Rabu, 29 Agustus 2012

(YongSeo Featuring) - No More Tears Formula - Chapter 3


No More Tears Formula
Chapter 3
Jungshin – Love and Light ..



Cast plus :

Lee Jungshin
Song Yoojin - Jungshin Mother
Seoul Hospital Nurse - Jungshin Noona 


            Aku pernah mati, dalam kesendirian
            Tanpa cahaya, bahkan cinta ..
            Di dera hampa dan sakit yang membara ..
            Dan di ujung jalan, ku temui apa yang tak pernah ada sebelumnya ..          
            Love .. and .. Light ..

            Laki-laki itu menengadah ke atas langit, ia terjebak hujan diantara kerumunan orang-orang yang bersiap pulang, mereka semua berteduh di bawah atap halte bis, menunggu air yang dikirim Tuhan untuk berhenti jatuh dari langit, ada setitik harapan dari laki-laki bertubuh tinggi itu.
            ‘Hujan, mengalir bebas, datang dari laut, dan kembali ke laut dengan tenang, maka Tuhan buatlah segala keletihan ini hilang dengan tenang bersama hujan, agar aku selalu kuat mengikuti alur hidup yang telah kau anugrahkan..’
Lee Jungshin mempunyai banyak harapan dalam hidupnya, namun yang selalu ia minta adalah kekuatan, kekuatan untuk terus bertahan.
            Jengah dengan orang-orang yang mulai berdesakan di halte, Jungshin memilih memisahkan diri, ia sangat benci dengan keramaian, ia memilih membasahi tubuhnya dengan hujan daripada harus berdesak-desakan dengan manusia lain yang sama sekali tak ia kenal. Sambil melangkah pelan, ia memikirkan banyak hal, ia masih harus banyak belajar, bagaimana menikmati hidup, bagaimana cara bahagia, dan bagaimana untuk mensyukurinya.
            “ne, sunnim, lain kali datang lagi, dan jangan lupa bawa payung..” Jungshin menghentikan langkahnya. Kemudian intuisi itu membawa pandangannya berlabuh pada perempuan berbaju putih yang berdiri di depan toko bunga, gadis dengan senyum mengembang dan suara yang lembut.
            Tanpa sadar, kaki Jungshin melangkah mendekati perempuan itu, dan lengannya lembut membuka pintu bercat putih dan dipenuhi dengan kaca bening.
            “welcome sunnim, ada yang bisa saya bantu?”
            Untuk beberapa detik pertama Jungshin tidak  mengatakan apapun, bahkan matanya hanya terpaku pada wajah cerah gadis itu.
            “Juniel-ah, berikan aku seikat krisan..” seorang pelanggan yang asyik memilih bunga memanggil nama pemilik toko bunga ini.
            “oh, baiklah Oenni, tunggu sebentar..” gadis itu kemudian beringsut dari tempatnya cepat, mengambil beberapa tangkai bunga krisan dan kembali ke mejanya.
***
            Pagi ini, tepat lima tahun telah berlalu, sejak ia terbiasa menjejakan kaki disini, harum yang sama yang sangat ia benci, suasana yang sama yang tak pernah ia sukai, pelan ia melangkahkan kaki di setiap koridor gedung besar dan tinggi ini, lima tahun sudah berlalu, namun tak ada yang berubah sama sekali.
            Lee Jungshin, menginjakan kakinya letih di Seoul Hospital, ia sangat membenci rumah sakit, bau obat, dokter, dan perawat. Namun satu-satunya alasan untuk ia terus menerus menginjakan kakinya disini adalah, cahayanya.
            “annyeong omma..” Jungshin membuka pintu kamar pasien dan menyapa ibunya, yang baginya semakin hari semakin terlihat cantik.
            “omma.. apa semalam kau tidur nyenyak?” tak ada jawab.
            “mwo? Omma aku tau kau tidak menyukai bau rumah sakit, lalu apa yang harus aku lakukan?” tetap sunyi..
            Song Yoojin, menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tidak di ketahui penyebabnya, hanya saja perlahan satu persatu organ tubuhnya menjadi lupuh, lima tahun yang lalu, hanya kakinya saja yang tidak bisa di gerakan dan lima tahun kemudian, seluruh anggota tubuhnya mati.
            “mm omma.. aku akan melakukan apapun yang kamu mau.. biar aku pikirkan bagaimana agar ruangan ini tidak terlihat dan tidak tercium seperti rumah sakit..” Jungshin mengelus pipi Yoojin pelan dan lembut.
            “tapi, jangan menanyakan aboji padaku.. jika omma tau, mungkin omma akan bangun dan mencabik-cabik, mencakar bahkan membunuh perempuan yang kini sedang bercinta dengan appa..” suara Jungshin mulai bergetar, dan jangan tanyakan apapun tentang keluarganya, Jungshin akan berubah menjadi seseorang yang sangat dingin.
            “omma, aku harus berangkat kuliah, nanti aku kembali kesini.. jaga dirimu omma..” Jungshin meraih tas punggungnya dan mengecup kening Yoojin, kemudian meninggalkan ruangan itu.
***
            Jungshin mendapatkan segalanya yang ia mau, karena ia adalah anak dari pengusaha batu rubi kaya raya, namun hidupnya tak pernah lengkap, frustasi melihat ayahnya setiap malam berganti wanita, depresi melihat ibunya kini terbaring lemah di rumah sakit karena penyakit yang tak kunjung sembuh, tapi sebelum akhirnya sang ibu tidak mampu berbicara sama sekali, Yoojin sudah berkata bahawa Jungshin harus melanjutkan hidupnya dengan baik, harus membuatnya bangga dan tidak menunujukan ia lemah di hadapan siapapun, karena itu hingga kini Jungshin masih bertahan, melanjutkan kuliahnya.
            “Jungshin-ah..”
            “oh, noona .. anyeonghaseo..” Jungshin lalu membungkuk ketika salah seorang perawat memanggilnya dari jauh.
            “annyeong Jungshin-ah.. bagaimana omma-mu?”
            “seperti biasa, dia sangat baik noona..”
            “kamu mau berangkat kuliah?”
            “ne.. noona, bisa menjaga ommaku kan ?”
            “pasti, seperti biasa aku akan memberikan pelayanan terbaik untuk omma-mu ..” Perawat itu, sudah satu tahun menjadi perawat disini, karena usianya yang hampir seumuran dengan Jungshin, Jungshin merasa nyaman dan bisa berbagi banyak hal padanya, dan hanya perawat itu satu-satunya perawat yang bisa ia percaya untuk menemani Yoojin saat ia pergi.
            “kamsahamnida noona..”
            “belajar yang benar yaaaaa.. ibumu pasti akan sangat bangga jika kamu berhasil menjadi arsitek ternama..” Perawat itu menepuk-nepuk bahu Jungshin. Jungshin tersenyum.
            “ne—noona ..”
            Namun ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya, sesuatu yang ingin ia tanyakan, begitu asing dan menjengahkan, menyesakan namun begitu menyenangkan, Jungshin terus melangkah ragu, bagaimana dan pada siapa lagi ia harus bercerita selain pada perawat yang sudah ia anggap seperti Noonanya sendiri.
            “Noona..” Jungshin kemudian berbalik, dan perawat itu sudah bersiap dengan peralatannya di tangan.
            “oh ne..” Perawat itu sedikit berteriak, kemudia Jungshin berlari menghampirinya.
            “aku rasa, omma tidak menyukai bau rumah sakit, bagaimana caranya agar kamarnya tidak terlalu..” Jungshin garuk-garuk kepala ..
            “oh, arraseo.. mmm mungkin kamu bisa membeli bunga yang harumnya menyengat dan lembut, mawar misalnya atau apapun yang berbau alami dan menyengat, itu akan menghilangkan bau khas rumah sakit..”
            “bunga..” kemudian Jungshin teringat pada kejadian kemarin sore saat tau-tau tubuhnya sudah berada di dalam YJ Florist dan hanya tertegun memandangi gadis penjual bunga.
            “ye, bunga..”
            Walau sebenarnya bukan hal itu yang ingin Jungshin tanyakan, namun ia mengangguk mengiyakan pendapat noonanya.
***
            Pagi itu, Jungshin kembali menginjakan kakinya di YJ sebelum ia berangkat kuliah, dan gadis itu seperti biasa menyapa setiap pelanggan dengan sangat ramah dan sopan.
            ‘bagaimana cara tersenyum seperti itu? dan .. sepertinya ia sangat menikmati hidupnya..’ Jungshin berbisik dalam hatinya sendiri. Iri.
            “sunnim annyeonhaseo..” Juniel sudah berdiri di hadapannya dan membunguk “ada yang bisa ku bantu?” Jungshin masih membatu, kemudian garuk-garuk kepala.
            “agashi .. bisa tolong.. carikan bunga yang bisa membuat ruangan harum..” Juniel tersenyum.
            “anda bisa memanggil saya Juniel, seonsaengnim..” Juniel kemudian berjalan melewatinya, mengambil beberapa bunga dan menunjukannya pada Jungshin.
            “ini jika di padukan seperti ini akan cukup membuat ruangan menjadi harum, anda bisa menciumnya..” Jungshin menurunkan badanya yang jauh lebih tinggi dari Juniel, kaku mulai mencium bau dari bunga yang Juniel berikan.
            “oh ne .. tolong bungkuskan untuku..”
            “algesamnida sunnim..” Juniel mengambil peralatannya, cutter, pita, dan air serta peralatan yang Jungshin tidak tau namanya. Dengan cepat dan cekatan bunga itu sudah di bungkus dalam satu kertas.
            “olmana ige?”
            “7000 won sunnim..” Juniel menyerahkan bunga itu dengan kedua tangannya, dan menatap tepat di mata Jungshin.
            Deg .. deg ..
Buru-buru Jungshin mengeluarkan uangnya dan mengambil bunga yang sudah terbungkus rapi. Dan berjalan cepat keluar dari toko itu.
            Ia menekan dadanya dan menarik nafasnya cepat.
            “ige mwoya?” bisiknya .. pertamakali dalam hidupnya, ia merasakan jantungnya bergetar sangat cepat, membuat pipinya terasa sangat hangat.
***
            “Noona..” Jungshin terengah-engah saat ia membuka pintu ruangan ibunya, dan melihat Noonanya sedang menyisiri rambut Yoojin.
            “o Jungshin-ah .. bukanya kamu berangkat kuliah?” Perawat itu menatapnya kaget.
            “ige..” Jungshin memperlihatkan seikat bunga padanya, Noonanya mendekati Jungshin dan mengambil bunga yang ia bawa.
            “cangkeuman, gitarisseo Jungshin-ah, aku akan membawakan vas untuk bunga-bunga ini..” Jungshin mengangguk
            “noona keundae..”
            “kendae? Wae? Jungshin?”
            “bisakan mendengarkanku sebentar saja?”
            “ada apa Jungshin-ah?” Jungshin kemudian menarik Noonanya masuk ke ruangan itu.
            “noona.. saat aku melihat gadis penjual bunga itu, tiba-tiba saja jantungku berdebar sangat cepat, dan wajahku terasa sangat panas, aku khawatir aku tidak sehat, dan mungkinkan aku sakit?” Jungshin tergesa menceritakan apa yang ia rasakan, dan ia tahan sejak kemarin.
            “m—mwo ?” Perawat itu terkejut dengan apa yang Jungshin katakan.
            “hahahhaah, mwoya ige Jungshin-ah? Neon Jinjja mollaseo?” Noonanya terbahak kencang.
            “waeyo ? waeeee ?” Jungshin malah gelagapan bingung.
            “haaaah..” ia menarik nafas panjang dan mulai berhenti tertawa, memasang wajah serius selepasnya “biar aku jelaskan.. begini, sebelum kamu melihat gadis itu, perasaanmu biasa saja, seperti Jungshin yang dingin, tidak menyukai keramaian, dan bahkan sulit sekali untuk tersenyum..”
            “ne noona..”
            “kemudian, saat kamu bertemu dengannya, tiba-tiba jantungmu berdebar cepat, sangaaat cepat, jauh dari biasa, dan setelah itu, rasanya lututmu lemas, ingin berlari dan berjingkrak-jingkrak karena pipimu mulai menghangat, lalu lenganmu turut bergetar, satu sisi ingin bertahan melihat gadis itu, disisi lain ingin berlari untuk alasan yang tidak kamu ketahui? Benar kan?”
            “oh..” Jungshin tercekat
            “benar tidak?”
            “ne.. benar sekali rasanya seperti itu noona, aku merasa ada yang salah dengan diriku..” Jungshin memegangi tangan noonanya dalam ketakutan.
            “memang ada yang salah..”    
            “aku sakit noona?”      Jungshin semakin ketakutan
            “ne, kamu sakit ..”
            “ah jinjayo noona?”    
            “jinjja..”
            “penyakit apa?”
            “itu.. dinamakan..” pupil mata Jungshin membesar, wajahnya terlihat sangat penasaran.. “sindrom ..” Sang Noona memelankan suaranya, sementara Jungshin masih sangat penasaran diiringi rasa takut.
            “jatuh cinta..” kemudian ia terbahak setelah menyelesaikan kalimatnya.
            ‘jatuh cinta..’ Jungshin mengulang dua kata itu dalam hatinya.
            “auuuh, uri Jungshin, sudah mulai belajar jatuh cinta..” Noonanya menepuk-nepuk bahu Jungshin. “sudahlah, nikmati saja hari-hari mudamu itu Jungshin, noona mau mengambil vas untuk bunga-bunga ini..” ia berlalu dari hadapan Jungshin “oh iya, cepat segera berangkat sebelum kamu terlambat masuk kelas”
            Jungshin masih mematung, tidak mengerti dengan keadaan ini, perasaan hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, ia masih geleng-geleng kepala tidak mengerti, sulit untuk mencerna suatu kenyataan, dan memahami perasaan dirinya sendiri.
***
            Hari berganti bulan, rutinitas Jungshin berubah beriringan, sejak pagi itu dimulai, Jungshin tidak pernah melewatkan seharipun untuk datang menemui Juniel dan membeli beberapa tangkai bunga dari YJ.
            Sebelum ia bertemu dengan Juniel, Jungshin tidak pernah merasakan sesuatu yang hangat masuk ke dalam dadanya, ia terkenal dengan seseorang yang sulit di ajak bicara, tidak mudah beradaptasi dan sangat sukar untuk tersenyum, dilihat sebagai seseorang yang misterius di lingkukanganya. Namun ketika Jungshin bertemu dengan Juniel, ia merasa banyak hal yang berubah, meski tak nampak di permukaan, namun hatinya kini melemah, luluh pada satu orang gadis yang sederhana dan sangat ramah.
            “mm.. panggil saja aku Hae..”
            “ye ? hae?”
            “wae? Kereomyo.. haelbalagi?”
            Percakapan di pagi itu, adalah satu tahap peningkatan setelah berbulan-bulan tak ada percakapan lebih, selain percakapan normal antaran pembeli dan penjual, tapi pagi itu, Juniel tiba-tiba sangat mungkin untuk di raih, sangat nyata sangat dekat.
            ’karena aku ingin menjadi matahari yang menghangatkan harimu Juniel, karena aku ingin menjadi matahari yang tak pernah ingkar dalam berjanji, meski sederhana, janji untuk tidak pernah terlambat terbit dari timur dan tenggelam dari barat..’  Jungshin mendekatkan wajahnya pada wajah Juniel saat Juniel sedang merapikan bouqet bunga yang ia beli. Ia bisa melihat wajah Juniel memerah, ia terlihat sangat malu, namun Jungshin sangat menikmatinya.
***

            “omma..” Jungshin menutup pintu kamar itu setelah ia masuk ke ruangan bercat serba putih, di penuhi banyak bunga yang ia beli setiap pagi. Jungshin mengamit tangan Yoojin dan mengelus pipinya lembut.
            “apakah begini rasanya jatuh cinta? Omma, aku benar-benar menyukai gadis itu, dia memberi persaan baru yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya..”
            “apa? Omma cemburu?” Jungshin tertawa kecil.
            “ani omma, she is my love .. and you .. my light ..”
           
            Noonanya mendengarkan percakapan Jungshin diam-diam, kemudian ia tersenyum geli, yang ia tau, Jungshin adalah anak laki-laki yang sulit membuka hatinya, sulit sekali untuk menjadi sahabatnya, dan sekarang ada seorang gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta, tersenyum sangat sering dan banyak bercerita pada ibunya.
            “Jungshin-ah..” Perawat itu melangkah masuk.
            “oh noona..” Jungshin berdiri kemudian menarik satu buah  kursi dan menaruhnya di samping tempat tidur Yoojin..
            “marebwa..”
            “mwo?”
            “siapa gadis itu..? ah palli !! masa kamu mau menyembunyikan hal itu padaku? Tsk tsk keterlaluan..” belum sempat menjawab, binar wajah Jungshin sudah berubah cerah, gadis itu membawa perubahan hebat di hidup Jungshin, seperti pengusir badai yang bersarang sangat lama di dasar hatinya, peredam dendam dan benci pada situasi yang menghantam hidupnya sejak lama.
            “namanya Juniel, dia cantik dalam kesederhaannya noona..”
            “lalu?”
            “dia adalah penjual bunga di YJ Florist dan..” Jungshin terhenti, memikirkan apa lagi yang ia tau tentang Juniel, namun akhirnya ia terhenti.
            “dan?”
            “hanya itu yang aku tau..”
            “mwo?” Noonanya terkejut kemudian memukul kepala Jungshin
            “paboya !! seharusnya kamu tau dimana dia tinggal, bagaimana dia hidup, dan hal-hal penting lain, misalnya teman terdekatnya, keluarganya, itu akan memudahkanmu untuk mendekatinya Jungshin-ah !!” dia geram sendiri.
            “ah Noona-ah !! apayo” Jungshin mengusap-ngusap kepalanya “kendeu, kamu benar noona, aku harus mencari tau tentangnya..”
            “caranya?” perawat itu menatap Jungshin dengan tatapan menantang.
            “ah noona!!” Jungshin berdiri dari tempatnya kesal melihat tatapan itu “nan molla !!” dan kesal pada dirinya sendiri. Perawat itu cekikikan kemudian .
            “Jungshin-ah coba tanya pada ahjumma penjual ddokbuki di sebrang toko itu, dia pasti tau..”
            “hah?” Jungshin terkejut “bagaimana kamu tau noona?”
            “aku pulang selalu lewat kesitu Jungshin-ah, dan sesekali makan ddokbuki disana, mungkin ahjumma itu bisa membantumu..”
            “ah jinjja ?”
            “mm” Noonanya mengangguk yakin.
            “arraseo.. kalau begitu aku titipkan omma padamu ya noona? Nanti aku kembali lagi..”
            “ish.. jaashik..” perawat itu menatap Jungshin gemas, dan membiarkan ia berlalu dengan tampang cengengesannya yang sangat lucu.

***
            Ahjumma itu terlihat sangat sibuk, langit sudah mulai gelap, Jungshin berjalan pelan mendekatinya yang tengah mempersiapkan ddokbuki untuk pelanggan.
            “kau mau ddokbuki anak muda? Mari duduk..” ahjumma yang melihat Jungshin berdiri sambil memperhatikan ddokbuki panas menyapanya. Jungshin kemudian duduk di kursi plastik yang di sediakan untuk pelanggan.
            “berikan aku satu porsi saja ahjumma..”
            “arraseo..” ahjumma itu menyiuk satu gelas penuh ddokbuki untuk Jungshin, Jungshin menengok dan menjelajah dengan matanya, tempat ini belum pernah ia datangi, dan ahjumma itu, begitu asing, bagaimana bisa ia bertanya langsung tentang Juniel..
            “kendae.. sunnim..” ahjumma berbicara pada Jungshin walau lenganya sibuk mengelap meja-meja pelanggan yang sudah pergi.
            “na?” Jungshin memastikan
            “ye.. aku sering melihatmu, setiap pagi kau datang pada Juniel.. kau kekasihnya?”
            “mwo—a—ni—yo ahjumma..”
            “lalu?” meski tidak yakin, akhirnya Jungshin mencoba bertanya tentang Juniel
            “ahjumma, apa kau sangat mengenal Juniel..” Ahjumma itu kemudian duduk di hadapan Jungshin setelah selesai membereskan meja pelanggan.
            “kalau sangat, tidak juga.. tapi aku tau banyak tentang Juniel.. secara garis besar, dia itu sangat kesepian.. gadis itu baru berusia 19 tahun, dia tidak memiliki orang tua, dia bilang, sejak lahir ia tidak pernah melihat orang tuanya, hanya ada nenek juga kakak laki-lakinya. Tapi .. neneknya meninggal dua tahun lalu, dan kakaknya pergi ke luar kota tiga tahun yang lalu, hingga hari ini, dia tinggal sendirian..” kaki Jungshin bergetar mendengar cerita singkat dari ahjumma bertubuh gemuk itu.
            “tapi, Juniel menyembunyikan kesulitan hidupnya lewat senyumnya, lewat sapaanya yang sangat ramah.. dan tidak akan ada orang yang mengetahui kehidupannya yang sulit..” Jungshin kehilangan kata-katanya ‘bagaimana bisa.. sedangkan aku..’ ia marah pada dirinya sendiri, ia masih memiliki orang tua walau mereka berdua sperti sudah tiada, ia tidak harus bersusah payah bekerja, karena sudah diberi uang meski ia tak meminta, sedangkan Juniel? Gadis yang masih sangat muda itu.. Jungshin kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan perasaan kalutnya pada diri sendiri.
            “ahjumma.. bisa memberikanku alamat rumahnya..” ahjumma itu tersenyum
            “sepertinya kamu.. miane jika aku lancang sunnim, tapi  kamu menyukainya bukan?”
            “eh?” Jungshin gelagapan bingung harus menjawab apa..
            “baiklah, tunggu sebentar aku akan menuliskan alamatnya untukmu..”

            Jungshin mengusap dengan jarinya, selembar kertas bertuliskan alamat rumah Juniel telah di dapatnya.
            “Juniel-ah.. aku ingin melindungimu.. aku akan berada di dekatmu.. seperti aku menjaga omma.. aku berjanji..”

***
            Sebelum matahari naik, Jungshin sudah terlepas dari belenggu mimpi dan selimut hangat di rumah mewahnya, kemudian ia mengambil sebotol susu dari lemari pendingin, menghangatkannya di oven.
            “misi pertama.. memastikan kamu meminum ini, dan menjalani hari yang indah..” Jungshin tersenyum kemudian menulis beberapa kata di kertas kecil. Ia bergegas pergi tak menghiraukan para pelayan yang mencoba bertanya kemana ia akan pergi sepagi ini.
            Dirinya sendiri tidak menyadari banyak perubahan yang terjadi padanya, walau ia tetap bersikap sangat dingin pada orang-orang yang berusaha menyapanya atau mendekatinya, ia tidak terlalu suka memiliki banyak teman, ia sangat pilih-pilih dan alhasil tak ada satupun yang mau berteman denganya. Kali ini berbeda, Jungshin tidak bisa mengelak untuk jatuh cinta pada gadis itu.
            Jungshin menarik nafas panjang ketika tubuhnya sudah berada di depan pintu rumah bercat kuning ini, Jungshin menyimpan botol susu dan surat kecilnya, lalu mengetuk pintu rumah Juniel, sebelum akhirnya mengambil langkah seribu.
            Jungshin cengengesan sendiri melihat tampang polos juga lesu Juniel saat membuka pintu, dan menemukan satu botol susu hangat di sana, setelah Juniel kembali menutup pintu, Jungshin masih menungguinya, ia ingin memastikan gadis itu benar-benar menjalani paginya dengan baik, dan setelah Juniel kembali keluar dan siap berangkat, Jungshin baru meninggalkan tempat itu.
***
            “cangkeuman !!”
            “ya ini saya ..”
            Perawat itu kebingungan, kenapa Jungshin bisa menjadi perwakilan keluarga gadis yang baru saja dihantam motor dengan luka yang sangat parah..
            “jungshin-ah !!” Jungshin berbalik
            “oh noona!!”
            “ada apa?”
            “noona, itu juniel noona..” Jungshin rubuh dan memeluk tubuh Noonanya kencang, ia tidak bisa menjelaskan perasaan takutnya, untuk kedua kali dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan, ia sangat takut kehilangan Juniel.
            “gwenccana Jungshin-ah.. gwenccana.. semua akan baik-baik saja..”
            “noona, dia tidak memiliki siapa-siapa.. noona..” Jungshin mulai meraung dalam tangis yang memecah. Sementara Noonanya terus berusaha meyakinkan Jungshin, semua akan baik-baik saja.
            “kemana aku harus mencari kakaknya.. siapa dia.. siapa namanya..”
            Noonanya hanya terus menepuk-nepuk bahu Jungshin yang masih shock dengan kejadian ini, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu.

To be continued ..

1 komentar:

  1. Mimi..Chuaaaa.. Demen d bacanya setiap chapter punya cerita dari sudut pandang msg" cast!! ;) Jdnya kita bs ngerasain smua perasaan mrk satu per satu. Good job, Mi!! Aku ga sabar nunggu lanjutannya.. Ayo kebuttt!! "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ Eniwei, sepetinya YH itu kakaknya Juniel ya?? Hihihi.. Nunggu crt YH n JH nih, ada kan ada kan mrk?? ;p

    BalasHapus