Kamis, 30 Agustus 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chap 4

No More Tears Formula
Chapter 4
Seohyun – She is a Twinkle 


Cast Plus :
Choi Siwon - Super Junior
Im Yoona - Girl's Generation
Seohyun Boyfriend 


           Ia masih memeluk tubuh Jungshin kencang, mencoba menenangkan anak laki-laki yang sudah seperti adiknya sendiri ini. Ia bisa merasakan betapa Jungshin terpukul dan takut kehilangan.
            Seohyun ia bekerja baru satu tahun di Seoul Hospital sebagai perawat, dan saat itu Jungshin sangatlah asing baginya, laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya ini, bersikap sangat dingin, tidak pernah berbicara pada siapapun, sangat misterius dan tidak bersahabat. Dan saat itu juga Seohyun mengingat kejadian satu tahun lalu, Jungshin menangis sama kencangnya seperti hari ini, dan tak ada satupun yang bisa menyentuhnya.

***

            Malam itu tidak ada perawat yang berjaga di sekitar ruangan VIP, dan kebetulan Seohyun sedang piket malam, ia mendengar suara tangisan tertahan dari salah satu ruangan, meski ragu Seohyun membuka pintu kamar ruangan VIP satu-satu, saat ia membuka ruangan gelap atas nama pasien Song Yoojin, ternyata ada anak laki-laki yang ia kenal bernama Jungshin sedang  menangis tertahan di ruangan itu, sendirian.         
            “chogiyo..?” Seohyun melangkahkan kakinya pelan..
            “omma, irona.. katakan sesuatu padaku..” Seohyun menyalakan sikring lampu,  dan  saat lampu menyala terlihat jelas Jungshin sedang memegangi lengan ibunya yang sudah lama menjalani perawatan di rumah sakit ini, airmata Jungshin sudah meluber banyak sekali membasahi bajunya.
            “Jungshin-ah.. waeyo..” Seohyun buru-buru mendekati Yoojin dan Jungshin .. namun Jungshin tak menjawab malah terus menangis.
            “Yoojin-shi.. Yoojin-shi..” perempuan itu hanya mengedipkan matanya.
            “Jungshin-ah..” Seohyun tercekat, pasien penderita ALS dalam masa kemasa akan mengalami penurunan kualitas kesehatan dan kesadaran diri, hingga mereka akhirnya kehilangan detak jantung, tak ada yang bisa dilakukan selalin berbaring.
            “Omma.. katakan sesuatu.. katakan padaku omma.. ommaaaa !!” tanpa berfikir panjang Seohyun mendekati Jungshin dan memeluknya erat, sangat erat, saat itu untuk pertama kalinya Yoojin berhenti berbicara, penyakitnya sudah menjalar hebat, dan kini ia hanya bisa berkedip untuk mengatakan apa yang ia mau.
            “Seohyun noona..” Jungshin mulai terisak kencang “ottoke.. nan ottoke..”
            “ssst.. tenang Jungshin-ah tenang..” dan semalaman suntuk hingga Jungshin tertidur Seohyun menemaninya.

***

            Dan hari ini sama, Jungshin terisak pilu berada di ambang rasa cemas dan takut yang tak tertahan, Juniel mestilah menjadi perempuan yang sangat berharga unutk Jungshin, Jungshin tidak pernah menangis lagi setelah malam itu berakhir, dan untuk pertamakalinya dalam satu tahun ia menangis lagi.
            “Noona, ottoke.. noona..”
            “Jungshin-ah.. aku akan mengikuti oprasi untuk gadis itu, dan sekarang aku harus bersiap-siap.. kamu percaya pada noona, hmm?” Seohyun melepaskan pelukannya dan menatap Jungshin. “Noona akan memastikan gadis itu baik-baik saja, Juniel pasti akan baik-baik saja.. percaya padaku..” Seohyun kini memegangi tangan Jungshin erat.
            “aku percaya padamu noona.. Juniel akan baik-baik saja..”
            “kalau begitu tenangkan dirimu ya, aku akan segera kembali.. arraseo?”
            “n—ne ..” Jungshin kemudian mencoba menenangkan dirinya sendiri, setelah lelah mondar-mandir di depan ruang oprasi akhirnya ia duduk di ruang tunggu, menunggu hingga noonanya kembali dan berharap dia mengatakan Juniel baik-baik saja.

***

            Darah segar terus keluar dari kepala juniel, dan beberapa tulang di tubuhnya retak bahkan patah, kecil kemungkinan Juniel bisa selamat, denyut nadinya kian lemah, Seohyun hanya menonton dan membantu proses oprasi itu sebisanya, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana ia harus mengatakan kondisi Juniel pada Jungshin.
            “dokter detak jantungnya semakin melemah, dia kehabisan banyak darah, bagaimana ini?” Seohyun memeriksa tekanan darah Juniel kemudian.
            “segera lakukan transfusi darah..” Seohyun mengangguk dan melakukan intruksi dari dokter. Berjam-jam berlalu hingga akhirnya oprasinya selesai.
            “Seohyun, bagaimana harus mengatakan ini pada keluarga pasien..” Choi Siwon, dokter specialis tulang dan syaraf membuka maskernya dan mencuci tangannya sambil mencoba berkomunikasi dengan perawat muda itu.
            “memang ada apa dokter..?” suara Seohyun parau nyaris memudar.
            “gadis ini, kemungkinan besar .. kakinya .. tidak bisa dipergunakan lagi..” Seohyun terhenyak dan memandangi Siwon dari belakang.
            “o—ppa.. solma..” Siwon berbalik dan memandangi adik perempuannya.
            “ya.. dia akan lumpuh seumur hidupnya..” Seohyuh terkejut hingga tubuhnya nyaris oleng tak tertahan, buru-buru Siwon menahannya.
            “waeyo Seohyun-ah? Bukankah kita sudah sering menangani yang seperti ini?”
            “oppa.. perempuan ini berbeda.. dia sangat berharga untuk Jungshin.. dan Jungshin sangat berharga bagiku..” airmata Seohyun mulai jatuh menetes di pipinya. Siwon menarik nafas panjang.
            “miane Seohyun-ah.. hanya ini yang bisa aku lakukan, dan yang lain pun sudah berusaha keras tadi..”  Seohyun melepaskan tangan Siwon dari tubuhnya, kemudian bergegas meninggalkan ruang oprasi.
***

            Sebelum Seohyun menemui Jungshin ia berkunjung ke ruang Juniel, ia masih belum melewati masa kritis, detak jantungnya masih sangat lemah, entah untuk alasan apa, Seohyun memiliki naluri yang sama dengan Jungshin, ada perasaan yang memaksanya untuk menyayangi gadis ini, dan sebisanya berkompromi dengan hati untuk menjaga dan memperhatikan gadis yang hidup dalam kesendirian Jung Junhee.
            “Juniel-shi.. annyeong..” Seohyun mengelus lembut telapak tangan Juniel yang penuh dengan jarum infuse dan alat pendeteksi detak jantung.
            “aku Choi Seohyun.. dan kau Jung Jun Hee kan? Tentu aku tau, adiku menceritakan banyak tentangmu padaku..” Semakin Seohyun mencoba berkomunikasi dengan Juniel, semakin dalam rasa sayang dan rasa ingin melindungi hadir merungkupi relung hatinya dan semakin dalam pula rasa sedih yang meradang merasuki batinnya.
            “Juniel-ah.. aku akan menganggapmu dongsaengku juga.. sama seperti Jungshin.. Jangan khawatir .. kamu tidak akan sendirian lagi .. dan .. maafkan aku Juniel.. tidak ada yang bisa aku lakukan selain menemanimu.. berapa lama kamu mengalami hidup yang sangat sulit Juniel-ah? Coba bagikan segala keluh kesahmu padaku.. biar aku turut merasakan..”  dan Seohyun tak mampu membendung airmatanya lagi.. “Juniel-ah.. bagi segala penderitaanmu padaku.. katakan semuanya..”
            “Noona..” Seohyun mengalihkan perhatiannya pada Jungshin yang ternyata sudah berada di ruangan yang sama dengannya. “Noona.. Juniel otteo?” sambil melangkah pelan Jungshin mendekati Seohyun.
            “Juniel—mm ..” Seohyun buru-buru menghapus bulir airmatanya, kemudian ia  memandangi wajah Juniel yang terlihat sangat damai dalam kritisnya. “gwenccana .. oprasinya berjalan lancar, kita tinggal menunggunya sadar saja..” Seohyun tetap memandangi wajah Juniel, tak sanggup menembus mata Jungshin, ia tidak bisa berbohong sama sekali, tapi kali ini, dia tidak cukup kuat untuk melihat Jungshin kembali larut dalam keterpurukan.
            “Jungshin-ah.. neon, jeongmal.. Juniel jhowahe?” Seohyun sambil mengelus-ngelus telapak tangan Juniel memberanikan menatap mata Jungshin kali ini..
            “mm noona..” Jungshin menangguk yakin “aku ingin terus berada disisinya.. menjaganya.. entah untuk alasan apa..”
            “arraseo Jungshinnie.. aku juga akan menjaganya untukmu.. setelah dia berhasil melewati masa kritis mari pindahkan ruangannya ke dekat kamar omma-mu.. agar kita mudah sama-sama menjaganya..”
            “kendae noona..” Suara Jungshin ragu “berapa lama dia harus dirawat disini?”
            “itu.. aku tidak yakin Jungshin-ah.. yang jelas aku akan membayar semua tagihan rumah sakitnya.. aku tidak akan membiarkan Juniel sendirian” tukas Seohyun.
            “ani noona, biarkan aku saja..”
            “Jungshin.. uangmu sudah cukup untuk membayar semua tagihan untuk omma-mu.. dan biarkan saja aku yang mengurusi semua tentang Juniel.. arraseo?”
            “noonaa..”
            “ssst, tidak ada protes..” Seohyun memukul kepala Jungshin, tidak ingin mendengar perlawanan apapun darinya.
            “mm.. gomawo noona..” Jungshin tesenyum mendalam menandakan betapa ia sangat berterimakasih pada Seohyun yang senantiasa menjadi penolongnya dalam keadaan apapun, tapi kini masih saja tersimpan rasa sedih melihat kondisi Juniel yang seperti itu, dan akhrinya mereka berdua menangis bersama, untuk seorang perempuan yang mereka tidak tau apakah mereka berhak menyayanginya seperti ini.
***
            Sempurna. Itu saja, yang itu saja kata yang sangat kuat melekat di diri Seohyun, lihatlah dirinya, tak ada sedikitpun cacat dalam hidupnya. Seohyun tumbuh, besar dan hidupa dalam keluarga besar yang hangat, ayah, ibu, dan seorang kakak yang amat ia sayangi. Big Family Of Choi, dan dari seluruh anggota keluarga mereka semua memilih hidup untuk mengabdi pada negri, Ayahnya adalah seorang tentara angkatan udara, ibunya yang kini hanya menungguinya di rumah untuk pulang dari pekerjaan, dulu bekerja sebagai pengajar untuk anak-anak keterbelakangan mental, kakanya Choi Siwon adalah dokter di rumah sakit yang sama dengannya, dan untuk melengkapi itu semua, ia memilih meniti karir sebagai seorang perawat, menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang bijaksana dan sangat menghargai sesame, memiliki jiwa sosial yang tinggi juga kemampuan financial yang baik, banyak orang sangat menghargai dan menghormati keluarga Choi, karena sikap mereka yang sangat ramah juga penyayang terutama Seohyun, sesekali di waktu sengganya ia menghabiskan waktu di panti asuhan atau bahkan panti jompo, memberikan sedikit belas kasih dan kebahagiaan untuk orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. Dan satu lagi yang membuat hidup Seohyun menjadi sangat sempurna, seorang kekasih. Meskipun mereka jarang bertemu namun kekasih Seohyun melengkapi ruang kosong di hidupnya dan menjadikanya sempurna.
            Melihat dari sisi itu, maka siapa yang tidak iri pada kehidupan Seohyun, keluarganya yang berkecukupan dan sangat hangat serta harmonis, bahkan ia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Pula di tunjang oleh penampilan fisik yang menawan. Menemukan fakta bahwa disekelilingnya banyak orang yang tidak hidup dalam keberuntungan sepertinya, ia meluluh, mencoba untuk masuk dan memperlajari rasa sakit atas ketidak sempurnaan hidup mereka, Jungshin salah satunya, sebelum mengenal jauh tentang Jungshin, Seohyun mengira hidupnya sempurna, hanya saja orang tuanya sakit, ternyata tidak, setelah Jungshin menjelaskan bagaimana keadaan hidupnya yang kacau balau, Seohyun mulai belajar untuk membagi kebahagiaannya pada Jungshin, dan mulai belajar untuk merasakan penderitaan yang Jungshin alami.
            Dan kini Juniel, ia tidak  tau terlalu dalam tentang gadis itu memang. Ia hanya tau sedikit cerita dari Jungshin, Juniel hidup sendirian setelah ditinggal pergi kakaknya, juga neneknya, membayangkan di usia semuda itu hidup sendirian sejak dua tahun yang lalu, bagaimana ia bisa melewati hari-hari berat, dan Jungshin bilang bahkan gadis ini tidak pernah terlihat sedih. Seohyun yang sedari kecil hidup dalam lingkungan keluarga hangat, di pelihara dengan baik oleh ibunya dan neneknya di beri perlindungan nomor satu oleh ayah serta kakaknya sama sekali tidak bisa membayangkan betapa kosongnya hidup Juniel. Pedih.. sakit..
            Setelah semalaman Seohyun menunggui Juniel, dan pulang sebentar untuk berganti seragam dan kembali bertugas, pagi ini Seohyun memutuskan untuk mendatangi pria yang menabrak Juniel dengan sepeda motornya.
            “namanya Kang Minhyuk, di ruangan 209..” setelah mendapat informasi dari sahabatnya, buru-buru Seohyun menuju ruangan itu. disana terdapat dua orang tua Minhyuk dan satu gadis yang sepertinya adalah kekasihnya.
            “annyeonghaseo..” Seohyun membuka pintu dan mulai menyapa keluarga Minhyuk dengan ramah. “anda Kang Minhyuk?”
            “ne, Kang Minhyuk imnida..”
            “waaah, beruntung sekali, aku Choi Seohyun..” Seohyun membungkuk.
            “anda perawat disini kan?” tanya Mr. Kang
            “ya, saya ingin memeriksa keadaan Minhyuk-shi..” Seohyun mulai memeriksa Minhyuk sesuai dengan prosedur seorang perawat meskipun seharusnya ini menjadi tugas perawat lain.
            “oh, jhowahe.. Minhyuk hanya butuh pemulihan sedikit, sepertinya kepalamu terbentur cukup keras ke jalanan dan hanya di jait beberapa jaitan, begitu bukan Minhyuk-shi..” Sementara yang lain diam memperhatikan perawat yang terus menerus bertanya Minhyuk merasa perawat itu justru menyudutkannya ..
            “n—ne .. nan gwenccanayo..”
            “oh, kereomyo.. pasti kau baik-baik saja..” nada Seohyun sedikit menyindir “dan sebentar lagi kamu bisa pulang..” Seohyun merapikan kembali peralatan keperawatannya.
            “baiklah kalau begitu, selamat menikmati kesehatan dan hidup anda yang bahagia Minhyuk-shi.. selamat pagi..” Seohyun berbalik dengan tampang dingin.
            “cangkkeuman suster..” lalu Seohyun berhenti
            “ye—ada yang bisa saya bantu?”
            “bagaimana keadaan Juniel-shi..”
            “omo… kamu mengenal gadis yang kamu tabrak Minhyuk-shi?” Seohyun mengangguk-anggukan kepalanya “kenalkan, saya Choi Seohyun, Juniel adalah adiku..” Mr. dan Mrs. Kang terkejut seketika .
            “ah jinjja?” gadis berambut panjang yang terlihat seperti kekasih Minhyuk mulai angkat bicara.
            “bagaimana keadaanya?” tanaya Minhyuk lemah.
            “Juniel? Hah..” Seohyun berkilah “selamat karena anda Juniel tidak akan sanggup melangkahkan kakinya lagi..”
            “MWO?”  serentak mereka berempat bersuara
            “aigoo, tsk tsk tsk, apa yang ingin kamu lakukan Minhyuk-shi? Berpura-pura terkejut seperti itu..”
            “jin—jja ? anda tidak berbohong Seohyun-shi ?”
            “omoooo..” nada suara Seohyun semakin meninggi “kereyo Minhyuk-shi saya hanya bercanda dan anggap saja anda tidak pernah mendengarkan apa yang baru saja saya katakan, dan keluarga kami sama sekali tidak membutuhkan batuan keluarga anda. Terimakasih, selamat pagi..” Tergesa Seohyun keluar dari ruangan itu, tidak memberikan celah sama sekali untuk mereka semua berbicara bahkan memberikan perlawanan atas sikapnya.
            “jih.. bagaimana orang-orang itu bisa begitu tenang setelah melihat Minhyuk yang bugar dan melupakan ada gadis yang sudah anak sialan itu celakakan.. tsk tsk .. di dunia ini ada pula orang yang seperti itu..” Seohyun berbicara pada dirinya sendiri.
            “Noonaaaa!!”
            “oh Jungshin-ah !! annyeong !!”
            “noona-ya !! ikut aku..”
            “waeyooo?” Jungshin keburu menarik tangannya cepat. Dan mereka berhenti di depan ruangan Juniel yang kini bersebrangan dengan ruangan Yoojin.
            “mwoya? Juniel sudah melewati masa kritisnya?” Seohyun buru-buru masuk ke ruangan Juniel, disana ada kakaknya yang sedang memeriksa  Juniel.
            “selamat Junhee-shi anda sudah melwati masa kritis anda” Siwon menepuk tangan Juniel lembut.
            “dr.Choi..”
            “oh Seohyun..”
            “dia sudah sadar?”
            “aniyo.. tapi dia sudah berhasil melewati masa kritis, hanya butuh beberapa hari untuk membuatnya bangun dan sadar..”    
            “jinjja? Oh.. taengida..” Seohyun mengalihkan pangangannya pada Juniel yang terlihat masih pucat.
            “baiklah kalau begitu aku serahkan semuanya padamu Seohyun-ah..”
            “oke oppa.. gomawo ..” Seohyun tersenyum sambil mengiringi kakaknya berlalu dari ruangan itu.
            “annyeonghaseo Juniel-ah..” tuturnya lembut pada pasien yang masih belum membuka matanya itu. “Juniel-ah.. ayo segera bangun, coba lihat disana.. ada yang sangat sangat sangat sangaaaaaaaaaaaat menyukaimu..”
            “noona-ya !! mwoya ish ..”
            “aish.. jangan berlagak sombong, masih mau main rahasia-rahasiaan? Tsk” Seohyun kemudian menarik tubuh Jungshin untuk mendekat pada Juniel “Juniel-ah .. gomawo.. neomu gomawo .. kamu sudah merubah makhluk ini menjadi lebih baik, mm .. gomawo ..”
            “noona michosseo ?” Jungshin melirik sinis pada Seohyun “bagaimanapun dia itu sedang tidak sadar, ah noona benar-benar gila, sudah ah, aku mau menemani omma saja..” Jungshin melepaskan tangan Seohyun yang mengait di bahunya, dan meninggalkan Seohyun sendirian di kamar Juniel.
            “ya !! ya !! Jungshin-ah?!” meskipun tak jelas namun Seohyun melihat sesimpul senyum mengembang di wajah Jungshin “anak itu betul-betul jatuh cinta pada Juniel.. hahah how great this is..” Seohyun tersenyum puas melihat Jungshin juga Juniel pagi itu.
***
            Kekasihnya adalah seorang pilot di perusahaan penerbangan Korea ternama, usia mereka terpaut dua tahun, dan Seohyun sudah menjalani hubungan dengan lelaki itu cukup lama. Saat mereka masih sama-sama duduk di bangku kuliah, hari ini kekasihnya mendarat dan berlibur di Korea, dan Seohyun harus menyisihkan waktunya untuk melepaskan kerinduannya pada kekasihnya, tapi karena ia masih harus bertugas dan menunggui Juniel, maka ia hanya bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk bersama kekasihnya hari ini.
            “yobseo oppa..” Seohyun mengangkat sambungan telepon dari kekasihnya
            “ne Seohyun-ah.. neon odisseo?”
            “jigeum, nega..” kemudian Seohyun menjelaskan bahwa ia sedang merawat pasien yang tidak memiliki keluarga, dan ia masih harus menemaninya  hingga Jungshin pulang
            “oh, arraseo jika memang tidak bisa menemaniku.. aku yang kesana ya..”
            “jinjjayo? Oppa jinjja?”
            “ne Hyunnie.. aku tidak bisa menahan rinduku berlama-lama..” kata-kata itu membuat Seohyun mengalami dehidirasi perasaan, ia cukup haus akan kehadiran kekasihnya “sepertinya aku datang bersama Yoona, dia juga merindukanmu..
            “oh Yoona-ya !! jinjjayo Oppa? Jinjja?”
            “ne.. tunggu ya.. aku segera datang dalam tiga puluh  menit..”
            “oppa gomawo.. saranghanda..”
            “nado .. saranghanda..”
            Yoona, gadis cantik itu merupakan sahabatnya dari kecil, ia dan Yoona tinggal di komplek perumahan yang sama, mereka menghabiskan banyak hari di masalalu, hingga Yoona memutuskan untuk menjadi pramugari dan ia sering berada di satu pesawat dengan kekasihnya, Yoona sering menghubunginya dan mengatakan bahwa kekasihnya sering frustasi jika sudah merindukan Seohyun, Yoona dan kekasihnya adalah dua orang yang paling berharga setelah keluarganya. Mereka istimewa lebih dari apa yang pernah Seohyun miliki selama ini.
***
            Seohyun menghalangi sinar matahari yang mendarat tepat diwajahnya dengan kedua lengannya, menunggu kedatangan kekasihnya juga sahabatnya. Di halaman Seoul Hospital, Seohyun sedikit gugup juga tidak siap melihat kekasinya, kendati mereka sudah lama menjalani hubungan, tetap saja selalu terselubung perasaan gugup saat ia harus berhadapan dengan kekasihnya. Tak lama mobil sport berwarna hitam metalik terparkir dan Seohyun sudah melambai-lambaikan tangannya bahagia pada pengemudi mobil itu. Seohyun berlarian menghambur menghampirinya.
            “Oppa..” kekasihnya menggunakan kemeja motif kotak-kotak dan sengaja di lipat hingga sikutnya, membuka kacamata yang ia gunakan, dan waw, tidak terlihat seperti seorang pilot karena rambutnya dibiarkan cukup panjang, berbeda dengan pilot-pilot pada umumnya yang memiliki rambut pendek.
            “Hyunnie..” Seohyun langsung memeluk kekasihnya, tidak peduli banyak orang yang sedang memperhatikan mereka, kekasihnya balas memeluk Seohyun dan mengecup keningnya lembut.
            “oppa.. bogoshipossoyo..”
            “ya !! ish, mentang-mentang sama-sama kangen, tidak lihat aku juga disini?”
            “Yoona-yah !! Seohyun melepaskan pelukanya dan berlari menuju sahabatnya
            “uri Seororo..” Yoona mendaratkan pelukannya erat pada Seohyun, begitupun sebaliknya. Hingga tanpa sadar airmata mulai menetes, seiring dengan memori-memori masalalu yang berjalan dan memutar di ingatan mereka masing-masing, Yoona memang begitu, karena Seohyun sampai hari ini masih sangat mencintai keroro dan tamama, maka Yoona selalu memanggilnya Seororo.
            “bahagia sekali melihatmu lagi Yoona-ah..”
            “nado Seohyun-ah..”
            “yaaaah, dan sekarang aku yang terkena imbas, Yoona-ya kembalikan kekasihku..” Yoona mendelik ke arah kekasih Seohyun dan kemudian, memutar tubuh Seohyun, mendorong Seohyun lembut pada kekasihnya.
            “Oppa, aku harus menunggui Juniel, kalian berdua tidak ada jadwal kemana-mana kan? Aku ingin ditemani..”
            “arraseo Seohyun-ah..” Yoona dan kekasihnya menjawab bersamaan.
            Sambil terus berjalan Seohyun menceritakan tentang Juniel pada Yoona dan kekasihnya, tentang Jungshin juga tentang kehidupannya yang berjalan sangat baik dan sempurna.
            “dan kalian itu pelengkap hidupku, gomawo.. aku bisa seperti ini hari ini, didalamnya ada campur tangan kalian yang selalu menyayangi dan melindungiku..” Seohyun menatap kekasihnya juga Yoona bergantian yang berdiri di kiri dan kanannya bergantian, bahagia melihat wajah mereka nyata dan masih ada menemaninya hingga hari ini.
            Seohyun membuka pelan kamar Juniel, dan Jungshin ada disana, melihat Seohyun membawa tamu Jungshin kaget dan bangkit.
            “Jungshin-ah..”
            “oh noona.. mereka—“
            “dia kekasihku.. dan ini sahabatku..”
            “annyeonghaseo.. Lee Jonghyun imnida..”
            “choneun.. Im Yoon Ah imnida..”
            “oh, nan Lee Jungshin Imnida.. banggawosseo..”
            “dan ini, Juniel.. Oppa.. Yoona kenalkan..” Juniel masih belum sadar dan masih terbaring lemah di tempat tidurnya.
            Jonghyun tertegun kaget di tempatnya, dan Yoona melihat gadis itu prihatin
            “Seohyun-ah.. dia—“
            “ne Oppa waeyo?”
            “Jung Jun Hee..” alis Seohyun bertemu di tengah menandakan ia bingung
            “bagaimana oppa tau..” Jonghyun menelan ludahnya.
            “aku.. aku mengenalnya.. dia.. sepupuku..” mata Seohyun membesar hampir keluar dari wadahnya.. begitupun dengan Jungshin. “ayahnya adalah adik dari ibuku..” Seohyun kemudian menemukan sedikit binary dan harapan untuk Juniel, berharap Jonghyun bisa membantunya mencari dimana keberadaan kakak kandung Juniel.
            Meski tidak percaya, namun Jonghyun meyakinkan dirinya, itu adalah saudara sepupunya yang menghilang sejak lama, ia tinggal bersama nenek mereka yang juga tidak diketahui keberadaanya.
            “Oppa.. bantu aku mencari dimana keberadaan kakak kandungnya.. mm? otteo?”
            Jonghyun mengangguk dan berharap ia bisa menemukannya, Jung Yonghwa.

To be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar