No
More Tears Formula
Chapter
2
Juniel
– Am I Loner?
Cast Plus :
Choi Jun Hee - Juniel
Hae - Mr.rius boy
Rambutnya yang bergelombang terbang
bebas di sapu angin, ia menatap matahari pagi dengan binar di kedua matanya,
baginya hal yang paling indah adalah matahari, karena matahari mengiringi dan
menemaninya dari ia bangun hingga ia siap terlelap.
Jung Jun hee yang lebih akrab disapa
Juniel menghabiskan setiap harinya di YJ Florist, toko bunga kecil yang
dibangun oleh kakanya untuknya, hidup sederhana sebagai gadis yang hanya
memiliki seorang kakak laki-laki dan bahkan belakangan kakanya sudah tidak lagi
pulang ke rumah.
Jika memikirkan hal itu, ia pasti
sudah menjadi sangat terpuruk, namun baginya banyak alasan untuk terus
menjalani hidup, kendati ia sendiri, kendati tak ada yang menghiburnya dikala
ia lelah, namun dalam kesendirian itu, Juniel tak pernah kesepian, walau kadang
ia sangat merindukan kakaknya juga neneknya.
Dan treng, suara lonceng di tokonya
berbunyi saat Juniel masih larut dalam lamunanya serta menikmati terik matahari
di tengah keramaian kota Seoul.. ribuan warga yang bersiap melangkahkan kakinya
menuju aktifitas ..
“welcome sonnim ..” Juniel
membungkukan tubuhnya, laki-laki bertubuh tinggi itu menjadi pelanggan pertama
Juniel pagi ini, laki-laki itu nyaris setiap pagi mengunjungi YJ Florist dan
membeli macam-macam jenis bunga yang berbeda setiap harinya..
“wah, anda lagi.. bagaimana kabar
anda seonsaengmin..?” biarpun laki-laki itu cukup sering dan sudah sangat lama
menjadi pelanggannya, namun Juniel tidak pernah sekalipun bahkan berani
menanyakan namanya, berbeda dengan pelanggan-pelanggan lain yang lebih dari
tiga kali datang ke tokonya ia pasti hafal dan tau siapa nama pelanggan itu,tapi
kali ini Juniel tidak punya cukup keberanian untuk menanyakan namanya.
“aku baik.. Juniel-shi ..” Laki-laki
itu mengambil beberapa tangkai bunga lili berbeda warna dan menatap Juniel.
“ne, seonsaengmin..” Juniel segera
menghampirinya. “mau dibungkuskan atau dijadikan bouqet?” Juniel melihat
tangannya yang terisi penuh oleh tangkai-tangkai bunga lili.
“aniyo.. bukan ini maksudku .. anda
menyukai bunga apa Juniel-shi?”
“eh? N—na ?” Juniel menunjuki
dirinya sendiri
“ye, of course you..”
“oh.. um .. choneun..” kemudian
Juniel mengamit satu tangkai bunga yang menjadi favoritnya sejak lama. “ige..
aku sangat menyukai bunga matahari..”
“oooh.. kereo.. seleramu unik sekali
Juniel-shi..”
“oh.. kamsahamnida ..” Juniel
tersipu
“oke, tolong jadikan bouqet, bunga lili
ini, ditambah satu bunga matahari itu..”
“ne .. ailgesamnida seonsaengnim..”
Juniel mengambil bunga-bunga yang sudah dipilih langsung oleh laki-laki itu.
beranjak dari sisi lelaki itu dan berjalan menuju mejanya. “kendae.. chogiyo..”
Juniel berbalik dan berbicara sangat pelan pada laki-laki yang mematung di
tempatnya.
“ne?”
“bolehkan aku bertanya siapa namanu
seonsaengmin..?” laki-laki itu tersnyum lembut, kemudian ia terlihat berfikir
keras, seperti tidak menemukan namanya sendiri.
“na ? panggil saja aku .. mm .. hae
(matahari)”
“ye?” Juniel kebingungan “Hae?”
“wae? Kereomyo, haebalagi (bunga
matahari) ..?” Juniel menahan tawanya kemudian, laki-laki ini sangat aneh,
dibalik wajahnya yang sangat tampan dan dingin, ternyata tersembunyi pribadi
yang hangat juga humoris..
“ani ani.. oke, aku bisa memanggilmu
hae-shi kalau begitu..”
“okay.. its not bad .. jadi lain
kali tidak usah memanggilku sunnim atau seongsaengmin..” kemudian mereka
tertawa bersama..
‘Hae-shi..
panggil saja aku seperti itu ..’ batin Hae bergemuruh sendiri.
Juniel
kemudian mengemas cepat dan telaten bunga-gunga itu, membersihkan
tangkai-tangkainya dan menjadikannya satu buah bouqet indah ..
“nah.. ini dia .. Hae-shi..” Juniel
memberikan bouqet itu pada Hae “wah.. kekasih anda pasti sangat bahagia ya,
setiap pagi anda memberikan bunga-bunga yang berbeda padanya..” Juniel
tersenyum cerah.. Hae menatap wajah Juniel yang ceria dengan binar yang lain,
ada yang menarik pada gadis itu, sederhana namun sangat unik dan tentu saja,
cantik.
Hae mengambil bouqet itu, dan
melakukan pembayaran pada Juniel,
“kamsahamnida
Hae-shi..”
“besok
jika aku membeli bunga lagi, apakah kamu akan memberikanku diskon?”
“ne?”
mata Juniel membuka lebar melihat wajah Hae tau-tau sejajar dengan wajahnya
Hae
menahan tawanya melihat wajah Juniel yang gelagapan malu dan kaget itu, pipinya
yang bulat itu memerah, tak lama Juniel tersenyum dan membuat Hae menjauhkan
wajahnya, senyuman khasnya itu, menjadi salah satu alasan Hae untuk tidak
berpindah-pindah tempat untuk mencari bunga.. YJ Florist .. hanya toko kecil
namun pemiliknya ini, dia mampu menghipnotis siapa saja untuk menjadi pelanggan
tetapnya. Wajahnya yang ceria dan sopan santunya kepada pelanggan membuat
hampir semua orang setuju, pelayanan terbaik hanya ada di YJ Florist.
“kamsahamnida Juniel-shi, bouqetnya
indah sekali .. dan jangan bosan ya melihatku setiap pagi mendatangimu .. lain
kali mungkin aku akan lebih sering datang kemari ..”
“oh aniyo..” Juniel mengibas-ngibas
tangannya “aku sangat bahagia jika Hae-shi terus menjadi pelangganku..”
“baiklah.. kalau begitu, aku permisi
dulu.. ada yang menungguku..” Hae kemudian membungkuk dan berlalu dari toko
itu.. Juniel membalasnya dan memandangi punggung Hae hingga ia berlalu dari
pandangannya.
Bagi Juniel, pelanggan adalah
alasannya untuk bertahan hidup dalam kesendirianya.. Juniel tidak memiliki
siapa-siapa lagi di dunia ini, selain kakanya, toko ini, dan para pelanggan
yang membuat harinya cemerlang..
“gomawo Hae-shi.. sudah membuatuku
tertawa bahagia seperti ini..”
***
Hae melangkahkan kakinya pelan,
menahan hatinya yang berdebar kencang, mengenal gadis itu sedekat ini, tidak
pernah terbesit dalam pikirannya, bahkan tidak pernah terbayang dalam
imajinasinya, sejak awal Hae memang memiliki rasa ketertarikan pada gadis muda
itu, karena dalam keadaan apapun Juniel selalu memberikan senyuman terbaiknya, hingga dirinya sendiri tidak bisa berhenti
untuk terus tersenyum setelah keluar dari toko itu, Juniel memberikannya
semangat baru setiap pagi, semangat yang membuatnya yakin jika dirinya bisa
menjalani hidupnya, Juniel kini seolah sinar matahari menyelusup diam-diam ke
dalam dadanya,begitu hangat dan menetramkan, indah membungkus satu bouqet memori senyumnya yang tak terkikis dan malah mengkristal
abadi dalam tawa serta canda mereka pagi ini..
“Omoni, jika suatu hari aku
membawanya kepadamu .. apakah kamu akan menyukainya? Ah .. jangan ditanya ..
kamu akan sangat menyukai dia .. aku pun begitu.. neomu jhowaseo ..” Hae—menarik nafasnya pelan, di setiap hembusan
nafasnya kini ada kebahagiaan yang berlayar memencar dan membuncah dalam
dadanya kencang, selebihnya ia mengekspresikan hal itu dengan berlari kencang
dan senyuman yang tak habis dari bibirnya.
***
Di waktu senggang saat pelanggan
mulai menyepi, sore hari Juniel selalu menghabiskan waktunya dengan memetik
gitar, sambil memandangi matahari yang nyaris padam digantikan bulan, dan Juniel
terkadang berbicara pada Tuhan, bertanya mengapa ia bersikap tidak adil pada
Juniel, pertanyaannya tetap sama, pernyataannya yang itu-itu saja. satu kalipun
Juniel tidak pernah di pertemukan dengan orang tuanya, saat ia mulai membuka
matanya ke dunia dan mengenali siapakah orang-orang yang hidup disekelilingnya,
yang ia lihat hanyalah nenek juga kakak
laki-lakinya.
“bahkan matahari tenggelam pun akan
digantikan fajar ya Tuhan, lalu bagaimana dengan sisa-sisa kebahagiaanku yang
telah hilang dan berlalu? Apakah kau akan menggantikannya?” YJ Florist memiliki
sisi toko yang simetris, sehingga pagi Juniel bisa melihat matahari naik di
dalam toko di kerumunan jalan, dan sore hari ia bisa melihat matahari tenggelam
di halaman kecil belakang YJ diantara genting-genting perumahan warga di kota
Seoul.
“Helmoni.. bogoshippo..” airmata
Juniel menetes tanpa disadarinya, setelah kepergian neneknya yang menua dalam
penyakit, Juniel merasa begitu kesepian. Walau jelas Juniel mampu melewati hari-harinya
sendirian. Saat matahari benar-benar tenggelam, Juniel menghentikan jentikan
jemarinya pada gitar, kemudian bersiap untuk menutup harinya di JY, kembali ke
rumah, dan pulang ..
Namun sebelum itu, Juniel masih
memiliki satu ritual lain, setiap malam menjelang, ia menunggu suara motor yang
sangat berisik, dan memekakan telinga, memecah kesunyian malam dan berlarian
bebas di tengah kota Seoul yang mulai sepi dari kerumunan, motor itu selalu
diiringi mobil sedan mini berwarna pink metalik yang juga melaju sangat cepat,
Juniel tidak tau siapa orang-orang itu, namun menononton dua kendaraan itu berputar-putar
dan saling berkejaran di depan tokonya cukup menjadi hiburan untuknya,
terkadang laki-laki yang mengendarai motor itu duduk-duduk sambil memakan
ddokbuki di lapak kecil seberang YJ, kemudian perempuan yang mengendarai mobil
akan turut duduk-duduk di tempat itu walau terlihat enggan, dan namja itu akan
meneriaki si yeoja yang melingkarkan lenganya di lengan namja itu, mereka
nampak sangat lucu, seperti kutub magnet yang sejenis, semakin di dekatkan
malah semakin menjauh, namun mereka berdua seperti menikmatinya, dari saling
berkejaran seperti kucing dan tikus, hingga saling berteriak seperti di
drama-drama korea yang berakhir romantis, seburuk apapun perkataan sang namja,
si yeoja tidak pernah marah atau lelah bahkan menyerah untuk mengikuti
kemanapun namja itu pergi, mereka terlihat seperti menikmati hidupnya, bebas
dan tidak pernah mereasa kesepian.. sepertinya begitu.
Tak
lama dari jauh mulai terdengar gerungan
suara knalpot motor juga decitan rem yang membuat telinga sakit, Juniel berlari
kecil menuju pintu depan tokonya, dan suara motor yang gemuruh itu datang
dengan cepat, seperti biasanya tak lama setelah itu mobil sedan berwarna pink
pun datang. Beberapa kali terlihat pengendara motor berkeliling di jalan ini,
mencoba terus menghindari pengendara sedan, namun kemudian pengendara motor menghentikan
laju motornya dan memutuskan untuk menikmati ddokbuki hangat di lapak sederhana
di depan toko Juniel.
“Oppa !!” dan perempuan itu
menghentikan mobilnya, buru-buru menghampiri laki-laki itu.
“ya !! sudah ku bilang kau setan
jangan mengikutiku !!”
Juniel
cekikian sendiri, saat namja itu melepaskan helmnya kemudian duduk di kursi
kecil memesan dan memakan ddokbuki
hangat. Gadis berambut panjang dan sangat cantik itu terlihat risih dan enggan,
sepertinya dia anak orang kaya yang tidak biasa makan makanan jalan. Gadis cantik
itu duduk di samping laki-laki pengendara motor, namun tubuhnya menghadap ke
jalanan, persis ke depan toko milik Juniel, menyadari hal itu, buru-buru Juniel
mengambil lap dan pura-pura membersihkan meja di depan tokonya
“Oppa.. disana ada toko bunga,
belikan aku satu.. Oppa ..”
“ish.. shirreo !!”
Kembali
Juniel menahan tawanya, sambil sesekali melirik ke sebrang jalan, jalanan mala
mini cukup sepi sehingga ia bisa mendengar suara cempreng dan suara kencang dua
orang itu.
“Oppa.. jebbal jebbal..” lalu lelaki
itu membalikan badannya memastikan apakah yang dikatakan gadis itu benar,
kemudian mata lelaki itu berhenti dan menangkap wajah Juniel yang bersinar di
bawah lampu neon.
Juniel
mematung di tempatnya berdiri, tangannya
yang tadi sibuk mengelap meja, kini berhenti, saat ini matanya dan mata
laki-laki itu bertemu.
“k—k—ajja Jiyeon-ah..”
“Jinjja Minhyuk Oppa?”
‘Minhyuk..
Jiyeon..’ Juniel merekam nama mereka baik-baik dalam hatinya, dua orang
yang selalu bertengkar setiap kali lewat di depan tokonya, dua orang yang
menjadi salah satu ritual penting penghidup dering keramaian dalam hidupnya..
Minhyuk .. dan Jiyeon.. namun yang membuat Juniel mematung adalah, tatapan mata
Minhyuk, Minhyuk tidak melepaskan pandangan itu sama sekali bahkan ketika ia berjalan
menyebrang jalan, Minhyuk tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari
Juniel tidak menghiraukan lagi Jiyeon sedang memegangi tangannya erat, Minhyuk
hanya terus menatap gadis yang berdiri di bawah cahaya lampu neon.
“annyeonghaseo sunnim..” Juniel
membungkukan badannya setelah dua orang itu berada tepat di hadapannya.. ‘cangkeman.. ige mwoya..’ Juniel menekan
dadanya,merasakan sesuatu membuat jantungnya bergetar hebat, kemudian Juniel
menyadari laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini, sangat .. tampan ..
“oh annyeonghaseo agashi..” jawab
Jiyeon yang masih menggelayut manja di lengan Minhyuk “toko ini milikmu? Belum tutup kan ?”
“ne, ini miliku, ada yang bisa saya
bantu sunnim?”
“Oppa, kajja.. ayo masuk dan pilihkan
bunga unutku..” Jiyeon menarik lengan Minhyuk, Juniel menundukan kepalanya, ia
tidak bisa melawan tatapan tajam mata Minhyuk yang tiba-tiba membuat jantungnya
berdebar kencang sementara Minhyuk malah terus menatapnya hingga tatapan itu
lepas saat Jiyeon memaksanya masuk, dan Juniel berdiri di belakang mereka.
Jiyeon menebar pandangannya ke seisi
toko.
“wah.. toko ini kecil tapi sangat
lengkap..” Jiyeon terkagum-kagum melihat interior dan isi dari toko bunga ini, sangat
feminine dan lembut. Membuatnya ingin duduk berlama-lama belum lagi ia akhirnya
bisa menarik Minhyuk setelah seharian penuh mengejarnya kesana-kemari.
“agashi, siapa namamu?” tanya Jiyeon
“choneun, Jung Jun Hee, tapi panggil
saja aku Juniel..”
“oh, kereesseo.. mungkin aku akan
sering datang kemari Juniel.. oh.. yeppo..” Jiyeon mengambil satu tangkai mawar
berwarna putih “Oppa otteo? Ige yeppo? Yeppo ?” Minhyuk tak menanggapi Jiyeon, ia
malah melirik-lirik Juniel yang berdiri di sisinya.
“Juniel-ah. Berikan aku sepuluh
tangkai dan jadikan dalam satu bouqet..”
“aigesamnida sunnim..”
“no—no .. panggil aku Jiyeon..”
“oh, aigesamnida Jiyeon-shi..”
Juniel mengambil bunga mawar putih sesuai yang diinginkan Jiyeon, kemudian
mulai membersihkannya.
“chogiyo..” Minhyuk bersuara rendah “tidak
usah buru-buru, tanganmu bisa terluka terkena durinya..” Minhyuk terlihat
khawatir saat melihat Juniel membersihkan tangkai mawar yang penuh duri dengan
cepat dan cekatan.
“ah Oppa.. dia itu pasti sudah
biasa.. benar kan Juniel?”
“ne, sunnim, aku sudah sangat
terbiasa dengan ini semua..” Juniel kembali memusatkan perhatiannya pada bunga
yang ia pegang setelah ia menatap wajah Minhyuk sekejap.
Mendengar hal itu, Minhyuk tercekat
kemudian membuyarkan pandangannya ke seisi ruangan dan mendarat pada satu
persatu spot di YJ Florist, saat malam tiba, kotak-kotak dan pot berisi bunga
dihiasi lampu halogen berwarna warni yang membuat suasana menjadi hangat,
Juniel sepertinya mampu mendekorasi dengan baik, semua pelanggannya selalu
terkesima setiap masuk ke YJ selain
karena Juniel yang sangat cantik serta ramah juga karena suasananya yang hangat,
sangat hangat.
“ca.. sudah selesai Jiyeon-shi..”
Juniel mengulurkan tanganya yang berisi bouqet dan memberikannya pada Jiyeon
yang sedari tadi menatap Juniel kagum.
“waaah.. Juniel-ah .. gomawo..”
Jiyeon mengambilnya dengan kedua tangannya, kemudian merogok tasnya dan
memberikan uang untuk Juniel. Jiyeon melangkah menuju Minhyuk yang
berjalan-jalan memutari toko.
“Oppa.. otteo?” Minhyuk menatap
Jiyeon malas.
“m.. bunga itu cantik sekali..
seperti tempat ini..” Minhyuk menggencarkan pandangannya kembali ke sekeliling
toko.
“lalu aku? Aku juga cantik bukan?”
“ish.. aniyo.. jinjja aniyo..”
Juniel tertawa di tempatnya..
“aniyo Jiyeon-shi.. kamu bahkan
lebih cantik dari bunga itu..” Juniel memotong pembicaraan Minhyuk dan Juniel..
“waaaa, Juniel-shi.. gomawooo..”
Jiyeon yang gemas akhirnya mencubit pipi Juniel.. Juniel hanya tersenyum
kecil.. setelah itu mereka berdua meninggalkan YJ dengan menggunakan kendaraan
masing-masing setelah berselisih panjang lebar di depan YJ ..
Juniel, menempatkan wajahnya di atas
meja beralaskan telapak tangannya, ia mengusap embun yang menguap dari pot
bunga matahari yang ia taruh di meja itu. Jemarinya bermain usil seolah menari
dengan bintik-bintik air yang sangat dingin dan indah, ia lalu tersenyum-senyum
sendiri.
“hari ini sangat luar biasa..
terimakasih Tuhan..” bisik Juniel dalam senyumnya. Setelah puas memandangi
bunga matahari yang ia tanam, Juniel mematikan satu demi satu lampu halogen dan
lampu ruangan, mengunci rapat toko itu, dan bersiap pulang.
***
Gadis itu menggeliat bebas dan
mengikat rambutnya sebelum matahari terbit, rumah sederhana yang hanya berisi
dua kamar itu sangat sepi, namun rutinitas Juniel dan kemandiriannya membuat ia
terbiasa menjalani kehidupan yang seperti ini. Juniel memaksa tubuhnya bangkit
dan beranjak ke dapur, membuka isi lemari es dan meminum satu gelas penuh air
putih.
Tok tok ..
Pintu rumahnya tiba-tiba di ketuk,
Juniel memandangi pintu dengan perasaan aneh ‘ini sejak tiga tahun rasanya tidak ada yang pernah mengetuk pintu
rumah ku di pagi-pagi buta seperti ini..’ Juniel menggosok matanya, menaruh
gelas dan kemudian melangkah menuju pintu pelan. Saat ia membuka pintu, tak ada
satupun yang berdiri disana. Juniel melihat ke sekelilingnya, benar-benar tidak
ada satupun yang tersedia, hingga matanya menangkap satu botol susu di tersimpan
rapi di depan pintunya. Juniel
mengambilnya.
Matahari
akan segera terbit ..
Jangan
sampai kau terlambat, minum susu sebelum berangkat
Dan
pastikan kondisimu baik-baik saja ..
Satu
catatan kecil berwarna kuning tertempel disana, Juniel masih benar-benar
bingung dan tidak mengerti, kemudian ia menyimpan susu itu di dalam lemari es,
membiarkannya tanpa meminumnya. Cepat ia menuju kamar mandi dan bersiap
menanatang hari.
***
Hae tersenyum saat melihat wajah
polos itu keluar dari dalam rumah dan tercengang-cengang membaca catatan kecil
yang sengaja ia selipkan, entah apa yang ada dalam pikirannya, sejak perkenalan
mereka kemarin, Hae banyak bertanya pada Ahjumma penjual ddokbuki di seberang
jalan tentang Juniel, dan akhirnya ia mengetahui bahwa Juniel hidup sendirian
disini, karena sejak kecil ia tidak memiliki orang tua, hanya nenek dan kakak
laki-laki, neneknya meninggal dua tahun lalu, dan kakak laki-lakinya bekerja di
luar kota bahkan jarang sekali kembali ke Seoul, itu membuat Hae ingin
melindungi Juniel, satu hal yang semakin hari semakin Hae sadari, ia menyayangi
Juniel sejak pertama kali Hae bertemu dengan Juniel.
Hae terkejut saat Juniel sudah
membuka pintu dan membawa satu keranjang besar berisi bunga, buru-buru ia
kembali bersembunyi di balik pintu gerbang rumah orang lain yang tidak dikunci.
Senyum Hae terbit melihat wajah Juniel yang segar dan tetap ceria seperti
biasa, perempuan yang sepertinya tak memiliki beban sama sekali.
“Have a nice day Juniel, nanti aku
menyusulmu, sekarang aku harus menemui ibuku..” Hae kemudian berlalu dari
tempat itu setelah memastikan Juniel menjalani pagi yang baik dan sempurna.
***
Juniel membalikan badannya merasakan
seseorang mengikutinya, namun ternyata tidak ada siapapun disana. Ia kemudian
mengambil sepedanya dan mengendarainya menuju YJ ..
Pagi itu, seperti biasa, Juniel
menunggu kedatangan sunnim tampan bertubuh tinggi, yang menyebut dirinya
sebagai Hae, yang memiliki sifat yang ternyata sangat humoris dan mampu
mengundang tawanya. Sambil menatap matahari yang mulai naik dan meminum satu
cangkir teh hangat Juniel juga mengingat apa yang tadi malam terjadi, Juniel
selalu bertanya pada dirinya, apakah aku ini sendirian? Tapi sejak kemarin
Juniel merasa banyak hal baru yang justru membuatnya yakin Tuhan bahkan tidak
pernah membiarkannya sendirian. dan siapapun kini yang datang ke tokonya, dan
itu mampu membuat hatinya terasa hangat penuh oleh ketentraman dan rasa nyaman
serta kasih sayang.
Treng
..
Bell itu berbunyi lagi. Juniel
membalikan badannya.
“oh.. Ahjumma..” sedikit kecewa yang
datang bukan Hae, Juniel bangkit pelan dari duduknya, itu adalah ahjumma
penjual ddokbuki di depan tokonya.
“Juniel-ah.. hari ini aku tidak bisa
menjaga lapaku.. anaku sakit..”
“ne.. ne.. lalu?” Juniel membalasnya
dengan suara halus sambil memegangi tangan ahjumma yang gemetar dan sudah mulai
menua.
“aku bisa minta tolong, jika ada
laki-laki yang sudah tua mencariku, berikan surat ini.. “ ahjumma memberikan
satu amplop putih pada Juniel..
“algesamnida ahjumma.. cepatlah
kembali ke rumahmu dan segera bawa anakmu ke dokter..”
“ye .. gomawo Juniel-ah.. jinjja
gomawo..” Juniel mengagguk namun ahjuma beringsut memeluk Juniel..
“Juniel-ah .. kamu sudah banyak
mengalami kesulitan di hidupmu.. jaga dirimu baik-baik nak.. di masa depan akan
banyak masa-masa sulit, aku tidak ingin hingga tua kau bernasib sepertiku..”
meski kaget dengan perkataan yang di lontarkan ahjumma, Juniel berusaha membuat
dirinya juga ahjumma itu tenang ‘mungkin
dia terpukul dengan kematian suaminya.. atau mungkin dia terluka melihat
anaknya sakit..’ pikir Juniel
“arraseo ahjumma.. aku akan menjaga
diriku baik-baik.. cepatlah pulang anakmu pasti menunggu..” Ahjuma melepaskan
pelukannya, menyeka airmatanya yang rembes, menatap kedua bola mata Juniel, dan
membungkuk ..
“gomawo Juniel-ah.. gomawo..” lalu
Juniel memapah ahjumma hingga naik bus menuju rumahnya.
Waktu
berlalu dengan cepat, dua jam Juniel menunggu Hae, pelanggan datang silih
berganti, sayangnya orang yang ia tunggu tak datang juga, dan Juniel mulai
melupakan keingiannya bertemu Hae.. dan terus menenggelamkan diri dalam
kesibukan dan melayani para pelanggan yang datang.
‘kenapa
aku kecewa saat tidak menemukan Hae dipagi hari.. ah sudahlah.. tak ada yang
perlu difikirkan lagi..’ batinya..
“Oh, bwa !! ada kakek-kakek
duduk-duduk di toko ddokbuki.. bukankah itu sedang tutup Juniel-ah?” Juniel
mengalihkan pandangannya dan menemukan sosok laki-laki tua sedang duduk di
lapak milik ahjumma. ‘sepertinya itu
kakek yang ahjumma maksud..’
“Oennideul, tunggu sebentar ya, aku
ada keperluan pada haraboji itu..” Juniel melepaskan apronnya dan berlari
menuju kakek itu. dan para pelanggan hanya mengangguk sambil terus
memilih-milih bunga-bunga yang berjejer di toko kecil milik Juniel.
“Annyeonghaseo haraboji..” laki-laki
yang sudah tua itu menatap wajah Juniel asing
“oh ne.. agashi..”
“haraboji, apa anda mencari ahjumma?”
“ye
.. kemana penjual ddokbuki ini?”
“ahjumma
tidak datang hari ini, dia bilang anaknya sakit dan dia menitipkan surat ini
padaku.. ini untukmu..” kakek tua itu menatap wajah Juniel menelaahnya dengan
seksama, mata tua yang terlihat sudah lelah itu tidak melewatkan sebaris garis
pun dari wajah Juniel bahkan tidak menghiraukan apa yang dikatakannya.
“haraboji..” Juniel mengulurkan
surat itu padanya.
“agashi.. hati-hati..” katanya..
“ahjumma bahkan sudah memperingatkanmu bukan?” lanjutnya lagi..
“n—nne ?” Juniel terlihat
kebingungan “mwoya ige..” kemudian ia berbisik pada dirinya sendiri..
“haraboji, tolong ambil surat ini..” kakek itu kemudian mengambilnya, lalu
menepuk bahu juniel..
“gomawo.. hati-hati sekali lagi ku
peringatkan padamu Juniel-shi..”
“ee—eh ?” haraboji itu berlalu dan
membiarkan Juniel mematung di tempatnya.
“aish.. isange !!” ia garuk-garuk
kepala, untuk beberapa menit diam di tempatnya, kemudian ia sadar banyak
pelanggan yang sudah menungguinya.
Juniel berlari menyebrang jalan,
karena terburu-buru juniel tersandung tali sepatunya yang terlepas, ia pun jatuh.
“aish, Juniel pabo..” kemudian ia
menalikan sepatunya lagi, dan ia berjalan santai.
“Juniel-ah !! awas !! Juniel-ah !!”
Juniel menatap para pelanggan yang mencoba berteriak padanya, saat Juniel
melihat ke sisi kiri satu motor yang sangat ia kenal mendekat dengan kecepatan
tinggi, dan ……….
tak ada yang bisa ia lihat .. selain ………
kakak laki-lakinya.
***
Hae, laki-laki itu berjalan santai
menuju YJ Florist, namun ada suara sirine polisi dan ambulance yang membuat
jalanan padat, ia melihat YJ menjadi sangat sepi dan semua orang tumpah ke jalanan,
ia mendengar suara perempuan menangis kemudian ia berlari ke arah kerumunan
itu.
“aaaaaaaaaaaaaaa !! Oppa !! Oppa !!”
Jiyeon berlari dan segera memeluk tubuh Minhyuk yang bersimbah darah,
orang-orang disana nampak kaget dan
berhamburan ke tengah jalan..
“permisi.. permisi..” Hae menerobos
masuk diantara orang-orang yang berkerumun padat, betapa kaget nya ia saat
melihat satu tubuh perempuan bersimbah darah dan sedang di angkat ke ambulance,
Hae berlari dan mendekati ambulance ..
“Juniel-ah.. Juniel-ah !!”
“maaf tuan anda tidak bisa mendekat”
dua orang polisi menahan tubuh Hae.
“aku keluarganya.. lepaskan aku..”
kedua polisi itu saling berpandangan hingga akhirnya membiarkan laki-laki itu
masuk kedalam ambulace ..
***
Hae mondar mandir khawatir di depan
ruang instalasi, ia merasa kali ini ia tidak berguna, sebelumnya ia sudah
berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Juniel, gadis penjual bunga yang
hidup sendirian di Seoul..
“chogiyo.. anda keluarga korban?”
seorang perawat menghampiri Hae
“oh ne—ne ..”
“bisa ikut saya sebentar..” Perawat
itu memipin jalan satu langkah di depan Hae, sementara pikiran Hae masih kalang
kabut penuh dengan rasa cemas dan kekhawatiran.. perawat itu berhenti di meja resepsionis.
“tuan.. kami membutuhkan data diri
korban juga data diri anda..”
“namanya Jung Jun Hee, umurnya 19
tahun, golongan darahnya B dan dia hanya memiliki satu orang kakak laki-laki..”
tanpa diminta lagi Hae sudah menjelaskan pada suster dengan rinci.
“anda kakak laki-lakinya?”
“ani imnida..” jawabnya lesu “karena
dia tinggal sendirian, aku yang melindunginya, kakaknya pergi ke luar kota
sejak 3 tahun yang lalu, dan neneknya meninggal 2 tahun yang lalu..”
“oh..” suster itu mengambil nafas
berat.. “baiklah, data diri anda kalau begitu..”
“choneun .. Lee Jungshin imnida.. 21
tahun, golongan darah A..”
“cangkkeuman..” perawat itu melirik kaget wajah lelaki yang ternyata bernama
Jungshin, “anda ..” perawat itu menerka-nerka ..
“ya .. ini saya ..” jawab Jungshin mantap.
Walau tidak mengerti, mengapa pria
ini menjadi perwakilan keluarga Juniel, namun perawat itu meneruskan
pekerjaannya.
‘dan
kemana aku harus mencari kakaknya?’ batin Jungshin bergemuruh.
To
be continued ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar