Senin, 27 Agustus 2012

(YongSeo Featuring ) - No More Tears Formula - Chap 1





No More Tears Formula

Chapter 1

                                                  Minhyuk – All of this, just begins ..






Cast :

Kang Minhyuk - CNBLUE
Kang Seonju - Minhyuk Father
Park Hyori - Minhyuk Mother
Park Jiyeon - T-ara 




            Lelaki berusia dua puluh satu tahun itu mengendap-ngendap diantara pohon rindang di halaman rumahya, setelah berhasil memanjat pagar rumah tanpa membangunkan kero anjing jenis Chihuahua kesayangan ibunya, tanpa sepengetahuan satpam rumah yang terkadang malah menjadi musuhnya. Dalam langkahnya sesekali ia menahan nafasnya konyol, ia terus mengendap hingga berlari kecil menuju tangga, mengangkatnya dan menaruhnya tepat di bawah jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Dan sukses, kakinya mendarat mulus di lantai kamarnya yang gelap gulita.

            “ehm..” tiba-tiba lampu kamarnya benderang dan wajah garang Kang Seonju muncul di depan mukanya ..

            “wo~woooo huh uh !! kamjjagi !! aish APPA !! mwoya jiggeum !!” tanpa menjawab pertanyaan Minhyuk, Seonju menarik sabuk yang mengikat di celana Minhyuk, kemudian pukulan-pukulan serta pecutan keras menghantam tubuh Minhyuk.

                 “Jaashik is !!”

           “APPA !! KEUMANEO jinjja apayo !!” Minhyuk meringis dan menutupi wajahnya dengan lengannya, berharap Seonju menghentikan serangan bertubi-tubi itu. dan derap langkah cepat terdengar menghampiri Minhyuk.

            “Yeoboo.. kemane..” Hyori memeluk tubuh Minhyuk erat, berusaha menghentikan suaminya.

            “ya !! Kang Minhyuk, ibumu mungkin akan selalu membelamu !!” Seonju  menghentikan pukulan dan pecutannya, menarik nafasnya dalam penuh beban. “tapi aku akan memberikan hukuman menerus untukmu jika kamu tidak mau berubah !!” cepat ia berbalik dan  meninggalkan anak serta istrinya.

            “Minhyuk-ah gwenccana?” Hyori mengangkat wajah Minhyuk dan menggencarkan pandangan khawatir, memegangi lengan, badan hingga kaki anaknya yang masih tersungkur di tempatnya.

            “hahaha, amma .. aish” Hyori menatap aneh pada Minhyuk. “na gwenccana amma, seperti yang tidak tau saja anakmu ini pemegang sabuk hitam taekwondo dan hobi berkelahi..” Minhyuk meniup rambutnya dan mengibaskannya.

            “aish jinjja !!” Hyori memukul kepala Minhyuk keras “kamu benar-benar Minhyuk-ah, dari mana saja kamu ini sudah jam tiga pagi Minhyuk-ah !!”

             “aku sudah dua puluh satu tahun amma ..” wajah Minhyuk memelas.


Karena ia merupakan anak satu-satunya, dari kecil kedua orang tuanya berusaha membentuk Minhyuk menjadi apa yang mereka mau, Minhyuk terlahir dari keluarga kaya raya, orang tuanya adalah pengusaha tekstil eksport-import dan seperti orang tua pada umumnya Seonju ingin anaknya meneruskan usahanya, sedangkan Minhyuk yang sudah beranjak dewasa mulai bertingkah memberontak, setiap malam ia mengendap-ngendap keluar rumah untuk mengikuti track liar di jalan raya yang kosong melompong, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan tertawa bahagia saat ia bisa membodohi polisi-polisi yang mengejarnya juga teman-temnannya. Atau sekedar beradu kemampuan dengan gangster dari wilayah lain, berkelahi lalu menang, walau kadan tubuhnya terluka karena sayatan pisau, namun menurutnya itulah caranya menikmati hidup, sebelum akhirnya ia akan tenggelam dalam ribuan arsip, kertas, komputer, telepon tanpa henti, perjalanan ke luar negri untuk kebutuhan bisnis hingga hidup bersama istri yang tentu saja sudah di rencanakan dan di atur oleh orang tuanya.

“tapi tetap saja kamu itu anaku !! darimana ku tanya Minhyuk-ah ?”

“na? hanya jalan-jalan sebentar menggunakan motor..” Hyori geleng-geleng kepala

“lain kali, jika kamu tertangkap basah lagi oleh appamu, aku tidak mau ikut campur, biar saja kamu habis di pukuli olehnya..”

“ah.. arraseo, amma aku ingin tidur.. lebih baik sekarang keluar..” Minhyuk bangkit dan mendorong ibunya lembut keluar dari kamarnya. Minhyuk menghempaskan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya kosong.

“Appa.. Amma .. saranghanda ..” bisiknya kemudian ia berusaha mengingat-ngigat apa yang sudah ia lewati selama dua puluh satu tahun dalam hidupnya. Diam-diam ia merasakan kepedihan dalam hatinya. Ia sama sekali tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, namun ia juga ingin menikmati hidupnya dengan caranya sendiri.

Sejak kecil, Minhyuk adalah anak yang penurut, ia mengikuti segala les dan kegiatan yang sudah di rencanakan oleh orang tuanya dengan baik dan teratur, hingga suatu hari saat usianya genap Sembilan belas tahun ia mendengar percakapan orang tuanya.


***

2 years ago ..

Seonju sedang menikmati kopi sambil bersantai membaca koran di gazibu halaman belakang rumah mereka yang ditumbuhi banyak bunga, hari liburnya memang selalu dihabiskan di tempat itu, di temani oleh Kim Hyori yang asik browsing gossip serta menu masakan baru lewat tabletnya.

“Yeobo..” Seonju melipat korannya, tiba-tiba wajah santainya berubah menjadi wajah cemas..

“wae Yeobo.. “ Hyori menyimak wajah Seonju seksama, mencoba membaca apa yang tersirat dalam kekhawatiran itu.

“anak kita, sudah menginjak usia yang cukup dewasa..”

“lalu..?”

“aku.. takut ..” Hyori kemudian mengerti apa yang di cemaskan oleh suaminya, pelan ia mendekati Seonju dan memeluknya erat dari belakang.

“ssst.. sudahlah.. sudah, dari awal kita sudah berjanji untuk tidak membahas apapun lagi..”

“tapi, jika dia tau keadaan yang sebenarnya..”

“Yeobo.. kemane..”

Minhyuk menyaksikan mereka dari dalam rumah kaca yang tidak jauh dari gazebo, ia sedang bermain dengan iguana peliharannya. Kemudian ia mencoba menelaah apa yang baru saja ia dengar.
“keadaan yang sebenarnya?” Minhyuk menggerutu sendiri sambil terus memperhatikan kedua orang tuanya.
                       
            “aku takut Minhyuk melarikan diri dan tidak menganggap kita orang tuanya lagi..”
            “Yeobo.. kemane.. sudah ku bilang untuk tidak membahas apapun lagi..”

            “dia berhak memilih mimpinya sendiri, berhak menentukan masa depannya sendiri, dia sama sekali tidak mewarisi sedikitpun  apa yang aku kehendaki, aku menyadari dia sangat membenci pekerjaanku.. aku takut, suatu hari dia menemukan kebenaran..”

               “Seonju-ah .. Minhyuk-ah adalah anak kita.. anak kita..”

           “aku sangat merasa bersalah ketika aku mengambilnya dari ibunya, memintanya untuk menemani kehidupan kita yang sangat sepi tanpa anak, dan sekarang aku merenggut haknya untuk bahagia di jalannya sendiri..”

            Airmata Seonju dan Hyori mulai meluber di pipi, Hyori menderita penyakit kangker rahim stadium satu saat ia mengandung anak pertama mereka, dan karena itu, Hyori terpaksa menggugurkan kandungannya, rahimnya di angkat karena akan sangat membahayakan nyawa Hyori, dan sejak saat itu, harapan untuk memiliki anak tidak mungkin terwujud, hingga pada akhirnya Seonju bertemu dengan seorang pelacur yang sedang menyusui anaknya di pinggir jalan pada malam natal saat ia hendak mencari hadiah untuk keponakan-keponakannya, tanpa pikir panjang, melihat kondisi peremupuan yang sekarat itu Seonju meminta Minhyuk untuk diasuh olehnya juga Hyori, dan pelacur itu menyerahkan Minhyuk dengan senang hati, karena ia tau ajal sebentar lagi menjemputnya. Setidaknya anaknya harus hidup sehat dan bahagia bersama orang yang tepat.


           Minhyuk mematung di tempatnya, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, pelan ia keluar dari rumah kaca, berharap orang tuanya tidak menemukan Minhyuk disana.


***

            Sejak hari itu, Minhyuk lebih sering menghabiskan waktunya di jalan raya, untuk sekedar menghilangkan beban hatinya, melepaskan amarahnya pada suara knalpot motor dan kecepatan tanpa batas, Minhyuk terlanjur menyayangi Seonju dan Hyori, dan ia menutup mulutnya untuk tidak mempertanyakan apapun tentang masalalunya, tentang siapa orang tuanya, karena akan lebih sakit jika ia harus menyusuri masalalunya sendiri. Dia mencoba mengubur semua rasa sakitnya lewat berkelahi, meluapkan amarah pada orangtuanya lewat pukulan-pukulan keji pada orang lain, karena semarah apapun Minhyuk pada Seonju juga Hyori ia tidak sanggup membenci mereka.

            Minhyuk memejamkan matanya, hingga akhirnya tenggelam dalam tidur yang nyenyak.


***

            Hyori menyiram satu gelas penuh airputih tepat di wajah Minhyuk siang itu.

            “ya !! bukankah kamu harus sekolah Minhyuk-ah ?!”

            “oh amma, aish .. shirroyo.. aku tidak mau..”
  
         “Oppa !!” suara khas yang sangat cempreng dan memekakan telingan itu membuat Minhyuk membuka matanya lebar-lebar.

         “oh my god !! setan sedang apa kau disini !!” Minhyuk bangkit dan menjauh ketakutan dari perempuan itu. Hyori kemudian melirik ke arah perempuan yang tau-tau mengikutinya dari belakang.

            “aish, Oppa.. aku ingin berangkat kekampus denganmu..”

            “ya !! amma, mengapa membiarkan nenek lampir ini masuk ke rumah kita?”
  
           “eh.. berani sekali menyebut Jiyeon nenek lampir” Hyori naik ke atas kasur Minhyuk dan menjambak rambutnya.. palli!! Jiyeon sudah menunggumu daritadi, cepat mandi dan berangkat kuliah..”

            “ahjumma kamsahamnida..” Jiyeon tersenyum senang saat Minhyuk tau-tau sudah masuk ke dalam kamar mandi.

            “ye ye..” Hyori memasang wajah malas ‘jih, jika saja kamu bukan anak partner kerja suami ku, aku tidak mau memaksa-maksa anaku untuk berduaan denganmu..’ Hyori kemudian berlalu cepat.


***


            Minhyuk meningglakan Jiyeon yang masih menonton tv di ruang keluarga rumahnya, buru-buru ia menyalakan mesin motornya.

            “oppa !! tunggu aku..”

            “waeyoo ish !!” Minhyuk kesal pada perempuan yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, termasuk jika tengah malam ia balapan motor di jalan raya, makhluk sialan ini selalu ada membuntutinya.

                 “Oppa.. ayo berangkat bersama, aku membawa mobil..”
            “shirro.. kamu saja sana berangkat naik mobilmu itu, aku mau naik motor..” Minhyuk menarik gasnya kencang dan membuat rumah itu gemuruh dengan suara knalpot dari motor Minhyuk..
      
                “Oppa..!!” Jiyeon menjerit saat Minhyuk sudah melesatkan sepeda motornya keluar dari pelataran rumahnya. “aigoo.. nappeun namja tsk tsk..” Jiyeon kemudian mengejar Minhyuk dengan mobil yang ia kendarai.
     
           “haaah lihat saja Oppa, aku tidak akan melepaskanmu, aku akan terus mengejarmu hingga kamu setuju untuk menjadi kekasihku..” ambisi Jiyeon bukan main-main sejak ia mengenal Minhyuk, ia tidak bisa menghentikan hatinya untuk memuja Minhyuk, ia mengikuti kemanapun Minhyuk pergi, dan mengklain Minhyuk adalah miliknya pada siapapun..

            “aiiiish.. mwoya jigeum? Ya !! Minggir dari jalanku !!” kerumunan orang di tengah jalan membuat mobil yang dikendalikan Jiyeon terhenti “ya !! yeorobun pabo yaa !! minggir kalian” Jiyeon terus membunyikan klaksonnya namun tak ada satupun yang menghiraukannya, hingga puluhan mobil berjejer macet di belakang mobil Jiyeon, penasaran akhirnya Jiyeon keluar dari mobilnya.

            Ia menerobos di balik punggung kerumunan orang-orang yang terlihat memucat dan histeris sambil berbisik-bisik di tempatnya. Saat mencapai bagian terdepan dari kerumunan orang-orang..

            “aaaaaaaaaaaaa Oppa !! Oppa !!” airmata Jiyeon pecah, wajah Minhyuk dipenuhi darah segar dan tubuhnya tergencet sepeda motor yang ia kendarai. Tidak jauh dari itu ada tubuh seorang gadis yang juga penuh dengan darah, dan suasana menjadi sangat riuh dan ramai setelah polisi dan ambulance berdatangan..




To be continued ..

please leave a comment :) on my twitter or my blog .. kamsahamnida ..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar