No More Tears Formula
Chapter
1
Minhyuk
– All of this, just begins ..
Cast :
Kang Minhyuk - CNBLUE
Kang Seonju - Minhyuk Father
Park Hyori - Minhyuk Mother
Park Jiyeon - T-ara
Lelaki berusia dua puluh satu tahun
itu mengendap-ngendap diantara pohon rindang di halaman rumahya, setelah
berhasil memanjat pagar rumah tanpa membangunkan kero anjing jenis Chihuahua kesayangan
ibunya, tanpa sepengetahuan satpam rumah yang terkadang malah menjadi musuhnya.
Dalam langkahnya sesekali ia menahan nafasnya konyol, ia terus mengendap hingga
berlari kecil menuju tangga, mengangkatnya dan menaruhnya tepat di bawah
jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Dan sukses, kakinya mendarat mulus
di lantai kamarnya yang gelap gulita.
“ehm..” tiba-tiba lampu kamarnya
benderang dan wajah garang Kang Seonju muncul di depan mukanya ..
“wo~woooo huh uh !! kamjjagi !! aish
APPA !! mwoya jiggeum !!” tanpa menjawab pertanyaan Minhyuk, Seonju menarik
sabuk yang mengikat di celana Minhyuk, kemudian pukulan-pukulan serta pecutan
keras menghantam tubuh Minhyuk.
“Jaashik is !!”
“APPA !! KEUMANEO jinjja apayo !!”
Minhyuk meringis dan menutupi wajahnya dengan lengannya, berharap Seonju
menghentikan serangan bertubi-tubi itu. dan derap langkah cepat terdengar
menghampiri Minhyuk.
“Yeoboo.. kemane..” Hyori memeluk
tubuh Minhyuk erat, berusaha menghentikan suaminya.
“ya !! Kang Minhyuk, ibumu mungkin
akan selalu membelamu !!” Seonju
menghentikan pukulan dan pecutannya, menarik nafasnya dalam penuh beban.
“tapi aku akan memberikan hukuman menerus untukmu jika kamu tidak mau berubah
!!” cepat ia berbalik dan meninggalkan
anak serta istrinya.
“Minhyuk-ah gwenccana?” Hyori
mengangkat wajah Minhyuk dan menggencarkan pandangan khawatir, memegangi
lengan, badan hingga kaki anaknya yang masih tersungkur di tempatnya.
“hahaha, amma .. aish” Hyori menatap
aneh pada Minhyuk. “na gwenccana amma, seperti yang tidak tau saja anakmu ini
pemegang sabuk hitam taekwondo dan hobi berkelahi..” Minhyuk meniup rambutnya
dan mengibaskannya.
“aish jinjja !!” Hyori memukul
kepala Minhyuk keras “kamu benar-benar Minhyuk-ah, dari mana saja kamu ini
sudah jam tiga pagi Minhyuk-ah !!”
“aku sudah dua puluh satu tahun amma
..” wajah Minhyuk memelas.
Karena
ia merupakan anak satu-satunya, dari kecil kedua orang tuanya berusaha
membentuk Minhyuk menjadi apa yang mereka mau, Minhyuk terlahir dari keluarga
kaya raya, orang tuanya adalah pengusaha tekstil eksport-import dan seperti
orang tua pada umumnya Seonju ingin anaknya meneruskan usahanya, sedangkan
Minhyuk yang sudah beranjak dewasa mulai bertingkah memberontak, setiap malam
ia mengendap-ngendap keluar rumah untuk mengikuti track liar di jalan raya yang
kosong melompong, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan tertawa
bahagia saat ia bisa membodohi polisi-polisi yang mengejarnya juga
teman-temnannya. Atau sekedar beradu kemampuan dengan gangster dari wilayah
lain, berkelahi lalu menang, walau kadan tubuhnya terluka karena sayatan pisau,
namun menurutnya itulah caranya menikmati hidup, sebelum akhirnya ia akan
tenggelam dalam ribuan arsip, kertas, komputer, telepon tanpa henti, perjalanan
ke luar negri untuk kebutuhan bisnis hingga hidup bersama istri yang tentu saja
sudah di rencanakan dan di atur oleh orang tuanya.
“tapi
tetap saja kamu itu anaku !! darimana ku tanya Minhyuk-ah ?”
“na?
hanya jalan-jalan sebentar menggunakan motor..” Hyori geleng-geleng kepala
“lain
kali, jika kamu tertangkap basah lagi oleh appamu, aku tidak mau ikut campur,
biar saja kamu habis di pukuli olehnya..”
“ah..
arraseo, amma aku ingin tidur.. lebih baik sekarang keluar..” Minhyuk bangkit
dan mendorong ibunya lembut keluar dari kamarnya. Minhyuk menghempaskan
tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya kosong.
“Appa..
Amma .. saranghanda ..” bisiknya kemudian ia berusaha mengingat-ngigat apa yang
sudah ia lewati selama dua puluh satu tahun dalam hidupnya. Diam-diam ia
merasakan kepedihan dalam hatinya. Ia sama sekali tidak ingin mengecewakan
kedua orang tuanya, namun ia juga ingin menikmati hidupnya dengan caranya sendiri.
Sejak
kecil, Minhyuk adalah anak yang penurut, ia mengikuti segala les dan kegiatan
yang sudah di rencanakan oleh orang tuanya dengan baik dan teratur, hingga
suatu hari saat usianya genap Sembilan belas tahun ia mendengar percakapan
orang tuanya.
***
2 years ago ..
Seonju
sedang menikmati kopi sambil bersantai membaca koran di gazibu halaman belakang
rumah mereka yang ditumbuhi banyak bunga, hari liburnya memang selalu
dihabiskan di tempat itu, di temani oleh Kim Hyori yang asik browsing gossip
serta menu masakan baru lewat tabletnya.
“Yeobo..”
Seonju melipat korannya, tiba-tiba wajah santainya berubah menjadi wajah
cemas..
“wae
Yeobo.. “ Hyori menyimak wajah Seonju seksama, mencoba membaca apa yang
tersirat dalam kekhawatiran itu.
“anak
kita, sudah menginjak usia yang cukup dewasa..”
“lalu..?”
“aku..
takut ..” Hyori kemudian mengerti apa yang di cemaskan oleh suaminya, pelan ia
mendekati Seonju dan memeluknya erat dari belakang.
“ssst..
sudahlah.. sudah, dari awal kita sudah berjanji untuk tidak membahas apapun
lagi..”
“tapi,
jika dia tau keadaan yang sebenarnya..”
“Yeobo..
kemane..”
Minhyuk
menyaksikan mereka dari dalam rumah kaca yang tidak jauh dari gazebo, ia sedang
bermain dengan iguana peliharannya. Kemudian ia mencoba menelaah apa yang baru
saja ia dengar.
“keadaan
yang sebenarnya?” Minhyuk menggerutu sendiri sambil terus memperhatikan kedua
orang tuanya.
“aku takut Minhyuk melarikan diri
dan tidak menganggap kita orang tuanya lagi..”
“Yeobo.. kemane.. sudah ku bilang
untuk tidak membahas apapun lagi..”
“dia berhak memilih mimpinya
sendiri, berhak menentukan masa depannya sendiri, dia sama sekali tidak
mewarisi sedikitpun apa yang aku
kehendaki, aku menyadari dia sangat membenci pekerjaanku.. aku takut, suatu
hari dia menemukan kebenaran..”
“Seonju-ah .. Minhyuk-ah adalah anak
kita.. anak kita..”
“aku sangat merasa bersalah ketika
aku mengambilnya dari ibunya, memintanya untuk menemani kehidupan kita yang
sangat sepi tanpa anak, dan sekarang aku merenggut haknya untuk bahagia di
jalannya sendiri..”
Airmata Seonju dan Hyori mulai
meluber di pipi, Hyori menderita penyakit kangker rahim stadium satu saat ia
mengandung anak pertama mereka, dan karena itu, Hyori terpaksa menggugurkan
kandungannya, rahimnya di angkat karena akan sangat membahayakan nyawa Hyori,
dan sejak saat itu, harapan untuk memiliki anak tidak mungkin terwujud, hingga
pada akhirnya Seonju bertemu dengan seorang pelacur yang sedang menyusui
anaknya di pinggir jalan pada malam natal saat ia hendak mencari hadiah untuk
keponakan-keponakannya, tanpa pikir panjang, melihat kondisi peremupuan yang
sekarat itu Seonju meminta Minhyuk untuk diasuh olehnya juga Hyori, dan pelacur
itu menyerahkan Minhyuk dengan senang hati, karena ia tau ajal sebentar lagi
menjemputnya. Setidaknya anaknya harus hidup sehat dan bahagia bersama orang
yang tepat.
Minhyuk mematung di tempatnya, tak
ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, pelan ia keluar dari rumah kaca,
berharap orang tuanya tidak menemukan Minhyuk disana.
***
Sejak hari itu, Minhyuk lebih sering
menghabiskan waktunya di jalan raya, untuk sekedar menghilangkan beban hatinya,
melepaskan amarahnya pada suara knalpot motor dan kecepatan tanpa batas,
Minhyuk terlanjur menyayangi Seonju dan Hyori, dan ia menutup mulutnya untuk
tidak mempertanyakan apapun tentang masalalunya, tentang siapa orang tuanya,
karena akan lebih sakit jika ia harus menyusuri masalalunya sendiri. Dia mencoba
mengubur semua rasa sakitnya lewat berkelahi, meluapkan amarah pada orangtuanya
lewat pukulan-pukulan keji pada orang lain, karena semarah apapun Minhyuk pada
Seonju juga Hyori ia tidak sanggup membenci mereka.
Minhyuk memejamkan matanya, hingga
akhirnya tenggelam dalam tidur yang nyenyak.
***
Hyori menyiram satu gelas penuh
airputih tepat di wajah Minhyuk siang itu.
“ya !! bukankah kamu harus sekolah
Minhyuk-ah ?!”
“oh amma, aish .. shirroyo.. aku
tidak mau..”
“Oppa !!” suara khas yang sangat
cempreng dan memekakan telingan itu membuat Minhyuk membuka matanya lebar-lebar.
“oh my god !! setan sedang apa kau
disini !!” Minhyuk bangkit dan menjauh ketakutan dari perempuan itu. Hyori
kemudian melirik ke arah perempuan yang tau-tau mengikutinya dari belakang.
“aish, Oppa.. aku ingin berangkat
kekampus denganmu..”
“ya !! amma, mengapa membiarkan
nenek lampir ini masuk ke rumah kita?”
“eh.. berani sekali menyebut Jiyeon
nenek lampir” Hyori naik ke atas kasur Minhyuk dan menjambak rambutnya.. palli!!
Jiyeon sudah menunggumu daritadi, cepat mandi dan berangkat kuliah..”
“ahjumma kamsahamnida..” Jiyeon
tersenyum senang saat Minhyuk tau-tau sudah masuk ke dalam kamar mandi.
“ye ye..” Hyori memasang wajah malas
‘jih, jika saja kamu bukan anak partner
kerja suami ku, aku tidak mau memaksa-maksa anaku untuk berduaan denganmu..’
Hyori kemudian berlalu cepat.
***
Minhyuk meningglakan Jiyeon yang
masih menonton tv di ruang keluarga rumahnya, buru-buru ia menyalakan mesin
motornya.
“oppa !! tunggu aku..”
“waeyoo ish !!” Minhyuk kesal pada
perempuan yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, termasuk jika tengah
malam ia balapan motor di jalan raya, makhluk sialan ini selalu ada
membuntutinya.
“Oppa.. ayo berangkat bersama, aku
membawa mobil..”
“shirro.. kamu saja sana berangkat
naik mobilmu itu, aku mau naik motor..” Minhyuk menarik gasnya kencang dan
membuat rumah itu gemuruh dengan suara knalpot dari motor Minhyuk..
“Oppa..!!” Jiyeon menjerit saat
Minhyuk sudah melesatkan sepeda motornya keluar dari pelataran rumahnya. “aigoo..
nappeun namja tsk tsk..” Jiyeon kemudian mengejar Minhyuk dengan mobil yang ia
kendarai.
“haaah lihat saja Oppa, aku tidak
akan melepaskanmu, aku akan terus mengejarmu hingga kamu setuju untuk menjadi
kekasihku..” ambisi Jiyeon bukan main-main sejak ia mengenal Minhyuk, ia tidak
bisa menghentikan hatinya untuk memuja Minhyuk, ia mengikuti kemanapun Minhyuk
pergi, dan mengklain Minhyuk adalah miliknya pada siapapun..
“aiiiish.. mwoya jigeum? Ya !!
Minggir dari jalanku !!” kerumunan orang di tengah jalan membuat mobil yang
dikendalikan Jiyeon terhenti “ya !! yeorobun pabo yaa !! minggir kalian” Jiyeon
terus membunyikan klaksonnya namun tak ada satupun yang menghiraukannya, hingga
puluhan mobil berjejer macet di belakang mobil Jiyeon, penasaran akhirnya
Jiyeon keluar dari mobilnya.
Ia menerobos di balik punggung
kerumunan orang-orang yang terlihat memucat dan histeris sambil berbisik-bisik
di tempatnya. Saat mencapai bagian terdepan dari kerumunan orang-orang..
“aaaaaaaaaaaaa Oppa !! Oppa !!”
airmata Jiyeon pecah, wajah Minhyuk dipenuhi darah segar dan tubuhnya tergencet
sepeda motor yang ia kendarai. Tidak jauh dari itu ada tubuh seorang gadis yang
juga penuh dengan darah, dan suasana menjadi sangat riuh dan ramai setelah
polisi dan ambulance berdatangan..
To
be continued ..
please leave a comment :) on my twitter or my blog .. kamsahamnida ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar