Rabu, 11 Juli 2012

(FanFiction) Yongseo - Jalan yang Berputar Ending



Beautifull Yongseo Life - Ismi Nuraulia.R

Jalan yang berputar Ending

Cast :

1. Jung Yonghwa
2. Seo Joohyun
3. Lee Jonghyun
4. Im Yoon Ah
5. Park Jiyeon
6. Park Minji









             Ahjuma menatap lesu Yonghwa yang turun dengan airmata yang masih menetes, dia tahu gadis kecilnya tak akan mudah memaafkan Jung Yonghwa..

            “ahjuma.. mianhamnida, aku sudah menyakiti anakmu” ahjuma menghela nafas.. dia menepuk bahu Yonghwa

            “nak.. jika kamu menemukan yeoja yang benar-benar kamu cintai, jangan lakukan hal yang sama, aku tidak bisa membantu lebih, jika itu keputusan Seohyun aku tidak bisa apa-apa”

            “ne ahjuma, ini semua sudah sangat cukup.. kamsahamnida sudah memberiku kesempatan untuk menemui anakmu, aku pamit..”

            “hujannya masih sangat deras nak..”

            “gweonccana ahjuma, diam disinipun tak akan mengubah apapun, sekali lagi terimakasih” Yonghwa membungkuk dan segera pergi dari rumah Seohyun.


***

            “kamu hanya membohongi dirimu sendiri, kenapa harus bohong sih?” Jonghyun menatap Yeoja yang tersungkur di lantai dari atas ranjang milik Seohyun.

            “aku hanya tak mau terluka lagi”

            “lalu kamu pikir menghindarinya akan membuat lukamu habis? Dengar, dia sungguh-sungguh meminta maaf padamu, kurang sungguh-sungguh apalagi sih? Hujan deras begini dia mau datang hanya untuk meminta maaf?” Seohyun tertegun seketika “ya.. kita tidak pernah diajarkan amma untuk menjadi seorang pembohong dan pendendam, jika kamu mencintainya jangan berbohong, itu hanya akan menyakiti hatimu sendiri!!”

            “lalu aku harus bagaimana Jonghyun? Hah ottokajeo hah ?!” emosi Seohyun kembali menggelegar

            “kejar dia..” tutur Jonghyun lembut, bangkit dan menunjuk keluar rumah, dada Seohyun naik turun dalam tangisnya yang sederas hujan, Jonghyun benar.. berbohong dan menghindar hanya akan membuat lukanya tambah dalam tanpa pikir panjang Seohyun berlari kencang, mengejar cintanya dan menggapai apa yang ia mau.

            “kejarlah kebahagiaanmu itu Seohyun..” Jonghyun tersenyum lega ..

            Ibunya terkejut saat melihat Seohyun berlari kencang keluar rumah, diikuti dengan langkah ringan Jonghyun yang tersenyum bangga.

            “aku hebat ya ? bisa membuatnya berubah fikiran..” ahjuma menatap Jonghyun dengan rasa kagum dan bangga luar biasa, lalu ia mengacungkan kedua jempolnya.


***
            Langkah Yonghwa gontai beriringan dengan hatinya yang remuk redam ia meremas dadanya ‘aku memang bodoh saat sesuatu  yang besar berada diatas puncak gunung aku terus mengejar mendaki walau terjatuh hingga terluka, ternyata yang kutemukan hanyalah bongkahan batu besar yang memberatkan, tapi aku tak menghiraukan benda kecil yang berkilauan di depan mata, aku kehilangan mutiaraku, sesuatu yang kecil namun sangat berharga’

            “ya!! Jung Yonghwa!!” Yonghwa mengangkat kepalanya dan membalikan badannya ke arah suara yang memanggilnya.

            “Seohyun..?” ia setengah tidak percaya

            “kamu pikir kamu bisa meninggalkanku begitu saja hah?” Yonghwa kebingungan dan masih tidak mengerti dengan keadaan ini Seohyun berlari di tengah hujan, kemudian membiarkan tubuhnya berhenti untuk memeluk Yonghwa erat.

            “jangan tinggalkan aku  lagi Yonghwa.. mianhe, tadi aku benar-benar emosi.. jeongmal.. sarangheo..” Yonghwa merasakan jantungnya bergetar hebat, ini semua tak bisa dipercaya ia tersenyum lega setelah beberapa detik merasakan mati seketika, lalu ia membalas dekapan Seohyun..

            “ne, aku tak akan meninggalkanmu lagi Seohyun, aku tak mau kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidupku..” Yonghwa melepas pelukannya, lalu memegangi kedua belah pipi Seohyun menatap matanya dalam-dalam..

            “sarangheo   Seohyun..” tiga kata itu.. sangat tulus terlontar dari mata dan bibir Yonghwa, Seohyun tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia yang tak pernah terkira akan datang seperti ini, Yonghwa menarik Seohyun lembut, lalu menciumnya, di tengah hujan deras, di sore yang terasa terlalu indah..

            “mwo? anaku dicium? “ ahjuma dan Jonghyun menyaksikan adegan demi adegan dari dalam rumah.

            “ah kamu itu amma, Seohyun sudah besar tak usah kaget seperti itu, romantis bukan?” Jonghyun merangkul ahjuma sambil tersenyum puas bangga akan dirinya sendiri

            “ya!! Aigoo, putriku ternyata memang sudah besar..” rasa haru di batin sang ibu terus mendera saat menyadari betapa putri kecilnya sudah beranjak dewasa “tapi benar, adegan ini persis seperti di film-film bahkan sangat romantis, aaaah aku jadi merindukan suamiku” Jonghyun tak menjawab ‘akhirnya kamu mendapatkan kebahagiaanmu Seohyun..’


***

            Yoona menangis tersedu, selain karena cerita romantis Seohyun, juga karena ramen yang ia pesan sangat pedas.

            “hmm, itu adalah hari paling indah yang pernah aku alami seumur hidupku” Seohyun bernafas lega sambil terus mengusap airmata yang mengalir dari kedua belah matanya.

            “wah, aku benar-benar tidak menyangka kisahmu dengan Yonghwa Oppa serumit dan seindah itu..” Yoona ikut menyeka airmatanya, Seohyun terbahak melihat ekspresi Yoona yang sangat lucu.

            “ceritanya masih belum selesai, tapi hari sudah mulai gelap, besok saja aku lanjutkan ceritaku ya?”

            “ne.. arraseo..” Yoona sedari tadi hanya mengangguk setuju.


***
            Klakson sepeda motor Jonghyun memecah sepi di pagi buta, Seohyun masih terbalut dalam selimut ditemani mimpi indahnya dan dia tidak menghiraukan kegaduhan apapun yang terjadi di dalam maupun di luar rumahnya. Jonghyun menerobos masuk ke rumah bercat serba putih itu.

            “amma, mana Seohyun? Jonghyun menghampiri ahjuma yang tengah sibuk membaca majalah dan menyeruput segelas teh hangat

            “kamu seperti tidak mengenal dia saja Jonghyun”

            “aish, hari ini dia ada jadwal pagi amma!!”

            “yah, bangunkan saja olehmulah, amaa tak mau ambil repot”

            “ish.. yasudah aku naik dulu”

            “ne” Ahjum  mengalihkan perhatiannya dari majalah yang ia baca, Jonghyun terlihat sangat tampan dan segar, menggunakan kaos berwarna putih dilapisi jaket kulit dan jeans berwarna hitam, “sudah seperti leader genk motor saja..” batin sang ahjuma.

            Jonghyun tak melepas sepatunya juga sarung tangannya bahkandia membawa serta helmnya, ia membuka pintu kamar yang bertuliskan ‘Seohyun is available’ itu cepat.

            “ya!!   Seohyun kamu ada jadwal kuliah pagi, cepat bangun!!” Seohyun hanya bergumam tak jelas, Jonghyun meletakan helmnya dan menarik selimut Seohyun.

            “ya!! Cepat bangun”

            “aigoo, jangan mengganggu tidur indahku yebo”

            “ish cepat bangun bodoh !!” Jonghyun menggetar-getarkan tubuh Seohyun, mata Seohyun masih saja tertutup rapat, Jonghyun terpaksa naik ke tempat tidur dan menarik kedua lengan Seohyun, dengan lemah Seohyun bangkit namun…..

            “up..” Jonghyun melongo saat mata bundar Seohyun yang masih terpejam tepat berada di depan matanya, mereka resmi berciuman, lengan Seohyun masih dipegan kencang oleh Jonghyun, karena jika tidak ia akan jatuh ambruk ke lantai, dan saat Seohyun membuka mata ia tak kalah terkejut, mereka spontan melepaskan diri.

            “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” mereka berteriak histeris bersamaan dan menggosok-gosok bibir mereka, saat mata mereka kembali bertemu

            “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” mereka kembali berteriak.

            Amma berlari dari bawah, penasaran denga apa yang terjadi di lantai atas

            “ya!! Ada apa dengan kalian?” Seohyun dan Jonghyun terperanjat saat amma tiba-tiba menghampiri mereka, Seohyun dan Jonghyun sama-sama beraksi bisu denan wajah yang sama-sama hampir menangis.

            “eeeeh orang tua bertanya malah sama-sama diam yasudahlah, Seohyun cepat mandi!! Jonghyun bilang kamu ada jadwal pagi” amma menarik lengan Seohyun, tubuhnya betulan lesu.

            “aku menunggu dibawah ya..” Jonghyun membuka suara sambil melengos berusaha terlihat santai.
Seohyun menangguk.


***

            Seohyun dan Jonghyun sama-sama diam sepanjang jalan menuju kampus, mereka sama-sama malu dan canggung.

            “kenapa kamu diam Seohyun?”

            “apa yang sebenarnya kamu lakukan tadi Jonghyun?”

            “ish jangan menyangka yang tidak-tidak!!”

            “huaaaaa, kenpa kamu menciumku?!” Seohyun berteriak-teriak sambil memukuli punggung Jonghyun

            “jangan berteriak bodoh!! Nanti satu kampus heboh mendengar apa yang baru saja kamu katakan!!” sepeda motor Jonghyun sudah memasuki pelataran kampus

            “ngggggg” Seohyun mengerang seperti anak kucing yang kelaparan kemudian turun dari sepeda motor besar keluaran terbaru milik manusia paling ganteng yang memilih hidup menjomblo itu.

            “ ya ya ya !! jangan membuat ekspresi seperti itu!! Semuanya tidak sengaja Seohyun, lupakan saja dan anggap tidak pernah terjadi, arra ?!”

            “ne, arraseo” Seohyun mengangguk lemah

            Yoona mengamati sahabat dan sahabat dari sahabatnya itu dari kejauhan, hatinya berdetak kencang ketika Jonghyun membuka helmnya dan merapihkan potongan rambutnya, ia Nampak begitu segar dan bercahaya.

            ‘aigoo, Seohyun benar, sahabatnya yang satu itu memang tampan sekali..’ “hah ?! apa yang aku pikirkan? Makhluk itu sangat menyebalkan ish!! Yoona pabo !!” Yoona memukul-mukul kepalanya.

            “ya!! Im Yoona!” Seohyun memanggilnya sambil berjalan berasama Jonghyun menghampirinya.

            “annyeong” Yoona tersenyum lebar saat mereka sudah mendekat

            “pagi-pagi bertemu dengan mu pasti aku akan sial!”

            “ya!! Ikan sarden siapa yang ingin bertemu denganmu?”

            “kalian itu setiap bertemu tidak bisakah untuk sedikit akur?”

            “tidak!” mereka menjawab  serentak

            “kalian harus ingat apa kataku kemarin”

            “ya! Andweyo itu tidak mungkin” lagi-lagi mereka menjawab bersamaan lalu mereka saling menatap tajam Seohyun terbahak

            “sepertinya kalian jodoh” Seohyun berkata ringan sambil meninggalkan kedua sahabatnya.

            “Seohyun, tunggu aku!” Yoona mengikuti langkah Seohyun sambil menjulurkan lidah pada Jonghyun, dan Jonghyun hanya mendelik dan berpaling.

            ‘makhluk itu sebenarnya sangat manis, namun sayang sikapnya seperti monster’

            Langkah Seohyun tiba-tiba berhenti saat ia menemukan wajah tampan seorang namja yang bernama Jung Yonghwa, ia membalikan badan dan berjalan ke lain arah, Yoona kebingungan namun sedetik kemudia ia menyadari namja yang sekarang berdiri tepat dihadapannya adalah namja yang paling Seohyun hindari.

            “annyeonghaseo sunbae..” Yoona menebar senyum yang canggung

            “annyeonghaseo” balasnya datar, kemudian Yoona berbalik, saat ia akan memanggil Seohyun tiba-tiba “  Seo joo hyun” Jung Yonghwa memanggilnya lebih dulu, Yoona mematung di tempatnya, sedangkan Yonghwa mengambil langkah seribu mengejar punggung Seohyun.
       
            “wah, apa yang akan terjadi ya?”

            “kita tonton saja”

            “ya kita tonton saja.. eh mwo?!” Yoona terkejut saat melihat namja yang kini menempatkan sikutnya di bahu Yoona

            “apa yang kamu lakukan disini Jonghyun?”

            “tidak ada” jawabnya santai. “hanya ingin menonton mereka”  telunjuk Jonghyun mengarah pada Yonghwa yang kini meraih tangan Seohyun. Lagi-lagi jantung Yoona berdebar lebih kencang saat namja ini  berada di dekatnya, bahkan ini terlalu dekat.

            “santai saja Yoona, aku tak akan menciumu” Jonghyun menyadari  perubahan bahasa tubuh  Yoona.

            “ya!! Singkirkan tanganmu itu” Yoona menagkis sikut  Jonghyun, dan Jonghyun tak melawan kini mereka memfokuskan konsentrasi pada Yonghwa dan Seohyun.


***

            Seohyun menghela nafas sebelum membalikan badanya pada namja yang sudah resmi menjadi 
mantan kekasihnya enam bulan lalu.
            “ne sunbae? Ada yang bisa aku bantu?” Yonghwa mematung, ekspersi wajah Seohyun sangat asing dan tak dikenalnya sama sekali ekspresi itu tidak pernah terlihat dan bukan Seohyun yang ia kenal, hingga ia tidak bisa meneruskan kata-katanya.

            “kalau tidak ada, aku permisi ya, annyeonghaseo” Seohyun melepaskan genggaman tangan Yonghwa pelan, lalu berlalu meninggalkannya ‘seharusnya dia sadar, sekarang dia sudah punya kekasih yang sempurna’ Seohyun menahan sesak dalam dadanya, Yonghwa memandangi punggung kelam yeoja yang masih kokoh mengisi hatinya, kendati sudah ada penggantinya, namun ingatan dan perasaan Yonghwa tak pernah berpaling atau berhenti tercurah untuk Seohyun.

            Andai kau sadar arti pelitamu
            Tak akan kau garisi jarakmu dengan aku
            Karena kita Satu
            Andai kau tau*


                                                                        (dikutip dari novel dewi lestari ‘Petir’)


            Yonghwa tersendat, ia tak pernah mengerti mengapa Seohyun pergi dari hidupnya.


***

            Tak ada yang bisa mengalahkan pesona langit siang menjelang sore, panasnya tak menyengat malah cenderung menjadi penghangat, Lee Jonghyun memakai kacamata hitam sambil merebahkan tubuhnya diatas rumput, ingatannya tentang seorang yeoja yang sangat ia cintai terus berputar seperti sebuah film di otaknya.


            ‘aku memutuskan untuk sendiri seumur hidupku ini
            Karena senyumu mengikuti langkahku
            Karena tawamu mengunci hatiku
            Karena kamu tlah membawa cintaku
            Dan tak mengizinkanku membawanya kembali
            Andai kamu tau
            Cahayamu tak pernah redup dalam hati ini..

            Seseorang menjatuhkan tasnya dan duduk bersila disebelah Jonghyun, Jonghyun membuka kacamatanya dan menoleh.

            “Yonghwa? Sedang apa kau disini?”

            “bolehkah aku bertanya padamu?

            “apa? Masalah Seohyun?”

            “ne, bisakah kamu menjelaskan padaku, mengapa enam bulan yang alu dia meninggalkan dan memutuskanku?”

            “cobalah tanya padanya langsung”     

            “seandainya aku bisa, sudah aku lakukan sejak dulu, dia tak mau mendengarkanku, kamu pasti tau 
kan? Dia menghindariku, hanya kamu orang yang paling dekat dengan Seohyun”

            “baiklah.. aku akan mengatakannya padamu”


***

            Waktu itu hujan turun sama derasnya seperti saat Yonghwa meminta Seohyun memaafkannya dan mau menjadi kekasihnya, Seohyun sedang berbincang bahagia via telepon dengan namja yang sudah dua tahun menjadi kekasihnya, mereka masih sangatlah mersra, hingga seseorang datang bertamu ke rumahnya, dia gadis berusia dini, ekitar tiga atau empat belas tahunan, membawa sebuah diary berwarna pink yang basah terkena hujan, Seohyun kebingungan hingga akhirnya gadis cantik itu menjelaskan.

            “Oenni, kamu tau kan, Yonghwa Oppa itu sangat dekat dengan Oenniku?”

            “astaga.. Noen Jiyeon dongsaeng?”

            “ne, jika kamu yeoja baik-baik dan pengertian, jebbal tinggalkanlah Yonghwa Oppa demi Oenniku..”

            Hati Seohyun benar-benar sakit mendengar permintaan dari gadis berwajah polos itu, dia belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, dan akhirnya gadis itu menyerahkan buku harian milik Jiyeon.

            Lembar demi lembar habis dibaca oleh Seohyun, tak terasa sudut matanya dihiasi oleh air, Jiyeon menderita penyakit liver salah satu halaman dibuku harian itu tertulis:

            Aku memutuskan untuk meninggalkanmu,  bukan karena aku tak mencintaimu, aku memutuskan untuk mengabaikanmu bukan karena aku tak mempedulikanmu, Yonghwa aku hanya tak ingin kamu menangis saat aku harus pergi dari pandanganmu, aku hanya tak ingin kamu menderita karena cinta sesaat yang akan terjadi ketika kamu disampingku, kamu adalah hal terhebat yang pernah kutemui, kamu adalah penyemangatku, aku sangat mencintaimu..

            Seohyun tak bisa menahan airmatanya, begitupun dengan Minji.

            “Oenni, dua tahun terakhir, kakaku tak mempunyai semangat untuk sembuh, kakaku merasa tak ada guna lagi untuk hidup, Oenni.. hanya kamulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan kakaku, jebbal..” Minji berlutut dihadapan Seohyun yang duduk di sofa, Seohyun mengangkat tubuh Minji.

            “ne, arraseo, mian karna kedatanganku membuat hidup kakakmu begini” Seohyun memeluk minji hangat.
            “jeongmal gomawoyo Oenni, jinjja jinjja gomawo..”

            “ne Minji, Cheonmaneo” bisik Seohyun penuh kepedihan.


***


Seohyun menatap layar ponselnya yang berisi pesan singkat untuk mengakhiri hubungannya dengan Yonghwa, rasanya seperti dipaksa membuang cinta saat hati masih ingin bersama, pedih.

            “bukan salahmu nak, kamu akan menjadi perempuan hebat jika kamu bijaksana mengambil keputusan” Ibunya mendekap Seohyun dari belakang seolah mengerti apa yang putrinya butuhkan.

            “ne amma, sepertimu.. yang merelakan appa menikah dengan yeoja lain karena ingin memiliki keturunan laki-laki” mereka menangis bersama sekarang.

            “kau kuat sekali amma, aku bangga bisa menjadi putrimu” Seohyun mencium tangan ibunya kemudian memeluknya erat. Kini ia mengerti pengorbanannya itu belum seberapa disbanding pengorbanan ibunya, Seohyun kemudian menekan tombol send penuh keyakinan.
‘mianhe Yonghwa, ini demi kebaikan kita semua..’


***
            Yoona terkejut saat mendengarkan cerita Jonghyun, dia diam-diam menyusup dan menguping dari belakang pohon besar.
            “sebegitu besarnya pengorbanan Seohyun.. dia.. luar biasa..” desis Yoona mengalun tulus.

Yonghwa menunduk dan menahan perih di dalam batinnya.

            “sudah jelas bukan?” Jonghyun mengusiknya “sekarang jalani saja hari-harimu dengan Jiyeon, dia lebih membutuhkanmu, sejujurnya sampai hari ini Seohyun tidak pernah berhenti mencintaimu, dan itu melukai ku.. melukai perasaanku..” Yonghwa terperanjat, Yoona juga, ia masih menahan posisinya dibalik pohon rindang.

            “apa maksudmu?”

            “aku mencintai Seohyun..” tegas Jonghyun, Yonghwa mematung, dia tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini, dan kata-kata yang di keluar dari mulut Jonghyun berhasil membuat hati Yoona remuk redam, saat itu pula Yoona menyadari, ia sudah jatuh cinta pada Jonghyun, namun cintanya bertepuk sebelah tangan, ya.. Jonghyun mencintai Seohyun, hanya Seohyun.

            ‘seharusnya aku tau sejak awal, sikap heroic Jonghyun pada Seohyun bukan karena sekedar teman atau sahabat, dia mencintai Seohyun.. kenapa aku begitu bodoh membiarkan hatiku jatuh cinta padanya? Dan kenapa aku menyadari hal ini disaat yang tidak tepat? Tuhan.. bantu aku..’ Yoona tersenyum getir ia merasa dirinya bodoh.


***
            Yonghwa menarik lengan Jiyeon keras, membuat Jiyeon meringis kesakitan

            “chagiya.. lepaskan aku.. awww sakit” Yonghwa tak menghiraukan rengekan itu, ia membawa Jiyeon ke ruang dokter special penyakit dalam, Jiyeon terkejut kaget dan berusaha menghindari ruangan itu, namun Yonghwa terus menyeretnya hingga Jiyeon tak punya pilihan lain selain masuk, Jiyeon menjalani beberapa tahap pemeriksaan liver dan ginjal satu jam kemudian hasilnya keluar.

            “  Jiyeon-shi?” Jiyeon masih menunduk dan emosi Yonghwa masih menyala, tanpa berbicara sepatah katapun.

            “bagaimana hasilnya dok?”

            “sejauh ini, tekanan darahnya sangat baik, kadar kalori, hemoglobin dan pompa hari juga sangat baik, apalagi dengan ginjal tak ada satupun masalah atau penyakit pada Jiyeon-shi anda bahkan sangat bugar, sepertinya anda rajin berolah raga ya?” Jiyeon memaksakan senyumnya.

            “ne, kamsahamnida dokter” Yonghwa membawa hasil lab, ia berjalan cepat meninggalkan Jiyeon. Jiyeon menangis mengejar kekasihnya.

            “Oppa, jebbal, dengarkan aku..” Yonghwa berhenti

            “kau!! Taga-teganya membuatku berpisah dengan Seohyun?! Bakhan kau memanfaatkan pembantumu untuk membohongi Seohyun!! Ya!! Kau itu benar-benar picik Jiyeon ! dengarkan akku, mulai saat ini kita putus dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi”

            “Oppa, jjanggeuman!! Jangan pergi!” namun Yonghwa tak ingin mendengar apapun lagi dari mulut Jiyeon, ia benar-benar membencinya.


***

            Jonghyun masih menghabiskan waktunya di taman kampus sambil menunggu Seohyun  datang, tak lama orang yang ia tunggu datang membawa es krim dan Im Yoon Ah.

            “tada!! Es krim  coklat kesukaanmu chagi”

            “gomawo chagi”

            “Yoona, aku dan Jonghyun memang sering seperti ini, jangan kaget ya..”

            “ne, arra”

            “oh iya, aku mau menceritakan episode terakhir padamu” Yoona menegang, tak mungkin ia jujur pada Seohyun kalau dia sudah mendengarnya.

            “mwo? episode terakhir? Jadi kemarin kalian melanjut ceritanya?”

            “ne” Seohyun tersenyum bangga

            “kajja kajja kajja cepat ceritakan padaku!!” Yoona berusaha terlihat wajar dan bersemangat. Saat Seohyun bersiap dengan cerita pilunya, seseorang memanggil namanya.

            “  Seohyun” cepat ia menarik tangan Seohyun. “ada yang ingin ku bicarakan, ikut denganku’   belum sempat Seohyun menjawab Yonghwa sudah menarik lengannya erat. Jonghyun dan Yoona mematung tak lama mereka mengikuti langkah kedua orang itu.


***
            “kenapa kamu melakukan ini Yonghwa?” mata Seohyun berkaca-kaca saat melihat hasil pemeriksaan Jiyeon.

            “aku hanya ingin membuatmu kembali padaku, jujur enam bulan pun rasanya tak cukup, aku tak 
mampu, aku tak bisa melupakanmu walaupun Jiyeon ada didekatku, bahkan dia sudah membohongiku, membohongimu, dan membuat kita berpisah, kumhon.. kembalilah padaku ..aku masih sangat mencintaimu.. sekarang tak ada alasan lagi untuk mu meninggalkanku, jebbal..” Yonghwa menggenggam kedua tangan Seohyun, menatap matanya dalam, memohon dengan sepenuh hati, seperti apa yang dilakukannya dua setengah tahun yang lalu.
            Seohyun luluh, ia menghambur dalam pelukan Yonghwa
            “Oppa, mianhe..” sekarang Seohyun merasa memang tak ada alasan baginya untuk berkata tidak. Semua kesalah pahaman ini sudah tertera jelas maksudnya, hatinya tlah berlabuh dan tak akan runtuh, Yonghwa membalas dekapan itu, bersamaan dengan kicauan burung di senja hari, akhirnya mereka kembali, bersatu dalam cinta yang belum dan tak pernah usai. Yonghwa mengecup pelan kening Seohyun

            “jangan tinggalkan aku lagi Hyunnie..”

            “ne, tentu saja Yonghwa-ya..”


***
            Jonghyun terpaku di tempatnya, Yoona tak tau harus berbaur dengan siapa? Setangah dari hatinya ikut bahagia dengan Seohyun, setengahnya lagi ikut remuk bersama namja yang ia cintai Lee Jonghyun. Ia tau hati Jonghyun pasti sangat sakit.

            Mata Jonghyun berkaca-kaca, dalam senyumnya yang tentram, Yoona bisa merasakan kepedihan Jonghyun, ia menatap sendu namja itu.

            “aku bahagia sekali melihat mereka kembali”

            “jangan berbohong Jonghyun” lirih Yoona, Jonghyun mengalihkan pandangannya pada Yeoja yang berdiri tepat disisinya.

            “aku mendengar semuanya, kamu tak perlu berbohong padaku, lebih baik lepaskan saja semua sedihmu, sakitmu, padaku.. aku berjanji tak akan mengatakan ini pada siapapun, jangan berpura-pura, itu hanya akan membuatmu sakit” Jonghyun menatap Yoona yang setinggi bahunya tak percaya.

            “mwoya?” kemudian ia terbahak dan memegangi tangan Yoona lalu mengajaknya menjauh dari pasangan yang sedang berbahagia itu, sambil berjalan pelan ia mulai bertutur

            “Yoona-yah.. ternyata jebakanku untukmu tidak sia-sia..” Jonghyun terkekeh
“mwoya? Apa maksudmu?” Yoona menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangan Jonghyun, merasa dirinya di bohongi.

Jonghyun berbalik dan menatap Yoona lurus-lurus
            
            “aku tau tadi kamu bersembunyi di balik pohon, apa kamu tau aku mengatakan aku mencintai Seohyun hanya untuk membuat semangat Yonghwa untuk mendapatkan Seohyun kembali, dan tentu saja untuk menemukan kebenaran dari dirimu, selama ini kamu terus-terusan bersikap kasar dan menyebalkan dihadapanku, tak ada satupun yeoja yang seperti itu.. sebenarnya kamu itu kenapa?”

            “aku?” Yoona melengos menghindari mata Jonghyun yang menerobos masuk ke dalam matanya. “aku hanya.. hanya tidak suka saja padamu..” Yoona membalikan badanya dan terus menggigit-gigit bibirnya gugup.

            “kereo? Kamu betul-betul tidak menyukaiku?” Langkah Jonghyun pelan mendekati tubuh Yoona yang membelakanginya.. “tapi aku menyukaimu Yoona, sejak lama.. lama sekali..” lalu jonghyun menempatkan lengannya di bahu Yoona, membalikan wajah Yoona yang masih menunduk kaku dan tidak mengerti dengan apa yang Jonghyun ucapkan.

            “apa maksudmu..?” suara Yoona nyaris tak terdengar. Jonghyun mengangkat dagu Yoona dan menatapnya lagi, menghela nafas sebelum melanjutkan

            “Yoona, waktu usiaku sepuluh tahun, aku sempat tinggal di Daegu.. untuk berlibur, hari itu orang tuaku tidak mau menemaniku untuk berkeliling di Daegu, hingga aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri..” Yoona tercengang, ia menutup mulutnya tidak percaya. Lalu ia mengingat apa yang terjadi beberapa tahun lalu di kotanya, sebelum Yoona pindah ke Seoul dia tinggal di Daegu.


***

            Seorang anak laki-laki terlihat ketakutan di dalam keramaian Duryu Park, Daegu saat itu hari sudah mulai gelap.

            “amma, cangkemaneo..” gadis perempuan itu melepaskan tangannya saat melihat anak laki-laki yang gemetar dan hanya berjongkok di tempatnya.

            “chogi..” Jonghyun mengangkat kepalanya dan mendapati gadis cantik bermata bundar sedang melihat ke arahnya. “kenapa kamu hanya diam disini.. apa kamu tersesat..” Jonghyun yang ketakutan hanya diam dan tidak menjawab apapun.. Yoona mengulurkan tangannya.

            “kamu.. jangan takut, jika kamu tersesat aku akan membantumu.. namaku Im Yoon Ah, panggil saja Yoona” Senyumnya mengembang dan terus membungkuk meminta lengan Jonghyun.

            “jeongmal? Bisakah kamu mengantarkanku pulang?”

            “o!! kereomyo.. kenapa tidak..” Jonghyun mengamit tangan Yoona dan berdiri “jadi, dimana rumahmu?” Yoona bertanya plos

            “tolong antarkan saja aku ke The Palace Hotel.. aku tinggal disana..” padahal tempat itu adalah hotel milik kedua orang tuanya.

            “oke, aku akan meminta kedua orang tuaku mengantarkanmu pulang..” Yoona lalu melangkah sambil terus memegangi tangan Jonghyun.

            “aniyo.. jangan dengan orang tuamu, aku tidak mau.. tolong kamu saja yang mengantarkanku.” Yoona berhenti dan berfikir sejenak..

            “baiklah, aku akan mengantarkanmu.. tapi tunggu disini ya, jangan kemana-mana aku harus bilang pada mereka, aku pulang duluan..”

            “ne, gomawo Yoona..” Yoona tersenyum dan berlalu.


Di dalam bus menuju The Palace Hotel

            Jonghyun menyandarkan kepalanya di bahu Yoona, ia hampir saja tidak bisa kembali pulang, Yoona membiarkan posisi Jonghyun seperti itu, Yoona melupakan dia belum menanyakan siapa namanya. Hingga bus berhenti tepat di halte terdekat di hotel yang mereka tuju.

            “Yoona-shi.. gomawo.. lain waktu, aku akan membalas semua kebaikanmu.. kapan-kapan datanglah ke Seoul..”

            “aniya.. setiap orang harus saling membantu satu sama lain..” Yoona tersenyum dan mengulurkan tangan.. Jonghyun membalasnya.


            “sampai jumpa lagi..” lalu Yoona pergi kembali.

***

            “aku tidak pernah melupakan hari itu sama sekali, kamu terlalu membekas disini, jika tidak ada kamu aku tidak tau bagaiaman jadinya..” diam-diam Yoona mulai menangis, setelah hari itu Yoona sangat menyesal karena ia lupa menanyakan siapa nama namja yang tersesat dengan wajah yang sangat tampan. Dan kini Yoona menemukannya.

            “kamu tau, alasanku untuk terus sendirian? Itu kamu Yoona.. tapi sikapmu padaku yang tidak bersahabat, sangat berbeda dengan Yoona yang dulu..” Jonghyun menyeka airmata Yoona.

            “itu benar-benar kamu?” Jonghyun mengangguk..

            “Yoona-ya.. saranghamnida..” airmata haru terus menetes dari mata Yoona, ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya. Tanpa berkata apapun Yoona memeluk Jonghyun.

            “saranghamnida Jonghyun..”






Epilog
            Yoona menatap bayang wajahnya dalam cermin, ia berusaha sekuat tenaga menahan tangis, enam tahun berlalu dan ini adalah awal yang baru.

            “jangan menangis Yoona-ah tersenyumlah.. kamu harus bahagia..”

            “ne, aku menangis bahagia ..” Seohyun memeluk bahu Yoona

            “chukka, akhirnya kamu menikah..”
Seohyun sangat bersemangat, Yoona terlihat sangat cantik dibalut ga pengantin berwarna putih

            “persiapkan dirimu..”

            “ne” Yoona mengangguk pelan
Upacara pernikahan Lee Jonghyun dan Im Yoon Ah dimulai, semua tatapan mata tertuju pada mereka.

            “chagi, kamu ingat satu tahun lalu kita yang berada di pelaminan, dan hari ini, kita menyaksikan mereka.. waktu berjalan begitu cepat ..” Yonghwa menarik nafas lega serta baunhagia

            “ne chagi, jangan lupakan ini..” Seohyun memgangi perutnya yang tengah mengandung buah perkawinan mereka.

            “tentu saja tidak, bayi kita..” Yonghwa memeluk Seohyun dari belakang dan mengelus perut Seohyun yang berisi kandungan dua bulan..




END ..





finnally ending, yeeee chukkae Yongseo juga HyunA kkk
andai aja ini nyata .. udah jingkrak-jingkrak tau Seohyun hamil hehhe
thanks buat readers setia dan komen"nya baik di fb twitter atau langsung
di blog ini..


lain kali bikin lagi ff yang gak kalah sosweet dari yang ini..
terimakasih, gomawoyo, hatur nuhun, thankyuuuuuu


INR

3 komentar:

  1. hahahaha happy ending.. aaakkkhhh nda sia2 deh smpet ksal ma yong...
    Jonghyun berhasil mengelabuiku juga :( tpi untuk dia gak serius.. wkwkwkwkw

    BalasHapus