No
More Tears Formula
Chapter
4
Seohyun
– She is a Twinkle
Cast Plus :
Choi Siwon - Super Junior
Im Yoona - Girl's Generation
Seohyun Boyfriend
Ia masih memeluk tubuh Jungshin
kencang, mencoba menenangkan anak laki-laki yang sudah seperti adiknya sendiri
ini. Ia bisa merasakan betapa Jungshin terpukul dan takut kehilangan.
Seohyun ia bekerja baru satu tahun
di Seoul Hospital sebagai perawat, dan saat itu Jungshin sangatlah asing
baginya, laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya ini, bersikap sangat
dingin, tidak pernah berbicara pada siapapun, sangat misterius dan tidak
bersahabat. Dan saat itu juga Seohyun mengingat kejadian satu tahun lalu,
Jungshin menangis sama kencangnya seperti hari ini, dan tak ada satupun yang
bisa menyentuhnya.
***
Malam itu tidak ada perawat yang berjaga
di sekitar ruangan VIP, dan kebetulan Seohyun sedang piket malam, ia mendengar
suara tangisan tertahan dari salah satu ruangan, meski ragu Seohyun membuka
pintu kamar ruangan VIP satu-satu, saat ia membuka ruangan gelap atas nama
pasien Song Yoojin, ternyata ada anak laki-laki yang ia kenal bernama Jungshin
sedang menangis tertahan di ruangan itu,
sendirian.
“chogiyo..?” Seohyun melangkahkan
kakinya pelan..
“omma, irona.. katakan sesuatu
padaku..” Seohyun menyalakan sikring lampu, dan
saat lampu menyala terlihat jelas Jungshin sedang memegangi lengan
ibunya yang sudah lama menjalani perawatan di rumah sakit ini, airmata Jungshin
sudah meluber banyak sekali membasahi bajunya.
“Jungshin-ah.. waeyo..” Seohyun
buru-buru mendekati Yoojin dan Jungshin .. namun Jungshin tak menjawab malah
terus menangis.
“Yoojin-shi.. Yoojin-shi..”
perempuan itu hanya mengedipkan matanya.
“Jungshin-ah..” Seohyun tercekat,
pasien penderita ALS dalam masa kemasa akan mengalami penurunan kualitas
kesehatan dan kesadaran diri, hingga mereka akhirnya kehilangan detak jantung,
tak ada yang bisa dilakukan selalin berbaring.
“Omma.. katakan sesuatu.. katakan
padaku omma.. ommaaaa !!” tanpa berfikir panjang Seohyun mendekati Jungshin dan
memeluknya erat, sangat erat, saat itu untuk pertama kalinya Yoojin berhenti
berbicara, penyakitnya sudah menjalar hebat, dan kini ia hanya bisa berkedip
untuk mengatakan apa yang ia mau.
“Seohyun noona..” Jungshin mulai
terisak kencang “ottoke.. nan ottoke..”
“ssst.. tenang Jungshin-ah tenang..”
dan semalaman suntuk hingga Jungshin tertidur Seohyun menemaninya.
***
Dan hari ini sama, Jungshin terisak
pilu berada di ambang rasa cemas dan takut yang tak tertahan, Juniel mestilah
menjadi perempuan yang sangat berharga unutk Jungshin, Jungshin tidak pernah
menangis lagi setelah malam itu berakhir, dan untuk pertamakalinya dalam satu
tahun ia menangis lagi.
“Noona, ottoke.. noona..”
“Jungshin-ah.. aku akan mengikuti
oprasi untuk gadis itu, dan sekarang aku harus bersiap-siap.. kamu percaya pada
noona, hmm?” Seohyun melepaskan pelukannya dan menatap Jungshin. “Noona akan
memastikan gadis itu baik-baik saja, Juniel pasti akan baik-baik saja.. percaya
padaku..” Seohyun kini memegangi tangan Jungshin erat.
“aku percaya padamu noona.. Juniel
akan baik-baik saja..”
“kalau begitu tenangkan dirimu ya,
aku akan segera kembali.. arraseo?”
“n—ne ..” Jungshin kemudian mencoba
menenangkan dirinya sendiri, setelah lelah mondar-mandir di depan ruang oprasi
akhirnya ia duduk di ruang tunggu, menunggu hingga noonanya kembali dan
berharap dia mengatakan Juniel baik-baik saja.
***
Darah segar terus keluar dari kepala
juniel, dan beberapa tulang di tubuhnya retak bahkan patah, kecil kemungkinan
Juniel bisa selamat, denyut nadinya kian lemah, Seohyun hanya menonton dan
membantu proses oprasi itu sebisanya, yang ada dalam pikirannya adalah
bagaimana ia harus mengatakan kondisi Juniel pada Jungshin.
“dokter detak jantungnya semakin
melemah, dia kehabisan banyak darah, bagaimana ini?” Seohyun memeriksa tekanan
darah Juniel kemudian.
“segera lakukan transfusi darah..”
Seohyun mengangguk dan melakukan intruksi dari dokter. Berjam-jam berlalu
hingga akhirnya oprasinya selesai.
“Seohyun, bagaimana harus mengatakan
ini pada keluarga pasien..” Choi Siwon, dokter specialis tulang dan syaraf
membuka maskernya dan mencuci tangannya sambil mencoba berkomunikasi dengan
perawat muda itu.
“memang ada apa dokter..?” suara
Seohyun parau nyaris memudar.
“gadis ini, kemungkinan besar ..
kakinya .. tidak bisa dipergunakan lagi..” Seohyun terhenyak dan memandangi
Siwon dari belakang.
“o—ppa.. solma..” Siwon berbalik dan
memandangi adik perempuannya.
“ya.. dia akan lumpuh seumur
hidupnya..” Seohyuh terkejut hingga tubuhnya nyaris oleng tak tertahan,
buru-buru Siwon menahannya.
“waeyo Seohyun-ah? Bukankah kita
sudah sering menangani yang seperti ini?”
“oppa.. perempuan ini berbeda.. dia
sangat berharga untuk Jungshin.. dan Jungshin sangat berharga bagiku..” airmata
Seohyun mulai jatuh menetes di pipinya. Siwon menarik nafas panjang.
“miane Seohyun-ah.. hanya ini yang
bisa aku lakukan, dan yang lain pun sudah berusaha keras tadi..” Seohyun melepaskan tangan Siwon dari tubuhnya,
kemudian bergegas meninggalkan ruang oprasi.
***
Sebelum Seohyun menemui Jungshin ia
berkunjung ke ruang Juniel, ia masih belum melewati masa kritis, detak
jantungnya masih sangat lemah, entah untuk alasan apa, Seohyun memiliki naluri
yang sama dengan Jungshin, ada perasaan yang memaksanya untuk menyayangi gadis
ini, dan sebisanya berkompromi dengan hati untuk menjaga dan memperhatikan
gadis yang hidup dalam kesendirian Jung Junhee.
“Juniel-shi.. annyeong..” Seohyun
mengelus lembut telapak tangan Juniel yang penuh dengan jarum infuse dan alat
pendeteksi detak jantung.
“aku Choi Seohyun.. dan kau Jung Jun
Hee kan? Tentu aku tau, adiku menceritakan banyak tentangmu padaku..” Semakin
Seohyun mencoba berkomunikasi dengan Juniel, semakin dalam rasa sayang dan rasa
ingin melindungi hadir merungkupi relung hatinya dan semakin dalam pula rasa
sedih yang meradang merasuki batinnya.
“Juniel-ah.. aku akan menganggapmu
dongsaengku juga.. sama seperti Jungshin.. Jangan khawatir .. kamu tidak akan
sendirian lagi .. dan .. maafkan aku Juniel.. tidak ada yang bisa aku lakukan
selain menemanimu.. berapa lama kamu mengalami hidup yang sangat sulit
Juniel-ah? Coba bagikan segala keluh kesahmu padaku.. biar aku turut
merasakan..” dan Seohyun tak mampu
membendung airmatanya lagi.. “Juniel-ah.. bagi segala penderitaanmu padaku..
katakan semuanya..”
“Noona..” Seohyun mengalihkan
perhatiannya pada Jungshin yang ternyata sudah berada di ruangan yang sama
dengannya. “Noona.. Juniel otteo?” sambil melangkah pelan Jungshin mendekati
Seohyun.
“Juniel—mm ..” Seohyun buru-buru
menghapus bulir airmatanya, kemudian ia memandangi wajah Juniel yang terlihat sangat
damai dalam kritisnya. “gwenccana .. oprasinya berjalan lancar, kita tinggal
menunggunya sadar saja..” Seohyun tetap memandangi wajah Juniel, tak sanggup
menembus mata Jungshin, ia tidak bisa berbohong sama sekali, tapi kali ini, dia
tidak cukup kuat untuk melihat Jungshin kembali larut dalam keterpurukan.
“Jungshin-ah.. neon, jeongmal..
Juniel jhowahe?” Seohyun sambil mengelus-ngelus telapak tangan Juniel
memberanikan menatap mata Jungshin kali ini..
“mm noona..” Jungshin menangguk
yakin “aku ingin terus berada disisinya.. menjaganya.. entah untuk alasan
apa..”
“arraseo Jungshinnie.. aku juga akan
menjaganya untukmu.. setelah dia berhasil melewati masa kritis mari pindahkan
ruangannya ke dekat kamar omma-mu.. agar kita mudah sama-sama menjaganya..”
“kendae noona..” Suara Jungshin ragu
“berapa lama dia harus dirawat disini?”
“itu.. aku tidak yakin Jungshin-ah..
yang jelas aku akan membayar semua tagihan rumah sakitnya.. aku tidak akan
membiarkan Juniel sendirian” tukas Seohyun.
“ani noona, biarkan aku saja..”
“Jungshin.. uangmu sudah cukup untuk
membayar semua tagihan untuk omma-mu.. dan biarkan saja aku yang mengurusi
semua tentang Juniel.. arraseo?”
“noonaa..”
“ssst, tidak ada protes..” Seohyun
memukul kepala Jungshin, tidak ingin mendengar perlawanan apapun darinya.
“mm.. gomawo noona..” Jungshin
tesenyum mendalam menandakan betapa ia sangat berterimakasih pada Seohyun yang
senantiasa menjadi penolongnya dalam keadaan apapun, tapi kini masih saja
tersimpan rasa sedih melihat kondisi Juniel yang seperti itu, dan akhrinya
mereka berdua menangis bersama, untuk seorang perempuan yang mereka tidak tau
apakah mereka berhak menyayanginya seperti ini.
***
Sempurna. Itu saja, yang itu saja
kata yang sangat kuat melekat di diri Seohyun, lihatlah dirinya, tak ada
sedikitpun cacat dalam hidupnya. Seohyun tumbuh, besar dan hidupa dalam
keluarga besar yang hangat, ayah, ibu, dan seorang kakak yang amat ia sayangi.
Big Family Of Choi, dan dari seluruh anggota keluarga mereka semua memilih hidup
untuk mengabdi pada negri, Ayahnya adalah seorang tentara angkatan udara,
ibunya yang kini hanya menungguinya di rumah untuk pulang dari pekerjaan, dulu
bekerja sebagai pengajar untuk anak-anak keterbelakangan mental, kakanya Choi
Siwon adalah dokter di rumah sakit yang sama dengannya, dan untuk melengkapi
itu semua, ia memilih meniti karir sebagai seorang perawat, menjadikan
keluarganya sebagai keluarga yang bijaksana dan sangat menghargai sesame,
memiliki jiwa sosial yang tinggi juga kemampuan financial yang baik, banyak
orang sangat menghargai dan menghormati keluarga Choi, karena sikap mereka yang
sangat ramah juga penyayang terutama Seohyun, sesekali di waktu sengganya ia
menghabiskan waktu di panti asuhan atau bahkan panti jompo, memberikan sedikit
belas kasih dan kebahagiaan untuk orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. Dan
satu lagi yang membuat hidup Seohyun menjadi sangat sempurna, seorang kekasih. Meskipun
mereka jarang bertemu namun kekasih Seohyun melengkapi ruang kosong di hidupnya
dan menjadikanya sempurna.
Melihat dari sisi itu, maka siapa
yang tidak iri pada kehidupan Seohyun, keluarganya yang berkecukupan dan sangat
hangat serta harmonis, bahkan ia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Pula
di tunjang oleh penampilan fisik yang menawan. Menemukan fakta bahwa
disekelilingnya banyak orang yang tidak hidup dalam keberuntungan sepertinya,
ia meluluh, mencoba untuk masuk dan memperlajari rasa sakit atas ketidak
sempurnaan hidup mereka, Jungshin salah satunya, sebelum mengenal jauh tentang
Jungshin, Seohyun mengira hidupnya sempurna, hanya saja orang tuanya sakit,
ternyata tidak, setelah Jungshin menjelaskan bagaimana keadaan hidupnya yang
kacau balau, Seohyun mulai belajar untuk membagi kebahagiaannya pada Jungshin,
dan mulai belajar untuk merasakan penderitaan yang Jungshin alami.
Dan kini Juniel, ia tidak tau terlalu dalam tentang gadis itu memang. Ia
hanya tau sedikit cerita dari Jungshin, Juniel hidup sendirian setelah
ditinggal pergi kakaknya, juga neneknya, membayangkan di usia semuda itu hidup
sendirian sejak dua tahun yang lalu, bagaimana ia bisa melewati hari-hari
berat, dan Jungshin bilang bahkan gadis ini tidak pernah terlihat sedih.
Seohyun yang sedari kecil hidup dalam lingkungan keluarga hangat, di pelihara
dengan baik oleh ibunya dan neneknya di beri perlindungan nomor satu oleh ayah
serta kakaknya sama sekali tidak bisa membayangkan betapa kosongnya hidup
Juniel. Pedih.. sakit..
Setelah semalaman Seohyun menunggui
Juniel, dan pulang sebentar untuk berganti seragam dan kembali bertugas, pagi
ini Seohyun memutuskan untuk mendatangi pria yang menabrak Juniel dengan sepeda
motornya.
“namanya Kang Minhyuk, di ruangan
209..” setelah mendapat informasi dari sahabatnya, buru-buru Seohyun menuju
ruangan itu. disana terdapat dua orang tua Minhyuk dan satu gadis yang
sepertinya adalah kekasihnya.
“annyeonghaseo..” Seohyun membuka
pintu dan mulai menyapa keluarga Minhyuk dengan ramah. “anda Kang Minhyuk?”
“ne, Kang Minhyuk imnida..”
“waaah, beruntung sekali, aku Choi
Seohyun..” Seohyun membungkuk.
“anda perawat disini kan?” tanya Mr.
Kang
“ya, saya ingin memeriksa keadaan
Minhyuk-shi..” Seohyun mulai memeriksa Minhyuk sesuai dengan prosedur seorang
perawat meskipun seharusnya ini menjadi tugas perawat lain.
“oh, jhowahe.. Minhyuk hanya butuh
pemulihan sedikit, sepertinya kepalamu terbentur cukup keras ke jalanan dan
hanya di jait beberapa jaitan, begitu bukan Minhyuk-shi..” Sementara yang lain
diam memperhatikan perawat yang terus menerus bertanya Minhyuk merasa perawat
itu justru menyudutkannya ..
“n—ne .. nan gwenccanayo..”
“oh, kereomyo.. pasti kau baik-baik
saja..” nada Seohyun sedikit menyindir “dan sebentar lagi kamu bisa pulang..”
Seohyun merapikan kembali peralatan keperawatannya.
“baiklah kalau begitu, selamat
menikmati kesehatan dan hidup anda yang bahagia Minhyuk-shi.. selamat pagi..”
Seohyun berbalik dengan tampang dingin.
“cangkkeuman suster..” lalu Seohyun
berhenti
“ye—ada yang bisa saya bantu?”
“bagaimana keadaan Juniel-shi..”
“omo… kamu mengenal gadis yang kamu
tabrak Minhyuk-shi?” Seohyun mengangguk-anggukan kepalanya “kenalkan, saya Choi
Seohyun, Juniel adalah adiku..” Mr. dan Mrs. Kang terkejut seketika .
“ah jinjja?” gadis berambut panjang yang
terlihat seperti kekasih Minhyuk mulai angkat bicara.
“bagaimana keadaanya?” tanaya
Minhyuk lemah.
“Juniel? Hah..” Seohyun berkilah “selamat
karena anda Juniel tidak akan sanggup melangkahkan kakinya lagi..”
“MWO?” serentak mereka berempat bersuara
“aigoo, tsk tsk tsk, apa yang ingin
kamu lakukan Minhyuk-shi? Berpura-pura terkejut seperti itu..”
“jin—jja ? anda tidak berbohong Seohyun-shi
?”
“omoooo..” nada suara Seohyun
semakin meninggi “kereyo Minhyuk-shi saya hanya bercanda dan anggap saja anda
tidak pernah mendengarkan apa yang baru saja saya katakan, dan keluarga kami
sama sekali tidak membutuhkan batuan keluarga anda. Terimakasih, selamat
pagi..” Tergesa Seohyun keluar dari ruangan itu, tidak memberikan celah sama
sekali untuk mereka semua berbicara bahkan memberikan perlawanan atas sikapnya.
“jih.. bagaimana orang-orang itu
bisa begitu tenang setelah melihat Minhyuk yang bugar dan melupakan ada gadis
yang sudah anak sialan itu celakakan.. tsk tsk .. di dunia ini ada pula orang
yang seperti itu..” Seohyun berbicara pada dirinya sendiri.
“Noonaaaa!!”
“oh Jungshin-ah !! annyeong !!”
“noona-ya !! ikut aku..”
“waeyooo?” Jungshin keburu menarik
tangannya cepat. Dan mereka berhenti di depan ruangan Juniel yang kini
bersebrangan dengan ruangan Yoojin.
“mwoya? Juniel sudah melewati masa
kritisnya?” Seohyun buru-buru masuk ke ruangan Juniel, disana ada kakaknya yang
sedang memeriksa Juniel.
“selamat Junhee-shi anda sudah
melwati masa kritis anda” Siwon menepuk tangan Juniel lembut.
“dr.Choi..”
“oh Seohyun..”
“dia sudah sadar?”
“aniyo.. tapi dia sudah berhasil
melewati masa kritis, hanya butuh beberapa hari untuk membuatnya bangun dan
sadar..”
“jinjja? Oh.. taengida..” Seohyun
mengalihkan pangangannya pada Juniel yang terlihat masih pucat.
“baiklah kalau begitu aku serahkan
semuanya padamu Seohyun-ah..”
“oke oppa.. gomawo ..” Seohyun
tersenyum sambil mengiringi kakaknya berlalu dari ruangan itu.
“annyeonghaseo Juniel-ah..” tuturnya
lembut pada pasien yang masih belum membuka matanya itu. “Juniel-ah.. ayo
segera bangun, coba lihat disana.. ada yang sangat sangat sangat
sangaaaaaaaaaaaat menyukaimu..”
“noona-ya !! mwoya ish ..”
“aish.. jangan berlagak sombong,
masih mau main rahasia-rahasiaan? Tsk” Seohyun kemudian menarik tubuh Jungshin
untuk mendekat pada Juniel “Juniel-ah .. gomawo.. neomu gomawo .. kamu sudah merubah
makhluk ini menjadi lebih baik, mm .. gomawo ..”
“noona michosseo ?” Jungshin melirik
sinis pada Seohyun “bagaimanapun dia itu sedang tidak sadar, ah noona
benar-benar gila, sudah ah, aku mau menemani omma saja..” Jungshin melepaskan
tangan Seohyun yang mengait di bahunya, dan meninggalkan Seohyun sendirian di
kamar Juniel.
“ya !! ya !! Jungshin-ah?!” meskipun
tak jelas namun Seohyun melihat sesimpul senyum mengembang di wajah Jungshin “anak
itu betul-betul jatuh cinta pada Juniel.. hahah how great this is..” Seohyun
tersenyum puas melihat Jungshin juga Juniel pagi itu.
***
Kekasihnya adalah seorang pilot di
perusahaan penerbangan Korea ternama, usia mereka terpaut dua tahun, dan
Seohyun sudah menjalani hubungan dengan lelaki itu cukup lama. Saat mereka
masih sama-sama duduk di bangku kuliah, hari ini kekasihnya mendarat dan
berlibur di Korea, dan Seohyun harus menyisihkan waktunya untuk melepaskan
kerinduannya pada kekasihnya, tapi karena ia masih harus bertugas dan menunggui
Juniel, maka ia hanya bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk bersama
kekasihnya hari ini.
“yobseo oppa..” Seohyun mengangkat
sambungan telepon dari kekasihnya
“ne Seohyun-ah.. neon odisseo?”
“jigeum, nega..” kemudian Seohyun
menjelaskan bahwa ia sedang merawat pasien yang tidak memiliki keluarga, dan ia
masih harus menemaninya hingga Jungshin
pulang
“oh, arraseo jika memang tidak bisa
menemaniku.. aku yang kesana ya..”
“jinjjayo? Oppa jinjja?”
“ne Hyunnie.. aku tidak bisa menahan
rinduku berlama-lama..” kata-kata itu membuat Seohyun mengalami dehidirasi
perasaan, ia cukup haus akan kehadiran kekasihnya “sepertinya aku datang
bersama Yoona, dia juga merindukanmu..
“oh Yoona-ya !! jinjjayo Oppa?
Jinjja?”
“ne.. tunggu ya.. aku segera datang
dalam tiga puluh menit..”
“oppa gomawo.. saranghanda..”
“nado .. saranghanda..”
Yoona, gadis cantik itu merupakan
sahabatnya dari kecil, ia dan Yoona tinggal di komplek perumahan yang sama, mereka
menghabiskan banyak hari di masalalu, hingga Yoona memutuskan untuk menjadi
pramugari dan ia sering berada di satu pesawat dengan kekasihnya, Yoona sering
menghubunginya dan mengatakan bahwa kekasihnya sering frustasi jika sudah
merindukan Seohyun, Yoona dan kekasihnya adalah dua orang yang paling berharga
setelah keluarganya. Mereka istimewa lebih dari apa yang pernah Seohyun miliki
selama ini.
***
Seohyun menghalangi sinar matahari
yang mendarat tepat diwajahnya dengan kedua lengannya, menunggu kedatangan
kekasihnya juga sahabatnya. Di halaman Seoul Hospital, Seohyun sedikit gugup
juga tidak siap melihat kekasinya, kendati mereka sudah lama menjalani
hubungan, tetap saja selalu terselubung perasaan gugup saat ia harus berhadapan
dengan kekasihnya. Tak lama mobil sport berwarna hitam metalik terparkir dan
Seohyun sudah melambai-lambaikan tangannya bahagia pada pengemudi mobil itu.
Seohyun berlarian menghambur menghampirinya.
“Oppa..” kekasihnya menggunakan
kemeja motif kotak-kotak dan sengaja di lipat hingga sikutnya, membuka kacamata
yang ia gunakan, dan waw, tidak terlihat seperti seorang pilot karena rambutnya
dibiarkan cukup panjang, berbeda dengan pilot-pilot pada umumnya yang memiliki
rambut pendek.
“Hyunnie..” Seohyun langsung memeluk
kekasihnya, tidak peduli banyak orang yang sedang memperhatikan mereka,
kekasihnya balas memeluk Seohyun dan mengecup keningnya lembut.
“oppa.. bogoshipossoyo..”
“ya !! ish, mentang-mentang
sama-sama kangen, tidak lihat aku juga disini?”
“Yoona-yah !! Seohyun melepaskan
pelukanya dan berlari menuju sahabatnya
“uri Seororo..” Yoona mendaratkan
pelukannya erat pada Seohyun, begitupun sebaliknya. Hingga tanpa sadar airmata
mulai menetes, seiring dengan memori-memori masalalu yang berjalan dan memutar
di ingatan mereka masing-masing, Yoona memang begitu, karena Seohyun sampai
hari ini masih sangat mencintai keroro dan tamama, maka Yoona selalu
memanggilnya Seororo.
“bahagia sekali melihatmu lagi
Yoona-ah..”
“nado Seohyun-ah..”
“yaaaah, dan sekarang aku yang
terkena imbas, Yoona-ya kembalikan kekasihku..” Yoona mendelik ke arah kekasih
Seohyun dan kemudian, memutar tubuh Seohyun, mendorong Seohyun lembut pada
kekasihnya.
“Oppa, aku harus menunggui Juniel,
kalian berdua tidak ada jadwal kemana-mana kan? Aku ingin ditemani..”
“arraseo Seohyun-ah..” Yoona dan
kekasihnya menjawab bersamaan.
Sambil terus berjalan Seohyun
menceritakan tentang Juniel pada Yoona dan kekasihnya, tentang Jungshin juga
tentang kehidupannya yang berjalan sangat baik dan sempurna.
“dan kalian itu pelengkap hidupku,
gomawo.. aku bisa seperti ini hari ini, didalamnya ada campur tangan kalian
yang selalu menyayangi dan melindungiku..” Seohyun menatap kekasihnya juga
Yoona bergantian yang berdiri di kiri dan kanannya bergantian, bahagia melihat
wajah mereka nyata dan masih ada menemaninya hingga hari ini.
Seohyun membuka pelan kamar Juniel,
dan Jungshin ada disana, melihat Seohyun membawa tamu Jungshin kaget dan
bangkit.
“Jungshin-ah..”
“oh noona.. mereka—“
“dia kekasihku.. dan ini sahabatku..”
“annyeonghaseo.. Lee Jonghyun
imnida..”
“choneun.. Im Yoon Ah imnida..”
“oh, nan Lee Jungshin Imnida..
banggawosseo..”
“dan ini, Juniel.. Oppa.. Yoona
kenalkan..” Juniel masih belum sadar dan masih terbaring lemah di tempat
tidurnya.
Jonghyun tertegun kaget di
tempatnya, dan Yoona melihat gadis itu prihatin
“Seohyun-ah.. dia—“
“ne Oppa waeyo?”
“Jung Jun Hee..” alis Seohyun
bertemu di tengah menandakan ia bingung
“bagaimana oppa tau..” Jonghyun
menelan ludahnya.
“aku.. aku mengenalnya.. dia..
sepupuku..” mata Seohyun membesar hampir keluar dari wadahnya.. begitupun
dengan Jungshin. “ayahnya adalah adik dari ibuku..” Seohyun kemudian menemukan
sedikit binary dan harapan untuk Juniel, berharap Jonghyun bisa membantunya
mencari dimana keberadaan kakak kandung Juniel.
Meski tidak percaya, namun Jonghyun
meyakinkan dirinya, itu adalah saudara sepupunya yang menghilang sejak lama, ia
tinggal bersama nenek mereka yang juga tidak diketahui keberadaanya.
“Oppa.. bantu aku mencari dimana
keberadaan kakak kandungnya.. mm? otteo?”
Jonghyun mengangguk dan berharap ia
bisa menemukannya, Jung Yonghwa.
To
be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar