ada kebahagiaan yang berlayar memencar dan membuncah dalam dadanya kencang, selebihnya ia mengekspresikan hal itu dengan berlari kencang dan senyuman yang tak habis dari bibirnya.


***

            Di waktu senggang saat pelanggan mulai menyepi, sore hari Juniel selalu menghabiskan waktunya dengan memetik gitar, sambil memandangi matahari yang nyaris padam digantikan bulan, dan Juniel terkadang berbicara pada Tuhan, bertanya mengapa ia bersikap tidak adil pada Juniel, pertanyaannya tetap sama, pernyataannya yang itu-itu saja. satu kalipun Juniel tidak pernah di pertemukan dengan orang tuanya, saat ia mulai membuka matanya ke dunia dan mengenali siapakah orang-orang yang hidup disekelilingnya, yang ia lihat  hanyalah nenek juga kakak laki-lakinya.

            “bahkan matahari tenggelam pun akan digantikan fajar ya Tuhan, lalu bagaimana dengan sisa-sisa kebahagiaanku yang telah hilang dan berlalu? Apakah kau akan menggantikannya?” YJ Florist memiliki sisi toko yang simetris, sehingga pagi Juniel bisa melihat matahari naik di dalam toko di kerumunan jalan, dan sore hari ia bisa melihat matahari tenggelam di halaman kecil belakang YJ diantara genting-genting perumahan warga di kota Seoul.

            “Helmoni.. bogoshippo..” airmata Juniel menetes tanpa disadarinya, setelah kepergian neneknya yang menua dalam penyakit, Juniel merasa begitu kesepian. Walau jelas Juniel mampu melewati hari-harinya sendirian. Saat matahari benar-benar tenggelam, Juniel menghentikan jentikan jemarinya pada gitar, kemudian bersiap untuk menutup harinya di JY, kembali ke rumah, dan pulang ..

            Namun sebelum itu, Juniel masih memiliki satu ritual lain, setiap malam menjelang, ia menunggu suara motor yang sangat berisik, dan memekakan telinga, memecah kesunyian malam dan berlarian bebas di tengah kota Seoul yang mulai sepi dari kerumunan, motor itu selalu diiringi mobil sedan mini berwarna pink metalik yang juga melaju sangat cepat, Juniel tidak tau siapa orang-orang itu, namun menononton dua kendaraan itu berputar-putar dan saling berkejaran di depan tokonya cukup menjadi hiburan untuknya, terkadang laki-laki yang mengendarai motor itu duduk-duduk sambil memakan ddokbuki di lapak kecil seberang YJ, kemudian perempuan yang mengendarai mobil akan turut duduk-duduk di tempat itu walau terlihat enggan, dan namja itu akan meneriaki si yeoja yang melingkarkan lenganya di lengan namja itu, mereka nampak sangat lucu, seperti kutub magnet yang sejenis, semakin di dekatkan malah semakin menjauh, namun mereka berdua seperti menikmatinya, dari saling berkejaran seperti kucing dan tikus, hingga saling berteriak seperti di drama-drama korea yang berakhir romantis, seburuk apapun perkataan sang namja, si yeoja tidak pernah marah atau lelah bahkan menyerah untuk mengikuti kemanapun namja itu pergi, mereka terlihat seperti menikmati hidupnya, bebas dan tidak pernah mereasa kesepian.. sepertinya begitu.

Tak lama dari jauh  mulai terdengar gerungan suara knalpot motor juga decitan rem yang membuat telinga sakit, Juniel berlari kecil menuju pintu depan tokonya, dan suara motor yang gemuruh itu datang dengan cepat, seperti biasanya tak lama setelah itu mobil sedan berwarna pink pun datang. Beberapa kali terlihat pengendara motor berkeliling di jalan ini, mencoba terus menghindari pengendara sedan, namun kemudian pengendara motor menghentikan laju motornya dan memutuskan untuk menikmati ddokbuki hangat di lapak sederhana di depan toko Juniel.

            “Oppa !!” dan perempuan itu menghentikan mobilnya, buru-buru menghampiri laki-laki itu.

            “ya !! sudah ku bilang kau setan jangan mengikutiku !!”
Juniel cekikian sendiri, saat namja itu melepaskan helmnya kemudian duduk di kursi kecil memesan dan  memakan ddokbuki hangat. Gadis berambut panjang dan sangat cantik itu terlihat risih dan enggan, sepertinya dia anak orang kaya yang tidak biasa makan makanan jalan. Gadis cantik itu duduk di samping laki-laki pengendara motor, namun tubuhnya menghadap ke jalanan, persis ke depan toko milik Juniel, menyadari hal itu, buru-buru Juniel mengambil lap dan pura-pura membersihkan meja di depan tokonya

            “Oppa.. disana ada toko bunga, belikan aku satu.. Oppa ..”

            “ish.. shirreo !!”
Kembali Juniel menahan tawanya, sambil sesekali melirik ke sebrang jalan, jalanan mala mini cukup sepi sehingga ia bisa mendengar suara cempreng dan suara kencang dua orang itu.

            “Oppa.. jebbal jebbal..” lalu lelaki itu membalikan badannya memastikan apakah yang dikatakan gadis itu benar, kemudian mata lelaki itu berhenti dan menangkap wajah Juniel yang bersinar di bawah lampu neon.

Juniel mematung di tempatnya berdiri,  tangannya yang tadi sibuk mengelap meja, kini berhenti, saat ini matanya dan mata laki-laki itu bertemu.

            “k—k—ajja Jiyeon-ah..”

            “Jinjja Minhyuk Oppa?”

            ‘Minhyuk.. Jiyeon..’ Juniel merekam nama mereka baik-baik dalam hatinya, dua orang yang selalu bertengkar setiap kali lewat di depan tokonya, dua orang yang menjadi salah satu ritual penting penghidup dering keramaian dalam hidupnya.. Minhyuk .. dan Jiyeon.. namun yang membuat Juniel mematung adalah, tatapan mata Minhyuk, Minhyuk tidak melepaskan pandangan itu sama sekali bahkan ketika ia berjalan menyebrang jalan, Minhyuk tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Juniel tidak menghiraukan lagi Jiyeon sedang memegangi tangannya erat, Minhyuk hanya terus menatap gadis yang berdiri di bawah cahaya lampu neon.

            “annyeonghaseo sunnim..” Juniel membungkukan badannya setelah dua orang itu berada tepat di hadapannya.. ‘cangkeman.. ige mwoya..’ Juniel menekan dadanya,merasakan sesuatu membuat jantungnya bergetar hebat, kemudian Juniel menyadari laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini, sangat .. tampan ..

            “oh annyeonghaseo agashi..” jawab Jiyeon yang masih menggelayut manja di lengan Minhyuk  “toko ini milikmu? Belum tutup kan ?”

            “ne, ini miliku, ada yang bisa saya bantu sunnim?”

            “Oppa, kajja.. ayo masuk dan pilihkan bunga unutku..” Jiyeon menarik lengan Minhyuk, Juniel menundukan kepalanya, ia tidak bisa melawan tatapan tajam mata Minhyuk yang tiba-tiba membuat jantungnya berdebar kencang sementara Minhyuk malah terus menatapnya hingga tatapan itu lepas saat Jiyeon memaksanya masuk, dan Juniel berdiri di belakang mereka.

            Jiyeon menebar pandangannya ke seisi toko.

            “wah.. toko ini kecil tapi sangat lengkap..” Jiyeon terkagum-kagum melihat interior dan isi dari toko bunga ini, sangat feminine dan lembut. Membuatnya ingin duduk berlama-lama belum lagi ia akhirnya bisa menarik Minhyuk setelah seharian penuh mengejarnya kesana-kemari.

            “agashi, siapa namamu?” tanya Jiyeon

            “choneun, Jung Jun Hee, tapi panggil saja aku Juniel..”

            “oh, kereesseo.. mungkin aku akan sering datang kemari Juniel.. oh.. yeppo..” Jiyeon mengambil satu tangkai mawar berwarna putih “Oppa otteo? Ige yeppo? Yeppo ?” Minhyuk tak menanggapi Jiyeon, ia malah melirik-lirik Juniel yang berdiri di sisinya.

            “Juniel-ah. Berikan aku sepuluh tangkai dan jadikan dalam satu bouqet..”

            “aigesamnida sunnim..”

            “no—no .. panggil aku Jiyeon..”

            “oh, aigesamnida Jiyeon-shi..” Juniel mengambil bunga mawar putih sesuai yang diinginkan Jiyeon, kemudian mulai membersihkannya.

            “chogiyo..” Minhyuk bersuara rendah “tidak usah buru-buru, tanganmu bisa terluka terkena durinya..” Minhyuk terlihat khawatir saat melihat Juniel membersihkan tangkai mawar yang penuh duri dengan cepat dan cekatan.

            “ah Oppa.. dia itu pasti sudah biasa.. benar kan Juniel?”

            “ne, sunnim, aku sudah sangat terbiasa dengan ini semua..” Juniel kembali memusatkan perhatiannya pada bunga yang ia pegang setelah ia menatap wajah Minhyuk sekejap.

            Mendengar hal itu, Minhyuk tercekat kemudian membuyarkan pandangannya ke seisi ruangan dan mendarat pada satu persatu spot di YJ Florist, saat malam tiba, kotak-kotak dan pot berisi bunga dihiasi lampu halogen berwarna warni yang membuat suasana menjadi hangat, Juniel sepertinya mampu mendekorasi dengan baik, semua pelanggannya selalu terkesima setiap masuk ke YJ  selain karena Juniel yang sangat cantik serta ramah juga karena suasananya yang hangat, sangat hangat.

            “ca.. sudah selesai Jiyeon-shi..” Juniel mengulurkan tanganya yang berisi bouqet dan memberikannya pada Jiyeon yang sedari tadi menatap Juniel kagum.

            “waaah.. Juniel-ah .. gomawo..” Jiyeon mengambilnya dengan kedua tangannya, kemudian merogok tasnya dan memberikan uang untuk Juniel. Jiyeon melangkah menuju Minhyuk yang berjalan-jalan memutari toko.

            “Oppa.. otteo?” Minhyuk menatap Jiyeon malas.

            “m.. bunga itu cantik sekali.. seperti tempat ini..” Minhyuk menggencarkan pandangannya kembali ke sekeliling toko.

            “lalu aku? Aku juga cantik bukan?”

            “ish.. aniyo.. jinjja aniyo..” Juniel tertawa di tempatnya..

            “aniyo Jiyeon-shi.. kamu bahkan lebih cantik dari bunga itu..” Juniel memotong pembicaraan Minhyuk dan Juniel..

            “waaaa, Juniel-shi.. gomawooo..” Jiyeon yang gemas akhirnya mencubit pipi Juniel.. Juniel hanya tersenyum kecil.. setelah itu mereka berdua meninggalkan YJ dengan menggunakan kendaraan masing-masing setelah berselisih panjang lebar di depan YJ ..

            Juniel, menempatkan wajahnya di atas meja beralaskan telapak tangannya, ia mengusap embun yang menguap dari pot bunga matahari yang ia taruh di meja itu. Jemarinya bermain usil seolah menari dengan bintik-bintik air yang sangat dingin dan indah, ia lalu tersenyum-senyum sendiri. 

            “hari ini sangat luar biasa.. terimakasih Tuhan..” bisik Juniel dalam senyumnya. Setelah puas memandangi bunga matahari yang ia tanam, Juniel mematikan satu demi satu lampu halogen dan lampu ruangan, mengunci rapat toko itu, dan bersiap pulang.


***

            Gadis itu menggeliat bebas dan mengikat rambutnya sebelum matahari terbit, rumah sederhana yang hanya berisi dua kamar itu sangat sepi, namun rutinitas Juniel dan kemandiriannya membuat ia terbiasa menjalani kehidupan yang seperti ini. Juniel memaksa tubuhnya bangkit dan beranjak ke dapur, membuka isi lemari es dan meminum satu gelas penuh air putih.

            Tok tok ..

            Pintu rumahnya tiba-tiba di ketuk, Juniel memandangi pintu dengan perasaan aneh ‘ini sejak tiga tahun rasanya tidak ada yang pernah mengetuk pintu rumah ku di pagi-pagi buta seperti ini..’ Juniel menggosok matanya, menaruh gelas dan kemudian melangkah menuju pintu pelan. Saat ia membuka pintu, tak ada satupun yang berdiri disana. Juniel melihat ke sekelilingnya, benar-benar tidak ada satupun yang tersedia, hingga matanya menangkap satu botol susu di tersimpan rapi di depan pintunya.  Juniel mengambilnya.

            Matahari akan segera terbit ..
            Jangan sampai kau terlambat, minum susu sebelum berangkat
            Dan pastikan kondisimu baik-baik saja ..

Satu catatan kecil berwarna kuning tertempel disana, Juniel masih benar-benar bingung dan tidak mengerti, kemudian ia menyimpan susu itu di dalam lemari es, membiarkannya tanpa meminumnya. Cepat ia menuju kamar mandi dan bersiap menanatang hari.

***

            Hae tersenyum saat melihat wajah polos itu keluar dari dalam rumah dan tercengang-cengang membaca catatan kecil yang sengaja ia selipkan, entah apa yang ada dalam pikirannya, sejak perkenalan mereka kemarin, Hae banyak bertanya pada Ahjumma penjual ddokbuki di seberang jalan tentang Juniel, dan akhirnya ia mengetahui bahwa Juniel hidup sendirian disini, karena sejak kecil ia tidak memiliki orang tua, hanya nenek dan kakak laki-laki, neneknya meninggal dua tahun lalu, dan kakak laki-lakinya bekerja di luar kota bahkan jarang sekali kembali ke Seoul, itu membuat Hae ingin melindungi Juniel, satu hal yang semakin hari semakin Hae sadari, ia menyayangi Juniel sejak pertama kali Hae bertemu dengan Juniel.

            Hae terkejut saat Juniel sudah membuka pintu dan membawa satu keranjang besar berisi bunga, buru-buru ia kembali bersembunyi di balik pintu gerbang rumah orang lain yang tidak dikunci. Senyum Hae terbit melihat wajah Juniel yang segar dan tetap ceria seperti biasa, perempuan yang sepertinya tak memiliki beban sama sekali.

            “Have a nice day Juniel, nanti aku menyusulmu, sekarang aku harus menemui ibuku..” Hae kemudian berlalu dari tempat itu setelah memastikan Juniel menjalani pagi yang baik dan sempurna.


***

            Juniel membalikan badannya merasakan seseorang mengikutinya, namun ternyata tidak ada siapapun disana. Ia kemudian mengambil sepedanya dan mengendarainya menuju YJ ..

            Pagi itu, seperti biasa, Juniel menunggu kedatangan sunnim tampan bertubuh tinggi, yang menyebut dirinya sebagai Hae, yang memiliki sifat yang ternyata sangat humoris dan mampu mengundang tawanya. Sambil menatap matahari yang mulai naik dan meminum satu cangkir teh hangat Juniel juga mengingat apa yang tadi malam terjadi, Juniel selalu bertanya pada dirinya, apakah aku ini sendirian? Tapi sejak kemarin Juniel merasa banyak hal baru yang justru membuatnya yakin Tuhan bahkan tidak pernah membiarkannya sendirian. dan siapapun kini yang datang ke tokonya, dan itu mampu membuat hatinya terasa hangat penuh oleh ketentraman dan rasa nyaman serta kasih sayang.

            Treng ..

            Bell itu berbunyi lagi. Juniel membalikan badannya.

            “oh.. Ahjumma..” sedikit kecewa yang datang bukan Hae, Juniel bangkit pelan dari duduknya, itu adalah ahjumma penjual ddokbuki di depan tokonya.

            “Juniel-ah.. hari ini aku tidak bisa menjaga lapaku.. anaku sakit..”

            “ne.. ne.. lalu?” Juniel membalasnya dengan suara halus sambil memegangi tangan ahjumma yang gemetar dan sudah mulai menua.

            “aku bisa minta tolong, jika ada laki-laki yang sudah tua mencariku, berikan surat ini.. “ ahjumma memberikan satu amplop putih pada Juniel..

            “algesamnida ahjumma.. cepatlah kembali ke rumahmu dan segera bawa anakmu ke dokter..”

            “ye .. gomawo Juniel-ah.. jinjja gomawo..” Juniel mengagguk namun ahjuma beringsut memeluk Juniel..

            “Juniel-ah .. kamu sudah banyak mengalami kesulitan di hidupmu.. jaga dirimu baik-baik nak.. di masa depan akan banyak masa-masa sulit, aku tidak ingin hingga tua kau bernasib sepertiku..” meski kaget dengan perkataan yang di lontarkan ahjumma, Juniel berusaha membuat dirinya juga ahjumma itu tenang ‘mungkin dia terpukul dengan kematian suaminya.. atau mungkin dia terluka melihat anaknya sakit..’ pikir Juniel

            “arraseo ahjumma.. aku akan menjaga diriku baik-baik.. cepatlah pulang anakmu pasti menunggu..” Ahjuma melepaskan pelukannya, menyeka airmatanya yang rembes, menatap kedua bola mata Juniel, dan membungkuk ..

            “gomawo Juniel-ah.. gomawo..” lalu Juniel memapah ahjumma hingga naik bus menuju rumahnya.

Waktu berlalu dengan cepat, dua jam Juniel menunggu Hae, pelanggan datang silih berganti, sayangnya orang yang ia tunggu tak datang juga, dan Juniel mulai melupakan keingiannya bertemu Hae.. dan terus menenggelamkan diri dalam kesibukan dan melayani para pelanggan yang datang.

            ‘kenapa aku kecewa saat tidak menemukan Hae dipagi hari.. ah sudahlah.. tak ada yang perlu difikirkan lagi..’ batinya..

            “Oh, bwa !! ada kakek-kakek duduk-duduk di toko ddokbuki.. bukankah itu sedang tutup Juniel-ah?” Juniel mengalihkan pandangannya dan menemukan sosok laki-laki tua sedang duduk di lapak milik ahjumma. ‘sepertinya itu kakek yang ahjumma maksud..’

            “Oennideul, tunggu sebentar ya, aku ada keperluan pada haraboji itu..” Juniel melepaskan apronnya dan berlari menuju kakek itu. dan para pelanggan hanya mengangguk sambil terus memilih-milih bunga-bunga yang berjejer di toko kecil milik Juniel.


            “Annyeonghaseo haraboji..” laki-laki yang sudah tua itu menatap wajah Juniel asing

            “oh ne.. agashi..”

            “haraboji, apa anda mencari ahjumma?”

“ye .. kemana penjual ddokbuki ini?”

“ahjumma tidak datang hari ini, dia bilang anaknya sakit dan dia menitipkan surat ini padaku.. ini untukmu..” kakek tua itu menatap wajah Juniel menelaahnya dengan seksama, mata tua yang terlihat sudah lelah itu tidak melewatkan sebaris garis pun dari wajah Juniel bahkan tidak menghiraukan apa yang dikatakannya.

            “haraboji..” Juniel mengulurkan surat itu padanya.

            “agashi.. hati-hati..” katanya.. “ahjumma bahkan sudah memperingatkanmu bukan?” lanjutnya lagi..

            “n—nne ?” Juniel terlihat kebingungan “mwoya ige..” kemudian ia berbisik pada dirinya sendiri.. “haraboji, tolong ambil surat ini..” kakek itu kemudian mengambilnya, lalu menepuk bahu juniel..

            “gomawo.. hati-hati sekali lagi ku peringatkan padamu Juniel-shi..”

            “ee—eh ?” haraboji itu berlalu dan membiarkan Juniel mematung di tempatnya.

            “aish.. isange !!” ia garuk-garuk kepala, untuk beberapa menit diam di tempatnya, kemudian ia sadar banyak pelanggan yang sudah menungguinya.

            Juniel berlari menyebrang jalan, karena terburu-buru juniel tersandung tali sepatunya yang terlepas,  ia pun jatuh.

            “aish, Juniel pabo..” kemudian ia menalikan sepatunya lagi, dan ia berjalan santai.

            “Juniel-ah !! awas !! Juniel-ah !!” Juniel menatap para pelanggan yang mencoba berteriak padanya, saat Juniel melihat ke sisi kiri satu motor yang sangat ia kenal mendekat dengan kecepatan tinggi, dan ……….

 tak ada yang bisa ia lihat .. selain ………

 kakak laki-lakinya.

***

           Hae, laki-laki itu berjalan santai menuju YJ Florist, namun ada suara sirine polisi dan ambulance yang membuat jalanan padat, ia melihat YJ menjadi sangat sepi dan semua orang tumpah ke jalanan, ia mendengar suara perempuan menangis kemudian ia berlari ke arah kerumunan itu.

            “aaaaaaaaaaaaaaa !! Oppa !! Oppa !!” Jiyeon berlari dan segera memeluk tubuh Minhyuk yang bersimbah darah, orang-orang disana nampak kaget  dan berhamburan ke tengah jalan..

            “permisi.. permisi..” Hae menerobos masuk diantara orang-orang yang berkerumun padat, betapa kaget nya ia saat melihat satu tubuh perempuan bersimbah darah dan sedang di angkat ke ambulance, Hae berlari dan mendekati ambulance ..

            “Juniel-ah.. Juniel-ah !!”

            “maaf tuan anda tidak bisa mendekat” dua orang polisi menahan tubuh Hae.

            “aku keluarganya.. lepaskan aku..” kedua polisi itu saling berpandangan hingga akhirnya membiarkan laki-laki itu masuk kedalam ambulace ..


***


            Hae mondar mandir khawatir di depan ruang instalasi, ia merasa kali ini ia tidak berguna, sebelumnya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Juniel, gadis penjual bunga yang hidup sendirian di Seoul..

            “chogiyo.. anda keluarga korban?” seorang perawat menghampiri Hae

            “oh ne—ne ..”

            “bisa ikut saya sebentar..” Perawat itu memipin jalan satu langkah di depan Hae, sementara pikiran Hae masih kalang kabut penuh dengan rasa cemas dan kekhawatiran.. perawat  itu berhenti di meja resepsionis.

            “tuan.. kami membutuhkan data diri korban juga data diri anda..”

            “namanya Jung Jun Hee, umurnya 19 tahun, golongan darahnya B dan dia hanya memiliki satu orang kakak laki-laki..” tanpa diminta lagi Hae sudah menjelaskan pada suster dengan rinci.

            “anda kakak laki-lakinya?”

            “ani imnida..” jawabnya lesu “karena dia tinggal sendirian, aku yang melindunginya, kakaknya pergi ke luar kota sejak 3 tahun yang lalu, dan neneknya meninggal 2 tahun yang lalu..”

            “oh..” suster itu mengambil nafas berat.. “baiklah, data diri anda kalau begitu..”

            “choneun .. Lee Jungshin imnida.. 21 tahun, golongan darah A..”

            “cangkkeuman..” perawat itu melirik  kaget wajah lelaki yang ternyata bernama Jungshin, “anda ..” perawat itu menerka-nerka ..

            “ya .. ini saya ..” jawab Jungshin mantap.

            Walau tidak mengerti, mengapa pria ini menjadi perwakilan keluarga Juniel, namun perawat itu meneruskan pekerjaannya.
            ‘dan kemana aku harus mencari kakaknya?’ batin Jungshin bergemuruh.

To be continued ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar